Showing posts with label toilettraining. Show all posts
Showing posts with label toilettraining. Show all posts

Tuesday, April 6, 2010

Horrreeee.. bebas popok!!!

Dulu, saya beranggapan bahwa akan ada saatnya anak bisa ke toilet sendiri. Makanya waktu anak pertama, saya malah terlalu anteng membiarkan si anak asyik dengan popoknya. Sampai ketika anak-anak seusianya sudah bebas diapers, saat itu barulah saya sadar bahwa anak saya sebenarnya sudah cukup umur (bahkan mungkin lebih :D) untuk lepas dari popoknya. Makanya waktu itu saya langsung lepas popoknya Nadin, dan dilatih ke toilet sendiri dengan cara barbar. Alhamdulillah, meski penuh perjuangan ekstra mencuci dan (terkadang) mengepel, dalam waktu 9 hari pelatihannya berhasil tuntas. Dari pengalaman pertama ini, saya simpulkan bahwa ada saatnya si anak SIAP (bukan bisa) pergi ke toilet sendiri dengan bantuan dan dukungan orang tuanya.

Untuk anak kedua, harusnya saya lebih berpengalaman, dan saya sudah bertekad untuk melepaskan popoknya dalam usia yang lebih muda dari Nadin. Setelah baca-baca, katanya mulai usia dua tahun anak mulai siap disapih dari popoknya, tapi setiap anak itu unik, jadi tiap anak bisa beda juga usia siapnya. Untuk pelatihan ini, saya butuh waktu, dimana saya tinggal di rumah secara terus menerus untuk beberapa hari secara berturutan. Dan itu SUSAH.. sekalipun liburan sekolah, selalu ada acara di luar rumah (doh, si ibu pengacara pisan). Alhasil, biasanya saya selalu ingat akan toilet training ini di hari-hari akhir liburan, yang mana, toilet training yang sudah diniatkan selalu batal dilaksanakan. Setelah hamil tua, saya pun menyerah, rasanya tak sanggup harus angkat junjung si kakak plus ekstra nyuci tentu saja, sambil ngegembol si dedek di perut. Akhirnya saya putuskan, toilet training diundur sampai si adik lahir nanti.

Setelah lahiran, apakah yang terjadi? kondisi malah lebih repot ternyata, agak-agak sedikit kurang stabil, karena semua anggota keluarga harus menyesuaikan diri lagi dengan kehadiran anggota baru. Dan akhirnya saya pun tersadar kalau usia Maryam sudah sama dengan usia Nadin ketika lepas dari popoknya. Akhirnya bulan Januari lalu, saya lepaslah itu popok. Dan seperti biasa, di hari pertama lepas popok, kantung kemih bak botol minum yang kehilangan tutupnya. Bocoooorrrrr melulu. Berbeda dengan anak lain, masalah yang dihadapi Maryam justru siang hari. Kalau malam, dia nggak ngompol lagi. Tapi kalau siang, cucian langsung menumpuk dengan cepat*. Di hari ke-2 atau ke-3, saya harus pergi ke dokter. Saya kenakan lagi pampersnya karena khawatir bocor di tempat dokter. Setelah kembali ke rumah, dia tidak mau melepas popoknya. Dia bilang dia lebih suka popok hijau (pampers) daripada popok putih (kain)**. Ya sudah, akhirnya waktu itu saya mengalah. Anggaplah dia memang belum siap. Lagipula, saatnya dia masuk Kindergarten masih lama, masih bulan September, jadi bisa pas liburan musim panas nanti saya coba lagi.

Namun pertengahan Maret yang lalu, saya tiba-tiba mendapat panggilan dari Kindergarten untuk Maryam. Dia sudah bisa masuk mulai 1 April katanya. Bahagia tentu saja, karena selama ini dia memang sudah sangat ingin ikut kakaknya main di sana. Saya pun sibuk dengan segala persiapan. Mulai dari urusan administrasi sampai belanja segala keperluannya. Dan teringatlah saya kalau ada satu masalah yang dia belum siap. Popoknya masih setia terpasang di badannya. *Wadduh* Dan Kindergarten ini termasuk Kindergarten yang tidak membolehkan anak-anaknya mengenakan popok. Gurunya bilang, kalau sampai hari-H Maryam masih belum bisa pipis, terpaksa dia harus melepaskan popoknya di sini, dengan resiko saya membawa banyak cucian setiap harinya. Tapi biasanya seminggu mereka sudah bisa ke toilet sendiri, katanya. Hm.. berarti caranya sama persis dengan metode yang saya terapkan ke Nadin dulu. Akhirnya saya tambah semangat untuk menerapkan metode yang sama.

Kebetulan dua minggu terakhir ini liburan sekolah, dan kebetulan lagi rencana liburan kami sedikit diundur karena si Akang sedang banyak kerjaan. Jadi bisa dipastikan kami akan banyak menghabiskan waktu di rumah selama liburan. Saya langsung terangkan pada Maryam, bahwa dia HARUS melepaskan popoknya, kalau dia MAU ke Kindergarten. Akhirnya diapun setuju. Hari pertama libur, langsung saya lepas popoknya. Dan seperti biasa, remnya blong lagi (kembali ke awal ternyata, tidak melanjutkan yang dulu, hehehe..).

Dalam 3 hari pertama cucian lumayan menumpuk. Ternyata anak ini rada cuek, meski celana basah.. dia masih tetep asyik main. Kalau saya ajak ke kamar mandi, dia selalu tidak mau, bilangnya tidak mau pipis.. eh, beberapa menit kemudian basah. Atau, ada saatnya dia bilang mau pipis.. setelah sampai di kamar mandi, lamaaaaa sekali gak keluar-keluar.. sampai terkantuk-kantuk saya dibuatnya.. :D Ternyata dia hanya mau main-main, dia senang memasang dudukan toiletnya sendiri, dia senang mencet2 pembersih toilet lengkap dengan suara "wuzz"nya :D. Ah ya, saya biarkan aja semaunya, asalkan dia tidak takut pergi ke kamar mandi.

Hari keempat, dia mulai luluh, mulai mau ikut ke kamar mandi saat saya ajak. Kemajuan besar.. :D Dan bersyukur di hari itu saya tidak mendapatkan cucian basah. Hari berikutnya pun demikian.. hampir setiap 2 jam saya ajak dia ke kamar mandi. Kadang pipis.. kadang tidak..

Akhirnya di hari ketujuh, kebetulan saya terlalu sibuk di pagi hari, sampai lupa pada toilet training yang jadi rutinitas seminggu terakhir itu. Maryam tiba-tiba teriak, "Mama.. Maryam teh mau pipis.. Mama kok gak bawa Maryam ke kamar mandi sih??! ntar keburu ngompol nih.. ". Heh??!! kaget campur bahagia.. akhirnya dia bisa merasakan juga. Dan berita gembiranya, seharian itu dia bisa bilang pipis setiap kali dia mau pipis (beneran). Besoknya juga.. dan besoknya juga... Dan alhamdulillah sampai hari ini dia bisa bilang terus. Dua hari kemarin kami jalan-jalan seharian keluar rumah. Alhamdulillah dua-duanya juga selamat, tanpa celana basah. Mudah-mudah ini pertanda dia memang sudah lulus. Ternyata, anaknya sendiri butuh motivasi untuk mau dan bisa melepas popoknya. Kini, dia siap menjadi anak Kindergarten.. ;)

__________________________________________________________________

*celana basah karena pipis menjadi bau pesing kalau dibiarkan terlalu lama. Bahkan kalau langsung dicuci pun, bau pesingnya susah hilang. Maka saya menggunakan teori ibu mertua, dengan menyediakan satu ember berisi air sabun untuk merendam cucian yang bau pesing. Setelah terkumpul, masukkan ke mesin cuci, giling. Selesai. :D

**Saat si anak tidak lagi mengenakan pampers, sebagai penggantinya saya menggunakan kain yang dapat menyerap air (saya menggunakan Spücktuch/kain tetra kurleb sebesar sapu tangan, dilipat-lipat) untuk menyerap air ketika dia pipis, agar air kencingnya tidak berceceran kemana-mana. Alhamdulillah.. gk perlu ekstra ngepel.
__________________________________________________________________

gambar diambil dari sini.

Thursday, January 3, 2008

"Mami... lihak, cingan Nadin basah.."

Dulu aku selalu menganggap bahwa setiap anak suatu saat akan bisa dengan sendirinya pergi ke toilet. Jadinya aku cuma memfasilitasi saja, membelikan dia dudukan toilet, memberi contoh... dan menunggu... dan menungguuu... dan menungguuuuuu... sampai dia bisa. Tapi kok gak bisa-bisa ya??? Sampai ketika aku melihat anak2 seumuran Nadin, bahkan lebih muda dari Nadin udah bisa ke toilet sendiri, barulah aku tersadar, bagaimana anak bisa ke toilet sendiri kalo tidak pernah dilatih? Dan waktu itu, dimulailah toilet training Nadin menggunakan metoda ini. Ah.. ternyata toilet training itu tidaklah sesusah yang kubayangkan. Hanya 9 hari aku harus membawa dia ke toilet secara teratur. Hari ke sepuluhnya, dia udh bisa bilang sendiri. Dan alhamdulillah.. malam pun dia gak ngompol.

Dua minggu sudah Nadin bisa ke toilet sendiri, yang berarti lebih dari 3 minggu dia hidup tanpa mengenakan popok. Alhamdulillah... Berita baik ini sudah sampailah ke neneknya di Indo.

Sayangnya... sejak kemarin dia kok jadi ngompol lagi di celana ya? Tiap kali ngompol, dia pasti bilang, "Mami, lihak, cingan* Nadin basah.." sambil cungar-cengir tak berdosa... :D Duuuh.. keseeeelll banget hati ini.. (tapi liat dia nyengir sih.. yang tadinya mau ngomel, jadi senyum deh..) kenapa ya?? padahal kan sebenarnya di udah bisa. Kayaknya dia pengen tau reaksi ibunya kali kalo dia pipis di celana gimana?  atau mungkin.. 'mantera ajaib' itu kini telah hilang.. Memang.. ketika dia masih belajar, setiap kali dia pipis di toilet selalu kuberi dia pujian.. Tapi setelah dia bisa.. berangsur2.. pujian itu hilang.. tanpa kusadari... Satu kata sederhana yang ternyata memiliki arti sangat besar untuknya...Ah, Nadin sayang... ternyata semua ini salah Mami.. Maafkan Mamiya yah, Cinta... 

*cingan asal katanya adalah lancingan yang berarti celana.

Friday, December 14, 2007

Toilet Training....

Kalau diceritakan dari awal... kisah ini bakalan panjaaaaang bangetttt.... Sebenarnya... pengennya... Nadin bisa ke toilet sendiri sedini mungkin, target maksimal umur 2 tahun lah... Makanya sejak Nadin umur 1 tahun 8 bulan, aku sudah membelikan dudukan buat di toilet. Pertamanya dia nggak suka, tapi lama-lama mau juga. Setiap mau bab, aku dudukkan di situ.

Nah, karena waktu itu aku masih ikutan kursus bahasa, dan Nadin dengan sangat terpaksa harus dititipkan di Krippe, maka proses toilet training ini jadi tertunda.. (abis nyampe rumah udh kecapekan, blom nyiapin makan keluarga dan tugas-tugas buat besoknya... -alesan bangeth-). Tapi waktu itu Nadin udh bisa bilang kalo mau bab. Dan sebenarnya ada satu kesalahn besar waktu itu. Aku pikir tiap anak ada masanya untuk bisa ke toilet sendiri. Padahal kalo gak dilatih, gimana bisa ya??

Nah, sewaktu pulang ke Indo kemaren, baru nyadar kalo ternyata Nadin itu udah gede, hehehe.... dan udh gak pantes lagi pake popok. Tapi mau dilepas... gimana ya??? rumah mertua euy! kasian kalo rumahnya jadi bau.. hehe... So, aku tekadkan begitu datang ke Munich lagi, Nadin popoknya HARUS dilepas!

Sampailah kami kembali di Munich. Tekad itu kini harus dijalankan! Pertama kali lepas popok, Nadin jadi ngompol terus. Tiap 15 menit dia ngompol. Setelah 3 kali pipis, dan basah terus, dia merengek untuk kembali mengenakan popok. Duh... akhirnya aku pakein lagi popok.. ***SALAH BESAR*** seharusnya aku konsisten.. cuman waktu itu emang niatnya masih krang bulet kali ya....

Beberapa minggu sudah berlalu... dan akhirnya pada satu pagi aku bilangin ke Nadin, kalo popoknya habis. Jadi mulai sekarang Nadin gak usah pake popok lagi. Alhamdulillah dia ngerti dan mau tanpa popok. Jadi hari itu (tepatnya hari minggu pekan lalu), Nadin tidak mengenakan popok.. (pampers maksudnya.. ). Tapi di celana dalamnya aku selipin popok kain, biar pas dia ngompol, air kencingnya gak kabur kemana-mana. ;)

Hari pertama:
Hari ini bener-bener aku biarkan dia pipis di celana, biar dia tau, kalo dia pipis di celana, celananya bakalan basah. Seperti pengalaman yang lalu, pertama kali buka popok, dia jadi sering pipis. Mungkin biasa dumpelnya gede.. pas ga didumpel, remnya jadi blong, hehe... Tapi maju ke siang.. lumayan jadi agak jarang. Nah, hari itu.. cucian baju.. numpuuuuuukkkkk!!!! yang sabar yaaa... menghibur diri tea. Jadi kebayang ibuku, waktu kami kecil tentunya lebih repot dari ini.. :'((

Hari kedua:
Di hari ini mulai kucatat, jam berapa Nadin pipis? apakah di celana atau di kamar mandi? Alhamdulillah ada kemajuan, hari ini 3 kali dia bisa pipis di kamar mandi.

Hari ketiga:
Hari ini dicoba untuk mengikuti pola hari kemaren. Rata-rata Nadin pipis setiap 1,5 jam, maka setiap 1,5 jam aku bawa dia ke kamar mandi. Dan membawa Nadin ke kamar mandi juga bukan hal yang mudah, dia tidak selalu mau, mungkin dingin ya... jadi males.... Jadinya mesti diberi pengertian sambil dibujuk-bujuk dulu... Menurutku ini hal penting, soalnya kalo sampai dia dipaksa ke kamar mandi, takut jadi trauma nantinya. Hasil hari ketiga ini lumayan... jauuuh lebih baik dari sebelumnya (dari segi cucian maksudnya, hehe..). Dia cuman pipis sekali di celana. Itupun pipis pertama pagi-pagi... mungkin masih sisa yang tadi malam...

Hari keempat:
Hm.. semalam Nadin nggak ngompol di kasur, alhamdulillah... Pokoknya dia bangun, langsung diajak ke kamar mandi. Tapi seperti hari kemaren, setengah jam setelah pipis, dia udh pipis lagi di celana. Mungkin masih sisa semalam, hehe... Tapi berikutnya.. siiiip....

Hari kelima:
Sama persis seperti hari keempat. Eh, tapi ada dua kali dia bilang denk. Pertama waktu bangun tidur siang, tiba2 dia manggil, trus bilang kalo mau pipis. Yang kedua, waktu mau bab, dia bilang juga... alhamdulillah... ada kemajuan.

Hari keenam:
Masih sama. Masih harus aku yang ngajak ke kamar mandi.

Kalau dianalisis dari pengalaman sendiri nih, sebenarnya toilet training ini tergantung ortunya ya. Pertama, tekad ortunya harus bulat, jangan takut nanti kalo anak ngompol gimana.. rumah jadi bau, dsb. Kedua, ortunya harus rajin-rajin ngajakin anaknya ke kamar mandi. Ketiga, ortunya harus konsisten, biar anaknya jadi gak bingung. Keempat, ortunya harus sabar...

Ya.. mohon doanya aja.. moga-moga Nadin dimudahkan untuk bisa ke toilet sendiri, amiin...