Showing posts with label ocehan. Show all posts
Showing posts with label ocehan. Show all posts

Monday, December 6, 2010

Echo.. cho.. cho.. cho..


"Banyak anak banyak rejeki" kalau kata orang tua jaman dulu. Kalau kata orang Jerman, "banyak anak banyak kerjaan". Hm.. kalau kata saya mah "banyak anak banyak tertawa". Serius ini, saya sudah cukup banyak tertawa dengan tingkah ketiga anak saya yang bodor-bodor.. rasanya tak perlu lagi hiburan lainnya untuk bisa tertawa. Ini salah satu cerita lucu lagi. ;)

Jadi ceritanya waktu hari Sabtu kemarin, kami bermain seluncuran, mumpung salju masih bisa dipakai bermain. Mainnya gak jauh-jauh sampai ke Alpen segala, cuma di situ aja, di dekat halte St. Quirin Platz ada taman yang miring gitu, kalau musim panas bisa dipakai lari-larian, kalau musim dingin bisa dipakai main seluncuran. Yang penting anak-anak senang deh.

Pas bagiannya Ligar dan si akang yang main seluncur, Nadin, Maryam dan saya menunggu di atas. Yah, gara-gara di papan ada tulisan maksimal 50 kg, si akang tidak mau memakai satu papan, maunya dua, katanya. Jadinya yang lain nganggur deh. Terus tiba-tiba Nadin teriak memanggil bapaknya, "Papah!!! Papah!!!". Sayup-sayup terdengar ada suara yang mengikuti.

Kata Nadin, "Eh, ada echonya ya di sini?! Papah!! Papah!!"
"Eh, iyaya?!" timpal saya.

Maryam tampak mencari-cari sesuatu, terus tiba-tiba turut bicara,
"Mamah, echo tuh ini ya?!" tanyanya sambil menunjuk jejak bekas papan seluncur.
"Oh, bukan, Echo itu suara yang mengikuti kalau Maryam teriak. Kayak tadi ceuceu teriak Papah, terus dibelakangnya ada yang ikutan pah.. pah.. pah.. gitu. Atau misalnya teriak Mamah!! mah! mah! mah! Nah yang kayak gitu Echo"
"Oh" katanya tanda mengerti.

Si akang pun datang, tiba giliran saya dan Maryam yang meluncur bareng, Nadin sudah bisa sendirian. Ketika meluncur, seperti biasa Maryam teriak kegirangan, 

"Wuuuuuuuuuhhhh... wuh.. wuh.. wuh.." katanya. 
Saya heran, kenapa teriakannya jadi berulang begitu? Setelah turun dr papan seluncur, dia kemudian berkata, "wah, tadi ada echonya ya, Mah?? wuuuuuh.. wuh.. wuh.. wuh.."

*gubrag*

Tuesday, October 5, 2010

Main bareng di perut Mamah

Lagi-lagi tentang ocehan anak.. :D Dulu waktu Nadin masih bayi, saya sebenarnya rada-rada anti mengisi blog dengan cerita anak, takut kelewatan.. takut terlalu membuka privasinya. Namun, seringkali dari anti malah berubah sebaliknya. Misalnya yang asalnya anti Facebook, ternyata malah jadi paling rajin ganti status.. dsb.. dsbnya... Begitupun dengan saya, yang tadinya anti bercerita soal anak, kenapa blog saya sekarang jadi dipenuhi kisah mereka? hehehe... dan kini bukan mau membahas ini sih.. ok..ok.. back to laptop deh..

Sejak anak-anak saya punya adik, saya jadi suka bercerita tentang masa kecil mereka. Sambil mereka melihat tumbuh kembang adiknya, sambil mereka mengetahui masa lalu mereka. Misalnya pas si adik baru lahir dan nangis terus, saya beritahu bahwa bayi belum bisa bicara, jadinya kalau mau minum nangis, mau bobo nangis, mau ganti popok nangis. Nadin dan Maryam juga dulu sama begitu. Mereka senang mendengarkan kisah mereka ketika kecil, dan mereka pun mengingatnya. Namun ada bedanya. Kalau Nadin akan mengingat cerita itu persis seperti yang diceritakan ibunya. Kalau Maryam, cerita ibunya dihiasi dengan keinginan hatinya, sehingga terbentuklah kisah versi Maryam, yang kadang berbeda jauh dengan kisah awalnya.

Misalnya ketika Ligar memakai sepatu yang dulu pernah dikenakan juga oleh Nadin dan Maryam.
Nadin: "Lho.. Ligar udah pakai sepatu yang itu. Dulu waktu Nadin kecil juga pakai sepatu itu ya?!"
Maryam: "Iya, waktu Maryam kecil juga, tapi punya Maryam warnanya pink."
lho.. gak mungkin donk berubah warna.. :D
Nadin: "ya nggak donk, waktu Maryam kecil juga warnanya tetap oranye."
Maryam: "iya, sepatunya sama, tapi maryam mah warnanya pink, kan perempuan"
haduh.. cape deeeehhh.. kalau menurut dia begitu, maka kisah versi Maryam ini tidak bisa diganggu gugat, meski pake otot sekali pun..

Kembali nyambung ke judul ah.. Ceritanya ketika hari Minggu kemarin kami berkunjung ke rumah sakit tempat dilahirkannya ketiga anak saya. Bukan sekedar berkunjung sih, kebetulan Maryam demam tinggi gak turun-turun. Pas hari keempatnya jatuh di hari Minggu, jadinya kami tidak bisa memeriksakan Maryam ke dokter anaknya, tapi harus ke dokter darurat, yang kebetulan praktek paling dekat dari rumah ya di rumah sakit itu. Sambil jalan berdua, saya ceritakan bahwa dulu Nadin, Maryam dan Ligar, semuanya dikeluarkan dari perut mamah di rumah sakit ini.

Pulangnya, tiba-tiba aja Maryam bercerita, "dulu Nadin, Maryam dan Ligar ada di perut mamah. Terus main bareng di dalam.. kan adik kakak.. Nadin keluar duluan, terus Maryam, terus Ligar deh.. "

hihihi... kok ceritanya jadi begitu. Pas saya ceritain ke bapaknya, si akang langsung bertanya, "Maryam, yang main bareng di perut mamah cuma Nadin, Maryam sama Ligar aja? atau masih ada yang lain??"

hahahaha... tampak si papah ingin mengintip masa depan.. dasar.. aya-aya wae..

Kamu!

Tadi sore anak-anak sedang bermain dan rebutan seperti biasanya. Terdengar suara Nadin ngomong ke Maryam, "Aku duluan.. aku duluan.. Kamu nanti dulu. Nanti habis aku, baru kamu, ok?!"

Maryam langsung menoleh ke belakang, dimana saya dan KangDian berada, lalu dia langsung laporan, "Mamah.. mamah.. tadi teh Nadin bilangnya 'kamu.. kamu..' ke Maryam. Harusnya kan bukan 'kamu' namanya, tapi Maryam!"

:D:D:D