Dua hari terakhir ini, berita yang jadi headline di koran-koran Muenchen apalagi kalau bukan kenaikan harga tiket angkutan umum. (Waddduuuh... lagi-lagi naik nih..). Kabarnya kenaikan ini mencapai 13,1%, dan yang mengalami kenaikan paling buruk adalah tiket untuk para pelajar, anak-anak (6-15 tahun), dan senior (manula). (Wadduuhhhh lagi..) Untuk lebih jelasnya, tiket ini naik berapa persen.. tiket itu naek berapa... bisa baca di koran-koran terdekat ;)
Tapiiiii... tenaaaang... hal ini baru berlaku tanggal 1 Juli nanti. Makanya, mumpung harga belum naik, yuk.. rame-rame beli ABO Monatskarte aja.. (langganan tiket bulanan buat setahun). Selain dapat diskon 2 bulan.. (bahkan kalau bayar tunai buat setahun, diskonnya jadi 2,5 bulan), saat ini kan harganya masih harga lama ;) Tiket ini ada dua macam, ada yang pakai identitas, ada juga yang tidak. Dua-duanya ada untung ruginya. Kalau yang beridentitas, hanya bisa dipakai sendiri, aman dari penyalahgunaan orang lain, disaat kita lupa bawa pas ada kontrol, dendanya 10 Euro aja, ruginya gak bisa dipake gantian ama suami/istri/teman. Kalau yang tanpa identitas, bisa dipake gantian... tapi kalau lupa bawa pas ada kontrol, dendanya yaaa.. 20 Euro...
Wednesday, March 19, 2008
Friday, March 14, 2008
Puten Nugget
Description:
Gara-garanya waktu ke toko Turki kemarin, Chicken Nugget yang dicari lagi nggak ada, jadinya gak jadi beli. Eh, pas di rumah baru keingetan kalau bisa bikin sendiri. Sayangnya lagi gak punya dada ayam, yang ada dada puten (kalkun). Seperti biasa deh, bikin dengan bahan seadanya. Resep aslinya diambil dari Detikfood, tapi sedikit diubah untuk memudahkan memasak, hihihi.... Dasar ibu-ibu (baca: Ibu Ina).. kalau belanja, cari tempat termurah, kalau masak, cari cara termudah :D:D:D
Ingredients:
5 lembar roti tawar, (harusnya buang kulitnya, tapi da kulitnya juga gak gosong, jadi dimasukin aja semua :D), potong kasar
250 ml susu cair
2 sdm margarin
75 g bawang Bombay, cincang halus
500 g daging kalkun cincang
1 buah telur ayam
1/2 sdt merica bubuk
1 sdt garam
minyak untuk menggoreng
Lapisan:
1 buah telur ayam
150 g tepung panir
Directions:
1. Rendam roti tawar dengan susu cair hingga lembut dan hancur.
2. Panaskan margarin hingga leleh. Tumis bawang Bombay hingga layu. Angkat.
3. Campur roti tawar dengan bawang Bombay tumis, dan daging ayam. Aduk hingga rata.
4. Tambahkan telur, merica, dan garam. Aduk hingga rata.
5. Taruh adonan dalam loyang segi empat. Ratakan.
6. Kukus dalam dandang panas hingga matang. Angkat, dinginkan.
7. Lepaskan dari loyang, potong-potong sesuai selera
8. Celupkan tiap potongan dalam telur kocok. Gulingkan dalam tepung panir hingga rata.
9. Goreng dalam minyak panas dan banyak hingga kuning keemasan.
10. Angkat, tiriskan dan sajikan hangat.
Gara-garanya waktu ke toko Turki kemarin, Chicken Nugget yang dicari lagi nggak ada, jadinya gak jadi beli. Eh, pas di rumah baru keingetan kalau bisa bikin sendiri. Sayangnya lagi gak punya dada ayam, yang ada dada puten (kalkun). Seperti biasa deh, bikin dengan bahan seadanya. Resep aslinya diambil dari Detikfood, tapi sedikit diubah untuk memudahkan memasak, hihihi.... Dasar ibu-ibu (baca: Ibu Ina).. kalau belanja, cari tempat termurah, kalau masak, cari cara termudah :D:D:D
Ingredients:
5 lembar roti tawar, (harusnya buang kulitnya, tapi da kulitnya juga gak gosong, jadi dimasukin aja semua :D), potong kasar
250 ml susu cair
2 sdm margarin
75 g bawang Bombay, cincang halus
500 g daging kalkun cincang
1 buah telur ayam
1/2 sdt merica bubuk
1 sdt garam
minyak untuk menggoreng
Lapisan:
1 buah telur ayam
150 g tepung panir
Directions:
1. Rendam roti tawar dengan susu cair hingga lembut dan hancur.
2. Panaskan margarin hingga leleh. Tumis bawang Bombay hingga layu. Angkat.
3. Campur roti tawar dengan bawang Bombay tumis, dan daging ayam. Aduk hingga rata.
4. Tambahkan telur, merica, dan garam. Aduk hingga rata.
5. Taruh adonan dalam loyang segi empat. Ratakan.
6. Kukus dalam dandang panas hingga matang. Angkat, dinginkan.
7. Lepaskan dari loyang, potong-potong sesuai selera
8. Celupkan tiap potongan dalam telur kocok. Gulingkan dalam tepung panir hingga rata.
9. Goreng dalam minyak panas dan banyak hingga kuning keemasan.
10. Angkat, tiriskan dan sajikan hangat.
Wednesday, March 12, 2008
Naik gaji apa perlu??
Akhir-akhir ini di sini lagi banyak pemogokan. Perawat, supir-supir angkutan umum, bahkan sampai guru TK pun ikut mogok... alasan cuma satu, minta kenaikan gaji. Bisa dimengerti sih, gara-gara harga minyak naik, ditambah lagi Euro yang makin menguat dibanding Dollar, membuat harga-harga semakin meningkat. Menurut si Akang, sebenarnya kenaikan gaji itu tidak berpengaruh buat para Arbeitgeber alias pemberi kerja, atau dengan kata lain majikan. Karena dengan meningkatnya upah, maka harga-harga barang juga akan naik. Hal ini diperkuat ketika saya membaca koran hari Rabu yang lalu. Katanya, di tahun 2007, penghasilan orang Jerman (maksudnya orang yang bekerja di Jerman) meningkat sebesar 1,4%. Kenaikan ini diikuti dengan kenaikan harga dan kebutuhan hidup sebesar 2,2%
Gak berasa donk naek gaji juga, kalo harga-harga naiknya malah lebih besar...
Dan para ahli memperkirakan hal serupa akan terjadi di tahun 2008 ini.
Jadi, sebenarnya perlu gak ya naik gaji itu??! ya perlu atuh.. untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin membengkak... Tapi kalau gaji naik, harga ikutan naik lagi. Katanya, perbanyak barang agar harga turun... (inget prinsip Ekonomi!). Tapi lagi..untuk meningkatkan produksi, berarti nambah jam kerja donk?! Ah.. pusing deh...
Kalo buat saya sih, gaji itu gak perlu besar, yang penting cukup...
cukup buat makan.....
cukup buat pakaian...
cukup buat rumah...
cukup buat sekolah anak2...
cukup buat mobil...
cukup buat sawah....
cukup buat emas berlian....
cukup buat..... hihihi.. udah ah... tanduknya dah mulai keluar nih...
Berapapun penghasilannya, jangan lupa bersedekah dan berinfaq ya..
juga zakat kalau udah mencapai nisabnya..;)
Gak berasa donk naek gaji juga, kalo harga-harga naiknya malah lebih besar...
Jadi, sebenarnya perlu gak ya naik gaji itu??! ya perlu atuh.. untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin membengkak... Tapi kalau gaji naik, harga ikutan naik lagi. Katanya, perbanyak barang agar harga turun... (inget prinsip Ekonomi!). Tapi lagi..untuk meningkatkan produksi, berarti nambah jam kerja donk?! Ah.. pusing deh...
Kalo buat saya sih, gaji itu gak perlu besar, yang penting cukup...
cukup buat makan.....
cukup buat pakaian...
cukup buat rumah...
cukup buat sekolah anak2...
cukup buat mobil...
cukup buat sawah....
cukup buat emas berlian....
cukup buat..... hihihi.. udah ah... tanduknya dah mulai keluar nih...
Berapapun penghasilannya, jangan lupa bersedekah dan berinfaq ya..
juga zakat kalau udah mencapai nisabnya..;)
Tuesday, March 11, 2008
Gummibäbchen...
Gummibäbchen?? 
Salah ketik ya?? Jawabnya NGGAK! tapi bahasana meni amburadul... campuran Indo-Jerman, hihihi... *tong diturutan Nadin nya..
*
Jadi begini ceritanya... Saat pulang dari Kindergarten hari ini, di dalam Bus, Nadin duduk di sebelah bapak-bapak yang baik dan ramah. Beberapa kali dia ngeliat ke Nadin sambil senyum-senyum. Sampai akhirnya dia mengeluarkan bungkusan kecil dari sakunya, kemudian dikasih ke Nadin. Setelah turun baru ada kesempatan melihat bungkusan itu, ternyata isinya Gummibärchen
(Gummi = karet, Bärchen = beruang kecil, Gummibärchen = permen kenyal; konon dinamakan Gummibärchen karena produk pertama permen kenyal ini bentuknya beruang). Aduuuh.. pusing deh kalau dikasih permen yang satu ini, soalnya 99,99% pasti tidak halal karena mengandung gelatin babi..
Makanya aku menyebutnya Gummibäbchen (bäbchen = babi + chen)
. Ada juga sih Gummibärchen yang halal, infonya bisa dilihat di blognya Mbak Dwi.
Nah, ketika Nadin minta dibukakan, aku bilang kalau Nadin gak bisa makan Gummibärchen yang ini, soalnya ada babinya, nanti makan punya Mami aja di rumah. Begitu aku selesai ngomong, dia langsung menatap lekat-lekat si bungkusan itu, dan diperhatikannya satu persatu si beruang-beruang kecil itu. Aku pikir mungkin dia lagi merenungkan apa yang aku bilang barusan.
Kemudian dia nanya, "Mami, babi mana??". Oalaaah... ternyata dari tadi terdiam tuh nyari si babi toh?? kiraiiiin.. hihihi... pantesan mukanya bingung.. kali yang dia liat beruang semua kok, gak ada babinya?!
Salah ketik ya?? Jawabnya NGGAK! tapi bahasana meni amburadul... campuran Indo-Jerman, hihihi... *tong diturutan Nadin nya..
Jadi begini ceritanya... Saat pulang dari Kindergarten hari ini, di dalam Bus, Nadin duduk di sebelah bapak-bapak yang baik dan ramah. Beberapa kali dia ngeliat ke Nadin sambil senyum-senyum. Sampai akhirnya dia mengeluarkan bungkusan kecil dari sakunya, kemudian dikasih ke Nadin. Setelah turun baru ada kesempatan melihat bungkusan itu, ternyata isinya Gummibärchen
Nah, ketika Nadin minta dibukakan, aku bilang kalau Nadin gak bisa makan Gummibärchen yang ini, soalnya ada babinya, nanti makan punya Mami aja di rumah. Begitu aku selesai ngomong, dia langsung menatap lekat-lekat si bungkusan itu, dan diperhatikannya satu persatu si beruang-beruang kecil itu. Aku pikir mungkin dia lagi merenungkan apa yang aku bilang barusan.
Kemudian dia nanya, "Mami, babi mana??". Oalaaah... ternyata dari tadi terdiam tuh nyari si babi toh?? kiraiiiin.. hihihi... pantesan mukanya bingung.. kali yang dia liat beruang semua kok, gak ada babinya?!
Monday, March 10, 2008
"Tapi saya mah muslim modern, makanya..."
Ketika saya baru masuk ke dalam lift menuju U-Bahn (Subway), tiba-tiba nampak ibu-ibu setengah baya lari tergopoh-gopoh sambil melambaikan tangannya, tanda minta ditunggu. Akhirnya kami pun bisa barengan di dalam lift dan (tanpa disangka-sangka) beliau memulai perbincangan kecil. Tanpa di sangka-sangka, karena biasanya orang-orang di sini cuek dan tidak peduli sekitarnya, meskipun itu ada di dalam ruangan sekecil lift.
"Turki?" tanyanya dengan raut muka tanpa ekspresi alias lempeng. Pertanyaan standar.. maksudnya bukan pertama kalinya saya disangka orang Turki. Kebanyakan pasti karena jilbab saya ini, maklum di Jerman banyak sekali orang Turki yang berjilbab. Kedua, hehe.. mungkin karena wajah saya ini agak sedikit nyerempet mirip orang Turki.. (maaph.. lagi kepedean tingkat tinggi
, gpp lah.. sekali-kali..hihi.. ). Soalnya pernah ada (dan bukan hanya sekali) orang Turki yang dengan akrabnya mengajak saya ngobrol dengan bahasa Turki.. tentu saja saya bingung, dan langsung menjawab pake bahasa Jerman. CUT!! kembali ke percakapan tadi ya..
"O.. bukan... saya mah dari Indonesia.." jawabku.
"Ach so... biasanya kan yang pakai Kopftuch (jilbab) kayak Anda orang Turki." katanya.. masih tanpa ekspresi... Ternyata si ibu ini termasuk orang-orang dengan alasan pertama
"Kalau bukan orang Turki, biasanya Arab, Syria, Afrika..." lanjutnya. "Anda Muslim kan?" tanyanya lagi.
"Iya." jawabku pendek.
"Saya juga muslim..." katanya.
"Oya??" kaget campur gembira. Saya sama sekali tidak menyangka kalau ibu ini muslim, selain tidak mengenakan jilbab, mukanya pun tidak ada wajah-wajah arab/turkinya. Orang Jerman juga bukan sih kayaknya... Lebih mirip Eropa Timur.
"Iya, tapi saya mah muslim modern, makanya gak perlu pakai jilbab.." katanya sambil berlalu dari lift dan masih tetap tanpa ekspresi..
Dan saya pun ditinggalkannya masih dengan muka bengong...
*percakapan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ala saya :D
"Turki?" tanyanya dengan raut muka tanpa ekspresi alias lempeng. Pertanyaan standar.. maksudnya bukan pertama kalinya saya disangka orang Turki. Kebanyakan pasti karena jilbab saya ini, maklum di Jerman banyak sekali orang Turki yang berjilbab. Kedua, hehe.. mungkin karena wajah saya ini agak sedikit nyerempet mirip orang Turki.. (maaph.. lagi kepedean tingkat tinggi
"O.. bukan... saya mah dari Indonesia.." jawabku.
"Ach so... biasanya kan yang pakai Kopftuch (jilbab) kayak Anda orang Turki." katanya.. masih tanpa ekspresi... Ternyata si ibu ini termasuk orang-orang dengan alasan pertama
"Kalau bukan orang Turki, biasanya Arab, Syria, Afrika..." lanjutnya. "Anda Muslim kan?" tanyanya lagi.
"Iya." jawabku pendek.
"Saya juga muslim..." katanya.
"Oya??" kaget campur gembira. Saya sama sekali tidak menyangka kalau ibu ini muslim, selain tidak mengenakan jilbab, mukanya pun tidak ada wajah-wajah arab/turkinya. Orang Jerman juga bukan sih kayaknya... Lebih mirip Eropa Timur.
"Iya, tapi saya mah muslim modern, makanya gak perlu pakai jilbab.." katanya sambil berlalu dari lift dan masih tetap tanpa ekspresi..
*percakapan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ala saya :D
Saturday, March 1, 2008
Kyrill berlalu, siap-siap Emma datang.
Pagi ini (jam 3) saya dibangunkan Nadin, ternyata dia mau pipis, katanya. Pagi buta begini, berisiknya minta ampun. Ternyata itu hanyalah suara angin yang terasa seperti orang menjerit-jerit di luar sana. Entahlah, di rumah ini memang suara angin kencang selalu kedengaran seperti ini, mungkin karena kami tinggal di lantai 5. Sampai-sampai Kang Ahya yang sempat menginap di rumah kami beberapa hari, sempat ketakutan dengan suara angin ini.
Setelah baca koran online, ternyata memang hari ini sedang ada badai angin "Kyrill" yang kedua, setelah sebelumnya januari tahun lalu yang mencapai 202 km/jam, memakan 47 korban, 11 diantaranya di Jerman, dan menyebabkan kerugian sebesar 3,5 milyar Eur.
Akhir pekan ini diperkirakan akan datang "Emma". Siapa lagi nih??? Emma itu ternyata angin kencang yang disertai petir dan guruh serta badai. (Btw, kenapa ya nama badai angin gini selalu nama perempuan? apa angin ganas seperti perempuan? hihihi...). Angin kencang ini diperkirakan akan mencapai kecepatan 135 km/jam.
Banyak hal yang diubah gara-gara badai ini, termasuk acara "Wetten dass..?" yang terpaksa dipindahkan ke Halle. Para pengendara mobil disarankan untuk sangat hati-hati. Pada hari Sabtu dan Minggu ini kita sangat disarankan untuk tinggal di rumah saja. Meskipun badai angin begini, temperatur tetap sedang-sedang saja, berkisar antara 10 - 15 derajat celcius. Tapi aku bisa bayangkan kalo pas kena angin mah... pastiii weeee dingiiiiiiiin.
Setelah baca koran online, ternyata memang hari ini sedang ada badai angin "Kyrill" yang kedua, setelah sebelumnya januari tahun lalu yang mencapai 202 km/jam, memakan 47 korban, 11 diantaranya di Jerman, dan menyebabkan kerugian sebesar 3,5 milyar Eur.
Akhir pekan ini diperkirakan akan datang "Emma". Siapa lagi nih??? Emma itu ternyata angin kencang yang disertai petir dan guruh serta badai. (Btw, kenapa ya nama badai angin gini selalu nama perempuan? apa angin ganas seperti perempuan? hihihi...). Angin kencang ini diperkirakan akan mencapai kecepatan 135 km/jam.
Banyak hal yang diubah gara-gara badai ini, termasuk acara "Wetten dass..?" yang terpaksa dipindahkan ke Halle. Para pengendara mobil disarankan untuk sangat hati-hati. Pada hari Sabtu dan Minggu ini kita sangat disarankan untuk tinggal di rumah saja. Meskipun badai angin begini, temperatur tetap sedang-sedang saja, berkisar antara 10 - 15 derajat celcius. Tapi aku bisa bayangkan kalo pas kena angin mah... pastiii weeee dingiiiiiiiin.
Jangan lupa bayar zakat profesi ya ;)
Akhirnya sempat juga sore tadi membaca majalah warisan dari Mbak Nuri. Kebetulan saya membuka salah satu halaman yang berisikan artikel tentang zakat profesi. Duh... jadi inget kalo duluuuuu (saking udah lamanya) pernah janji ama seseorang akan mencarikan detil-detil tentang zakat ini. Dan sebenarnya saya sendiri juga masih belum paham benar, makanya suka lieur juga kalau ada yang nanya
Semoga belom telat deh sekarang ya, Mbak...
Sebenarnya masalah zakat profesi tidak pernah dibahas dalam literatur fiqih klasik. Oleh karena itu, ada sebagian ulama yang tidak mengakui, ada sebagian lain yang mengakui adanya zakat profesi, salah satunya adalah Yusuf Qardhawi.
Ulama yang tidak sepakat berpendapat bahwa tidak ada kewajiban zakat terhadap harta yang dihasilkan dari profesi karena tidak memenuhi syarat wajib zakat, diantaranya, harta harus sudah dimiliki selama 1 tahun dan selama 1 tahun tersebut tidak pernah berkurang dari nisabnya sebanyak 85 g emas murni. Adapun dalil yang dijadikan landasan: "Dan tidak ada kewajiban di dalam harta sehingga mengalami putaran Haul" (HR. Abu Daud) dan "Barang siapa mendapatkan harta maka tidak wajib atasnya zakat sehingga menjalani putaran Haul" (HR. Tirmidzi).
Sedangkan ulama yang sepakat berpendapat bahwa kewajiban haul tidak berlaku dalam zakat profesi. Sebab analogi yang dipakai adalah zakat pertanian yang wajib dikeluarkan zakat saat panen. Berdasarkan hal ini, maka zakat profesi dikeluarkan saat penghasilan diterima, setelah mencapai nisab tentunya. Selain itu, hal tersebut diperkuat pula oleh Firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah sebagian hasil usaha kalian" (QS. Al-Baqarah: 267)
Mengenai kisaran zakat yang wajib dikeluarkan, Muhammad Ghazali sebagaimana dikutip Qardhawi cenderung mengambil nisab tanaman dan buah-buahan sebagai ukuran, yaitu sebesar 50 wasaq atau 653 kg gabah kering giling atau 520 kg beras. Kalau di sini, anggaplah beras harganya 1,5 Eur per kg, dikalikan 520 kg, jadi 780 Eur. Barang siapa yang berpendapatan lebih dari 780 Eur, maka dirinya sudah termasuk wajib zakat. Untuk yang berada di tempat lain silahkan hitung dengan harga beras di masing-masing tempat
Adapun prosentase zakat yang dikeluarkan sama dengan zakat emas dan perak, sebesar 2,5%.
Di sini ada dua pendapat lagi, sebagian ulama sepakat memotong 2,5% dari penghasilan kotor (sebelum dikurangi kebutuhan), sebagian lain berpendapat dari penghasilan murni (setelah dipakai untuk memenuhi kebutuhannya). Kalau kami sendiri biasanya memotong 2,5% dari penghasilan murni yang masih kotor (lho?!), maksudnya penghasilan yang sudah dipotong pajak tapi belum digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Nah, sekarang, sok atuh hitung penghasilan masing-masing... kalau sudah mencapai nisab, jangan lupa bayar zakatnya ya...
Sumber: majalah Paras edisi Oktober 2007
Sebenarnya masalah zakat profesi tidak pernah dibahas dalam literatur fiqih klasik. Oleh karena itu, ada sebagian ulama yang tidak mengakui, ada sebagian lain yang mengakui adanya zakat profesi, salah satunya adalah Yusuf Qardhawi.
Ulama yang tidak sepakat berpendapat bahwa tidak ada kewajiban zakat terhadap harta yang dihasilkan dari profesi karena tidak memenuhi syarat wajib zakat, diantaranya, harta harus sudah dimiliki selama 1 tahun dan selama 1 tahun tersebut tidak pernah berkurang dari nisabnya sebanyak 85 g emas murni. Adapun dalil yang dijadikan landasan: "Dan tidak ada kewajiban di dalam harta sehingga mengalami putaran Haul" (HR. Abu Daud) dan "Barang siapa mendapatkan harta maka tidak wajib atasnya zakat sehingga menjalani putaran Haul" (HR. Tirmidzi).
Sedangkan ulama yang sepakat berpendapat bahwa kewajiban haul tidak berlaku dalam zakat profesi. Sebab analogi yang dipakai adalah zakat pertanian yang wajib dikeluarkan zakat saat panen. Berdasarkan hal ini, maka zakat profesi dikeluarkan saat penghasilan diterima, setelah mencapai nisab tentunya. Selain itu, hal tersebut diperkuat pula oleh Firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah sebagian hasil usaha kalian" (QS. Al-Baqarah: 267)
Mengenai kisaran zakat yang wajib dikeluarkan, Muhammad Ghazali sebagaimana dikutip Qardhawi cenderung mengambil nisab tanaman dan buah-buahan sebagai ukuran, yaitu sebesar 50 wasaq atau 653 kg gabah kering giling atau 520 kg beras. Kalau di sini, anggaplah beras harganya 1,5 Eur per kg, dikalikan 520 kg, jadi 780 Eur. Barang siapa yang berpendapatan lebih dari 780 Eur, maka dirinya sudah termasuk wajib zakat. Untuk yang berada di tempat lain silahkan hitung dengan harga beras di masing-masing tempat
Di sini ada dua pendapat lagi, sebagian ulama sepakat memotong 2,5% dari penghasilan kotor (sebelum dikurangi kebutuhan), sebagian lain berpendapat dari penghasilan murni (setelah dipakai untuk memenuhi kebutuhannya). Kalau kami sendiri biasanya memotong 2,5% dari penghasilan murni yang masih kotor (lho?!), maksudnya penghasilan yang sudah dipotong pajak tapi belum digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Nah, sekarang, sok atuh hitung penghasilan masing-masing... kalau sudah mencapai nisab, jangan lupa bayar zakatnya ya...
Sumber: majalah Paras edisi Oktober 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)