Showing posts with label muenchen. Show all posts
Showing posts with label muenchen. Show all posts

Wednesday, August 4, 2010

Turis Arab

"Ahlan wa sahlan" demikian tertulis dengan huruf Arab berukuran besar di halaman pertama koran kemarin. Tentu saja hal tersebut cukup menarik perhatian saya, "hm.. apakah ini dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan??", jikalau betul, tentunya ini merupakan suatu hal yang sangat jarang terjadi, salah satu koran Jerman menjadikan Ramadhan sebagai tema utama koran hari itu. Setelah dibaca lebih dekat, ternyata memang dugaan saya salah. Headline koran hari itu bukannya menyambut Ramadhan, melainkan membahas ribuan wisatawan dari Arab yang banyak berkeliaran di kota Munich akhir-akhir ini.

Kenapa jadi perhatian? karena tahun ini memang luar biasa, katanya jumlahnya memecahkan rekor tahun-tahun sebelumnya. Hampir 80 ribu wisatawan tercatat telah masuk di bandara Munich. Wanita-wanita berbalut pakaian hitam, lengkap dengan kacamata hitam bermerknya, memang sudah tidak asing lagi bagi warga Munich. Mereka sering kelihatan berlalu-lalang sambil menenteng segambreng tas belanjaan. Padahal di kota lain tidak sebanyak ini, setidaknya begitulah menurut pengakuan salah satu teman saya yang tinggal di kota lain. 

Kenapa Munich? karena kota ini merupakan kota paling aman yang menawarkan barang-barang mewah serta pelayanan medis. Rata-rata 70 ribu wisatawan dari Arab datang ke Munich setiap tahunnya. Kurang lebih setengahnya datang untuk berobat. Biasanya mereka datang bersama keluarganya, dan tinggal di Munich untuk beberapa bulan. Beberapa klinik bahkan menarik biaya 5 kali dari harga normal. Wowwww.... harga normal saja sudah sangat mahal, apalagi 5 kali!! Jadi teringat cerita seorang teman, dokter yang bekerja di salahsatu Frauenklinik (klinik wanita), bahwa pasien-pasien dari Arab biasanya memang suka dimanfaatkan untuk periksa ini-itu sekalian, yang mana biayanya bisa makin membengkak. Dan kemarin dapat cerita lagi dari teman yang lain, bahwa di Nuernberg, ada salah satu klinik yang dibeli oleh orang Arab, pasien-pasiennya pun tentu kebanyakan dari sana. Tips yang mereka berikan pada karyawan bisa sampai 1000 Euro. Duh, enak sekali jadi karyawannya, bisa PP ke Indonesia tiap hari.. hihhihi..

Apa yang paling mereka sukai di Munich? Hujan, katanya, mereka senang sekali menghabiskan waktu di luar lebih lama jika hujan turun.. *Hm.. di Arab jarang hujan apa ya??* Tempat wisata yang paling senang mereka kunjungi tentu saja Zugspitze (puncak tertinggi pegunungan Alpen di Jerman) dan Neuschwanstein (istana yang konon menyerupai istananya Walt Disney.. ups.. kayaknya terbalik ya.. konon istana Walt Disney mendapat ide dari istana ini).

Apa yang mereka beli di Munich? Tentu saja barang-barang mewah. Satu orang wisatawan Arab di Munich bisa menghabiskan 500 - 1000 Euro per hari. Pakaian, kosmetik, jam merupakan barang-barang yang sering dibeli mereka. Logo dan merk termasuk hal yang penting. Selain itu, mereka juga membeli obat-obatan, bantal-bantal Ortopedi, bahkan baju anak-anak. Sebagai contoh, salahsatu wisatawan yang diwawancara, baru saja membeli sebuah tas tangan seharga 1520 Euro dari kawasan Maximilianstrasse (komplek toko muahalll!).

Bagaimana mereka datang ke Munich? Sebagian naik jet pribadi. Beberapa keluarga naik Airbus untuk kapasitas 300 orang, dan menurut seorang teman yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan Arab di bandara Munich, 90% penumpang Emirat Airways adalah orang Arab, yang sebagian besar duduk di kelas satu dan kelas bisnis. *Ya ampuuuunnn... untuk kelas ekonomi pun saya harus menyimpan sen demi sen*

Ya.. ya.. begitulah nasib orang-orang kebanyakan duit. Orang Jerman aja (mungkin) sampai heran, makanya sampai dibahas detil di koran begini..

*PS: Informasi yang ada di tulisan ini bersumber dari Abendzeitung.

Monday, August 2, 2010

Liburan Pekan 0: Wasserfan




Tampaknya kami semua memang termasuk penggemar air, menyenangi semua permainan yang berhubungan dengan air, sayangnya tidak termasuk mandi apalagi keramas.. *sigh* Di saat akan jalan-jalan dengan anak-anak, yang ditanyakan pertama kali, "Ada air gak?".

Berikut foto2 di awal liburan panjang tahun ini, foto pertama menyengaja naik kapal kecil di danau di Englischer Garten (ceritanya ingin naik kapal di danau, tapi gak mau jauh-jauh, akhirnya terpilihlah danau yang letaknya di tengah kota ini). Sisanya main-main di sungai paling terkenal di munich, sungai Isar.

Tuesday, June 23, 2009

Lika-liku si surat sakti

Sebenarnya proses memperpanjang izin tinggal di sini tidaklah susah. Setidaknya dibandingkan teman-teman di Belanda yang katanya harus menunggu beberapa hari/minggu ya?! Di sini relatif cepat, hari itu kita mengajukan, hari itu juga selesai. Dengan catatan, semua persyaratan terpenuhi. Kadang memang kita harus kembali di hari lain, bila ada syarat yang kurang.. atau waktunya sudah terlalu siang untuk mengisi daftar pertanyaan keterlibatan kita dengan beberapa organisasi yang dicurigai berbuat teror (maklum pendatang dari Indonesia termasuk salahsatu yang harus mengisi daftar panjang pertanyaan-pertanyaan tersebut). Jika semua beres alias tidak bermasalah, maka izin tinggal tersebut pun bisa dibayar dan diambil hari itu juga.

Saya sendiri tidak pernah mengalami masalah selama beberapa kali memperpanjang izin tinggal di sini. Kecuali dalam kurun 8 bulan terakhir ini, bukan bermasalah sih sebenarnya.. hanya kalau dalam waktu 8 bulan, saya sampai 4 kali mendapatkan izin tinggal... rasanya cukup menjengkelkan juga.. Dan untuk hal ini, saya juga tidak menyalahkan mereka, terlalu banyak 'kebetulan' yang membuat saya bernasib kurang baik seperti ini.

Kisah ini berawal ketika kami mudik ke Indonesia bulan Oktober tahun lalu. Cerita lengkapnya pernah saya tulis di sini. Dikarenakan masa berlaku paspor saya sudah kurang dari 6 bulan, maka saya diharuskan membuat paspor baru di Indonesia sebelum saya kembali ke Munich. Ditambah kedutaan Jerman di Jakarta yang tidak bisa mengeluarkan izin tinggal dengan status yang saya punyai terakhir, maka otomatis paspor lama dan paspor baru harus saya bawa kembali ke Munich. Sekembalinya di Munich, saya langsung memindahkan izin tinggal dari paspor lama ke paspor baru, dengan masa berlaku sama, yaitu 13 Februari 2009, sama dengan masa berlakunya paspor lama saya.

Ketika melihat paspor suami, ternyata izin tinggal dia berlakunya sampai 31 Maret. Lho.. kenapa berbeda? Jelas... karena paspor lama saya hanya berlaku sampai 13 Februari, sedangkan izin tinggal terakhir tersebut dibuat dua tahun sebelumnya. Sayangnya, ternyata izin tinggal anak-anak pun mengikuti tanggal berlaku punya saya, karena dulunya paspor mereka masih menempel ke ibu. Jadi ketika mereka mempunyai paspor masing-masing, otomatis izin tinggalnya masih tergantung izin tinggal terakhir yang nempel di paspornya ibu.

Akhirnya, 2 hari sebelum izin tinggal saya dan anak-anak jatuh tempo, kami berbondong-bondong datang ke KVR lagi. Dengan harapan si Akang bisa memperpanjang izin tinggalnya dia saat itu juga. Jadinya urusan ini akan selesai hari itu juga. Ternyata, karena si Akang mengajukan izin tinggal yang tidak terbatas masa berlakunya, maka secara birokrasi, izin tinggal tersebut harus melalui proses pemeriksaan dulu, katanya. Prosesnya sendiri bisa berlangsung dalam waktu 4 sampai 6 minggu. Sedangkan izin tinggal saya dan anak-anak sudah di ujung tanduk. Maka akhirnya kami diberi izin tinggal sementara sampai 31 Maret (sama dengan izin tinggal lama si Akang. Gak bisa lebih, karena kami sangat tergantung pada kepala keluarga). Dua kali...

Sebulan kemudian, si Akang kembali lagi untuk menyelesaikan proses izin tinggalnya tersebut. Alhamdulillah, setelah dihitung-hitung, masa tinggal dia di Jerman yang tidak pernah terpotong lebih dari 6 bulan, memenuhi syarat (5 tahun). Untuk Muenchen, student dihitung setengahnya dibanding yang kerja. Eh, lagi-lagi.. saya hanya dikasih izin tinggal sementara sampai bulan Juni. Alasannya? Karena saya datang bulan Mei 2004, maka bulan Mei ini saya akan genap 5 tahun. Jadi, istri Anda bisa mendapatkan izin tinggal tak terbatas bulan Juni nanti, katanya. Sebenarnya agak kecewa waktu itu, karena izin tinggal apapun buat saya sama saja, toh kami tidak berencana tinggal di sini selamanya. Tapi kalau memang si ibunya sendiri yang menganjurkan seperti itu.. baiklah.. toh dia lebih berpengalaman, pikir saya.

Akhir Mei lalu, saya datang lagi ke sana. Ternyata data-data saya sudah terpisah sendiri, tidak lagi sebundel dengan data si Akang dan anak-anak. Dan biasalah.. birokrasi.. katanya proses pemeriksaan data saya membutuhkan waktu 2 sampai 3 minggu. Setelah mengisi sebuah formulir, saya pun kembali pulang. Oya, waktu itu sempat menanyakan apakah masih ada syarat yang kurang? Dia bilang tidak. Apakah saya harus datang dengan suami? karena gosipnya, teman2 saya yang lain memerlukan tanda tangan suami untuk keperluan izin tinggalnya tersebut. Ternyata katanya tidak juga. Oke, berarti saya bisa datang sendiri lagi nanti.

Tiga minggu kemudian saya datang lagi. Dan si Ibu tampak sudah mengenali saya. Dia langsung mengambil data saya dan membolak-baliknya. Ternyata.. surat keterangan kerja dari kantor suami saya sudah kelamaan. Ini dari 4 bulan yang lalu, kami membutuhkan yang terbaru, ujarnya. Untungnya, pas ditelepon ke kantor, si Akang bisa nge-fax surat tersebut langsung ke KVR. Kalau begitu, izin tinggal Anda bisa selesai hari ini juga, katanya. Ploong deh.. 10 menit kemudian, saya ketok pintu ruangan si ibu, untuk memberitahukan bahwa suratnya sudah di-fax dari kantor suami saya. Ternyata si ibu malah menyuruh saya masuk dan mengajak bicara. Katanya, setelah dia ngobrol dengan atasannya, masa tinggal saya di sini masih kurang dari 5 tahun. Kenapa? bukannya dari 2004-2009 itu bulat 5 tahun? tanya saya. Ternyata, dalam 2 tahun pertama kedatangan saya, status si Akang masih student. Dan istri student juga dianggap sama seperti student, alias hanya dihitung setengahnya. Yang berarti persyaratan saya tinggal di sini masih kurang satu tahun. Ya ampuuuun.. kenapa sih baru ketahuan sekarang? bukannya dari dulu.. atau minimal dari ketika saya masuk ruangan tadi. Kan katanya ada proses pemeriksaan dulu selama 3 minggu. Kayaknya mungkin penghitungan masa tinggal tidak termasuk dalam proses 3 minggu tadi.. Ah.. birokrasi.. birokrasi..

Alhamdulillah.. akhirnya saya mendapatkan izin tinggal hari itu juga untuk 2 tahun ke depan. Meski penantian 3 bulan ini rasanya sia-sia.. Tapi saya yakinlah, pasti ada hikmah di balik semua ini.

Thursday, May 14, 2009

Belajar memilah sampah

Membuang sampah di sini bukanlah hal yang sederhana dan mudah. Tidak seperti di rumah dulu, dimana saya hanya mempunyai satu tempat sampah, semua jenisnya masuk ke situ, dan langsung dibuang dengan kantongnya ketika sudah penuh. Di sini, sampah harus dibuang berdasarkan jenisnya. Ternyata pengelompokan sampah ini pun bisa beda antara satu Gemeinde dengan Gemeinde yang lain. Bahkan antara rumah yang satu dengan rumah yang lain (kadang ada rumah yang tidak menyediakan tempat sampah bio, jadinya sampah bio dan sampah sisa dicampur begitu saja). Makanya ketika sedang di rumah orang, saya pun masih harus bertanya sampah ini dibuangnya kemana.

Dari pengalaman tinggal di dua daerah dan hasil berbagi pengalaman dengan teman-teman yang kebetulan tinggal di lain Gemeinde, ternyata penyortiran sampah di Munich termasuk yang paling lengkap (baca: rumit), meski pada dasarnya hampir sama saja. Di sini biasanya masing-masing rumah (beberapa rumah) memiliki tempat sampah bio, kertas dan Restmuell (sampah sisa). Sedangkan pembuangan sampah gelas (dipisahkan lagi menjadi gelas putih, hijau dan coklat) dan sampah yang bisa didaur ulang (biasa di sebut Gelbetone, yang mana dipisahkan lagi atas sampah plastik dan kaleng/logam) biasanya ada di masing-masing RW. Kebetulan di lingkungan rumah saya, selain tempat sampah tadi, ada juga tempat pembuangan sampah baju dan sepatu. Dan untuk pembuangan benda-benda besar, misalnya peralatan rumah tangga, ada dalam lingkup yang lebih besar lagi, katakanlah kecamatan.

Untuk memudahkan membuang sampah, saya memilih telah menyortir sampah-sampah tersebut sejak di rumah, daripada saya harus menyortir nanti saat membuang sampah. Makanya di rumah ada banyak sekali tempat sampah. Awalnya saya tidak membiarkan anak-anak membuang sampah sendiri. Jadi saya biarkan mereka mengumpulkan sampah bekas makanannya di meja, nanti saya yang membuangnya ke tempat sampah.

Sejak beberapa bulan yang lalu, saya mulai berpikir, bahwa mereka sebaiknya diajarkan sejak dini. Anak-anak mulai saya minta untuk membuang sampah mereka sendiri ke tempat sampah di dapur. Untuk memudahkan mereka, masing-masing tempat sampah saya labeli dengan warna yang berbeda. Dan ternyata kegiatan menyortir sampah ini menjadi kegiatan yang mengasyikan untuk mereka. Nadin, yang sudah berumur 4 tahun, bisa mengerti dengan cepat. Meski tiap mau buang sampah, dia bertanya dulu, ini sampah plastik atau kertas? bersih atau kotor? yang biru atau yang merah? padahal sebenarnya dia sudah bisa membedakan sendiri.

Maryam (2 tahun) juga ikut-ikutan. Tiap habis makan sesuatu, pasti bertanya, "buang mana?", maksudnya dibuang kemana. Suatu hari, dia mau membuang bungkus kertas bekas makanannya dia.

Maryam: "buang mana?"
Mama: "Itu kertas, Sayang. Buang ke yang biru."
Maryam: "beureum aja.." sambil nyengir.
Mama: "Eh.. itu mah biru atuh.."
Maryam: "beureum!" sambil berbalik menuju dapur.
Mama: "biru!"
Maryam: "Oh, beureum.. okeh!" sambil berlari ke dapur
Mama: *gubraks!!*

Tuesday, April 14, 2009

Jalan-jalan ke Bonbin




Jarang-jarang juga sih kami jalan-jalan ke sini.. tiketnya itu.. kerasa banget.. Eh, tapi masih mahalan Playmobil dink.. soalnya di sini (ternyata) ada tiket keluarga, jadi bisa lebih murah. Selain itu, capenya juga sih.. kelalang-keliling.. lumayan menghabiskan tenaga.

Apalagi kemaren, jalan-jalannya rada maksa sebenarnya. Mengingat hari Minggunya kami udah piknik di Olympiapark sampe sore. Tapi anak-anak udah dijanjiin sejak lama mau jalan-jalan ke bonbin. Rencananya sih minggu lalu kami ke sana, sayangnya anak-anak malah demam, jadinya diundur. Nah, kemaren mereka cuman batuk pilek aja.. gak apa-apalah dibawa jalan, apalagi mereka ceria-ceria aja.. Ditambah lagi ada info kalau di sana hari itu ada acara berburu telur paskah. Kayaknya bakal menarik buat anak-anak.. pikir saya.

Dalam bayangan saya, telur-telur coklat bakal disebar di seluruh kebun binatang. Anak-anak tinggal mungutin sambil jalan.. Ternyata.. pas ke sana, jauuuuh dari yang saya bayangkan. Pertama, yang dicari ternyata bukan telur paskah, melainkan Goldhasen (kelinci emas), itu lho.. coklat kelinci Lindt yang tenar banget itu. Itupun bukan kelincinya langsung yang dicari, tapi anak-anak di suruh mencari 11 huruf yang tersebar di seluruh area kebun binatang, dengan petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam selembar kertas. Setelah selesai, si anak boleh menukarkan hasil buruannya dengan sebuah coklat kelinci tadi. Permainan ini cocok buat anak yang udah sekolah sih.. pertanyaannya buat saya sendiri lumayan susah.. hehe.. jadinya gak dikerjain. Apalagi anak-anak lagi pada batuk, nambah alesan untuk tidak menebus coklatnya.. :D

Pulangnya, tanpa sengaja kami menemukan ada aksi dandan anak gratis (Kinderschminken), yang pastinya, Nadin begitu melihat posternya aja langsung kepengen. Hari itu akhirnya jadi hari yang cukup melelahkan tapi menyenangkan pastinya.. ;)

Saturday, March 14, 2009

Serasa jadi tahanan kota..

Mulai bulan April nanti, si Akang dan teman-temannya di kantor terkena Kurzarbeit alias pemotongan jam kerja. Tentu saja hal ini berimbas ke pemotongan gaji. Alhamdulillah, kami masih dapat bantuan tunjangan dari Arbeitsamt (sekarang namanya jadi Arbeitsagentur). Meski gaji gak full lagi, tapi dipotongnya juga jadi gak gede-gede amat..

Pemotongan jam kerja ini merupakan solusi lanjutan dari pemecatan karyawan beberapa waktu lalu, dalam rangka menghadapi resesi ekonomi belakangan ini. Tampaknya cukup adil juga sih, selain orang-orang masih punya pekerjaan, negara juga tidak terlalu terbebani untuk mengeluarkan tunjangan pengangguran (Arbeitlosgeld).

Berkurangnya jam kerja ini mengakibatkan bertambahnya jatah libur si Akang. Jadinya dalam 6 bulan ini dia harus mengambil libur 24 hari kerja. Bayangkan, biasanya dalam setahun dia hanya dibolehkan mengambil libur 30 hari kerja saja. Saya langsung berpikiran... LIBURAN!!! keliling Eropa aja.. atau pulang ke Indonesia, hihihi... *kayak yang punya duit aja nih gayanya*. Tapi.. EITSSS... tunggu dulu.. TERNYATA, berhubung kami dapat tunjangan dari Arbeitsagentur tadi, kami ternyata tidak boleh bepergian lebih dr 500 km dari kota tempat kami tinggal. Kenapa??? Ternyata meskipun si Akang di rumah, tapi pada hari-hari kerja, dia dianggap seperti orang bekerja, yang artinya dia harus tinggal dalam jarak tadi. *gubraks deh*

Akhirnya.. yaaa... liburan Oster nanti, kami mungkin hanya akan keliling-keliling Muenchen dsk aja, nganterin anak-anak lari-lari... nganteri si Akang hunting bunga kali... nganterin saya belanja-belanji... dll... dll.. Hm... meski kami jarang pergi kemana-mana, tapi kalau diharuskan begini, serasa jadi tahanan kota nih.. :D

Jadi inget postingan saya tentang orang yang kehilangan pekerjaan di sini, masih inget?? Ternyata.. jangankan orang yang kehilangan pekerjaan dan dapat tunjangan sekitar 60% gaji bersih, si Akang aja yang dapat tunjangan sedikit persen, udah dikasih batasan-batasan tertentu yang bikin kami seperti tahanan di kota sendiri begini. Jadi, jangan pernah berpikir ada orang-orang yang bisa memanfaatkan untuk mendapatkan Arbeitlosgeld tiap bulannya, sedangkan dia sendiri bekerja di negara lain. Menurut saya, ini adalah suatu hal yang TIDAK mungkin.

Sunday, March 1, 2009

1 Maret 2009

So, apa yang penting-penting di hari ini??

1. Hari ini tepat dua tahun kami tinggal di rumah ini. Artinya?? kontrak minimal yang harus kami jalankan di rumah ini sudah selesai. Kini kami sudah boleh pindah ke rumah lain, kalau mau, dengan catatan melapor ke yang punya rumah 3 bulan sebelumnya. Tapi untuk sementara ini sih.. malesss banget pindah rumah.. :D

2. Nah, 2 tahun yang lalu.. saya mendapat serangan.. serangan kontraksi yang tiba-tiba datangnya.. dan cepat pula hilangnya.. sampai si anak lucu ini lahir.. Hari ini adalah hari besar buatnya.. bukan karena akan tiup lilin.. atau makan kue enak.. apalagi hadiah yang heboh. Tapi hari ini.. dia harus mulai melepas sesuatu dari hidupnya.. sebagai tanda dia sudah menjadi seorang anak kecil yang sempurna.. Sempurna apanya?? sempurna penyusuannya.. :D

"Maryam.. hari ini Maryam udh 2 tahun.. udh gak nenen lagi ya.."
"Nenen utun ya?!" maksudnya mah Nenennya buat Utun ya?!
"iya.."
Maryam senyum...
Kalau siang gini, memang dia sudah mengerti sejak dua minggu lalu. Tapi kalau malam.. dia masih butuh obat gelisah untuk menemaninya tidur. Yah.. kita liat aja lagi ntar malam.. :D Saya sendiri kok gak tega ya buat menyapih anak ini.. hehhe..

3. Hari ini untuk pertama kalinya saya menemukan belatung dalam beras.. huaaaa.... gatel... Baru kemaren temen cerita kalau dia beli beras yang ada belatungnya.. Makanya saya periksa bener2 sebelum dimasak.. ternyata nemu juga meski sedikit.. Iiih.. siap2 dibalikin besok ah..

Hari ini cerah banget.. sama kayak kemaren.. jalan-jalan kemana ya?? Kayaknya Fasching minggu lalu berhasil nih.. hahaha.. kok jadi percaya begituan sih??!

Terperangkap dalam U-Bahn

Ket: U-Bahn = kereta bawah tanah

Di cuaca yang sangat hangat kemarin, kami benar-benar memanfaatkan hari itu untuk bermain di luar. Kebetulan si Akang mau ke rumahnya Mas Agung di Olympiazentrum, langsung aja saya pingin ikut.. Selain bisa ketemu Elyta, yang baru lulus dan masih hamil besar (fyi, anak-anak suka banget lihat wanita hamil.. :D), kami juga bisa bermain di taman belakang rumah mereka (Spielplatz maksudnya mah..). Dan sepulangnya dari sana, kami bisa langsung menyantap bakwan malang di Stammtischnya Swadaya, hehehe... Hari yang indah...

Setelah puas bermain-main, kami pun pulang. Naik U-Bahn yang jam 3 menuju kota. Perjalanan boleh dibilang lancar, bahkan sama sekali tidak terasa.. karena saya menghabiskan waktu sambil ngobrol di U-Bahn. Tiba-tiba kami baru sadar kalau U-Bahn berhenti di tengah-tengah. Iya, di lorong jalannya U-Bahn yang gelap gulita.. bukan di stasiun. Entah sudah berapa lama kami di situ. Saya pun mulai mengingat-ingat stasiun terakhir yang telah kami singgahi tadi. Kalau tidak salah sih Odeonplatz.. berarti berikutnya adalah Marienplatz, stasiun dimana kami harus turun.

Tiba-tiba terdengar pengumuman dari masinisnya, bahwa kereta bagian depan rusak, sehingga kereta tidak bisa bergerak. "Oooo.." terdengar keluhan panjang dari para penumpang.. termasuk saya.. :D Kebetulan saat itu kereta memang penuh... untungnya tidak sepenuh seperti jam-jam sibuk, dimana U-Bahn biasanya berdesak-desakan kayak bis kota di Bandung. Tidak sampai ada penumpang berdiri, tapi semua kursi terduduki. Jadinya kami masih bisa bernapas lega.

Menit demi menit berlalu, masinis terus mengumumkan bahwa kereta masih belum bisa jalan, dan berterima kasih untuk kesabaran kami. Penumpang mulai gelisah.. mungkin ada yang punya janji.. mungkin ada yang sudah tidak sabar... mungkin ada yang takut dan khawatir kami akan ada di sana seharian.. Untungnya anak-anak tidur, jadi mereka tidak bosan dengan kondisi yang ada. Saya dan si Akang sendiri mulai berpikir, kalau-kalau ternyata kami harus keluar dari situ.. hm.. berarti Kinderwagen mesti ditinggalin nih.. Akang mangku Nadin, aku mangku Maryam ya... pikirku.

Kemudian terdengar lagi masinis mengumumkan bahwa mesin kereta paling depan benar-benar rusak dan tidak bisa jalan lagi, dan kami semua harus turun di stasiun berikutnya, di Marienplatz, tak lupa dia meminta maaf dan berterima kasih. Tapi kami sedikit lega sih mendengarnya, setidaknya ada harapan kami bisa keluar di tempat yang aman. Ternyata mengumumkan hal ini saja entah sampai berapa kali, sampai kami bosen dengernya... tapi kereta tak kunjung maju. Tiba-tiba.. krekkk.. kereta mundur.. berhenti lagi.. Terdengar suara-suara napas tertahan. Dan ternyata kami masih harus menunggu. Masinis mengumumkan lagi, kalau ternyata si kereta masih belum bisa bergerak.. *wadduh*

Kami menunggu... menunggu... dan menunggu...
Kereta mulai bergerak maju.. perlahan-lahan sekali... Penumpang pada beryel-yel ria, "schieben! schieben! schieben!". Dan... ya.. ya... akhirnya kami melihat dunia terang kembali.. kini terdengar desah napas lega dari semua penumpang.. dan kami pun keluar dengan perasaan gembira luar biasa....

Ternyata, perjalanan yang seharusnya kami tempuh 12 menit saja, kemarin menjadi sekitar 40 menit. Cuma setengah jam aja kami terperangkap di dalam sana.. tapi rasanya luammmaaaaa sekaliiiii... Ada yang terperangkap juga di sana kemarin??? :D Akhirnya rencana berubah, karena kami udah kecapean, kami langsung pulang ke rumah... lupa kalau kami sudah berencana makan bakwan malang.. hiiiikkkkssss...

Tuesday, February 17, 2009

Di Kiga hari ini...


4 kali nih...

Hari ini Munich kembali didera badai salju tanpa akhir.. persis di hari ketika dia terlahir. Hm.. pantesan anak ini doyan banget maen salju.. (hahaha.. ini sih ibunya aja yang suka nyambung-nyambungin hal gak jelas).

Lumayan cape juga menghadapi hari ini, apalagi dihadang badai ketika pergi. Sampai-sampai si wadah kue terjatuh.. untunglah kuenya cuma Brownies, dilapis glasur pula. Jadi lumayan tahan banting.. cuma cacat sedikit. Alhamdulillah Nadin mintanya bukan kue yang aneh-aneh... dia cuma pengen dibikinin kue coklat alias brownies kayak ulang tahun dia sebelumnya di Kiga. Dengan glasurpun.. kuenya masih kelihatan rame..tek.. (baca: berantakan) hihihi.. apalagi kalau dihias-hias pake cream. Wadduh.. gak kuku deh..

Meskipun saya rada-rada tidak puas dengan kuenya.. dekornya amburadul banget deh.. Tapi hati ini jadi terhibur ketika Nadin melihat, komentarnya, "Wah.. kuenya bagus dan cantiiiiik sekali..". Dan dia tampak semangat sekali pergi ke TK hari ini. Apalagi ketika saya menjemput Nadin, saya diserbu teman-temannya Nadin dengan komentar, "Der Kuchen war ganz ganz lecker.. die Schokolade auch.. Alles war gaaanz lecker!!". Ternyata anak-anak itu tidak melihat mukanya itu kue.. alhamdulillaah... Dan emang udh sifat dasarnya anak-anak, dikasih apapun.. gak usah mahal ataupun bagus.. pasti seneng..

Musim Salju


karena suhu di luar terlalu dingin.. saljunya di bawa ke rumah aja.. Eh.. jadi kepengen cendol.. :D

Beberapa minggu lalu di Munich suhu sempat memburuk, bahkan paling buruk dalam 5 kali Winter yang pernah saya alami. Biasanya suhu paling rendah mencapai -15 derajat celcius.. itupun kalau malam. Siang tentu saja lebih hangat dari itu. Tapi kemarin itu, siang-siang suhu bisa mencapai -17 derajat celcius.. apalagi malam... bbrrrr... Kabarnya memang, waktu itu sedang ada angin dingin dari Siberia. Makanya, hampir seluruh daratan Eropa membeku. Di koran-koran juga diberitakan, bahwa terjadi Schneechaos di beberapa daerah yang bahkan dalam beberapa tahun terakhir tidak pernah dihinggapi salju. Anehnya, waktu itu ,meski suhu jauuuh lebih dingin dibandingkan Freezer, di Munich justru salju muncul dengan malu-malu

Sampai akhirnya, hari Selasa minggu lalu, datang badai angin yang sangaaaaat kencang. Semua barang yang disimpan di luar rumah, hampir tidak ada yang bisa diselamatkan.. Semua beterbangan... Sampai-sampai, bola Gymnastik yang saya simpan di balkon pun terbawa angin, padahal pagar balkon saya lebih tinggi dibandingkan bolanya.. ck..ck..ck... Dan keesokan harinya, turunlah salju yang disertai angin.. tak berhenti.. hingga hari ini... (Ok.. ini terlalu berlebihan.. berhenti sih.. satu dua jam.. tapi kemudian hujan lagi.. dan lagi.. dan lagiii.. :D). Ternyata Schneechaos baru sampai minggu ini di Munich. Meskipun begitu, ini belum separah waktu 2006 lalu sih.. Waktu itu, salju mencapai ketinggian 75 cm. Kasihan bener tukang sodok salju ya?!

Anak-anak tentu saja senang..bukan hanya main di luar.. tapi juga di balkon.. bahkan di kamar mandi.. :D:D:D

Thursday, February 12, 2009

Kunjungan2 di Awal Tahun


Rahma, Ina, Lia, Robby/Nadin, Fean, KangDian

Bagi saya, malam tahun baru tidak ada bedanya dengan malam-malam lainnya. Tidak pernah ada sesuatu yang istimewa di malam ini, apakah jalan-jalan keluar.. apalagi bikin pesta. Yang ada, kami tidur seperti biasa.. dan melihat semburan kembang api dari balik jendela.

Tahun baru kemaren sedikit berbeda, kami mendapat kunjungan teman-teman dari Belanda.. ditambah dua orang lagi dr Ravensburg. Jadinya suasana rumah jadi ramai. Dan senangnya.. tamunya pada jago masak.. Jadinya yang masak malah tamunya.. bukan tuan rumah.. hehehe... Meskipun persediaan makanan sedikit mengkhawatirkan, alhamdulillah kami semua masih bisa makan.. gak tau tapi, pada kenyang gak ya?! Soalnya ada beberapa hal di luar dugaan.. Saya hanya memperkirakan mereka makan dua kali di rumah, satu kali sarapan (dengan porsi bukan makanan berat), satu kali makan malam. Ternyata jadinya 3 kali makan.. gara-gara cuaca hari itu jelek.. Jadinya pada suka diem di rumah.. :D Aktivitas di hari pertama, ada yang belajar.. ada yg nonton.. ada yg maen kartu.

Hari kedua.. hampir terulang.. Tapi akhirnya pergi juga, meski setelah Ashar baru cabut. Jadinya cuma sempet ke BMW Welt aja. Duh.. kasihan bener deh para tamuku.. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya sebagai tuan rumah memohon maaf atas segala kekurangan. baik dr segi makanan, fasilitas, juga jasa antar.. :D

Kunjungan kedua, akhir Januari kemarin, kunjungan Kang Ahya.. Siapa sih gak kenal Kang Ahya di Muenchen sini?? Makanya banyak orang sedih ketika beliau memutuskan kembali ke Indonesia dan berkarir di sana. Nah, kemarin Kang Ahya kebetulan ada bisnis ke Austria, jadi mampir di Muenchen. Dan alhamdulillah sempet mampir nginep di rumah, meski cuma semalam. Anak-anak seneng banget dikunjungi Uwanya.. padahal pas ditinggal dulu, mereka masih pada kecil. Mungkin masih pada inget sih suka dipangku-pangku ama si Uwa dulunya. Maryam sampe bertanya-tanya terus, Uwa mana?? Uwa mana?? Heuheu.. gak tau kenapa, dia seneng banget sama yang namanya Uwa.. Uwa manapun.. Jadi, kalau mau ditempelin Maryam, kenalkan dirimu sebagai Uwa.. :D:D:D

Tuesday, February 10, 2009

Mogok lagi.. mogok lagi...

Tampaknya budaya mogok ini udah jadi ritual tiap tahun kali ya? Soalnya tahun kemaren juga ribuut pada mogok, dan tahun ini terulang lagi. Hari Selasa minggu lalu misalnya, yang mogok adalah MVG, salahsatu perusahaan yang menangani transportasi umum di Munich. MVG ini meliputi U-Bahn, tram dan bus. Sedangkan S-Bahn ada dibawah penanganan DB. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya orang untuk beraktivitas di hari itu, tanpa 3 jenis alat transportasi seperti biasanya.

Ternyata aksi mogok ini bukanlah aksi tanpa rencana, bahkan semuanya terlihat telah diorganisir dengan sempurna. Beberapa hari sebelum mogok, telah diumumkan di koran-koran, juga di stasiun-stasiun U-Bahn termasuk di website MVG dan MVV sendiri, bahwa pada tanggal 3 Februari akan ada aksi mogok dari MVG. Di sana dijelaskan bahwa pada hari itu tidak akan ada U-Bahn dan tram yang akan beroperasi sampai dengan pukul 15.30, dan terjadi pembatasan rute untuk bus.

Kebetulan, hari itu saya sudah membuat janji dengan dokter anak untuk U8 Nadin. Janji ini tentu sudah dibuat 2 bulan sebelumnya, dimana saya belum tahu akan ada aksi mogok. Sebenarnya bisa sih janjinya digeser ke hari lain, hanya saya lupa untuk menelepon dokter 24 jam sebelum janji tersebut. Kalau dibatalkan dalam waktu kurang dari 24 jam, saya bakalan kena denda 25 Euro. Sayang banget kan?! Akhirnya Senin malam, saya coba mencari-cari informasi lebih lengkap di MVV-Muenchen.de. Dan wah.. barulah saya tau, betapa aksi mogok ini dilakukan dengan penuh persiapan.

Jadi, pada hari itu, memang U-Bahn dan Tram tidak beroperasi. Tetapi, untuk jalur-jalur tersebut disediakan bus darurat dengan rute yang lebih pendek juga. Meskipun kapasitas bus jauh lebih sedikit dibandingkan U-Bahn dan tram, tapi lumayanlah.. daripada nggak ada. Cukup menolong untuk orang-orang yang harus bekerja/sekolah tanpa kendaraan pribadi. Dan ini menjadi tanda, mereka masih peduli dengan para pengguna kendaraan umum. Bus-bus tetap jalan, tapi rutenya menjadi lebih pendek. Untuk informasi tentang rute serta bus yang masih beroperasi pada hari itu, juga terlampir dengan jelas di websitenya. Kebetulan, bus yang saya butuhkan hari itu masih lewat halte rumah saya. Jadi, kegiatan hari itu bisa tetap berjalan lancar.

Efek samping yang diakibatkan aksi mogok yang sangat kentara adalah kemacetan di pagi hari, sepinya stasiun-stasiun U-Bahn dan tram, bahkan jalan-jalan di TKnya Nadin juga dibatalkan. Pintu menuju ke stasiun U-Bahn bahkan ditutup, hal ini mungkin untuk menghindari tejadinya kejahatan di bawah tanah. Hm.. rasanya tidak enak juga ya kalau tidak ada kendaraan umum... Efek lainnya, siap-siap aja harga tiket naik lagi.. :D

Sunday, December 14, 2008

...dan ketika Maryam tiba...

Lain Nadin, lain pula Maryam. Pada proses kelahiran Maryam, saya justru lebih tenang dibandingin si Akang. Pertama, mungkin karena bahasa Jerman saya yang sudah sedikit membaik. Gak usah lagi nanya ke si Akang, "mereka ngomong apa sih??" Tak hanya bisa menangkap apa yang mereka bicarakan, tapi saya pun sudah bisa merespon.. meskipun kalau ngomong masih terbatuk-batuk, hahaha... Kedua, saya pernah merasakan sakitnya akan melahirkan itu seperti apa, jadinya sudah bisa meraba-raba, kapan saya akan melahirkan.. Yang ternyata.. saya masih salah juga.. :D

Maryam diperkirakan akan lahir tanggal 7 Maret. Tapi saya begitu berharap dia akan lahir di hari yang sama dengan Nadin, 17 Februari. Biar gak usah ngapalin tanggal lahir, hihihi.. Sebelum tanggal 17 Februari, saya tidak pernah berharap akan melahirkan dalam waktu dekat. Tapi, pada tanggal 16-nya, saya mulai berharap-harap cemas.. Dan ternyata tanggal itupun lewat.. Tapi semenjak hari itu, saya mulai menunggu.. Emang waktunya tak lama lagi kan? Jadi, hampir setiap hari, saya ngomong ke si Akang dan ke sobat saya waktu itu, "kayaknya malam ini deh dia akan datang." Si Akang cuma senyam-senyum aja. Sobat saya pun cengar-cengir... "hey.. kalau sampai sesorean ini kamu masih belum ada kontraksi, jangan harap ngelahirin ntar malem... :D" katanya. Entahlah.. habis waktu melahirkan Nadin juga rasanya begitu mendadak. Gak ada angin, gak ada hujan.. tiba-tiba aja mulas...

Sampai akhirnya saya pun bosan dengan 'kayaknya.. kayaknya' itu.. dan lupa.. Karena mau pindahan, banyak sekali yang harus dikerjakan.. Belum lagi kursus bahasa yang semakin lama semakin mempersempit waktu saja rasanya. Tapi justru.. disaat saya lupa itu, dia malah datang.. Pagi itu, saya terbangun karena ada sesuatu yang mengusik tidur saya. Rasanya kok perut kayak sedikit mulas.. tapi serasa di dalam mimpi aja. Karena sudah hampir jam 5 pagi, saya pun terbangun. Minum.. makan.. beres-beres.. cuci piring.. Gak ngurus sholat, soalnya belum shubuh. Setelah bangunin si Akang, cerita deh, kayaknya udh mulai kontraksi. Tapi tampaknya masih malu-malu. Belum sesakit dulu. Palingan kalau nggak ntar sore/malam, besok pagi ini mah. "Ya udah atuh", katanya, "biar Akang yang nganterin Nadin ke Krippe (Playgroup).". Tapi sebenarnya si Akang teh nawarin pilihan lain, dia mau nganterin saya dulu ke RS, baru nganterin Nadin, dia khawatir bener kalau ninggalin saya sendirian di rumah. Takut kenapa-napa katanya. Tapi saya lebih memilih nunggu di rumah aja.

10 menit sebelum mereka berangkat, sakitnya terasa tiba-tiba menjadi-jadi. Sayapun berubah pikiran. Kami tiba di RS pukul 8.30, saya langsung menemui seorang bidan yang sedang bertugas dan langsung ditangani olehnya. Sewaktu saya periksa CTG, si Akang pergi dulu nganterin Nadin. Saya pikir, saya akan diusir pulang lagi. Kalau iya, saya mau nunggu aja di kantin RS. Ternyata tidak, pukul 9.00 saya malah disuruh pindah ke kamar bersalin. Sudah saatnya kah? Mungkin.. katanya sambil tersenyum. Hm?? cepat sekali.. pikirku. Saya sempat ditanya.. bisa jalan sendiri atau tidak? Ya, tentu saja saya bisa jalan sendiri. Hati mulai khawatir, soalnya si Akang baruuuu aja pergi. Pastinya tidak akan kembali dalam waktu 5 atau 10 menit. Ternyata rasa khawatir ini dirasakan pula oleh Bidan. Dia mulai bertanya, "Lho.. suami Anda kemana? tadi ada kan?". "Iya, dia sedang mengantar anak saya dulu ke Krippe".

Saat itu, saya hanya melakukan buang nafas pendek2 setiap kali kontraksi datang, yang mana mendapat pujian dari Bidannya. Padahal ini juga taunya diajarin dia dua tahun yang lalu. Saya tidak berani ngeden sedikitpun, soalnya sebulan sebelumnya, sobat saya yg lain melahirkan dengan ngeden2 dr awal, hingga terjadi sesuatu yg mengerikan (Thx sharingnya, Nana..). Saat itulah saya baru tahu, kenapa bidan saya yang dulu melarang saya untuk ngeden sebelum waktunya. Semakin lama, semakin terasa di dalam perut ada yang meluncur ke bawah, setiap kali kontraksi. Saat itulah, saya baru sadar, bahwa seandainya kita tidak ngeden pun, tampaknya bayi akan keluar dengan sendirinya.. tapi lamaaaaa kali. Dan secara otomatis.. saya pun mulai mendorong.. sambil minta izin ke Bidan. Sang Bidan pun heran.. kenapa saya tidak dari tadi mulai mendorong bayinya. Hahaha... saking takutnya.. jadi aja... Dengan dua atau tiga kali ngeden, Maryam pun tiba, tanpa disaksikan bapaknya. Untungnya saya ditemani Bidan.. Jadi disela-sela kontraksi, ada yang bisa saya ajak ngobrol.

Meskipun dia lahir bukan pada tanggal yang sama dengan kakaknya, tapi mereka lahir di hari yang sama (Kamis) dan jam yang hampir sama pula. Nadin jam 10, Maryam jam 9.45. si Akang baru sampai lagi di RS pukul 10.30-an. Dia sempet kaget, karena istrinya sudah tidak di kamar yang ia tinggalkan tadi. Orang-orang juga pada heboh ternyata.. "Oo.. ini toh bapak yg tadi nggak ada?!" 

Maryam sempat tinggal di kamar inap bersama saya selama beberapa jam. Tapi sorenya, dengan terpaksa dia harus di bawa oleh dokter anak ke Kinderklinik (yang untungnya terletak di sebrangnya Frauenklinik), gara-gara suhu badannya yang terus menurun, sampai-sampai dia mencapai suhu 32. Katanya dokter, hal ini bisa menyebabkan dia rawan terkena bakteri, makanya lebih baik dia diangkut ke sana untuk diawasi lebih lanjut. Meski saya tidak bersamanya, susu tetap saya peras (tentu saja atas anjuran RS), kemudian dikirimkan oleh suster ke sana. Jadi, meskipun dia tidak bersama saya, dia masih tetap bisa ngASI. Makanya kali, anak ini sampai sekarang juga meni hobi pisan ngASI. Alhamdulillah, besok sorenya dia sudah bisa dikembalikan ke pangkuan ibunya. :)

**************tambahan
**************
Ada yang lupa nih.. Sebenarnya ada lagi bedanya melahirkan yang kedua dan berikutnya dibandingkan dengan melahirkan yang pertama. Pada proses melahirkan pertama, kontraksi akan hilang begitu saja saat sang bayi lahir. Koreksi... setelah bayi lahir, masih ada satu kontraksi lagi untuk mengeluarkan plasenta. Setelah plasenta keluar, kontraksi akan hilang seketika.. dan kita bisa benar2 menikmati waktu2 berikutnya dengan sang Bayi.

Tapi pasca melahirkan kedua.. setelah plasenta keluar. Kontraksi belum berhenti sampai... tergantung orangnya sih.. kalau saya sampai hari ketiga setelah melahirkan. Tapi temen saya cuma sehari aja. Di sini disebutnya Nachwehen (kontraksi lanjutan kali kalau diterjemahin mah). Dan jangan khawatir sih kontraksi ini jauuuuh lebih kecil dibandingkan kontraksi sebelum melahirkan.. Tapi kalau malam-malam.. biasanya kerasa lebih kuat.. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Dan jangan khawatir juga, kita boleh minum Paracetamol untuk mengurangi rasa sakitnya. Kalau saya dulu sok-sok an gak mau pake Paracetamol gara2 takut ngaruh ke ASI.. yg akhirnya malah menyiksa diri sendiri. Pada akhirnya minta juga tuh pil pengurang rasa sakit.. :D

Oya, kenapa bisa ada kontraksi lanjutan?? Kalau saya gak salah ngerti nih.. katanya sih kontraksi ini sebagai tanda bahwa rahim kita sedang dalam proses kembali ke ukurannya semula. Maklum setelah melahirkan yang kedua, rahim kita sudah lebih mengembang dibandingkan yang pertama. Jadi dia meureun butuh waktu dan tenaga yang lebih besar untuk kembali ke awal.

Ketika Nadin tiba...

Bayar utang dulu ke Sandra ah.. udah janjiin dari 2 apa 3 minggu yang lalu ya, San?? Maaf, baru sempet sekarang ceritanya. Sebenarnya sih Sandra cuma pengen tahu tanda-tanda kelahiran normal aja, cuma.. kayaknya gak mantep kalau gak sekalian sama pengalamannya.. :D Eh, buat Rela juga.. tampak beberapa bulan sudah berlalu, ya La?!

Saya benar-benar tidak menyadari kontraksi pertama saya. Ada beberapa orang bilang, mereka bisa merasakan kontraksi sedikit-sedikit sejak beberapa hari sebelum melahirkan. Tapi saya tidak pernah merasakan apapun.. selain tendangan-tendangan bayi.. yang lebih saya rasakan sebagai hiburan.. daripada sebuah kontraksi. Sampai di suatu tengah malam, saya terbangun.. biasa sih sebenarnya.. di penghujung kehamilan ini, saya selalu kebelet tengah malam. Maklum, kantong kemih yang semakin lama semakin terhimpit oleh sang bayi, mengharuskan saya lebih sering pergi ke kamar mandi.

Tapi.. ada yang beda dengan malam itu.. Saya terduduk lebih lama... rasa-rasanya perut sedikit mulas.. dan memang isi perut pun terkuras. Beberapa saat setelah kembali ke tempat tidur, mulas yang tadi datang kembali. Saya pun balik lagi ke WC... dan termenung lagi.. Tapi tampaknya tadi sudah keluar semua. Akhirnya kembali tidur.. Dan kembali lagi ke WC, karena mulasnya datang lagi. Saat itulah, saya melihat bercak darah.. Panik.. kaget.. takut atau gembira.. saya udah gak bisa bedain lagi.. Kayaknya ini sih salah satu tanda-tanda melahirkan. Langsung bangunin si Akang, yang sebenarnya dia baru saja memejamkan mata.. Pengen nanya sama seseorang.. tapi pasti teman-teman di Muenchen sedang asyik dengan mimpinya masing-masing. Akhirnya, meskipun sebenarnya kami tidak mau membuat khawatir orang tua, kami putuskan untuk bertanya pada mereka. Mulasnya periodik nggak?? katanya.. Mana saya tahu?? Ya sudah, akhirnya saya putuskan telepon untuk mengamati rasa mulasnya periodik atau nggak.

Ternyata kontraksi berikutnya datang 1/2 jam kemudian, berikutnya 25 menit.. makin lama makin berkurang jaraknya. Setelah dirasa-rasa.. ternyata kontraksi itu sakitnya berawal dari punggung. Terus merembet ke bawah.. sampai akhirnya ke perut. Lumayan tuh, bisa sampai beberapa menit sakitnya. Dan rasanya.. makin sering kontraksi... makin lama deh sakitnya.. Sampai akhirnya kontraksi datang setiap 15 menit. Saat itu, saya sudah kesakitan dan tidak tenang, minta diantar ke RS saat itu juga. Tapi si Akang, yang sangat mengantuk itu, memutuskan untuk nelepon dulu ke sana, daripada udah di sana diusir, katanya. Memang sering kami mendengar cerita teman-teman, yang disuruh pulang kembali setelah sampai di RS, karena diperkirakan masih lama ke saatnya melahirkan. Ternyata jawaban dari mereka, saya baru boleh ke sana kalau kontraksi sudah datang setiap 5 menit atau ketuban pecah duluan. Si Akang kembali ke tempat tidur, tapi saya yakin dia tidak bisa tidur mendengar erangan saya yang setiap 15 menit itu.. bahkan lama-lama makin berkurang. Sambil menunggu.. dan pengennya mengabaikan rasa sakit, saya mandi aja. Yang ternyata.. baiknya sih berendam.. bukan mandi pakai shower, hehehe... Dasar aja tulalit.

Ketika kontraksi makin lama makin sering, saya bangunin lagi si Akang, saya pengen ke rumah sakit sekarang juga. Udah 5 menit? katanya.. saya pun mengangguk. Dia pun coba menghitung.. ah.. baru 7 menit.. Dan saya pun langsung marah.. *bawaan orok* "Pokoknya kalau Akang gak nganter sekarang.. aku mau pergi sendiri aja..". Kayak yang berani aja.. padahal masih jam 3 malam gitu.. :D:D:D

Akhirnya, untuk menenangkan istrinya, diapun menelepon Taksi. Taksi pertama, tidak ada yang mengangkat. Taksi kedua, semua mobilnya sedang keluar. Taksi ketiga alhamdulillah dapat. Kami pun menunggu.. dan menunggu.. dan menunggu... Kok lama sekali?? Padahal itu Taksi, kandangnya deket banget dari rumah, hanya satu stasiun S-Bahn. Ternyata ada telepon masuk dari supir taksinya, katanya dia terhalang badai salju di jalan.. jadi butuh waktu agak lama untuk sampai di rumah kami. *gubraks*

Jam 4-an sang Taksi pun sampai. Kami pun berangkat dengan koper yang sudah dipersiapkan sejak kehamilan menginjak minggu ke-30-an. Koper ini berisi perlengkapan saya selama di RS nanti, plus satu set baju bayi untuk pulangnya dia nanti dan beberapa cemilan untuk ganjel perut :D

Sesampainya di RS, saya langsung di CTG, dari situ bisa kelihatan period kontraksi yang saya rasakan. Saya pun di beritahu Bidan cara mengambil.. eh.. membuang nafas yang benar saat kontraksi datang. Buang pendek-pendek tea... lumayan sedikit mengurangi sakitnya.. Bidan pun memeriksa saya. "Wah.. bagus.. sudah bukaan 4" katanya. Lalu kami di suruh istirahat dulu di sebuah kamar, plus ekstra tempat tidur buat si Akang. Ini bidannya kebetulan baik banget. Jam 6, dia bilang rekan kerjanya akan menggantikan dia, dan nanti saya akan dikasih sarapan.. yang ternyata.. TIDAK!!

Sepagian itu, saya di kontrol terus sama dokter dan bidannya. Untuk  melahirkan normal di sini, ditangani oleh seorang dokter dan seorang bidan. Saya tanya ke bidannya, apa saya akan melahirkan hari itu? Jawabnya iya, tapi kapannya dia juga nggak tau.. segera.. nanti siang.. atau nanti malam mungkin saja, katanya. Aduuuuuh.. mikir.. kalau sampai nanti malam.. saya kuat gak ya nahan rasa sakit ini?? Oya, saya sempat beberapa kali ngeden waktu kontraksi datang. Tapi ternyata bidan melarangnya.. belum waktunya.. katanya. Alasannya saya pun gak ngerti. Maklum gak bisa bahasa Jerman. Komunikasi pun selalu lewat si Akang dulu.. hahahah... repot amat sih..

Jam 8 pagi, akhirnya saya dipindahkan ke ruang melahirkan. Kontraksi datang semakin sering.. rasanya seperti penderitaan tiada akhir... Tampak ada sedikit masalah. Ternyata.. ketuban saya gak pecah-pecah.. Jadi bayinya masih juga belum bisa keluar. Akhirnya  dokter berinisiatif untuk memecahkan ketubannya. Dia sudah siap-siap dengan jarumnya. Tiba-tiba.. tepat si dokter mau mecahin ketuban.. DOR.. ketubannya pecah sendiri.. hahaha.. si dokter pun terkejut.. Ini yang jail.. ibunya apa anaknya ya?? :D

Setelah ketuban pecah, proses melahirkan pun lebih cepat. Saya sudah di suruh ngeden waktu itu.. dan tepat pukul 10 pagi, Nadin pun tiba.. Dia langsung dilap, dibungkus selimut.. dan diberikan pada saya untuk disusui. Setelah itu, baru dia dibersihkan lagi dan dipakaikan baju seragam. Meski seragam.. Nadin mah gak akan ketuker deh.. karena rambutnya yang hitam dan kulitnya yang gelap.

Kami tinggal di RS selama 4 hari. Di sini, sudah ada standar untuk pemeriksaan bayi. Pemeriksaan pertama ketika baru lahir. Pemeriksaan kedua pada hari ke-3 atau ke-4. Karena itulah, kami tinggal di sana sampai hari ke-4. Tidak hanya bayi, ibunya pun selalu dikontrol setiap hari. Enaknya lagi, di RS tempat saya melahirkan, sang bayi tidak perlu disimpan di kamar bayi. Tapi dia boleh tidur bersama-sama di kamar ibunya. Tidak terasa.. hampir 4 tahun berlalu.. Kini bayi yang lahir tadi sudah sebesar ini...

Thursday, October 2, 2008

Lebaran 2008




Setelah sempat 2 kali menikmati lebaran bersama keluarga di tanah air, akhirnya tahun ini kami memutuskan untuk kembali berlebaran bersama keluarga di kota Munich. (hahaha.. bilang aja gak punya ongkos buat mudik!).

Alhamdulillah.. ternyata berlebaran di sini, tidak kalah berkesan dengan berlebaran di Indonesia. Meskipun suasana malam takbir tidak terasa, yang penting pas hari-H nya kami selalu ceria... Dan seperti biasa, acara di hari raya ini selalu heboh. Selain acara inti (sholat idul fitri dan silaturahim.. dan makan-makan tentu saja.. :D), selalu ada acara hiburan. Hiburan kali ini apalagi.. banyak bangeeeeeth... Mulai dari Operet adik-adik TPA, tari saman cilik, vokal grup ibu dan anak, unjuk kebolehan anak-anak Muenchen, Tari Saman dari Swadaya Indonesia-Muenchen.. juga kuis keluarga.. Sayangnya.. karena keterbatasan waktu.. kuis keluarga hanya sempat 1 permainan saja, yaitu lomba merias wajah. Tapi itupun, sudah cukup mengundang tawa... dan kelihatan betapa kreatifnya anak-anak.. :D

Tuesday, September 16, 2008

Lampu mati dan perbaikan jalan

Kemarin adalah hari pertama Nadin kembali ke sekolah.. TK maksudna mah.. setelah liburan selama 6 minggu.. Ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu olehnya. Baru bangun aja, dia udah langsung semangat cuci muka, gosok gigi dan ganti baju. Tak usah mandi lah.. dingin.. lebih tepatnya sih.. duiiingiiiiin sekaliiii... iyalah, suhu menunjukkan 6 derajat Celcius, mana hujan pulak... wah.. udah berasa Winter deh.. Anak-anak didandanin layaknya musim dingin, lengkap dengan jaket tebal, kupluk dan sarung tangan.. tidak lupa baju dalamnya pun udah pakai yang panjang-panjang... Begitu keluar dari pintu.. wuuusshhh... angin langsung menyapa muka kami.. seolah mengucap selamat pagi.

Sampai di perempatan.. duh.. rasanya makin malas lah berjalan ke halte bus.. Karena ternyata lampu merah di perempatan sana sedang rusak (mungkin karena kedinginan :D), jadinya digantikan oleh dua orang polisi. Ditambah lagi dengan perbaikan jalan yang harus kami lewati untuk menuju halte bus.

Lampu merah mati di jalan ini sebenarnya jarang terjadi. Selama kami tinggal di rumah ini (kurleb 1,5 tahun) baru dua kali saja tidak jalan karena sengaja dimatikan untuk diperbaharui. Ini yang ketiga kalinya. Setiap kali lampu ini tidak berfungsi, selalu digantikan oleh dua orang polisi. Yah, memang harus ada yang menggantikan, karena jalan ini cukup besar, masing-masing arah terdiri dari 4 jalur, bolak-balik jadi 8 jalur.. ditambah lagi dengan dua buah jalur tram. Kebayang nggak sih besarnya jalan ini??? Pantesan, setiap kali kami menyebrang.. rasanya gak nyampe-nyampe.. :D *hiperbol pisan*

Untuk mengatur perempatan jalan segede ini, hanya dibutuhkan dua orang polisi saja. Yah, memang sih, kalau kebanyakan mungkin malah jadi pusing.. Ntar ada yang nggak kompak, bisa-bisa malah tabrakan. Tapiii.. tolongin donk kami para pejalan kaki. Dalam kondisi seperti ini, kami yang mengalami kesulitan. Pak Polisi cuman mengatur mobil saja.. jadi kami harus benar-benar memperhatikan mobil dari arah mana saja yang jalan dan yang berhenti, dan mengira-ngira sendiri kapan kami bisa menyebrang. Untungnya saya udah biasa nekad, asal jalanan kosong, nyebrang lah. Sedangkan di sebelah saya, ada Opa-opa yang bingung.. kapan dia harus menyebrang.. ntah berapa lama dia sudah menunggu di sana. Akhirnya saya ajak juga dia untuk nyebrang nekad bareng-bareng. Dan sialnya, hari itu polisinya udah tua, galak lagi.. :((

Setelah ini, kami masih harus melewati tempat perbaikan jalan. Perbaikan ini sudah lama sekali.. sejak awal September lalu.. (halah.. baru dua minggu juga..).. abis rasanya kok gak beres-beres.. (iyalah.. di situnya juga ditulis sampai pertengahan Oktober). Saya memang paling gak suka dengan perbaikan jalan. Selain berisik dan udara menjadi kotor (berdebu), jalanan menjadi tidak nyaman. Memang sih, biasanya para pejalan kaki masih diberi lahan untuk berjalan, tapi sempit dan kadang medannya sangat sulit. Misalnya minggu lalu, jalan yang disediakan untuk kami hanya berupa batu-batu kerikil halus. Alhasil... Stroller yang saya dorong serasa menjadi lebih berat.. dan tenaga yang harus saya keluarkan menjadi lebih besar.. belum lagi, hati merasa diburu-buru oleh orang yang ada di belakang kami. Duh... Untunglah sekarang kami di beri jalan khusus di pinggir jalan raya yang di beri pagar, sebagai tanda agar mobil tidak ada yang nyelonong ke situ.

Sekarang mulai kelihatan.. apa yang sedang mereka perbaiki. Ternyata mereka sedang mengganti tegel trotoar, serta memperlebar trotoar dan memperjelas lajur untuk sepeda. Hm.. aku pikir, trotoarnya masih bagus kok.. ngapain juga diganti? Tapi da mungkin mereka mah punya target, berapa taun sekali harus ganti tegel.. jadi tak perlu menunggu rusak. Beda sekali dengan di Indo, rasanya jalan udah bolong-bolong juga.. susaaah sekali memperbaharuinya.. :D

Selain mengganti tegel, mereka juga memperlebar trotoar. Apa maksudnya lagi ini? Padahal dengan 8 jalur mobil saja, kemacetan di sini masih belum bisa dihindari. Terutama sih pada jam-jam masuk dan keluar kerja. Hm.. mungkin biar orang-orang males naek mobil yah?! dan memberi kenyamanan lebih pada pejalan kaki.. :D Tapi, di sini sih.. gak punya mobil juga.. masih oke tuh naik angkutan umum.. lebih nyaman malahan.. dan yang pasti sih lebih murah.. (kalau nyaman mah kan relatif yah?!) Hm.. kalau di Indonesia.. sayang banget ya, angkutan umumnya masih tidak memadai, sehingga orang-orang lebih suka naik mobil pribadi daripada berdesakan di bis kota. Ah.. jadi inget rumah tetangga saya yang kebabat sepotong gara-gara ada pelebaran jalan.. hiks.. kasian. Tuh.. disaat di sini ada pelebaran trotoar.. di sana malah pelebaran jalan..

Saturday, September 13, 2008

Senior dan Junior

Masih terngiang-ngiang di kuping ini teriakan-teriakan dan bentakan-bentakan mereka.. ditambah lagi dengan pukulan keras di atas meja. Belum lagi hukuman-hukuman yang disebabkan oleh kesalahan yang sebenarnya di ada-ada. Mereka menamakan dirinya Tatib. Merekalah senior-senior saya di SMA dulu. Mereka punya tiga aturan, yang juga masih saya ingat sampai sekarang.

Pasal 1, Tatib selalu benar.
Pasal 2, Siswa selalu salah.
Pasal 3, Jika Tatib salah, kembali ke pasal 1.

Jadinya dalam seminggu masa penataran P4 waktu itu, semua siswa baru ada dalam kondisi tertindas di bawah kekuasaan para tatib ini. Dua tahun setelahnya, siswa-siswa tertindas tadi berubah menjadi penindas.. :D

Ketika masuk kuliah... para Tatib ini tidak menghilang, mereka tetap ada.. wujudnya yang mengerikan tetap sama... hanya namanya yang berbeda. Mereka menamakan dirinya Swasta. Bedanya, mereka lebih banyak, lebih kejam dan teriakannya lebih dahsyat. Meskipun begitu, beberapa tahun berikutnya kisah-kisah tadi sangat indah untuk dikenang. Tak jarang kami (saya dan teman-teman seperjuangan) sampai tertawa berurai air mata saat saling menceritakan kembali kisah-kisah mengerikan sekaligus menggelikan tadi. Yup.. kisah mengerikan yang sengaja dibuat dengan skenario sedemikian rupa, hanya untuk membuat para junior tahan mental.. tahan banting dalam menghadapi masalah sebesar apapun semasa kuliah (katanya.. :D).

Dan ternyata.. dalam kehidupan nyata selepas kuliah.. dimana saya memulai hidup sebagai orang dewasa (ciee..), senioritas itu malah semakin terasa... makin menyesak ke dalam dada.. karena di sini sudah tidak ada lagi skenario.. tidak ada lagi rasa takut orang tua sang junior akan menuntut.. Aturannya tetap sama: Senior selalu benar, Junior selalu salah.

Untungnya... tidak semua Senior seperti ini.. masih ada juga kok yang mau dengerin dan menghormati pendapat dan pengetahuan Juniornya.. ;)

Thursday, July 24, 2008

Hati-hati.. ada kamera.. ;)

Kalau selama ini kamera hanya terdapat di Bahnhof-Bahnhof (stasiun kereta) saja, inipun setahu saya hanya di stasiun U-Bahn, kini di dalam S-Bahn mulai dipasangi kamera. Kabarnya sih gara-gara setiap tahunnya banyak terjadi kerusakan di dalam S-Bahn. Kamera ini katanya ditujukan untuk melihat pengrusakan properti S-Bahn, kejahatan/kekerasan, dan pelanggaran-pelanggaran lainnya. Jadi, hati-hati aja buat para ngupil'ers... :D 

Monday, July 7, 2008

Integrationskurs

Menindaklanjuti postingan kemarin, jadi ingin sedikit bercerita tentang Integrationskurs yang pernah saya ikuti tahun 2006 lalu. Wohoho.. ternyata sudah 2 tahun berlalu.. pantesan hasilnya sudah diluar kepala semua (baca: hilang).

Ketika saya memperpanjang visa pertengahan tahun 2005 lalu, saya diharuskan mengikuti Integrationskurs. Waktu itu sempat rada bingung juga, karena belum tahu dan belum pernah mendengar tentang kursus ini sebelumnya. Setelah mencari tahu, ternyata Integrationkurs ini mulai dicanangkan Januari 2005 oleh BAMF
(Bundesamt fuer Migration und Fluechtlinge). Semua orang asing sangat dianjurkan sekali (gak berani bilang wajib, soalnya mau cross-chek, ternyata form dari Landratsamt sudah saya berikan ke tempat kursus waktu itu) mengikuti kursus ini.

Apa itu Integrationskurs?
Sebenarnya kursus ini merupakan kursus bahasa Jerman yang biasa untuk tingkat dasar (Grundstufe, level A1, A2 dan B1) sebanyak 600 jam ditambah Orientierungskurs sebanyak 30 jam. Orientierungskurs merupakan kursus untuk mengenal Jerman lebih dekat, membahas politik, sejarah, hak dan kewajiban, kultur, dll. Di akhir ada ujian untuk mendapatkan ZD (Zertifikat Deutsch). Biaya kursusnya mendapatkan subsidi dari BAMF, sehingga biaya yang harus dikeluarkan hanyalah 1 Euro/jam. Untuk biaya ujian, jikalau memang membutuhkan, BAMF juga bisa membantu.. tapi ini prosesnya lumayan ribet.

Kenapa ya BAMF tiba-tiba mencanangkan kursus ini, yang seolah-olah semua orang asing wajib mengikutinya? Tampaknya hal ini disebabkan oleh banyaknya orang asing yang tidak bisa berintegrasi dengan warga setempat alias orang Jerman. Faktor utamanya adalah bahasa. Benar.. banyak orang yang sudah lama tinggal di Jerman, bahkan sudah dua atau tiga generasi.. tapi tidak bisa bahasa Jerman.

Bisa gitu hidup di Jerman tanpa bisa bahasa Jerman??
kenapa tidak??!!
selama banyak teman bergaul yang satu bahasa dengan kita...
selama menguasai kata-kata dasar (sapaan, minta maaf, berterima kasih)...
hm.. kayaknya bisa-bisa aja tuh... :D:D:D

Akibatnya.. orang asing yang tidak bisa berbahasa Jerman, kemungkinan susah mendapatkan pekerjaan. Artinya, semakin banyak jumlah pengangguran... dan makin banyak uang yang harus dikeluarkan pemerintah untuk para pengangguran tersebut (info lebih lanjut tentang ini baca di sini ya..). Maka dari itulah, pemerintah berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa orang-orang asing tersebut agar lebih mudah berintegrasi.

Kembali ke masalah wawancara kemarin... setelah saya analisis lebih lanjut... sepertinya ini memang benar-benar dilakukan oleh BAMF untuk memantau hasil dari Integrationskurs tersebut. Setelah 3 tahun proyek mereka berjalan, wajar kan kalau mereka saat ini ingin mengetahui hasilnya??? *mencoba untuk berbaik sangka ;)*

Friday, July 4, 2008

Wawancara migrasi via telepon

Lebih tepatnya ini hanyalah mengisi kuosioner.. tapi karena dilakukan lewat telepon, jadi terkesan wawancara ;). Tiba-tiba saja hari ini saya mendapat telepon dari BAMF (Badan Migrasi dan Fengungsian Pengungsian). Sebagai seorang yang pernah mengikuti Integrationskurs, tentunya tidak mengherankan mendapat telepon dari kantor ini. Yang aneh malah pertanyaannya... saya kok malah merasa diinterogasi tentang agama daripada tentang migrasi itu sendiri.

Pertanyaan awal-awal... masih masuk akal.. seperti...
lahir dimana... taun berapa..
kewarganegaraan...
interaksi dengan orang Jerman dimana aja.. (tempat kerja, sekolah, tetangga, dll)
Seberapa sering berinteraksi dengan mereka?
Kemampuan berbahasa.. (berbicara, mendengar, menulis, membaca)
Keikutsertaan Integrationskurs.. termasuk ujian dan sertifikat.. (untung gak ditanya dapat nilai berapa, hehehe...)
Sejak kapan tinggal di Jerman...
Alasan datang ke Jerman... (sekolah, bekerja, mencari perlindungan... tapi pilihannya gak ada ikut suami.. :p)
Keterlibatan dalam berbagai organisasi di Jerman...
Pekerjaan...
Penghasilan...
Beberapa bantuan sosial yang diperoleh... (Kindergeld, dan Geld-geld lainnya)
Keterlibatan dalam berbagai organisasi di Indonesia...
Pekerjaan di sana.. (yang mana... tidak ada.. alias pengangguran :D)
Pendidikan...
Lulus tidak... (haduh.. lulus.. tidak.. lulus.. tidak.. lulus.. Lupa, Bu, ach...)

Sampai akhirnya tiba ke pertanyaan...
agama... (Islam, tentu saja..)
Suni.. syiah.. Ahmadiyah??? (halah.. sampai ditanya alirannya segala)
Terlibat dalam beberapa organisasi Islam di Jerman?
Anda mengenal dan terlibat beberapa organisasi Islam berikut ini? (aduh.. meni berasa lagi memperpanjang Visa di Landratsamt)
Berapa kali Anda pergi ke mesjid? (meni pengen tau aja ini teh..)
Anda memakai Kopftuch (kerudung)?
Alasan? (ada banyak pilihan jawaban: saya pilihnya karena agama, rasa aman, modis, dan identitas diri... bukan tradisi.. ataupun paksaan orang tua, suami dan keluarga)
Setujukah Anda dengan pernikahan antar agama? (halah.. apalagi ini??? dan tentu saja jawaban saya.. tidak..)

Kemudian:
Anda punya pasangan? menikah?
lahir dimana.. kapan... kewarganegaraan..
yang ini langsung ke agama....

Tinggal dengan siapa saja di rumah?
Siapa nama anaknya? Kapan lahirnya?
Agamanya? pakai kerudung? (lagi... lagi...)
Setujukah Anda kalau anak2 Anda menikah dengan yang berlainan agama???

Hmm.. masih penasaran sebenarnya kuosioner ini buat apaan ya?
Apa ada hubungannya sama memperpanjang visa nanti???
Waddduuuhhh... pusyiiiing aahhhh...
Ada yang pernah ngalamin?