Kejadian itu terulang lagi...
di tempat yang sama...
tapi dengan nenek yang berbeda...
dialognya pun sedikit beda, tapi temanya tetap sama...
apalagi kalau bukan si penutup kepala ini.
Kali ini si Nenek bukan nenek muslim yang merasa dirinya modern karena tidak memakai jilbab. Tapi ini benar-benar Nenek yang (tampak) benci sekali dengan Ausländerin (orang asing) berjilbab seperti saya.
Dari jarak yang masih agak jauh (3 atau 4 meteran) si Nenek udah teriak-teriak pada saya,
"Ist es kalt? ist es kalt???" (dingin gitu?) dengan mukanya yang judes dan mata melotot.
"Nein." jawabku dengan singkat.. udah tau deh akan kemana perjalanan dialog ini berlanjut...
"Dann warum tragen Sie das Kopftuch??? und die Jacke... und die lange Hose..." (terus kenapa Anda memakai penutup kepala?? dan jaket.. dan celana panjang...) dengan muka penuh ledekan.. Kebetulan saya memang memakai jaket karena tadinya hari ini akan bepergian jauh tanpa Kinderwagen, jadinya butuh kantong2 jaket ini untuk membantu menampung bawaan2 kecil saya, hehehe...
"Unglaublich..." (unbelievable..) lanjutnya sambil geleng-geleng kepala...
"Das ist mein Recht!" (Ini hak saya!) jawabku tegas sambil melotot dan muka cemberut.. Duh, seharusnya saya bisa sedikit lebih sopan berhadapan dengan wanita sebaya itu...
"Und du, Kleinen, trägst du kein Kopftuch wie deine Mama? Nein... nein... nur deine Mama, sie ist komisch gel?" (Dan kamu.. kamu tidak memakai kerudung seperti ibumu?? tidak.. tidak.. hanya ibumu saja ya... ibumu memang aneh.) katanya ke Maryam..
Duh.. kurang ajar juga nih Nenek.. sebenarnya dia yang aneh menurutku, di negara yang katanya sangat menghargai hak dan kebebasan... ternyata masih ada juga orang yang ikut campur akan kebebasan saya berpakaian.
"Woher kommen Sie? Türkey oder wo? hm??" (Anda berasal dari mana? Turki?)
Turki lagi... orang Muslim di sini memang selalu diidentikkan dengan orang Turki.. karena mayoritas memang dari sana. Yang sayangnya... kata KangDian dulu.. kalau orang Turki di Jerman kesannya terbelakang, kurang ngintelek lah.. banyak yang jadi berandalan.. padahal tidak semua kayak gini, tapi tampaknya yang ketangkep sama orang Jerman yah yang jelek-jeleknya... beda sama mayoritas muslim di Amerika atau Inggris (yang mayoritas orang Arab, cmiiw..) yang lebih keliatan ngintelek.. cmiiw yah... Jadinya ya... orang muslim di sini banyak yang direndahkan gitu...
lanjut ke dialog...
"Nein, ich komme aus Indonesien..." (bukan, saya dari Indonesia) jawabku.
"Aah.. Indonesien.. das ist aber weit... ganz weit... Was machen Sie denn hier?? hm?" (Indonesia.. itu kan jauh... apa yang Anda lakukan di sini?) masih dengan muka meledek... Saya tidak langsung menjawab.. soalnya lagi bingung mau mencet tombol lift yang mana.. jadi pusiing nih kalau sambil diajak ngobrol..
"Hallllooooo... was machen Sie hier??? in Deutschland.." (Halloooo.. apa zang Anda lakukan di Jerman?) tanyanya mendesak...
"Mein Mann arbeitet hier.." (Sumi saya kerja di sini.)jawabku kesel.. abis gak sabaran banget nih Nenek..
"Wie bitte???" (apa?) entah karena enggak denger.. atau memang gak percaya dengan yang didengarnya..
"Mein Mann arbeitet hier... IN INFINEON.." kujawab lagi lengkap dengan nama perusahaannya :D
"aahh... schöööööönnnnn..." tiba-tiba mukanya langsung berubah....
gak jutek lagi...
gak ngeledek lagi....
tatapan matanya pun langsung berubah...
senyam-senyum salah tingkah...
Begitu keluar dari lift, dia langsung jauh melangkah...
meninggalkan diriku dengan senyum merekah...
Tuh, bener kan... ternyata status emang perlu nih untuk menghadapi orang-orang seperti ini... Jadi inget postingannya Teh Dydy.. :D
Wednesday, May 28, 2008
Ayam Mandi Tepung :D
Description:
Ini yang namain Nadin.. gara-gara si ayam diceburin ke dalam tepung, dia bilang "hayamna ibak ya? dina naon?" (ayamnya mandi ya? di apa?). Jawab, "di tepuuuung..". Jadi deh namanya Ayam Mandi Tepung, hehehe...
Biasanya saya memakai sayap ayam yang masing-masing dibelah dua lagi... jadi kecil-kecil dan dijamin matang. Soalnya saya teh tauma, duluuuu waktu Nadin belum ada, pernah bikin ayam goreng (paha) yang langsung digoreng setelah dibumbuin (tanpa diungkep).. ternyata pas digigit, bagian dalamnya masih mentah... Sejak itu gak pernah lagi masak paha ayam. Tapi kemarin, berhubung sayapnya nggak ada, jadi terpaksa beli paha deh... Alhamdulillah dengan api kecil dan gorengnya lama... dalamnya bisa matang... Tapi masih sehat gak ya??? hehehe...
Tepungnya juga bikin sendiri.. biasanya sih beli tepung tempura yang udah jadi. Berhubung pengen menghindari penyedap yang ada di Tempuramehl itu, maka campuran tepungnya dibikin sendiri dengan mengikuti perbandingan yang ada di kemasannya. Hasilnya??? tidak segurih yang pakai Tempuramehl siiih... tapi enyaaaaakkkkk deh... kriuk..kriukkk...
Ingredients:
15 buah paha ayam
garam
merica/cabe bubuk/paprika bubuk
bawang putih
Campuran tepung (untuk 15 buah paha ayam):
140 g tepung terigu
30 g tepung maizena
10 g tepung beras
4 g garam
6 g gula
sedikit merica
Directions:
1. Ayam dibumbui, biarkan beberapa jam/semalam di lemari es.
2. campur semua tepung.
3. Mandikan ayam dalam tepung
4. celupkan ke air
5. Mandikan lagi dalam tepung
6. Goreng dalam minyak panas sampai coklat keemasan.. atau coklat kegelapan ya??? hehehe
7. siap dihidangkan
Thursday, May 15, 2008
Metamorfosis Sang Kupu-kupu...
Wednesday, May 14, 2008
Pizza Cepat Saji
Description:
Fast food lagi.... fast food lagi....
Jangan bosan yaaaa....
Terinspirasi ketika pertama kali ikutan "Montagsmeeting"-nya Tupperware. Waktu itu masih jadi tamu, masih banyak bengong... Jadi resepnya gak kecatet. Yang ada sekarang... ngarang aja.. ;)
Aslinya pake Spargel (asparagus)... mahal euy... ganti tomat deh.. ;)
Ingredients:
5 lembar toastbrot (roti tawar), jumlah sesuaikan besarnya loyang.
1 buat tomat besar, iris tipis
1,5 bungkus Mozzarella
keju parut, untuk taburan
1 buah telur
garam
merica
1 sdt tepung
100 mL susu cair
PS:
roti tawar bisa diganti dengan Fladenbrot (roti Turki yang biasa di pake Doener, yang ukurannya besar)
topping bisa diganti sesuai selera, bisa juga ditambahkan pasta tomat, biar lebih mirip Pizza... ;)
Banyaknya topping disesuaikan dengan besarnya loyang
Directions:
panaskan oven
olesi loyang dengan margarin/minyak
susun roti tawar, sampai menuh-menuhin loyang
susun mozzarella dan tomat sesuai selera
Sementara itu, kocok telur, beri garam dan merica, tepung serta susu.
Guyurkan ke atas susunan roti serta toppingnya tadi, biar roti-rati tadi saling melekat.
taburi keju parut
bakar, sampai mozzarellanya meleleh dan agak kecoklatan
keluarkan dari oven, masukkan ke mulut, jangan lupa baca bismillah... ;)
Sunday, May 11, 2008
Tetangga Sebrang Jendela...
Sejak bulan Maret 2007, kami menempati rumah baru di bilangan jalan Zasinger. Rumah baru ini terletak di (hampir) pusat kotanya Munich. Jadi.. boleh di bilang rame banget lah... Di sekitaran rumah kami ini, memang rumahnya tinggi-tinggi, rata-rata lima*) lantai, bahkan lebih. Udah gitu dempetan pula... Makanya bisa diperkirakan dengan pasti kalau penduduknya lebih padat dibandingkan tempat tinggal kami yang dulu di Unterhaching.
Rumah kami yang dulu, posisinya hampir sama dengan yang sekarang, di pojok jalan. Tapi di bagian depan dan belakang rumah, ada pekarangan yang cukup luas. Rumah sebrang jalan kami juga berpekarangan cukup luas, sehingga jarak antar rumah ke rumahnya sendiri lumayan jauh. Sehingga kami jarang bisa melihat aktivitas tetangga kami di sebrang sana. Sedangkan di sini... Rumah kami letaknya dipinggir jalan banget. Jadi begitu keluar rumah, langsung trotoar deh. Pekarangan ada sih.... tapi di bagian berlawanan. Rumah tetangga sebrang jalan juga begitu. Sehingga kami bisa saling melihat.. meskipun tidak begitu jelas...
Pada awalnya kami tinggal di sini, aku suka melihat (baik sengaja ataupun tidak) aktivitas tetangga di balkonnya masing-masing. Ada yang ngerokok lah... ada yang bersih-bersih jendela lah... ada yang baca koran... ada yang menyiram bunga... ada yang jemur pakaian... dan sebagainya... dan sebagainya.. Sedangkan... mereka (mungkin) tidak bisa melihat saya... karena balkon saya tidak menghadap rumah dan jalan itu, balkon saya menghadap pekarangan yang saya ceritakan tadi.
Dan tetangga yang paling sering saya lihat adalah tetangga yang tinggal di lantai 5, lantai yang sama dengan yang saya tinggali. Terutama rumahnya seorang ibu beranak dua. Habis balkonnya besaaaaaar sekali. Dan dia tampaknya seorang ibu rumah tangga, sama dengan saya, yang aktivitasnya banyak di rumah. Saya sering melihat dia menjemur baju, ngelipetin baju yang habis di jemur, beres-beres kamar anaknya, nongkrong di balkon dengan anak dan suaminya.. bahkan ketika dia ngobrol asyik dengan tetangga sebelahnya. Yah, si ibu itu aktif di balkon sih... jadinya saya sering ngeliat dengan tidak sengaja. Sampai akhirnya saya apal deh perawakan si ibu ini. Beberapa kali kami sempat bertemu di bawah, tapi (rasanya sih) tidak pernah bertegur sapa, bahkan senyum pun tidak. Tau lah.. tetanggaan di sini mah susah... Jangankan sama rumah di sebrang, sama orang serumah aja belum tentu kenal... Belum lagi kitanya termasuk orang asing... hiks...
Sampai akhirnya, kemarin, ketika pulang dari kondangan, saya melihat sosok yang rasanya saya kenal. Saya bilang lah ke si Akang, "itu kan ibu tetangga kita... yang di sebrang jalan itu lho, Kang...". Kami sama-sama mau naik U-Bahn dari Hauptbahnhof, dan tentu saja tempat menunggunya sama, di ujung belakang... wong rumah kami sebrangan gitu... Ketika kami melewati si ibu itu... terdengarlah dia ngomong ke anaknya.. "ini kan tetangga kita ya?". Otomatis kami pun menoleh... dan saling melempar senyum sambil sedikit berbasa-basi... "Oo.. Anda yang tinggal di sebrang saya ya? yang punya balkon besar itu kan?!"
"ya.. ya.. bla.. bla..bla.."
kemudian pamitan... dan kami menunggu di tempat yang agak jauhan. Soalnya dia juga bawa Kinderwagen... Kalau kami masuk di pintu yang sama, bisa sempit nantinya..
Setelah pisah dari si ibu, hati ini jadi dag-dig-dug gak keruan... ketar-ketir... rasanya pengen cepat sampai di rumah dan menutup semua jendela... duduk.. dan merenung... Lho??? apa hubungannya??
Gak tau kenapa, saya BENAR-BENAR kaget ketika si ibu itu mengenali saya... rasanya seperti kena tampar di pipi kiri dan kanan sekaligus.... Berarti selama ini dia juga bisa melihat kami di balik jendela... Dan entah apa saja yang sudah dia lihat dari kami... OMG! Meskipun rumah kami ada tirainya.. tapi tetep aja kan ada kalanya dibuka. Dan ketika dia melihat itu... mungkin...
...rumah kami sedang berantakan...
...saya sedang tidak memakai kerudung... (bisa dipastikan, saat tidak ada tamu di rumah, saya pasti sedang begini)
...anak-anak.. dan (mungkin) kami sedang ganti baju...
...dan sebagainya... dan sebagainya...
Ya Allah... semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk selama ini dan ke depannya... InsyaAllah.. saya akan lebih berhati-hati... LEBIH berhati-hati lagi.. meskipun di dalam rumah sendiri...
*) lima lantai di Munich boleh dibilang tinggi, karena di sini jaraaaaang banget (bukan gak ada lho!) ada gedung-gedung pencakar langit kayak di Jakarta...
Rumah kami yang dulu, posisinya hampir sama dengan yang sekarang, di pojok jalan. Tapi di bagian depan dan belakang rumah, ada pekarangan yang cukup luas. Rumah sebrang jalan kami juga berpekarangan cukup luas, sehingga jarak antar rumah ke rumahnya sendiri lumayan jauh. Sehingga kami jarang bisa melihat aktivitas tetangga kami di sebrang sana. Sedangkan di sini... Rumah kami letaknya dipinggir jalan banget. Jadi begitu keluar rumah, langsung trotoar deh. Pekarangan ada sih.... tapi di bagian berlawanan. Rumah tetangga sebrang jalan juga begitu. Sehingga kami bisa saling melihat.. meskipun tidak begitu jelas...
Pada awalnya kami tinggal di sini, aku suka melihat (baik sengaja ataupun tidak) aktivitas tetangga di balkonnya masing-masing. Ada yang ngerokok lah... ada yang bersih-bersih jendela lah... ada yang baca koran... ada yang menyiram bunga... ada yang jemur pakaian... dan sebagainya... dan sebagainya.. Sedangkan... mereka (mungkin) tidak bisa melihat saya... karena balkon saya tidak menghadap rumah dan jalan itu, balkon saya menghadap pekarangan yang saya ceritakan tadi.
Dan tetangga yang paling sering saya lihat adalah tetangga yang tinggal di lantai 5, lantai yang sama dengan yang saya tinggali. Terutama rumahnya seorang ibu beranak dua. Habis balkonnya besaaaaaar sekali. Dan dia tampaknya seorang ibu rumah tangga, sama dengan saya, yang aktivitasnya banyak di rumah. Saya sering melihat dia menjemur baju, ngelipetin baju yang habis di jemur, beres-beres kamar anaknya, nongkrong di balkon dengan anak dan suaminya.. bahkan ketika dia ngobrol asyik dengan tetangga sebelahnya. Yah, si ibu itu aktif di balkon sih... jadinya saya sering ngeliat dengan tidak sengaja. Sampai akhirnya saya apal deh perawakan si ibu ini. Beberapa kali kami sempat bertemu di bawah, tapi (rasanya sih) tidak pernah bertegur sapa, bahkan senyum pun tidak. Tau lah.. tetanggaan di sini mah susah... Jangankan sama rumah di sebrang, sama orang serumah aja belum tentu kenal... Belum lagi kitanya termasuk orang asing... hiks...
Sampai akhirnya, kemarin, ketika pulang dari kondangan, saya melihat sosok yang rasanya saya kenal. Saya bilang lah ke si Akang, "itu kan ibu tetangga kita... yang di sebrang jalan itu lho, Kang...". Kami sama-sama mau naik U-Bahn dari Hauptbahnhof, dan tentu saja tempat menunggunya sama, di ujung belakang... wong rumah kami sebrangan gitu... Ketika kami melewati si ibu itu... terdengarlah dia ngomong ke anaknya.. "ini kan tetangga kita ya?". Otomatis kami pun menoleh... dan saling melempar senyum sambil sedikit berbasa-basi... "Oo.. Anda yang tinggal di sebrang saya ya? yang punya balkon besar itu kan?!"
"ya.. ya.. bla.. bla..bla.."
kemudian pamitan... dan kami menunggu di tempat yang agak jauhan. Soalnya dia juga bawa Kinderwagen... Kalau kami masuk di pintu yang sama, bisa sempit nantinya..
Setelah pisah dari si ibu, hati ini jadi dag-dig-dug gak keruan... ketar-ketir... rasanya pengen cepat sampai di rumah dan menutup semua jendela... duduk.. dan merenung... Lho??? apa hubungannya??
Gak tau kenapa, saya BENAR-BENAR kaget ketika si ibu itu mengenali saya... rasanya seperti kena tampar di pipi kiri dan kanan sekaligus.... Berarti selama ini dia juga bisa melihat kami di balik jendela... Dan entah apa saja yang sudah dia lihat dari kami... OMG! Meskipun rumah kami ada tirainya.. tapi tetep aja kan ada kalanya dibuka. Dan ketika dia melihat itu... mungkin...
...rumah kami sedang berantakan...
...saya sedang tidak memakai kerudung... (bisa dipastikan, saat tidak ada tamu di rumah, saya pasti sedang begini)
...anak-anak.. dan (mungkin) kami sedang ganti baju...
...dan sebagainya... dan sebagainya...
Ya Allah... semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk selama ini dan ke depannya... InsyaAllah.. saya akan lebih berhati-hati... LEBIH berhati-hati lagi.. meskipun di dalam rumah sendiri...
*) lima lantai di Munich boleh dibilang tinggi, karena di sini jaraaaaang banget (bukan gak ada lho!) ada gedung-gedung pencakar langit kayak di Jakarta...
Thursday, May 8, 2008
Eh.. ternyata bisa lho beli Siwak-F di sini.. :)
http://islamische-kleidungen.de
Berawal dari si Akang yang gak mau sikat gigi pake m*****l lagi. Katanya mau sikat gigi pakai siwak aja, beli di Mesjid. Tapi kan dulu kami pernah di kasih siwak sama Abu Adam (yang Aseli loh ya Abu Adamnya.. :D), dan ternyata bingung memakainya gimana. Katanya sih
"digigitin dulu ujungnya sampai rawing, baru disikatin ke gigi.."
"Yah.. sebelumnya siwaknya rawing, kayaknya gigi kita udah rawing duluan.. :((" kataku.
"Pake siwak-F atuh.."
"mesti nunggu sampai kita pulang ke Indo donk, Kang.. Itu kan hanya ada di Indo.."
Akhirnya dia nyari-nyari gitu, sampai akhirnya nyasar ke website ini. Eh.. ternyata bisa lho beli Siwak-F di sini.. beneran deh.. baru tahu. Dan memang ini benar-benar Siwak-F yang produksi Indonesia tea... Hebat deh bisa sampai ke sini... menyusul Indomie dan kecap ABC.. hihihi... Hidup Indonesia!!!! Harganya pun masih lebih murah di bandingin M*****l atau E***x. Hanya 1,79 Euro sajah..
Selain siwak-F, di website ini ada berbagai macam keperluan muslim, seperti buku-buku, perlengkapan sholat, makanan halal, Parfum, Quran, jam, jilbab, dan lain-lain... Silahkan aja deh liat-liat sendiri... Cuman... kalau mau beli Gummibaerchen mendingan ke toko sini aja deh, lebih murah.. ;)
Berawal dari si Akang yang gak mau sikat gigi pake m*****l lagi. Katanya mau sikat gigi pakai siwak aja, beli di Mesjid. Tapi kan dulu kami pernah di kasih siwak sama Abu Adam (yang Aseli loh ya Abu Adamnya.. :D), dan ternyata bingung memakainya gimana. Katanya sih
"digigitin dulu ujungnya sampai rawing, baru disikatin ke gigi.."
"Yah.. sebelumnya siwaknya rawing, kayaknya gigi kita udah rawing duluan.. :((" kataku.
"Pake siwak-F atuh.."
"mesti nunggu sampai kita pulang ke Indo donk, Kang.. Itu kan hanya ada di Indo.."
Akhirnya dia nyari-nyari gitu, sampai akhirnya nyasar ke website ini. Eh.. ternyata bisa lho beli Siwak-F di sini.. beneran deh.. baru tahu. Dan memang ini benar-benar Siwak-F yang produksi Indonesia tea... Hebat deh bisa sampai ke sini... menyusul Indomie dan kecap ABC.. hihihi... Hidup Indonesia!!!! Harganya pun masih lebih murah di bandingin M*****l atau E***x. Hanya 1,79 Euro sajah..
Selain siwak-F, di website ini ada berbagai macam keperluan muslim, seperti buku-buku, perlengkapan sholat, makanan halal, Parfum, Quran, jam, jilbab, dan lain-lain... Silahkan aja deh liat-liat sendiri... Cuman... kalau mau beli Gummibaerchen mendingan ke toko sini aja deh, lebih murah.. ;)
Tuesday, May 6, 2008
Dienstag... Fischtag!!!
Description:
Ah.. ternyata ada hikmahnya juga Toko Turki di Giesing (Mirac) tutup untuk sementara. Saya jadi terpaksa melangkahkan kaki lebih jauh untuk mendapatkan daging dan ayam halal di Hauptbahnhof. Dengan tujuan utama mendapatkan daging dan dada ayam, pulangnya nambah bawa dua ekor ikan Dorado. Yah, setiap hari Selasa memang di setiap Toko Turki dijual ikan segar, ada Forelle, Mackarelle, Sardinen, Lachs, Dorado, dll. Gak hapal semua, da saya mah pasti belinya Dorado atau Goldbrase (bedanya apa ya??? perasaan sih sama aja.. :D). Kenapa? karena rasa ikan ini mendekati rasa ikan mas, hehehe...
Bedanya, hari ini saya membeli ikan yang sudah dibersihkan isi perutnya.. (yahoo!!!!). Biasanya di toko langganan saya, hanya ikan ini yang perutnya belum dibersihkan... padahal ikan2 besar yang lain udah pada belah gitu perutnya.. Makanya.. jarang-jarang beli ikan ini, da males tea bersihin perutnya. Tapi ya... suka dipaksakan juga sih, soalnya ini makanan favorit keluarga. ;)
Dimasaknya juga selalu sama setiap kali beli, cukup di goreng garing aja... dimakannya sama tumis kangkung...
Ada yang mau???? :D:D:D
Ingredients:
Bahan Ikan goreng:
Dua ekor ikan Dorado, cuci bersih.
bawang putih
ketumbar
garam
Bahan Tumis Kangkung:
Kangkung
Bawang bombay
Bawang putih
cabe merah
tomat
garam
merica
gula
terasi
Directions:
Ikan goreng:
Lumuri ikan dengan bawang putih, garam, dan ketumbar
Biarkan... sampai perut siap, hihihi...
Goreng sampai gariiiing...
Tumis kangkung:
Iris bawang bombay, bawang putih, cabe merah, tomat
Tumis semuanya
Masukkan kangkung, beri bumbu
biarkan sampai agak layu
Siap disantap.. hap.. hap...hap...
Ah.. ternyata ada hikmahnya juga Toko Turki di Giesing (Mirac) tutup untuk sementara. Saya jadi terpaksa melangkahkan kaki lebih jauh untuk mendapatkan daging dan ayam halal di Hauptbahnhof. Dengan tujuan utama mendapatkan daging dan dada ayam, pulangnya nambah bawa dua ekor ikan Dorado. Yah, setiap hari Selasa memang di setiap Toko Turki dijual ikan segar, ada Forelle, Mackarelle, Sardinen, Lachs, Dorado, dll. Gak hapal semua, da saya mah pasti belinya Dorado atau Goldbrase (bedanya apa ya??? perasaan sih sama aja.. :D). Kenapa? karena rasa ikan ini mendekati rasa ikan mas, hehehe...
Bedanya, hari ini saya membeli ikan yang sudah dibersihkan isi perutnya.. (yahoo!!!!). Biasanya di toko langganan saya, hanya ikan ini yang perutnya belum dibersihkan... padahal ikan2 besar yang lain udah pada belah gitu perutnya.. Makanya.. jarang-jarang beli ikan ini, da males tea bersihin perutnya. Tapi ya... suka dipaksakan juga sih, soalnya ini makanan favorit keluarga. ;)
Dimasaknya juga selalu sama setiap kali beli, cukup di goreng garing aja... dimakannya sama tumis kangkung...
Ada yang mau???? :D:D:D
Ingredients:
Bahan Ikan goreng:
Dua ekor ikan Dorado, cuci bersih.
bawang putih
ketumbar
garam
Bahan Tumis Kangkung:
Kangkung
Bawang bombay
Bawang putih
cabe merah
tomat
garam
merica
gula
terasi
Directions:
Ikan goreng:
Lumuri ikan dengan bawang putih, garam, dan ketumbar
Biarkan... sampai perut siap, hihihi...
Goreng sampai gariiiing...
Tumis kangkung:
Iris bawang bombay, bawang putih, cabe merah, tomat
Tumis semuanya
Masukkan kangkung, beri bumbu
biarkan sampai agak layu
Siap disantap.. hap.. hap...hap...
Subscribe to:
Posts (Atom)