Showing posts with label babyutun. Show all posts
Showing posts with label babyutun. Show all posts

Thursday, July 23, 2009

...dan ketika si jagoan cilik itu tiba..




Selasa, 14 Juli 2009, kurang lebih pukul 1 dini hari, Maryam terbangun dan menangis. Akhir-akhir ini dia memang terbiasa seperti itu, lagi masa-masanya tantrum. Di tengah-tengah amukan Maryam, saya mulai merasakan kontraksi yang tidak begitu jelas. Saya pikir itu gara-gara stress karena Maryam yang tak kunjung berhenti menangis. Sekitar jam 2-an, akhirnya putri kecil itu bisa tertidur lelap lagi. Tapi rasanya sakit di perut saya masih berlanjut, kontraksinya tidak kuat dan tidak teratur.. kadang 10 menit.. kadang 5 menit.. kadang 20 menit..

Saya masih tenang-tenang saja, meski sudah tidak bisa tidur. Tapi bapaknya yang tampak lebih gelisah dan mengajak saya ke RS sekitar pukul 4 waktu itu. Ah, baru sakit segini sih masih jauh dari yang namanya melahirkan.

Pukul 5 saya mulai mencari bantuan, menelepon teman yang kira-kira bisa membantu jagain anak-anak hari itu. Alhamdulillah ada yang bersedia membantu. Dan diapun sampai di rumah sekitar 7.30, tepat di saat anak-anak bangun. Setelah saya menjelaskan beberapa hal tentang kebiasaan anak-anak, kesukaannya, dll.. saya dan si akang pun berangkat ke RS dengan perasaan sedih karena harus meninggalkan anak-anak yang baruuu saja bangun tidur. Nadin sudah diberi penjelasan, bahwa Mama harus ke RS, baby Utunnya udh mau keluar.. dan dia mengerti. Tapi Maryam sepertinya belum mengerti apa-apa.

Kontraksi semakin kuat dan semakin sering datang.. sudah teratur setiap 5 menit.. oo.. baiklah.. mungkin baru 7 menitan. Tak apa.. berdasarkan pengalaman waktu melahirkan Maryam yang tiba-tiba, kami merasa lebih baik berjaga-jaga di rumah sakit. Apalagi ini, sakitnya sudah cukup menggigit. Kami pun berjalan kaki ke pangkalan Taksi yang berjarak sekitar 300 meteran dari rumah. Tadinya saya mengusulkan naik tram saja, hanya 6 halte kok dr rumah. Tapi si akang yang biasanya ngirit (piss ach), kali ini gak setuju, dengan alasan jarak dari halte tram ke RS cukup jauh.. takutnya saya keburu melahirkan di jalan. :D

Sesampainya di RS saya langsung di-CTG. Ternyata kontraksi baru tiap 10 menit.. dan saya pun merasa tidak sekuat sewaktu saya meninggalkan rumah. Aneh.. Setelah diperiksa bidan, ternyata baru bukaan 2 atau 3 katanya. Akan masih sangat lama kalau saya hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Saya pun ditawari untuk jalan-jalan atau 'Bewegungsbad' (bergerak2 di air). Tentu saya memilih jalan-jalan di luar. Selain tidak usah berbasah-basah ria, saya pun bisa menghirup udara segar. Saya disarankan untuk berjalan2 minimal 1 jam.

Begitu keluar dari ruangan, tiba-tiba kontraksi menguat lagi, dan semakin sering, hanya berjarak 3-5 menitan. Tapi mo balik lagi ke atas, malu.. takutnya kayak tadi lagi. Lebih baik jalan2 dulu aja di taman, sambil menikmati waktu berdua, bergandengan tangan.. ah.. kapan ya terakhir seperti ini?? hehhee..

Baru setengah jam jalan, saya sudah merasakan kontraksi yang amat sangat kuat.. lengkap dengan keinginan untuk mendorong.. Oh tidak.. ini tanda-tanda si bayi akan segera keluar... Dengan setengah berlari, kami segera kembali ke atas.. dan sempat terhenti beberapa kali di jalan karena menahan sakitnya kontraksi. Kamipun sampai di atas.. dan sempat dicuekin oleh bidan, mungkin gara-gara belum bulat sejam kami jalan-jalan. Pegangan tangan saya ke si akang semakin kuat karena menahan sakit. Kalau dipikir sekarang, rasanya tidak mustahil kalau dulu ibu saya sampai menggigit bapak ketika akan melahirkan salah satu anaknya, hehehe..

Akhirnya saya disuruh masuk ke ruang bersalin pukul 9.52. Dan saya langsung minta izin untuk berbaring karena sudah tidak tahan lagi. Setelah diperiksa bidan, bukaan kurang 1 cm lagi, artinya saya dibolehkan ngeden saat kontraksi berikutnya datang. Si bidan pun keluar, entah memanggil dokter.. atau mengambil sesuatu. Yang pasti, saat dia kembali, saya sedang ngeden dan memecahkan ketuban. Saat itulah perjuangan dimulai. Pukul 10.01 si bayi pun keluar.. dan seperti kelahiran Maryam.. dokter tidak sempat berbuat apa-apa.. Kata Mpok Aas mah, "kayak ngelahirin di dukun beranak aja", hehehe..

Alhamdulillah semuanya lancar. Si bayi keluar 8 hari lebih cepat dari yang diperkirakan. Sesuai ramalan dokter, dia keluar lebih cepat dari kakak-kakaknya (nadin maju 4 hari, Maryam 6 hari.. hm.. berarti anak ke-4 maju 10 hari nih.. :D). Ukurannya pun lebih besar dibanding kakak-kakaknya.. 3460 g, 54 cm (Nadin 3350 g, 51 cm; Maryam 3150 g, 51 cm). Dan sempat susah juga memutuskan pilihan nama, berhubung ada 4 kepala di rumah. Akhirnya, setelah berdiskusi dan polling, kami sepakat memberinya nama Ligar Bayu Nugraha. Semoga doa-doa dari keluarga dan teman-teman Mama dan Papa buat Ligar didengar dan dikabulkan Allah ya, Jang..

Sunday, July 5, 2009

Percaya si kakak atau dokter??


Konon, kalau ingin tahu jenis kelamin bayi yang sedang dikandung, tanyalah kakaknya (kalau sudah punya kakak tentu saja). Biasanya jawaban si kakak suka bener katanya. Iseng, saya tanya tuh si kakak-kakak kecil di rumah. Maryam yang baru berumur dua tahun, belum tahu laki-laki dan perempuan, tapi saya pikir dia cukup bisa membedakan kalau laki-laki itu kasep (cakep) dan perempuan itu geulis (cantik).

Mama: "Maryam, kalau baby Utun kasep atau geulis ya?"
Maryam: "geulis!"

Wah, untuk menguji keakuratan jawabannya, saya coba tes dengan pertanyaan lainnya.

Mama:"Kalau Papa?"
Maryam: "kasep!" *bener euy*
Mama: "kalau Mama?"
Maryam: "geulis!" *wah, bener juga!*
Mama: "kalau Ceuceu???"
Maryam: "geulis!" *bener lagi!*
Mama: "kalau Maryam?"
Maryam: "kasep!"
*gubraks*

 
Lain Maryam, lain pula Nadin.
Mama: "Ceu, kalau baby Utun kasep atau geulis ya?"
Nadin: "baby Utun mah kasep.. kayak Papa.." --> jawaban ini tidak mengherankan memang, karena dia sudah diberitahu sejak saya pertama kali dikasih tau dokter kalau bayinya memang laki-laki.

Mama: "Ceu, baby utun kalau udh keluar nanti, kasih nama siapa ya?"
Nadin: *mikir*
Mama: "Itu temen-temennya Ceuceu di Kindergarten siapa aja namanya yang laki-laki?"
Nadin: "banyak siiih.."
Mama: "Siapa atuh ya?? Andre? David?? Amin??"
Nadin: "mm.. Dara aja.."
Mama: "Dara?"
Nadin: "Iya.. Dara.."
*gubraks*

Di lain pihak, dari berkali-kali pemeriksaan USG (bahkan yang 4 dimensi), hasilnya selalu laki-laki. Yah, kita lihat aja nanti yang benernya yang mana.. laki-laki perempuan sama aja toh?? yang penting baby Utun lahirnya sehat.. Kita tunggu sekitar 2 minggu lagi..

Friday, May 8, 2009

Baby Utun: Kontrol kelainan jantung

Pada pemeriksaan Praenatal Diagnostik yang lalu, dokter R menganjurkan untuk kembali melakukan pemeriksaan pada usia kandungan 28 - 30 minggu. Waktu itu, saya menyebutkan kalau salah satu keponakan saya ada yang terlahir dengan kelainan jantung  bawaan. Sebenarnya saya sudah menolak ke dokter kandungan saya untuk tidak melakukan pemeriksaan ini.. hanya karena saya males bikin janjinya.. hehehe.. dan khawatir harus bayar sendiri, resikonya juga hanya 4% saja. Tapi ternyata dokter F menjelaskan kembali, bahwa itu adalah basisrisiko, maksudnya setiap wanita hamil mempunyai kemungkinan anaknya mengalami kelainan jantung bawaan sebesar 4%. Seandainya di keluarga sudah ada yang seperti itu, tentunya resiko yang dihadapi oleh saya lebih besar lagi. Dan selama saya membawa surat transfer (Überweisungschein) dari dokter F, maka saya tidak harus bayar sendiri.

Setelah membuat janji sebulan yang lalu, akhirnya hari Senin yang lalu saya bertemu kembali dengan dokter R. Pemeriksaan kali ini agak berbeda dengan sebelumnya, dimana saya tidak boleh meminyaki/memberi krem pada permukaan perut 5 hari sebelum pemeriksaan. Dan terus terang.. ini cukup menyiksa karena harus menahan gatal.. :D Untungnya kali ini tidak usah. Kali ini tidak ada lagi wawancara, saya langsung melakukan CTG selama 30 menit.. sampai ketiduran.. :D Setelah itu baru bertemu dengan dokternya.

Awalnya saya pikir, pemeriksaan kali ini akan berjalan lebih singkat, karena dokter hanya akan melihat kondisi jantung si anak saja. Ternyata tidak.. Pemeriksaan tetap lama.. Kondisi bayi dari luar sampai dalam, dari ujung rambut sampai ujung kaki tetap diperiksa. Hanya memang tidak sedetil yang dulu, dan jantung memang diperiksa lebih teliti.. karena pada pemeriksaan sebelumnya masih belum kelihatan jelas. Hasilnya alhamdulillah baik.. jantungnya normal. Kondisi fisik yang lain juga normal, beratnya sekarang sudah 1194 g (hm.. hampir 200 g dalam seminggu?? gede juga..).

Anehnya dokter R tidak menyambit-nyambit tentang kondisi plasenta saya yang sangat dikhawatirkan oleh dokter F. Akhirnya saya bertanya, dimana posisi plasenta sekarang? Menurutnya, plasenta saat ini ada di atas belakang. Heh?? bukan di bawah, Dok?? Tepat seminggu sebelumnya, dokter F menyatakan saya mengalami Placenta Previa. Dokternya sendiri heran, maka untuk meyakinkan, dia mengganti alat menggunakan USG bawah. Dari situ kelihatan kalau jalan lahir masih tertutup, jarak antara Plasenta dengan mulut rahim lebih dari 3 cm, cukup jauh. Dan ini tidak termasuk Placenta Previa, katanya. Alhamdulillah.. berarti dalam seminggu saja, Plasenta sudah mulai bergeser menjauhi mulut rahim. Alhamdulillah.. :)

Oiya, berhubungan dengan ukuran perut yang semakin membesar, ternyata ada yang berubah juga dengan kebiasaan Maryam. Akhir-akhir ini dia senang sekali melingkari perut besar ibunya sambil menghujaninya dengan ciuman.. "Sayang Utuuun.." dengan mulut manyunnya.. :D Terlebih ketika dia bete dan sedih karena habis berantem dengan kakaknya, dia bakal langsung memeluk adiknya (yg masih di dalam perut tentu saja).. sambil mencium-ciuminya.. lucuu.. :D
 

Thursday, April 30, 2009

Baby Utun: Catatan 7 --> Placenta-Previa

Tanpa terasa kehamilan kali ini sudah memasuki trimester terakhir. Kali ini pemeriksaan mulai lengkap, dari mulai timbang badan, urin, darah, sampai CTG (cardiotocography). Bahkan USG yang digunakan sekarang dua-duanya.

Berat badan bulan ini bertambah 3,5 kg, masih kelihatan belum hilang 'maruk'nya. Nafsu makan memang masih membabi-buta, apalagi kalau lagi di rumah orang.. hehehe.. Untungnya si makanan lari ke tubuh ibunya, bisa dilihat dari ukuran kaki, tangan dan pipi yang semakin membesar. Sedangkan ukuran bayi masih dalam batas normal, hanya 1016 g. Ibu dokter sampai berkomentar begini kali ini, "Sie müssen doch genug essen, aber nicht zu viel" (Anda memang harus cukup makan, tapi tidak terlalu banyak ya..). Ah.. perasaan selama ini juga saya makan kalau saya lapar aja, Dok.. hehehe.. perasaan...

Hb kali ini sedikit menurun menjadi 11,3. Menurut dokter ini terlalu rendah, jadinya saya diberinya zat besi. Pantesan akhir-akhir ini memang sering gampang cape dan pusing.

Pemeriksaan CTG mulai dilakukan. CTG (Cardiotocography) merupakan alat untuk merekam detak jantung janin dan kontraksi rahim. Dengan alat ini, bisa diketahui apakah kondisi bayi baik-baik saja atau stress, juga untuk mengecek apakah rahim sudah mulai berkontraksi atau belum. Biasanya selama proses melahirkan, alat ini digunakan untuk membantu dokter/bidan mengetahui kontraksi dari pasiennya. Jadinya kita gak bisa bohong kalau kontraksinya udah tiap 5 menit atau belum. :D Dari hasil CTG, alhamdulillah kondisi bayi baik, rahim juga belum menunjukkan adanya kontraksi.

Pemeriksaan USG menunjukkan belum terjadi pembukaan, dan plasenta ternyata berada dekat sekali dengan leher rahim. Hal ini sebenarnya sudah diketahui sejak saya periksa USG 4D beberapa minggu yang lalu. Tapi waktu itu dokter tidak khawatir dan saya pun tidak tahu resiko dari plasenta di bawah tadi. Ternyata diagnosa ini memang baru bisa dipastikan pada usia kandungan 26-28 minggu, dimana mulai terbentuk segmen bawah rahim. Saat segmen ini terbentuk, leher rahim yang awalnya berbentuk seperti corong akan memipih. Perubahan inilah yang bisa menyebabkan plasenta berpindah menjauhi jalan lahir. Meski demikian, kondisi paling optimum bisa dipastikan saat mendekati persalinan nanti. Dan kali ini, dokter meminta saya untuk waspada. Jika terjadi pendarahan besok lusa, saya harus cepat-cepat pergi ke rumah sakit katanya. Pendarahan bisa terjadi saat terbentuknya segmen bawah rahim, dimana ada bagian plasenta yang "robek" oleh pergeseran jaringan di sekitar mulut rahim. Atau bisa juga oleh tekanan kepala janin saat mulai memasuki segmen bawah rahim sebagai persiapan menuju persalinan.**

Setelah baca-baca, ternyata Placenta Previa itu ada 4 macam:**
  1. Placenta previa totalis: jika plasenta menutupi jalan lahir. Pada kondisi ini tidak dimungkinkan proses kelahiran normal, karena resiko pendarahan sangatlah besar.
  2. Placenta previa partialis: jika plasenta menutupi sebagian jalan lahir. Resiko pendarahan masih sangat besar, sehingga masih belum bisa melahirkan normal.
  3. Placenta previa marginalis: jika hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir. Proses kelahiran bisa normal, namun resiko pendarahan tetap besar.
  4. Low-lying Placenta: jika posisi plasenta berada sangat dekat dengan jalan lahir. Proses kelahiran normal, resiko pendarahan bisa dihindari, asalkan dilakukan dengan hati-hati.
Saat ini kondisi yang saya alami adalah kondisi no.3, Placenta previa marginalis. Dokter dan saya tentu saja, masih berharap semoga plasenta masih bisa berpindah ke atas sebelum proses melahirkan nanti. Amiin...

Catatan:
Sumber (**): beberapa informasi dalam artikel ini diperoleh dari http://tonangardyanto.blogspot.com/2006/04/placenta-previa-plasenta-bisa-pindah.html

Hari Senin jangan lupa pergi ke dokter 4D lagi... ;)

Segera bikin janji dengan rumah sakit untuk pendaftaran melahirkan..

Tuesday, April 7, 2009

Tes gula (Zuckerbelastungstest)

Setelah merubah jadwal, dari hari Jumat ke Senin, akhirnya saya bisa juga diperiksa kadar gula darah tanpa anak-anak. Gak kebayang aja kalau mereka di bawa serta, pasti bosen dan rewel di sana. Sayangnya, jam paling pagi untuk si dokter memang pukul 8.50, gak bisa lebih pagi lagi.. :D

Tesnya sendiri dilakukan di tempat praktek dokter kandungan saya. Jadi saya gak usah lagi repot-repot mencari tempat praktek dokter lain. Setelah berpuasa selama kurang lebih 9 jam, sampel darah dan urin yang pertama diambil. Setelah itu saya disuruh minum 300 mL larutan gula yang sudah jelas konsentrasinya berapa. Menunggu satu jam.. ambil darah dan urin lagi. Menunggu lagi satu jam.. kemudian diambil lagi sampel darah dan urin yang terakhir. Setelahnya, baru saya boleh sarapan.

Dari rumah, saya sudah membawa novel yang cukup tebal untuk bahan bacaan. Dan saya juga sudah berencana mau jalan-jalan di sekitar praktek dokter selama menunggu dari pengambilan sampel ke pengambilan berikutnya. Prakteknya??? boro-boro jalan-jalan.. untuk membaca saja kepala saya sudah pusiiiing.. kurang tenaga euy.. Akhirnya, saya cuma tiduran di sofa di ruang tunggu dokter. Lemes banget.. habis puasa kurang lebih 11 jam.. walah.. Biasanya jam 11 itu saya sudah makan snack yang ketiga, heuheuheu...

Hasilnya alhamdulillah memuaskan. Kadar gula darah saya ternyata normal, bahkan masih jauh dari ambang batas diabet. Berarti gendutnya memang karena kebanyakan makan saja. Dokternya bilang, Anda tidak usah diet.. kalau lapar, makan saja sampai perut Anda tercukupi.. hihii.. baiklah, Dok.. Tapi tetep, setelah kejadian ini, saya jadi agak-agak mengurangi makanan yang bergula banyak. Lebih baik makan yang netral2, kayak makanan bayi dan buah-buahan. Dan terima kasih untuk doa teman-teman semua. Alhamdulillah.. saya masih dijauhkan dari penyakit itu..

Tuesday, March 31, 2009

Baby Utun: catatan 6 --> Diabetes selama Kehamilan

Kontrol terakhir kemarin masih seperti biasa, tes urin, tes darah (diambil darah yang banyak lagi.. ooohh... benci sekali yg ini), tekanan darah dan berat badan. Susternya baru, jadi meni lamaaaa banget kerjanya.. Tapi dia baik banget sih.. dan dia ternyata tau musibah yang sedang melanda Jakarta (Situ Gintung tea..), ternyata beritanya sampai juga di sini. Semua kondisi baik-baik saja sebenarnya. Dari hasil USG, kepala bayi sudah di bawah katanya, meski dalam usia segini sih saya yakin dia masih muter-muter. Plasenta dan kondisi rahim juga oke, jantung bayi normal, air ketuban cukup, pokoknya semuanya baik-baik saja, Alhamdulillah.

Hanya satu yang cukup membuat kaget. Kenaikan berat badan yang cukup drastis, 4 kg dalam 4 minggu!! Sementara usia kehamilan belum masuk trimester ketiga. Kalau dilihat dari sejarah kehamilan sebelumnya, saya tidak pernah naik berat badan sebesar ini, kecuali pada masa-masa akhir. Yah, kehamilan kali ini memang sedikit berbeda dibanding sebelum-sebelumnya. Saya sering sekali merasa lapar. Dalam sehari saya bisa minimal 3 kali makan nasi, bahkan kadang-kadang sampai 4 kali. Dan diantara makan nasi itu, ada makanan perantara, biasanya roti, mie, atau buah-buahan. Belum lagi cemilan-cemilan ringan lainnya, kayak kerupuk, keripik, kacang, dsb.. Tapi masa sih bisa menaikkan berat badan secepat itu?? (masih belum nyadar juga :D)

Selama hamil, baik kesatu, kedua ataupun ketiga, saya tidak pernah memantang makanan apapun, kecuali rokok dan alkohol. (Halah.. emang yang dua itu mah gak pernah dikonsumsi meski gak hamil). Dan buruknya, saya juga tidak pernah peduli dengan asupan gula yang masuk ke dalam tubuh saya (berhubung saya selalu merasa kurus, meski pada dasarnya sih, saya tidak terlalu menyukai makanan yang TERLALU manis). Sampai-sampai saya lupa, kalau sebenarnya saya ada turunan diabetes dari bapak. Bapak saya sendiri bukanlah penderita diabetes, beliau hanya sebagai gen pembawa dari nenek saya. Nah, dikarenakan hal inilah, ditambah dengan keanehan yang tidak pernah terjadi dalam kehamilan sebelumnya (kenaikan berat badan tea), maka saya disarankan dokter untuk mengambil tes diabetes hari Jumat nanti. Duh, mudah-mudahan saja gendutnya saya ini memang karena nafsu makan yang tidak terkendali..

Berikut ada beberapa catatan mengenai Diabetes Kehamilan (Diabetes Mellitus Gestasional) yang saya ambil dari beberapa sumber:

Resiko ibu hamil terkena diabetes sebesar 3 - 5%.
Beberapa orang yang beresiko tinggi terkena diabetes:
1. Ada keturunan diabetes dalam keluarga
2. usia di atas 30 tahun
3. kenaikan berat badan yang tinggi
Dari ketiga golongan tersebut ditemukan sekitar 75% menderita diabetes destasional.

Resiko untuk anak yang akan lahir:
1. Lahir dalam keadaan cacat
2. Berat anak terlalu besar dengan resiko kematian tinggi selama kehamilan, ketika lahir dan setelah lahir.
3. Proses kelahiran yang sulit
4. Kelebihan berat badan sejak kecil, ketika usia sekolah dan seringnya terkena Diabetes mellitus.

*diterusin ntar deh.. dah dateng malesnya.. :D*



Thursday, March 26, 2009

Baby Utun: Praenatal Diagnostik

Praenatal Diagnostik merupakan pemeriksaan menyeluruh terhadap bayi sebelum lahir. Dalam pemeriksaan ini, kondisi bayi serta kelainan yang diidap oleh bayi bisa terdeteksi sejak dini. Alat yang digunakan Ultrasound 3D dan 4D. Nah, lo... dari dulu saya teh bingung, kok bisa sih 4 dimensi?? denger2 karena ada satu dimensi tambahan, dimensi suara, entah suara apa. Tapi di USG 2 dimensi juga, ada suara yang bisa kedengeran, suara detak jantung bayi. Setelah baca-baca.. ternyata, USG 4D itu dikenal juga sebagai USG 3D-Live. Dan memang selama kurang lebih setengah jam pemeriksaan.. saya seperti menonton film dari bayi di dalam perut saya. Tendangannya... isapan jempolnya... mulutnya yang komat-kamit.. gaya-gaya uletnya.. yang tanpa terasa, membuat air mata menetes perlahan-lahan.. terkesima dengan ciptaan-Nya di dalam perut ini.

Pemeriksaan ini dilakukan bukan di dokter kandungan saya yang biasa, tapi saya di rujuk ke dokter kandungan lain yang biasa melakukan pemeriksaan ini. Daaan.. ditanggung asuransi lho! Pernah ada teman yang ternyata asuransinya tidak mau membayarkan pemeriksaan ini, dan dia harus membayar sekitar 500 Euro. Makanya, ketika dokter saya bilang ditanggung asuransi, tanpa pikir panjang, saya langsung membuat janji dengan dokter yang satu ini.

Pemeriksaan ini dilakukan ketika kandungan berusia 20-22 minggu, berlangsung sekitar 1 sampai 2 jam. Karena itu, dianjurkan tidak membawa anak kecil. Dikhawatirkan mereka akan bosan dan rewel. Karena itulah, pas hamil Nadin, si Akang masih bisa ikutan nonton, tapi hamil Maryam dan yang ini, si Akang mesti jagain anak-anak di rumah.. :D Dan saya pun menikmati kebesaran Allah ini sendiri saja.. bertiga dink.. sama dokter dan asistennya.

Sebelum dilakukan pemeriksaan, saya harus membaca dulu surat yang berisi sekilas tentang pemeriksaan ini, meliputi apa saja. Dan di bagian paling bawah saya harus menandatangani pernyataan, bahwa secanggih-canggihnya alat yang digunakan untuk pemeriksaan tersebut, bukanlah jaminan bahwa si bayi akan lahir sama persis seperti hasil yang diperoleh hari itu. Kemudian saya diwawancara. Pertanyaannya banyaaaak banget. Semuanya seputar kelahiran bayi-bayi di keluarga kami, keluarga saya dan keluarga si Akang. Dimulai dari kelahiran kami sendiri, kelahiran anak-anak kami, kelahiran kakak dan adik kami, kelahiran anak-anaknya kakak dan adik kami, kelahiran orang tua kami, kelahiran adik dan kakak dari orang tua kami..halah.. lieur.. Mana saya dan si Akang termasuk keluarga besar.. kebayang donk kami mesti nyebutin satu demi satu.. capeee deh...

Kebetulan, dari kakak saya ada satu anak yang mengidap kelainan jantung. Ternyata hal ini juga dibawa-bawa ke kelahiran anak saya nanti. Dokternya bilang bahwa anak saya memiliki kemungkinan sebesar 4% mengidap kelainan jantung juga. Duh, ya Allah.. semoga saja tidak..

Pemeriksaan USGnya sendiri sangatlah mengasyikan buat saya.. ya itu..berasa nonton film anak sendiri. Baby Utun kerjaannya ngisep jempol terus, kalau nggak, tangannya disimpan di kening. Jadi menghalangi mukanya ketika akan difoto sama si dokter. Dokter berusaha merubah posisi tangan dengan mengetuk2 alat USGnya di perut saya. Duh.. perut rasanya seperti dikocok.. untung saya gak sampai kentut, Dok, hihihi..

Dari hasil hari ini, alhamdulillah kondisinya baik-baik saja. Jari tangan jari kaki semua lengkap. Anggota badan dari mulai kepala sampai ujung kaki juga lengkap. Organ dalam juga lengkap dan baik-baik saja. Ukuran pun normal. Berhubung ada kemungkinan kelainan jantung tadi, saya dianjurkan kembali lagi di usia kehamilan 28 - 30 minggu. Duh, yang ini dibayarin asuransi gak ya??

Oya, 3 kali saya periksa di sini, 3 dokter juga yang menangani saya. Yang pertama, suaminya. yang kedua istrinya. Berikutnya.. anaknya.. (kupikir..). Ternyata namanya beda, jadi kemungkinan besar bukan. Dokternya masih muda banget, mungkin seumuran saya atau si Akang. Jadi tampaknya masih baru. Mungkin dia belum tahu, atau memang baik.. karena kali ini saya diberinya foto yang 3 dimensi, meskipun hitam putih.. biasanya hanya dikasih gambar seperti di atas, kalau mau gambar yang ini (3D) harus bayar lagi.


Dilihat-lihat.. kayaknya Baby Utun 3 kali ini bakal mirip Mamiya nih.. hidungnya.. bibirnya.. dagunya.. mirip semua..  Tapi bapaknya masih gak mau mengakui.. gambarnya gak jelas, masih bisa berubah, katanya.. :D

Baby Utun: catatan 4 5

Kunjungan keempat, 2.2.2009, usia kandungan 16 minggu.
Kali ini kondisi makin membaik. Kista sudah tidak kelihatan lagi, pH kembali normal (4). Tes urin, tes darah (cuma dr jari doank) seperti biasa, berat badan nambah 1 kg. Baby Utun udh mulai bergerak-gerak, meski amat sangat jarang, tidak setiap hari.. dan kalaupun gerak, sehari hanya sekali saja. Anehnya, saya bisa ngerasain dia pertama kali bergerak di minggu ke-12. Tapi kata dokter, kalau sudah anak ketiga, memang ibu bisa lebih sensitif merasakan gerakan anaknya. Jadi tidak ada yg tidak mungkin. :D Dari pemeriksaan USG (kali ini mulai memakai USG biasa, yang di perut), kondisinya baik-baik saja.. anggota-anggota badan sudah lebih jelas kelihatan. Oya, hari ini juga dikasih surat rujukan buat periksa Praenatal Diagnostik.

Kondisi ibu sudah normal kembali. Ukuran perut semakin membesar, gatal-gatal mulai terasa. Makanya sudah mulai diminyakin deh perut. Dulu, pas hamil pertama, saya dikasih sampel minyak hamil sama dokter, belinya di apotek, harganya lumayan.. kalau gak salah 100 apa 200 mL gitu sekitar 12 Euro. Pas hamil Maryam, saya pake Oliven oil aja, alias minyak Zaitun, soalnya.. rasanya bau dan warna hampir sama. Dan ternyata.. dengan minyak zaitun.. gatal2 pun bisa teratasi. Lumayan menghemat, 6 Euro, bisa dapet 1/2 literan. Udah gitu, kalau masih sisa, bisa dipake masak pula.. :D Sekarang juga begitu, pake minyak zaitun aja..

Kunjungan kelima, 2.3.2009, usia kandungan 20 minggu.
Ada beberapa keluhan sebenarnya di pemeriksaan kali ini. Saya rasanya kurang merasakan gerakan bayi. Khawatir dia kenapa-napa. Soalnya udah memasuki minggu ke-20, seharusnya lebih terasa dibanding sebelumnya. Ini malah rasanya sama sekali nggak ada. Rada khawatir, soalnya rasa-rasanya beberapa hari terakhir sebelum saya ke dokter, saya selalu merasa kurang makan. Rasanya perut kok lapar terus. Tapi mata juga ngantuk terus. Nah. kalau lapar dan ngantuk ketemu, yang menang pastilah ngantuk.. :D

Kali ini di lab cuma diperiksa urin dan tekanan darah aja. Dan yang mengejutkan, ternyata berat badan saya malah nambah 2 kg, hahaha.. Padahal khawatir kurang makan gitu lho.. Aneh juga.. perasaan sering banget kelaparan, tapi berat badan malah naiknya dobel. Dokter puas juga sih liat kenaikan berat ini, dia bilang, Anda kan kurus.. jadi naik lebih dari ini juga gak apa-apa..:D

Kekhawatiran saya yang lain juga ditepis oleh dokter. Dengan USG, dia malah melihat Baby Utun gerakannya aktif sekali, sampai-sampai si dokter kewalahan mau ngukur2 dan sebagainya.. Alhamdulillah.. Dan yang paling mengejutkan, kali ini dokter melihat jenis kelamin si Baby.. ini sih laki-laki... Tapi Anda pastikan lagi nanti pada pemeriksaan di dr. Tschuerz yah.. Kali ini dikasih foto tampak depan.. mirip Power Ranger, hihihi..
 
Di akhir pemeriksaan, saya ke lab lagi, soalnya harus ambil darah lagi untuk pemeriksaan Toxoplasma. Sebenarnya sih harusnya ini dilakukan di awal, waktu saya diambil darah sebanyak-banyaknya itu. Tapi waktu itu saya memutuskan untuk tidak melakukan pemeriksaan ini. Soalnya udh pernah dan hasilnya negatif. Udah gitu, saya juga gak pernah makan daging mentah.. bahkan sayur mentah juga jarang.. Meski sebenarnya sih alasan utama, males bayarnya.. :D Tapi, ternyata si dokter benar-benar menyarankan untuk melakukan pemeriksaan ini. Yah.. akhirnya.. masuk lab lagi deeeh..


Baby Utun: catatan 1 2 3

Kunjungan pertama, 21.11.2008, usia kandungan 5 minggu + 2 hari.
Kali ini saya menyadari lebih awal dari sebelum-sebelumnya (usia 12 minggu dan 10 minggu). Setelah memeriksa sendiri di rumah, saya langsung membuat janji dengan dokter, masih dokter yang lama. Soalnya saya sudah cocok dengan beliau, lagipula pemeriksaan Ultraschall (Ultrasound) tidak dikenai biaya tambahan. Pada pemeriksaan pertama ini, tidak ada tes urin/tes darah. Saya langsung berbincang dengan sang Dokter, dan beliau langsung memastikan kehamilan dengan Ultraschall. Hasilnya?? Kondisi rahim memperlihatkan tanda-tanda kehamilan, namun embrio tidak terlihat. Hal ini bisa jadi karena usia kandungan yang terlalu muda. Makanya saya harus balik lagi 2 minggu kemudian. Katanya memang, embrio mulai terlihat ketika kandungan berusia 8 minggu.

Di minggu-minggu ini, saya belum mengalami gejala apapun (mual, muntah, dsb), nafsu makan pun tidak berubah.

Kunjungan kedua, 5.12.2008, usia kandungan 6 minggu + 6 hari.
Kunjungan kali ini mulai seperti kunjungan biasanya. Timbang berat badan, tes urin, tekanan darah, tes darah (darah yang diambil buanyak banget, 2 botol!, kira2 per botolnya 10 mL), terakhir.. tentu saja berbincang-bincang dengan dokter. pH 5,3, lumayan tinggi (normalnya 4), makanya dikasih obat (Gynoflor). Pemeriksaan Ultraschall menunjukkan embrio sudah terlihat, Alhamdulillah, masih seperti bola, bagian2 tubuhnya belum terbentuk. Tapi, ternyata dokter menemukan adanya Kista di bagian kiri. Karena pada pemeriksaan sebelumnya dokter tidak melihat keberadaan Kista ini, maka dipastikan bahwa ini merupakan kista yang timbul karena kehamilan. Nanti juga hilang sendiri, katanya. Karena ukurannya kecil dan saya juga tidak mengeluh sakit karena Kista ini, maka dokter pun tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi ini.

Di minggu-minggu ini mulai terasa gejala-gejala aneh dan tidak enak. Satu hal yang patut saya syukuri, dalam ketiga kehamilan saya, saya tidak separah kondisi orang lain. Mual hanya sedikit. Muntah tidak pernah. Pusing dan males sih iya... pengennya tiduraaaan aja... sayangnya gak bisa.. digangguin terus... Mulai susah masak.. ternyata setelah dipikir-pikir hanya beberapa jenis masakan aja yang saya tidak bisa memakannya, seperti bawang bombay, bawang putih, daun bawang, buncis, indomie, sosis. Yang lain2nya, meski masak sendiri masih bisa makan, asal jangan ada unsur tumis2an.. Jadinya masak pake metide cemplang-cemplung. :D Mulai ketagihan sama makanan2 yang biasanya jarang2 saya makan, seperti pete, ikan asin, cabe rawit (jadi hobi makanan serba pedas), tempe.. haduh.. Indonesia sekali sih ini.. lumayan menguras isi dompet.. :D

Kunjungan ketiga, 2.1.2009, usia kandungan 11 minggu + 1 hari.
Kali ini cuma pemeriksaan urin dan tekanan darah aja. Berat badan naik 1 kg dari bulan sebelumnya. Berikutnya pemeriksaan dengan dokter. pH 5,0, masih tergolong tinggi, dokternya heran karena di kehamilan sebelumnya saya tidak mengalami hal ini di awal2 kehamilan. "Anda sakit? stress?" tanyanya.. rasanya sih nggak, Dok.. hanya.. saya lupa melulu pake obatnya, hehehe.. Dari 6 biji yang dokter kasih, saya cuma makan 3. Yah, akhirnya dikasih obat yang sama.. Mudah2an bulan depan kondisinya membaik, katanya.. kalau kondisi masih sama, dikhawatirkan terjadi infeksi. Saat ini sih masih baik-baik saja. Kista masih ada, ukurannya sedikit membesar dari bulan sebelumnya. Tapi karena saya tidak ada keluhan sakit, maka dokter pun tidak khawatir. Gimana kabar Baby Utun?? Ternyata kali ini dia sudah mulai membentuk.. kepalanya sudah kelihatan, begitupun tangan dan kaki. Cepat juga.. :D Dan kali ini saya tidak lupa minta fotonya :D

Gejala2 aneh di awal kehamilan mulai membaik.. mulai kembali normal. Masalah makanan juga mulai bisa ditanggulangi, karena saya sudah tau triknya.. ;)

Friday, March 20, 2009

Baby Utun: buka kartu

Tadinya hal ini akan dirahasiakan, sampai orang-orang di sekitar kami menyadari dengan sendirinya. Bukan karena malu.. toh jelas-jelas bapaknya yang mana.. :D, bukan pula karena merasa biasa karena sudah anak ketiga (kehamilan pertama, kedua dan ketiga buat saya sama luar biasanya). Tapi karena pengen buat 'kejutan' aja ke semua orang, tau-tau udah melahirkan aja.. :D

Ternyata, Allah berkehendak lain. Menginjak usia kandungan sekitar 18 minggu, di saat body masih belum kentara seperti ibu hamil, tiba-tiba saja foto USG baby Utun jatuh di pengajian, dan ditemukan oleh seorang ibu. Yah.. tentu saja, setelah satu orang tahu, berita gembira ini langsung merembet hampir ke semua orang.

Sebenarnya, sebelumnya pun tidak berarti tidak ada yang tahu. Tetangga saya yang paling dekat, pastinya tau, karena saya beritahu. Biasalah.. perempuan.. selalu butuh seseorang yang bisa mengerti kondisinya. Guru ngaji saya juga tahu, karena menebak-nebak, gara-gara melihat Maryam yang tiba-tiba sakit-sakitan selama berminggu-minggu. Dan yang paling mengejutkan, yang tahu adalah seorang teman yang jauuuuuh di sebrang sana. Tiba-tiba saja beliau mengirim pesan yang memberitahukan bahwa dia bermimpi saya melahirkan seorang bayi laki-laki.

Dan setelah itu, banyak yang bertanya-tanya juga.. Gara-gara, secara kebetulan, postingan saya di MP rada2 nyerempet ke sana. Padahal semua itu tidak disengaja. Dari lubuk hati yang paling dalam, mohon maaf kalau saya tidak mengatakan yang sejujurnya waktu itu. Tapi saya juga tidak bohong kan?! saya tidak menjawab 'iya'.. tapi juga tidak menjawab 'tidak'. Moga-moga aja gak ada yang sakit hati. *wink*