Semalam neng iyam mengeluh kesakitan karena gigi yang bergoyang,
"pengen cepet2 copot niiiiih" katanya.
"Ya udah, besok mamah beliin Brezl yaa.. siapa tau giginya nempel di Brezl kayak gigi2 yang dulu" *lol*
Eh, seriusan ini, giginya neng iyam selalu copot karena nempel di roti keras khas Jerman..
Esok paginya, dia bangun duluan, trus bangunin adiknya, yang kebetulan tidur di kasur paling bawah. Doi duduk dikasur tengah, jadi posisinya agak lebih tinggi dari adiknya. Kalau bangunin jang Oboy, sama aja kayak bangunin macan tidur, bukannya bangun doi malah ngamuk.. jelek2nya kayak pagi itu, tendangan karatenya keluar, tepat mengenai mulutnya neng iyam. Neng Iyam menjerit nangis, saya pikir karena kesakitan, ternyata karena giginya loncat keluar dan gak bisa ditemukan... hahaha...
Ya ampuuun, neng.. sudahlah.. berkat tendangan Oboy, sakit gigimu jadi hilang kan?? ayo bilang alhamdulillah sama Allah.. Dia pun berhenti menangis, baca alhamdulillah, ngaca2 sambil nyengir karena sekarang ompongnya jadi simetris. :))
Showing posts with label ligar. Show all posts
Showing posts with label ligar. Show all posts
Friday, September 12, 2014
Monday, October 4, 2010
'penggemar gelap'
Kejadian ini sebenarnya sudah agak lama berlalu, sekitar 2 atau 3 bulanan yang lalu. Berhubung kemarin kejadian lagi, maka saya ingat kembali insiden tersebut.
Tiba-tiba saja waktu itu saya mendapat telepon dari satu nomer tak dikenal. Sayangnya, gara-gara saya telat mengangkat, lawan bicara saya tampak sudah menutup telepon duluan. Saya pikir, kalau memang dia membutuhkan sesuatu dari kami, tentunya dia akan menelepon lagi lain waktu. Dan memang benar, ternyata dia menelepon lagi. Namun tak terdengar ada jawaban dari sebrang, maka saya tutup lah telepon itu. Dan sayapun lupa akan perihal telepon dari nomor tersebut.
Namun, dua hari kemudian, telepon dari nomer tersebut benar-benar menguras perhatian saya. Bagaimana tidak? dalam sehari dia bisa 5 kali bahkan lebih menelepon ke rumah, tanpa bicara sepatah katapun. Di hallo-hallo, tak kunjung menjawab, didiamkan apalagi. Sampai akhirnya saya kesal campur aduk dengan takut. Pas si akang pulang langsung bercerita panjang lebar.. "duh, jangan-jangan penggemar gelap nih, Kang.. sering banget bolak-balik nelepon, cuma ingin mendengar suara aku kali ya??" *hihihihi.*
Keesokan harinya, lagi-lagi dia menelepon. Horor juga melihat nomernya tertera di telepon. Angkat... jangan.. angkat.. jangan.. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengangkat. Sayangnya, saya kembali terlambat.. kelamaan mikir sih. Tapi kali ini, karena didorong rasa penasaran, saya telepon balik lah nomer itu. Tuut.. tuut.. gak ada yang ngangkat. Tiba-tiba HP saya berdering. Ah, saya cuekin dulu aja, karena saya tau siapa yang menelepon ke HP saya, pastinya cuma si Akang yang suka nelepon, ntar bisa saya telepon balik ke kantor, pikir saya. Ternyata, si telepon yang saya hubungi tak juga mengangkat. Aneh.. padahal baru saja dia menelpon saya, tidak mungkin dia sudah pergi, karena ini no HP, jadi pastinya akan ada dimana dia berada. Saya coba telepon untuk kedua kalinya, dan kejadian yang sama terjadi, kembali HP saya berdering beberapa saat setelah nada sambung di telepon terdengar. Ah, udah dua kali ada yang menelepon HP, pasti penting. Saya pun mengambil HP yang waktu itu sedang dipegang Ligar, dan melihat call history HP saya, beneran si akang yang nelepon. Saya pun nelepon si akang pake telepon rumah (kan flatrate :D). Ternyata dia malah bingung, karena merasa tidak menelepon saya waktu itu.
Lho.. lho.. jadi curiga ada yang salah nih.. Saya coba lagi menelepon nomer tak dikenal tadi, dan kembali HP saya yang bunyi. Lho.. jangan-jangan.. nomer tak dikenal itu HP saya?? lalu saya coba menelepon ke rumah memakai HP, dan ternyata benar.. hahahaha... ternyata 'penggemar gelap' yang sering menelepon ke rumah itu adalah Ligar, si bungsu yang lagi suka pencat-pencet.. :D
Keterangan:
1. Nama yang tertera di call history HP saya memang nama si akang, tapi tanda rumah tidak terperhatikan oleh saya, yang menunjukkan bahwa si akang nelepon memakai telepon rumah. *tolol1*
2. Saya memang tidak pernah hapal no HP saya sendiri, juga no HP orang lain, terlalu panjang untuk dihapal. Cuma satu nomer HP yang saya hapal bener meski sambil merem.. ya no HPnya si akang.. paling sering dipencet soalnya. :D *tolol2*
Oya, beberapa lama kejadian ini tidak terulang lagi, karena Ligar lebih senang main mobil-mobilan sekarang. Ceritanya kemarin saya mau mengganti popoknya Ligar. Karena anak ini lagi masa-masanya jumpalitan kalau pas diganti popok, atau kalaupun diam, tangannya pasti merogoh-rogoh bagian bawah, maka tangan anak ini harus disibukkan. Karena waktu itu mainannya Ligar jauh semua, maka saya kasih HP aja yang ada dekat situ. Setelah selesai ganti popok, tiba-tiba telepon rumah berbunyi, maka saya pun tergopoh-gopoh mengangkatnya. Wah, nomernya gak kenal lagi, langsung saya angkat. Dan kembali tak ada jawaban.. tapi tiba-tiba ada suara bayi tertawa.. Lah, ini mah pasti suara dede Khalid (putranya Ninoek dan Prio), karena siangnya tampak si akang mencoba menelepon Prio, namun tidak nyambung karena mereka tidak di rumah, jadi ini tampaknya Prio nelepon balik. "Khaliiid.. Khaliid.. iiih.. suaranya udah kayak anak gede aja." kata saya (ket. Khalid umurnya 10 bulan lebih muda dibanding Ligar). Dan terdengar suara bayi ketawa lagi.. lho.. kok suaranya sama kayak yang di kamar?? dan *twink* saya langsung teringat kejadian diatas tadi. Cepat-cepat saya tutup sebelum pulsa saya semakin banyak berkurang. Dan ternyata memang Ligar lagi yang sedang nelepon. :D Akhirnya, dengan terpaksa, satu nomer dari phonebook telepon rumah harus dihapus, untuk menyelamatkan (baca: save) nomer hpnya saya ini.. *halah*
Thursday, July 23, 2009
...dan ketika si jagoan cilik itu tiba..
Selasa, 14 Juli 2009, kurang lebih pukul 1 dini hari, Maryam terbangun dan menangis. Akhir-akhir ini dia memang terbiasa seperti itu, lagi masa-masanya tantrum. Di tengah-tengah amukan Maryam, saya mulai merasakan kontraksi yang tidak begitu jelas. Saya pikir itu gara-gara stress karena Maryam yang tak kunjung berhenti menangis. Sekitar jam 2-an, akhirnya putri kecil itu bisa tertidur lelap lagi. Tapi rasanya sakit di perut saya masih berlanjut, kontraksinya tidak kuat dan tidak teratur.. kadang 10 menit.. kadang 5 menit.. kadang 20 menit..
Saya masih tenang-tenang saja, meski sudah tidak bisa tidur. Tapi bapaknya yang tampak lebih gelisah dan mengajak saya ke RS sekitar pukul 4 waktu itu. Ah, baru sakit segini sih masih jauh dari yang namanya melahirkan.
Pukul 5 saya mulai mencari bantuan, menelepon teman yang kira-kira bisa membantu jagain anak-anak hari itu. Alhamdulillah ada yang bersedia membantu. Dan diapun sampai di rumah sekitar 7.30, tepat di saat anak-anak bangun. Setelah saya menjelaskan beberapa hal tentang kebiasaan anak-anak, kesukaannya, dll.. saya dan si akang pun berangkat ke RS dengan perasaan sedih karena harus meninggalkan anak-anak yang baruuu saja bangun tidur. Nadin sudah diberi penjelasan, bahwa Mama harus ke RS, baby Utunnya udh mau keluar.. dan dia mengerti. Tapi Maryam sepertinya belum mengerti apa-apa.
Kontraksi semakin kuat dan semakin sering datang.. sudah teratur setiap 5 menit.. oo.. baiklah.. mungkin baru 7 menitan. Tak apa.. berdasarkan pengalaman waktu melahirkan Maryam yang tiba-tiba, kami merasa lebih baik berjaga-jaga di rumah sakit. Apalagi ini, sakitnya sudah cukup menggigit. Kami pun berjalan kaki ke pangkalan Taksi yang berjarak sekitar 300 meteran dari rumah. Tadinya saya mengusulkan naik tram saja, hanya 6 halte kok dr rumah. Tapi si akang yang biasanya ngirit (piss ach), kali ini gak setuju, dengan alasan jarak dari halte tram ke RS cukup jauh.. takutnya saya keburu melahirkan di jalan. :D
Sesampainya di RS saya langsung di-CTG. Ternyata kontraksi baru tiap 10 menit.. dan saya pun merasa tidak sekuat sewaktu saya meninggalkan rumah. Aneh.. Setelah diperiksa bidan, ternyata baru bukaan 2 atau 3 katanya. Akan masih sangat lama kalau saya hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Saya pun ditawari untuk jalan-jalan atau 'Bewegungsbad' (bergerak2 di air). Tentu saya memilih jalan-jalan di luar. Selain tidak usah berbasah-basah ria, saya pun bisa menghirup udara segar. Saya disarankan untuk berjalan2 minimal 1 jam.
Begitu keluar dari ruangan, tiba-tiba kontraksi menguat lagi, dan semakin sering, hanya berjarak 3-5 menitan. Tapi mo balik lagi ke atas, malu.. takutnya kayak tadi lagi. Lebih baik jalan2 dulu aja di taman, sambil menikmati waktu berdua, bergandengan tangan.. ah.. kapan ya terakhir seperti ini?? hehhee..
Baru setengah jam jalan, saya sudah merasakan kontraksi yang amat sangat kuat.. lengkap dengan keinginan untuk mendorong.. Oh tidak.. ini tanda-tanda si bayi akan segera keluar... Dengan setengah berlari, kami segera kembali ke atas.. dan sempat terhenti beberapa kali di jalan karena menahan sakitnya kontraksi. Kamipun sampai di atas.. dan sempat dicuekin oleh bidan, mungkin gara-gara belum bulat sejam kami jalan-jalan. Pegangan tangan saya ke si akang semakin kuat karena menahan sakit. Kalau dipikir sekarang, rasanya tidak mustahil kalau dulu ibu saya sampai menggigit bapak ketika akan melahirkan salah satu anaknya, hehehe..
Akhirnya saya disuruh masuk ke ruang bersalin pukul 9.52. Dan saya langsung minta izin untuk berbaring karena sudah tidak tahan lagi. Setelah diperiksa bidan, bukaan kurang 1 cm lagi, artinya saya dibolehkan ngeden saat kontraksi berikutnya datang. Si bidan pun keluar, entah memanggil dokter.. atau mengambil sesuatu. Yang pasti, saat dia kembali, saya sedang ngeden dan memecahkan ketuban. Saat itulah perjuangan dimulai. Pukul 10.01 si bayi pun keluar.. dan seperti kelahiran Maryam.. dokter tidak sempat berbuat apa-apa.. Kata Mpok Aas mah, "kayak ngelahirin di dukun beranak aja", hehehe..
Alhamdulillah semuanya lancar. Si bayi keluar 8 hari lebih cepat dari yang diperkirakan. Sesuai ramalan dokter, dia keluar lebih cepat dari kakak-kakaknya (nadin maju 4 hari, Maryam 6 hari.. hm.. berarti anak ke-4 maju 10 hari nih.. :D). Ukurannya pun lebih besar dibanding kakak-kakaknya.. 3460 g, 54 cm (Nadin 3350 g, 51 cm; Maryam 3150 g, 51 cm). Dan sempat susah juga memutuskan pilihan nama, berhubung ada 4 kepala di rumah. Akhirnya, setelah berdiskusi dan polling, kami sepakat memberinya nama Ligar Bayu Nugraha. Semoga doa-doa dari keluarga dan teman-teman Mama dan Papa buat Ligar didengar dan dikabulkan Allah ya, Jang..
Subscribe to:
Posts (Atom)