Sejak bulan Maret 2007, kami menempati rumah baru di bilangan jalan Zasinger. Rumah baru ini terletak di (hampir) pusat kotanya Munich. Jadi.. boleh di bilang rame banget lah... Di sekitaran rumah kami ini, memang rumahnya tinggi-tinggi, rata-rata lima*) lantai, bahkan lebih. Udah gitu dempetan pula... Makanya bisa diperkirakan dengan pasti kalau penduduknya lebih padat dibandingkan tempat tinggal kami yang dulu di Unterhaching.
Rumah kami yang dulu, posisinya hampir sama dengan yang sekarang, di pojok jalan. Tapi di bagian depan dan belakang rumah, ada pekarangan yang cukup luas. Rumah sebrang jalan kami juga berpekarangan cukup luas, sehingga jarak antar rumah ke rumahnya sendiri lumayan jauh. Sehingga kami jarang bisa melihat aktivitas tetangga kami di sebrang sana. Sedangkan di sini... Rumah kami letaknya dipinggir jalan banget. Jadi begitu keluar rumah, langsung trotoar deh. Pekarangan ada sih.... tapi di bagian berlawanan. Rumah tetangga sebrang jalan juga begitu. Sehingga kami bisa saling melihat.. meskipun tidak begitu jelas...
Pada awalnya kami tinggal di sini, aku suka melihat (baik sengaja ataupun tidak) aktivitas tetangga di balkonnya masing-masing. Ada yang ngerokok lah... ada yang bersih-bersih jendela lah... ada yang baca koran... ada yang menyiram bunga... ada yang jemur pakaian... dan sebagainya... dan sebagainya.. Sedangkan... mereka (mungkin) tidak bisa melihat saya... karena balkon saya tidak menghadap rumah dan jalan itu, balkon saya menghadap pekarangan yang saya ceritakan tadi.
Dan tetangga yang paling sering saya lihat adalah tetangga yang tinggal di lantai 5, lantai yang sama dengan yang saya tinggali. Terutama rumahnya seorang ibu beranak dua. Habis balkonnya besaaaaaar sekali. Dan dia tampaknya seorang ibu rumah tangga, sama dengan saya, yang aktivitasnya banyak di rumah. Saya sering melihat dia menjemur baju, ngelipetin baju yang habis di jemur, beres-beres kamar anaknya, nongkrong di balkon dengan anak dan suaminya.. bahkan ketika dia ngobrol asyik dengan tetangga sebelahnya. Yah, si ibu itu aktif di balkon sih... jadinya saya sering ngeliat dengan tidak sengaja. Sampai akhirnya saya apal deh perawakan si ibu ini. Beberapa kali kami sempat bertemu di bawah, tapi (rasanya sih) tidak pernah bertegur sapa, bahkan senyum pun tidak. Tau lah.. tetanggaan di sini mah susah... Jangankan sama rumah di sebrang, sama orang serumah aja belum tentu kenal... Belum lagi kitanya termasuk orang asing... hiks...
Sampai akhirnya, kemarin, ketika pulang dari kondangan, saya melihat sosok yang rasanya saya kenal. Saya bilang lah ke si Akang, "itu kan ibu tetangga kita... yang di sebrang jalan itu lho, Kang...". Kami sama-sama mau naik U-Bahn dari Hauptbahnhof, dan tentu saja tempat menunggunya sama, di ujung belakang... wong rumah kami sebrangan gitu... Ketika kami melewati si ibu itu... terdengarlah dia ngomong ke anaknya.. "ini kan tetangga kita ya?". Otomatis kami pun menoleh... dan saling melempar senyum sambil sedikit berbasa-basi... "Oo.. Anda yang tinggal di sebrang saya ya? yang punya balkon besar itu kan?!"
"ya.. ya.. bla.. bla..bla.."
kemudian pamitan... dan kami menunggu di tempat yang agak jauhan. Soalnya dia juga bawa Kinderwagen... Kalau kami masuk di pintu yang sama, bisa sempit nantinya..
Setelah pisah dari si ibu, hati ini jadi dag-dig-dug gak keruan... ketar-ketir... rasanya pengen cepat sampai di rumah dan menutup semua jendela... duduk.. dan merenung... Lho??? apa hubungannya??
Gak tau kenapa, saya BENAR-BENAR kaget ketika si ibu itu mengenali saya... rasanya seperti kena tampar di pipi kiri dan kanan sekaligus.... Berarti selama ini dia juga bisa melihat kami di balik jendela... Dan entah apa saja yang sudah dia lihat dari kami... OMG! Meskipun rumah kami ada tirainya.. tapi tetep aja kan ada kalanya dibuka. Dan ketika dia melihat itu... mungkin...
...rumah kami sedang berantakan...
...saya sedang tidak memakai kerudung... (bisa dipastikan, saat tidak ada tamu di rumah, saya pasti sedang begini)
...anak-anak.. dan (mungkin) kami sedang ganti baju...
...dan sebagainya... dan sebagainya...
Ya Allah... semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk selama ini dan ke depannya... InsyaAllah.. saya akan lebih berhati-hati... LEBIH berhati-hati lagi.. meskipun di dalam rumah sendiri...
*) lima lantai di Munich boleh dibilang tinggi, karena di sini jaraaaaang banget (bukan gak ada lho!) ada gedung-gedung pencakar langit kayak di Jakarta...