Tak terasa, akhirnya tiba juga waktunya untuk Nadin menjalani pemeriksaan ke-8 (U8), pemeriksaan untuk anak umur 4 tahun. Rada deg-degan sebenarnya, soalnya denger dari orang-orang, tes ini agak menyeramkan. Anak banyak ditanya-tanya.. tebak gambar sih katanya.. tapi kadang ada dokter yang memperhatikan sampai ke Grammatik si anak. *Wadduh* Nadin?? jangankan grammatik.. kosakatanya sendiri mungkin dia masih banyak yang belum tahu. Saya pun tidak menekan Nadin harus tahu ini itu.. selain saya takut si anak malah jadi stress.. juga biar hasilnya alami begituu.. Jadinya saya bakal tau kalau memang ada sesuatu yang kurang dengan Nadin. Saya yakin aja, bahwa tes yang akan dilakukan nanti, akan sesuai dengan perkembangan si anak. Lagipula, saya percaya sama Nadin.. dia PASTI bisa!
Malamnya sebelum ke dokter, sebelum tidur, saya beritahu Nadin bahwa besok kami akan pergi ke dokter Capelle. Dia senang sekali, soalnya di sana banyak mainan.. :D
Saya: "besok Nadin bakal diliatin gambar sama dokter. Nadin jawab ya itu gambar apa. Oya, jawabnya pake bahasa Jerman ya.. ;)"
Nadin: "pake bahasa Indonesia aja atuh.."
Saya: "Dokter Capelle kan orang Jerman, sama kayak Fr. Voelker, jadi dia gak ngerti bahasa Indonesia. Dia cuman ngerti bahasa Jerman"
Nadin: "Oh gituu?!"
Saya: "kalau Nadin gak tau, bilang dalam bahasa Indonesia aja, nanti Mama bantuin. ok?!"
Nadin: "ok!"
Esoknya, setelah mengisi kuosioner, kami memasuki kamar periksa, pertanyaan pertama tentu saja, "Nadin bisa bahasa Jerman?" Saya jawab, "menurut guru TKnya sih bisa, Dok.. tapi di rumah kosakata yang keluar sedikit sekali". Komentar berikutnya: "ya sudah, kalau dia tidak tau bahasa Jermannya, pake bahasa ibu saja yah?!"
Tes pertama ternyata memang si tebak gambar itu. Anak disuruh melihat gambar dalam jarak sekian meter (persis tes mata) dengan sebelah mata, sebelahnya lagi ditutup dengan tangan. Setelah sekian gambar, posisi tangan ditukar. Dan.. hey.. saya benar-benar terkejut.. ternyata kemampuan bahasa Jerman anak ini benar-benar diluar dugaan saya. Dia bisa menjawab hampir semua gambar. Hanya 4 yang dia tidak bisa, babi, kunci, payung dan bulan. Saya coba bilang ke Nadin, dalam bahasa Indonesia aja. Tapi dia malah pasang wajah sebel sama saya, terus bilang ke dokternya, "Ich weiss nicht", alias 'saya tidak tahu'. Dia SAMASEKALI tidak mau menggunakan BAHASA INDONESIA di depan si DOKTER. Untuk tes nama-nama warna, dia bisa semua. Meskipun ada 4 gambar yang tidak bisa dia jawab, hasilnya cukup memuaskan sang dokter. Ibunya apalagi.. puas sekali.
Berikutnya, Nadin diminta melihat gambar 3 dimensi, lengkap dengan kacamatanya. Gambar itu sebuah lalat, dimana Nadin harus menunjukkan kedua sayap lalat tersebut.
Setelah itu, seperti biasa, buka baju untuk ditimbang, diukur tinggi badan dan lingkar kepala. Kemudian Nadin disuruh berdiri dengan satu kaki, bergantian. Lalu loncat dengan sebelah kaki. Dokter juga sempet nanya:
- apakah dia tidur malamnya tenang? atau masih suka nangis?
- apakah dia bisa makan sendiri, dengan sendok/garpu?
- apalagi ya?? hm.. lupaa..
Terakhir, Nadin diperiksa kondisi badannya, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu tanya jawab antara saya dengan dokternya, kalau-kalau ada yang saya khawatirkan dari Nadin. Saya cuma khawatir sama amandelnya. Tapi ternyata normal. Selesai sudah semuanya.. dan alhamdulillah kondisinya okeh semua. Ternyata.. cuma itu aja?! :D