Showing posts with label dokter. Show all posts
Showing posts with label dokter. Show all posts

Sunday, October 17, 2010

Kleinwuchs

Kira-kira seminggu yang lalu, tiba-tiba saja saya mendapat kiriman kartu pos untuk Nadin dari dokter anaknya. Katanya sudah saatnya Nadin dikontrol lagi. Kontrol apa ya? seharusnya dalam waktu dekat ini tidak ada, baik kontrol perkembangan ataupun imunisasi. Paling tes untuk masuk sekolah, tapi tes ini pun bukan di dokter anak tentu saja. Setelah saya hubungi praktek dokter anak, ternyata Nadin harus diukur lagi tinggi dan berat badannya, karena waktu kontrol terakhir (U9 bulan April lalu) terlalu kecil.

Setelah membuat janji, akhirnya datanglah kami ke dokter anak beberapa hari yang lalu. Dan benar saja, Nadin hanya ditimbang berat dan tinggi badan saja. Setelah dikonversi ke grafik, tampak tinggi terhadap berat badan ada dalam kurva normal, dengan kata lain ideal lah. Namun ketika dilihat pada grafik tinggi badan terhadap umur, titiknya terletak di bawah garis normal paling bawah, sedikiiiiit sekali. Oleh karena itu, dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, dikhawatirkan ada sesuatu di dalam. Sebelum umur 12, diharapkan semuanya masih bisa diobati, tapi setelah umur 12 akan sulit, katanya. Nadin pun diberikan rujukan ke Kinderklinik-nya LMU di Lindwurmstr.

Saya katakan, mungkinkah karena dia turunan Asia? orang Asia ukurannya relatif lebih kecil dibandingkan orang Jerman (grafik yang dipakai standar Jerman tentu saja). Bisa jadi, kata si dokter, dia pun menanyakan ukuran tinggi saya dan si akang, yang sayangnya ternyata ukuran kami gak kecil-kecil amat dibanding orang Jerman pada umumnya. :D Hal ini membuat si dokter tambah yakin untuk memeriksakan Nadin lebih lanjut. Ah, dokter ini gak tau sih, kalau kami, orang tuanya, dulu juga kecil-keciiill, baru pas SMA tubuh kami berkembang pesat. :D

Sebenarnya bukan saya tidak mau memeriksakan Nadin lebih lanjut, namun ketika saya mendengar dokter menyebut "diambil darah", saya jadi ngeri. Masih terdengar jeritannya Ligar ketika diambil darah untuk tes alergi, atau jeritan Maryam bayi ketika diambil darah di Klinik anak Harlaching, duh, masa sekarang harus mendengar jeritan Nadin juga?? :((

Sesampainya di rumah, saya mencari-cari website yang dapat mengukur perkembangan tubuh anak. Dan akhirnya saya menemukan link ini. Berdasarkan hasil perhitungan di situ, dengan memasukkan data saya dan kang dian, sebenarnya besarnya Nadin masih NORMAL.

Tapi, si akang memberi masukan, sebaiknya diperiksakan saja, daripada ada apa-apa. Ya sudah, akhirnya kemarin saya membuat janji dengan kliniknya. Daaaannn.. yang namanya klinik, mau bikin janji atau tidak, tetep NGANTRI. Kami pun baru mendapat waktu tanggal 25 November nanti *sigh*, keburu lupa atuh.. Setelah putus dengan klinik Dermatologi-nya TUM, kini saya akan menjalin hubungan baru dengan klinik anak-nya LMU.. *halah.. menjalin hubungan dr klinik ke klinik ceritanya*

Monday, September 20, 2010

Kunjungan HNO 3

Berdasarkan hasil tes dan pemeriksaan hari ini, alhamdulillah kondisi kupingnya Nadin sedikit membaik. Kondisinya kali ini berbeda dengan hasil pemeriksaan kedua yang tidak menunjukkan perubahan dari pemeriksaan sebelumnya. Oleh karena itu, dokter memutuskan untuk tidak mengambil jalan operasi dulu seperti yang direncanakan sebelumnya. Terapi dilanjutkan dulu dan kondisinya akan dilihat lagi 6 minggu kemudian. Alhamdulillaaaahhh.. legaaaa... :)

Mudah-mudahan kondisinya memang akan terus membaik dengan sendirinya, tanpa harus operasi. Amiin...

Wednesday, July 28, 2010

Kunjungan HNO 2

Sebenarnya kunjungan HNO ini sudah dilakukan sekitar 3 minggu yang lalu, yang mana kontrol ini pun sebenarnya agak-agak terlambat dilakukan dari waktu yang seharusnya, berhubung setiap kali akan membuat janji selalu tidak berjodoh dengan tempat praktek dokternya. :(

Kunjungan ini merupakan lanjutan dari kunjungan sebelumnya. Setelah terapi obat dan meniup balon, ternyata kondisi kuping Nadin masih tetap sama (berdasarkan hasil tes dan dilihat oleh dokter). Kesimpulannya, Nadin sangat dianjurkan untuk dioperasi. Kalau tidak, dikhawatirkan akan mengalami kondisi yang lebih parah lagi. Sebenarnya saya sudah menduga hasilnya memang akan seperti ini, setelah saya berbagi cerita dengan seorang teman yang anaknya berkasus sama dengan Nadin. Teman anak saya itu usianya sudah lebih besar daripada Nadin, laki-laki pula, jadi dia selalu berhasil meniup balon dengan hidungnya. Tapi hasil akhirnya tetap harus dioperasi. Sedangkan Nadin, dia belum pernah berhasil meniup balonnya, meskipun dia melakukannya dengan senang hati, tapi tiupannya lewat hidung masih belum cukup kuat untuk menggelembungkan si balon itu.

Ah.. operasi ya?! gendang telinga pula.. duuuh.. rasanya tidak tega membayangkan salah satu organ tubuh si anak ternoda. Saya pun mencoba menanyakan sebenarnya berapa persen kira-kira gangguan pendengaran yang dialami anak saya? Karena kalau dilihat secara kasat mata, dia sepertinya tidak mengalami gangguan sedikit pun, tak jua ada keluhan. Tapi dokternya keukeuh bahwa kupingnya Nadin itu bermasalah. Dia agak susah kalau harus mengatakannya dalam bentuk persen. Namun kira-kira kondisi kupingnya itu sama dengan kuping kita ketika sedang lepas landas pesawat terbang. Waduh, sakit donk, Dok? Ya, katanya.

Dokter mengatakan bahwa di musim panas seperti sekarang, kupingnya tidak terlalu menampakkan masalah, namun di musim dingin nanti, kondisinya bisa jadi memburuk. Jadi sebaiknya operasi dilakukan setelah musim panas ini berakhir, karena musim panas anak-anak biasanya suka berenang dan main air, maka biarkan dia senang-senang dulu. Operasinya sendiri akan dilakukan di klinik khusus, bukan di tempat praktek si dokter. Tapi ini termasuk operasi kecil, si anak tidak perlu rawat inap di rumah sakit, cukup tinggal beberapa jam, kemudian boleh pulang. Dalam bahasa Jerman ini biasa disebut sebagai Ambulant (berbeda arti dengan ambulans, mobil untuk mengangkut orang sakit). 

Pada operasi nanti, gendang telinga akan disobek sedikit, kemudian cairannya dikeluarkan. Biasanya si cairan tidak keluar semua sekaligus, makanya di gendang telinga itu nanti akan dipasangi sebuah rol kecil (Röllchen), supaya si cairan yang tersisa bisa keluar perlahan-lahan. Adanya lubang di gendang telinga ini tak hanya menyebabkan cairan di dalam keluar, tapi cairan di luar pun bisa masuk ke dalam. Makanya selama si rol kecil itu masih terpasang, Nadin tidak boleh berenang ataupun mandi berendam. Rol kecil itu akan terpasang di kupingnya Nadin selama kurang lebih 4 bulan, tidak diperlukan operasi kembali untuk melepasnya, karena dia akan lepas dengan sendirinya. Meskipun gendang telinga sudah disobek, namun dia akan menutup kembali dengan sendirinya. Ketika gendang telinga menutup, si rol kecil akan terdorong keluar. Mungkinkan terdorong ke dalam? katanya dokter tidak mungkin, karena gendang telinga itu akan menutup kembali dari bagian dalam terlebih dahulu, sehingga pasti mendorong rolnya ke luar.

Dalam operasinya nanti, akan ada dua yang diambil, si cairan dalam kuping itu dan amandel. Amandelnya Nadin juga ternyata membesar. Sewaktu U8 dulu saya sempat tanyakan ke dokter, karena sewaktu demam tinggi, amandelnya tampak besar sekali. Namun kata dokter anak waktu itu, kondisinya masih normal. Tak ada operasi tanpa resiko kata dokternya, resiko untuk operasi ini yaitu pendarahan. Tapi mudah-mudahan tidak dialami Nadin nanti.

Untuk sementara ini, terapi tiup meniup balon sebaiknya dilanjutkan sampai akhir agustus nanti. Kalau kondisinya tak kunjung membaik, akhir agustus nanti kami harus membuat jadwal untuk operasinya Nadin sekitar akhir September atau awal Oktober.

Wednesday, April 7, 2010

Kunjungan HNO

Sebenarnya saya rada males pergi ke HNO (Hals-Nasen-Ohren alias THT), gara-garanya waktu pengalaman pertama kami pergi ke sana. Sekitar tengah tahun lalu, beberapa hari sebelum saya melahirkan Ligar, Nadin mengeluh sakit kuping. Mengingat dia beberapa kali terkena Mittelohrentzundung (otitis media), saya khawatir sekali dia terkena penyakit yang sama. Setelah menelepon dokter, kami langsung pergi ke sana. Ternyata saat itu hanya terlalu banyak kotoran, harus dibersihkan ke HNO. Si dokter anak pun memberi alamat satu orang HNO yang dekat tempat prakteknya dia. Karena rumah kami cukup jauh, maka saya lebih memilih HNO yang dekat rumah. Ternyata.. oh.. ternyata.. di HNO ini semua pasiennya MANULA (kebetulan di jadwal kami datang kondisinya begitu). Letaknya di gedung tua dengan lantai kayu, kalau jalan bunyi. Anak-anak ributnya minta ampun.. nyanyi-nyanyi dan jerit-jerit.. sampai ada dua nenek yang memelototin kami. Untungnya kami segera dipanggil, jadi aman dari omelan sang Nenek.. :D Dokternya juga ternyata sudah cukup berumur, dan berbicara dengan dialek Bayern yang kental sekali. Kuping saya sampe bergetar-getar mencoba mengerti apa yang dia katakan. Tapi tampaknya si dokter kaku awalnya ketika melihat saya mengenakan jilbab, orang asing gitu. Bisa bahasa Jerman gk nih?? *kaliiii* Setelah kami berbincang, situasi mulai mencair. Dari dokter inilah saya tahu kalau korek kuping itu tidak baik digunakan untuk membersihkan kuping, sebaiknya memakai lap basah aja dan jari, korek-korek katanya. Terus, 6 bulan sekali dibawa ke HNO untuk dibersihkan. Namun, setelah itu, saya masih tetap menggunakan korek kuping untuk membersihkan kuping anak-anak (dasar bandel!) dan berharap tidak akan pernah ke HNO lagi.

Sampai akhirnya minggu lalu, ketika dokter anak kami menemukan bahwa kemampuan mendengar Nadin tampak sedikit di bawah standar, kami kembali dirujuk ke HNO. Kali ini kami pergi ke HNO yang tepat bersebelahan dengan dokter anak. Tempat prakteknya bagus dan baru (iyalah.. Giesinger Gesundheitzentrum gitu lho.. belum setahun usia gedungnya juga :D). Dokternya masih muda dan ramah, perawatnya juga baik. Dan mereka tampak sudah biasa menangani pasien anak, jadi dengan keributan kecil dari anak-anak, mereka biasa-biasa saja. :D

Sekalian pergi ke sana, sekalian juga saya bawa Maryam untuk dibersihkan kupingnya. Beberapa minggu lalu dia sempat demam tinggi dan mengeluh sakit kuping. Namun dokter anak tidak bisa memastikan, apakah terkena otitis media atau bukan, karena terlalu banyak kotoran. Akhirnya waktu itu, Maryam diberi cairan (H2O2) untuk mengeluarkan kotorannya. Namun setelah 3 hari, kotorannya tak kunjung keluar, tapi dia juga tidak mengeluh apa-apa lagi. Maka saya tidak bawa ke dokter lagi waktu itu. Ternyata, setelah dilihat oleh HNO, kuping sebelah kirinya tergolong sangat kering, dia menyebutnya trockene und schuppende Ohrgänge (halah.. ternyata kuping juga bisa berketombe to?! :D). Untuk ini Maryam mendapat tetes kuping yang baru untuk 5 hari ke depan. Kalau masih belum membaik, kemungkinan akan diberi balsam untuk kuping.

Kembali ke Nadin, setelah membaca surat rujukan dari dokter anak, si dokter HNO menanyakan apakah saya merasa kalau pendengaran Nadin memang kurang? jawabnya tentu saja TIDAK. Apakah dia tidurnya ngorok? jawabnya pun tidak. Kemudian dia memeriksa telinga, hidung dan tenggorokannya. Dan dia mulai menemukan sesuatu. Sebelum saya berbicara lebih panjang, lebih baik Nadin menjalani tes dulu, katanya. Tes kali ini berbeda dengan tes pendengaran di dokter anak. Bukan lagi tes dengar atau tidak, namun tes ukur. Alatnya seperti earphone yang dimasukkan ke kuping Nadin, kemudian alatnya mengukur sendiri persis seperti alat pengukur tekanan darah.

Setelah selesai, kamipun kembali ke ruangan dokter untuk mendengarkan penjelasan permasalahannya. Dokter memperlihatkan sebuah grafik dari hasil tes Nadin. Katanya grafik ini menunjukkan getaran gendang telinga. Dari titik nol dia naik terus, yang menandakan kupingnya baik-baik saja. Sampai di titik tertentu tiba-tiba menurun, ini menunjukkan ada yang tidak beres, karena seharusnya grafiknya masih naik. Ternyata di belakang gendang telinga Nadin terdapat cairan. Dan udara yang seharusnya terdapat di rongga bagian dalam kini tidak ada. Dokternya juga menunjukkan kepada saya, bagaimana gambar gendang telinga yang normal dan gendang telinga yang dimiliki Nadin saat ini. Katanya kondisi seperti ini banyak dialami anak-anak seusia Nadin sebenarnya. Cairannya bisa dikeluarkan dengan sedikit terapi. Tapi kalau dalam waktu 6 minggu si cairan masih betah di dalam sana, berarti mau gak mau cairannya harus dikeluarkan. 

ntuk sementara ini Nadin mendapatkan tablet sebanyak 60 biji, yang harus diminum sehari tiga kali. Plus terapi meniup balon menggunakan hidung. Kami diberi alatnya dan balonnya. Si alat disimpan di salah satu lubang hidung, lubang yang lain ditutup dengan tangan, lalu tiuuuupppp.. Alhamdulillah terapinya membuat si anak senang. Nadin malah menunggu2 saat dia harus meniup balon dan minum obat. Obatnya sendiri, saya kebingungan bagaimana cara memberikannya sebebnarnya. Terus terang, sejak lahir, baru kali inilah saya mendapat obat tablet untuk Nadin selain vitamin D. Akhirnya saya coba hancurkan obatnya di sendok dengan air. Tapi lama sekali, akhirnya saya kasih gitu aja. Saya beritahu bahwa ini obat, tapi rasanya enak kok kayak bonbon.. (padahal dalam hati ketar-ketir, takut ternyata rasanya pahit). Dengan pedenya dia langsung emut.. terus gak ada komentar. Saya tanya "enak?". "Ehem... enak.. kayak vitamin" katanya. Plooooong deh rasanya.

Minta doa dari semuanya, semoga si cairan gak betah lama-lama tinggal di sana, cepat keluar, biar gak usah tindakan lebih lanjut lagi.. ;)


*gambar 1 diambil dari sini
*gambar 2 diambil dari sini


Saturday, April 3, 2010

Nadin: U9

U9 merupakan pemeriksaan atau kontrol perkembangan anak yang ke-9 (lebih tepatnya sih yang ke-10, karena sekarang ada yang baru, U7A untuk anak usia 3 tahun). Seharusnya pemeriksaan ini dilakukan bulan lalu. Tapi gara-gara saya dengan pede-nya datang pukul 10, padahal jadwal seharusnya pukul 9.30, maka jadwal tersebut digeser sebulan kemudian.  Kenapa? karena ternyata pemeriksaan ini membutuhkan waktu yang cukup lama (kurleb 1 jam), jadi keterlambatan saya dapat mengakibatkan berubahnya jadwal pasien yang lain. *Duh, masih beruntung saya gak kena denda karena ini*

Entah kenapa, tes yang diberikan kepada Nadin (rasanya) selalu lebih mudah dibandingkan cerita dari ibu-ibu yang lain, terutama dari segi bahasa. Apa karena Nadin mah kedua orang tuanya sama-sama orang asing? Ah, tapi gak bisa dibandingkan juga sih, karena dokternya pun berbeda.. :D Kalau dilihat-lihat, pemeriksaan kali ini cenderung memeriksa panca indera si anak. Mungkin untuk persiapan masuk sekolah, jadi kalau masih ada yang kurang, masih bisa diterapi dalam setahun ke depan.

Seperti biasa, pemeriksaan pertama mengukur berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala. Hasilnya juga seperti biasa, termasuk kecil dibandingkan grafik punya si dokter, dan mendapat catatan Asiatischer Herkunft (berasal dari Asia). *lol*

Tes kedua, Nadin diminta menyebutkan nama-nama benda yang (ternyata) mengandung huruf-huruf yang (kadang) salah diucapkan, seperti sch, r, s, ss, dll. Hasilnya cukup mengejutkan bagi saya, lulus! Mengejutkan.. karena di rumah dia tidak pernah berbicara bahasa Jerman (karena diharuskan bicara bahasa ibu), jadi selama ini saya jarang sekali mendengar dia berbicara bahasa Jerman. Tapi melihat hasilnya, berarti dia belajar bahasa dengan baik di Kindergarten.  :D

Tes ketiga, Nadin diminta menyortir benda berdasarkan bentuk. Tes ini juga termasuk tes yang sangat mudah untuk Nadin. Dia malah menambahkan sendiri, selain bentuk, dia juga menyortir benda berdasarkan warna. :D

Tes keempat, Nadin diminta menyebutkan nama-nama benda yang terdapat pada plat 3 dimensi. Hasilnya benar semua. Kemudian Nadin diminta menyebutkan nama-nama gambar dengan sebelah mata pada jarak tertentu. Dari atas ke bawah ukuran gambarnya makin mengecil. Gambar atas dengan mudah bisa dia lihat, makin ke bawah makin lama mikirnya. Dan baris paling bawah, dia tidak bisa menyebutkan nama gambarnya. Ketika ditanya, apakah dia tidak tahu atau tidak kelihatan? jawabnya tidak kelihatan. Dari sini kami dirujuk untuk kontrol lebih lanjut ke dokter mata. :(

Tes kelima, Nadin diminta menggambar. Pertama mengikuti bentuk yang sudah ada di situ, lingkaran, cakra, segitiga dan persegi. Kedua dia diminta menggambar orang (bagian-bagian tubuh dari yang paling atas sampai bawah harus lengkap). Untuk anak yang hobi menggambar ini merupakan pekerjaan yang sangat mudah untuknya. :)

Tes keenam, tes pendengaran. Nadin diberi Kopfhörer alias headphone yang besarnya gak kira-kira *lol* Dia diperdengarkan bunyi-bunyi yang akan keluar dari salah satu kuping, tugasnya dia harus menunjuk dari kuping sebelah mana suara itu keluar. Tes ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Nadin, untuk memutuskan dari kuping mana sang suara keluar. Beberapa jawaban benar, namun beberapa yang lain dia tidak bisa memberi keputusan. Sepertinya dia rada-rada kebingungan.. bukan bermasalah.. (ibunya sih berharap begitu), namun dokter tetap merujuk dia ke dokter HNO a.k.a THT untuk pemeriksaan lanjutan.

Setelahnya, Nadin diminta berjalan di atas tali. Bukan seperti di sirkus lho! :D Talinya sendiri diletakkan di atas lantai, jadi sebenarnya dia diminta untuk berjalan mengikuti garis lurus. Kemudian loncat dengan dua kaki dan satu kaki, mengikuti garis lurus tadi. Berikutnya loncat zig-zag. Kemudian dia diminta jalan di tempat.. makin lama makin bertambah kencang.. yang akhirnya mereka jadi lari di tempat. Selanjutnya tangan direntangkan, mata ditutup, tunjuk hidung dengan tangan kanan, lalu dengan tangan kiri. Ganti posisi lagi, sekarang tangan di depan, mata masih merem, tunjuk hidung dengan tangan kanan dan tangan kiri. Selanjutnya dia diminta mengikuti gerakan tangan si dokter.

Secara keseluruhan hasilnya baik. Kondisi mata dan kuping juga sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Tapi untuk jaga-jaga sebaiknya diperiksakan ke dokter yang bersangkutan, katanya. Untuk dokter THT janji sudah dibuat sore ini, tapi untuk dokter mata masih belum euy.. Mudah-mudahan hari ini bisa sekalian bikin janji sama si dokter mata. :D

Dan pemeriksaan kali ini merupakan pemeriksaan paling melelahkan buat saya, soalnya harus menjaga Maryam supaya tidak ribut dan mengganggu jalannya pemeriksaan, juga harus memegangi Ligar yang mulai gk bisa diem, pengennya dilepas, tapi da belum bisa dilepas di lantai gitu aja. Begitupun di kasur, harus tetap dijaga karena sukanya guling-guling. Duh, kayaknya butuh bantuan si akang untuk pemeriksaan berikutnya.. :D

Thursday, February 5, 2009

Nadin: U8

Tak terasa, akhirnya tiba juga waktunya untuk Nadin menjalani pemeriksaan ke-8 (U8), pemeriksaan untuk anak umur 4 tahun. Rada deg-degan sebenarnya, soalnya denger dari orang-orang, tes ini agak menyeramkan. Anak banyak ditanya-tanya.. tebak gambar sih katanya.. tapi kadang ada dokter yang memperhatikan sampai ke Grammatik si anak. *Wadduh* Nadin?? jangankan grammatik.. kosakatanya sendiri mungkin dia masih banyak yang belum tahu. Saya pun tidak menekan Nadin harus tahu ini itu.. selain saya takut si anak malah jadi stress.. juga biar hasilnya alami begituu.. Jadinya saya bakal tau kalau memang ada sesuatu yang kurang dengan Nadin. Saya yakin aja, bahwa tes yang akan dilakukan nanti, akan sesuai dengan perkembangan si anak. Lagipula, saya percaya sama Nadin.. dia PASTI bisa!

Malamnya sebelum ke dokter, sebelum tidur, saya beritahu Nadin bahwa besok kami akan pergi ke dokter Capelle. Dia senang sekali, soalnya di sana banyak mainan.. :D
Saya: "besok Nadin bakal diliatin gambar sama dokter. Nadin jawab ya itu gambar apa. Oya, jawabnya pake bahasa Jerman ya.. ;)"
Nadin: "pake bahasa Indonesia aja atuh.."
Saya: "Dokter Capelle kan orang Jerman, sama kayak Fr. Voelker, jadi dia gak ngerti bahasa Indonesia. Dia cuman ngerti bahasa Jerman"
Nadin: "Oh gituu?!"
Saya: "kalau Nadin gak tau, bilang dalam bahasa Indonesia aja, nanti Mama bantuin. ok?!"
Nadin: "ok!"

Esoknya, setelah mengisi kuosioner, kami memasuki kamar periksa, pertanyaan pertama tentu saja, "Nadin bisa bahasa Jerman?" Saya jawab, "menurut guru TKnya sih bisa, Dok.. tapi di rumah kosakata yang keluar sedikit sekali". Komentar berikutnya: "ya sudah, kalau dia tidak tau bahasa Jermannya, pake bahasa ibu saja yah?!"

Tes pertama ternyata memang si tebak gambar itu. Anak disuruh melihat gambar dalam jarak sekian meter (persis tes mata) dengan sebelah mata, sebelahnya lagi ditutup dengan tangan. Setelah sekian gambar, posisi tangan ditukar. Dan.. hey.. saya benar-benar terkejut.. ternyata kemampuan bahasa Jerman anak ini benar-benar diluar dugaan saya. Dia bisa menjawab hampir semua gambar. Hanya 4 yang dia tidak bisa, babi, kunci, payung dan bulan. Saya coba bilang ke Nadin, dalam bahasa Indonesia aja. Tapi dia malah pasang wajah sebel sama saya, terus bilang ke dokternya, "Ich weiss nicht", alias 'saya tidak tahu'. Dia SAMASEKALI tidak mau menggunakan BAHASA INDONESIA di depan si DOKTER. Untuk tes nama-nama warna, dia bisa semua. Meskipun ada 4 gambar yang tidak bisa dia jawab, hasilnya cukup memuaskan sang dokter. Ibunya apalagi.. puas sekali.

Berikutnya, Nadin diminta melihat gambar 3 dimensi, lengkap dengan kacamatanya. Gambar itu sebuah lalat, dimana Nadin harus menunjukkan kedua sayap lalat tersebut.

Setelah itu, seperti biasa, buka baju untuk ditimbang, diukur tinggi badan dan lingkar kepala. Kemudian Nadin disuruh berdiri dengan satu kaki, bergantian. Lalu loncat dengan sebelah kaki. Dokter juga sempet nanya:
- apakah dia tidur malamnya tenang? atau masih suka nangis?
- apakah dia bisa makan sendiri, dengan sendok/garpu?
- apalagi ya?? hm.. lupaa..

Terakhir, Nadin diperiksa kondisi badannya, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu tanya jawab antara saya dengan dokternya, kalau-kalau ada yang saya khawatirkan dari Nadin. Saya cuma khawatir sama amandelnya. Tapi ternyata normal. Selesai sudah semuanya.. dan alhamdulillah kondisinya okeh semua. Ternyata.. cuma itu aja?! :D

Thursday, January 8, 2009

Pergi ke dokter gigi bag. 2 dan 3

Berhubung kontrol ke dokter gigi 6 bulan lalu lupa tidak dicatat, maka kali ini sekalian aja ditulis di sini.

Rabu, 11 Juni 2008.

Hari itu jadwal Nadin ke dokter gigi yang kedua. Saya sudah siap dengan kertas di tangan yang berisi persetujuan perawatan yang akan dilakukan pada Nadin di hari tersebut. Perawatan gigi susu memang tidak ditanggung asuransi. Tampaknya mereka tidak mau rugi, karena bagaimanapun juga, gigi susu pasti akan tergantikan oleh gigi dewasa. Jadi, setiap perawatan yang akan dilakukan, tim dokter selalu menjelaskan terlebih dahulu, terutama dalam segi biaya. Perawatan kali itu meliputi pembersihan karang gigi dan pemberian vitamin, tampaknya sih diberi Fluorid, soalnya namanya juga Fluoridierung, yang menghabiskan biaya sebanyak 25,86 Euro.

Gigi Nadin sudah disikat bersih-bersih dari rumah, agar sang dokter bisa melihat dengan jelas kondisi giginya Nadin. Sayangnya, sewaktu di tram, Nadin ingin makan biskuit, dan saya paling tidak bisa menolak keinginan anak untuk makan. Akhirnya, ketika dokter memeriksa, sisa-sisa biskuit banyak sekali bertebaran di mulut Nadin. Dokternya tampak sedikit kecewa, disangkanya Nadin gak pernah sikat gigi. Akhirnya dia menyuruh perawatnya untuk membersihkan gigi Nadin terlebih dahulu. Baru dia periksa lagi. Alhamdulillah kondisi giginya baik-baik saja, tidak ada karies.

Tapi, sebenarnya dia menganjurkan Versiegelung. Yang saya mengerti dari penjelasannya  dia, Versiegelung itu semacam dempul. Karena gigi anak cenderung cekung, yang mengakibatkan mudahnya makanan bersarang di situ yang akhirnya bisa menyebabkan gigi berlubang. Makanya untuk mencegah gigi karies, baiknya gigi-geligi anak memakai Versiegelung tadi. Saya tidak langsung mengiyakan, ingin cari pendapat dulu dari suami tentunya.

Setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk tidak dulu memakai Versiegelung. Bukan karena harganya yang lumayan sih.. (hampir 180 Euro), tapi masih menimbang-nimbang perlu tidaknya hal tersebut. Akhirnya saat kami di Indonesia, kami diberi kesempatan untuk mendiskusikan hal ini dengan dokter gigi di sana. Ternyata dokter gigi sana malah tidak menganjurkan hal tersebut. Katanya struktur gigi yang cekung tersebut sudah klop antara rahang atas dan rahang bawah. Kalau didempul, nanti malah gak enak untuk anaknya. (Heran 1, kok bisa beda ya dokter sini dan dokter sana). Akhirnya hal tersebut terlupakanlah.. sampai.. hari ini...

Kamis, 8 Januari 2009.
Tidak terasa sudah saatnya kami kembali ke dokter gigi. Kali ini agak beda, soalnya Maryam, yang baru punya 16 buah gigi dan 4 diantaranya baru tumbuh setengah, akan saya coba periksakan juga. Dan saya lupa memberitahu pihak dokter sebelumnya, kalau saya akan memeriksakan gigi Maryam juga hari ini. Untunglah hari ini sepi, jadi tanpa janjian terlebih dahulu, Maryam bisa ikutan diperiksa.

Nadin mendapatkan perawatan persis seperti sebelumnya dengan biaya yang masih tetap sama. Dokter dan perawatnya senang sekali melihat gigi Nadin.. bagus, bersih dan rapi katanya. Hanya ada sedikit karang gigi di gigi seri bawah bagian belakang, itupun langsung dibersihkan sama perawatnya, biaya udah inklusiv dengan yang tadi. Selain itu, kondisinya okeh. Katanya dokter, ini gara-gara saya jarang menggunakan benang gigi. Dan saya diperingatkan untuk membersihkan gigi anak dengan benang gigi, setelah sikat gigi tentunya, setiap malam. (Heran 2: kata dokter gigi di Indo, jangan sering-sering gunakan benang gigi! alasannya lupa euy..)

Kalau Maryam, sebelum pemeriksaan diberi penjelasan yang sama persis seperti yang saya tulis di sini. Dan seperti di rumah, dia sangat susah di suruh buka mulut. Tapi alhamdulillah akhirnya bisa juga. Dan dokter juga belum menemukan apa-apa di giginya. Sejauh ini giginya masih baik, katanya.

Soal Versiegelung, dokter tidak menyinggung-nyinggung lagi. Padahal sebenarnya dari rumah dokumennya sudah dipersiapkan. Buat jaga-jaga, kalau memang tindakan ini sangat diperlukan. Ternyata sepertinya tidak... Ah.. melihat kondisi gigi anak masih baik.. dan kebiasaan menggosok gigi di rumah juga lancar.. (kadang susah sih buat Maryam..) akhirnya saya putuskan untuk tidak dulu, sambil nyari pengalaman dari orang lain dulu deh.. Dan saya harus terus berjuang untuk menjaga gigi anak tetap sehat biar mereka tidak pernah merasakan sakit gigi kayak ortunya..

Aja.. aja.. fighting!!!

Tuesday, January 29, 2008

Akhirnya... bebas kutu!

Kemarin adalah kontrol kedua setelah periksa kutu dua minggu yang lalu. Pada kontrol yang pertama, si dokter menemukan dua buah telor kutu yang sudah kosong. Dia khawatir, telur itu sudah pecah dan saat itu si anak kutu sedang berkeliaran di kepala Nadin, makanya aku disuruh untuk ngasih obat sekali lagi dan kontrol lagi minggu berikutnya. Dan kemarin, dia masih menemukan satu buah telur kosong setelah pencarian selama hampir 5 menit. Untunglah pada akhirnya dia mengatakan tidak perlu obat lagi, tapi masih perlu dikontrol olehku tiap hari... siapa tau nanti ada lagi. Dan akhirnya surat bebas kutu itupun keluar. alhamdulillah. Padahal seandainya (tidak boleh lho berandai-andai!) si dokter masih neko-neko, aku mau suruh dia cari dulu 10 buah telor kutu, baru aku mau bawa Nadin kontrol lagi, hihihi...

Maaf kalo cerita yang kemaren terkesan terlalu menakut-nakuti. Padahal ada yang bilang kalau sebenarnya di TK itu, kutu sudah biasa. Dan memang ketika aku ditelepon pihak Kiga, dan aku bilang kalo aku harus ke dokter hari Seninnya karena Nadin harus kontrol kutu, si ibunya bilang, "ah.. sama sekali gak masalah.. datang aja..". Tapi menurut Mbak Nuri yang udah 3 tahun di TK itu, biasanya kalau ada yang terkena kutu, suka ada tulisan "Bahaya Kutu!". Bingung? kita benerin benang kusutnya yuk...

Sebenarnya.... penularan kutu di Kiga memang sudah biasa (makanya dokternya Steffie bilang: "sekarang sih bebas kutu, gak tau bulan depan?". Tapi ini bukan berarti mereka tenang-tenang aja dan membiarkan kutu berkembang biak semaunya. Jadi sebenarnya kisah yang saya ceritakan di awal tulisan kemaren juga benar adanya. Dan tau tidak? kalau terkena kutu termasuk salah satu yang menyebabkan anak tidak boleh masuk Kindergarten. Tidak percaya? Untuk ibu-ibu yang sudah memasukkan anak2nya di TK (München) pasti dapet berlembar2 kertas yang harus di baca kan? Nah, salah satunya adalah tentang penyakit. Coba deh cari kertas yang judulnya Belehrung fuer Eltern und sonstige Sorgeberechtige gem. S34 Abs. 5 S. 2 Infektionsschutzgesetz (IfSG). Lihat poin ke-3: ein Kopfausbefall vorliegt und die Behandlung noch nicht abgeschlossen ist. Kopfausbefall yang dimaksud adalah terkena kutu, ada ide lain mungkin?

Nah, kalo soal guru Nadin yang waktu itu membolehkan Nadin masuk TK, karena dia tau kalo Nadin udah mengalami pengobatan, dan buat dia, tidak perlu surat bebas kutu itu :D Tambahan satu lagi, untuk anak di bawah 12 taun, pengobatan kutu ditanggung asuransi. Jadi jangan segan-segan pergi ke dokter biar dikasih resep buat ke apotek. Sayangnya kalo anak terkena kutu, semua penghuni rumah harus diobati juga. Oleh karena itu, jika ada kesempatan ke Indonesia, jangan lupa bawa peditox sama serit (sisir buat ngambilin kutu/telurnya) buat jaga-jaga, karena di sini cukup mahal :D

Tuesday, January 15, 2008

Makhluk menakutkan itu bernama... Läuse!

Konon, Kopfläuse (kutu rambut) sangat ditakutkan di Jerman. Ada satu kejadian yang menimpa keluarga Indo-Jerman. Entah darimana, di kepala anaknya ditemukan makhluk kecil ini. Alhasil, anak ini tidak boleh masuk sekolah (TK) sampai dokter anak menyatakan kalo anak ini bebas kutu. Bukan hanya anak ini, tapi juga kakaknya mendapat perlakuan serupa. Selain itu, gurunya juga heboh, memberitahu seluruh orang tua murid di TK itu, bahwa ada salahsatu anak yang terserang kutu, dan menganjurkan orang tua untuk memeriksa kepala anaknya masing-masing. Kenapa sih meni heboh gini? yaa.. soalnya kutu ini binatang menular, mereka bisa loncat dan terbang dari satu kepala ke kepala lain.

Waktu kecil aku juga berkutu.. (meni bangga.. :D). Tapi kondisinya beda ama di sini. Aku masih boleh sekolah dan bebas bermain dengan anak lain. Mungkin karena anak lain juga sama berkutu.. :D:D:D Nah, semenjak duduk di bangku SMP, kutu di kepalaku mulai berkurang. Bahkan setelah SMA... si kutu udah gak berani lagi bercokol di situ.. mungkin pada gak betah, karena anak gede garuk-garuknya heboh. :D

Tanpa disangka-sangka... hari Jum'at kemarin, ketika sedang asyik menyusui Maryam sambil membelai lembut rambutnya yang lebat, aku dikejutkan oleh beberapa buah telor kutu a.k.a lisa a.k.a liso a.k.a Nissen. Ku bolak-balik lagi rambutnya... waaaaah... banyak banget!!!! bahkan sempat menangkap ibunya telor-telor itu. Iyaaa... saat itulah aku bertemu kembali dengan kutu di kepala Maryam... di kepala MARYAM!!

PANIK... HEBOH... bingung mesti ngapain... gundulin... jangan... gundulin... jangan... Seperti biasa kutekan no telepon orang yang selalu mampu meredakan kepanikan ini. Ah.. kok nggak diangkat ya?? ah ya.. dia sedang sholat jum'at. Kumaha atuh nya?? ah.. gundulin aja deh.. (emang sebelumnya sempet niat nyukurin Maryam, gak sampe gundul emang niatnya..). Bismillaah...

Setelah itu, baru deh nelepon dokter..bikin janji (yang harusnya dilakukan dari tadi sebelum Maryam dicukur).

Di tempat dokter.
Kami disuruh menunggu di kamar 4, bukan di ruang tunggu seperti biasanya. Si Nadin aja kesenengan, bisa maen kuda2an tanpa diganggu anak lain. Ternyata kata dokternya, penanganan kutu ini harus dilakukan dua kali, sekarang dan delapan hari kemudian. Aku dan si Akang juga harus diobati juga.. (yang sayangnya obatnya harus beli sendiri :(( dan mahal! ). Semua kain-kainan atau wool seperti sprei, selimut, dan Kuscheltiere harus dicuci. Nah, setelah rambutnya dicuci, itu si nissen (kutu2 telor) harus dicabutin satu-satu, apakah pake tangan ato pake sisir. Waduh, Dok.. bakalan makin banyak kerjaan terbengkalai nih...

So, setelah beberapa minggu lalu ngurusin cucian karena Nadin ngompol, sekarang disibukkan dengan cucian dalam rangka membasmi kutu.

Tuesday, December 18, 2007

Perawatan gigi anak

Ini rangkuman dari penyuluhan yang didapat dari dokter gigi tadi. Moga2 aja gak ada yang salah diartikan atau terlupa.

1. sikat gigi anak dua kali sehari
Selama ini Nadin hanya sehari sekali (mau tidur aja). Kalo sehari dua kali berarti setiap habis sarapan dan mau tidur.

2. sampai umur 6 tahun anak perlu bantuan orang tuanya dalam menggosok gigi yang benar. Kalau dibiarkan sendiri biasanya kurang bersih.
Beberapa waktu lalu pernah ke dokter gigi dekat rumah, dokter gigi dewasa. Kalo menurut si Euceu ini mah, anak itu sebaiknya dibiarkan menyikat gigi sendiri, biar gak merasa terpaksa, yang bisa menyebabkan anak jadi trauma.
Nah kalo Nadin biasanya aku biarkan dia gosok gigi dulu sendiri, maen2 sepuasnya dia. Kalo udah, aku sikat lagi, bilang aja giginya masih kotor. Biasanya dia mau... dan jadi kebiasaan ampe sekarang.

3. Untuk memudahkan menyikat gigi (oleh orang tua), sebaiknya posisi anak berbaring.
Hm.. berarti selama ini kadang-kadang Nadin sikat gigi sambil berbaring, gak salah-salah amat donk, hehe... Awalnya sempet khawatir, takut jadi kebiasaan ampe gede.

4. Dianjurkan untuk menggunakan sikat gigi elektrik. Biasanya pada awal menggunakan anak2 tidak suka, karena berisik dan bikin geli di gigi. Tapi coba aja terus...
Kalo Nadin alhamdulillah sekali pake langsung suka, bahkan kerjaannya sikat gigiiii terus, ampe sikatnya kolaps kehabisan batre, hehe...

5. Karena mulut anak-anak kecil, ruang untuk gigi geliginya menjadi sempit, sehingga setiap sela-sela gigi perlu dibersihkan dengan menggunakan benang gigi. Lakukan hal ini setiap malam.

6. Untuk keamanan (kemungkinan tertelan), gunakan pasta gigi khusus untuk anak-anak, terutama yang mengandung Fluoride.
Pasta gigi anak tidak apa-apa kalau tertelan.

7. sebaiknya lebih banyak minum air putih, jus dan soda sebaiknya dihindari. Kalaupun minum, sebaiknya diencerkan dengan air dan setelahnya sebaiknya sikat gigi
Untung di rumah memang jarang minum jus dan soda.. kecuali kalau ada tamu doank.. :D

8. Hindari makanan yang manis-manis (coklat, permen, dkk). Kalaupun sulit dihindari, usahakan beri setelah makan besar, lalu setelahnya gosok gigi.