Friday, July 23, 2010

'untung' yang batal jadi 'buntung'

Hari ini saya harus mengirimkan sebuah paket pada seorang teman di Berlin. Supaya hemat, seperti biasa saya membuat perangko online dengan harga 50 cent lebih murah dibandingkan diberi perangko di kantor pos nanti. Setelah selesai mengirimkan data dan membayar (transfer lewat Bank, yang dilakukan online juga), saya pun siap mencetak perangko yang sudah jadi tersebut. Saya sadar sesadar-sadarnya kalau tinta printer di rumah memang sudah sekarat dari kemarin-kemarin. Tapi untuk sebuah perangko saja, masa sih gak cukup? Dan ternyata printer bisa jalan ketika ditekan tombol 'print'. Tapi ternyata kertas yang keluar dari printer tidak ternoda tinta sedikit pun.. alias kosong melompong.. Lho?! biasanya kalau tinta benar-benar habis, printer tidak akan mau mencetak. Saya coba tekan lagi tombol 'print', berharap bahwa gerakan printer yang tadi bukan karena menerima komando dari halaman yang ini. Ternyata, si perangko sudah tidak bisa dicetak lagi (karena perangko ini memang hanya bisa sekali cetak saja). Ugh.. betapa kesalnya saya..merasa rugi karena sudah membayar, tapi tidak menggunakan perangkonya. Kalau si paket dikirim lewat pos, tentunya biaya yang dikeluarkan menjadi dobel. Tadinya mau untung, malah buntung.. :((

Karena waktu sudah semakin sempit, saya cepat-cepat pergi ke kantor pos, dengan tak lupa mencatat kode perangko yang saya buat, siapa tahu saya bisa complain di kantor pos nanti. Ternyata kata si bapak petugas di kantor pos, saya bisa meminta uangnya kembali dengan menghubungi customer service-nya. Dan akhirnya si paket saya kirimkan lewat kantor pos juga. Tapi diluar dugaan, si paket yang saya kirim ternyata masih dikategorikan sebagai Maxibrief (surat berukuran besar), yang harganya hanya 2,2 Euro saja. Padahal perangko yang saya buat untuk Paeckchen (paket kecil) seharga 3,9 Euro. Ah.. ini mungkin hikmah dari kejadian tadi, saya malah membayar dengan harga yang lebih murah lagi.. :D

Sesampainya di rumah, saya langsung menghubungi customer service dan berceritalah saya pada si mbaknya, akhir kata saya menanyakan, bisakah saya mendapatkan uang saya kembali?. Duh, kayaknya orang-orang bakal kesel gitu ya sama saya, uang cuma 3,9 Euro saja sampai dibesar-besarkan seperti ini. Sebenarnya bukan masalah besar uangnya berapa, tapi sesuatu yang salah tampak harus dibenarkan. Dan saya hanya ingin mendapatkan sesuatu yang menjadi hak saya kembali. ;) Jawaban si mbak, dia mengakui bahwa penggunaan perangko online ini memang masih mengalami beberapa kesulitan, diantaranya seperti yang saya alami ini. Dengan senang hati pihaknya akan mengembalikan uang saya, tapi mungkin uang akan sampai ke rekening saya kembali dalam jangka waktu 10 hari. Ya gak apa-apalah.. alhamdulillah segitu juga.. saya senang sekali.

Setelah dipikir-pikir, sebenarnya untuk menggunakan perangko online lebih enak kalau menggunakan jasa H**m*s daripada D**, karena si jasa paket yang satu itu menawarkan perangko online yang dicetak sendiri, tetapi membayarnya tetap di paketshop-nya. Jadi, kalaupun perangkonya tidak jadi dipakai, pelanggan tidak mengalami kerugian. Tapi ya, tetep harus dihitung-hitung juga sih mana yang lebih murah, karena setiap jasa paket punya kelebihan dan kekurangan dalam penawaran jasanya..

Thursday, July 22, 2010

Pergi ke Dokter Gigi bag. 4, 5 dan 6

Lho.. lagi-lagi digabung catatannya seperti yang lalu.. :D

Juli 2009
Ah, saya masih ingat waktu ke dokter gigi saat itu, saya sedang hamil tua-tuanya, benar2 sudah matang. :D Jadwal ke dokter gigi sudah dibuat sejak 6 bulan sebelumnya, jadi saya sudah merencanakan, jadwal ke dokter kali itu bagian si akang yang mengantar, makanya saya buatkan janji dengan jadwal terpagi, agar si akang gak telat-telat amat datang ke kantor hari itu. Apa hendak dikata, ternyata Kang Dian malah dinas luar ke Italia selama seminggu, jadinya semua jadwal dokter minggu itu kembali saya yang menangani..

Pemeriksaannya sama seperti sebelum-sebelumnya, dilihat, dibersihkan dan diberi vitamin (dengan biaya sendiri tentu saja). Dan kali ini Maryam pun ikut dibersihkan giginya, tak hanya dilihat saja. Alhamdulillah kondisi gigi anak-anak baik-baik saja waktu itu. Tampaknya, biaya pembersihan gigi ini benar-benar dihitung per gigi, karena biaya untuk nadin dan Maryam berbeda sekitar 2 Euro, dengan selisih jumlah gigi 4 buah. :D

Januari 2010
Pemeriksaan kali ini agak berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Nadin yang berusia menjelang 5 tahun, kali ini tak hanya diperiksa dokter, tapi juga dirontgen. Berdasarkan pemeriksaan dokter, gigi Nadin tak ada yang berlubang, tapi setelah dilihat dari hasil rontgen, ternyata kelihatan ada 3 buah lubang di giginya. Tepatnya sih di 5 gigi, tapi yang dua terdapat diantara 2 buah gigi. Semuanya gigi yang paling belakang. Jadi hari itu langsung dibuatkan 3 buah jadwal untuk penambalan giginya Nadin. Masing-masing jadwal berselang sekitar 4 minggu.

Dokternya menjelaskan bahwa sebenarnya lubangnya kecil sekali, dan sama sekali tidak berbahaya untuk waktu itu. Tapi kalau dibiarkan, lama kelamaan akan membesar. Jadi sebaiknya cepat ditambal. Saya ditawari dua macam bahan tambalan. Untuk bahan tambal yang biasa, biaya akan ditanggung seluruhnya oleh asuransi. Tapi dengan bahan tambal yang bagus, saya harus menambah bayar 80 Euro (atau 160 ya? lupa.. :D) dari biaya yang sudah dibayarkan asuransi. Setelah menimbang-nimbang di rumah, akhirnya saya memutuskan untuk memakai bahan tambal biasa saja, toh gigi Nadin masih gigi susu, yang akan tanggal juga dalam satu atau dua tahun ke depan. Ternyata setelah dilakukan penambalan, bahan yang katanya biasa itu gak jelek-jelek banget kok, warna bahannya sama dengan warna gigi (putih), bukan amalgam seperti yang saya bayangkan. Udah gitu dikasih sinar pula, yang kalau gak salah di Indonesia ini sudah termasuk tambalan yang okeh. Setelah mengalami ini, ternyata rumor yang sering saya dengar, bahwa perawatan gigi anak tidak ada yang ditanggung asuransi, tidak benar. ;)

Maryam? apa yang terjadi dengannya? Maryam mengalami pemeriksaan standar, dibersihkan dan diberi vitamin. Sembari dibersihkan, sembari si perawat bertanya-tanya tentang kebiasaan menyikat gigi anak-anak di rumah. Waktu itu saya cerita bahwa Maryam senang banget menyikat gigi, dia bisa 3 - 4 kali sikat gigi dalam sehari. Wah, bagus sih, katanya.. tapi jangan diberi pasta gigi lebih dari 2 kali sehari, karena kalau kebanyakan yang tertelan, tidak baik untuk dia, katanya.

Oya, kali itu saya hanya membayar satu saja untuk Maryam. Karena Nadin mempunyai gigi berlubang, maka perawatan Nadin hari itu akan dibayar asuransi, katanya.. Alhamdulillah.. rejeki.. :D

22 Juli 2010
Hari ini kami kembali ke sana. Dan seperti biasa saya selalu deg-degan ketika menghadapi hari ini. Khawatir gigi anak-anak berlubang lagi, dan harus ditambal lagi.. ah.. tidak tega melihatnya..

Dan betapa gembiranya kami ketika dokter memuji-muji gigi anak-anak.. "Wow.. Super! Klasse! Ganz toll!!", berkali-kali saya dengar pujian si dokter sambil memeriksa gigi anak-anak, sampai selesai. Anak-anak gembira, ibunya pun lega.. alhamdulillah.

Tapi di gigi atas kiri yang paling belakang punya Nadin, ada kotoran (karang gigi) yang membuat gusinya sedikit meradang. Katanya hal ini bisa diatasi dengan obat kumur. Dalam beberapa hari kondisinya akan kembali membaik. Jika sedikit tertelan, obat kumur ini tidak akan menyebabkan apa-apa, katanya, anak cukup diberi Kamileentee saja.

Sepulang dari dokter, kami mampir di Supermarket. Eeeh.. anak-anak malah membawa setoples Gummibaerchen.. yaaaahhhh... ya anggaplah hadiah untuk gigi bagus kalian.. :D



Monday, July 19, 2010

Neng

Udah lama gak nulis... sebenarnya yang ingin dibagi dgn teman-teman banyak sekali. Sayangnya seringkali waktunya tidak tepat. Disaat mood menulis ada, kesibukan pun merajalela. Tapi, disaat waktu senggang, moodnya sudah menghilang. Kembali ke topik, ini kejadian yang membuat saya ngakak sendiri tadi pagi.

Berawal ketika mulai sering melakukan video-call dengan keluarga di Indonesia. Kebanyakan sih yang ngobrol anak-anak dengan sepupu2nya. Tapi seringkali keponakan saya memanggil saya dengan panggilan ajaibnya, "bi eneng". Tentu saja anak-anak heran, kenapa Mamah namanya jadi "bi eneng"?

Saya jawab, karena waktu Mamah kecil, Mamah dipanggilnya Eneng sama Ema, Pai, uwa-uwa, dan semuanya. Makanya sekarang Mamah dipanggil bi Eneng sama anaknya uwa-uwa. "Oo.. sama donk kayak Nadin dan Maryam, suka dipanggil Eneng juga. " jawabnya.

Namanya juga anak-anak, meski sudah dijawab, di lain kesempatan mereka bertanya lagi, yang tentu saja jawabannya juga masih sama. (Kalau jawabannya beda, mereka bakalan protes tentu saja). Dan kejadian ini terulang lagi tadi pagi, sewaktu Maryam di kamar mandi. Sembari saya membantunya, dia mulai deh bertanya topik yang lagi hangat akhir2 ini.

Maryam: "Waktu Mamah kecil kok namanya Eneng?"
Mamah: "iya, emang waktu kecil Mamah dipanggilnya eneng, sama kan kayak Maryam?"
Maryam: "iya, kenapa kok eneng?"
Mamah: *mikir dulu* "karena Ema (ibu saya) sayaaaaaaaaang bgt sama Mamah"
Maryam: "Oohhh.."
Mamah: "Maryam, Mamah ke dapur dulu ya, kalau udah, bilang udah, ok?"
Maryam: "ok!"

Tak lama kemudian terdengar teriakannya sampai ke dapur..
"Neeeeennnngggggg... Udaaaaaaahhhhh..."

Di dapur saya tertawa sendiri.. nah lo.. kenapa jadi begitu teriakannya? biasanya "Mamaaaaah udaaaaahhhh". Mudah2an ini karena Maryam sayaaaaaaaaaaang banget sama Mamah. :D

Wednesday, June 16, 2010

Ternyata...

...Indonesia pernah menjadi salahsatu peserta piala dunia, BAHKAN Indonesia merupakan negara pertama dari ASIA yang lolos babak kualifikasi piala dunia.. (lebih tepatnya karena Jepang mengundurkan diri di babak kualifikasi, katanya)

Kapan??
Tahun 1938, waktu itu Indonesia masih memakai nama Hindia-Belanda, tentu saja dengan memakai bendera Belanda pula. *Wah.. jangan-jangan pemainnya Londo semua.. :D*

Eits.. tunggu dulu.. info selanjutnya.. di babak pertama, Hindia-Belanda langsung tumbang oleh Hungaria (yang menjadi runner-up waktu itu) dengan skor 0-6.

Sumber: wikipedia. 

Sunday, April 25, 2010

Kisah Kisruh Si Paket Itu

Sebagai salah satu pembelanja online, tentunya saya sudah tidak asing lagi dengan yang namanya paket. Kalau belanja online, biasanya si penjual akan memberi tahu kita saat mereka sudah mengirimkan paketnya. Jadi kita bisa mengira-ngira kapan paket itu sampai, supaya bisa diusahakan ada orang di rumah. Jika saat paket tiba, sang penerima tidak di rumah, maka paket akan dititipkan ke tetangga (kalau ada yang mau). Dalam kasus ini si penerima diberi kartu berwarna biru yang memberitahukan di tetangga mana paket itu dititipkan dan berapa jumlah paketnya. Kalau tidak ada yang mau, berarti paket akan ditinggalkan di kantor pos, dan baru hari berikutnya kita bisa mengambilnya di sana. Untuk jasa pengiriman non DHL, akan meninggalkan pesan saat kita tidak di rumah, dia memberi tahu bahwa dia akan datang lagi keesokan harinya pukul sekian, kalau tidak bisa, si penerima harus memberi jadwal kapan dia bisa di rumah untuk menerima paket itu. Atau bisa juga harus diambil ke filial (cabang) terdekat dr rumah kita. Dan berdasarkan pengalaman selama ini, rasanya saya tidak pernah menemukan masalah dengan paket-perpaketan ini. Sampai...

suatu hari saya mengirimkan sebuah paket untuk Teteh A di kota sebelah. Biasanya kalau saya mengirimkan paket, saya suka memberitahu si penerima (belajar dr toko online ;)) kapan dan lewat jasa pengiriman mana saya mengirimkannya. Buat saya, jasa pengiriman termasuk info yang penting, karena jam-jam mereka datang ke rumah biasanya sudah terpola. Jadi si penerima bisa mengatur agendanya sedemikian rupa supaya si paket bisa selamat sampai di rumah, tanpa tatap-titip atau diambil ke kantor pos. Nah, saat itu saya benar-benar lupa memberitahu karena hari itu saya kebanyakan acara (SokSibukModeOn). Sempat terpikir beberapa hari setelahnya untuk menanyakan kabar si paket, namun saya pikir saya bisa cek sendiri di internet lah, yang mana hal ini TIDAK dilakukan juga (TeuteupSibukCeritanya). Kalau gak ada complain dari yang menerima, berarti semua baik-baik saja kan?!

Dua minggu setelahnya, tiba-tiba saya menerima kartu biru, kartu yang memberitahukan kalau saya menerima sebuah paket yang dititipkan di tetangga saya, Frau B. Paket apakah itu?? rasanya akhir-akhir ini saya tidak pesan barang apapun.. Ah.. mungkin ini lagi-lagi surprise dari si Akang nih.. pikir saya sambil senyam-senyum sendiri. Sudah dua kali saya coba ambil, namun tampaknya Frau B sedang sibuk di luar rumah.

Pas ngecek email, ternyata saya mendapat pesan untuk menitipkan paket punya si Teteh A tadi pada Neneng C yang akan main ke rumah saya pada akhir pekan kemarin. Kebetulan rumah Teteh A deketan sama Neneng C. Kaget saya dibuatnya bukan main, bukannya paket itu sudah saya kirimkan dua minggu lalu???? dua minggu lho.. bukan waktu yang sebentar. Kalau pun alamatnya salah, harusnya dia kembali lagi ke rumah kami. Namun, paket itupun tak jua kembali. Untuk meyakinkan, saya telepon Teteh A, apakah benar paketnya belum sampai?. Dan memang pasti benar lah.. wong itu pesan juga dari Teteh A kan?!

Akhirnya saya pun mencari-cari email konfirmasi dari DHL (kebetulan saya membuat perangko online waktu itu) untuk mengecek keberadaan si paket. Namun tampaknya si email sudah terhapus.. Saya pun mencari-cari selembar kertas kecil, kwitansi dari kantor pos waktu itu. Alhamdulillah ketemu.. Setelah memasukkan nomer pengiriman.. tadaaaa... terkuaklah perjalanan panjang si paket selama dua minggu ini.

Ternyata paket itu telah sampai di penerima pada hari kerja berikutnya setelah saya kirim. Namun tidak ada siapa-siapa di rumah, jadinya paket di simpan di Packstation (mesin automat paket), penerima sudah diberi tahu, katanya. Karena dalam waktu 9 hari paket tak kunjung diambil, maka si paket dikembalikan kepada saya, dan hari itu tertulis bahwa paket telah sampai kembali di penerima. Ooo.. berarti paket di Frau B itu paket yang saya kirimkan dua minggu lalu.. hihihi.. lega deh.. alhamdulillah.

Keesokan harinya saya kirim lagi deh itu paket, dan keesokan harinya lagi alhamdulillah sudah sampai. Pelajaran kalau mengirim paket: jangan lupa memberitahu penerima kalau paket sudah dikirim, dan pantau terus status si paket sudah sampai dimana!! 

Friday, April 23, 2010

Rupa-rupa hari ini

Tulisan ini hanya berisi beberapa catatan tidak penting yang saya dapat hari ini. Bagi yang tidak tertarik, DILARANG keras untuk membacanya. :p

Kebetulan hari ini banyak sekali agenda. Padahal saya hanya punya waktu 2,5 jam saja, yang mana malah ngaret 1/2 jam karena Ligar susah tidur pagi pada waktunya.. Jadinya saya hanya punya waktu 2 jam saja. Pertama saya harus membawa paket sebesar kurang lebih 70 x 70 x 40 dengan berat kurleb 7 kg ke kantor pos. Saya memilih kantor pos yang di Hauptbahnhof, biar bisa sekalian ke toko baju di sebelahnya untuk mengembalikan beberapa potong baju yang saya beli dua hari sebelumnya. Sepanjang jalan banyak orang ngeliatin, heran.. mungkin karena saya bawa2 paket segede gaban, padahal itu paket saya simpan di kursi belakang Kinderwagen.

Setelah selesai dari kantor pos dan toko baju, saya tadinya mau langsung meluncur ke perpustakaan di Giesing untuk mengembalikan buku yang saya pinjam. Ternyata, tiba-tiba terbersit ingin membuat es duren, yang mana si duren hanya ada di toko Asia di Rosenheimerplatz. Berhubung hasrat duren sudah saya tahan selama berminggu-minggu, maka saya paksakan untuk mampir ke sana. Sekalian mo ke toko murah untuk membeli satu set koas untuk menggantikan koasnya anak2 yang sudah pada rusak.

Nah, disinilah sialnya saya. Ketika saya naik Rolltreppe (tangga berjalan), tiba-tiba ada laki-laki setengah baya yang memperhatikan saya dan seolah-olah menunggui saya. Dalam hati, kenapa si bapak ini menunggu di situ? padahal tangga yang ini jelas bukan tangga bolak-balik arah, hanya bisa untuk ke atas saja. Ah, dia sedang menunggu temannya yang dibelakang saya kali, pikir saya. Ternyata oh ternyata.. si bapak ini memang menunggui saya. Kenapa?? karena saya telah melanggar aturan! Di pinggir tangga berjalan jelas-jelas ada aturan (yang dijelaskan dengan gambar), siapa-siapa saja yang boleh dan tidak boleh lewat tangga itu. Ibu-ibu yang membawa Kinderwagen (stroller) termasuk yang tidak boleh melewati itu. Si bapak menunjukkan bahwa di sebelah sana ada lift yang disediakan untuk orang2 seperti saya, katanya. "Kalau Anda melanggar aturan, Anda harus membayar 15 Eu!". Oo.. gitu ya?! manggut-manggut pura-pura bego.. dan cepet2 pergi menjauhi si bapak. Untungnya gak dikejar.. :D Untuk para ibu2 nekat seperti saya, nanti lagi hati-hati kalau mau naik tangga berjalan, liat kanan kiri dulu, siapa tau ada pengawas kayak saya tadi. :D

Setelah puas belanja di toko Asia, saya harus buru-buru kembali ke Giesing, karena masih harus belanja daging dan ayam di toko Turki untuk tamu-tamu saya esok hari. Dan akhirnya agenda ke perpustakaan harus dibatalkan karena waktunya sudah mepet dengan saat menjemput anak-anak (siap-siap denda lagi deh hari Senin nanti). Setelah menjemput anak-anak, saya masih harus mampir lagi ke Supermarket untuk membeli sayuran untuk hari ini. Dan akhirnya, agenda luar rumah untuk hari ini selesai sudah.

Sambil berjalan pulang dari halte bis, saya lihat Nadin berjalan zig-zag sambil ketawa-ketiwi. Saya tanya, "kok Nadin jalannya belak-belok sih??". "Belok Nadin tahu, tapi kalau belak artinya apa sih??" jawabnya. Hahahaha... Jadi inget kejadian beberapa bulan lalu. Saat kami bermain lari-larian. "Larinya harus bolak-balik ya!" kata saya waktu itu. Maryam yang masih kecil tidak lari dari titik awal, namun dari titik akhir menuju titik awal. Nadin, si cikal yang perfeksionis, tentu saja mengkritik kesalahan adiknya ini, "Maryam harus bolak dulu donk.. baru balik!". Hahaha.. apaan tuh bolak???  aya-aya wae... :D

Saturday, April 10, 2010

Petualangan di Kebun Binatang

Sejak kecil saya tidak pernah bosan dengan acara kunjungan ke kebun binatang. Bahkan sewaktu sibuk mengerjakan tugas akhir, sempat-sempatnya saya bersama teman-teman satu lab jalan-jalan ke kebun binatang (kebetulan kampus kami bersebrangan dengan kebun binatang Bandung), mana pake nego segala biaya masuknya, hahaha.. maklumlah.. namanya juga mahasiswa. :D Makanya sekarang pun saya tidak pernah keberatan saat anak-anak ingin jalan-jalan ke sana. Meski yang dilihat masih yang itu-itu saja, dan suasananya pun tidak banyak berubah. Kunjungan ke kebun binatang tampak sudah menjadi ritual tahunan buat kami. Saat musim dingin telah lewat, dan saat liburan kami hanya menghabiskan waktu di rumah saja, kebun binatang pasti menjadi alternatif jalan-jalan di dalam kota.

Liburan kali ini kami merencanakan pergi ke sana. Saya coba mengajak beberapa orang teman, namun tampaknya tidak ada yang tertarik. Ada yang tertarik, namun waktunya tidak pas. Tunggu punya tunggu, akhirnya liburan pun hampir habis. Tapi janji dengan anak-anak sudah dibuat sejak awal liburan. Saya pun nekat pergi sendirian ke sana (biasanya selalu dianter si akang, kalau nggak, barengan sama teman yang juga membawa anak-anaknya). Saya pikir, transport ke sana mudah (apalagi dari rumah kami hanya 5 halte bis saja, atau 4 halte bisa + 1 halte U-Bahn), jalan-jalan di sana pun gak akan susah (medannya disesuaikan untuk anak-anak).

Akhirnya, di hari terakhir liburan kami pun meluncur ke sana. Saya memilih masuk dari gerbang Flamingo karena lebih dekat dari rumah. Antrian panjang di pintu masuk memberikan saya waktu untuk memilih tiket yang paling murah untuk kami berempat. Ada berbagai macam pilihan tiket, dari mulai tiket perorangan, tiket keluarga sampai tiket rombongan. Akhirnya saya memilih tiket keluarga kecil (untuk 1 orang tua + 2 atau lebih anak sendiri) seharga 11,5 Eu.

Baru saja masuk ke kebun binatang, yang pertama ditanyakan anak-anak, dimanakah Spielplatz (playground a.k.a arena bermain)? *gubrags*. Setelah melihat Flamingo dan Aquarium, Maryam kelaparan. Akhirnya kami makan dulu di depan kandang Kangguru. Hampir di setiap kandang dan beberapa tempat lain, selalu terdapat beberapa bangku untuk beristirahat sejenak, menikmati bekal sambil melihat binatang dan tingkahnya yang lucu-lucu. Jadi kalau jalan-jalan ke sini, gak perlu bawa tikar, yang ada nanti malah bingung mo dihamparin dimana?.

Kebun binatang di sini berbeda dengan kebun binatang di Bandung. Masing-masing binatang diberikan kandang yang sesuai dengan habitat aslinya. Jadi, misalnya harimau, tidak hanya ada dibelakang jeruji besi dengan sebatang pohon gundul. Tapi kandangnya benar-benar seperti hutan, luas dan lebat dengan pohon. Di sekeliling 'hutannya' itu dibuat sungai, untuk mencegah dia keluar kandang. Selain itu, kondisi binatang-binatangnya pun gemuk dan sehat, jadi tidak sedih saat melihatnya. Orang Utan, binatang yang berasal dari tanah air kita mempunyai istana sendiri di sini, disebutnya Orang Utan Paradise. Rasanya sedih dan malu ketika membaca2 ceritanya. Disebutkan bahwa Orang Utan ohne Heimat alias gak punya rumah. Kenapa? karena hutan2 habitat mereka kini sudah dibakari dan ditebangi. Aarrrghh.. untung orang2 yang ada di situ gak tau kalau saya dari Heimat (tanah air) yang sama dengan orang utan. 

Tanpa disengaja, ternyata di Tierpark Hellabrunn masih heboh dengan seleb barunya, Jamuna Toni, bayi gajah yang lahir 21 Desember 2009 lalu. Kenapa heboh? katanya ini adalah bayi gajah pertama yang dilahirkan di sini dalam 60 tahun terakhir. Tapi memang semua bayi itu lucu.. gak bayi manusia.. gak bayi gajah.. sama-sama menggemaskan. Jamuna belum biasa dengan dunia panggung, jadinya dia terus-terusan mengikuti pengasuhnya. Kalau pengasuhnya istirahat, dia juga ikutan istirahat.. :D

Anak-anak paling senang saat mengunjungi daerah kutub (di kebun binatang ini, binatang-binatang dilokasikan berdasarkan benua asalnya). Mereka senang sekali melihat penguin dan beruang kutub. Sayangnya saat ini, kandang beruang kutub sedang diperbaiki dan beruangnya diisolir untuk sementara waktu ke tempat lain. Dari sinilah anak-anak melihat Spielplatz.. dan saya tidak pernah menyangka kalau kami akan mengalami suatu ketegangan yang bikin jantung saya dagdigdug terus.

Saking semangatnya anak-anak udah langsung aja memasuki sebuah pagar. Ternyata sebenarnya itu bukanlah pagar masuk ke Spielplatz. Di situ hanya taman yang dilengkapi beberapa ekor kambing yang boleh dielus-elus oleh pengunjung, Tapi di sana juga terdapat sebuah jembatan gantung raksasa yang menghubungkan tempat itu dengan Spielplatz. Berhubung Ligar nangis saat itu, saya pikir ini tempat yang pas untuk menyusuinya, karena tempat itu relatif sepi (kecuali di jembatan gantung).

Setelah saya pangku Ligar, ternyata kedua gadis saya sudah tidak ada di sebelah saya lagi. Saya cari-cari, ternyata mereka sedang berpegangan tangan di atas jembatan gantung. *big OOW* tangan kanan Maryam memegang tali jembatan sebelah kanan, tangan kiri Nadin memegang tali jembatan sebelah kiri, dan mereka masing2 saling berpegangan tangan. Sehingga posisi mereka kini menghalangi orang-orang dari kedua jalur *big big OOW* Dan mereka tidak mau maju kalau jembatannya bergoncang-goncang dengan kencang. Jembatan gantung menjadi macet gara-gara mereka. Sayapun menjerit dalam hati, meminta pertolongan, karena rasanya sulit untuk saya menolong mereka. Tapi.. siapa yg bisa menolong saya?? saya kan datang sendiri. Kalau minta tolong orang lain, yang ada mungkin malah disalahkan dan ditangkap gara-gara membiarkan anak-anak pergi ke sana sendirian. Fyi, dijembatan itu semuanya orang dewasa dan anak-anak yang sudah cukup besar. Anak-anak kecil segede Nadin dan Maryam pasti dituntun oleh orang tuanya. Akhirnya saya pun nekad terjun ke sana, sambil komat-kamit dalam hati, semoga mereka tidak menangis selama saya belum sampai ke sana. Oooh.. anak-anakku.. tunggu ibumu!! Ternyata tidak mudah juga untuk menggapai posisi mereka, karena posisi saya dan mereka terhalang cukup banyak orang. Untungnya ada bapak-bapak yang menyadari hal itu, dan dia membetulkan posisi Nadin supaya berjalan di sebelah kanan, jalur yang sama dengan Maryam. Dan orang-orang dari arah berlawanan mulai bisa maju ke arah kami. Setelah kosong, orang-orang dari arah kami bisa lewat juga ke arah sebrang. Saya mencoba menenangkan anak-anak dengan berteriak2 bahwa "Mama di sini, Mama datang, tunggu Mama yah.. pegangan erat2 yah, Sayang". Akhirnya.. setelah sekian lama sayapun bisa berada di belakang mereka. Saya kasih mereka instruksi untuk maju pelan-pelan, tidak takut dan terus pegangan. Terus terang saya tidak bisa memegangi mereka karena tangan kiri saya mangku Ligar, tangan kanan pegangan ke tali. Kalau tidak pegangan, saya bisa jatuh, atau mungkin Ligar yang akan terlempar ke kolam *Ya Allah.. semoga tidak..*. Sambil mulut ini teruuus memberi semangat ke anak-anak.. sambil hati ini teruuus minta pertolongan Allah.. supaya kami bisa selamat sampai di ujung. Akhirnya, perjalanan menegangkan pun selesai. Kata Nadin, "Mama, kalau udh sampai di sana, kita balik lagi ya?" dengan penuh semangat. "NEIN!". Dagdigdugnya jantung ini masih teruuuuussss kebawa-bawa. 

Setelah kejadian ini, anak-anak masih bisa enjoy main-main. Tapi saya yang ketakutan, rasanya kepikiran terus kejadian ampul-ampulan di jembatan gantung tadi *duh*. Alhamdulillah saat itu kami bisa pulang dengan selamat. Anak-anakpun tidak ada yang tertidur, kecuali Ligar. Tapi.. hm.. masih beranikah saya pergi ke sana sendirian?? hihi.. tentu saja.. tapi jadi waspada jembatan gantung.. ;)