Showing posts with label hno. Show all posts
Showing posts with label hno. Show all posts

Sunday, June 12, 2011

Kunjungan HNO --> op

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Jadwal kami harus tiba di RS pukul 8.15, jadi selambat-lambatnya kami harus keluar dari rumah pukul 7.15. Waduh, mana saya rada kesiangan bangun gara-gara malamnya gak bisa tidur, dagdigdug terus persis waktu mau sidang/nikah. :D Setelah selesai menyiapkan makanan untuk Maryam, Ligar dan bapaknya yang ditinggal di rumah hari itu, kamipun berangkat.. tanpa sarapan. Nadin memang harus puasa sejak semalam, saya rasanya sudah tidak bisa makan apa-apa juga. Perbekalan sudah lengkap, mulai dari bekal yg dianjurkan klinik, makanan plus buku2 bacaan untuk mengisi waktu pas nungguin Nadin nanti. Saya pun sudah siap membawa Kinderwagen plus kain untuk penutupnya. Jaga-jaga untuk pulangnya nanti kalau-kalau Nadin masih lemas untuk berjalan sendiri.. dan untuk melindunginya dari sinar matahari (maklum, kami pengguna setia kendaraan umum, jadi ada saat dimana kami harus jalan kaki menembus teriknya matahari).

Kami sampai di sana tepat waktu, 5 menit lebih cepat dink. :D Setelah mendaftar, kami menunggu di ruang tunggu sampai ada suster yang menjemput kami dan mengantarkan kami ke kamar tidur. Di sana sudah ada dua orang ibu menunggu, tampaknya kasusnya sama, anaknya juga yang sedang dioperasi. Nadin diminta digantikan bajunya dengan kemeja RS, kemudian diberi minum obat dan dibiarkan tiduran sebentar. Kurang lebih 10 menit kemudian, datanglah seorang bapak yang memangku anaknya yang baru saja selesai operasi. Wah, pasti ibu-bapaknya udah tenang ini, pikir saya. Lah, saya masih dagdigdug aja, mana inget sama anak2 di rumah yang tadi masih pada lelap ketika kami berangkat. 5 menit kemudian saya dipanggil untuk mengantar Nadin ke ruang op. "Anda bisa memangku anaknya?" tanyanya. Bisa lah..

Nadin diberi tutup kepala, kakinya sudah tidak bisa berdiri lagi, dia sudah mulai lemas. Lalu saya pangku, entah dia masih ingat atau tidak. Dia sudah tidak bicara lagi, dan ketika saya simpan di tempat tidur, dia pun tidak menangis. "Anak yang manis, dia sudah mulai lemas ya? bagus lah." kata dokternya. Lalu saya pun keluar dari ruangan itu bersama dengan perawat yang mengantar saya tadi. Si perawat seperti mengerti kegalauan hati saya, dia pun memeluk dan menggandeng saya berjalan kembali ke kamar, memberi saya teh (bikin sendiri sih sebenarnya, dia cuma menunjukkan tempatnya saja :D), dan meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja.

Saya kembali ke kamar, mencoba untuk membaca buku yang saya bawa. Tapi rasanya satu halaman pun tak bisa saya mengerti isinya. Bolak-balik gak jelas, lihat HP, mengirim SMS sama si akang.. ah pokokna mah teu puguh rarasaan. Mau ngobrol sama ibu-ibu itu juga gak enak, karena mereka sama-sama sedang memeluk anaknya masing-masing di tempat tidur.

Sampai akhirnya 20 menit kemudian saya pun dipanggil keluar. Ternyata operasinya sudah selesai. Saya dibawa ke Aufwachraum (ruang bangun tidur? :D), di sana saya disambut oleh dokter anestesi dan seorang perawat. Mereka bilang operasinya berjalan lancar dan kondisi Nadin baik-baik saja, saya diminta untuk menungguinya sampai dia terbangun. Nadin tergolek lemas. Dia tidur dengan posisi kepala miring. Mulutnya sedikit terbuka, mencium lengan baju kanannya, dimana disitu terlihat ada seonggok noda darah. Saya perhatikan, ternyata darahnya memang berasal dari mulutnya. Ah.. miris rasanya melihat Nadin seperti itu, sakit seperti apa ya yang sedang dia rasakan saat itu?? pikir saya.

Tak lama datanglah dokter HNO yang mengoperasi Nadin tadi, namanya dokter U (namanya kok familiar sekali ya?!). Dia menerangkan apa saja yang dia kerjakan tadi, bagaimana kondisi Nadin dan apa yang harus saya lakukan setelahnya. Saya diminta kontrol besok atau lusanya ke beliau di Harlaching, atau di Giesing (tempat praktek HNO yang biasa saya kunjungi). Dan yaaaaa... akhirnya saya menemukan benang merah antara ketiga tempat tadi. Jd ternyata tempat praktek di Giesing ini si dokter U ini yang punya, hanya dia percayakan ke dokter lain untuk prakteknya. Dia sendiri praktek di RS Harlaching, dan dia mengoperasi pasien-pasiennya di klinik itu. Wah, tajir bener si dokter!!! Dan ketiga anak yang ada di kamar itu tuh, ketiga2nya adalah pasien dokter U dari Giesing. :D

Kurang lebih 20 menit kemudian Nadin mulai bergerak, mula-mula tangannya, lalu kepala dan badan. Dia mengerjap-ngerjapkan mata. Saya sapa dia, dan meyakinkan dia bahwa saya akan selalu ada disampingnya. Tiba-tiba dia terbangun duduk, melihat dokter2 berbaju hijau lalu lalang, kemudian tiduran lemas lagi. Setelah perawat datang, saya pangku dia kembali agar bisa beristirahat di kamar. Saya pun diminta untuk ikut tidur di kasur dan memeluk Nadin supaya dia merasa aman dan nyaman, sampai dia tidur lagi. Biarkan dia tidur 1 jam lagi, kata si perawat. Enak juga nih, saya bisa ikutan membayar kekurangan tidur saya tadi malam. :D Nadin agak-agak susah tidur kembali, dia banyak melenguh-lenguh, tapi tidak sampai menangis. Mungkin ini efek obat bius yang diceritakan si dokter kemarin. Setelah saya peluk dan usap-usap, akhirnya diapun tidur lagi.. lelap..

Ternyata ketiga anak yang ada di ruangan itu kasus operasinya sama semua, tapi anaknya berbeda-beda. Anak pertama, laki-laki berumur 3 tahun, orang Jerman, sangat fit. Ibunya bilang, anaknya selalu fit, bahkan setelah diberi obat bius pun, dia susah sekali lemasnya. Setelah bangun dari operasi, si anak langsung ngobrol dan banyak bertanya, dia tidak kelihatan tidur lagi sampai dia pulang, setelah dikasih makan, anak ini minta makan lagi dengan porsi yang sama :D. Anak kedua, perempuan berumur 5 tahun, kurus dan menangis terus setelah dia bangun dari operasi. Ibunya bilang, anaknya memang susah makan, makanya kurus. Efek dari obat bius membuat dia menangis terus.. ditambah lagi, katanya dia baru punya adik baru yang berumur 4 hari, jadi tampaknya memang efeknya tambah-tambah deh. Yang kasihan, anak ini sempat muntah darah 2 kali selama di klinik. Sebenarnya muntah ini nggak apa-apa, katanya kemungkinan dia sempat menelan darah selama operasi. Tapi yah, tetep kasihan melihatnya. Dan ucapan ibunya benar, anak ini susaaaaaah sekali makan, dari dua roti yang diberikan, satu roti pun susah habisnya. Anak ketiga tentu saja Nadin. Dia tidak se-fit anak pertama, pun tidak serewel anak kedua. Dia sedikit melenguh-lenguh saja, kemudian tidur lamaaaaaa sekali, 1,5 jam! Di saat anak lain menunggu makanan datang, Nadin mah ditungguin makanan bangun. :D Begitu bangun, langsung saya tawari makan. Pertanyaan pertamanya, "operasinya udah belum? barusan Nadin tidur nggak?" cute! Setelah selesai makan, diberi makanan penutup es, yang membuat dia senang sekali. Setelah itu, kondisinya dicek lagi oleh dokter, baru kami boleh pulang. Sampai di rumah, Nadin masih sedikit lemas, tapi di atas jam 3 sore dia sudah mulai ceria lagi. Sempat mengeluh sakit menelan, lalu saya berilah obat penghilang sakit yang diberikan oleh dokter.

Keesokan harinya kami cek lagi ke dokter HNO. Kebetulan Nadin tidak boleh kena matahari, kebetulan pula hari itu mataharinya disembunyikan Allah di balik awan. Menurut si dokter kondisinya baik-baik saja, karena pada malam pertama tidak ada keluhan apa-apa, maka kemungkinan ke sananya juga tidak akan ada apa-apa. Nadin boleh kontrol lagi minggu depan. Meski begitu, saya tetap diminta waspada, kalau-kalau dia mengalami pendarahan dari hidung/mulut harus cepat-cepat ke dokter lagi. Meski sebenarnya kejadian seperti ini jarang, katanya. Tapi alhamdulillah, sampai hari ini Nadin masih baik2 saja, kondisinya pun tampak makin membaik. Mudah-mudah begitu seterusnya.

Saturday, June 11, 2011

Kunjungan HNO 5 --> persiapan op

Bulan Maret lalu adalah kontrol kembali kuping Nadin setelah 3 bulan. Dan hasilnya agak sedikit mengagetkan. Kondisinya sedikit memburuk dari kontrol terakhir dan dokter waktu itu sangat-sangat menganjurkan untuk operasi saja, karena sudah setahun katanya, ini sudah terlalu lama. Tapi meski begitu, si Frau dokter masih mau menunggu sebulan lagi. Nadin diberi lagi pil waktu itu dan terapi meniup balonnya tetap dilanjutkan.

4 Minggu kemudian, kami kontrol lagi. Dan kondisinya tak kunjung membaik. Akhirnya dokter pun menetapkan untuk operasi. Karena kami mau liburan dulu waktu itu, akhirnya jadwal operasi baru akan dibuat setelah kami selesai liburan.

Begitu pulang dari Indonesia, saya langsung ke HNO (THT) untuk membuat jadwal operasi. Ternyata waktu itu saya membuat dua jadwal, satu untuk penerangan mengenai operasi itu sendiri, dan satu lagi untuk operasinya. Doh, padahal selama ini juga si dokter sudah banyak bercerita mengenai operasinya itu, dan saya juga sudah banyak membaca2 serta ngobrol langsung dengan ibu yang anaknya berkasus sama. Tapi tetap saja prosedurnya harus diikuti. :D Untuk penerangan operasi, saya boleh memilih, apakah ingin di tempat praktek itu (Giesing) atau di Rumah sakit (Harlaching). Sedangkan operasinya akan dilaksanakan di Klinik Arabella di Bogenhausen. (Hm.. bingung juga saya apa hubungan ketiga tempat ini??). Jadwal operasinya sendiri dibuatkan langsung dari tempat praktek HNO yang biasa saya kunjungi, jadi lebih mudah karena tidak usah repot2 datang ke klinik.

Di penerangan operasi, selain mengontrol kembali kondisi Nadin, dokter HNO kembali menerangkan apa saja yang akan dilakukan nanti saat operasi, yaitu penyobekan gendang telinga, pengeluaran cairan dan pemasangan Roehrchen (lubang ventilasi) serta pengambilan Rachenmandel (polip). Saya diberi berkas-berkas berlembar-lembar, diantaranya surat pernyataan yang harus saya tanda tangan, jadwal operasi, alamat klinik, barang-barang yang harus saya bawa, apa saja yang harus dilakukan sebelum dan sesudah operasi, hal-hal buruk yang mungkin terjadi setelah operasi dan surat untuk dokter anak. Jadi ternyata.. seminggu sebelum op, si anak harus cek up dulu ke dokter anak, padahal hari itu sudah tinggal seminggu menjelang op. Akhirnya hari itu saya mampir dulu ke dokter anak untuk membuat janji, yang mana kebetulan jadwal di dokter anak sedang padat sekali. Tapi akhirnya saya diberi waktu hari Jumat, dengan catatan harus bersedia untuk menunggu lama. Ok lah, drpd nggak.

Cek up ke dokter anak ternyata lumayan lengkap, termasuk cek darah juga. Dan seperti biasa, Nadin mah nangis kalau disuntik ya. Tp langsung berhenti pas diberi hadiah. Maryam juga mau hadiahnya, dia bilang tangannya Maryam juga kemarin berdarah (sambil menunjukkan jari yang dibungkus plester dengan luka palsu :D), Maryam juga harus diambil darah nih kayaknya.. jadi Maryam juga boleh donk dapat hadiahnya. :D:D:D

Sehari sebelum operasi, kami harus datang ke klinik untuk Narkosenarztgespraecht (bincang-bincang tentang anestesi). Bagus juga sih ada jadwal ini, kami sekalian survey tempat, jadi besoknya pas jadwal op, gak bakalan nyasar. Di sini saya diberi dua buah formulir, satu formulir data diri, yang kedua formulir tentang kondisi si anak. Di situ juga ada selembar penjelasan tentang anestesi yang harus saya baca dulu. Kalau ada pertanyaan, nanti langsung dibicarakan dengan dokternya, katanya. Informasi di situ cukup jelas juga. Dokter menjelaskan hal yang sama seperti yang sudah saya baca, hanya dia menerangkan lebih detil lagi, seperti kemungkinan alergi dan efeknya setelah si anak bangun. Saat anak bangun, bisa jadi dia sangat rewel, bahkan menangis terus. Itu biasanya bukan karena kesakitan, tapi masih dari efek obat bius, katanya. Setelah selesai ngobrol panjang lebar, kami pun pulang, dan saya deg-degan semalaman menunggu hari esok.

Wednesday, November 17, 2010

Kunjungan HNO 4

6 minggu sudah berlalu, sudah saatnya kontrol lagi. Yang saya senangi dari dokter HNO-nya Nadin yang ini, gak usah lama-lama bikin janji. Saya telepon paginya, dikasih jadwal untuk siangnya. Jarang-jarang lho ada praktek dokter kayak gini di Jerman.. :D

Kali ini, selain saya memeriksakan Nadin, saya membawa Maryam juga. Dia tidak mengeluh sakit sih, hanya kupingnya sangat kering dan terlihat ada kotoran juga di dalamnya yang tidak bisa saya ambil, khawatirnya lama-lama bakalan sakit juga seperti sebelumnya.

Seperti biasa, Nadin dilihat dulu oleh dokternya, "hm.. kondisinya tidak terlalu baik, apa anak ini sedang pilek?" tanyanya. Wah.. rasa-rasanya sih lagi sehat-sehat aja.. Duh, pernyataan dokter yang bikin deg-degan. Kemudian Nadin menjalani tes pendengaran seperti sebelumnya. Ternyata dilihat dari grafik, kupingnya masih problem seperti dulu, hanya sekarang sedikit membaik, katanya. Jadi diteruskan saja terapinya, dan kontrol lagi 3 bulan kemudian. Ada kemajuan juga nih kontrolnya, biasanya harus setiap 6 minggu.

Maryam? apa kabar dirinya? Alhamdulillah dia juga baik-baik aja.. dokter hanya membersihkan kotorannya saja dan menyarankan untuk meneteskan minyak bayi (baby oil) satu atau dua tetes setiap 2 hari agar kupingnya tidak kering, katanya. Dan dia juga harus kontrol lagi dalam 6 bulan. InsyaAllah, kalau masih di sini ya, Dok.. :D

Monday, September 20, 2010

Kunjungan HNO 3

Berdasarkan hasil tes dan pemeriksaan hari ini, alhamdulillah kondisi kupingnya Nadin sedikit membaik. Kondisinya kali ini berbeda dengan hasil pemeriksaan kedua yang tidak menunjukkan perubahan dari pemeriksaan sebelumnya. Oleh karena itu, dokter memutuskan untuk tidak mengambil jalan operasi dulu seperti yang direncanakan sebelumnya. Terapi dilanjutkan dulu dan kondisinya akan dilihat lagi 6 minggu kemudian. Alhamdulillaaaahhh.. legaaaa... :)

Mudah-mudahan kondisinya memang akan terus membaik dengan sendirinya, tanpa harus operasi. Amiin...

Wednesday, July 28, 2010

Kunjungan HNO 2

Sebenarnya kunjungan HNO ini sudah dilakukan sekitar 3 minggu yang lalu, yang mana kontrol ini pun sebenarnya agak-agak terlambat dilakukan dari waktu yang seharusnya, berhubung setiap kali akan membuat janji selalu tidak berjodoh dengan tempat praktek dokternya. :(

Kunjungan ini merupakan lanjutan dari kunjungan sebelumnya. Setelah terapi obat dan meniup balon, ternyata kondisi kuping Nadin masih tetap sama (berdasarkan hasil tes dan dilihat oleh dokter). Kesimpulannya, Nadin sangat dianjurkan untuk dioperasi. Kalau tidak, dikhawatirkan akan mengalami kondisi yang lebih parah lagi. Sebenarnya saya sudah menduga hasilnya memang akan seperti ini, setelah saya berbagi cerita dengan seorang teman yang anaknya berkasus sama dengan Nadin. Teman anak saya itu usianya sudah lebih besar daripada Nadin, laki-laki pula, jadi dia selalu berhasil meniup balon dengan hidungnya. Tapi hasil akhirnya tetap harus dioperasi. Sedangkan Nadin, dia belum pernah berhasil meniup balonnya, meskipun dia melakukannya dengan senang hati, tapi tiupannya lewat hidung masih belum cukup kuat untuk menggelembungkan si balon itu.

Ah.. operasi ya?! gendang telinga pula.. duuuh.. rasanya tidak tega membayangkan salah satu organ tubuh si anak ternoda. Saya pun mencoba menanyakan sebenarnya berapa persen kira-kira gangguan pendengaran yang dialami anak saya? Karena kalau dilihat secara kasat mata, dia sepertinya tidak mengalami gangguan sedikit pun, tak jua ada keluhan. Tapi dokternya keukeuh bahwa kupingnya Nadin itu bermasalah. Dia agak susah kalau harus mengatakannya dalam bentuk persen. Namun kira-kira kondisi kupingnya itu sama dengan kuping kita ketika sedang lepas landas pesawat terbang. Waduh, sakit donk, Dok? Ya, katanya.

Dokter mengatakan bahwa di musim panas seperti sekarang, kupingnya tidak terlalu menampakkan masalah, namun di musim dingin nanti, kondisinya bisa jadi memburuk. Jadi sebaiknya operasi dilakukan setelah musim panas ini berakhir, karena musim panas anak-anak biasanya suka berenang dan main air, maka biarkan dia senang-senang dulu. Operasinya sendiri akan dilakukan di klinik khusus, bukan di tempat praktek si dokter. Tapi ini termasuk operasi kecil, si anak tidak perlu rawat inap di rumah sakit, cukup tinggal beberapa jam, kemudian boleh pulang. Dalam bahasa Jerman ini biasa disebut sebagai Ambulant (berbeda arti dengan ambulans, mobil untuk mengangkut orang sakit). 

Pada operasi nanti, gendang telinga akan disobek sedikit, kemudian cairannya dikeluarkan. Biasanya si cairan tidak keluar semua sekaligus, makanya di gendang telinga itu nanti akan dipasangi sebuah rol kecil (Röllchen), supaya si cairan yang tersisa bisa keluar perlahan-lahan. Adanya lubang di gendang telinga ini tak hanya menyebabkan cairan di dalam keluar, tapi cairan di luar pun bisa masuk ke dalam. Makanya selama si rol kecil itu masih terpasang, Nadin tidak boleh berenang ataupun mandi berendam. Rol kecil itu akan terpasang di kupingnya Nadin selama kurang lebih 4 bulan, tidak diperlukan operasi kembali untuk melepasnya, karena dia akan lepas dengan sendirinya. Meskipun gendang telinga sudah disobek, namun dia akan menutup kembali dengan sendirinya. Ketika gendang telinga menutup, si rol kecil akan terdorong keluar. Mungkinkan terdorong ke dalam? katanya dokter tidak mungkin, karena gendang telinga itu akan menutup kembali dari bagian dalam terlebih dahulu, sehingga pasti mendorong rolnya ke luar.

Dalam operasinya nanti, akan ada dua yang diambil, si cairan dalam kuping itu dan amandel. Amandelnya Nadin juga ternyata membesar. Sewaktu U8 dulu saya sempat tanyakan ke dokter, karena sewaktu demam tinggi, amandelnya tampak besar sekali. Namun kata dokter anak waktu itu, kondisinya masih normal. Tak ada operasi tanpa resiko kata dokternya, resiko untuk operasi ini yaitu pendarahan. Tapi mudah-mudahan tidak dialami Nadin nanti.

Untuk sementara ini, terapi tiup meniup balon sebaiknya dilanjutkan sampai akhir agustus nanti. Kalau kondisinya tak kunjung membaik, akhir agustus nanti kami harus membuat jadwal untuk operasinya Nadin sekitar akhir September atau awal Oktober.

Wednesday, April 7, 2010

Kunjungan HNO

Sebenarnya saya rada males pergi ke HNO (Hals-Nasen-Ohren alias THT), gara-garanya waktu pengalaman pertama kami pergi ke sana. Sekitar tengah tahun lalu, beberapa hari sebelum saya melahirkan Ligar, Nadin mengeluh sakit kuping. Mengingat dia beberapa kali terkena Mittelohrentzundung (otitis media), saya khawatir sekali dia terkena penyakit yang sama. Setelah menelepon dokter, kami langsung pergi ke sana. Ternyata saat itu hanya terlalu banyak kotoran, harus dibersihkan ke HNO. Si dokter anak pun memberi alamat satu orang HNO yang dekat tempat prakteknya dia. Karena rumah kami cukup jauh, maka saya lebih memilih HNO yang dekat rumah. Ternyata.. oh.. ternyata.. di HNO ini semua pasiennya MANULA (kebetulan di jadwal kami datang kondisinya begitu). Letaknya di gedung tua dengan lantai kayu, kalau jalan bunyi. Anak-anak ributnya minta ampun.. nyanyi-nyanyi dan jerit-jerit.. sampai ada dua nenek yang memelototin kami. Untungnya kami segera dipanggil, jadi aman dari omelan sang Nenek.. :D Dokternya juga ternyata sudah cukup berumur, dan berbicara dengan dialek Bayern yang kental sekali. Kuping saya sampe bergetar-getar mencoba mengerti apa yang dia katakan. Tapi tampaknya si dokter kaku awalnya ketika melihat saya mengenakan jilbab, orang asing gitu. Bisa bahasa Jerman gk nih?? *kaliiii* Setelah kami berbincang, situasi mulai mencair. Dari dokter inilah saya tahu kalau korek kuping itu tidak baik digunakan untuk membersihkan kuping, sebaiknya memakai lap basah aja dan jari, korek-korek katanya. Terus, 6 bulan sekali dibawa ke HNO untuk dibersihkan. Namun, setelah itu, saya masih tetap menggunakan korek kuping untuk membersihkan kuping anak-anak (dasar bandel!) dan berharap tidak akan pernah ke HNO lagi.

Sampai akhirnya minggu lalu, ketika dokter anak kami menemukan bahwa kemampuan mendengar Nadin tampak sedikit di bawah standar, kami kembali dirujuk ke HNO. Kali ini kami pergi ke HNO yang tepat bersebelahan dengan dokter anak. Tempat prakteknya bagus dan baru (iyalah.. Giesinger Gesundheitzentrum gitu lho.. belum setahun usia gedungnya juga :D). Dokternya masih muda dan ramah, perawatnya juga baik. Dan mereka tampak sudah biasa menangani pasien anak, jadi dengan keributan kecil dari anak-anak, mereka biasa-biasa saja. :D

Sekalian pergi ke sana, sekalian juga saya bawa Maryam untuk dibersihkan kupingnya. Beberapa minggu lalu dia sempat demam tinggi dan mengeluh sakit kuping. Namun dokter anak tidak bisa memastikan, apakah terkena otitis media atau bukan, karena terlalu banyak kotoran. Akhirnya waktu itu, Maryam diberi cairan (H2O2) untuk mengeluarkan kotorannya. Namun setelah 3 hari, kotorannya tak kunjung keluar, tapi dia juga tidak mengeluh apa-apa lagi. Maka saya tidak bawa ke dokter lagi waktu itu. Ternyata, setelah dilihat oleh HNO, kuping sebelah kirinya tergolong sangat kering, dia menyebutnya trockene und schuppende Ohrgänge (halah.. ternyata kuping juga bisa berketombe to?! :D). Untuk ini Maryam mendapat tetes kuping yang baru untuk 5 hari ke depan. Kalau masih belum membaik, kemungkinan akan diberi balsam untuk kuping.

Kembali ke Nadin, setelah membaca surat rujukan dari dokter anak, si dokter HNO menanyakan apakah saya merasa kalau pendengaran Nadin memang kurang? jawabnya tentu saja TIDAK. Apakah dia tidurnya ngorok? jawabnya pun tidak. Kemudian dia memeriksa telinga, hidung dan tenggorokannya. Dan dia mulai menemukan sesuatu. Sebelum saya berbicara lebih panjang, lebih baik Nadin menjalani tes dulu, katanya. Tes kali ini berbeda dengan tes pendengaran di dokter anak. Bukan lagi tes dengar atau tidak, namun tes ukur. Alatnya seperti earphone yang dimasukkan ke kuping Nadin, kemudian alatnya mengukur sendiri persis seperti alat pengukur tekanan darah.

Setelah selesai, kamipun kembali ke ruangan dokter untuk mendengarkan penjelasan permasalahannya. Dokter memperlihatkan sebuah grafik dari hasil tes Nadin. Katanya grafik ini menunjukkan getaran gendang telinga. Dari titik nol dia naik terus, yang menandakan kupingnya baik-baik saja. Sampai di titik tertentu tiba-tiba menurun, ini menunjukkan ada yang tidak beres, karena seharusnya grafiknya masih naik. Ternyata di belakang gendang telinga Nadin terdapat cairan. Dan udara yang seharusnya terdapat di rongga bagian dalam kini tidak ada. Dokternya juga menunjukkan kepada saya, bagaimana gambar gendang telinga yang normal dan gendang telinga yang dimiliki Nadin saat ini. Katanya kondisi seperti ini banyak dialami anak-anak seusia Nadin sebenarnya. Cairannya bisa dikeluarkan dengan sedikit terapi. Tapi kalau dalam waktu 6 minggu si cairan masih betah di dalam sana, berarti mau gak mau cairannya harus dikeluarkan. 

ntuk sementara ini Nadin mendapatkan tablet sebanyak 60 biji, yang harus diminum sehari tiga kali. Plus terapi meniup balon menggunakan hidung. Kami diberi alatnya dan balonnya. Si alat disimpan di salah satu lubang hidung, lubang yang lain ditutup dengan tangan, lalu tiuuuupppp.. Alhamdulillah terapinya membuat si anak senang. Nadin malah menunggu2 saat dia harus meniup balon dan minum obat. Obatnya sendiri, saya kebingungan bagaimana cara memberikannya sebebnarnya. Terus terang, sejak lahir, baru kali inilah saya mendapat obat tablet untuk Nadin selain vitamin D. Akhirnya saya coba hancurkan obatnya di sendok dengan air. Tapi lama sekali, akhirnya saya kasih gitu aja. Saya beritahu bahwa ini obat, tapi rasanya enak kok kayak bonbon.. (padahal dalam hati ketar-ketir, takut ternyata rasanya pahit). Dengan pedenya dia langsung emut.. terus gak ada komentar. Saya tanya "enak?". "Ehem... enak.. kayak vitamin" katanya. Plooooong deh rasanya.

Minta doa dari semuanya, semoga si cairan gak betah lama-lama tinggal di sana, cepat keluar, biar gak usah tindakan lebih lanjut lagi.. ;)


*gambar 1 diambil dari sini
*gambar 2 diambil dari sini


Saturday, April 3, 2010

Nadin: U9

U9 merupakan pemeriksaan atau kontrol perkembangan anak yang ke-9 (lebih tepatnya sih yang ke-10, karena sekarang ada yang baru, U7A untuk anak usia 3 tahun). Seharusnya pemeriksaan ini dilakukan bulan lalu. Tapi gara-gara saya dengan pede-nya datang pukul 10, padahal jadwal seharusnya pukul 9.30, maka jadwal tersebut digeser sebulan kemudian.  Kenapa? karena ternyata pemeriksaan ini membutuhkan waktu yang cukup lama (kurleb 1 jam), jadi keterlambatan saya dapat mengakibatkan berubahnya jadwal pasien yang lain. *Duh, masih beruntung saya gak kena denda karena ini*

Entah kenapa, tes yang diberikan kepada Nadin (rasanya) selalu lebih mudah dibandingkan cerita dari ibu-ibu yang lain, terutama dari segi bahasa. Apa karena Nadin mah kedua orang tuanya sama-sama orang asing? Ah, tapi gak bisa dibandingkan juga sih, karena dokternya pun berbeda.. :D Kalau dilihat-lihat, pemeriksaan kali ini cenderung memeriksa panca indera si anak. Mungkin untuk persiapan masuk sekolah, jadi kalau masih ada yang kurang, masih bisa diterapi dalam setahun ke depan.

Seperti biasa, pemeriksaan pertama mengukur berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala. Hasilnya juga seperti biasa, termasuk kecil dibandingkan grafik punya si dokter, dan mendapat catatan Asiatischer Herkunft (berasal dari Asia). *lol*

Tes kedua, Nadin diminta menyebutkan nama-nama benda yang (ternyata) mengandung huruf-huruf yang (kadang) salah diucapkan, seperti sch, r, s, ss, dll. Hasilnya cukup mengejutkan bagi saya, lulus! Mengejutkan.. karena di rumah dia tidak pernah berbicara bahasa Jerman (karena diharuskan bicara bahasa ibu), jadi selama ini saya jarang sekali mendengar dia berbicara bahasa Jerman. Tapi melihat hasilnya, berarti dia belajar bahasa dengan baik di Kindergarten.  :D

Tes ketiga, Nadin diminta menyortir benda berdasarkan bentuk. Tes ini juga termasuk tes yang sangat mudah untuk Nadin. Dia malah menambahkan sendiri, selain bentuk, dia juga menyortir benda berdasarkan warna. :D

Tes keempat, Nadin diminta menyebutkan nama-nama benda yang terdapat pada plat 3 dimensi. Hasilnya benar semua. Kemudian Nadin diminta menyebutkan nama-nama gambar dengan sebelah mata pada jarak tertentu. Dari atas ke bawah ukuran gambarnya makin mengecil. Gambar atas dengan mudah bisa dia lihat, makin ke bawah makin lama mikirnya. Dan baris paling bawah, dia tidak bisa menyebutkan nama gambarnya. Ketika ditanya, apakah dia tidak tahu atau tidak kelihatan? jawabnya tidak kelihatan. Dari sini kami dirujuk untuk kontrol lebih lanjut ke dokter mata. :(

Tes kelima, Nadin diminta menggambar. Pertama mengikuti bentuk yang sudah ada di situ, lingkaran, cakra, segitiga dan persegi. Kedua dia diminta menggambar orang (bagian-bagian tubuh dari yang paling atas sampai bawah harus lengkap). Untuk anak yang hobi menggambar ini merupakan pekerjaan yang sangat mudah untuknya. :)

Tes keenam, tes pendengaran. Nadin diberi Kopfhörer alias headphone yang besarnya gak kira-kira *lol* Dia diperdengarkan bunyi-bunyi yang akan keluar dari salah satu kuping, tugasnya dia harus menunjuk dari kuping sebelah mana suara itu keluar. Tes ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Nadin, untuk memutuskan dari kuping mana sang suara keluar. Beberapa jawaban benar, namun beberapa yang lain dia tidak bisa memberi keputusan. Sepertinya dia rada-rada kebingungan.. bukan bermasalah.. (ibunya sih berharap begitu), namun dokter tetap merujuk dia ke dokter HNO a.k.a THT untuk pemeriksaan lanjutan.

Setelahnya, Nadin diminta berjalan di atas tali. Bukan seperti di sirkus lho! :D Talinya sendiri diletakkan di atas lantai, jadi sebenarnya dia diminta untuk berjalan mengikuti garis lurus. Kemudian loncat dengan dua kaki dan satu kaki, mengikuti garis lurus tadi. Berikutnya loncat zig-zag. Kemudian dia diminta jalan di tempat.. makin lama makin bertambah kencang.. yang akhirnya mereka jadi lari di tempat. Selanjutnya tangan direntangkan, mata ditutup, tunjuk hidung dengan tangan kanan, lalu dengan tangan kiri. Ganti posisi lagi, sekarang tangan di depan, mata masih merem, tunjuk hidung dengan tangan kanan dan tangan kiri. Selanjutnya dia diminta mengikuti gerakan tangan si dokter.

Secara keseluruhan hasilnya baik. Kondisi mata dan kuping juga sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Tapi untuk jaga-jaga sebaiknya diperiksakan ke dokter yang bersangkutan, katanya. Untuk dokter THT janji sudah dibuat sore ini, tapi untuk dokter mata masih belum euy.. Mudah-mudahan hari ini bisa sekalian bikin janji sama si dokter mata. :D

Dan pemeriksaan kali ini merupakan pemeriksaan paling melelahkan buat saya, soalnya harus menjaga Maryam supaya tidak ribut dan mengganggu jalannya pemeriksaan, juga harus memegangi Ligar yang mulai gk bisa diem, pengennya dilepas, tapi da belum bisa dilepas di lantai gitu aja. Begitupun di kasur, harus tetap dijaga karena sukanya guling-guling. Duh, kayaknya butuh bantuan si akang untuk pemeriksaan berikutnya.. :D