Showing posts with label sakit. Show all posts
Showing posts with label sakit. Show all posts

Monday, September 20, 2010

Kunjungan HNO 3

Berdasarkan hasil tes dan pemeriksaan hari ini, alhamdulillah kondisi kupingnya Nadin sedikit membaik. Kondisinya kali ini berbeda dengan hasil pemeriksaan kedua yang tidak menunjukkan perubahan dari pemeriksaan sebelumnya. Oleh karena itu, dokter memutuskan untuk tidak mengambil jalan operasi dulu seperti yang direncanakan sebelumnya. Terapi dilanjutkan dulu dan kondisinya akan dilihat lagi 6 minggu kemudian. Alhamdulillaaaahhh.. legaaaa... :)

Mudah-mudahan kondisinya memang akan terus membaik dengan sendirinya, tanpa harus operasi. Amiin...

Wednesday, July 28, 2010

Kunjungan HNO 2

Sebenarnya kunjungan HNO ini sudah dilakukan sekitar 3 minggu yang lalu, yang mana kontrol ini pun sebenarnya agak-agak terlambat dilakukan dari waktu yang seharusnya, berhubung setiap kali akan membuat janji selalu tidak berjodoh dengan tempat praktek dokternya. :(

Kunjungan ini merupakan lanjutan dari kunjungan sebelumnya. Setelah terapi obat dan meniup balon, ternyata kondisi kuping Nadin masih tetap sama (berdasarkan hasil tes dan dilihat oleh dokter). Kesimpulannya, Nadin sangat dianjurkan untuk dioperasi. Kalau tidak, dikhawatirkan akan mengalami kondisi yang lebih parah lagi. Sebenarnya saya sudah menduga hasilnya memang akan seperti ini, setelah saya berbagi cerita dengan seorang teman yang anaknya berkasus sama dengan Nadin. Teman anak saya itu usianya sudah lebih besar daripada Nadin, laki-laki pula, jadi dia selalu berhasil meniup balon dengan hidungnya. Tapi hasil akhirnya tetap harus dioperasi. Sedangkan Nadin, dia belum pernah berhasil meniup balonnya, meskipun dia melakukannya dengan senang hati, tapi tiupannya lewat hidung masih belum cukup kuat untuk menggelembungkan si balon itu.

Ah.. operasi ya?! gendang telinga pula.. duuuh.. rasanya tidak tega membayangkan salah satu organ tubuh si anak ternoda. Saya pun mencoba menanyakan sebenarnya berapa persen kira-kira gangguan pendengaran yang dialami anak saya? Karena kalau dilihat secara kasat mata, dia sepertinya tidak mengalami gangguan sedikit pun, tak jua ada keluhan. Tapi dokternya keukeuh bahwa kupingnya Nadin itu bermasalah. Dia agak susah kalau harus mengatakannya dalam bentuk persen. Namun kira-kira kondisi kupingnya itu sama dengan kuping kita ketika sedang lepas landas pesawat terbang. Waduh, sakit donk, Dok? Ya, katanya.

Dokter mengatakan bahwa di musim panas seperti sekarang, kupingnya tidak terlalu menampakkan masalah, namun di musim dingin nanti, kondisinya bisa jadi memburuk. Jadi sebaiknya operasi dilakukan setelah musim panas ini berakhir, karena musim panas anak-anak biasanya suka berenang dan main air, maka biarkan dia senang-senang dulu. Operasinya sendiri akan dilakukan di klinik khusus, bukan di tempat praktek si dokter. Tapi ini termasuk operasi kecil, si anak tidak perlu rawat inap di rumah sakit, cukup tinggal beberapa jam, kemudian boleh pulang. Dalam bahasa Jerman ini biasa disebut sebagai Ambulant (berbeda arti dengan ambulans, mobil untuk mengangkut orang sakit). 

Pada operasi nanti, gendang telinga akan disobek sedikit, kemudian cairannya dikeluarkan. Biasanya si cairan tidak keluar semua sekaligus, makanya di gendang telinga itu nanti akan dipasangi sebuah rol kecil (Röllchen), supaya si cairan yang tersisa bisa keluar perlahan-lahan. Adanya lubang di gendang telinga ini tak hanya menyebabkan cairan di dalam keluar, tapi cairan di luar pun bisa masuk ke dalam. Makanya selama si rol kecil itu masih terpasang, Nadin tidak boleh berenang ataupun mandi berendam. Rol kecil itu akan terpasang di kupingnya Nadin selama kurang lebih 4 bulan, tidak diperlukan operasi kembali untuk melepasnya, karena dia akan lepas dengan sendirinya. Meskipun gendang telinga sudah disobek, namun dia akan menutup kembali dengan sendirinya. Ketika gendang telinga menutup, si rol kecil akan terdorong keluar. Mungkinkan terdorong ke dalam? katanya dokter tidak mungkin, karena gendang telinga itu akan menutup kembali dari bagian dalam terlebih dahulu, sehingga pasti mendorong rolnya ke luar.

Dalam operasinya nanti, akan ada dua yang diambil, si cairan dalam kuping itu dan amandel. Amandelnya Nadin juga ternyata membesar. Sewaktu U8 dulu saya sempat tanyakan ke dokter, karena sewaktu demam tinggi, amandelnya tampak besar sekali. Namun kata dokter anak waktu itu, kondisinya masih normal. Tak ada operasi tanpa resiko kata dokternya, resiko untuk operasi ini yaitu pendarahan. Tapi mudah-mudahan tidak dialami Nadin nanti.

Untuk sementara ini, terapi tiup meniup balon sebaiknya dilanjutkan sampai akhir agustus nanti. Kalau kondisinya tak kunjung membaik, akhir agustus nanti kami harus membuat jadwal untuk operasinya Nadin sekitar akhir September atau awal Oktober.

Thursday, February 25, 2010

Nasenspray + Paracetamol Zäpchen

Untuk ibu-ibu yang pernah tinggal di Jerman dan sekitarnya, tentu sudah tidak asing lagi dengan kedua obat di atas. Ya, itulah obat standar yang akan diberikan dokter anak, saat anak kita terkena pilek dan atau demam.

Nasenspray/Nasentropfen (semprot/tetes hidung --> bisa dipilih mana yang lebih disukai anak-anak) diberikan untuk meredakan kembali selaput lendir hidung yang membengkak, sehingga si anak bisa bernapas kembali lewat hidung. Awalnya saya sempat menyepelekan obat ini. Ternyata, obat ini cukup manjur juga untuk mencegah infeksi lanjutan saat anak menderita pilek dan atau demam, misalnya otitis media yang dialami Nadin, atau Bronkhitis yang dialami Maryam. Tapi harus hati-hati juga dalam penggunaannya, jika digunakan lebih dr seminggu dpt menyebabkan rusaknya selaput lendir hidung, dan kabarnya bisa menyebabkan ketergantungan juga. Karena itulah, setiap kali saya membelinya, apoteker selalu berpesan maksimal penggunaan 3 kali dam sehari selama 7 hari, lebih dari itu harus segera kembali ke dokter.

Sedangkan Paracetamol merupakan obat penurun panas/penghilang rasa sakit. Anak-anak di bawah usia 3 tahun biasanya sedang susah-susahnya minum obat, sehingga adanya Paracetamol Zäpchen (Paracetamol yang dimasukkan lewat anus) ini sangat membantu ibu meringankan derita si kecil.

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang minta dibelikan kedua obat ini dari sini. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah di Indonesia memang belum ada obat sejenis ini? atau memang kitanya yang nggak tahu? Kalau memang nggak ada, berarti saya mesti siap-siap nimbun buat mudik nanti. *wink* Maka saya pun mulai mencari tahu dan bertanya-tanya pada orang yang kompeten di bidangnya. (Makasih sebesar2nya buat Teh Iyut, sang juragan apotek ;) )

Hasilnya??

Nasenspray ternyata bisa ditemukan juga di apotek di Indonesia, namanya otrivin nasal, dosis bisa untuk anak dan dewasa. Kalau di sini ada merk Otriven. :D

Utk penurun demam, ada:
- Propyretic suppo (dosis berbeda beda, ini yang paling lengkap dosisnya)
- Dumin suppo (dulu ada tapi sekarang kurang tau, kemungkinan di kota besar masih ada)
- Proris suppo (hanya ada 1dosis, 125mg/suppo)
- Paracetol enema (hanya ada 1 dosis, 125mg/enema)

Kabarnya obat penurun panas ini agak susah ditemukan, kecuali di kota-kota besar. Tapi kalau Paracetamol drops (sirup yang dilengkapi dengan pipet) bisa dengan mudah didapatkan dimana saja. Ini malah yang belum pernah saya temukan di sini. Trend obat di setiap daerah ternyata memang berbeda. Di sini, untuk membantu memudahkan pemberian obat sirup (misal antibiotik), bisa dengan suntikan tanpa jarum (Spritze), dapat dibeli di apotel dengan harga 15 cent (kalau gak salah).

Jadi, untuk teman-teman di Indonesia, bisa coba ditanya ke apotek terdekat. Kalau sudah dapat, tolong kasih tau saya dapatnya di apotek yg mana. ;)

Friday, January 23, 2009

Pengobatan Alternatif untuk Membasmi Kutu

Ya, kami terserang kutu lagi... Kejadiannya sendiri sudah agak lama sih, sekitar bulan Desember lalu. Menurut gurunya Nadin, memang 3 minggu sebelum Nadin ketahuan berkutu, ada anak yang terkena kutu juga. Sering sih di sini wabah kutu, katanya. Ambil hikmahnya aja kalau anak Anda kena kutu, itu artinya anak Anda sehat.. darahnya enak.. makanya kutu betah, katanya.

Serangan kutu kali ini agak membandel dibanding tahun lalu. Bukan kutunya yang bandel, tapi telur kutu yang sudah kosong yang cukup menyita waktu membersihkannya. Kutunya sih sekali kasih obat juga mati. Hanya karena telur kutu tidak ikut terbunuh oleh obat tersebut, maka delapan hari setelah pengobatan pertama, rambut harus diterapi sekali lagi untuk membasmi telur kutu yang pecah setelah pembasmian yang pertama. Mengenai hal ini lebih jelasnya bisa di baca di postingan saya yang dulu, seputar kutu. Eh, ternyata ada untungnya juga segala dicatet.. jadi pas kena lagi, bisa buka catatan lama.

Tahun lalu, yang terkena paling parah Maryam. Solusinya, gampang.. gundulin aja.. soalnya dia masih bayi.. belum setahun umurnya waktu itu. Sedangkan sekarang, yang terkena paling parah Nadin.. gundulin???? mana mau dia.. dipotong aja dia gak mau. Nissenkamm (sisir buat ngambilin telur kutu alias serit) ternyata tidak mempan digunakan ngambilin telur yang sudah pecah itu. Jadinya hanya bisa diambilin satu persatu pakai tangan. Sayangnya, rambutnya itu seret banget, jadinya si anak malah kesakitan. Meskipun rambutnya dikeramasin dulu dengan shampoo, tetep aja si telur kutu menempel dengan kuatnya di rambut Nadin.

Akhirnya saya mencoba mencari solusi lain, coba cari di internet aja. Saya cari bahan dalam bahasa Jerman dan bahasa Indonesia. Kenapa??? karena:

Bahasa Jerman, agar sesuai dengan kondisi tempat kami tinggal, jadi lebih mudah dalam mencari bahan obat yang diperlukan.
Bahasa Indonesia, biasanya orang Indonesia suka banyak tau tentang obat-obat tradisional.

Ternyata.. setelah baca-baca.. di Indonesia itu masih banyak anggapan bahwa kutu itu bisa dibasmi dengan sering mencuci rambut. Alias.. KUTU identik dengan KOTOR. Padahal yang saya tahu di sini mah, kutu itu hanya perlu tempat hangat, tidak peduli bersih atau kotor. Jika kepala sering dicuci, yang dihasilkan bukan kepala bebas kutu, tapi justru kutu-kutu yang bersih... dan lucu.. kali, hehe..

Nah, kembali ke mencari bahan, akhirnya saya nyasar ke sini. Di sana disebutkan bahwa untuk mempermudah mengambil telur kutu yang sudah pecah, sebaiknya rambut dibaluri dulu dengan CUKA. Gotcha!!! Dan ternyata... di sana ada juga alternatif lain pengobatan kutu yang murah. Maklum obat kutu di sini harganya lumayan, kemasan 75 mL, harganya hampir 9 Euro. Itu untuk satu kepala. Untuk 4 kepala tinggal dikali 4 aja. Tapi anak-anak di bawah usia 12 tahun sih bisa minta dibayarin asuransi. Dengan catatan harus mau bolak-balik ke dokter.

Obat alternatif itu adalah:
Cuka 5% diencerkan dengan air dengan perbandingan 1:1 (perhatikan baik-baik konsentrasi cuka yang Anda punya di rumah. Punya saya 25%, jadinya mesti diencerkan dulu ke 5%, baru diencerkan lagi sesuai aturan tadi.
Balurkan campuran cuka-air ke kepala.
Tutup dengan kain, biarkan satu jam.
Basuh dengan air.
Lakukan tiap hari, minimal selama delapan hari.

Saya sendiri belum mencoba hal tersebut untuk terapi kutu, saya hanya mencoba sekali saja, untuk memudahkan ngambilin telur kutu tea. Dan hasilnya memang oke. Rambutnya jadi lebih licin, jadi lebih cepat, lebih mudah, dan si anak tidak menjerit-jerit.

Untuk terapi kutunya sendiri, tampak lebih murah memang, dan lebih aman.. terutama untuk anak sekecil Maryam. Karena obat kutu dari Apotek kan gak boleh termakan, jadi dalam setengah jam, saya harus memelototin si anak, meyakinkan bahwa mereka tidak memegang kepala, lalu memasukkan tangannya ke mulut. Tapi... metode alternatif ini tampak lebih ribet, karena harus dilakukan setiap hari. Melakukan sekali aja, repotnya minta ampun.. lumayan memakan waktu. Apalagi kalau harus tiap hari dikerjain. Belum lagi baunya.. hihihi.. Sekali pakai aja kemaren, setelah dicuci pake shampoo, baunya masih tetep kecium. Pas bapaknya pulang kantor, hidungnya mengendus-ngendus.. trus ngomong, "Kalian kok pada bau asem sih??" hihihi...

Keduanya ada kelebihan dan kekurangan. Anda tinggal memilih yang terbaik untuk Anda sendiri. Oya, fotonya tampak tidak nyambung, tapi sebenarnya itu foto mereka ketika sedang diterapi.. ;)

Friday, December 19, 2008

Kejepit Pintu

Kemarin Maryam kejepit pintu, sebenarnya cuma tangannya yang kejepit.. lebih tepatnya lagi jari-jemari kanannya. Pintunya gak tanggung-tanggung.. bukan pintu lemari.. atau pintu rumah yang dari kayu itu.. Tapi pintu ruangan tempat buang sampah yang beratnya setengah matee itu. Untuk membukanya pun, kita sebagai orang dewasa, butuh bantuan seluruh anggota tubuh untuk mendorongnya *hiperbol banget gak sih :D*, apalagi anak-anak imut segede Nadin dan Maryam.

Sebenarnya saya selalu malas kalau harus pergi ke ruangan ini. Bahkan, semenjak pulang dari Indonesia kemaren, buang sampah ini jadi ritualnya si Akang sambil pergi ngantor. Entah kenapa, kemaren tiba-tiba aja pengen buang sampah, sambil bawa dua anak, gerimis pula. Rencananya kami memang mau jalan-jalan cari udara segar, sekalian belanja dan buang sampah. Waktu keluar dari ruangan, Nadin udah keluar duluan, saya nungguin Maryam di pintu sambil menahan pintu pakai kaki dan punggung, dan sesekali memperhatikan Nadin yang saya khawatirkan lari ke jalan. Setelah Maryam tiba di pintu keluar, saya pun melepaskan pintu, otomatis pintu pun menutup perlahan-lahan. Beberapa detik sebelum kejadian, sempet terdengar bisikan hati 'Awas Maryam kejepit', dan rasanya ingin menahan pintu dengan tangan. Tapi entah kenapa, saya kok tiba-tiba membatu. Akhirnya.. blup.. pintu pun tertutup.

Suasana hening..
Tiba-tiba jantung serasa berhenti berdetak ketika saya lihat tangan Maryam masih memegang pinggiran pintu. Saya coba tarik tangannya.. ternyata tidak bisa.. tangannya dia memang kejepit. Jantung saya mulai berdetak lagi, rasanya 5 kali lebih cepat dari biasanya. Panik mulai menyerang. Maryam pun mulai menangis menjerit-jerit. Saya coba buka pintu, tapi susaaah sekali... apa karena keganjel jarinya Maryam ya? Saya pun teriak-teriak minta tolong. Sayangnya suasana sepi.. iyalah.. lagi hujan gerimis gitu.. siapa yang mau jalan-jalan, kecuali kami.. Dengan mengucap bismillah.. dan berurai mata.. saya coba lagi membuka pintu.. Alhamdulillah kali ini berhasil.

Saya lihat jari2nya Maryam tidak luka, tapi merah dan sedikit pipih, saya benar-benar dilanda ketakutan.. khawatir tulang jarinya retak/patah.. cacat seumur hidup. Dengan mengerahkan sekuat tenaga, saya pun berlari sekencang-kencangnya.. dengan membawa dua anak.. di tengah hujan gerimis.. menuju Rumah Sakit. Dokter anak saya soalnya lebih jauh dibandingkan Rumah sakit (di saat seperti ini, saya suka menyalahkan diri sendiri, kenapa sih dokter anaknya gak pindah dari dulu?? sebelll...).

Sesampainya di sana, saya langsung menghampiri suster yang lewat. Saya ceritakan begini-begitu.. Duh.. gara-gara gak tau bahasa Jermannya 'kejepit'.. Saya sampai harus muter-muter ke Singapur dulu buat nerangin kata 'kejepit' ini. Untungnya si suster mengerti dengan cepat. Dia pun mencoba melihat jarinya Maryam yang masih kaku.. Dia bilang, kalau jarinya masih bisa digerakkan, berarti tidak ada patah tulang. Ketika di suruh gerak-gerak, dia tidak bisa. Tapi ketika di kasih beberapa barang untuk dipegang.. Maryam bisa mengambil.. dan kelihatan jari-jarinya masih bisa menekuk. Alhamdulillah.. Menurut dia kondisinya Maryam ok, ditambah dia sudah tidak menangis lagi... Kami pun disuruh pulang.. dan kembali ke sana jika ada keluhan bengkak, anak rewel, dan sebagainya. Akhirnya, hati ini kembali tenang. Dan alhamdulillah.. sampai pagi ini.. gak ada keluhan apapun dari Maryam.

Wednesday, December 10, 2008

Kena Grippe (Influenza)

Setibanya kami dari Indonesia, ternyata di sini sedang mewabah penyakit yang biasa disebut Grippe (Influenza). Penyakit menular ini disebabkan oleh virus. Penularan bisa terjadi melalui batuk dan bersin. Dan biasanya penyakit ini memang cukup mewabah di musim dingin. Kami, tentu saja yang masih hangat dengan hawa Indonesia, langsung kena. Dan tumben-tumbennnya saya yang duluan kena. Keliatan banget kalau body bener-bener lagi nggak fit waktu itu. Cuman gak terlalu kerasa, soalnya banyak yang mesti diurusin ke sana ke mari. Yang ada, setiap sampai di rumah, saya selalu langsung ambruk. Beberapa hari kemudian, Nadin dan menyusul Maryam. Alhamdulillah Bapaknya sampai hari ini masih bertahan.

Gejala-gejala Grippe antara lain: demam tinggi, batuk, sakit kepala, sakit beberapa bagian tubuh (nyareri awak kalau kata orang Sunda mah kali), sakit perut. Menurut teori, kurang lebih dalam 3 hari, demamnya akan hilang. Kecuali jika terkena infeksi sekunder dari bakteri, sakit akan berlanjut ke Mittelohrentzündung (radang telinga), Bronchitis, atau Lungenentzündung (radang paru-paru). Sayangnya anak-anak mengalami hal ini. Nadin akhirnya terserang Mittelohrentzündung (lagi.. tampak sudah langganan..) dan Maryam terserang Bronchitis. Alhamdulillah keduanya dinyatakan membaik seminggu setelahnya.

Tapi beberapa hari kemudian, Maryam terserang demam lagi. Dan saya mulai khawatir, karena secara fisik pun anak ini kelihatan sekali sakitnya. Setelah diperiksa dokter, ternyata memang Bronchitisnya belum membaik. Dua kali kontrol setelah ini, Maryam belum juga dinyatakan membaik, malah tampak semakin parah. Akhirnya Senin kemarin, dokter memberi peringatan, bahwa anak ini, kalau sampai besoknya masih belum membaik juga, maka dia terpaksa akan mengirim Maryam untuk dirawat di Rumah Sakit. Dalam seharian itu, saya sibuk dengan inhalator yang dipinjam dari Apotik. Berdoa mudah-mdahan dalam sehari ini saja, kondisi Maryam bisa membaik sedikiiit saja.

Dan alhamdulillah.. kondisinya sekarang memang jauuuh membaik. Dia tidak demam lagi, bisa tidur dengan lebih tenang, mau makan kembali (bahkan meminta sekarang mah..), bisa meracau dan bernyanyi kembali, tertawa-tawa dan lincah seperti biasanya. Dokter pun melihat paru-parunya sudah jauuuh membaik dibanding sehari sebelumnya. Beneran kata Mpok Aas nih, emang mesti diuap ya?! Sekarang Maryam masih dalam tahap inhalasi terus, sampai Jumat nanti kembali dikontrol oleh dokter.

Alhamdulillaah.. gak jadi ke rumah sakit... Saya masih ingat, ketika baru lahir saja dia sempat dirawat di Kinderklinik (Klinik Anak) karena waktu itu suhu badannya terus menurun. Alhasil, baru berumur dua hari, dia sudah punya bekas suntikan di kedua kaki dan tangannya. Gak tega deh lihatnya.. Mudah-mudahan saja hal tersebut tidak akan terulang lagi. Amiin...

Wednesday, October 8, 2008

Kantor mama - Mittelohrentzundung - akhirnya.. :D

Setiap kali kami pergi ke dokternya anak-anak, pastilah melewati tempat kerjanya si Akang. Dan seperti biasanya pula, saya pasti selalu ribut menunjukkan ke anak-anak bahwa sekarang Papa di situ.. "itu lho kantornya Papa...". Begitupun yang terjadi hari ini. Bedanya, sekarang ada tambahan komentar dari Nadin. "Kantor Papa coklat.. kalau kantor Mama kuning.. ", ujarnya. Ibunya bingung... rasanya rumah warnanya tidak kuning.. begitupun dapur.. dan saya belum pernah punya kantor sama sekali.. Apa mungkin Nadin dapat wangsit bahwa suatu saat nanti ibunya bakalan punya kantor berwarna kuning??? :D:D:D

Saking penasaran, akhirnya ditanya tuh anak, " kantor mama? kuning??"
"iya.. kantor pos punya Mama kan??!" jawabnya dengan lugu.
Aseli ngakak.. tapi dalam hati aja... Memang kami sering sekali ke kantor pos.. apakah mengirim/mengambil paket, nuker uang receh buat mesin cuci, dll. Akhirnya dijelaskanlah kalau kantor pos itu bukan kantornya Mama, tapi Mama sering ke sana buat bla..bla..bla...

Memang sudah dua hari ini kami bolak-balik ke dokter. Anak-anak kena batuk pilek.. sebenarnya sih gak parah-parah amat.. gak demam sama sekali.. hanya kami khawatir kejadian tahun lalu terulang lagi.. Nadin dan Maryam akhirnya diperiksa cukup intensif sama dokternya.. dan hasilnya baik-baik saja. Ini hanya Herbsterkaeltung aja katanya...(batuk pilek karena perubahan musim, yaitu musim gugur). Cukup pakai tetes hidung dan menghirup udara segar (2 jam sehari jalan-jalan di udara terbuka plus jendela dibuka selama tidur malam). Hati ini rasanya legaaa banget.. rencana tak akan berubah, pikirku.

Hari ini ketika menjemput Nadin, saya melihat kupingnya basah. Ternyata cairan yang sama seperti tahun lalu datang kembali. Untunglah praktek dokternya buka siang hari, dan kami pun langsung meluncur ke sana. Menurut dokternya, Nadin menderita Mittelohrentzundung (cmiiw kalau salah nulis), dan hal ini bisa terjadi dengan cepat. Makanya kemarin kondisi Nadin masih baik-baik saja.. tapi hari ini tiba-tiba cairannya keluar. Yang membuat doternya heran, ini sakit lho... apa dia tidak mengeluh?? Tidak. Makanya saya juga heran.. kondisinya dari kemarin selalu ceria.. tidak kelihatan sakit.. Tadi malam sih dia agak layu.. tapi itu sepertinya karena ngantuk.. dan dia tidak mengeluh sakit sedikitpun. Padahal tahun lalu, sebelum cairannya keluar saja, dia sudah sering mengeluh sakit.

Waktu tahun kemarin kejadiannya di Indonesia. Si dokter langsung ngasih antibiotik.. dan dia tidak disarankan untuk berkendaraan.. apalagi terbang. Sampai 3 minggu setelah kejadian, dokternya masih bimbang membolehkan Nadin terbang kembali atau tidak. "Tapi kalau darurat mah selalu bisa ya, Bu.." katanya.

Sekarang kejadiannya di sini, tepat 48 jam sebelum kami harus terbang meninggalkan rumah kontrakan kami. Bimbang dan sedih campur aduk jadi satu.. pengen nangiiiisss.. Tadi sih dokternya cuma mau ngasih tetes kuping aja, dan disuruh kontrol lagi hari Jumat. Tapi setelah tau rencana kami, dia mengubah cara pengobatannya. Nadin langsung diberi antibiotik.. dan besok harus kontrol lagi... (Yah, besok kita lihat kantor Papa lagi ya, Nak... :D)

Doakan semuanya baik-baik saja... dan mimpi indah itu bisa tetap terwujud.. ;) 

********************************************

09.10.2008
Alhamdulillah.. berdasarkan hasil pemeriksaan hari ini, Nadin dibolehkan terbang sama dokter... horrreeeeyyyy... dengan catatan, setelah seminggu pemakaian antibiotik diwajibkan kontrol sekali lagi ke dokter anak di Indonesia.. Selain itu, disarankan menggunakan Nassentropfen dulu saat take-off dan landing, juga menggunakan penutup kuping saat mandi atau berenang agar airnya tidak masuk. Alhamdulillah juga semuanya sudah siap di tas.. Sekarang.. packing lagi... belum selesai juga?? beluuuuummmm... :D

Makasih ya untuk semua doanya.. moga diberi balasan yg setimpal sama Allah.. amiin...

Thursday, February 28, 2008

Wurmerkrankungen alias Cacingeun ;)

Kemarin di pintu depan Kiga terpasang pengumuman kalau ada satu anak terkena Wurmbefall. Walah.. penyakit apaan nih ya? penyakit apaa ya yang ada hubungannya dengan cacing? (waktu itu mikirnya cacing tanah ). Katanya kalau ada gejala, misalnya gatal-gatal di daerah After (apaan lagi nih??? mesti liat kamus dulu ), harus cepat-cepat ke dokter anak dan bilang ke pihak kiga. Waduh... ini pasti penyakit menular dan berbahaya lagi.

Setelah nyampe rumah, liat kamus, ternyata After = Anus. Langsung aja inget sama penyakit cacingeun.. alias cacingan. Saya sendiri tidak terlalu tahu banyak soal penyakit yang satu ini. Pokoknya waktu dulu teh inget ada iklan, minum C*mb*ntr*n 6 bulan sekali, biar bebas dari si Cacing..

Kalau udah gini, buka paririmbon deh, bukunya Dr. Capelle sama Dr. Keudel, "Kinderkrankheiten", ternyata memang ada penyakit yang namanya Wurmerkrankungen (penyakit cacing). Apa kata dokter Jerman tentang penyakit ini???

************************************
Cacingan pada anak-anak atau remaja pada umumnya disebabkan oleh Madenwürmer*, tapi bisa juga oleh Spulwürmer* dan Bandwürmer (cacing pita), melalui makanan yang kurang bersih, di bak pasir (Sandkasten) atau dari binatang. Telur cacing bisa sampai ke lambung dan usus melalui mulut, lalu berkembang biak di dalam tubuh.Cacing betina akan merayap keluar dari dalam usus, kemudian meletakan telur-telurnya di anus. Hal ini akan menyebabkan rasa gatal, dan melalui garukan, telur-telur ini akan menempel di bagian dalam kuku. Melalui mulut, telur-telur ini akan kembali ke dalam usus (Selbstinfektion). Siklus ini berlangsung sampai 2 bulan, oleh karena itu anak-anak yang terkena penyakit cacing seringnya mengalami dua sampai tiga kali pengobatan.

Madenwürmer* kelihatan seperti sepotong tali sebesar 1 sampai 2 mm yang bergerak-gerak di dalam Feces. Spulwürmer* tampak seperti Regenwürmer*. Dan Bandwürmer (cacing pita) dapat ditemukan dalam Feces anak seperti potongan Nudel (mie) sebesar 5 sampai 10 mm.

Gejala-gejala:
  • gatal di sekitar anus
  • ditemukan cacing hidup dalam Feces
  • sakit perut, bahkan sampai kolik (Kolikartige Leibschmerzen)
  • muntah
  • terbentuk lingkaran gelap di sekitar mata (Augenringe)
  • tampak lelah
  • berat badan tetap atau menurun
Haruskah anak dibawa ke dokter?
Pengobatan cacingan selalu ditangani oleh dokter. Dalam kasus penyakit ini, semua anggota keluarga sebaiknya diperiksa oleh dokter.

Pertolongan Dokter

Dokter akan memberikan obat cacing. Obat tersebut akan mematikan cacing, tapi tidak membahayakan tubuh anak.

Apa yang harus orang tua lakukan?
Perhatikan selalu cara penggunaan dari obat cacing yang digunakan. Selama masa pengobatan, sebaiknya anak memakai celana yang sempit untuk menghindari garukan. Perhatikan selalu kehigienisan: mainan, pakaian, perlengkapan makan dicuci dengan air panas dan sabun. Kalau tidak, telur cacing yang bisa melekat di kuku tadi bisa berpindah ke orang lain. Kuku anak-anak harus selalu dipotong pendek.

Obat tradisional:
Berikan selama satu minggu setiap pagi dalam keadaan perut kosong:
  • secangkir jus sauerkraut/kol asam (Sauerkrautsaft), atau
  • 100 g Sauerkraut mentah, atau
  • 2 sampai 3 buah wortel mentah

*) jenis-jenis cacing, belum diterjemahkan, mau nanya dulu sama ahli cacing
Sumber: Keudel, Capelle; "Kinderkrankheiten"; GU.



Tuesday, January 29, 2008

Akhirnya... bebas kutu!

Kemarin adalah kontrol kedua setelah periksa kutu dua minggu yang lalu. Pada kontrol yang pertama, si dokter menemukan dua buah telor kutu yang sudah kosong. Dia khawatir, telur itu sudah pecah dan saat itu si anak kutu sedang berkeliaran di kepala Nadin, makanya aku disuruh untuk ngasih obat sekali lagi dan kontrol lagi minggu berikutnya. Dan kemarin, dia masih menemukan satu buah telur kosong setelah pencarian selama hampir 5 menit. Untunglah pada akhirnya dia mengatakan tidak perlu obat lagi, tapi masih perlu dikontrol olehku tiap hari... siapa tau nanti ada lagi. Dan akhirnya surat bebas kutu itupun keluar. alhamdulillah. Padahal seandainya (tidak boleh lho berandai-andai!) si dokter masih neko-neko, aku mau suruh dia cari dulu 10 buah telor kutu, baru aku mau bawa Nadin kontrol lagi, hihihi...

Maaf kalo cerita yang kemaren terkesan terlalu menakut-nakuti. Padahal ada yang bilang kalau sebenarnya di TK itu, kutu sudah biasa. Dan memang ketika aku ditelepon pihak Kiga, dan aku bilang kalo aku harus ke dokter hari Seninnya karena Nadin harus kontrol kutu, si ibunya bilang, "ah.. sama sekali gak masalah.. datang aja..". Tapi menurut Mbak Nuri yang udah 3 tahun di TK itu, biasanya kalau ada yang terkena kutu, suka ada tulisan "Bahaya Kutu!". Bingung? kita benerin benang kusutnya yuk...

Sebenarnya.... penularan kutu di Kiga memang sudah biasa (makanya dokternya Steffie bilang: "sekarang sih bebas kutu, gak tau bulan depan?". Tapi ini bukan berarti mereka tenang-tenang aja dan membiarkan kutu berkembang biak semaunya. Jadi sebenarnya kisah yang saya ceritakan di awal tulisan kemaren juga benar adanya. Dan tau tidak? kalau terkena kutu termasuk salah satu yang menyebabkan anak tidak boleh masuk Kindergarten. Tidak percaya? Untuk ibu-ibu yang sudah memasukkan anak2nya di TK (München) pasti dapet berlembar2 kertas yang harus di baca kan? Nah, salah satunya adalah tentang penyakit. Coba deh cari kertas yang judulnya Belehrung fuer Eltern und sonstige Sorgeberechtige gem. S34 Abs. 5 S. 2 Infektionsschutzgesetz (IfSG). Lihat poin ke-3: ein Kopfausbefall vorliegt und die Behandlung noch nicht abgeschlossen ist. Kopfausbefall yang dimaksud adalah terkena kutu, ada ide lain mungkin?

Nah, kalo soal guru Nadin yang waktu itu membolehkan Nadin masuk TK, karena dia tau kalo Nadin udah mengalami pengobatan, dan buat dia, tidak perlu surat bebas kutu itu :D Tambahan satu lagi, untuk anak di bawah 12 taun, pengobatan kutu ditanggung asuransi. Jadi jangan segan-segan pergi ke dokter biar dikasih resep buat ke apotek. Sayangnya kalo anak terkena kutu, semua penghuni rumah harus diobati juga. Oleh karena itu, jika ada kesempatan ke Indonesia, jangan lupa bawa peditox sama serit (sisir buat ngambilin kutu/telurnya) buat jaga-jaga, karena di sini cukup mahal :D

seputar kutu

Di Jerman, ratusan... bahkan ribuan kutu menular setiap harinya. Makanya, bisa saja setiap orang tertular kutu, sama seperti tertular pilek. Mempunyai kutu di kepala bukanlah sesuatu yang memalukan. Hal ini juga tidak berkaitan dengan masalah kebersihan seseorang. Diserang kutu bukanlah penyakit berat, gatal tapi sangat mengganggu dan mengakibatkan penyakit lanjutan.

Apakah kutu itu?
Kutu berukuran sekitar 3 mm, serangga berwarna abu-abu atau coklat muda ini memiliki 6 buah kaki. Biasanya kutu ini merayap dengan lincah, mereka tidak bisa loncat ataupun terbang. Satu-satunya makanan kutu adalah darah. Parasit ini menghisap darah di kulit kepala dalam jangka waktu beberapa jam. Dalam air liur kutu terdapat zat pembius, yang membuat gigitan kutu tidak terasa pada awalnya, tapi kemudian menyebabkan rasa gatal yang sangat mengganggu.

Telur kutu (Nissen) berukuran 1 mm, gundukan gelap yang berada di dekat kulit kepala, menyerupai kuncup bunga. Berbeda dengan ketombe, telur kutu melekat kuat di rambut dan tidak bisa terambil oleh sisir biasa. Kutu dan telur kutu lebih suka berada di bagian belakang kepala, daerah kuping dan tengkuk. Dalam 7 sampai 10 hari telur kutu akan menjadi larva, dimana dalam 7 sampai 10 hari kemudian akan menghasilkan telur lagi.

Bagaimana kutu bisa berpindah?
Kutu dapat berpindah dari satu orang ke orang lain, tapi telur kutu tidak bisa. Penularan bisa terjadi dimana saja, saat kepala berdekatan. Bisa juga melalui suatu benda, dimana benda tersebut bersentuhan dengan rambut, misal topi, handuk, bantal, dll.

Bagaimana menghilangkan kutu?
Sebaiknya pengobatan segera dilakukan secepat mungkin setelah ditemukannya kutu. Obat dapat diperoleh dengan resep dari dokter atau langsung dibeli di Apotek. Baca baik-baik cara penggunaan sebelum pengobatan. Tutupi rambut selama pengobatan dengan handuk atau tutup kepala. Perhatian: untuk anak sampai usia 12 tahun pengobatan kutu ditanggung asuransi.

Hal-hal penting lainnya:
Tidak ada alasan untuk malu. Baik kepala bersih ataupun kotor, masing-masing bisa terkena kutu. Sering keramas hanya menghasilkan kutu yang bersih.

  • Teman-teman dan keluarga
Beritau dan periksa dengan teliti semua orang yang akhir-akhir ini ditemui. Tangani orang-orang ini dengan cara yang sama.
  • Kontrol setelah pengobatan
Setelah pengobatan harus dikontrol setiap hari. Ketika ditemukan lagi kutu yang masih hidup, maka diperlukan pengobatan yang kedua. Kadang-kadang masih ada beberapa larva yang belum mati karena terlindung oleh selubung telur. Paling lambat setelah 8 hari dia akan menetas. Inilah saat yang baik untuk melakukan pengobatan yang kedua.
  • Masih ada telur kutu?
Ketika masih ditemukan telur kutu di rambut, bukan berarti pengobatannya mengalami kegagalan. Telur kutu yang kosong atau sudah mati melekat kuat di rambut seperti telur kutu yang masih hidup. Oleh karena itu, telur-telur kutu ini harus diambil dengan menggunakan sisir khusus untuk telur kutu (basa Sunda: serit) yang terbuat dari logam, dari plastik biasanya tidak berfungsi baik. Untuk mempermudah, sebelumnya rambut dibilas dulu dengan air cuka (cuka : air = 1 : 2)
  • Sebaiknya meminta nasehat dokter, ketika.....
  1. pengobatan yang pertama tidak berhasil
  2. kutu ditemukan di kepala bayi, anak kecil, ibu hamil dan ibu menyusui
  3. kulit kepala sudah terluka karena garukan atau meradang
  4. sebelumnya sudah terdapat penyakit lain di kulit kepala
  • Apa yang masih bisa dilakukan?
Kutu dapat berpindah dari satu kepala ke kepala lain. Barang-barang di rumah pun jarang luput dari makhluk yang satu ini. Kutu bisa ditemukan di:
  1. pakaian, handuk, sprei, selimut, alas kain.
  2. mebel yang berjok (misal: sofa), autositz
  3. sisir, sikat rambut
  4. boneka
Cara yang bisa digunakan untuk membasmi kutu dalam benda-benda tersebut:
  1. pemanasan atau pencucian dalam suhu 60 derajat Celcius
  2. pembekuan pada suhu -20 derajat Celcius selama 2 hari
  3. penyimpanan dalam pastik tertutup selama lebih dari 1 minggu dalam temperatur kamar. Kutu akan kelaparan dalam 2-3 hari, kutu telur bisa hidup lebih lama.
  4. Untuk karpet dan mebel cukup dibersihkan dengan penyedot debu. Jangan gunakan zat pembersih.
diterjemahkan dan dirangkum dari Lausige Zeiten können schnell vorbei sein dan Den Läusen Beine machen, aber richtig!

Tuesday, January 15, 2008

Makhluk menakutkan itu bernama... Läuse!

Konon, Kopfläuse (kutu rambut) sangat ditakutkan di Jerman. Ada satu kejadian yang menimpa keluarga Indo-Jerman. Entah darimana, di kepala anaknya ditemukan makhluk kecil ini. Alhasil, anak ini tidak boleh masuk sekolah (TK) sampai dokter anak menyatakan kalo anak ini bebas kutu. Bukan hanya anak ini, tapi juga kakaknya mendapat perlakuan serupa. Selain itu, gurunya juga heboh, memberitahu seluruh orang tua murid di TK itu, bahwa ada salahsatu anak yang terserang kutu, dan menganjurkan orang tua untuk memeriksa kepala anaknya masing-masing. Kenapa sih meni heboh gini? yaa.. soalnya kutu ini binatang menular, mereka bisa loncat dan terbang dari satu kepala ke kepala lain.

Waktu kecil aku juga berkutu.. (meni bangga.. :D). Tapi kondisinya beda ama di sini. Aku masih boleh sekolah dan bebas bermain dengan anak lain. Mungkin karena anak lain juga sama berkutu.. :D:D:D Nah, semenjak duduk di bangku SMP, kutu di kepalaku mulai berkurang. Bahkan setelah SMA... si kutu udah gak berani lagi bercokol di situ.. mungkin pada gak betah, karena anak gede garuk-garuknya heboh. :D

Tanpa disangka-sangka... hari Jum'at kemarin, ketika sedang asyik menyusui Maryam sambil membelai lembut rambutnya yang lebat, aku dikejutkan oleh beberapa buah telor kutu a.k.a lisa a.k.a liso a.k.a Nissen. Ku bolak-balik lagi rambutnya... waaaaah... banyak banget!!!! bahkan sempat menangkap ibunya telor-telor itu. Iyaaa... saat itulah aku bertemu kembali dengan kutu di kepala Maryam... di kepala MARYAM!!

PANIK... HEBOH... bingung mesti ngapain... gundulin... jangan... gundulin... jangan... Seperti biasa kutekan no telepon orang yang selalu mampu meredakan kepanikan ini. Ah.. kok nggak diangkat ya?? ah ya.. dia sedang sholat jum'at. Kumaha atuh nya?? ah.. gundulin aja deh.. (emang sebelumnya sempet niat nyukurin Maryam, gak sampe gundul emang niatnya..). Bismillaah...

Setelah itu, baru deh nelepon dokter..bikin janji (yang harusnya dilakukan dari tadi sebelum Maryam dicukur).

Di tempat dokter.
Kami disuruh menunggu di kamar 4, bukan di ruang tunggu seperti biasanya. Si Nadin aja kesenengan, bisa maen kuda2an tanpa diganggu anak lain. Ternyata kata dokternya, penanganan kutu ini harus dilakukan dua kali, sekarang dan delapan hari kemudian. Aku dan si Akang juga harus diobati juga.. (yang sayangnya obatnya harus beli sendiri :(( dan mahal! ). Semua kain-kainan atau wool seperti sprei, selimut, dan Kuscheltiere harus dicuci. Nah, setelah rambutnya dicuci, itu si nissen (kutu2 telor) harus dicabutin satu-satu, apakah pake tangan ato pake sisir. Waduh, Dok.. bakalan makin banyak kerjaan terbengkalai nih...

So, setelah beberapa minggu lalu ngurusin cucian karena Nadin ngompol, sekarang disibukkan dengan cucian dalam rangka membasmi kutu.