Showing posts with label kuping. Show all posts
Showing posts with label kuping. Show all posts

Monday, September 20, 2010

Kunjungan HNO 3

Berdasarkan hasil tes dan pemeriksaan hari ini, alhamdulillah kondisi kupingnya Nadin sedikit membaik. Kondisinya kali ini berbeda dengan hasil pemeriksaan kedua yang tidak menunjukkan perubahan dari pemeriksaan sebelumnya. Oleh karena itu, dokter memutuskan untuk tidak mengambil jalan operasi dulu seperti yang direncanakan sebelumnya. Terapi dilanjutkan dulu dan kondisinya akan dilihat lagi 6 minggu kemudian. Alhamdulillaaaahhh.. legaaaa... :)

Mudah-mudahan kondisinya memang akan terus membaik dengan sendirinya, tanpa harus operasi. Amiin...

Wednesday, July 28, 2010

Kunjungan HNO 2

Sebenarnya kunjungan HNO ini sudah dilakukan sekitar 3 minggu yang lalu, yang mana kontrol ini pun sebenarnya agak-agak terlambat dilakukan dari waktu yang seharusnya, berhubung setiap kali akan membuat janji selalu tidak berjodoh dengan tempat praktek dokternya. :(

Kunjungan ini merupakan lanjutan dari kunjungan sebelumnya. Setelah terapi obat dan meniup balon, ternyata kondisi kuping Nadin masih tetap sama (berdasarkan hasil tes dan dilihat oleh dokter). Kesimpulannya, Nadin sangat dianjurkan untuk dioperasi. Kalau tidak, dikhawatirkan akan mengalami kondisi yang lebih parah lagi. Sebenarnya saya sudah menduga hasilnya memang akan seperti ini, setelah saya berbagi cerita dengan seorang teman yang anaknya berkasus sama dengan Nadin. Teman anak saya itu usianya sudah lebih besar daripada Nadin, laki-laki pula, jadi dia selalu berhasil meniup balon dengan hidungnya. Tapi hasil akhirnya tetap harus dioperasi. Sedangkan Nadin, dia belum pernah berhasil meniup balonnya, meskipun dia melakukannya dengan senang hati, tapi tiupannya lewat hidung masih belum cukup kuat untuk menggelembungkan si balon itu.

Ah.. operasi ya?! gendang telinga pula.. duuuh.. rasanya tidak tega membayangkan salah satu organ tubuh si anak ternoda. Saya pun mencoba menanyakan sebenarnya berapa persen kira-kira gangguan pendengaran yang dialami anak saya? Karena kalau dilihat secara kasat mata, dia sepertinya tidak mengalami gangguan sedikit pun, tak jua ada keluhan. Tapi dokternya keukeuh bahwa kupingnya Nadin itu bermasalah. Dia agak susah kalau harus mengatakannya dalam bentuk persen. Namun kira-kira kondisi kupingnya itu sama dengan kuping kita ketika sedang lepas landas pesawat terbang. Waduh, sakit donk, Dok? Ya, katanya.

Dokter mengatakan bahwa di musim panas seperti sekarang, kupingnya tidak terlalu menampakkan masalah, namun di musim dingin nanti, kondisinya bisa jadi memburuk. Jadi sebaiknya operasi dilakukan setelah musim panas ini berakhir, karena musim panas anak-anak biasanya suka berenang dan main air, maka biarkan dia senang-senang dulu. Operasinya sendiri akan dilakukan di klinik khusus, bukan di tempat praktek si dokter. Tapi ini termasuk operasi kecil, si anak tidak perlu rawat inap di rumah sakit, cukup tinggal beberapa jam, kemudian boleh pulang. Dalam bahasa Jerman ini biasa disebut sebagai Ambulant (berbeda arti dengan ambulans, mobil untuk mengangkut orang sakit). 

Pada operasi nanti, gendang telinga akan disobek sedikit, kemudian cairannya dikeluarkan. Biasanya si cairan tidak keluar semua sekaligus, makanya di gendang telinga itu nanti akan dipasangi sebuah rol kecil (Röllchen), supaya si cairan yang tersisa bisa keluar perlahan-lahan. Adanya lubang di gendang telinga ini tak hanya menyebabkan cairan di dalam keluar, tapi cairan di luar pun bisa masuk ke dalam. Makanya selama si rol kecil itu masih terpasang, Nadin tidak boleh berenang ataupun mandi berendam. Rol kecil itu akan terpasang di kupingnya Nadin selama kurang lebih 4 bulan, tidak diperlukan operasi kembali untuk melepasnya, karena dia akan lepas dengan sendirinya. Meskipun gendang telinga sudah disobek, namun dia akan menutup kembali dengan sendirinya. Ketika gendang telinga menutup, si rol kecil akan terdorong keluar. Mungkinkan terdorong ke dalam? katanya dokter tidak mungkin, karena gendang telinga itu akan menutup kembali dari bagian dalam terlebih dahulu, sehingga pasti mendorong rolnya ke luar.

Dalam operasinya nanti, akan ada dua yang diambil, si cairan dalam kuping itu dan amandel. Amandelnya Nadin juga ternyata membesar. Sewaktu U8 dulu saya sempat tanyakan ke dokter, karena sewaktu demam tinggi, amandelnya tampak besar sekali. Namun kata dokter anak waktu itu, kondisinya masih normal. Tak ada operasi tanpa resiko kata dokternya, resiko untuk operasi ini yaitu pendarahan. Tapi mudah-mudahan tidak dialami Nadin nanti.

Untuk sementara ini, terapi tiup meniup balon sebaiknya dilanjutkan sampai akhir agustus nanti. Kalau kondisinya tak kunjung membaik, akhir agustus nanti kami harus membuat jadwal untuk operasinya Nadin sekitar akhir September atau awal Oktober.

Wednesday, April 7, 2010

Kunjungan HNO

Sebenarnya saya rada males pergi ke HNO (Hals-Nasen-Ohren alias THT), gara-garanya waktu pengalaman pertama kami pergi ke sana. Sekitar tengah tahun lalu, beberapa hari sebelum saya melahirkan Ligar, Nadin mengeluh sakit kuping. Mengingat dia beberapa kali terkena Mittelohrentzundung (otitis media), saya khawatir sekali dia terkena penyakit yang sama. Setelah menelepon dokter, kami langsung pergi ke sana. Ternyata saat itu hanya terlalu banyak kotoran, harus dibersihkan ke HNO. Si dokter anak pun memberi alamat satu orang HNO yang dekat tempat prakteknya dia. Karena rumah kami cukup jauh, maka saya lebih memilih HNO yang dekat rumah. Ternyata.. oh.. ternyata.. di HNO ini semua pasiennya MANULA (kebetulan di jadwal kami datang kondisinya begitu). Letaknya di gedung tua dengan lantai kayu, kalau jalan bunyi. Anak-anak ributnya minta ampun.. nyanyi-nyanyi dan jerit-jerit.. sampai ada dua nenek yang memelototin kami. Untungnya kami segera dipanggil, jadi aman dari omelan sang Nenek.. :D Dokternya juga ternyata sudah cukup berumur, dan berbicara dengan dialek Bayern yang kental sekali. Kuping saya sampe bergetar-getar mencoba mengerti apa yang dia katakan. Tapi tampaknya si dokter kaku awalnya ketika melihat saya mengenakan jilbab, orang asing gitu. Bisa bahasa Jerman gk nih?? *kaliiii* Setelah kami berbincang, situasi mulai mencair. Dari dokter inilah saya tahu kalau korek kuping itu tidak baik digunakan untuk membersihkan kuping, sebaiknya memakai lap basah aja dan jari, korek-korek katanya. Terus, 6 bulan sekali dibawa ke HNO untuk dibersihkan. Namun, setelah itu, saya masih tetap menggunakan korek kuping untuk membersihkan kuping anak-anak (dasar bandel!) dan berharap tidak akan pernah ke HNO lagi.

Sampai akhirnya minggu lalu, ketika dokter anak kami menemukan bahwa kemampuan mendengar Nadin tampak sedikit di bawah standar, kami kembali dirujuk ke HNO. Kali ini kami pergi ke HNO yang tepat bersebelahan dengan dokter anak. Tempat prakteknya bagus dan baru (iyalah.. Giesinger Gesundheitzentrum gitu lho.. belum setahun usia gedungnya juga :D). Dokternya masih muda dan ramah, perawatnya juga baik. Dan mereka tampak sudah biasa menangani pasien anak, jadi dengan keributan kecil dari anak-anak, mereka biasa-biasa saja. :D

Sekalian pergi ke sana, sekalian juga saya bawa Maryam untuk dibersihkan kupingnya. Beberapa minggu lalu dia sempat demam tinggi dan mengeluh sakit kuping. Namun dokter anak tidak bisa memastikan, apakah terkena otitis media atau bukan, karena terlalu banyak kotoran. Akhirnya waktu itu, Maryam diberi cairan (H2O2) untuk mengeluarkan kotorannya. Namun setelah 3 hari, kotorannya tak kunjung keluar, tapi dia juga tidak mengeluh apa-apa lagi. Maka saya tidak bawa ke dokter lagi waktu itu. Ternyata, setelah dilihat oleh HNO, kuping sebelah kirinya tergolong sangat kering, dia menyebutnya trockene und schuppende Ohrgänge (halah.. ternyata kuping juga bisa berketombe to?! :D). Untuk ini Maryam mendapat tetes kuping yang baru untuk 5 hari ke depan. Kalau masih belum membaik, kemungkinan akan diberi balsam untuk kuping.

Kembali ke Nadin, setelah membaca surat rujukan dari dokter anak, si dokter HNO menanyakan apakah saya merasa kalau pendengaran Nadin memang kurang? jawabnya tentu saja TIDAK. Apakah dia tidurnya ngorok? jawabnya pun tidak. Kemudian dia memeriksa telinga, hidung dan tenggorokannya. Dan dia mulai menemukan sesuatu. Sebelum saya berbicara lebih panjang, lebih baik Nadin menjalani tes dulu, katanya. Tes kali ini berbeda dengan tes pendengaran di dokter anak. Bukan lagi tes dengar atau tidak, namun tes ukur. Alatnya seperti earphone yang dimasukkan ke kuping Nadin, kemudian alatnya mengukur sendiri persis seperti alat pengukur tekanan darah.

Setelah selesai, kamipun kembali ke ruangan dokter untuk mendengarkan penjelasan permasalahannya. Dokter memperlihatkan sebuah grafik dari hasil tes Nadin. Katanya grafik ini menunjukkan getaran gendang telinga. Dari titik nol dia naik terus, yang menandakan kupingnya baik-baik saja. Sampai di titik tertentu tiba-tiba menurun, ini menunjukkan ada yang tidak beres, karena seharusnya grafiknya masih naik. Ternyata di belakang gendang telinga Nadin terdapat cairan. Dan udara yang seharusnya terdapat di rongga bagian dalam kini tidak ada. Dokternya juga menunjukkan kepada saya, bagaimana gambar gendang telinga yang normal dan gendang telinga yang dimiliki Nadin saat ini. Katanya kondisi seperti ini banyak dialami anak-anak seusia Nadin sebenarnya. Cairannya bisa dikeluarkan dengan sedikit terapi. Tapi kalau dalam waktu 6 minggu si cairan masih betah di dalam sana, berarti mau gak mau cairannya harus dikeluarkan. 

ntuk sementara ini Nadin mendapatkan tablet sebanyak 60 biji, yang harus diminum sehari tiga kali. Plus terapi meniup balon menggunakan hidung. Kami diberi alatnya dan balonnya. Si alat disimpan di salah satu lubang hidung, lubang yang lain ditutup dengan tangan, lalu tiuuuupppp.. Alhamdulillah terapinya membuat si anak senang. Nadin malah menunggu2 saat dia harus meniup balon dan minum obat. Obatnya sendiri, saya kebingungan bagaimana cara memberikannya sebebnarnya. Terus terang, sejak lahir, baru kali inilah saya mendapat obat tablet untuk Nadin selain vitamin D. Akhirnya saya coba hancurkan obatnya di sendok dengan air. Tapi lama sekali, akhirnya saya kasih gitu aja. Saya beritahu bahwa ini obat, tapi rasanya enak kok kayak bonbon.. (padahal dalam hati ketar-ketir, takut ternyata rasanya pahit). Dengan pedenya dia langsung emut.. terus gak ada komentar. Saya tanya "enak?". "Ehem... enak.. kayak vitamin" katanya. Plooooong deh rasanya.

Minta doa dari semuanya, semoga si cairan gak betah lama-lama tinggal di sana, cepat keluar, biar gak usah tindakan lebih lanjut lagi.. ;)


*gambar 1 diambil dari sini
*gambar 2 diambil dari sini


Saturday, April 3, 2010

Nadin: U9

U9 merupakan pemeriksaan atau kontrol perkembangan anak yang ke-9 (lebih tepatnya sih yang ke-10, karena sekarang ada yang baru, U7A untuk anak usia 3 tahun). Seharusnya pemeriksaan ini dilakukan bulan lalu. Tapi gara-gara saya dengan pede-nya datang pukul 10, padahal jadwal seharusnya pukul 9.30, maka jadwal tersebut digeser sebulan kemudian.  Kenapa? karena ternyata pemeriksaan ini membutuhkan waktu yang cukup lama (kurleb 1 jam), jadi keterlambatan saya dapat mengakibatkan berubahnya jadwal pasien yang lain. *Duh, masih beruntung saya gak kena denda karena ini*

Entah kenapa, tes yang diberikan kepada Nadin (rasanya) selalu lebih mudah dibandingkan cerita dari ibu-ibu yang lain, terutama dari segi bahasa. Apa karena Nadin mah kedua orang tuanya sama-sama orang asing? Ah, tapi gak bisa dibandingkan juga sih, karena dokternya pun berbeda.. :D Kalau dilihat-lihat, pemeriksaan kali ini cenderung memeriksa panca indera si anak. Mungkin untuk persiapan masuk sekolah, jadi kalau masih ada yang kurang, masih bisa diterapi dalam setahun ke depan.

Seperti biasa, pemeriksaan pertama mengukur berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala. Hasilnya juga seperti biasa, termasuk kecil dibandingkan grafik punya si dokter, dan mendapat catatan Asiatischer Herkunft (berasal dari Asia). *lol*

Tes kedua, Nadin diminta menyebutkan nama-nama benda yang (ternyata) mengandung huruf-huruf yang (kadang) salah diucapkan, seperti sch, r, s, ss, dll. Hasilnya cukup mengejutkan bagi saya, lulus! Mengejutkan.. karena di rumah dia tidak pernah berbicara bahasa Jerman (karena diharuskan bicara bahasa ibu), jadi selama ini saya jarang sekali mendengar dia berbicara bahasa Jerman. Tapi melihat hasilnya, berarti dia belajar bahasa dengan baik di Kindergarten.  :D

Tes ketiga, Nadin diminta menyortir benda berdasarkan bentuk. Tes ini juga termasuk tes yang sangat mudah untuk Nadin. Dia malah menambahkan sendiri, selain bentuk, dia juga menyortir benda berdasarkan warna. :D

Tes keempat, Nadin diminta menyebutkan nama-nama benda yang terdapat pada plat 3 dimensi. Hasilnya benar semua. Kemudian Nadin diminta menyebutkan nama-nama gambar dengan sebelah mata pada jarak tertentu. Dari atas ke bawah ukuran gambarnya makin mengecil. Gambar atas dengan mudah bisa dia lihat, makin ke bawah makin lama mikirnya. Dan baris paling bawah, dia tidak bisa menyebutkan nama gambarnya. Ketika ditanya, apakah dia tidak tahu atau tidak kelihatan? jawabnya tidak kelihatan. Dari sini kami dirujuk untuk kontrol lebih lanjut ke dokter mata. :(

Tes kelima, Nadin diminta menggambar. Pertama mengikuti bentuk yang sudah ada di situ, lingkaran, cakra, segitiga dan persegi. Kedua dia diminta menggambar orang (bagian-bagian tubuh dari yang paling atas sampai bawah harus lengkap). Untuk anak yang hobi menggambar ini merupakan pekerjaan yang sangat mudah untuknya. :)

Tes keenam, tes pendengaran. Nadin diberi Kopfhörer alias headphone yang besarnya gak kira-kira *lol* Dia diperdengarkan bunyi-bunyi yang akan keluar dari salah satu kuping, tugasnya dia harus menunjuk dari kuping sebelah mana suara itu keluar. Tes ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Nadin, untuk memutuskan dari kuping mana sang suara keluar. Beberapa jawaban benar, namun beberapa yang lain dia tidak bisa memberi keputusan. Sepertinya dia rada-rada kebingungan.. bukan bermasalah.. (ibunya sih berharap begitu), namun dokter tetap merujuk dia ke dokter HNO a.k.a THT untuk pemeriksaan lanjutan.

Setelahnya, Nadin diminta berjalan di atas tali. Bukan seperti di sirkus lho! :D Talinya sendiri diletakkan di atas lantai, jadi sebenarnya dia diminta untuk berjalan mengikuti garis lurus. Kemudian loncat dengan dua kaki dan satu kaki, mengikuti garis lurus tadi. Berikutnya loncat zig-zag. Kemudian dia diminta jalan di tempat.. makin lama makin bertambah kencang.. yang akhirnya mereka jadi lari di tempat. Selanjutnya tangan direntangkan, mata ditutup, tunjuk hidung dengan tangan kanan, lalu dengan tangan kiri. Ganti posisi lagi, sekarang tangan di depan, mata masih merem, tunjuk hidung dengan tangan kanan dan tangan kiri. Selanjutnya dia diminta mengikuti gerakan tangan si dokter.

Secara keseluruhan hasilnya baik. Kondisi mata dan kuping juga sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Tapi untuk jaga-jaga sebaiknya diperiksakan ke dokter yang bersangkutan, katanya. Untuk dokter THT janji sudah dibuat sore ini, tapi untuk dokter mata masih belum euy.. Mudah-mudahan hari ini bisa sekalian bikin janji sama si dokter mata. :D

Dan pemeriksaan kali ini merupakan pemeriksaan paling melelahkan buat saya, soalnya harus menjaga Maryam supaya tidak ribut dan mengganggu jalannya pemeriksaan, juga harus memegangi Ligar yang mulai gk bisa diem, pengennya dilepas, tapi da belum bisa dilepas di lantai gitu aja. Begitupun di kasur, harus tetap dijaga karena sukanya guling-guling. Duh, kayaknya butuh bantuan si akang untuk pemeriksaan berikutnya.. :D

Wednesday, January 7, 2009

Insiden Korek Kuping

Ada-ada aja emang.. peristiwa ini pun baru pertama kalinya terjadi seumur hidup saya.. :D Entah sambil mikirin apa, tadi waktu bersihin kuping.. kuping saya sendiri tentu saja.. dan pake korek kuping seperti biasanya.. tiba-tiba.. plek.. batang korek kupingnya lepas dari kapasnya (atau sebaliknya ya?). Dan si kapasnya tentu saja ketinggalan di dalam kuping.. hik.. hiks... dan jari saya tidak cukup mungil untuk mengambil sejumput kapas itu. Sayangnya.. pinset pun saya tidak punya.. Akhirnya saya mengalah untuk membiarkan kapas itu bersarang dulu di sana. Sambil memasak.. sambil saya berpikir.. alat apa yang bisa digunakan untuk mengambil kapas itu.. Masa sih untuk urusan kayak gini aja mesti pergi ke dokter THT?? hihhi.. Nungguin si Akang juga agak lumayan, bisa-bisa kuping keburu budek beneran, berhubung hari ini jadwalnya dia badminton. Pulangnya 4 jam lebih telat dari biasanya.. :((

Sebenarnya 2 atau 3 tahun lalu, waktu kami mudik ke Indonesia, kakak saya pernah memperingatkan bahwa penggunaan korek kuping itu tidak baik, bahkan tidak dianjurkan oleh dokternya. Karena kotorannya malah masuk ke dalam, bukannya keluar, katanya (Dan sekarang saya menyadari kekurangan lain dari korek kuping itu). Sebagai solusinya, ada setangkai logam (stainless) yang ujungnya sedikit membesar menyerupai sendok. Mungkin lebih tepatnya sih spatula keciiiiil sekali, ukurannya kurang lebih sama dengan korek kuping. Dan saya pun dibekalinya. Tetapi alat ini hanya bisa digunakan dengan pertolongan orang lain, sedangkan saya tidak bisa membiarkan kuping saya dibersihkan orang lain.. :D Akhirnya alat itu tidak pernah dipakai. (Punten pisan nya, Teh Nda..)

Aha.. akhirnya terbentik ide menggunakan alat tersebut untuk mencongkel sang kapas tadi. Dengan menggunakan pemantulan dua buah cermin dan sebatang tangkai tadi, akhirnya si kapas berhasil dikeluarkan.. meski dengan sedikit perjuangan.. soalnya jadi rada-rada buta arah.. kebalik-balik tea.. dan sempat kapasnya malah jadi lebih masuk ke dalam. Alhamdulillah.. happy ending..

Tapi.. sekarang kok kayaknya jadi agak-agak males mau pakai korek kuping lagi ya?! takut kejadian yang lebih parah terjadi. Hm.. ada cara lain untuk membersihkan kuping??