Friday, February 27, 2009

Perkedel Kentang


Description:
Kalau kata ibu mertua saya, perkedel ini obat buat anak susah makan :D Maksudnya, anak yang susah makan biasanya jadi mau makan kalau dikasih perkedel. Perkedel kentang juga salahsatu makanan favorit Nadin, si pemilih makanan tea. Foto ini diambil sudah lama sekali.. jadi kangen juga sama perkedel kentang.. Kayaknya bakalan enak nih kalau dibikin weekend ini..

Ingredients:
1 kg kentang, rebus/kukus, haluskan
1/2 kaleng Corned beef, dibuyarkan dengan garpu (yang halal beli di toko Turki)
2 buah kuning telur
garam, merica, bawang putih, ketumbar
2 putih telur



Directions:
1. campurkan kentang yang sudah dihaluskan dengan corned beef, kuning telur dan bumbu.
2. bentuk sesuai selera
3. celupkan ke putih telur
4. goreng dalam minyak panas.

Tilapia (Buntbarsch)


Description:
Saya mencicipi ikan ini untuk pertama kalinya di rumah seorang teman, dalam pertemuan perdana kami. Rasanya enak sekali, dengan daging tebal tanpa duri sedikit pun. Sepertinya ikan ini sejenis ikan dorado atau gurame, dimana durinya hanya terletak di bagian tengah saja.. tidak menusuk-nusuk sampai ke tengah daging. Dan ternyata, setelah lihat gambarnya.. memang penampakan ikan ini mirip dengan gurame.

Suatu waktu, saya mencari ikan untuk membuat Siomay pesenan si Akang. Seperti biasa, saya cari ikan paliiiing murah, si Alaska Seelachs tea. Dan ternyata ikan tersebut tidak ada. Yang ada hanya ikan-ikan mahal kayak Kabeljau dan kawan-kawannya yang harganya hampir 4 kali ikan yang akan saya beli. Tapi tiba-tiba mata tertuju ke ikan Tilapia, langsung teringat sama Mbak Santi yang mengenalkan saya sama ikan ini. Lihat harganya.. masih masuk akal.. langsung ambil aja.. Dan ternyata hasil siomaynya juga beda ya kalau ikannya enak mah.. hehehe... Semenjak itu, sejak saya tau dimana harus beli ikan Tilapia, saya suka beli ikan itu, dimasak persis ketika sama memakannya untuk pertama kalinya.

Sampai suatu hari, ketika tiba-tiba saya tidak punya waktu untuk memasak, saya berencana membeli fillet ikan yang udah ditepungin gitu di Supermarket, tinggal goreng aja (bukan Fischsatebchen). Ternyata si ikan tersebut mengandung E 471, jadinya gak jadi saya beli. Tapi gimana.. air liur sudah hampir menetes membayangkan makan ikan nanti malam. Akhirnya saya ambil fillet ikan yang disebelahnya.. yang ternyata.. ikan Tilapia (Buntbarsch). Dan setelah masakannya jadi, baru nyadar, kalau saya teh bikin Schnitzel.. hihihi.. Tapi anak-anak lahap bener makan ikan ini... apalagi bapaknya... :D

Ingredients:
6 potong Tilapia fillet (bisa diganti sama ikan lain sih, bahkan sama ayam/kalkun/daging)
1 buah telur, kocok lepas
terigu secukupnya
tepung panir secukupnya
garam, merica, bawang putih

Directions:
1. Bumbui ikan dengan garam, merica, bawang putih atau tambahan bumbu lain sesuai selera. Biarkan beberapa saat.
2. Panaskan sedikit minyak di wajan.
3. bolak-balik ikan berbumbu di dalam terigu.
4. celupkan ke dalam kocokan telur
5. baluri dengan tepung panir
6. goreng sampai coklat keemasan.

rebutan..

Terinspirasi dari komentarnya Iva di foto Karnaval kedua Nadin, "haha, ini salah satu seninya punya anak dua ya teh, apa2 harus siap bikin dua??..", katanya. Hal ini membawa ingatan saya kembali ke beberapa bulan ke belakang, ketika Maryam telah hadir diantara kami. Waktu itu, tak pernah terlintas dipikiran saya, apa yang akan terjadi bulan depan.. dan bulan-bulan selanjutnya.. Bagaimana interaksi antara kedua anak saya.. bla..bla..bla.. Yang ada, saya hanya mengurus seorang bayi.. yang belum bisa apa-apa.. dan seorang anak kecil.. yang juga tidak menyusahkan.

Nadin bukanlah anak yang cemburuan ketika adiknya tiba di dunia ini. Dia sempat nangis-nangis sih, ketika awal-awal saya mangku dan menyusui Maryam. Tapi lama-lama dia mengerti.. dan dia tidak pernah melakukan tindakan kekerasan terhadap adiknya, ketika adiknya masih bayi. Waktu berlalu.. Maryam mulai menyukai memegang mainan ini dan itu.. yang mana, mainannya tentu saja sebagian besar merupakan mainan Nadin waktu kecilnya dulu. Nadin mulai suka merebut apapun yang sedang dipegang Maryam. Untungnya Maryam gak ngerti, kalau direbut mainannya.. dia tidak akan menangis kalau mendapatkan ganti mainan yang lain. Meski begitu, saya coba kasih pengertian ke Nadin, bahwa dia harus bilang dulu ke Maryam kalau pengen main mainan yang dipegang Maryam, trus kasih ganti mainan yang lain. Si kakak nurut.. dan kondisi pun aman terkendali.

Makin lama, Maryam makin besar dan semakin mengerti. Dia jadi gak mau lagi diganti dengan mainan yang lain. Akhirnya, di masa ini, rebutan pun mulai terjadi. Bisa jadi salah satu marah besar.. (dengan menangis tentu saja), atau bahkan dua-duanya menangis.. Ibunya mulai kerepotan nih. Saya mulai berpikir, tampaknya saya harus beli mainan baru (yg sama dengan yang di rumah) untuk anak yang satu lagi. Sayapun pergi ke toko mainan keesokan harinya. Tapi.. di sana saya mendapatkan beberapa alasan untuk tidak membeli mainan baru:

1. kedua anak saya perempuan, mereka sebenarnya tidak memerlukan mainan yang berbeda. Meski selama ini mainan di rumah cenderung netral seperti: lego, puzzle, alat gambar, dll.
2. kalau mereka selalu dikasih apa yang mereka mau.. mereka selalu punya mainan sendiri-sendiri... saya khawatir, mereka jadi tidak mengenal arti berbagi.
3. Kalaupun ada dua mainan sama. belum tentu mereka akan pegang masing2 mainan. Karena selama ini, yang jadi rebutan.. itulah yg mereka mau. Misal mereka rebutan lego warna hijau. Sebenarnya lego warna hijau itu ada banyak. Tapi yang mereka mau.. yang 'itu', tidak tergantikan oleh lego hijau-lego hijau lainnya.

Akhirnya saya pulang kembali ke rumah dengan tangan kosong.

Sejak itu, saya nyatakan kepada mereka, bahwa mainan ini punya Nadin dan Maryam. Dua-duanya boleh bermain.. barengan.. atau gantian.. (tergantung mainannya). Kalau sedang dimainkan seseorang, yang lain harus minta izin dulu.. sampai yang memainkan mau memberikannya untuk dimainkan oleh yang lain. Saya tidak selalu mendahulukan si adik.. atau si kakak.. Pokoknya siapa yang mau duluan.. itu yang punya hak lebih besar.. Berhasil??? tentu saja... tapi kadang-kadang.. tetep aja berantem.. tergantung mood si anak.. Tapi lama-lama mereka ngerti sih.. bahwa mainan itu harus dipakai berdua, meski masih pakai berantem juga.. :D Makanya salahsatu kata yang sering keluar dari mulut Maryam adalah 'bedua'. Kalau dia minta makanan, tidak beranjak dulu, sebelum dapat dua.. biar bisa berdua sama Nadin, maksudnya mah.. :D

Sebenarnya yang jadi rebutan bukan hanya mainan.. alat makan dan minum pun bisa jadi rebutan. Misalnya di rumah, saya memakai peralatan makan dari IKEA, yang warna-warni itu lho.. Dan saya hanya punya satu set. Cukup untuk dua anak, karena isinya ada 6 buah dengan 6 warna berbeda. Terkadang mereka mau menggunakan warna yang berbeda, tapi.. terkadang mereka mau memakai warna yang sama. Kalau sudah begini, ibunya yang pusing. Saya tawarkan, ada yang mau mengalah dengan memakai warna lain?? biasanya tidak ada sih. Kalau begitu, pakainya harus gantian.. biasanya mereka mau akhirnya.. tapi kadang nggak juga.. :D Kalau masih nggak, berarti gak ada yang bisa minum.. kata saya.. Akhirnya mereka mau gantian.. tapi bisa jadi nangis juga dua2nya.. *duh*

Acara nonton pun bisa menjadi lahan rebutan juga. Dengan selera dan usia yang berbeda, aliran tontonan pun berbeda pula. Nadin lebih suka nonton film.. yang jelas alur ceritanya. Sedangkan Maryam lebih suka nonton gerak dan lagu. Cerita tidak penting.. selama dia bisa goyang dan jingkrak-jingkrak.. :D Sebenarnya saya bisa membiarkan mereka nonton di tempat yang berbeda. Yang satu nonton di TV, satu di komputer. Tapi.. ah.. biarkan mereka nonton bersama.. biar mereka bisa berbagi dan berinteraksi. Akhirnya acara nonton pun dilakukan bergantian.

Ternyata.. tidak semuanya bisa digunakan barengan atau bergantian. Ada pula beberapa barang yang memang mereka harus punya masing-masing. Misalnya: pakaian.. iyalah.. jelas ini mah.. :D Nadin lebih banyak beli baru, sedangkan Maryam lebih banyak memakai bekas kakaknya. Dulu sih gak ngaruh.. tapi sekarang, Maryam suka kelihatan sedih saat kakaknya mendapat kaos kaki baru (misalnya) sedangkan dia tidak (atau ini mah perasaan ibunya saja). Jadinya, kalau saya beli sesuatu buat Nadin, saya juga beli sesuatu juga buat Maryam.. tapi diusahakan sesuatu yang memang sedang mereka butuhkan.. bukan yang sudah ada di rumah.. biar gak pemborosan.. :D *teuteup*

Selain pakaian, sesuatu yang bisa dipakai. Misalnya sayap kupu-kupu yang kemarin saya buat untuk Karnavalnya Nadin, itu kan gak bisa dipake gantian. Atau juga buku-buku. Berhubung usianya berbeda, buku yang mereka gunakan juga berbeda.

Membesarkan dua anak dengan dua karakter berbeda, ternyata penuh dengan  'rebutan'. Tapi hal ini tidak berarti harus selalu 'punya dua', minimal di rumah saya begitu. Saat mereka berantem, terkadang bikin stress.. tapi kadang juga jadi hiburan.. habis lucu sih.. :D Tapi di saat mereka akur dan kompak.. bermain dan tertawa bareng.. tentu saja dunia terasa lebih indah.. ;)

Thursday, February 26, 2009

Knette (Play Doh)

Description:
Nadin dan Maryam seneng banget main ginian, mungkin karena dua-duanya anak perempuan ya?! Jadi insting bikin kuenya sudah ada sejak dini.. :D

Untuk menghemat pengeluaran, saya lebih suka bikin sendiri daripada beli.. Meski mungkin warnanya gak sebagus kalau beli.. Tapi mereka seneng-seneng aja tuh..

Kebetulan waktu itu, resepnya nemu di internet. Bahan-bahannya mudah didapat dan muraaahh.. Dan jangan tanya foto ya.. soalnya fotonya termasuk foto yang kehapus sama Maryam.. seisi kamera.. di 'delete all' bow.. *menangis*

Ingredients:
Resep untuk 1000 g Play Doh (Ini jadinya buanyaaaak banget. Saya biasanya bikin 1/4 bagian untuk 1 warna)

- 400 g tepung terigu
- 200 g garam
- 2 sdm (sekitar 11 g) Alaunpulver (bisa dibeli di apotek) --> Kaliumaluminiumsulfat
- 1/2 L air
- 3 sdm minyak
- 1 sdm pewarna makanan (biasanya saya pakai yg ada di rumah, misal: warna kuning dengan bubuk kunyit, hijau dengan essens pandan)

Directions:
1. Masukkan tepung, garam dan alaun ke dalam wadah.
2. Panaskan air, masukkan minyak dan pewarna makanan. Aduk.
3. Masukkan larutan ke dalam campuran tepung perlahan-lahan sambil diaduk.
4. Aduk terus sampai adonan cukup hangat dan bisa diadoni dengan tangan.
5. Jika adonan terlalu kering, tambahkan minyak.
6. Simpan di tempat tertutup atau di dalam plastik biar tahan lama.

Wieder Warnstreik!!! Freitag, 27 Februar 2009

MVG bakal mogok lagi hari Jumat besok. Bedanya, kali ini 24 jam!!! dari pukul 3.30 hari Jumat sampai pukul 3.30 hari Sabtu. U-Bahn dan Tram bakal tidak ada, katanya. Bus yang masih jalan hanya 50 jalur saja, yang berarti hanya 10% dari bus-bus MVG yang beroperasi seperti biasanya. (Baru nyadar, banyak amat bus di Munich ya?!).

So, buat yang udah punya rencana jalan-jalan.. dengan kendaraan umum tentu saja.. lihat-lihat jadwal dulu ya, Bu.. Pak.. biar gak kesusahan di jalan nanti. Apalagi kalau bawa anak-anak kayak saya. Info tentang Streik ini bisa di baca di http://www.mvg-mobil.de/streikinfo.htm

So, Jumat besok... kayaknya rencana jalan-jalan kami batal nih.. di rumah aja deh..

Friday, February 20, 2009

Karnaval kedua Nadin




Karnaval kali ini berbeda dengan karnaval sebelumnya, dimana orang tua ikut serta menemani anak-anak di TK selama perayaan Faching. Kali ini anak-anak harus ditinggal sendiri sampai jam 4 nanti. Kenapa? karena tahun lalu yang diharapkan orang tua bisa bermain bersama anak2nya tidak terwujud. Orang tua malah duduk-duduk dan makan. Anak2nya entah kemana.. hahaha... Makanya sekarang foto2nya di rumah aja sebelum berangkat.. Maryam rada rewel.. soalnya ngantuk dia.. bangunnya kepagian gara2 nemenin ibunya ngedekor si sayap kupu-kupu.. plus antenanya yang kelupaan.. Jadinya si Antena gak sempet diwarnain, langsung aja ditutupin pake Glitter.. :D

Ah, ibumu ini, Nak.. dari dulu gak pernah berubah.. tak bisa lepas dari yang namanya SKS.. (sistem kebut semalam tea ;) )

Tuesday, February 17, 2009

Di Kiga hari ini...


4 kali nih...

Hari ini Munich kembali didera badai salju tanpa akhir.. persis di hari ketika dia terlahir. Hm.. pantesan anak ini doyan banget maen salju.. (hahaha.. ini sih ibunya aja yang suka nyambung-nyambungin hal gak jelas).

Lumayan cape juga menghadapi hari ini, apalagi dihadang badai ketika pergi. Sampai-sampai si wadah kue terjatuh.. untunglah kuenya cuma Brownies, dilapis glasur pula. Jadi lumayan tahan banting.. cuma cacat sedikit. Alhamdulillah Nadin mintanya bukan kue yang aneh-aneh... dia cuma pengen dibikinin kue coklat alias brownies kayak ulang tahun dia sebelumnya di Kiga. Dengan glasurpun.. kuenya masih kelihatan rame..tek.. (baca: berantakan) hihihi.. apalagi kalau dihias-hias pake cream. Wadduh.. gak kuku deh..

Meskipun saya rada-rada tidak puas dengan kuenya.. dekornya amburadul banget deh.. Tapi hati ini jadi terhibur ketika Nadin melihat, komentarnya, "Wah.. kuenya bagus dan cantiiiiik sekali..". Dan dia tampak semangat sekali pergi ke TK hari ini. Apalagi ketika saya menjemput Nadin, saya diserbu teman-temannya Nadin dengan komentar, "Der Kuchen war ganz ganz lecker.. die Schokolade auch.. Alles war gaaanz lecker!!". Ternyata anak-anak itu tidak melihat mukanya itu kue.. alhamdulillaah... Dan emang udh sifat dasarnya anak-anak, dikasih apapun.. gak usah mahal ataupun bagus.. pasti seneng..