Showing posts with label kindergarten. Show all posts
Showing posts with label kindergarten. Show all posts

Wednesday, October 13, 2010

Elternabend - Vorschule

Eltern = orang tua, Abend = malam. Elternabend = malam orang tua. Itu kalau diterjemahkan per kata. Tapi sebenarnya ini adalah malam dimana orang tua mendapatkan informasi tentang segala hal yang ada di Kindergarten, mulai dari tempat bermain, material, biaya yang kita keluarkan untuk apa saja, makanan, pedagogik, dll. Teknisnya (kalau di Kindergarten Nadin), masing-masing guru bertanggungjawab untuk satu tema. Orang tua bisa mendengarkan penjelasan sang guru (kalau kebetulan menjelaskan), melihat diagram, gambar atau apapun yang telah dipersiapkannya dan menanyakan apa saja yang ingin orang tua ketahui. Karena saat ini Nadin sudah Vorschule, maka saya lama nongkrong di sana untuk menanyakan hal-hal yang bikin saya penasaran. 

Saya termasuk yang datang awal, kebetulan waktu itu baru ada dua orang tua, saya dan satu bapak yang lain. Jadinya lebih enak, tenang, dan apa yang si ibu jelaskan bisa dimengerti lebih mudah. Ketika kami datang, si ibu langsung menjelaskan kegiatan anak-anak Vorschule. Setiap hari Selasa mereka belajar bareng, katanya. Iya, karena si anak-anak ini tidak berada dalam satu grup (fyi: dalam satu grup di kiga ini terdiri dari berbagai macam umur anak alias dicampur). Jadi anak-anak Vorschule ini pun tersebar di semua kelas. Salahsatunya yang mereka pelajari adalah mengenal angka dari 1 sampai 10. Bukan belajar berhitung, tapi benar-benar hanya mengenal angka. ;)

Misalnya hari Selasa ini anak-anak mengenal angka 1. Bersama Frau K, mereka akan mewarnai angka 1, belajar menulis angka 1 dengan mengikuti gambar yang ada, kemudian menggambar angka satu dengan jarinya, dan mendengarkan cerita tentang angka 1. Selasa depannya, bersama Frau W, anak-anak akan bermain dengan angka 1. Kemarin si ibu memperlihatkan material-material bermain, salah satunya bermain timbangan. Si anak belajar mencari angka-angka yang beratnya setimbang. Misal angka 1 akan setimbang dengan angka 1 lagi. Angka 2 akan setimbang dengan 2 buah angka 1, dan seterusnya. Makin besar angka yang mereka kenal, akan makin rumit, katanya. Contoh lain si ibu memperlihatkan mainan yang lain yaitu membangun rumah. Ketika mengenal angka 1, anak-anak akan membangun rumah dengan satu dasar, satu tiang dan satu atap, dan seterusnya sesuai dengan angka yang sedang mereka pelajari.

Di ruangan itu terdapat folder yang bertanda dari huruf A-Z. Ternyata folder itu berisi foto dan nama mereka. Misal Nadin ada di folder N, di situ hanya ada foto Nadin dengan tulisan namanya. Jadi si anak bisa mengenal bagaimana menulis nama mereka. Ah, saya jadi tergelitik untuk menanyakan tentang belajar membaca. Apakah selama Vorschule anak-anak hanya dikenalkan dengan Alphabet saja? atau sudah belajar membaca?

Ternyata sebenarnya anak-anak tidak diwajibkan mengenal Alphabet ketika lulus Vorschule, apalagi membaca. Mereka hanya dikenalkan pada bunyi saja. Misal: AAAAAAAApfel, AAAAAAffe... EEEEEEElefant.. dan lain-lain. Tapi pada akhirnya, biasanya si anak secara otomatis jadi hafal semua huruf, katanya. Si ibu memperlihatkan lagi satu permainan, dimana anak-anak harus mencari gambar benda yang bunyi namanya sama, misal seperti Kanne dan Pfanne atau benda yang berbeda satu huruf vokal seperti Hand dan Hund. Dan ini anak-anak hanya melihat gambar saja, tanpa ada tulisannya. Tapi tentu saja kalau ada anak yang bertanya, ini huruf apa? harus saya jawab yang sebenarnya.. tidak bisa disembunyikan, katanya.. (Sepakat, Bu.. itu juga yang saya lakukan pada anak-anak saya.. :D) 

Oya, satu lagi yang bikin saya penasaran. Anak-anak Vorshule ini diberi loker masing-masing oleh gurunya. Isinya hanya Federmaepchen (map yang berisi alat tulis dan pensil warna) dan Malkasten (cat air lengkap dengan koasnya). Saya penasaran karena anak-anak tentunya sudah familiar dengan perlengkapan ini sejak masuk TK, kenapa tampaknya sekarang istimewa sekali. Ternyata bukan ke fungsi alatnya, tapi lebih ke "rasa memiliki". Jadi anak-anak dilatih untuk menggunakan dan menjaga barang-barang pribadinya. Ini juga sebagai penyesuaian sebelum masuk SD. Nanti di SD barang-barang yang mereka miliki akan lebih banyak lagi.

Satu lagi, saya melihat buku-buku cerita yang ada di sana bukan lagi cerita-cerita dongeng seperti biasa, tapi lebih ke cerita ilmiah. Misalnya buku tentang planet, tentang alam, hutan, dan lain-lain. Pantesan beberapa waktu lalu, Nadin sempat bercerita kalau dia dibacakan buku tentang planet. Ada planet bumi juga lho, Maah.. (untung tidak lama sebelum itu, saya sempat bercerita tentang planet bumi pada Nadin, waktu itu berasa terlalu dini tea, tapi saya sudah terjebak, masa harus ngarang?! Ternyata ada untungnya juga, Nadin jadi gak bengong-bengong amat pas diceritakan di sekolahnya). Dan ya, semenjak itu Nadin suka cerita, misal: kalau planet paling kecil warnanya hijau, namanya sama kayak anjingnya Mickey dan Goofie, Pluto namanya. Atau pernah juga dia bercerita,

"planet bumi itu muter lho, Mah.. tapi kita gak jatuh dan gak terbalik ya?!".
Kemudian Maryam menimpali,
"iya, istana juga muter!".
*Lah kok gak nyambung??*
"istana kan lebih gede daripada bumi." lanjutnya.
Ooooh.. ternyata yang dimaksud "bumi" sama Maryam itu bumi dalam bahasa Sunda yang artinya rumah. Rumah sama Istana masih nyambung lah ya.. hahaha... Neng Iyam.. Neng Iyam.. Kamu lucu abis ah! :*:*:*

Tuesday, October 5, 2010

Kursus Bahasa Jerman untuk Anak Pra-sekolah

Tanpa terasa Nadin sudah memasuki tahun terakhir di TK-nya, kini dia sudah termasuk anak Vorschule (preschool/pra-sekolah). Anak-anak Vorschule ini memiliki aktivitas yang agak berbeda dengan anak-anak TK lainnya. Salah satunya, khusus untuk anak-anak yang orang tuanya bukan orang Jerman alias pendatang, diikutkan kursus bahasa Jerman, agar si anak lebih siap dalam segi bahasa saat masuk sekolah dasar nanti. 

Biasanya di Muenchen semua sudah serba otomatis. Untuk menjadi Vorschulkind tidak usah pakai daftar-daftaran, begitu anak sudah berusia 5 tahun, dia otomatis berstatus sebagai Vorschulkind. Untuk pemeriksaan anak sebelum masuk sekolah juga ada surat pemberitahuannya ke rumah, kapan dan kemana kita harus membuat janji untuk pemeriksaan tersebut. Jadi saya pikir untuk kursus bahasa Jerman inipun demikian. Kalau sudah saatnya kursus, pastinya saya akan diberitahu oleh gurunya.

Suatu hari saya kebetulan berada dalam satu bus dengan ibu dari salahsatu temannya Nadin. Dan dari obrolan kami, barulah saya tahu, bahwa ternyata kursus bahasa Jerman ini sebenarnya sudah dimulai. Lho.. lho.. kok saya bisa ketinggalan informasi begini? Esoknya saya pun menemui gurunya Nadin, Frau W, dan saya bilang kalau Nadin belum mendaftarkan diri untuk kursus Bahasa Jerman. Namun ternyata jawaban si ibu ini cukup mengagetkan.. kaget bahagia tepatnya. Dia bilang bahwa Nadin tidak memerlukan kursus bahasa tersebut, Nadin bisa berbicara bahasa Jerman dengan baik, baik itu pengucapan maupun susunan kalimat, katanya. Ternyata kursus ini tidak untuk semua anak berlatar belakang migran, namun untuk anak-anak yang bahasa Jermannya benar-benar jelek saja, katanya.

Antara percaya dan tidak sebenarnya. Anak-anak yang ikut kursus menurut saya bahasa Jermannya bagus-bagus.. mereka lebih lancar bicaranya dibandingkan Nadin. Tapi yah itulah, mungkin karena kuping saya bukan kuping Jerman, maka saya kurang bisa membedakan pengucapan anak yang benar dan yang salah.

Kalau boleh jujur, sebenarnya saya juga tidak tahu bagaimana anak saya berbahasa Jerman, karena di rumah, kami memang tidak pernah berbahasa Jerman. Kenapa? karena kami bukan orang Jerman, takutnya lidah kami malah mengajarkan kata-kata yang salah pengucapannya pada si anak (bahasa jerman logat Sunda tea). Selain itu, bahasa Jerman kami yang tidak fasih juga dikhawatirkan membuat si anak menyusun kalimat dengan gramatik yang salah. Dan keputusan kami ini sangat didukung oleh guru TKnya Nadin waktu itu.

Kini, melihat hasilnya seperti ini, kami tambah percaya pada si anak, bahwa dia pasti bisa masuk SD, meski tanpa ikut kursus bahasa Jerman. 

Saturday, March 20, 2010

Keperluan Anak di Rumah

Apa yang diperlukan anak di rumah? berikut anjuran dari Kindergarten.

1. pensil warna dari kayu, lebih baik lagi pensil warna segitiga yang besar.
2. pensil
3. serutan
4. gunting untuk anak
5. lem stik (klebestift)
6. kertas
7. cat air
8. Knette/Playdough
9. Buku-buku dan buku bergambar
10. Mainan, seperti Memory, Puzzle, UNO, Mensch aergere dich nicht (belum punya), Schwarzer Peter (belum punya juga :D), balok bangunan (Bausteine), Lego duplo.

Perlengkapan Kindergarten

Berikut ini adalah perlengkapan yang wajib dibawa ke Kindergarten oleh Maryam. Setiap Kindergarten detilnya bisa berbeda, tapi pada dasarnya sama saja. Sambil cek dan ricek perlengkapannya Maryam, sekalian ditulis aja deh, soalnya kok saya gak dikasih list-nya sama Kindergarten, dianggap sudah tahu mungkin. :)

1. Perlengkapan olahraga (Turnsachen), terdiri dari:
- Turnbeutel (tas olahraga)
- Turnschuhe atau dikenal juga dengan nama Tanzschuhe (sepatu untuk olahraga/tari) --> bentuknya menyerupai sepatu balet, yang murah bisa dibeli di H&M.
- legging (celana dari bahan kaos)
- T-shirt

2. Perlengkapan berenang (Schwimmsachen)
- tas dari plastik (gurunya menyarankan memakai kresek bekas belanja, tapi biar gak perlu buang-buang, saya lebih memilih membelikan tas kecil dr bahan plastik, mirip dgn Turnbeutel)
- baju renang
- handuk
- sabun mandi
Sebenarnya kebutuhan standarnya itu saja, tapi Nadin sekarang sudah meminta kacamata untuk berenang. :D

3. Baju ganti
- kantong kain
- baju lengkap dr yang terdalam sampai terluar satu set, harus diganti setiap musim berubah.. :p

4. Hausschuhe  (sepatu rumah a.k.a sepatu untuk di dalam ruangan)

5. ransel kecil, kosong --> digunakan ketika jalan-jalan untuk diisi makanan dan minuman

6. 1 buah map ukuran A4 --> untuk wadah hasil gambarnya anak.

7. 1 buah map ukuran A3 --> untuk wadah hasil kerajinan/prakarya anak-anak.

8. 2 buah foto, 1 untuk kotak pos.. 1 lagi untuk di kelas

9. 1 buah Ordner lengkap dengan 40 buah plastik transparant untuk fortfolio anak-anak, berkisar tentang keluarga, hobi, kesukaan, foto-foto dan lain-lain, katanya agar si anak bisa menunjukkannya ke teman-temannya.

Semua perlengkapan diatas disimpan di Kindergarten. Kecuali perlengkapan olahraga dan berenang yang rutin dibawa pulang setiap habis pakai untuk dicuci. :D

10. Perlengkapan hujan --> Biasanya wajib dipakai ketika ada acara jalan-jalan di musim-musim rawan hujan seperti sekarang.
- jaket hujan
- celana hujan
- sepatu hujan

Untuk semuanya saya usahakan untuk mencari barang yang termurah, selain menghemat pengeluaran (teuteup..) juga untuk menghindari rasa gondok ketika barang hilang. :D

Friday, February 20, 2009

Karnaval kedua Nadin




Karnaval kali ini berbeda dengan karnaval sebelumnya, dimana orang tua ikut serta menemani anak-anak di TK selama perayaan Faching. Kali ini anak-anak harus ditinggal sendiri sampai jam 4 nanti. Kenapa? karena tahun lalu yang diharapkan orang tua bisa bermain bersama anak2nya tidak terwujud. Orang tua malah duduk-duduk dan makan. Anak2nya entah kemana.. hahaha... Makanya sekarang foto2nya di rumah aja sebelum berangkat.. Maryam rada rewel.. soalnya ngantuk dia.. bangunnya kepagian gara2 nemenin ibunya ngedekor si sayap kupu-kupu.. plus antenanya yang kelupaan.. Jadinya si Antena gak sempet diwarnain, langsung aja ditutupin pake Glitter.. :D

Ah, ibumu ini, Nak.. dari dulu gak pernah berubah.. tak bisa lepas dari yang namanya SKS.. (sistem kebut semalam tea ;) )

Tuesday, February 17, 2009

Di Kiga hari ini...


4 kali nih...

Hari ini Munich kembali didera badai salju tanpa akhir.. persis di hari ketika dia terlahir. Hm.. pantesan anak ini doyan banget maen salju.. (hahaha.. ini sih ibunya aja yang suka nyambung-nyambungin hal gak jelas).

Lumayan cape juga menghadapi hari ini, apalagi dihadang badai ketika pergi. Sampai-sampai si wadah kue terjatuh.. untunglah kuenya cuma Brownies, dilapis glasur pula. Jadi lumayan tahan banting.. cuma cacat sedikit. Alhamdulillah Nadin mintanya bukan kue yang aneh-aneh... dia cuma pengen dibikinin kue coklat alias brownies kayak ulang tahun dia sebelumnya di Kiga. Dengan glasurpun.. kuenya masih kelihatan rame..tek.. (baca: berantakan) hihihi.. apalagi kalau dihias-hias pake cream. Wadduh.. gak kuku deh..

Meskipun saya rada-rada tidak puas dengan kuenya.. dekornya amburadul banget deh.. Tapi hati ini jadi terhibur ketika Nadin melihat, komentarnya, "Wah.. kuenya bagus dan cantiiiiik sekali..". Dan dia tampak semangat sekali pergi ke TK hari ini. Apalagi ketika saya menjemput Nadin, saya diserbu teman-temannya Nadin dengan komentar, "Der Kuchen war ganz ganz lecker.. die Schokolade auch.. Alles war gaaanz lecker!!". Ternyata anak-anak itu tidak melihat mukanya itu kue.. alhamdulillaah... Dan emang udh sifat dasarnya anak-anak, dikasih apapun.. gak usah mahal ataupun bagus.. pasti seneng..

Thursday, December 11, 2008

Tampak ada yang mulai ngakal.. :)

Pagi ini saat bangun tidur, saya merasa kurang enak badan. Kepala pusing, perut agak sedikit mual, badan rasanya pegel-pegel. Penyebabnya sudah pasti apa, pola makan dan pola tidur yang akhir-akhir ini memang agak berantakan. (Akang, tong ngambek nya.. ). Rasanya tak sangguplah kalau pagi ini juga saya harus mengantarkan Nadin ke TK. Padahal anak ini susaaaaaah sekali kalau diminta pergi ke TK sama bapaknya. Tapi coba dibujuk aja deh.. gak ada pilihan lain.. daripada nanti ada apa-apa di jalan.

"Nadin ntar ke Kindergarten sama Papa ya.."
"gak maauuu..." tuh kan... seperti yang saya duga.
"Tapi Mama sakit, Neng. Gak bisa nganter Nadin. Nadin perginya aja sama Papa. Nanti dijemput sama Mama ya.."
"gak maaauuuu..." tetep.. keukeuh...
"Eh, Mama sakit kepala nih.. sakit perut... sakit punggung... Mama mesti istirahat dulu. Nanti siang pasti udah sehat lagi. Mama jemput Nadin aja ya... perginya sama Papa."
Nadin mikiiir sambil keruung.. terus ngomong lagi...
"Tapi Nadin mau makaaan..." rada teu nyambung, tapi ngerti lah maksudnya.. dia udh setuju dengan syarat.
"Iya donk... Mama kan lagi siapin makan Nadin nih.." sambil nguprek nyiapin sarapan.
Nadin nunggu sambil mainin bonekanya, terus ngomong lagi..
"Tapi Nadin sakit..."
"terus kenapa??"
"kalau Nadin sakit gak boleh ke Kindergarten.. harus di rumah aja.." wadduh.. masih nego juga nih...
"Emangnya Nadin sakit apa sih??"
"Sakit tangan." sambil nunjukin telunjuk yang dibalut plester karena luka palsu.
hahahaha... ngakak dalam hati...
"Kalau sakit tangan mah gak apa-apa atuh.. Kalau panas, baru Nadin harus bobo di rumah."
Nadin cemberut.. tampak mikir alasan lain..
Akhirnya saya kepikiran jurus pamungkas nih..
"Kalau Nadin ke Kindergartennya sama Papa, nanti di Kindergarten bisa bilang sama Esther, Trudy dan Melissa.. Er ist mein Papa (Dia Papa saya)"
Akhirnya dia pun mengangguk dan tersenyum gembira...
*YESSS!!! berhasiiil*

Selama ini, temen2nya Nadin suka nanya, "Hat die Nadin auch Papa??" (Apa Nadin punya Papa juga?). Mungkin karena Papanya jarang nongol.. padahal beberapa kali sempet juga sih nganterin.. Tapi pas mereka nggak liat kali.. Tapi untunglah... jurus ini satu-satunya yang selalu berhasil ngebujukin dia biar mau pergi sama bapaknya.. :D

Wednesday, May 28, 2008

Sommerfest: butuh bantuan... hik...hiks...

Tadi pagi saya diajak ngobrol sama gurunya Nadin. Ternyata mereka teh mau ngadain Sommerfest yang judulnya "Die Welt trifft sich in Giesing" artinya kira-kira "dunia bertemu di Giesing". Giesing = nama wilayah Kindergartennya Nadin.

Acaranya kira-kira begini, akan dibuat beberapa rumah yang mewakili benua-benua di dunia.. berarti ada lima rumah kali ya?! Tugas saya adalah di rumah Asia. Nantinya di setiap rumah ini akan ada makanan khas dan kesenian daerah.. disamping gambar-gambar serta peta tentu saja.. dan entah apa lagi...

Gurunya Nadin meminta saya untuk membantu memasakkan makanan.. Yah, tentu saja bisa jawabku... dalam hati, aku akan membuat kue-kue kecil aja lah... Ternyata berdasarkan penjelasan dari gurunya, Ibu-ibu Turki akan memasak Vorspeise (makanan pembuka) dan Nachtisch (penutup..), Ibu-ibu Vietnam pun akan membuat kue-kue kecil saja. Jadi Ibu-ibu Indonesia sangat diharapkan membuat Hauptgericht (makanan utama).

*melongo*
*nengok kiri-kanan*
perasaan orang Indonesia cuma sendirian nih... hiks...

Wuadduh... mesti masak apa ya?
Tadi sih kata si Ibunya, mungkin nasi sama kari ayam aja, atau rendang... oalah....

Nah, disini nih saya butuh bantuannya. Masakan apa yang kira-kira gampang dimasak.. dan gampang pula di bawa jalan... maklum, saya kan gak punya mobil..
Daaaaan... ada yang mau bantuin masak??? hihihihi...

Barusan sih kepikiran gado-gado plus lontong atau mie goreng...
Tapi masaknya itu.. huhuhu...

Oya, itu baru satu hal... saya masih diminta satu hal lagi... KESENIAN.
"Suami Anda kan lihai main musik tradisional ya? bisa tolong bantu kami untuk pentas di sini? berapa biayanya ya???"
"biaya mainnya mah gratis, Bu... tapi biasanya minta dibayarin ongkos transport aja. Masalahnya, pemainnya satu di Ravensburg, satu di Hamburg, dan satu lagi di Inggris."
*gurunya Nadin pingsan*

Waduh... bingung juga nih... kalau minta tarian ke Swadaya juga, mesti bayar ya.. sedangkan si ibu minta yang biayanya seminim mungkin. Kalau bisa kostet nichts, katanya, alias gak bayar.. Ada ide bikin kesenian apa?

Aduh.. aduuuuhhhh... binuuuuuunnnn.....

Monday, April 7, 2008

menyiasati biaya Kiga

Di Muenchen ada dua macam Kindergarten, privater- dan staedtischer/staatlicher- Kindergarten. Yang pertama bisa diartikan swasta dan yang kedua negri. Eh, tapi ada juga sih Kindergarten yang kristen.. itu masuknya swasta apa negri ya? gak tau juga.. :D Pokoknya sekarang mah saya bahas yang dua tadi aja.

Sistem pembayaran di kedua TK ini berbeda sekali. DI TK swasta biasanya lebih mahal... bahkan jauh lebih mahal... Namanya juga swasta, mereka kan biaya sendiri dan biasanya menonjolkan kelebihan-kelebihannya dia, agar orang tidak merasa rugi kali ya untuk membayar lebih mahal. Di TK ini, setiap anak harus membayar sama rata, tidak dibeda-bedakan. Menurut survey saya tahun lalu sih, rata-rata biaya TK swasta di sekitaran rumah saya berkisar sekitar 200-300-an Euro per bulan untuk 3 -4 jam saja per harinya. Dan itu baru iuran wajibnya saja.. belum termasuk uang makan, uang mainan, uang belajar musik, dll... dll.. Makanya (mungkin) biasanya anak-anak yang masuk TK ini adalah anak-anak dari keluarga yang kelebihan uang, hehehe...

Sedangkan untuk keluarga-keluarga yang dompetnya cukup lapang karena isinya sedikit seperti kami, lebih memilih Kindergarten negri. Selain harganya (jauh) lebih murah (bayangkan, untuk yang 5 jam per hari biayanya hanya 100 Euro saja, jauh kan sama yang tadi?), biaya yang harus dikeluarkan pun disesuaikan dengan pendapatan orang tua. Jadi Kindergarten negri ini, katakanlah, mendapat subsidi dari pemerintah. Semakin sedikit pendapatan ortu, semakin sedikit biaya yang harus dibayar.

Tapi ternyata... biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua tersebut, bukan dihitung dari pendapatan orang tua saat ini (aktual), melainkan dari pendapatan orang tua dua tahun lalu. Dan ini juga bukan tanpa alasan, katanya sih karena batas pembayaran pajak di Jerman kan 2 tahun. Jadi, pendapatan 2 tahun yang lalu bisa dipastikan pajaknya sudah dibayar.

Beruntungnya saya.. hehe... dua tahun lalu, status bapaknya Nadin masih doktorarbeit alias S3. Jadinya biaya yang harus dibayar juga hanya sekitar 55% dari yang seharusnya. Tapi kemudian mulai terpikir, bagaimana kalau tiba-tiba saat ini dia dipecat, otomatis pendapatan pun jadi berkurang kan?? Dan disaat pendapatan kecil ini, justru kami harus membayar biaya penuh. Waddduhh... pusing kan??!

Nah, katanya sebenarnya biaya ini bisa disiasati dengan cara menyimpan sisa uang yang seharusnya dibayar. Misalnya, kami seharusnya saat ini membayar 90 Euro, tapi.. kami hanya membayar 50 Euro saja. Maka sisa 40 Euro itu harus kami simpan sendiri, untuk jaga-jaga pembayaran Kiga dua tahun yang akan datang.... Jadi, seandainya dua tahun yang akan datang kami tidak punya kerjaan.. nomboknya jadi gak kebanyakan.. Nah, sekarang.. nabungnya itu yang susah :D:D:D

Tuesday, February 19, 2008

Kenapa mogok?

Tadi pagi saya mendapat surat dari Kindergarten, yang menyebutkan bahwa  Kiga akan tutup pada hari Kamis, 21.02.2008, dalam rangka Warnstreik (mogok) yang kemarin saya ceritakan itu lho?!

Ternyata pemogokan ini dilakukan oleh Ver.Di (Vereinte Diensleistunggewerkschaft), persatuan tenaga kerja. Para guru TK tergabung di dalamnya. Ternyata Ver.Di ini menuntut kenaikan gaji sebesar 8%, tapi minimal 200 Euro. Karena sejak 2004 lalu mereka belum mengalami kenaikan gaji.

Sebenarnya pada tanggal 24.01.2008, telah ada penawaran 5% kenaikan gaji. Tetapi pada kenyataannya ternyata, 4% kenaikan gaji akan mengalami perpanjangangan selama 2 tahun (gak terlalu ngerti juga maksudnya, apakah ditunda selama 2 tahun, ataukah diberikan bertahap selama 2 tahun), sedangkan 1% diambil lagi dan diberikan hanya kepada yang berprestasi. Selain itu, si pemberi kerja/atasan juga meminta penambahan jam kerja dari 38,5 jam menjadi 40 jam per minggunya. Tentu saja para pekerja merasa dirugikan.

Sebagai orang tua, tentunya kita juga kena dampaknya. Saat mogok nanti, anak-anak dengan terpaksa harus tinggal di rumah. Bagi saya tidak bermasalah, toh saya juga tinggal di rumah. Tapi bagi ibu-ibu yang sekolah atau bekerja, mungkin dengan terpaksa harus mengorbankan sekolah/kerjanya hari itu. Nah, jika para ibu guru itu jadi naik gaji, mungkin gak ya, bayaran TK per bulan pun akan naik?? siap-siap aja kali ya?!

Tuesday, January 29, 2008

Akhirnya... bebas kutu!

Kemarin adalah kontrol kedua setelah periksa kutu dua minggu yang lalu. Pada kontrol yang pertama, si dokter menemukan dua buah telor kutu yang sudah kosong. Dia khawatir, telur itu sudah pecah dan saat itu si anak kutu sedang berkeliaran di kepala Nadin, makanya aku disuruh untuk ngasih obat sekali lagi dan kontrol lagi minggu berikutnya. Dan kemarin, dia masih menemukan satu buah telur kosong setelah pencarian selama hampir 5 menit. Untunglah pada akhirnya dia mengatakan tidak perlu obat lagi, tapi masih perlu dikontrol olehku tiap hari... siapa tau nanti ada lagi. Dan akhirnya surat bebas kutu itupun keluar. alhamdulillah. Padahal seandainya (tidak boleh lho berandai-andai!) si dokter masih neko-neko, aku mau suruh dia cari dulu 10 buah telor kutu, baru aku mau bawa Nadin kontrol lagi, hihihi...

Maaf kalo cerita yang kemaren terkesan terlalu menakut-nakuti. Padahal ada yang bilang kalau sebenarnya di TK itu, kutu sudah biasa. Dan memang ketika aku ditelepon pihak Kiga, dan aku bilang kalo aku harus ke dokter hari Seninnya karena Nadin harus kontrol kutu, si ibunya bilang, "ah.. sama sekali gak masalah.. datang aja..". Tapi menurut Mbak Nuri yang udah 3 tahun di TK itu, biasanya kalau ada yang terkena kutu, suka ada tulisan "Bahaya Kutu!". Bingung? kita benerin benang kusutnya yuk...

Sebenarnya.... penularan kutu di Kiga memang sudah biasa (makanya dokternya Steffie bilang: "sekarang sih bebas kutu, gak tau bulan depan?". Tapi ini bukan berarti mereka tenang-tenang aja dan membiarkan kutu berkembang biak semaunya. Jadi sebenarnya kisah yang saya ceritakan di awal tulisan kemaren juga benar adanya. Dan tau tidak? kalau terkena kutu termasuk salah satu yang menyebabkan anak tidak boleh masuk Kindergarten. Tidak percaya? Untuk ibu-ibu yang sudah memasukkan anak2nya di TK (München) pasti dapet berlembar2 kertas yang harus di baca kan? Nah, salah satunya adalah tentang penyakit. Coba deh cari kertas yang judulnya Belehrung fuer Eltern und sonstige Sorgeberechtige gem. S34 Abs. 5 S. 2 Infektionsschutzgesetz (IfSG). Lihat poin ke-3: ein Kopfausbefall vorliegt und die Behandlung noch nicht abgeschlossen ist. Kopfausbefall yang dimaksud adalah terkena kutu, ada ide lain mungkin?

Nah, kalo soal guru Nadin yang waktu itu membolehkan Nadin masuk TK, karena dia tau kalo Nadin udah mengalami pengobatan, dan buat dia, tidak perlu surat bebas kutu itu :D Tambahan satu lagi, untuk anak di bawah 12 taun, pengobatan kutu ditanggung asuransi. Jadi jangan segan-segan pergi ke dokter biar dikasih resep buat ke apotek. Sayangnya kalo anak terkena kutu, semua penghuni rumah harus diobati juga. Oleh karena itu, jika ada kesempatan ke Indonesia, jangan lupa bawa peditox sama serit (sisir buat ngambilin kutu/telurnya) buat jaga-jaga, karena di sini cukup mahal :D

Friday, January 25, 2008

Antara Nadin dan Kindergarten

Pekan ini kami punya aktivitas baru. Nadin sudah mulai masuk Kindergarten (Kiga) sejak hari Senin kemarin. Kami benar-benar terkejut ketika mendapat telepon dari Kiga pada hari Jumat yang lalu, bahwa kami ditunggu untuk melakukan daftar ulang dan Nadin bisa mulai bergabung di sana Senin nanti. Selama ini kami kira Nadin baru bisa mulai pertengahan Februari, bahkan awal Maret (karena 17 Februari nanti dia baru genap 3 tahun).

Sebenarnya tidak pernah terpikir olehku untuk mendaftarkan Nadin ke Kindergarten begitu cepat, toh waktu itu dia baru 2 tahun lebih dikit. Tapi karena waktu itu Nadin harus keluar dari tempatnya bermain (Kinderkrippe), hanya karena ibunya tidak lagi beraktivitas setelah melahirkan, maka ibu-ibu di Kinderkrippe (Fr. Ibrahim dan Fr. Heinrich) mendorongku untuk segera mencarikan Kiga buat Nadin. Tidak mudah katanya mencari Kiga di München, kadang harus menunggu bertahun-tahun dulu sebelum mendapat tempat. Akhirnya waktu itu mulailah mencari-cari Kiga untuk Nadin.

Ternyata di München ada dua jenis Kiga, Staatlicher Kindergarten (Negri) dan Privat Kindergarten (Swasta). Staatlicher Kindergarten mendapat subsidi dari pemerintah, karena itu biaya tiap anak disesuaikan dengan pendapatan orang tuanya. Sedangkan untuk Privat Kindergarten, biaya tiap anak sama rata dan relatif lebih mahal. Untuk anak 4 jam saja, rata-rata membutuhkan biaya 200 Euro-an (belum termasuk uang makan dan lain-lain). Aku pernah nemu juga KiGa seperti yang Mbak Echa ceritakan (Eltern initiativ), semua kriteria kami terpenuhi di KiGa itu, kecuali... HARGA...  280 Euro per bulan??? (Tanya: "yang lebih bagus ada tidak??" Jawab: "yang lebih murah banyaaaakkk...")

Di sekitar rumah kami ada 4 Kiga, tapi semuanya privat Kiga. Akhirnya pilihan jatuh ke Kiga yang di Giesing sana. Kebetulan Adna juga di sana, jadi sempet nanya ini itu sama Mamanya Adna. Selain itu, Kiga ini juga dekat dengan supermarket (Penny, Tengelmann), toko Turki (Mirac) dan Toko Asia (Mekong). Jadi bisa sekali pergi, dua tiga toko terlampaui

Hal yang paling penting buat kami di Kiga adalah makanan. Karena Nadin masih sangat kecil, jadi kayaknya dia belum ngerti kalo dibilangin, "jangan mau kalo dikasih makan babi ya, Nak, haram!". Untungnya di sana (mungkin karena banyak anak Turki ) tidak disediakan daging babi, bahkan kalopun ada salami, mereka membelinya dari Toko Turki. Alhamdulillah...

Masuknya Nadin ke Kiga mengharuskan kami untuk semakin waspada... kami harus lebih hati-hati dalam berbahasa. Dalam lingkungan berbahasa Jerman, tentu dia dengan sendirinya akan fasih berbahasa ini, meskipun selama ini kami tidak pernah menggunakan bahasa Jerman di rumah (tidak bisa dan tidak biasa, bukan native euy... ntar malah salah lagi ). Sedangkan, kami ingin sekali menanamkan bahasa ibu (basa Sunda) dalam diri anak-anak. Kalau bukan dari orang tua, dari siapa lagi si anak akan mengenal bahasa ini? Perjuangan berat memang... tapi kami harus bisa! Sampai saat ini perbandingan sunda:indo:jerman masih 50:40:10, mudah-mudahan dalam 2 atau 3 tahun ke depan, perbandingannya tidak jadi terbalik. Pengennya sih seimbang tiga-tiganya...

Doakan sajah...