Monday, November 28, 2011

Maroni/Maronen/Ess(Edel)kastanien a.k.a Chestnut

Hm.. apa ya bahasa Indonesianya kacang yang satu ini? masa iya sih 'kacang dada'? :D kalau lihat di Google translate, ini diartikan sebagai Kastanye, tapi saya sendiri belum pernah mendengar namanya waktu masih di Indonesia. Okelah, untuk mudahnya sebut saja Maroni atau Maronen seperti orang sini biasa menyebutnya :D

Pertama kali saya mencicipi Maroni di rumah seorang teman, rasanya ini kacang paling enak di dunia, menurut saya lho. Dagingnya tebal dan legit, wanginya lembut dan rasanya sungguh manis.. ah, pokoknya tiada duanya. "Beli aja mentahnya, bakar sendiri di oven" kata teman saya itu. Akhirnya sayapun mencobanya, dan hasilnya GATOT, udah mah gosong, susah pula mengupasnya. Sejak itu saya tidak pernah membeli Maroni lagi. Sebenarnya ada jualan yang sudah jadi, di kota banyak sekali kios-kios kecil yang menjual Maroni hangat-hangat.. tapi harganya sangat mahal.. kalau tidak salah harganya sekitar 2,5 Euro untuk 8 biji saja. Jadi, ya mending gigit jari sajalah..

Sampai akhirnya, pas anak-anak senang memunguti biji-biji Kastanien di pinggir jalan saat musim gugur, baru saya menyadari kalau biji-biji Kastanien itu mirip sekali denganMaroni.. Hm.. apakah ini si Maroni yang enak itu? kalau memang benar, kan lumayan gak usah beli, asal rajin mungut aja. :D 

Sebelum bertindak ceroboh, tentu saja saya cari-cari dulu di Google. Ternyata, memang benar, Maroni itu sebenarnya masih Kastanien jugalebih tepatnya sering disebut sebagai Esskastanien atau Edelkastanien. Sayangnya ada jenis Kastanien lain yang tidak boleh dimakan, namanya Roskastanien.. dan ini biasanya yang ada di pinggir-pinggir jalan itu. :D Bedanya bisa dilihat dicangkangnya, jika cangkangnya menyerupai landak dengan jarum-jarum halus dan panjang, maka ini adalah Edelkastanien, tapi kalau cangkangnya halus dan memiliki duri-duri tebal, maka ini adalah Roskastanien. Untuk lebih jelas bisa dilihat pada gambar di bawah ini. (Gambar diambil dari Wikipedia)


Kembali ke Maroni, akhirnya rasa kangen saya sama Maroni tidak tertahankan lagi. Pas melihat Maroni-Maroni mentah berjejeran di toko, tanpa pikir panjang saya pun mengambilnya sebungkus. Dan sebelum memasaknya, saya mencoba mencari-cari dulu tehnik memasaknya, supaya tidak gagal seperti dulu lagi. Alhamdulillah, minggu lalu kami bisa menikmati Maroni lagi, dengan tingkat kepuasan 80% :D (karena masih ada kesalahan teknis sedikit).

Caranya begini:
1. Panaskan oven (kalau kemarin saya panaskan 180 derajat celcius)
2. Cuci maroni dengan air, tiriskan dan keringkan dengan lap.
3. Beri sayatan (bentuk cakra) pada kedua sisi Maroni, ini dilakukan untuk mencegah Maroni meledak di dalam oven dan untuk memudahkan ketika mengupas. Sayatan harus agak dalam sampai ke kulit arinya, karena kalau kulit ari tidak tersayat, sama aja susah mengupasnya (pengalaman terakhir kemarin).
4. Masukkan ke dalam oven, panggang selama 10 menit.
5. Maroni masing-masing dibalik, kemudian dipanggang lagi selama 10 menit.
6. Setelah selesai, keluarkan dari oven, bungkus dengan kain lap selama 10 menit.
7. Kupas hangat-hangat, bisa langsung disantap, begitu saja sudah enak. 

Dilihat dari cara membuatnya, yang harus disayat satu-satu.. dan dibolak-balik satu-satu.. barulah kelihatan kenapa kacang ini mahal sekali harga matangnya. :D

Maroni ini termasuk kacang yang rendah lemak dengan kandungan air yang tinggi dan mengandung sedikit minyak, katanya. Nah, tunggu apa lagi? Yuk, mari makan  maroni..
 

Mencari Papah 2

Edisi tahun lalu, dimana kami ditinggal bapaknya anak-anak lintas benua bisa dibaca di sini.

Kebetulannya, tahun ini kami harus mengalami ditinggal lintas benua lagi.. masih ke negara raksasa yang sama, hanya kotanya saja yang beda. Perasaan ditinggalnya masih sama (baca: perasaan saya ini mah), rasanya sepiiiiiiiii kalau gak ada si akang di rumah, meski anak2 tetep heboh, ada satu yang kurang tentu saja tetap ada.

Anak-anak seperti biasa malah senang kalau Papah mau keluar kota, karena artinya mereka bisa ke pergi ke sekolah sama Mamah.. dan tidur sama mamah juga. :)) Dan tau donk siapa yang paling semangat ketika Papah pergi? tentu saja Neng Iyam.. :D Ya, Maryam selalu bilang kalau "Maryam gak suka sama Papah, karena Papah suka peluk-peluk dan cium-cium Maryam sambil bilang "Baby Papah". Papah juga suka berubah jadi anakonda, peluk Maryam yang kencang, atau berubah jadi piranha yang mau gigit-gigit Maryam." Tapi makin Maryam bilang 'gak suka', makin si Papah sukaaaaaaa sama Maryam.. pokoknya kalau udah denger dua orang itu pakeukeuh-keukeuh, bikin perut geli aja.

"Maryam gak suka sama Papah."
"Tapi Papah suka sama Maryam."
"Papah GAK BOLEH suka sama Maryam"
*doh galaknya*

Kemaren pun pas sesi salaman sebelum Papah berangkat, dia yang paling semangat nyalamin bapaknya.. seolah-olah berkata.. "udh cepetan sana Papah pergi!!" haha..

Ketika Papah sudah pergi, rumah pun terasa sepi. Nadin mulai bertanya-tanya,
"berapa lama Papah di Cina?"
"6 kali bobo" jawab saya.
"Papah bakal 6 kali bobo di Cina-nya?"
"hm.. ya 4 kali bobo di hotel, 2 kali bobo di pesawat." jawab saya.
Mendengar kata hotel, Maryam langsung terbangun dari posisi tidur-tidurannya.
"Papah di Cina bobo di hotel????" tanya Maryam kaget.
"Iya." jawab saya.
"Oo.. padahal kan Maryam yang mau bobo di hotel." katanya penuh sesal sambil menjatuhkan diri ke belakang kembali ke posisi tiduran (untung lagi di atas kasur:D).
hihihi.. wek dor pertama buat Maryam.. :D

Paginya kami sibuk menyiapkan segala sesuatu sendiri tanpa Papah. Ligar yang menyadari duluan kalau ada sesuatu yang kurang. "Papah? Papah?" tanyanya ketika sedang dipakaikan jaket.
"Papah nggak ada." jawab saya.
" Paaaapaaaaaahhhhh!!!! Paaaaapaaaaaahhhh!!!" teriaknya memanggil-manggil si Papah..
yaaahh.. tunggu ya, Jang ya.. masih 5 kali bobo lagi.. Mudah-mudahan Papah kembali dengan selamat.

Oiya, katanya Neng Iyam tadi malem mimpi, Papah udah pulang lg dr China.. Wooooo... yang gak suka sama Papah, malah yang kangen paling berat nih tampaknya.. :D

Tuesday, October 25, 2011

Halal - Haram: Dr.Oetker-Produkte

http://forum.misawa.de/showthread.php/9264-Dr.Oetker-Produkte
Dr. Oetker Artikel des Nährmittel-Bereichs, deren Rezeptur frei ist von ( i.S. von nicht enthalten als Zutat ) (Stand 10/2009):
- Zutaten vom Schwein ( im Nährmittelbereich ausschließlich Gelatine )
- Alkohol ( Spuren von Alkohol sind in Klammern hinter dem Produkt aufgeführt )


Weinstein Backpulver
Trockenbackhefe
Hefeteig Garant
Bourbon Vanille-Zucker
Bio Bourbon Vanille-Zucker
Bourbon Vanilleschote
Vanillin – Zucker
Tortenguss klar
Tortenguss gezuckert klar
Tortenguss rot
Tortenguss gezuckert rot
Tortenguss Erdbeer
Sahnesteif
Gustin Speisestärke
Fruttina Zitronen-Geschmack
Käsekuchenhilfe
Backfeste Pudding Creme
Vanilla Tortencreme
Mousse au chocolat Tortencreme
Käse-Sahne Tortencreme
Erdbeer-Sahne Tortencreme
Schoko-Sahne Tortencreme

Gelatine Fix (enthält 0.1% Ethylalkol )
Zitronen - Aroma
Bittermandel Aroma
Rum - Aroma
Rum Aroma (30ml)
Finesse Natürliches Orangenschalen - Aroma
Finesse Geriebene Zitronenschale
Original Pudding Vanille-Geschmack
Original Pudding Sahne-Geschmack
Original Pudding Mandel-Geschmack
Original Pudding Grieß
Original Pudding Erdbeer-Geschmack
Original Pudding Schokolade
Bio Pudding Schokolade
Bio Pudding Bourbon Vanille
Gala Feiner Schokoladen-Pudding
Gala Sahne-Pudding
Gala Bourbon-Vanille
Gala Karamell
Pudding aus Raspeln - Vollmilch Schokolade
Pudding aus Raspeln - feinherb
Pudding aus Raspeln - Bourbon Vanille
Gala Mandella Schoko-Mandel
Gala Mandella Vanille-Mandel

Garant Vanille-Geschmack
Garant Schokolade
Garant Grieß Pudding
Süßer Moment Vanille-Geschmack
Süßer Moment Grießbrei Vanille-Geschmack
Süßer Moment Schokolade
Süßer Moment Milchshake Banane
Süßer Moment Milchshake Erdbeere
Süßer Moment Milchshake Vanille-Geschmack
Paradiescreme Vanille - Geschmack
Paradiescreme Schokolade
Paradiescreme Zitronen - Geschmack
Paradiescreme Stracciatella
Paradiescreme Sahne-Karamell-Geschmack
Paradiescreme Pfirsich - Geschmack
Paradiescreme , Nougat mit Nougatsplits
Paradiescreme des Jahres, Feinherbe Schokolade
Himbeer Creme ( Saisonartikel Sommer 2009 )
Erdbeer Creme ( Saisonartikel Sommer 2009 )
Kirsch Creme ( Saisonartikel Sommer 2009 )
Galetta Schokolade
Galetta Vanille – Geschmack
Creme Tiramisu
Creme Stracciatella
Mousse Zitrone
Mousse au chocolat
Mousse au chocolat fein herb

Mousse a la Vanille
Panna cotta
Götterspeise Instant, Kirsch - Geschmack
Götterspeise Instant Waldmeister – Geschmack
Rote Grütze Himbeer-Geschmack
Rote Grütze Himbeer-Geschmack, mit Sago
Kaltschale Himbeer - Johannisbeer
Kaltschale Erdbeere
Kaltschale Ananas - Maracuja – Geschmack
Aranca Zitronen - Geschmack
Aranca Mandarinen - Geschmack
Aranca Aprikose – Maracuja
Quarkfein Vanille - Geschmack
Quarkfein Erdbeer - Geschmack
Quarkfein Zitrone
Dessert Soße aus Raspeln - Bourbon Vanille
Dessert - Soße zum Kochen Vanille – Geschmack
Dessert - Soße ohne Kochen Vanille - Geschmack
Dessert - Soße ohne Kochen Schokolade
Vitalis Früchte Müsli ( 375g / 600g 1500g )
Vitalis Aprikosen Müsli ( 600g )
Vitalis Schoko Müsli ( 375g / 600g / 1500g )

Vitalis Knusper Schoko ( 375g / 600g 1500g )
Vitalis Knusper Schoko feinherb ( 600g )
Vitalis Knusper Müsli ( 375g / 600g / 1500g )
Vitalis Knusper Flakes ( 600g )
Vitalis Knusper Banane ( 600g )
Vitalis Knusper Honeys ( 375g / 600g )
Vitalis Joghurt Müsli ( 600g / 1500g )
Vitalis Schoko Müsli Kokos ( 600g )
Vitalis Schoko Müsli feinherb ( 600g )
Vitalis Schoko Müsli Kirsch ( 600g )
Vitalis Knusperkissen Schoko ( 425g )
Vitalis Crunchies Schoko ( 425g )
Vitalis weniger süß Knusper Erdbeer ( 600g )
Vitalis weniger süß Knusper Apfel ( 600g )
Vitalis weniger süß Knusper Pur ( 600g )
Vitalis weniger süß Schoko Müsli ( 500g ) (2009)
Vitalis weniger süß Knusper Früchte ( 500g ) (2009)
Vitalis Bio Früchte Müsli ( 425g )
Vitalis Bio Schoko Müsli ( 425g )
Vitalis Knusper Plus Double Chocolate (450g)
Vitalis Knusper Plus Honig-Mandel ( 450g )
Vitalis Knusper Plus Multi-Frucht (450g)
Einmachhilfe
Zitronensäure

Gelfix Classic 1:1
Gelfix Extra 2:1
Gelfix Super 3:1
Extra Gelierzucker 2:1
Gelierzucker für Erdbeer - Konfitüre
Super Gelierzucker 3:1
Diät Gelier Fruchtzucker
Süße Mahlzeit Milchreis nach klassischer Art
Süße Mahlzeit Milchreis Apfel-Zimt
Süße Mahlzeit Milchreis Vanille – Geschmack
Süße Mahlzeit Grießbrei Vanille - Geschmack
Süße Mahlzeit Grießbrei nach klassischer Art
Süße Mahlzeit Milchnudeln Vanille - Geschmack
Süße Mahlzeit Pfannkuchen
Süße Mahlzeit Schokino Püfferchen
Süße Mahlzeit Kaiserschmarrn nach klassischer Art
Süße Mahlzeit Apfel-Püfferchen
Süße Mahlzeit Hafergenuss mit Bourbon-Vanille
Süße Mahlzeit Bio Milchreis
Süße Mahlzeit Bio Grießbrei
Hefeteig
Streuselteig
Obstkuchenteig
Pizzateig italienischer Art
Zwiebelkuchen

Flammkuchen
Bio Schokino Kuchen
Bio Zitronen Kuchen
Schokino Kuchen
Käsekuchen
Gugelhupf
Kokos Kuchen
Zitronenkuchen
Marmor Kuchen
Nuss Kuchen
Schoko Kuchen
Zitronen - Wolke
Marmor - Wolke
Schoko - Wolke
Raffinesse Marzipan
Raffinesse Schoko Kuchen feinherb ( NEU )
Raffinesse Mohn
Raffinesse double chocolate
Muffins
Brownies
Schoko Muffins
Zitronen Muffins
Donauwellen
Spiegelei Kuchen
Kirschli Kuchen
Tortina Nuss Sand Kuchen

Käse-Sahne-Torte
Russischer Zupfkuchen
Kleine Kuchen Käse Streusel Kuchen
Kleine Kuchen Apfel Mandel Kuchen
Kleine Kuchen Schoko Kirsch Kuchen
Maulwurfkuchen
Erdbeer Quark Kuchen
Mandarinen Joghurt Kuchen
Himbeer Frischkäse Kuchen
Pfirsich Joghurt Kuchen
Frischkäse Torte
Tarte au Chocolat
Torta Tiramisu
Tarte au Citron
Rübli Kuchen
Ausstechplätzchen
Butterspritzgebäck
Kokos Makronen
Vanille Kipferl
Mohnwickel
Schoko Gewürzkranz
Schoko Mandel Kuchen mit Kirschen
Lillifee Muffins Vanille-Geschmack
Lillifee Erdbeer-Sahne-Torte
Lillifee Glitzerherz
Lillifee Cremepudding Vanille-Geschmack

Lillifee Erdbeer-Quark-Creme
Cap'n Sharky Schoko-Kuchen
Cap'n Sharky Muffins Vanille-Geschmack
Capt'n Sharky Cremepudding Schokolade
Capt'n Sharky Quark-Creme Vanille-Geschmack

Folgende Produkte des Dr. Oetker Tiefkühlkost- und Frischebereiches sind rezeptorisch frei von Schweinefleisch und Erzeugnissen aus Schwein sowie frei von Alkohol. Enthaltener Wein- oder Branntweinessig ist in Klammern hinter dem jeweiligen Produkt angegeben.

Durch Aromen (Alkohol als Trägerstoff) oder den natürlichen Gehalt von Früchten können Spuren von Alkohol im Endprodukt nicht ausgeschlossen werden
.
(Stand 10/2009):

Tiefkühlkostbereich:
Ristorante Pizza Formaggi & Pomodori
Ristorante Pizza Quattro Formaggi
Ristorante Pizza Funghi
Ristorante Pizza Tonno (Branntweinessig)
Ristorante Pizza Spinaci
Ristorante Pizza Mozzarella
Ristorante Pizza Vegetale (Branntweinessig)
Ristorante Pizza Vegetale Piccante (Branntweinessig)
Ristorante Pizza Biologica Mozzarella
Ristorante Pizza Mozzarella -50% Fett
Ristorante Pizza Piccola Mozzarella
Ristorante Pizza Piccolissima Mozzarella
Big Americans California (Branntweinessig)

Culinaria Turkish Lahmacun Style
Die Ofenfrische Vier-Käse
Die Ofenfrische Thunfisch (Branntweinessig)
Die Ofenfrische Mozzarella-Pesto
Die Ofenfrische Bolognese
Die Ofenfrische 3-Käse-Peperoni (Branntweinessig)
Bistro Baguette Bolognaise
Bistro Baguette Thon
Bistro Baguette Tomate-Fromage
Bistro Gourmet Baguette Bretagne (Branntweinessig)

Frischebereich :
Rote Grütze (500g)
Kirsch Grütze (160g / 500g)
Kirsch Grütze mit Vanille-Creme (160g)
Rote Grütze mit Bourbon-Vanille-Soße (160g)
Rote Grütze für Diabetiker mit Bourbon-Vanille-Soße (160g)
Wintergrütze Pflaume-Zimt mit Bourbon-Vanille-Soße (160g)
Wintergrütze Pflaume-Zimt (500g)
Bourbon-Vanille-Soße (250 ml)
Bourbon-Vanille-Soße 0,1% Fett (250 ml)
Sahne Pudding Bourbon Vanille (150g / 500g)
Sahne Pudding Vollmilch Schokolade (150g / 500g)
Sahne Pudding Grieß (500g)
Pur Choc Schokoladenpudding Ecuador mildfein (2x100g)
Pur Choc Schokoladenpudding Ghana feinherb (2x100g)
Pur Choc Schokoladenpudding Tansania edelbitter (2x100g)

Diät-Pudding Schoko (150g)
Diät-Pudding Vanille-Geschmack (150g)
Light-Pudding Schoko (150g)
Light-Pudding Vanille-Geschmack (150g)
Paula Vanille-Pudding mit Schoko-Flecken (4x125g)
Paula Schokoladen-Pudding mit Vanille-Flecken (4x125g)
Paula Milchcreme mit Schoko-Haselnuss-Flecken (4x125g)
Paula Joghurtdessert mit Erdbeer-Flecken (4x100g)
Paula Joghurtdessert mit Pfirsich-Flecken (4x100g)
Mousse Chocolat (100g)
Wölkchen Typ Cappuccino (125g)
Wölkchen Typ Sahne-Karamell (125g)
Wölkchen Schokolade-Haselnuss (125g)
Wölkchen Klassische Schokolade (125g)
Wölkchen Vanille-Geschmack (125g)
Diät-Wölkchen Schokolade (125g)
Diät-Wölkchen Vanille-Geschmack (125g)
Crème fraîche Classic (150g / 250g)
Crème légère (150g)
Crème légère cremig-flüssig (200ml)
Crème double (125g)
Dip légère Aioli (Weinessig)
Dip légère Paprika-Chili
Zaziki (200g) (Branntweinessig)
Frische Hefe (42g)

Friday, June 17, 2011

Lagunya siapa sih itu??? :D

Sepulang dari Cocoloco hari ini, kami (saya, NML dan Alishya) berjalan dari halte tram menuju rumah. Anak-anak udah mulai loyo setelah bermain seharian, namun Alishya masih semangat aja. Sepanjang jalan dia bernyanyi terus, "Baby.. baby.. baby.. ooooh.." senandungnya tak henti-henti. Waduh.. lagu ABG oy!! karena bukan jamannya lagi, saya mah belum pernah tuh denger lagu itu utuh dr awal sampai akhir, tp dr liriknya Alishya langsung bs nebak donk lagu siapa, soalnya sering denger pas baris itu doank. :D Nadin ama Maryam mah diem aja, soalnya gak kenal lagu itu. Iseng saya tanya Alishya,

"nyanyi lagu apa sih, Shya?" tanya saya.
"Lagu baby itu." jawabnya dengan gaya khasnya Alishya tea. :D
"Oooh... lagunya siapa sih itu?" tanya saya lagi.
"Hannah Montana!" jawab Nadin pasti.
"hahahahaha.." ketawa saya dalam hati.
Alishya langsung membantah donk, "bukan.. bukan lagunya Hannah Montana itu! Itu lagunya mbak Adna sama Adam!"
*bwahahahahahha... ternyata penyanyi lagu Baby berasal dari Cigadung.*

Sunday, June 12, 2011

Kunjungan HNO --> op

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Jadwal kami harus tiba di RS pukul 8.15, jadi selambat-lambatnya kami harus keluar dari rumah pukul 7.15. Waduh, mana saya rada kesiangan bangun gara-gara malamnya gak bisa tidur, dagdigdug terus persis waktu mau sidang/nikah. :D Setelah selesai menyiapkan makanan untuk Maryam, Ligar dan bapaknya yang ditinggal di rumah hari itu, kamipun berangkat.. tanpa sarapan. Nadin memang harus puasa sejak semalam, saya rasanya sudah tidak bisa makan apa-apa juga. Perbekalan sudah lengkap, mulai dari bekal yg dianjurkan klinik, makanan plus buku2 bacaan untuk mengisi waktu pas nungguin Nadin nanti. Saya pun sudah siap membawa Kinderwagen plus kain untuk penutupnya. Jaga-jaga untuk pulangnya nanti kalau-kalau Nadin masih lemas untuk berjalan sendiri.. dan untuk melindunginya dari sinar matahari (maklum, kami pengguna setia kendaraan umum, jadi ada saat dimana kami harus jalan kaki menembus teriknya matahari).

Kami sampai di sana tepat waktu, 5 menit lebih cepat dink. :D Setelah mendaftar, kami menunggu di ruang tunggu sampai ada suster yang menjemput kami dan mengantarkan kami ke kamar tidur. Di sana sudah ada dua orang ibu menunggu, tampaknya kasusnya sama, anaknya juga yang sedang dioperasi. Nadin diminta digantikan bajunya dengan kemeja RS, kemudian diberi minum obat dan dibiarkan tiduran sebentar. Kurang lebih 10 menit kemudian, datanglah seorang bapak yang memangku anaknya yang baru saja selesai operasi. Wah, pasti ibu-bapaknya udah tenang ini, pikir saya. Lah, saya masih dagdigdug aja, mana inget sama anak2 di rumah yang tadi masih pada lelap ketika kami berangkat. 5 menit kemudian saya dipanggil untuk mengantar Nadin ke ruang op. "Anda bisa memangku anaknya?" tanyanya. Bisa lah..

Nadin diberi tutup kepala, kakinya sudah tidak bisa berdiri lagi, dia sudah mulai lemas. Lalu saya pangku, entah dia masih ingat atau tidak. Dia sudah tidak bicara lagi, dan ketika saya simpan di tempat tidur, dia pun tidak menangis. "Anak yang manis, dia sudah mulai lemas ya? bagus lah." kata dokternya. Lalu saya pun keluar dari ruangan itu bersama dengan perawat yang mengantar saya tadi. Si perawat seperti mengerti kegalauan hati saya, dia pun memeluk dan menggandeng saya berjalan kembali ke kamar, memberi saya teh (bikin sendiri sih sebenarnya, dia cuma menunjukkan tempatnya saja :D), dan meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja.

Saya kembali ke kamar, mencoba untuk membaca buku yang saya bawa. Tapi rasanya satu halaman pun tak bisa saya mengerti isinya. Bolak-balik gak jelas, lihat HP, mengirim SMS sama si akang.. ah pokokna mah teu puguh rarasaan. Mau ngobrol sama ibu-ibu itu juga gak enak, karena mereka sama-sama sedang memeluk anaknya masing-masing di tempat tidur.

Sampai akhirnya 20 menit kemudian saya pun dipanggil keluar. Ternyata operasinya sudah selesai. Saya dibawa ke Aufwachraum (ruang bangun tidur? :D), di sana saya disambut oleh dokter anestesi dan seorang perawat. Mereka bilang operasinya berjalan lancar dan kondisi Nadin baik-baik saja, saya diminta untuk menungguinya sampai dia terbangun. Nadin tergolek lemas. Dia tidur dengan posisi kepala miring. Mulutnya sedikit terbuka, mencium lengan baju kanannya, dimana disitu terlihat ada seonggok noda darah. Saya perhatikan, ternyata darahnya memang berasal dari mulutnya. Ah.. miris rasanya melihat Nadin seperti itu, sakit seperti apa ya yang sedang dia rasakan saat itu?? pikir saya.

Tak lama datanglah dokter HNO yang mengoperasi Nadin tadi, namanya dokter U (namanya kok familiar sekali ya?!). Dia menerangkan apa saja yang dia kerjakan tadi, bagaimana kondisi Nadin dan apa yang harus saya lakukan setelahnya. Saya diminta kontrol besok atau lusanya ke beliau di Harlaching, atau di Giesing (tempat praktek HNO yang biasa saya kunjungi). Dan yaaaaa... akhirnya saya menemukan benang merah antara ketiga tempat tadi. Jd ternyata tempat praktek di Giesing ini si dokter U ini yang punya, hanya dia percayakan ke dokter lain untuk prakteknya. Dia sendiri praktek di RS Harlaching, dan dia mengoperasi pasien-pasiennya di klinik itu. Wah, tajir bener si dokter!!! Dan ketiga anak yang ada di kamar itu tuh, ketiga2nya adalah pasien dokter U dari Giesing. :D

Kurang lebih 20 menit kemudian Nadin mulai bergerak, mula-mula tangannya, lalu kepala dan badan. Dia mengerjap-ngerjapkan mata. Saya sapa dia, dan meyakinkan dia bahwa saya akan selalu ada disampingnya. Tiba-tiba dia terbangun duduk, melihat dokter2 berbaju hijau lalu lalang, kemudian tiduran lemas lagi. Setelah perawat datang, saya pangku dia kembali agar bisa beristirahat di kamar. Saya pun diminta untuk ikut tidur di kasur dan memeluk Nadin supaya dia merasa aman dan nyaman, sampai dia tidur lagi. Biarkan dia tidur 1 jam lagi, kata si perawat. Enak juga nih, saya bisa ikutan membayar kekurangan tidur saya tadi malam. :D Nadin agak-agak susah tidur kembali, dia banyak melenguh-lenguh, tapi tidak sampai menangis. Mungkin ini efek obat bius yang diceritakan si dokter kemarin. Setelah saya peluk dan usap-usap, akhirnya diapun tidur lagi.. lelap..

Ternyata ketiga anak yang ada di ruangan itu kasus operasinya sama semua, tapi anaknya berbeda-beda. Anak pertama, laki-laki berumur 3 tahun, orang Jerman, sangat fit. Ibunya bilang, anaknya selalu fit, bahkan setelah diberi obat bius pun, dia susah sekali lemasnya. Setelah bangun dari operasi, si anak langsung ngobrol dan banyak bertanya, dia tidak kelihatan tidur lagi sampai dia pulang, setelah dikasih makan, anak ini minta makan lagi dengan porsi yang sama :D. Anak kedua, perempuan berumur 5 tahun, kurus dan menangis terus setelah dia bangun dari operasi. Ibunya bilang, anaknya memang susah makan, makanya kurus. Efek dari obat bius membuat dia menangis terus.. ditambah lagi, katanya dia baru punya adik baru yang berumur 4 hari, jadi tampaknya memang efeknya tambah-tambah deh. Yang kasihan, anak ini sempat muntah darah 2 kali selama di klinik. Sebenarnya muntah ini nggak apa-apa, katanya kemungkinan dia sempat menelan darah selama operasi. Tapi yah, tetep kasihan melihatnya. Dan ucapan ibunya benar, anak ini susaaaaaah sekali makan, dari dua roti yang diberikan, satu roti pun susah habisnya. Anak ketiga tentu saja Nadin. Dia tidak se-fit anak pertama, pun tidak serewel anak kedua. Dia sedikit melenguh-lenguh saja, kemudian tidur lamaaaaaa sekali, 1,5 jam! Di saat anak lain menunggu makanan datang, Nadin mah ditungguin makanan bangun. :D Begitu bangun, langsung saya tawari makan. Pertanyaan pertamanya, "operasinya udah belum? barusan Nadin tidur nggak?" cute! Setelah selesai makan, diberi makanan penutup es, yang membuat dia senang sekali. Setelah itu, kondisinya dicek lagi oleh dokter, baru kami boleh pulang. Sampai di rumah, Nadin masih sedikit lemas, tapi di atas jam 3 sore dia sudah mulai ceria lagi. Sempat mengeluh sakit menelan, lalu saya berilah obat penghilang sakit yang diberikan oleh dokter.

Keesokan harinya kami cek lagi ke dokter HNO. Kebetulan Nadin tidak boleh kena matahari, kebetulan pula hari itu mataharinya disembunyikan Allah di balik awan. Menurut si dokter kondisinya baik-baik saja, karena pada malam pertama tidak ada keluhan apa-apa, maka kemungkinan ke sananya juga tidak akan ada apa-apa. Nadin boleh kontrol lagi minggu depan. Meski begitu, saya tetap diminta waspada, kalau-kalau dia mengalami pendarahan dari hidung/mulut harus cepat-cepat ke dokter lagi. Meski sebenarnya kejadian seperti ini jarang, katanya. Tapi alhamdulillah, sampai hari ini Nadin masih baik2 saja, kondisinya pun tampak makin membaik. Mudah-mudah begitu seterusnya.

Saturday, June 11, 2011

Kunjungan HNO 5 --> persiapan op

Bulan Maret lalu adalah kontrol kembali kuping Nadin setelah 3 bulan. Dan hasilnya agak sedikit mengagetkan. Kondisinya sedikit memburuk dari kontrol terakhir dan dokter waktu itu sangat-sangat menganjurkan untuk operasi saja, karena sudah setahun katanya, ini sudah terlalu lama. Tapi meski begitu, si Frau dokter masih mau menunggu sebulan lagi. Nadin diberi lagi pil waktu itu dan terapi meniup balonnya tetap dilanjutkan.

4 Minggu kemudian, kami kontrol lagi. Dan kondisinya tak kunjung membaik. Akhirnya dokter pun menetapkan untuk operasi. Karena kami mau liburan dulu waktu itu, akhirnya jadwal operasi baru akan dibuat setelah kami selesai liburan.

Begitu pulang dari Indonesia, saya langsung ke HNO (THT) untuk membuat jadwal operasi. Ternyata waktu itu saya membuat dua jadwal, satu untuk penerangan mengenai operasi itu sendiri, dan satu lagi untuk operasinya. Doh, padahal selama ini juga si dokter sudah banyak bercerita mengenai operasinya itu, dan saya juga sudah banyak membaca2 serta ngobrol langsung dengan ibu yang anaknya berkasus sama. Tapi tetap saja prosedurnya harus diikuti. :D Untuk penerangan operasi, saya boleh memilih, apakah ingin di tempat praktek itu (Giesing) atau di Rumah sakit (Harlaching). Sedangkan operasinya akan dilaksanakan di Klinik Arabella di Bogenhausen. (Hm.. bingung juga saya apa hubungan ketiga tempat ini??). Jadwal operasinya sendiri dibuatkan langsung dari tempat praktek HNO yang biasa saya kunjungi, jadi lebih mudah karena tidak usah repot2 datang ke klinik.

Di penerangan operasi, selain mengontrol kembali kondisi Nadin, dokter HNO kembali menerangkan apa saja yang akan dilakukan nanti saat operasi, yaitu penyobekan gendang telinga, pengeluaran cairan dan pemasangan Roehrchen (lubang ventilasi) serta pengambilan Rachenmandel (polip). Saya diberi berkas-berkas berlembar-lembar, diantaranya surat pernyataan yang harus saya tanda tangan, jadwal operasi, alamat klinik, barang-barang yang harus saya bawa, apa saja yang harus dilakukan sebelum dan sesudah operasi, hal-hal buruk yang mungkin terjadi setelah operasi dan surat untuk dokter anak. Jadi ternyata.. seminggu sebelum op, si anak harus cek up dulu ke dokter anak, padahal hari itu sudah tinggal seminggu menjelang op. Akhirnya hari itu saya mampir dulu ke dokter anak untuk membuat janji, yang mana kebetulan jadwal di dokter anak sedang padat sekali. Tapi akhirnya saya diberi waktu hari Jumat, dengan catatan harus bersedia untuk menunggu lama. Ok lah, drpd nggak.

Cek up ke dokter anak ternyata lumayan lengkap, termasuk cek darah juga. Dan seperti biasa, Nadin mah nangis kalau disuntik ya. Tp langsung berhenti pas diberi hadiah. Maryam juga mau hadiahnya, dia bilang tangannya Maryam juga kemarin berdarah (sambil menunjukkan jari yang dibungkus plester dengan luka palsu :D), Maryam juga harus diambil darah nih kayaknya.. jadi Maryam juga boleh donk dapat hadiahnya. :D:D:D

Sehari sebelum operasi, kami harus datang ke klinik untuk Narkosenarztgespraecht (bincang-bincang tentang anestesi). Bagus juga sih ada jadwal ini, kami sekalian survey tempat, jadi besoknya pas jadwal op, gak bakalan nyasar. Di sini saya diberi dua buah formulir, satu formulir data diri, yang kedua formulir tentang kondisi si anak. Di situ juga ada selembar penjelasan tentang anestesi yang harus saya baca dulu. Kalau ada pertanyaan, nanti langsung dibicarakan dengan dokternya, katanya. Informasi di situ cukup jelas juga. Dokter menjelaskan hal yang sama seperti yang sudah saya baca, hanya dia menerangkan lebih detil lagi, seperti kemungkinan alergi dan efeknya setelah si anak bangun. Saat anak bangun, bisa jadi dia sangat rewel, bahkan menangis terus. Itu biasanya bukan karena kesakitan, tapi masih dari efek obat bius, katanya. Setelah selesai ngobrol panjang lebar, kami pun pulang, dan saya deg-degan semalaman menunggu hari esok.

Kenapa Papa suka jadi Anakonda?

Kalau anak-anak sudah main sama bapaknya, ramenya minta ampun, pokoknya heboh. Akhir-akhir ini permainan yang paling sering dimainkan adalah anakonda-anakondaan. :D Apaan tuh?? bapaknya berperan jadi anakonda, yang bakalan nangkep anak2 satu persatu, lalu dipeluknya erat-erat, kan katanya anakonda itu ular terkuat di dunia, yang bisa membelit lawannya kuat-kuat. Buaya aja kalah lho!! kata Nadin setelah membaca (dibacakan) majalah yang didapatnya dari apotek. Tentu saja kalau sudah main itu, ributnya luar biasa, mulai dari yang ketawa-tawa, menjerit-jerit, sampai akhirnya permainan berakhir kalau sudah ada yang menangis. Dan tentu saja, kalau sudah nangis, larinya ke ibu juga. *sigh*

"Kalian seneng main anakonda?"
"seneng."
"Terus kenapa nangis?"
"habis papa peluknya kencang bangetttt.."
"Anakonda kan memang begitu." potong si Papa gak mau kalah.. hahaha..

Akhirnya ibunya mengorbankan diri buat dipeluk anakonda *grin*, untuk menunjukkan ke anak-anak supaya gak nangis lagi kalau dipeluk anakonda, kan ini cuma permainan, kalau udh sakit, bilang aja ama papa, dan mainnya bisa udahan. Yang ada malah lebih seru, anak-anak berusaha nolongin ibunya dengan mengganggu si anakonda. Hasilnya si anakonda makin ngamuk.. hihihi... ditambah lagi ada baby anakonda (Ligar).. seru!

Setelah cape, kami pun udahan, dan berhasil.. gak ada yang nangis! Tiba-tiba Nadin bertanya,

"kenapa Papa suka berubah jadi Anakonda? terus meluk2 Nadin sama Maryam yang kencaaaang??"
"hm.. kenapa ya?? mungkin gara-gara kalian lucu-lucu sih.. bikin si Papa jadi gemes.." jawab saya.
"mm.. atau mungkin gara-gara Nadin pernah menggambar Anakonda dulu." ujar Nadin.
"Oiya... bisa jadi ya?!" jawab saya.
"atau mungkin gara-gara Maryam menggambar Prinzessin deh (Princess)." kata Maryam.
*garuk2 kepala*
"Prinzessin yang dipeluk Anakonda itu ya?? bisa jadi juga ya.. ". :D

Memang beberapa bulan lalu, Maryam pernah diajari Nadin menggambar anakonda yang sedang melilit buaya. Namun, entah dapat ide darimana, mungkin karena mereka sedang senang menggambar Prinzessin juga, lama-lama gambarnya berkembang, dari buaya... menjadi Prinzessin yang dililit Anakonda.. *mengerikan*