Monday, January 31, 2011

Ujang!

Suatu hari, saat kami mau masuk rumah, Nadin melihat papan nama yang tertera di pintu rumah kami. 
"Mamah itu namanya ada dua, yang N itu Nugraha, yang M itu Martiana." katanya.
"Iya" jawab saya.
"Kalau Nugraha itu nama Papah, kalau Martiana itu nama Mamah." lanjutnya.
"Kalau Nadin, Nugraha juga namanya.. Maryam juga Nugraha.." lanjutnya lagi..

dan saya tunggu kelanjutannya.. ternyata tidak ada.. :D

"Kalau Ligar?? nama belakangnya siapa?" tanya saya.
"Oo.. kalau Ligar mah Ujang." 
*gubrag*

Sunday, January 30, 2011

jadi sakit.. jadi sembuh..

Hari Kamis kemarin, tiba-tiba aja si akang memberitahu saya kalau dia bakal mengambil libur esok harinya. Ternyata dia masih mempunyai jatah cuti sebanyak 4 hari dari jatah tahun lalu, jadi mau diambil setiap hari Jumat katanya. Maklum, jatah cuti tahun lalu harus dihabiskan maksimal bulan Februari tahun ini. Tanpa disangka-sangka, pas menjemput anak hari itu, gurunya bilang kalau hari Jumat, Kindergarten bakal di cat bagian gangnya (sejak libur musim panas tahun lalu, Kindergartennya anak-anak memang sedang renovasi), jadi sebisa mungkin anak-anak tinggal di rumah saja. Wah, ini sih namanya jodoh. Berhubung hari Sabtu si akang harus keluar kota, maka rencana bermain di luar bisa dimajukan saja ke hari Jumat.

Jodoh memang tak kemana, tapi kalau belum jodoh juga tak bisa dipaksa. Ternyata hari Jumat itu luar biasa dinginnya... padahal suhu hanya -6 saja.. mungkin yang bikin dingin itu angin. Jangankan untuk bermain yang perlu waktu berjam-jam, sekalinya keluar untuk belanja pun sudah tak kuat nahan dinginnya.. padahal sudah sambil lari-lari juga biar suhu tubuh lebih hangat. Saya pun memberitahu mereka, kalau udara di luar sangat dingin, saya menawari mereka untuk jalan-jalan aja, tapi gak main. Tanpa disangka-sangka, mereka langsung nurut.. tidak seperti biasanya suka ngeyel kalau udh berurusan sama main. Bahkan untuk sekedar jalan pun mereka tidak mau. Aneh...

Ternyata sorenya baru ketahuan. Tampaknya Nadin dari siang sudah merasa kalau dia tidak enak badan. Sekitar jam 3-an, dia pun tepar di tempat tidur, demam. Pas bangun tidur, dia minta dibuatkan teh. Adik-adiknya mau juga. Maryam mau minum dari gelas yang sama (soalnya Nadin memakai gelas warna pink). Lalu Nadin bilang kalau Maryam gak boleh memakai gelas Nadin.. ada ludah Nadinnya, katanya. Udah gitu Nadin lagi sakit pula, nanti Maryam jadi sakit kayak Nadin.

Maryam pun mengerti, kemudian kembali asyik bermain. Tak lama dia kembali lagi, lalu berkata, "Kalau Nadin minum dari gelas bekas Maryam, Nadin bakal jadi sembuh lhooo..". Aiiiih lucunyaaaa.... tampak logika bolak-baliknya udah jalan.. :D

Waktu itu Maryam memang masih sehat. Tapi keesokan harinya dia pun ikutan tepar. Alhamdulillah hari Minggu tadi Maryam gak demam lagi, tinggal Nadin yang masih hangat. Tapi katanya, besok dia sudah bisa jalan ke dokter gigi.. (fyi, besok kami ada termin dengan dokter gigi anak yang sudah dibuat sejak 6 bulan lalu), mudah-mudahan kondisi anak-anak fit, biar jadwalnya gak usah digeser.. ;)  

Sunday, January 2, 2011

Baso tahu


Description:
Pertama kali dapat resep baso tahu dari Mbak Dian (jaman jebot banget, 2005an kayaknya). Beberapa tahun lalu dapat lagi resep Siomay amboi-nya Mpok Aas... Karena catatannya keburu hilang, saya lupa ini resep siapa.. tapi kalau gak salah dua-duanya hampir sama resepnya. Maklum kalau saya bikin tidak melihat resep lagi, semuanya memakai kira-kira.. *terlalu mengandalkan memory yang jelas2 kapasitasnya kecil, jadi aja hasilnya beda-beda :D*

Makanan ini favorit keluarga.. semua suka.. ibunya juga seneng bikinnya, soalnya gampang.. ;) Adonan ini juga termasuk adonan serbaguna, kalau dikukus jadi baso tahu, kalau digoreng jadi batagor (baso tahu goreng). Kalau dibanyakin tapiokanya, terus digoreng, jadilah cireng. *kedip2 MbakNeta*

Fyi, di daerah Sunda, siomay lebih dikenal dengan nama baso tahu. ;)

Ingredients:
500 g ikan (bisa pakai Alaska Seelachs, Rotbarsch, Buntbarsch (Tilapia), Pangasius atau mungkin ada yg lain lagi :D)
100 g udang/dada ayam
200 g tapioka
3 sdm rata terigu
3 siung bawang putih (bisa juga memakai bawang putih bubuk/bawang putih goreng)
2-3 sdt garam
merica
2 batang daun bawang
kulit pangsit (Wan Tan Teig)
telur
kentang
kol putih

Directions:
1. Haluskan ikan dan udang/dada ayam

2. Haluskan bumbu (bawang putih, merica, garam)

3. masukkan bumbu ke dalam campuran ikan

4. masukkan tepung (tapioka dan terigu), aduk.

5. masukkan irisan daun bawang, aduk lagi sampai merata.

6. Bungkus adonan dengan kulit pangsit (Wan Tan Teig) --> jadi siomay

7. Potong-potong tahu membentuk segitiga, iris tengahnya, masukkan sedikit adonan ke dalam tahu. Bisa juga tahunya digoreng dulu, baru diiris tengahnya, lalu diberi adonan tengahnya, kukus.

8. Bisa juga ditambah telur, kentang dan kol.

9. Kukus semua bahan

10. Sajikan dengan bumbu kacang dan kecap.

Saturday, January 1, 2011

Kirsch-Mandel-Blechkuchen


Description:
Sebenarnya namanya rada dikira-kira, soalnya yang ditanyain sama mbak master cuma resepnya aja, tapi namanya lupa. :D Yang pasti, kue Jerman yang dibakar diatas Backblech (loyang besar) biasanya disebut Blechkuchen. Isinya bisa variatif sekali, ada aprikot-coklat, apel-kayu manis, dll.. dll.. Kalau yang saya buat ini cherry-almond.

Dulu saya gak suka kue ini, tapi tak tahu kenapa kemarin lidah saya langsung terpikat, rasanya sangaaaaatttt lezaaaaattttt, membuatnya pun gampang dan cepat. Danke Mbak Yulis yang udah ngajarin bikin kue ini. ;)

Ingredients:
5 buah telur
250 g gula pasir (saya hanya memakai 200 g saja)
250 g mentega, dicairkan
300 g tepung terigu
8 g baking powder

1 botol cherry, ditiriskan (berat setelah ditiriskan 350 g)
almond cincang

gula halus untuk taburan


Directions:
1. Kocok telur sampai mengembang
2. masukkan gula sedikit demi sedikit
3. masukkan mentega yang sudah dicairkan, kocok lagi.
4. masukkan terigu dan baking powder, aduk.
5. masukkan cherry yang sudah dikeringkan, aduk.
6. siapkan loyang besar, alasi dengan kertas roti
7. tuang adonan ke dalam loyang, taburi almond cincang
8. bakar pada suhu 180 derajat celcius selama 30 menit
9. keluarkan dari oven, biarkan dingin, lalu taburi gula halus

Thursday, December 30, 2010

Neng Iyam saba Mall

Kisah ini mirip sama kisahnya Kang Kabayan *lol*. Ceritanya waktu hari Senin yang lalu, kami harus mencari barang, yang adanya di toko besar di pusat kota sana. Karena sedang libur, sekalian deh pergi bareng sama anak-anak ke sana. *iyalah, kalau ditinggal di rumah dititip ke siapa coba?*. Sebenarnya toko yang kami kunjungi ini tidak tepat juga kalau disebut mall, ini hanyalah toko segala ada, mirip-mirip sama Matahari atau Yogya lah kalau di Bandung mah. Begitu kami masuk ke dalam toko, langsung melihat tangga berjalan yang saling silang mulai dari lantai paling bawah sampai lantai paling atas (total hanya 4 lantai saja). Kalau dilihat dari pinggir bawah, tentu saja yang kelihatan tangga bagian bawah yang rata dan mengkilap. Maryam langsung histeris,

"wuaaaaaahhhhhh, banyak perosotannya!!!" dengan muka melongo penuh takjub tea.
"wuaaaahhh... kita ada dimana ini, Mama?" tanya Nadin.
"Wuaaaahh... baguuuuusssss.. banyak glitze-glitzenya (mengkilap, kerlap-kerlip)" kata dua-duanya...
"Wuaaaaahhh.. tokonya bagus bangeeeeetttttt." lagi-lagi takjub.. :D
...dan masih banyak decakan kagum lainnya...

Ya ampuuuunnnnn.... saya ketawa terbahak-bahak dalam hati. Kata si akang, "waduh, untung kita bukan di Bandung nih sekarang... bisa-bisa orang bilang, ini anak datang dari Jerman, tapi kayak keluar dari hutan begini kalau masuk mall". hahahah...

Setelah dipikir-pikir, lagi-lagi saya baru sadar, kalau selama ini saya memang belum pernah jaraaaaaaaaaaang banget membawa anak-anak ke pusat perbelanjaan seperti hari itu. Ya, saya tipe ibu-ibu yang tidak suka belanja di akhir minggu, selain karena toko-toko penuh berjubel di hari Sabtu, hari itu adalah hari dimana kami semua bisa berkumpul di rumah, jadi enaknya dimanfaatkan untuk bermalas-malasan aja. Kalaupun keluar rumah, kami habiskan untuk bermain bersama, bukan belanja. Semua kegiatan belanja (baik belanja bahan makanan, pakaian, dll) saya lakukan di hari kerja, Senin sampai Jumat, itupun sebisa mungkin dilakukan saat anak-anak sedang di Kindergarten. Maklumlah, anak saya ada 3 dan masih kecil-kecil, kalau pulang sekolah mereka masih dibawa keliling-keliling belanja dulu.

Pulang dari Kindergarten biasanya kami langsung pulang ke rumah, kecuali kalau ada jadwal dokter. Tapi kalau musim panas, anak-anak biasanya ingin main dulu. Tempat mainnya juga sudah pasti ke Spielplatz (taman bermain) yang berserakan dimana-mana *foto Spielplatz bisa dilihat di gambar bawah, klik untuk memperbesar*. Hampir setiap blok dipastikan ada Spielplatz. Bahkan beberapa apartemen memiliki Spielplatz khusus untuk penghuninya.

Kondisi sebaliknya dapat kita temukan di Bandung (cuma kota ini yang bisa saya jadikan contoh, karena tidak pernah tinggal di kota besar lainnya). Di Bandung tampaknya taman bermain susah dicari, namun Mall bisa kita temukan (kasarnya) di setiap perempatan jalan. Waktu pulang 2 tahun lalu, kami menghitung ada (kalau tidak salah) 23 mall di Bandung. Ini bukan hasil kunjungan lho ngitungnya, tapi menghitung dari buku :D. Sedangkan di Munich (kota tempat kami tinggal), dengan luas hampir dua kali lipat Bandung, hanya memiliki 4 buah Mall saja (PEP, OEZ, Riem Arcaden, Marienplatz (yang ini sebenarnya lebih mirip pasar baru), ada yg lain lagi Muenchnerin? tolong tambahkan kalau ada yg lain ya.. ;) ). Itupun rasanya tidak semewah mall-mall di Indonesia. Fyi, Munich merupakan salah satu kota metropolitan di Jerman, sama lah kayak Jakarta, tapi kondisinya sungguh berbeda.

Oya, alternatif bermain yang lain, saat cuaca buruk, biasanya kami bermain di perpustakaan. Kalau saat liburan bagaimana? ya sama aja, kalau bapaknya libur, kami paling jalan-jalan ke Englischer Garten atau taman lainnya (fyi, taman di sini kalau dilihat dari luar kayak hutan lho! :D) atau bisa juga ke danau (di Munich banyak sekali danau). Kadang-kadang kami jalan ke kota juga. Tapi bisa dipastikan, kemanapun kami jalan, mainnya tetep di Spielplatz (kan ada dimana-mana :D). Saya berpikir, tampak bakal susah buat anak-anak kalau suatu hari nanti kami pulang ke Bandung. Saat di sini tempat bermain sangat mudah dicari dan gratis, di Bandung agak-agak susah dan harus bayar. Tapi mudah-mudahan nanti anak-anak tidak berubah menjadi anak mall. :D


Monday, December 27, 2010

Beruang loli bermata belo (Peanut Butter Cookies)


Description:
Gara-gara nonton video membuat kue yang ini , anak-anak jadi ribut ingin melakukan hal yang sama. Karena tampak gampang dan sederhana, maka saya kabulkanlah.. dengan syarat mereka harus memberi saya waktu dulu untuk mencari resep dan belanja bahan-bahannya dulu. Curang juga, di videonya dia memakai tepung campuran yang sudah jadi. Akibatnya saya harus mencari sendiri resepnya. Apa ya namanya? tampaknya Peanut butter cookies deh. Ternyata benar, begitu klik di Google langsung nyambung ke berbagai macam resep kue kering tersebut.

Baru baca sekilas, udah langsung pusing, masalahnya takarannya pake cup. Kalau maksa memakai cangkir biasa di rumah, biasanya suka gagal, makanya saya sudah males bener deh kalau melihat resep dengan standar cup. Akhirnya saya mencoba mencari resep yang sama dalam bahasa Jerman, karena standar Jerman sama dengan Indonesia, memakai timbangan. Dan akhirnya nemu!

Sayangnya, setelah dibaca teliti, meski bahasanya Jerman, satuannya tetap cangkir *duh*. Akhirnya setelah dapat masukan dari Mbak Santi, dapatlah link konversi ukuran cup ke gram. Dan saya putuskan untuk memakai resep yang Amerika lagi, biar asli gitu rasanya. Tapi setelah dibaca lagi, rada ribed juga ya resepnya?! pake shortening segala. Akhirnya balik lagi deh ke resep yang bahasa Jerman. *prinsip saya: cari barang termurah, cari resep termudah*

Resep asli bisa di baca di sini

Ingredients:
250 g tepung terigu (sebenarnya dari hasil konversi butuh 130 g aja, tapi adonannya becek banget, jadi ditambah lagi sampai adonan bisa dibentuk. Kalau mau bikin, terigunya ditambah sedikit demi sedikit saja dulu, takut saya melakukan error ketika menimbang mentega. :D)
¾ sdt soda kue
¼ sdt garam
113 g Butter atau Margarin
125 g Peanut Butter (selai kacang?)
112 g gula pasir
100 g Rohrzucker/Brown sugar (gula palm?)
1 buah telur
½ buah Vanilla

Zuckerschrift warna-warni (gula untuk dekor kue)
smarties
tusuk es (karena belum nemu, jadi diganti tusuk sate dulu, tapi bagian runcingnya dibuang)

Directions:
1. Campurkan tepung, soda kue dan garam.

2. Kocok mentega/margarin sampai terbentuk puncak-puncak kecil.

3. Masukkan selai kacang, kemudian kedua macam gula, lalu kocok lagi sampai tercampur rata.

4. Masukkan telur dan vanilla, kocok lagi.

5. Masukkan campuran tepung (No. 1), lalu uleni sampai terbentuk adonan yang tepat.

6. Panaskan oven pada suhu 190 derajat celcius (kalau di resep asli sebenarnya oven sudah dipanaskan di awal, tapi karena anak-anak yang mencetak kue, maka waktu yang diperlukan mereka lebih lama, sehingga saya baru menyalakan oven saat kue siap dicetak.

7. Bentuk. Aslinya Peanut Butter Cookies: bentuk bola kecil dari adonan, guling-guling di dalam gula (jika suka), simpan di atas loyang, pipihkan bila dengan menggunakan garpu.

Bentuk loli beruang: Buat 1 bola agak besar dan dua bola kecil. Simpan bola di atas loyang dengan posisi bola kecil menempel di bagian atas kiri dan kanan bola besar (jadi kuping beruang). Tusuk bola besar dari bagian bawah dengan tusukan es, lalu pipihkan dengan tangan. Untuk lebih jelas lihat videonya ya..

Simpan masing-masing beruang dengan jarak berjauhan, karena ternyata setelah dibakar kue ini jadi melebar sekali. Idealnya satu loyang besar (Backblech) itu hanya muat 5 atau 6 dengan posisi saling berhadapan. Kemarin diisi 8 biji, 4 di atas 4 di bawah, jadinya saling menempel gak karua-karuan. Kata Maryam, "kok kalau udah dibakar, bentuknya bukan beruang lagi?" :D

8. Bakar selama kurang lebih 10 menit. Biarkan kue di atas loyang panas kira-kira 2 menit sebelum diangkat.

9. Dekor sesuai selera.

Saturday, December 25, 2010

bodoh bahasa (1)

Suatu hari, saya harus mengembalikan sebuah barang pesanan saya. Perangko yang tersedia untuk pengembalian barang tersebut tertera dari Hermes, jadi mau tidak mau, saya harus mengirim barangnya lewat Hermes. (Bagi yang belum tahu, Hermes merupakan salah satu jasa pelayanan paket swasta). Hermes tidak mempunyai toko khusus, biasanya dia menempel pada toko kecil lain, misalnya toko buku dan alat tulis, tukang jahit, laundry, dan lain-lain. Kebetulan Paket shop Hermes langganan saya sudah tutup (toko bukunya yang tutup), jadi saya mencari Paket shop Hermes lainnya, yang ternyata dekat sekali dengan rumah (fyi, Paket shop Hermes bisa dicari di websitenya).

Setelah saya datang ke sana, ternyata toko utama Paket shop yang ini merupakan sebuah Laundry. Di sana digantung beberapa baju berbungkus plastik serta beberapa buah karpet. Dan saya langsung teringat pada karpet di rumah yang tampak sudah perlu dicuci. Setelah urusan paket selesai, saya pun menanyakan perihal karpet pada si ibu.

"Kann ich hier einen Teppich waschen?" tanya saya.
(bisakah saya mencuci karpet di sini?)

"Nein, leider nicht. Aber Sie können Ihren Teppich hier waschen lassen. Ich mache den für Sie." (Tidak, sayang sekali tidak. Tapi Anda bisa mencuci karpet Anda di sini. Saya yang melakukan untuk Anda.)

Seketika saya pun tertawa. Si ibu juga ikut-ikutan tersenyum geli. Yah, saya baru ingat kalau ada satu kata terlewat yang membuat maksud kalimat jadi berbeda. Dalam bahasa Indonesia, kalimat "Bisakah saya mencuci karpet di sini?" rasanya sudah benar, tentu saja secara otomatis itu berarti si ibu yang melakukannya. Tapi dalam bahasa Jerman tidak bisa begitu. Saat kita ingin menyerahkan sesuatu untuk dilakukan orang lain, harus ditambahkan kata kerja 'lassen'.

Misal seperti kalimat tadi, yang betul seharusnya,
"Kann ich hier meinen Teppich hier waschen lassen?"
atau contoh lain saat saya mau membawa anak-anak untuk diimunisasi oleh dokter anak, kalimat yang benar seharusnya, "Ich möchte mein Kind impfen lassen"

Ah, gramatik, saya sudah banyak yang lupa. Terakhir belajar formal bahasa Jerman hampir 4 tahun yang lalu, sampai detik-detik terakhir Maryam akan lahir. Alasan aja ya?! padahal kalau belajar baru kemarin juga belum tentu saya masih jago.. :D Untuk percakapan sehari-hari sebenarnya tidak perlu gramatik yang benar sempurna, selama lawan bicara kita mengerti apa yang kita maksud, tentunya komunikasi masih bisa jalan. Tapi tidak begitu dengan ibu laundry tadi, dan satu tetangga saya. Tapi justru berkat mereka, saya bisa berbicara bahasa Jerman dengan lebih baik,