Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Monday, August 16, 2010

Bendera Indonesia

Ajang pertandingan olahraga ternyata bisa menjadi wahana mengenal bendera untuk anak-anak. Kalau diingat-ingat, begitulah saya waktu kecil, bisa hapal bendera negara-negara di dunia dari menonton olimpiade ataupun piala dunia. Nadin sudah sejak 2008 mulai mengenal bendera Jerman dan Indonesia, itupun gara-gara ada piala Eropa. Di piala dunia kemarin, dia mulai penasaran dengan bendera-bendera negara lainnya. Beberapa ada yang dia hapal pada akhirnya. Maryam? diapun ikut-ikutan.. tapi kadang masih suka ngasal, kadang betul kadang salah, bahkan untuk bendera Jerman, apalagi Indonesia yang tidak terlibat di ajang piala dunia. Sampai...

..hari ini ketika kami sedang berjalan menuju perpustakaan, tiba-tiba dia teriak, "bendera Jerman!".
"Mana?" kata Nadin.
"Itu!" sambil menunjuk ke satu arah.
Dan ketika kami menoleh, benar saja, di salah satu balkon rumah masih terpasang satu bendera Jerman. Wow, kejutan! Berarti dia sekarang sudah tahu betul warna bendera Jerman.

Penasaran, saya coba tes dengan warna bendera negaranya.
"Kalau bendera Indonesia Maryam tahu gak?"
dia terdiam.. lalu menggelengkan kepalanya.
"kalau bendera Indonesia warnanya merah sama putih" jawab saya.
"merah sama putih???!!! iyyyeee.. merah sama putih jadi pink! Maryam suka warna pink! Maryam suka bendera Indonesia!"
"bukan pink, warnanya bendera Indonesia itu merah sama putih." kata saya menegaskan.
"iya, warnanya merah sama putih.. jadi pink.. kalau merah sama biru jadi ungu!" jawabnya.
lho.. lho.. kok jadi main campur-campur warna sih?? *garuk2 kepala*

Akhirnya dia baru mengerti setelah ditunjukkan gambarnya. Hm.. kecewa gak yah dia kalau bendera negaranya nggak jadi pink? :D

Wednesday, April 22, 2009

Kejutan Multibahasa

Tak pernah terbayang dalam benak kami, kalau kami akan membesarkan anak-anak kami dengan banyak bahasa (multilingual). Keberadaan kami yang sampai saat ini masih terdampar di negeri oranglah, yang akhirnya membuat anak-anak belajar lebih dari bahasa ibunya. Sayangnya, saya terlalu percaya diri untuk mendidik anak-anak dengan 'cara saya', yang membuat saya akhirnya kurang peduli dengan teori-teori yang sebenarnya banyak bertebaran di internet. Akibatnya, saya baru menyadari akhir-akhir ini, ternyata banyak kesalahan yang saya lakukan di masa lalu. Tapi hal ini menjadi pelajaran untuk saya dalam mendidik anak-anak saya selanjutnya.

Melihat kondisi bahasa daerah kami yang semakin memburuk setiap harinya, kami bertekad semenjak putri pertama kami lahir, untuk mengajarkan dia bahasa daerah (Sunda) sebagai bahasa pertamanya. Bahasa Indonesia akan kami biarkan dia mendapatkannya dari lingkungan dan sekolah. Ternyata, lingkungan di sini kurang mendukung untuk membiarkan si anak belajar bahasa Indonesia dengan sendirinya. Intensitas pertemuan dengan orang Indonesia tidaklah cukup untuk membuat anak bisa belajar bahasa Indonesia dari mereka. Sehingga kemampuan bahasa Indonesia Nadin sangatlah minim, ditambah lagi banyak yang tidak bisa berbahasa Sunda. Saya menjadi sedikit khawatir, Nadin menjadi kurang percaya diri karena bahasa yang dia kuasai ternyata berbeda dengan orang Indonesia lainnya. Akhirnya ketika dia berusia sekitar dua tahun, saya mulai mengintensifkan berbicara dalam bahasa Indonesia dengannya. Bahasa Sunda juga tidak dihilangkan, masih tetap dipakai. Saya usahakan untuk berbicara satu kalimat penuh dalam bahasa Sunda.. atau satu kalimat dalam bahasa Indonesia. Maksudnya agar si anak tidak mencampuradukkan kedua bahasa tersebut. Tapi (mungkin) memang dasarnya saya kalau bicara bahasanya amburadul, bahasa Indonesia yang kesunda-sundaan.. atau bahasa Sunda yang keIndonesia-Indonesian, meskipun saya sudah berusaha untuk menyusun kalimat sesempurna mungkin, ternyata yang tertangkap sama anak justru yang amburadul itu.

Ketika Nadin memasuki taman kanak-kanak di usianya yang ketiga, dia mulai belajar bahasa asing, yaitu bahasa Jerman, yang memang menjadi bahasa pengantar di sekolahnya. Meski kemampuan bahasanya NOL ketika memasuki TK, alhamdulillah dia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kemampuan bahasa Jermannya makin bertambah dari hari ke hari. Meski sampai saat ini dia belum selancar teman-teman sebayanya dalam berbicara bahasa Jerman, tapi dia masih bisa 'hidup' di sekolahnya..

Di usianya yang keempat, dia mulai bisa membedakan.. mana yang bahasa Indonesia, mana yang bahasa Jerman, juga kapan, dimana dan dengan siapa dia harus menggunakan bahasa-bahasa tersebut. Hal ini baru saya sadari ketika saya membawanya ke dokter anak untuk melakukan U8. Saya juga mulai mengenalkan keberadaan bahasa Sunda. Sebelum-sebelumnya saya hanya bicara saja dalam bahasa Sunda, tapi tidak pernah bilang ke Nadin bahwa ini adalah bahasa Sunda. Sekarang dia mulai tahu, bahwa sekarang di rumah dia menggunakan dua bahasa. Dan dia mulai mengelompokkan kosakata-kosakata yang dia tahu ke dalam bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia. Misalnya:
"Mama, kalau 'hideung' bahasa Sunda atau bahasa Indonesia?"
"Bahasa Sunda"
"Bahasa Indonesianya apa?"
"Hitam."
"Kalau blablabla...?"
dst.. dst..

Sejak kecil, Nadin senang sekali main game di Internet. Dan kebanyakan situs-situs yang menyediakan game yang paling beragam dan menarik untuk anak-anak menggunakan pengantar bahasa Inggris. Saya sendiri tidak pernah mengajarkan bahasa Inggris pada Nadin, saya pikir 3 bahasa pokok untuk saat ini cukup. Bahasa Inggris, meskipun bahasa Internasional, biarkan dia mempelajarinya saat waktunya tiba, kelak. Tanpa disangka-sangka, ternyata dia bisa juga menangkap beberapa kata dari yang sering dia dengarkan di situ. Misalnya: tiba-tiba suatu hari dia bilang, "Mama.. bunga itu kalau bahasa Inggris flower..". Di lain waktu, dia menemukan kata lain, dan dilaporkan lagi.. "Mama, kalau kucing itu bahasa Inggrisnya Cat.". Dan masih ada beberapa kosakata lagi yang dia kenal...

Akhir-akhir ini, Nadin sering sekali memberi kejutan seputar bahasa. Misalnya:
*****************************
ketika saya menonton drama korea atau Jepang, tanpa sengaja dia ikut mendengarkan. Diapun bertanya, "ini bahasa apa sih, Mama? Kok kayak bahasa Indonesia ya??". "Oh.. bukan.. ini mah bahasa Korea/Jepang.". Untung komentar berikutnya cuma.. "ooh..". Bukan "bahasa Koreanya kaos kaki (misal) apa?".
*****************************
Satu kali kami menonton Video Barney di Youtube, yang tentu saja memakai bahasa Inggris. Tiba-tiba dia berkomentar,
"Mama, Barney pinter ya?!"
"Oya?"
"Iya, Barney bisa ngomong bahasa Indonesia, bahasa Jerman sama bahasa Inggris"
Saya bengong.. dan kemudian barulah ingat, kalau dia pernah dipinjamkan VCD Barney yang dialihsuarakan ke bahasa Indonesia.. dia juga suka main game Barney dengan pengantar bahasa Jerman.. dan saat itu, kami sedang menonton video Barney dengan lagu bahasa Inggris. Halah.. saya kok gak pernah kepikiran kalau si Barney ini pinter bisa multilingual ya?!
*****************************
Suatu hari tiba-tiba dia memulai pembicaraan.
"Mama, kalau hiji, dua, tilu, .., sapuluh itu bahasa Indonesia. Kalau satu, dua, tiga, ..., sepuluh, itu bahasa Sunda."
*kaget* "Oo.. bukan, kebalik sayang.. hiji dua tilu itu bahasa Sunda... kalau satu dua tiga bahasa Indonesia."
Sejak ini, dia menjadi sering menanyakan mana yang bahasa Sunda.. dan mana yang bahasa Indonesia.
*****************************
Kesalahan paling fatal yang pernah saya lakukan, ketika dia kecil (kurang lebih usia satu tahun dsk), saya mengajarkan bahasa yang paling mudah untuknya. Tidak konsisten bahasa yang sebenarnya ingin saya ajarkan. Kenapa? Saat itu, sebagai orang tua dari anak pertama, rasanya saya selalu geregetan menunggu setiap tahap perkembangan anak. Termasuk dalam perkembangan bicara. Dan bodohnya saya waktu itu, saya menilai ada beberapa kata tertentu yang terlalu sulit untuk dia ucapkan (padahal sebenarnya tidak ada yang sulit bagi si anak.. mereka hanya perlu waktu). Akhirnya saya mengajarkan kata-kata yang menurut saya mudah untuknya. Misalnya: tikus dan beurit (bahasa Sunda), saya rasa terlalu sulit untuk lidah Nadin, maka saya mengajarkan kata 'Maus' padanya. Dan kata itu terbawa sampai sekarang, meski saya sudah 'insyaf', di luar kesadaran saya. Karena kata 'Maus' memang sering digunakan untuk menyebut salah satu tokoh kartun, bukan tikus beneran. Akibatnya, beberapa waktu lalu, Nadin berkesimpulan bahwa tikus dalam bahasa Indonesia, Sunda, Inggris dan Jerman adalah sama, yaitu 'Maus'. Tanpa angin dan hujan, saya pun merasa seperti disambar petir... Ini benar-benar kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan, tamparan paling keras untuk saya dalam mengajarkan bahasa ke anak. Akhirnya saya jelaskan kata tersebut dalam bahasa-bahasa yang dia kenal. Dan alhamdulillah, dia bisa mengerti. Untunglah...

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, ada beberapa catatan yang patut saya garis bawahi untuk mengajarkan bahasa ke anak-anak saya selanjutnya:
  1. Jangan pernah menganggap kurang kemampuan si anak. Mereka sebenarnya jauh lebih pintar dibandingkan orang tuanya. Sesusah apapun kata yang harus diajarkan ke mereka, mereka pasti bisa mengikuti.
  2. Jangan pernah mencampuradukkan bahasa.

Tuesday, March 3, 2009

Bahasa Indonesia.

Ada artikel menarik nih. Penulis adalah salah satu motivator saya untuk mengajarkan bahasa ibu yang baik dan benar kepada anak-anak saya. Beruntunglah aku mengenalmu dari dekat, Mbak.. ;)


PS: artikel pernah di terbitkan di Jakarta Post. Saya copy-paste di sini atas seizin penulis.
*****************************

Is our language an endangered species?

Santi Dharmaputra ,  Munich, Germany   |  Tue, 10/28/2008 10:24 AM  |  Opinion

I speak to my children in the Indonesian language, while my husband, a French, speaks with them only in French. Our family has been living in three different countries, socializing with Indonesian and French communities alike.

Encountering these two groups in Indonesia, France and other countries of residence, I have noticed different reactions between the French and the Indonesians when hearing us and our children converse in our native languages.

The French, whether they are relatives or friends, treat our children's ability to speak French as natural. They consider it very normal for French children to speak French, even though they have an Indonesian mom and have never lived in France.

In contrast, whenever we mingle with the Indonesian community, abroad or in Indonesia, they are surprised to hear my children and I interact in Indonesian. Listening to my eldest son speak the language causes them to react as if he was speaking an unnatural tongue. It turns out that, for different reasons, many Indonesian parents I meet overseas raise their children in foreign languages.

One group claims it is difficult for themselves to speak it within a foreign environment. Yet another group will say they lost the ability to speak it because they have stayed abroad so long. The latter consists of those who deem it very normal to raise their children in the language environment they live in. For these reasons, the result is the same. The children do not speak their language.

It is puzzling to see many Indonesians abroad and/or married to foreigners consider it tough to raise children in their own tongue, as our country is actually multilingual. Plenty of us are brought up in at least one vernacular language at home along with the Indonesian language at school with good proficiency in each.

However, once living outside the country, many Indonesians seem to become oblivious to this phenomenon. Raising children in more than one language becomes a big issue, and therefore they reject the mother tongue for other languages. It is also strange to hear them use their declining fluency in their mother tongue as a reason to not speak it to their children.

A great number of Indonesians I meet began to live abroad during their university years or after their marriage. That means they have spent at least 18 years of their lives, if not more, in Indonesia. This means they should still be able to speak it with their own children.

It is conceivable, though, that it does take some effort to continue speaking Indonesian in another language environment. Yet if the French, the Chinese or the Turks manage to pass their native languages onto the next generation, why are we not able to do so?

All of this matters because language contains one's identity. Even if someone is brought up overseas or has a foreign father or mother, he/she is still Indonesian by blood. Research shows that immigrant college students, who possess sufficient knowledge of their parents' languages, feel more comfortable about their self-identity. They belong to two or more cultures, and to speak the language is one way to develop a sense of ownership of each.

Since the mother tongue is so important, why would many Indonesians choose to raise their children in foreign languages? In one of his essays, Ajip Rosidi notes that, "The inferior feeling for the Indonesian language and the assumption that being able to chatter in a foreign language will raise admiration among the listeners, are shown daily on TV ..., particularly by the anchors and journalists. It seems that if the speaker does not insert English sentences or words ..., the speaker is worried that (people) will assume he/she is not intelligent ...."

Although acquiring a foreign language is a necessity, our language should not become an orphan in its own country. If our people think of their language as described by Ajip Rosidi, once they live abroad or have a foreign spouse they will always have a good reason to raise their children in other languages. Moreover, my fellow citizens often see their own language as "simple" and "unimportant on the language map", which are illusions.

The global position of a language connects to the nation's politics and socio-economics. Being spoken by fewer people than, for instance, Mandarin, does not make our language insignificant. It is, after all, the language that unifies our country. For some of us it is also the language of love since our parents used it when raising us.

Furthermore, having different grammar from English or Japanese does not categorize our language as simple. In reality it is complicated, as one should acquire both the colloquial and the high varieties to function in every situation.

I believe that our people's reluctance to bring up their offspring in Indonesian is because of our chronic feeling of inferiority, intermingled with a misconception of our own language. Our appreciation for our language within the country is already low, and once living abroad or married to foreigners, we then have every reason to stop passing this mother tongue onto our children. The question is, with this attitude and mentality, how long will our people continue to use the Indonesian language?

The writer raises two quadralingual children and currently resides in Germany. Her research is on multilingualism, multiculturalism and cross-culture-kids. She blogs at http://trilingual.livejournal.com.

Monday, November 17, 2008

Mudik 4: 10.10.08 - 10.11.08


Maryam, Nadin.

Kenapa ya, setiap kali habis dari Indonesia, rasanya seperti habis dari dunia lain? Indonesia - Jerman.. rasanya seperti dua dunia yang berbeda.. padahal sama-sama aja kan? Bedanya, Jerman mah negara 4 musim.. Indonesia mah negara banyak musim.. musim hujan.. musim kemarau... musim duren.. musim rambutan.. musim mangga.. musim batik.. musim mudik.. musim copet.. (eh, aya teu nu ieu?? :D)

Dan setiap kali kami menginjakan kaki kembali di tanah Munich... rasanya seperti baru bangun dari tidur yang sangaaaaaaaat panjang... bangun dari mimpi yang terlalu indah untuk dilupakan... terlalu banyak cerita.. terlalu banyak tawa... Dan ternyata.. ini bukanlah mimpi.. nih.. buktinya.. Meskipun tidak semua orang sempat terdokumentasi di foto2 ini, tapi kisah-kisah bersamanya masih tertancap kuat di dalam kalbu.

Semoga kami bisa segera tinggal kembali di sana.. dua taun lagi yah, Say... *perasaan dr 2 taun yg lalu masih dua taun lagi aja tinggal di Jerman.. hehehe*
Teh Adj, wait for us yah, kayaknya kita bakal tetanggaan nih...

Keterangan Foto: semua nama yang di sebut di sini adalah nama panggilan dari sisi Nadin dan Maryam.

Sunday, September 14, 2008

budaya ngaret budaya kita?!

Suatu hari di kelas bahasa Jerman, kami sedang membahas tentang kultur, tentang bagaimana kebiasaan orang-orang di suatu negara dalam melakukan sesuatu. Hal ini sangat penting diketahui oleh orang asing yang akan berkunjung ke negara tersebut agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, hanya gara-gara beda pemahaman. Tentang ini, saya pernah dapet contoh videonya di Youtube. (Mbak, Mas, bisa kasih linknya? yg dulu tea?). Jadi di video itu, ceritanya ada orang Jerman (kali) yang berbisnis dengan orang China. Dia dijamu, tentu saja, di sebuah restoran. Pertama, kebiasaan mereka (China), memperlihatkan dulu belut yang akan mereka masak, untuk menunjukkan bahwa 'ini masih segar lho'. Si bule agak-agak jijik tampaknya. Setelah terhidang, bule ini menghabiskan makanannya dengan susah payah, tentu saja untuk menghormati tuan rumah yang menjamunya. Sayangnya, di China, itu artinya sang tamu minta lagi. Maka dia kembali diberi hidangan yang sama dengan belut yang lebih besar. Kejadian yang sama terulang.. dan dia pun mendapat belut yang lebbbbiiiihhh besar lagi.. hahahahah... Kocak banget deh videonya...

Nah, kembali ke kursus tadi, sehubungan dengan tema ini, kami mendapatkan tugas untuk menuliskan hal-hal penting yang harus diketahui teman kami (yang akan berkunjung ke negara kami masing-masing), agar dia tidak salah dalam bertindak dan berperilaku selama di negara kunjungannya itu. Misal: bagaimana cara orang mengucapkan salam, cara orang makan, kebiasaan tepat waktu, dll.

Ternyata, setelah masing-masing mempresentasikan hasilnya, ada kesamaan diantara kesepuluh peserta yang berasal dari 10 negara berbeda itu, yaitu kebiasaan tidak tepat waktu alias ngaret. :D Ayayayay... kirain cuma di Indonesia aja orang suka ngaret.. pantesan di kelas kami selalu gurunya (orang jerman tentu saja) yang datang paling pagi.. :D

Ngomongin soal ngaret.. tentu saja orang Indonesia terkenal dengan kebiasaan yang satu ini, meskipun tidak semuanya begitu. Alhasil, dalam acara-acara yang dibuat, biasanya dituliskan satu jam lebih awal dari yang seharusnya. Tapi apa yang dirasakan orang yang datang tepat waktu? tentu saja kesal dan jengkel. Apalagi di saat dia tahu, bahwa jadwal yang tertulis di undangan adalah jadwal palsu.

Pernah saya bertugas membuat undangan untuk suatu acara, atas masukan beberapa orang, jam yang dicantumkan di undangan dituliskan satu jam lebih awal dari yang seharusnya. Tapi bagaimanapun, sebagai pemberi undangan, saya tidak bisa membohongi para undangan saya. Makanya saya datang ke tempat acara tepat waktu, sesuai dengan jam yang tertera di undangan, karena khawatir ada salah satu undangan yang tepat waktu. Ternyata tuan rumahnya yang malah belum siap.. dan saya yang jadi gak enak sama tuan rumah karena datang kepagian.

Sebenarnya perlu nggak sih 'penipuan' ini dilakukan??
Hm.. awalnya sih mungkin berhasil.. tapi.. lama-lama trik ini akan diketahui juga oleh para 'ngaret-ers'. Dan mungkin udah gak ngaruh lagi meski dikasih tau jamnya lebih awal. Bahkan akibat lainnya, para tepat waktu-ers jadi nggak percaya lagi dengan jam yang tertera di undangan, dan mereka malah jadi terbiasa datang sejam setelah waktu yang dijadwalkan. Hal ini bisa jadi malah merubah orang yang terbiasa tepat waktu menjadi tukang telat juga. Hm.. tampak lebih parah.

Katanya sih, gampang aja, tulis aja di undangan waktu yang sebenarnya. Mau berapapun yang datang, acara harus dimulai. Tak usah menunggu yang terlambat datang. Tapi.. kalau pas acara seharusnya dimulai, yang datang hanya yang punya acara? gimana mau memulai?? :D hal ini lagi-lagi jadi masalah buat yang punya acara... Tapi.. tidak ada salahnya dicoba, siapa tahu, lama-lama.. para ngaret-ers akan malu sendiri ketika setiap kali dia datang, selalu di tengah-tengah acara. Siapa tau.. dia akan berubah seiring dengan waktu. Jadi menurut saya, 'penipuan' waktu ini sebenarnya tidak perlu.

Nah, kinilah saatnya..
...kita menghargai si orang yang punya acara...
...menghargai waktu.. waktu kita dan juga waktu orang lain...
...menghargai teman-teman yang sudah terpontang-panting mengorbankan pekerjaan rumahnya demi datang tepat waktu...

Yuk.. kita sama-sama hilangkan budaya ngaret yang sudah mendarah daging dalam diri kita.. :D


NB: saya bukanlah orang yang selalu datang tepat waktu.. bahkan mungkin tak jarang saya datang di penghujung waktu.. Tulisan ini tak lain untuk mengingatkan diri sendiri tuk menjadi orang yang lebih menghargai waktu.

Friday, April 11, 2008

Indonesia, Miniatur Dunia

Semenjak saya tinggal di luar negri, saya mendapatkan pengalaman baru untuk melihat lebih dekat keragaman manusia. Masih ingat kan ada 5 macam ras manusia di dunia ini, katanya Wikipedia nih:
  • Ras Khoisan (orang Bushmen atau Hottentot dari Afrika Selatan)
  • Ras Australoid (orang Dravida, orang Asia Tenggara "Asli", orang Papua, dan orang Australia)
  • Ras Negroid (Kulit Hitam)
  • Ras Kaukasoid (Kulit Putih)
  • Ras Mongoloid (Kulit Putih)
Di sini saya berkesempatan untuk bergaul lebih dekat dengan mereka, karena ternyata di Jerman sini banyak sekali pendatangnya. Terutama ketika ikut kursus bahasa, saya bahkan berkesempatan untuk ngobrol dan lebih mengenal budaya mereka.

Tapi kemudian, saya baru ngeh waktu itu.. kalau sebenarnya orang-orang asli Indonesia pun beragam, dari yang putih.. sampai yang hitam.. ada. Dari yang bermata sipiiit.. sampai bermata belo.. juga ada... Dari yang berambut lurus sampai keriting.. banyak... Terlepas apakah rasnya memenuhi kelima yang tadi atau tidak.. Tapi saya melihat keragaman itu.. tak ada bedanya seperti keragaman di dunia ini.. Dan setiap kali saya disuruh bercerita tentang negara saya.. selalu saya katakan dengan bangga bahwa Indonesia adalah miniatur dunia ..

Indonesia = China ???

Sehabis nganter Nadin ke TK, saya belanja ke toko dekat rumah. Kebetulan ketemu tetangga serumah, Herr Schmidt, namanya. Terus dia teh bilang, "Bu, anda dapat paket hari ini, kalau ada waktu, sekarang bisa diambil di rumah saya..". (keterangan: kalau kita mendapat paket dari pos saat kita tidak di rumah, biasanya (tidak selalu siih..) dititipin ke tetangga). Cihuyyyy... DVD pesenanku datang euy... Seusai belanja, langsung meluncur ke lantai 3, ngambil paket tea. Ternyataaa... paketnya guede banget... Masak sih dua buah DVD bisa segede gaban gitu??? Ooo.. mungkin kaki tiganya si Papa, pikirku.. Tanpa dilihat lagi namanya, kubawa aja langsung ke kamar. Pas dibaca lagi.... ternyata bukan untuk kami... itu untuk Tuan Ponn, tetangga bawah kami. Mereka adalah pasangan orang China (kali.. soalnya sipit, hihihi). Gondok juga nih.. masa sih si Tuan Schmidt gak bisa bedain muka kami??? dari namanya aja udah keliatan beda gitu lho...

Tapi.. memang... ternyata orang sini pada umumnya tidak bisa membedakan muka orang Asia.. maksudnya yang mana asalnya dr China, Thailand, Jepang, Korea, India, dll. Bagi mereka, semuanya sama, muka Asia... Sama sulitnya seperti kita membedakan bule.. yang mana bule Jerman, Inggris, Swedia, Amerika, Rusia, Eropa Timur, dll.

Ternyata kalau dilihat lebih dekat, muka kita yang melayu gini..(katanya wikipedia mah termasuk Australoid) ada mirip-miripnya juga sama orang China (mongoloid). Soalnya di antara beragamnya muka anak-anak di kelasnya Nadin, muka Nadin (Indonesia) dan Claudia (Vietnam), kemiripannya paling besar dibandingin dengan anak-anak yang lain. Kalau katanya Kang Dian sih... kita*) kan memang turunan Arab, China, sama India.. ya hasilnya kayak gini.. ke sana ke mari, miriiiip...

*) kita = orang Indonesia, bukan aku dan kang dian doank..