Suatu hari, ketika kami sedang menunggu bis sepulang dari TK, perut kami rasanya sudah mulai meraung-raung kembali minta diisi. Untunglah sebelumnya, saya sempat membeli pisang di warung terdekat, cukup untuk mengganjal perut sampai rumah. Nadin yang tidak suka pisang, meminta makanan lain, yang kebetulan tidak ada satupun bekal yang saya bawa. Akhirnya saya bujuk dia supaya mau makan pisang.
"Cobain dulu donk, Nadin.. lihat Mama sama Maryam makan pisang. Maryam enak kan ya?"
"yang makan pisang itu monyet" jawabnya ringan..
*lho!*
Kejadian hampir sama terulang, ketika saya pertama kali memberi makan Ligar.
"Ligar.. Ligar.. iiiih.. Ligar makan apaan tuh?" kata Maryam, sambil ngegemes-gemesin adiknya..
"Bubur wortel." jawab saya. "Maryam mau nyobain bubur wortelnya Ligar?"
"Nggak ah.. Maryam nggak suka wortel.. yang makan wortel itu kelinci!"
hahaha... apa ini gara-gara mereka tahu binatang ini makannya itu?? apa memang mereka benar2 tidak suka dengan rasanya??
Tapi ada yang berubah hari ini. Ketika saya menjemput Nadin, dia sedang menikmati satu buah pisang yang hampir habis dengan asyiknya.. sampai2 dia tidak menyadari kehadiran ibu dan adiknya. Hm.. apa ada yang mulai berubah menjadi.. monyet??? *upsss* Tidak donk ah.. ini hanya berubah selera saja.. Moga2 ke depannya mereka tidak pandang bulu lagi dalam menyantap buah dan sayur..
Showing posts with label ngobrol. Show all posts
Showing posts with label ngobrol. Show all posts
Wednesday, January 27, 2010
Tuesday, June 23, 2009
Kartun
Waktu masih kecil dulu, saya lebih senang nonton film kartun daripada film dengan aktor aktris nyata. Mungkin di mata saya dulu (baca: anak-anak), kartun justru terlihat lebih hidup daripada manusia beneran :D Waktu itu saya merasa bahwa film kartun adalah film saya (maksudnya film buat anak-anak). Padahal sebenarnya tidak selalu begitu. Kalau saya perhatikan sekarang, banyak juga film kartun yang tidak cocok menjadi konsumsi anak-anak. Banyak film kartun dengan adegan sadis, yang sebenarnya film-film itu adalah tontonan favorit saya dulu. Tapi kok dulu saya melihatnya biasa-biasa saja ya??! :D Berbeda dengan kondisi sekarang, saya berusaha untuk menjauhkan anak-anak dari film-film seperti itu. Makanya, meski di rumah telah bercokol sebuah pesawat televisi, kami jarang menggunakannya untuk menonton saluran TV. Mereka lebih banyak nonton film-film yang saya pinjam dari perpustakaan. Setidaknya film-film tersebut sudah lulus sensor dari saya.. ;)
Eh, kok jadi ngawur.. Sebenarnya yang mau saya ceritakan bukanlah hal di atas. :D Karena seringnya saya menonton serial film kartun, saya pun secara tidak sengaja jadi memperhatikan karakter-karakter dalam film kartun tersebut. Menurut saya, hampir semua karakter dalam sebuah film, gambar dasarnya sama saja, hanya berbeda dalam detilnya. Misalnya dikasih model baju yang berbeda, warna dan model rambut berbeda, dipakaikan kacamata atau bintik-bintik di muka, jadi deh dua tokoh berbeda.
Nah, semenjak tinggal di sini, saya kok sering menemukan hal serupa di dunia kartun, tapi di dunia nyata. Misalnya, pernah suatu kali, ketika saya sedang di angkutan umum, tiba-tiba saya kaget ketika melihat seseorang yang saya kenal. Ya, dia sama persis dengan tetangga saya. Hanya saja ibu yang ini rambutnya keriting dan kuning keemasan, ditambah dengan mantel selutut dan tas tangan yang dia simpan dipangkuannya. Tampak berbeda sekali dengan ibu tetangga saya yang lebih sering kelihatan mengenakan daster lengkap dengan ciputnya. Tapi senyumnya... SAMA persis.. tak ada yang beda sedikit pun.
Begitupun dengan kemarin, ketika saya melewati toko roti, saya merasa mengenali seseorang yang saya kenal di sana. Saya sampai berjalan mundur kembali untuk memperhatikannya. Kalau memang dia saya kenal, tentunya harus di sapa donk. Wajahnya.. senyumnya.. persis.. Hanya rambutnya yang berbeda, orang ini ternyata memiliki rambut gimbal ala penyanyi Reggae. Dan ternyata dia bukanlah kenalan saya.. :D
Hm.. kadang saya merasa seperti sedang di dunia kartun. Tapi makin lama, saya makin merasa kagum pada-Nya, yang mampu menciptakan ribuan macam karakter di dunia ini.
Eh, kok jadi ngawur.. Sebenarnya yang mau saya ceritakan bukanlah hal di atas. :D Karena seringnya saya menonton serial film kartun, saya pun secara tidak sengaja jadi memperhatikan karakter-karakter dalam film kartun tersebut. Menurut saya, hampir semua karakter dalam sebuah film, gambar dasarnya sama saja, hanya berbeda dalam detilnya. Misalnya dikasih model baju yang berbeda, warna dan model rambut berbeda, dipakaikan kacamata atau bintik-bintik di muka, jadi deh dua tokoh berbeda.
Nah, semenjak tinggal di sini, saya kok sering menemukan hal serupa di dunia kartun, tapi di dunia nyata. Misalnya, pernah suatu kali, ketika saya sedang di angkutan umum, tiba-tiba saya kaget ketika melihat seseorang yang saya kenal. Ya, dia sama persis dengan tetangga saya. Hanya saja ibu yang ini rambutnya keriting dan kuning keemasan, ditambah dengan mantel selutut dan tas tangan yang dia simpan dipangkuannya. Tampak berbeda sekali dengan ibu tetangga saya yang lebih sering kelihatan mengenakan daster lengkap dengan ciputnya. Tapi senyumnya... SAMA persis.. tak ada yang beda sedikit pun.
Begitupun dengan kemarin, ketika saya melewati toko roti, saya merasa mengenali seseorang yang saya kenal di sana. Saya sampai berjalan mundur kembali untuk memperhatikannya. Kalau memang dia saya kenal, tentunya harus di sapa donk. Wajahnya.. senyumnya.. persis.. Hanya rambutnya yang berbeda, orang ini ternyata memiliki rambut gimbal ala penyanyi Reggae. Dan ternyata dia bukanlah kenalan saya.. :D
Hm.. kadang saya merasa seperti sedang di dunia kartun. Tapi makin lama, saya makin merasa kagum pada-Nya, yang mampu menciptakan ribuan macam karakter di dunia ini.
Sunday, April 12, 2009
bayar masing-masing yah..
Kemarin sore saya belanja ke warung dekat rumah, sendirian. Jadinya, sambil ngantri membayar, tanpa sengaja saya memperhatikan orang-orang di sekitar saya waktu itu. Perhatian tertuju ke pasangan yang ada di depan saya. Pasangan?? atau teman?? Hm.. kayaknya sih lebih dari sekedar teman, soalnya mereka pegangan tangan dan tampak mesra sekali. Tapi apa yang terjadi?? Ketika giliran mereka membayar, ternyata mereka punya belanjaan masing-masing.. yang dibayar masing-masing pula. Padahal yang mereka beli juga tidak banyak. Yang perempuan hanya membeli keju dan coklat. Yang laki-laki hanya membeli sebungkus salami. Wah.. heran banget nih.. padahal kalau di Indonesia.. pasangan kayak gitu, pastilah dibayarin sama si cowoknya.. :D
Hal ini mengingatkan saya ke masalah makan-makan. Pernah seorang teman cerita, dia diajakin bosnya makan di Resto. Bayangkan, resto di sini harganya berapa? wartegnya aja udh cukup mahal buat saya mah. Dia udah kesenengan nih mo ditraktir bos. Ternyata, setelah selesai makan, si bos pengennya bayar masing-masing.. heheh... tekor deh yang ada.
Di sini memang, kalau makan di rumah makan, berdua atau rombongan, setelahnya si pelayan pasti bertanya, "Zusammen oder getrennt", maksudnya bayarnya disatuin apa masing-masing?. Sekalipun saya dan si Akang yang makan di sana sembari bawa anak-anak, selalu ditawarin gitu juga. Hm.. orang-orang di sini pada itungan apa memang udah kebiasaan ya?! hehe.. Mulanya saya pikir, hal ini hanya berlaku untuk teman biasa dan atau rekan kerja.. Ternyata kalau lihat pasangan yang tadi, tampak berlaku untuk orang-orang yang dimabuk cinta sekalipun..
Perutku perutmu.. Duitku duitmu.. halah.. :D
Hal ini mengingatkan saya ke masalah makan-makan. Pernah seorang teman cerita, dia diajakin bosnya makan di Resto. Bayangkan, resto di sini harganya berapa? wartegnya aja udh cukup mahal buat saya mah. Dia udah kesenengan nih mo ditraktir bos. Ternyata, setelah selesai makan, si bos pengennya bayar masing-masing.. heheh... tekor deh yang ada.
Di sini memang, kalau makan di rumah makan, berdua atau rombongan, setelahnya si pelayan pasti bertanya, "Zusammen oder getrennt", maksudnya bayarnya disatuin apa masing-masing?. Sekalipun saya dan si Akang yang makan di sana sembari bawa anak-anak, selalu ditawarin gitu juga. Hm.. orang-orang di sini pada itungan apa memang udah kebiasaan ya?! hehe.. Mulanya saya pikir, hal ini hanya berlaku untuk teman biasa dan atau rekan kerja.. Ternyata kalau lihat pasangan yang tadi, tampak berlaku untuk orang-orang yang dimabuk cinta sekalipun..
Perutku perutmu.. Duitku duitmu.. halah.. :D
Friday, April 10, 2009
Merasa diri tidak pernah bertambah tua.. :D
Entah kenapa, tiba-tiba saja saya keingetan beberapa cerita di masa lalu, yang rada nyambung juga sama kondisi sekarang. Ah iya, pasti gara-gara kakak saya minggu lalu jumatan di Salman dan dia mencoba ikutan ngantri untuk makan siang di sana, meski tidak berhasil. :D
Sewaktu saya masih kuliah dulu, beberapa teman saya ada yang suka main ke kosan. Bahkan sebagian yang lain, pernah juga ada yang main ke rumah orang tua saya di kampung sana. Dengan pengalaman beberapa kali bertemu teman-teman saya ini, kakak kelima saya (terpaut 10 tahun usianya dengan saya) menyatakan bahwa, mahasiswa jaman sekarang kok kelihatannya masih pada anak-anak ya? Dulu mah kalau ngelihat mahasiswa teh asa 'karolooot' (tua), katanya. Dulu kapan?? dulu sewaktu dia masih SMA, dimana kakak kedua (yang pengen makan di Salman tadi) dan kakak ketiga saya masih kuliah di kampus yang sama dengan saya.
Waktu itu sih saya nggak terlalu memikirkan hal ini. Saya percaya aja kalau mahasiswa jaman dulu memang kelihatan lebih tua dibandingkan jaman saya kuliah. Sampai akhirnya, tahun lalu, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi kampus kami dahulu. Ternyata selain banyak perubahan dalam hal bangunan, mahasiwanya juga masih pada kanak-kanak, hahaha... Saya bilang ke si Akang, kok mahasiswa jaman sekarang masih pada anak-anak begini sih?? beda ya ama jaman kita dulu?? :D *masih belum sadar, sebenarnya yang berubah siapa sih?*
Beberapa minggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang mahasiswa baru di sini, yang ternyata saya dan dia satu almamater waktu SMA dulu, dan sekampus juga, hanya beda jurusan. Sayangnya, ketika dia masuk SMA, saya lulus, jadi kami memang tidak pernah bertemu. Dan minggu lalu, saya baru tahu kalau ternyata dia sudah menikah. Hah?? anak sekecil itu?? pikir saya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya dia sudah berusia 25 tahun, usia yang sama ketika si Akang menikahi saya.
Ah, kenapa ya kalau melihat anak-anak sekarang, selalu kelihatan masih kecil di mata saya. Mungkin.. karena saya tidak pernah merasa bertambah tua.. :D *sadar, Neng.. sadar..*
Tuesday, September 16, 2008
Lampu mati dan perbaikan jalan
Kemarin adalah hari pertama Nadin kembali ke sekolah.. TK maksudna mah.. setelah liburan selama 6 minggu.. Ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu olehnya. Baru bangun aja, dia udah langsung semangat cuci muka, gosok gigi dan ganti baju. Tak usah mandi lah.. dingin.. lebih tepatnya sih.. duiiingiiiiin sekaliiii... iyalah, suhu menunjukkan 6 derajat Celcius, mana hujan pulak... wah.. udah berasa Winter deh.. Anak-anak didandanin layaknya musim dingin, lengkap dengan jaket tebal, kupluk dan sarung tangan.. tidak lupa baju dalamnya pun udah pakai yang panjang-panjang... Begitu keluar dari pintu.. wuuusshhh... angin langsung menyapa muka kami.. seolah mengucap selamat pagi.
Sampai di perempatan.. duh.. rasanya makin malas lah berjalan ke halte bus.. Karena ternyata lampu merah di perempatan sana sedang rusak (mungkin karena kedinginan :D), jadinya digantikan oleh dua orang polisi. Ditambah lagi dengan perbaikan jalan yang harus kami lewati untuk menuju halte bus.
Lampu merah mati di jalan ini sebenarnya jarang terjadi. Selama kami tinggal di rumah ini (kurleb 1,5 tahun) baru dua kali saja tidak jalan karena sengaja dimatikan untuk diperbaharui. Ini yang ketiga kalinya. Setiap kali lampu ini tidak berfungsi, selalu digantikan oleh dua orang polisi. Yah, memang harus ada yang menggantikan, karena jalan ini cukup besar, masing-masing arah terdiri dari 4 jalur, bolak-balik jadi 8 jalur.. ditambah lagi dengan dua buah jalur tram. Kebayang nggak sih besarnya jalan ini??? Pantesan, setiap kali kami menyebrang.. rasanya gak nyampe-nyampe.. :D *hiperbol pisan*
Untuk mengatur perempatan jalan segede ini, hanya dibutuhkan dua orang polisi saja. Yah, memang sih, kalau kebanyakan mungkin malah jadi pusing.. Ntar ada yang nggak kompak, bisa-bisa malah tabrakan. Tapiii.. tolongin donk kami para pejalan kaki. Dalam kondisi seperti ini, kami yang mengalami kesulitan. Pak Polisi cuman mengatur mobil saja.. jadi kami harus benar-benar memperhatikan mobil dari arah mana saja yang jalan dan yang berhenti, dan mengira-ngira sendiri kapan kami bisa menyebrang. Untungnya saya udah biasa nekad, asal jalanan kosong, nyebrang lah. Sedangkan di sebelah saya, ada Opa-opa yang bingung.. kapan dia harus menyebrang.. ntah berapa lama dia sudah menunggu di sana. Akhirnya saya ajak juga dia untuk nyebrang nekad bareng-bareng. Dan sialnya, hari itu polisinya udah tua, galak lagi.. :((
Setelah ini, kami masih harus melewati tempat perbaikan jalan. Perbaikan ini sudah lama sekali.. sejak awal September lalu.. (halah.. baru dua minggu juga..).. abis rasanya kok gak beres-beres.. (iyalah.. di situnya juga ditulis sampai pertengahan Oktober). Saya memang paling gak suka dengan perbaikan jalan. Selain berisik dan udara menjadi kotor (berdebu), jalanan menjadi tidak nyaman. Memang sih, biasanya para pejalan kaki masih diberi lahan untuk berjalan, tapi sempit dan kadang medannya sangat sulit. Misalnya minggu lalu, jalan yang disediakan untuk kami hanya berupa batu-batu kerikil halus. Alhasil... Stroller yang saya dorong serasa menjadi lebih berat.. dan tenaga yang harus saya keluarkan menjadi lebih besar.. belum lagi, hati merasa diburu-buru oleh orang yang ada di belakang kami. Duh... Untunglah sekarang kami di beri jalan khusus di pinggir jalan raya yang di beri pagar, sebagai tanda agar mobil tidak ada yang nyelonong ke situ.
Sekarang mulai kelihatan.. apa yang sedang mereka perbaiki. Ternyata mereka sedang mengganti tegel trotoar, serta memperlebar trotoar dan memperjelas lajur untuk sepeda. Hm.. aku pikir, trotoarnya masih bagus kok.. ngapain juga diganti? Tapi da mungkin mereka mah punya target, berapa taun sekali harus ganti tegel.. jadi tak perlu menunggu rusak. Beda sekali dengan di Indo, rasanya jalan udah bolong-bolong juga.. susaaah sekali memperbaharuinya.. :D
Selain mengganti tegel, mereka juga memperlebar trotoar. Apa maksudnya lagi ini? Padahal dengan 8 jalur mobil saja, kemacetan di sini masih belum bisa dihindari. Terutama sih pada jam-jam masuk dan keluar kerja. Hm.. mungkin biar orang-orang males naek mobil yah?! dan memberi kenyamanan lebih pada pejalan kaki.. :D Tapi, di sini sih.. gak punya mobil juga.. masih oke tuh naik angkutan umum.. lebih nyaman malahan.. dan yang pasti sih lebih murah.. (kalau nyaman mah kan relatif yah?!) Hm.. kalau di Indonesia.. sayang banget ya, angkutan umumnya masih tidak memadai, sehingga orang-orang lebih suka naik mobil pribadi daripada berdesakan di bis kota. Ah.. jadi inget rumah tetangga saya yang kebabat sepotong gara-gara ada pelebaran jalan.. hiks.. kasian. Tuh.. disaat di sini ada pelebaran trotoar.. di sana malah pelebaran jalan..
Sampai di perempatan.. duh.. rasanya makin malas lah berjalan ke halte bus.. Karena ternyata lampu merah di perempatan sana sedang rusak (mungkin karena kedinginan :D), jadinya digantikan oleh dua orang polisi. Ditambah lagi dengan perbaikan jalan yang harus kami lewati untuk menuju halte bus.
Lampu merah mati di jalan ini sebenarnya jarang terjadi. Selama kami tinggal di rumah ini (kurleb 1,5 tahun) baru dua kali saja tidak jalan karena sengaja dimatikan untuk diperbaharui. Ini yang ketiga kalinya. Setiap kali lampu ini tidak berfungsi, selalu digantikan oleh dua orang polisi. Yah, memang harus ada yang menggantikan, karena jalan ini cukup besar, masing-masing arah terdiri dari 4 jalur, bolak-balik jadi 8 jalur.. ditambah lagi dengan dua buah jalur tram. Kebayang nggak sih besarnya jalan ini??? Pantesan, setiap kali kami menyebrang.. rasanya gak nyampe-nyampe.. :D *hiperbol pisan*
Untuk mengatur perempatan jalan segede ini, hanya dibutuhkan dua orang polisi saja. Yah, memang sih, kalau kebanyakan mungkin malah jadi pusing.. Ntar ada yang nggak kompak, bisa-bisa malah tabrakan. Tapiii.. tolongin donk kami para pejalan kaki. Dalam kondisi seperti ini, kami yang mengalami kesulitan. Pak Polisi cuman mengatur mobil saja.. jadi kami harus benar-benar memperhatikan mobil dari arah mana saja yang jalan dan yang berhenti, dan mengira-ngira sendiri kapan kami bisa menyebrang. Untungnya saya udah biasa nekad, asal jalanan kosong, nyebrang lah. Sedangkan di sebelah saya, ada Opa-opa yang bingung.. kapan dia harus menyebrang.. ntah berapa lama dia sudah menunggu di sana. Akhirnya saya ajak juga dia untuk nyebrang nekad bareng-bareng. Dan sialnya, hari itu polisinya udah tua, galak lagi.. :((
Setelah ini, kami masih harus melewati tempat perbaikan jalan. Perbaikan ini sudah lama sekali.. sejak awal September lalu.. (halah.. baru dua minggu juga..).. abis rasanya kok gak beres-beres.. (iyalah.. di situnya juga ditulis sampai pertengahan Oktober). Saya memang paling gak suka dengan perbaikan jalan. Selain berisik dan udara menjadi kotor (berdebu), jalanan menjadi tidak nyaman. Memang sih, biasanya para pejalan kaki masih diberi lahan untuk berjalan, tapi sempit dan kadang medannya sangat sulit. Misalnya minggu lalu, jalan yang disediakan untuk kami hanya berupa batu-batu kerikil halus. Alhasil... Stroller yang saya dorong serasa menjadi lebih berat.. dan tenaga yang harus saya keluarkan menjadi lebih besar.. belum lagi, hati merasa diburu-buru oleh orang yang ada di belakang kami. Duh... Untunglah sekarang kami di beri jalan khusus di pinggir jalan raya yang di beri pagar, sebagai tanda agar mobil tidak ada yang nyelonong ke situ.
Sekarang mulai kelihatan.. apa yang sedang mereka perbaiki. Ternyata mereka sedang mengganti tegel trotoar, serta memperlebar trotoar dan memperjelas lajur untuk sepeda. Hm.. aku pikir, trotoarnya masih bagus kok.. ngapain juga diganti? Tapi da mungkin mereka mah punya target, berapa taun sekali harus ganti tegel.. jadi tak perlu menunggu rusak. Beda sekali dengan di Indo, rasanya jalan udah bolong-bolong juga.. susaaah sekali memperbaharuinya.. :D
Selain mengganti tegel, mereka juga memperlebar trotoar. Apa maksudnya lagi ini? Padahal dengan 8 jalur mobil saja, kemacetan di sini masih belum bisa dihindari. Terutama sih pada jam-jam masuk dan keluar kerja. Hm.. mungkin biar orang-orang males naek mobil yah?! dan memberi kenyamanan lebih pada pejalan kaki.. :D Tapi, di sini sih.. gak punya mobil juga.. masih oke tuh naik angkutan umum.. lebih nyaman malahan.. dan yang pasti sih lebih murah.. (kalau nyaman mah kan relatif yah?!) Hm.. kalau di Indonesia.. sayang banget ya, angkutan umumnya masih tidak memadai, sehingga orang-orang lebih suka naik mobil pribadi daripada berdesakan di bis kota. Ah.. jadi inget rumah tetangga saya yang kebabat sepotong gara-gara ada pelebaran jalan.. hiks.. kasian. Tuh.. disaat di sini ada pelebaran trotoar.. di sana malah pelebaran jalan..
Sunday, September 14, 2008
budaya ngaret budaya kita?!
Nah, kembali ke kursus tadi, sehubungan dengan tema ini, kami mendapatkan tugas untuk menuliskan hal-hal penting yang harus diketahui teman kami (yang akan berkunjung ke negara kami masing-masing), agar dia tidak salah dalam bertindak dan berperilaku selama di negara kunjungannya itu. Misal: bagaimana cara orang mengucapkan salam, cara orang makan, kebiasaan tepat waktu, dll.
Ternyata, setelah masing-masing mempresentasikan hasilnya, ada kesamaan diantara kesepuluh peserta yang berasal dari 10 negara berbeda itu, yaitu kebiasaan tidak tepat waktu alias ngaret. :D Ayayayay... kirain cuma di Indonesia aja orang suka ngaret.. pantesan di kelas kami selalu gurunya (orang jerman tentu saja) yang datang paling pagi.. :D
Ngomongin soal ngaret.. tentu saja orang Indonesia terkenal dengan kebiasaan yang satu ini, meskipun tidak semuanya begitu. Alhasil, dalam acara-acara yang dibuat, biasanya dituliskan satu jam lebih awal dari yang seharusnya. Tapi apa yang dirasakan orang yang datang tepat waktu? tentu saja kesal dan jengkel. Apalagi di saat dia tahu, bahwa jadwal yang tertulis di undangan adalah jadwal palsu.
Pernah saya bertugas membuat undangan untuk suatu acara, atas masukan beberapa orang, jam yang dicantumkan di undangan dituliskan satu jam lebih awal dari yang seharusnya. Tapi bagaimanapun, sebagai pemberi undangan, saya tidak bisa membohongi para undangan saya. Makanya saya datang ke tempat acara tepat waktu, sesuai dengan jam yang tertera di undangan, karena khawatir ada salah satu undangan yang tepat waktu. Ternyata tuan rumahnya yang malah belum siap.. dan saya yang jadi gak enak sama tuan rumah karena datang kepagian.
Sebenarnya perlu nggak sih 'penipuan' ini dilakukan??
Hm.. awalnya sih mungkin berhasil.. tapi.. lama-lama trik ini akan diketahui juga oleh para 'ngaret-ers'. Dan mungkin udah gak ngaruh lagi meski dikasih tau jamnya lebih awal. Bahkan akibat lainnya, para tepat waktu-ers jadi nggak percaya lagi dengan jam yang tertera di undangan, dan mereka malah jadi terbiasa datang sejam setelah waktu yang dijadwalkan. Hal ini bisa jadi malah merubah orang yang terbiasa tepat waktu menjadi tukang telat juga. Hm.. tampak lebih parah.
Katanya sih, gampang aja, tulis aja di undangan waktu yang sebenarnya. Mau berapapun yang datang, acara harus dimulai. Tak usah menunggu yang terlambat datang. Tapi.. kalau pas acara seharusnya dimulai, yang datang hanya yang punya acara? gimana mau memulai?? :D hal ini lagi-lagi jadi masalah buat yang punya acara... Tapi.. tidak ada salahnya dicoba, siapa tahu, lama-lama.. para ngaret-ers akan malu sendiri ketika setiap kali dia datang, selalu di tengah-tengah acara. Siapa tau.. dia akan berubah seiring dengan waktu. Jadi menurut saya, 'penipuan' waktu ini sebenarnya tidak perlu.
Nah, kinilah saatnya..
...kita menghargai si orang yang punya acara...
...menghargai waktu.. waktu kita dan juga waktu orang lain...
...menghargai teman-teman yang sudah terpontang-panting mengorbankan pekerjaan rumahnya demi datang tepat waktu...
Yuk.. kita sama-sama hilangkan budaya ngaret yang sudah mendarah daging dalam diri kita.. :D
NB: saya bukanlah orang yang selalu datang tepat waktu.. bahkan mungkin tak jarang saya datang di penghujung waktu.. Tulisan ini tak lain untuk mengingatkan diri sendiri tuk menjadi orang yang lebih menghargai waktu.
Saturday, September 13, 2008
Senior dan Junior
Masih terngiang-ngiang di kuping ini teriakan-teriakan dan bentakan-bentakan mereka.. ditambah lagi dengan pukulan keras di atas meja. Belum lagi hukuman-hukuman yang disebabkan oleh kesalahan yang sebenarnya di ada-ada. Mereka menamakan dirinya Tatib. Merekalah senior-senior saya di SMA dulu. Mereka punya tiga aturan, yang juga masih saya ingat sampai sekarang.
Pasal 1, Tatib selalu benar.
Pasal 2, Siswa selalu salah.
Pasal 3, Jika Tatib salah, kembali ke pasal 1.
Jadinya dalam seminggu masa penataran P4 waktu itu, semua siswa baru ada dalam kondisi tertindas di bawah kekuasaan para tatib ini. Dua tahun setelahnya, siswa-siswa tertindas tadi berubah menjadi penindas.. :D
Ketika masuk kuliah... para Tatib ini tidak menghilang, mereka tetap ada.. wujudnya yang mengerikan tetap sama... hanya namanya yang berbeda. Mereka menamakan dirinya Swasta. Bedanya, mereka lebih banyak, lebih kejam dan teriakannya lebih dahsyat. Meskipun begitu, beberapa tahun berikutnya kisah-kisah tadi sangat indah untuk dikenang. Tak jarang kami (saya dan teman-teman seperjuangan) sampai tertawa berurai air mata saat saling menceritakan kembali kisah-kisah mengerikan sekaligus menggelikan tadi. Yup.. kisah mengerikan yang sengaja dibuat dengan skenario sedemikian rupa, hanya untuk membuat para junior tahan mental.. tahan banting dalam menghadapi masalah sebesar apapun semasa kuliah (katanya.. :D).
Dan ternyata.. dalam kehidupan nyata selepas kuliah.. dimana saya memulai hidup sebagai orang dewasa (ciee..), senioritas itu malah semakin terasa... makin menyesak ke dalam dada.. karena di sini sudah tidak ada lagi skenario.. tidak ada lagi rasa takut orang tua sang junior akan menuntut.. Aturannya tetap sama: Senior selalu benar, Junior selalu salah.
Untungnya... tidak semua Senior seperti ini.. masih ada juga kok yang mau dengerin dan menghormati pendapat dan pengetahuan Juniornya.. ;)
Pasal 1, Tatib selalu benar.
Pasal 2, Siswa selalu salah.
Pasal 3, Jika Tatib salah, kembali ke pasal 1.
Jadinya dalam seminggu masa penataran P4 waktu itu, semua siswa baru ada dalam kondisi tertindas di bawah kekuasaan para tatib ini. Dua tahun setelahnya, siswa-siswa tertindas tadi berubah menjadi penindas.. :D
Ketika masuk kuliah... para Tatib ini tidak menghilang, mereka tetap ada.. wujudnya yang mengerikan tetap sama... hanya namanya yang berbeda. Mereka menamakan dirinya Swasta. Bedanya, mereka lebih banyak, lebih kejam dan teriakannya lebih dahsyat. Meskipun begitu, beberapa tahun berikutnya kisah-kisah tadi sangat indah untuk dikenang. Tak jarang kami (saya dan teman-teman seperjuangan) sampai tertawa berurai air mata saat saling menceritakan kembali kisah-kisah mengerikan sekaligus menggelikan tadi. Yup.. kisah mengerikan yang sengaja dibuat dengan skenario sedemikian rupa, hanya untuk membuat para junior tahan mental.. tahan banting dalam menghadapi masalah sebesar apapun semasa kuliah (katanya.. :D).
Dan ternyata.. dalam kehidupan nyata selepas kuliah.. dimana saya memulai hidup sebagai orang dewasa (ciee..), senioritas itu malah semakin terasa... makin menyesak ke dalam dada.. karena di sini sudah tidak ada lagi skenario.. tidak ada lagi rasa takut orang tua sang junior akan menuntut.. Aturannya tetap sama: Senior selalu benar, Junior selalu salah.
Untungnya... tidak semua Senior seperti ini.. masih ada juga kok yang mau dengerin dan menghormati pendapat dan pengetahuan Juniornya.. ;)
Ngempeng...
Anak sebesar itu?? ngempeng???
Ah, sebenarnya hal ini bukanlah hal aneh di sini. Anak-anak sebesar Nadin pun di Kindergarten masih ada yang ngempeng.. meskipun jarang.. tapi ada.. Bahkan waktu Nadin di Krippe dulu, yang berarti anak-anaknya di bawah umur 3 tahun semua, masih banyak anak yang ngempeng. Mungkin bagi mereka tidak ada yang salah.. bagiku juga sih.. terserah.. hanya rasanya lucu aja, melihat anak yang sudah tinggi besar, bisa berlarian ke sana kemari, bisa berantem dan mukul temannya.. tapi gak bisa ngomong gara-gara mulutnya tersumbat sama si Empeng tadi.
Aku sendiri, tidak membiasakan hal itu pada anak-anak, soalnya kasian atuh ya.. kayak ditipu gitu anaknya.. trus khawatir kembung juga.. plus takut susah nyapihnya. Waktu mereka bayi, sempat dicobain (iseng aja). Mereka memang gak mau sih.. si Empeng selalu dilemparkan dari mulutnya. Kecuali Nadin, dia sempet ngempeng umur 2 tahun, hahaha... ini gara-gara dia menemukan Empeng hadiah di bingkisan rumah sakit ketika Maryam lahir. Jadi ini mah bukan kebiasaan.. hanya keingintahuan semata.
Nah, gara-gara aku gak ngasih anakku empeng, aku sempat dimarahin kakek-kakek (apa nenek-nenek ya?!). Waktu itu aku sama Nadin kecil (mungkin 8 bulanan) sedang di dalam S-Bahn. Karena anaknya anteng dan lucu (kali?!), Nadin mengundang perhatian beberapa orang, termasuk si kakek itu. Trus di ajak ngobrol.. diajak maen.. Trus si kakek bertanya padaku,
"Mana empengnya?"
"Oo.. dia tidak punya, aku gak kasih dia empeng.."
(mulai nyureng) "kenapa?"
"karena itu tidak bagus buat dia" jawaban sekenanya, males mikir bahasa Jermannya apa.. hihihi...
si Kakek protes lagi, "siapa bilang? anak-anak itu butuh kesibukan.. biar dia gak rewel". Padahal mah waktu itu si Cuneng meni lagi anteeeeeng banget..
"Dia gak rewel kok.. lagian saya bawa banyak mainan biar dia gak bosen.."
"tapi anak-anak itu butuh Empeng!!" keukeuh.. dasar...
"Egal (terserah)"
Ah, saya juga gak ngerti, apa alasan mereka ngasih empeng ke anak hanya sekedar agar anak punya kesibukan dan gak rewel? atau mungkin ada alasan lain yang lebih kuat. Karena katanya... meskipun empeng tidak terlalu berpengaruh pada perkembangan gigi dan gusi, tapi ngempeng ini bisa menyebabkan anak mudah kembung. Kasihan kan???
Friday, July 4, 2008
Wawancara migrasi via telepon
Lebih tepatnya ini hanyalah mengisi kuosioner.. tapi karena dilakukan lewat telepon, jadi terkesan wawancara ;). Tiba-tiba saja hari ini saya mendapat telepon dari BAMF (Badan Migrasi dan Fengungsian Pengungsian). Sebagai seorang yang pernah mengikuti Integrationskurs, tentunya tidak mengherankan mendapat telepon dari kantor ini. Yang aneh malah pertanyaannya... saya kok malah merasa diinterogasi tentang agama daripada tentang migrasi itu sendiri.
Pertanyaan awal-awal... masih masuk akal.. seperti...
lahir dimana... taun berapa..
kewarganegaraan...
interaksi dengan orang Jerman dimana aja.. (tempat kerja, sekolah, tetangga, dll)
Seberapa sering berinteraksi dengan mereka?
Kemampuan berbahasa.. (berbicara, mendengar, menulis, membaca)
Keikutsertaan Integrationskurs.. termasuk ujian dan sertifikat.. (untung gak ditanya dapat nilai berapa, hehehe...)
Sejak kapan tinggal di Jerman...
Alasan datang ke Jerman... (sekolah, bekerja, mencari perlindungan... tapi pilihannya gak ada ikut suami.. :p)
Keterlibatan dalam berbagai organisasi di Jerman...
Pekerjaan...
Penghasilan...
Beberapa bantuan sosial yang diperoleh... (Kindergeld, dan Geld-geld lainnya)
Keterlibatan dalam berbagai organisasi di Indonesia...
Pekerjaan di sana.. (yang mana... tidak ada.. alias pengangguran :D)
Pendidikan...
Lulus tidak... (haduh.. lulus.. tidak.. lulus.. tidak.. lulus.. Lupa, Bu, ach...)
Sampai akhirnya tiba ke pertanyaan...
agama... (Islam, tentu saja..)
Suni.. syiah.. Ahmadiyah??? (halah.. sampai ditanya alirannya segala)
Terlibat dalam beberapa organisasi Islam di Jerman?
Anda mengenal dan terlibat beberapa organisasi Islam berikut ini? (aduh.. meni berasa lagi memperpanjang Visa di Landratsamt)
Berapa kali Anda pergi ke mesjid? (meni pengen tau aja ini teh..)
Anda memakai Kopftuch (kerudung)?
Alasan? (ada banyak pilihan jawaban: saya pilihnya karena agama, rasa aman, modis, dan identitas diri... bukan tradisi.. ataupun paksaan orang tua, suami dan keluarga)
Setujukah Anda dengan pernikahan antar agama? (halah.. apalagi ini??? dan tentu saja jawaban saya.. tidak..)
Kemudian:
Anda punya pasangan? menikah?
lahir dimana.. kapan... kewarganegaraan..
yang ini langsung ke agama....
Tinggal dengan siapa saja di rumah?
Siapa nama anaknya? Kapan lahirnya?
Agamanya? pakai kerudung? (lagi... lagi...)
Setujukah Anda kalau anak2 Anda menikah dengan yang berlainan agama???
Hmm.. masih penasaran sebenarnya kuosioner ini buat apaan ya?
Apa ada hubungannya sama memperpanjang visa nanti???
Waddduuuhhh... pusyiiiing aahhhh...
Ada yang pernah ngalamin?
Pertanyaan awal-awal... masih masuk akal.. seperti...
lahir dimana... taun berapa..
kewarganegaraan...
interaksi dengan orang Jerman dimana aja.. (tempat kerja, sekolah, tetangga, dll)
Seberapa sering berinteraksi dengan mereka?
Kemampuan berbahasa.. (berbicara, mendengar, menulis, membaca)
Keikutsertaan Integrationskurs.. termasuk ujian dan sertifikat.. (untung gak ditanya dapat nilai berapa, hehehe...)
Sejak kapan tinggal di Jerman...
Alasan datang ke Jerman... (sekolah, bekerja, mencari perlindungan... tapi pilihannya gak ada ikut suami.. :p)
Keterlibatan dalam berbagai organisasi di Jerman...
Pekerjaan...
Penghasilan...
Beberapa bantuan sosial yang diperoleh... (Kindergeld, dan Geld-geld lainnya)
Keterlibatan dalam berbagai organisasi di Indonesia...
Pekerjaan di sana.. (yang mana... tidak ada.. alias pengangguran :D)
Pendidikan...
Lulus tidak... (haduh.. lulus.. tidak.. lulus.. tidak.. lulus.. Lupa, Bu, ach...)
Sampai akhirnya tiba ke pertanyaan...
agama... (Islam, tentu saja..)
Suni.. syiah.. Ahmadiyah??? (halah.. sampai ditanya alirannya segala)
Terlibat dalam beberapa organisasi Islam di Jerman?
Anda mengenal dan terlibat beberapa organisasi Islam berikut ini? (aduh.. meni berasa lagi memperpanjang Visa di Landratsamt)
Berapa kali Anda pergi ke mesjid? (meni pengen tau aja ini teh..)
Anda memakai Kopftuch (kerudung)?
Alasan? (ada banyak pilihan jawaban: saya pilihnya karena agama, rasa aman, modis, dan identitas diri... bukan tradisi.. ataupun paksaan orang tua, suami dan keluarga)
Setujukah Anda dengan pernikahan antar agama? (halah.. apalagi ini??? dan tentu saja jawaban saya.. tidak..)
Kemudian:
Anda punya pasangan? menikah?
lahir dimana.. kapan... kewarganegaraan..
yang ini langsung ke agama....
Tinggal dengan siapa saja di rumah?
Siapa nama anaknya? Kapan lahirnya?
Agamanya? pakai kerudung? (lagi... lagi...)
Setujukah Anda kalau anak2 Anda menikah dengan yang berlainan agama???
Hmm.. masih penasaran sebenarnya kuosioner ini buat apaan ya?
Apa ada hubungannya sama memperpanjang visa nanti???
Waddduuuhhh... pusyiiiing aahhhh...
Ada yang pernah ngalamin?
Subscribe to:
Posts (Atom)