Waktu di tempat kursus, gak tau asalnya darimana, pokoknya kami tiba-tiba membahas model rambut dalam bahasa Jerman. Sampai satu ketika, si Ibu bilang model diikat satu ke belakang namanya "Pferdeschwanz" = buntut kuda, Pferd = Kuda, Schwanz = buntut (sama aja namanya kayak di kita ya?!). "Tapi," katanya lagi, "Anda jangan sembarangan bilang "Schwanz" ya, dalam Umgangsprache (bahasa gaul), ini artinya p*n*s".
***********************************************
Berbulan-bulan setelah kejadian itu.
Saya begitu ngebet pengen sop buntut. Buntut sapi ini tidak mudah didapatkan di sini. Biasanya harus pesan dulu sebelumnya. Tapi kalau lagi beruntung, kadang suka ada juga.. Mungkin ini sisa dari yang pesan tadi. Pas saya ke toko Turki, saya tidak melihatnya di Etalase. Akhirnya saya tanya aja si Emangnya.
"Haben Sie Schwanz?" (Anda punya buntut?)
Beberapa detik si Emang tidak berkutik, dengan muka sedikit kaget. Tapi kemudian,
"Ach... Rinderschwanz meinen Sie?" (Ah, maksud Anda buntut sapi?)
"Ja." emang buntut apalagi, kataku dalam hati...
***********************************************
Pas nyampe rumah, baru keingetan lagi deh pesan guruku tercinta. Ketika disambungin cerita satu dengan cerita dua, aku baru ngeh... ternyata si Emangnya kaget karena ngira buntut yang lain, hehehe...
Makanya... hati-hati kalau mau beli buntut ya...
Monday, April 14, 2008
Friday, April 11, 2008
Indonesia, Miniatur Dunia
Semenjak saya tinggal di luar negri, saya mendapatkan pengalaman baru untuk melihat lebih dekat keragaman manusia. Masih ingat kan ada 5 macam ras manusia di dunia ini, katanya Wikipedia nih:
Tapi kemudian, saya baru ngeh waktu itu.. kalau sebenarnya orang-orang asli Indonesia pun beragam, dari yang putih.. sampai yang hitam.. ada. Dari yang bermata sipiiit.. sampai bermata belo.. juga ada... Dari yang berambut lurus sampai keriting.. banyak... Terlepas apakah rasnya memenuhi kelima yang tadi atau tidak.. Tapi saya melihat keragaman itu.. tak ada bedanya seperti keragaman di dunia ini.. Dan setiap kali saya disuruh bercerita tentang negara saya.. selalu saya katakan dengan bangga bahwa Indonesia adalah miniatur dunia ..
- Ras Khoisan (orang Bushmen atau Hottentot dari Afrika Selatan)
- Ras Australoid (orang Dravida, orang Asia Tenggara "Asli", orang Papua, dan orang Australia)
- Ras Negroid (Kulit Hitam)
- Ras Kaukasoid (Kulit Putih)
- Ras Mongoloid (Kulit Putih)
Tapi kemudian, saya baru ngeh waktu itu.. kalau sebenarnya orang-orang asli Indonesia pun beragam, dari yang putih.. sampai yang hitam.. ada. Dari yang bermata sipiiit.. sampai bermata belo.. juga ada... Dari yang berambut lurus sampai keriting.. banyak... Terlepas apakah rasnya memenuhi kelima yang tadi atau tidak.. Tapi saya melihat keragaman itu.. tak ada bedanya seperti keragaman di dunia ini.. Dan setiap kali saya disuruh bercerita tentang negara saya.. selalu saya katakan dengan bangga bahwa Indonesia adalah miniatur dunia ..
Indonesia = China ???
Sehabis nganter Nadin ke TK, saya belanja ke toko dekat rumah. Kebetulan ketemu tetangga serumah, Herr Schmidt, namanya. Terus dia teh bilang, "Bu, anda dapat paket hari ini, kalau ada waktu, sekarang bisa diambil di rumah saya..". (keterangan: kalau kita mendapat paket dari pos saat kita tidak di rumah, biasanya (tidak selalu siih..) dititipin ke tetangga). Cihuyyyy... DVD pesenanku datang euy... Seusai belanja, langsung meluncur ke lantai 3, ngambil paket tea. Ternyataaa... paketnya guede banget...
Masak sih dua buah DVD bisa segede gaban gitu??? Ooo.. mungkin kaki tiganya si Papa, pikirku.. Tanpa dilihat lagi namanya, kubawa aja langsung ke kamar. Pas dibaca lagi.... ternyata bukan untuk kami... itu untuk Tuan Ponn, tetangga bawah kami. Mereka adalah pasangan orang China (kali.. soalnya sipit, hihihi). Gondok juga nih.. masa sih si Tuan Schmidt gak bisa bedain muka kami??? dari namanya aja udah keliatan beda gitu lho... 
Tapi.. memang... ternyata orang sini pada umumnya tidak bisa membedakan muka orang Asia.. maksudnya yang mana asalnya dr China, Thailand, Jepang, Korea, India, dll. Bagi mereka, semuanya sama, muka Asia... Sama sulitnya seperti kita membedakan bule.. yang mana bule Jerman, Inggris, Swedia, Amerika, Rusia, Eropa Timur, dll. 
Ternyata kalau dilihat lebih dekat, muka kita yang melayu gini..(katanya wikipedia mah termasuk Australoid) ada mirip-miripnya juga sama orang China (mongoloid). Soalnya di antara beragamnya muka anak-anak di kelasnya Nadin, muka Nadin (Indonesia) dan Claudia (Vietnam), kemiripannya paling besar dibandingin dengan anak-anak yang lain. Kalau katanya Kang Dian sih... kita*) kan memang turunan Arab, China, sama India.. ya hasilnya kayak gini.. ke sana ke mari, miriiiip...
*) kita = orang Indonesia, bukan aku dan kang dian doank..
Ternyata kalau dilihat lebih dekat, muka kita yang melayu gini..(katanya wikipedia mah termasuk Australoid) ada mirip-miripnya juga sama orang China (mongoloid). Soalnya di antara beragamnya muka anak-anak di kelasnya Nadin, muka Nadin (Indonesia) dan Claudia (Vietnam), kemiripannya paling besar dibandingin dengan anak-anak yang lain. Kalau katanya Kang Dian sih... kita*) kan memang turunan Arab, China, sama India.. ya hasilnya kayak gini.. ke sana ke mari, miriiiip...
*) kita = orang Indonesia, bukan aku dan kang dian doank..
Wednesday, April 9, 2008
Pisang Molen Pamalesan
Description:
Ini dia resep favorit, enak dan cepaaaaat bikinnya. Resep yang PAS banget buat ibu-ibu pemalas seperti dirikuh.. :D:D:D
Hayo.. siapa yang tertarik bikin???? *NyariTemen* hehehe...
Ingredients:
1 bungkus Blaetterteig* beku
2 buah pisang setengah matang
coklat messes secukupnya
keju secukupnya
*Blaetterteig = adonan pastri siap pakai ;)
Isinya bisa diganti sesuai selera, bisa apel, nanas, dll.. tapi paporit saya mah da cuman pisang coklat keju...mmm... nyummmy...
Directions:
1. biarkan Blaetterteig di suhu ruang sampai layu, bagi 3.
2. cincang kasar pisang, biasanya kalau saya, pisang dibagi 4, kemudian diiris tipis, gak usah pake penggaris yah.. :D
3. campur pisang dengan messes dan keju
4. bungkus adonan isi dengan Blaetterteig, rekatkan ujungnya dengan garpu.
5. oles dengan telur
6. bakar di oven, sampai kuning kecoklatan
7. siap disantap.. hap..hap..hap....
Pilah-pilih Kinderwagen
Di Wohnung (tempat tinggal) kami sedang ada perbaikan listrik dan kawan-kawannya. Jadi berisik sekali, suara bor tak henti-hentinya dari mulai jam 8 pagi sampai jam 6 sore. Ditambah lagi debu dan perkakas-perkakas si emang yang seringkali menghalangi jalan. Apalagi diriku harus keluar dengan membawa kinderwagen a.k.a stroller a.k.a kereta bayi, syusyahnya minta ampun deh... Akhirnya dicobalah keluar tanpa membawa alat yang satu ini. Kebetulan cuaca di Muenchen juga lagi bagus. Dan ternyata memang jauuuuuh lebih enak... SELAMA: perginya gak jauh-jauh dan gak mesti belanja banyak :D:D:D
Sejak punya anak di sini, memang jadi tergantung sama alat yang satu ini.. Tapi memang, di tidak-tidak juga, alat ini ngebantu banget. Maklum kan disini semuanya dikerjakan sendiri, dan saya termasuk orang yang tidak mau mengandalkan suami untuk berbelanja... dan paling males kalau harus belanja hari Sabtu... konsekuensinya, ya mesti belanja sendiri... Dengan dibantu alat ini, semuanya jadi lebih praktis dan hemat tenaga.. Si anak juga bisa tidur dengan nyaman di dalamnya. Ditambah lagi dengan kondisi kota yang mendukung... transportnya.. (selalu ada tempat khusus untuk Kinderwagen, untuk naek turun tangga pun hampir selalu ada lift atau tangga berjalan), trotoarnya... (nggak turun naik kayak di Bandung :D) dan lain-lainnya deh...
Ketika saya menanti kelahiran anak kedua, baru deh bingung... soalnya anak pertama masih kecil ketika adiknya lahir nanti.. baru 2 tahun lewat 2 minggu. Pada usia segini, si anak masih sangat membutuhkan kereta bayi ini, karena dia masih harus tidur siang dan sering kecapekan.. Dan kami, mau gak mau, harus keluar setiap hari.. selain mencari udara segar, juga mengantar jemput si kakak ke Kinderkrippe. Alternatifnya cuma satu yang dipikiran saya waktu itu, kami harus memakai Kinderwagen yang doble atau lebih dikenal dengan nama Geschwisterwagen... Kalau yang sering saya lihat ada dua macam, ada yang posisinya ke pinggir (yang cenderung jadi lebar sekali), dan ada yang ke belakang (yang cenderung jadi panjaaaang sekali). Dan terus terang saya tidak siap dengan kereta seperti itu...
Saya inginnya Kinderwagen yang bisa berfungsi single dan doble. Akhirnya nyari-nyari lah, dan ternyata banyak alternatifnya. Pilihan pertama sebenarnya jatuh ke Kinderwagen yang di sebelah ini. Kursi si kakak yang dibelakang bisa dilepas.. dan bisa dipasang di atasnya si adik kalau adiknya masih baru lahir Baca-baca review dari orang-orang udah oke.. hampir semuanya merasa puas. Kecuali.. satu.. dia bilang kursi yang belakang posisinya terlalu bawah, dan si kakak selalu megang-megangin rodanya. Alhasil, tangannya selalu kotor. Gara-gara review yang satu ini, jadinya yang ini dicoret dari list. Eh, jugaa.. karena harganya yang agak-agak di luar jangkauan kami denk.. :D:D:D Kemudian, kami menemukan model lain yang lumayan bagus juga. Bahkan sangat ringan, kecil dan sangaaaaat murah. Sayangnya kok tampak ringkih.. dan belum menemukan review dari orang-orang, yang ini dicoret juga.
Sampai akhirnya kami memutuskan membeli Kinderwagen yang di sebelah ini, yang paling perfect, menurut kami. Praktis.. tidak terlalu panjang, dan tidak terlalu lebar, desainnya cantik... kualitas materialnya juga tidak perlu diragukan lagi. Benar-benar mantaphhh deh bawa dua anak pake ini, gak khawatir patah.. Pokoknya enaaaaak banget ngedorongnya, hampir gak berasa.. Kalau ada tonjolan sedikitpun... jalan teruuusss... Harganya pun masih terjangkau, kebetulan waktu itu lagi diskon, karena warna yang kami beli merupakan stock terakhir. Kekurangannya cuma satu, Kinderwagen ini sangat besar dan sangat berat (16 kg ternyata berat banget ya?!), karenanya dinamakan si Badem. Makanya kalau mau naik Rolltreppe (tangga jalan), nahannya mesti sekuat tenaga dan ati-ati banget.. bawa dua anak lagi kan?! Pokoknya sebisa mungkin, pakai lift, meskipun mesti keliling dulu.
Eh, satu lagi, kursi si Kakak cuma bisa sampai anak 15 kg saja, jadi untuk anak yang agak bongsor gak akan kepake lama.. daaaan... kursi si kakak ini gak bisa dibobok-in, jadinya kalau si Kakak bobok, kepalanya mesti diganjel kayak gambar disamping, hehehe... Ada dua pendapat dari dua kubu mengenai Kinderwagen ini. Kalau saya ketemu orang Indonesia, pasti komentarnya, "Iiih.. gede banget.. gak berat bawanya???". Tapi kalau ketemu bule, mereka pasti bilang, "Toll! (hebat!), dimana belinya? boleh saya coba?".
Nadin pun sebenarnya senang duduk di kursi depan itu... Sampai akhirnya, 3 bulan kemudian, dia lebih senang jalan kaki... dan tidak mau lagi duduk. Ibunya gondok dong, udah bawa berat-berat, akhirnya gak dipakai. Akhirnya, kami lebih sering memakai Kinderwagen lama, si Lonon tea. Kalau Nadin jalan, Maryam diboboin. Kalau Nadin cape, Maryam digendong pake gendongan bayi. Lama-lama, Maryam juga semakin berat, dan gendongan bayi itu sering terlepas sendiri.. karena gak muat kali ya?! Akhirnya kini kami memakai Kinderwagen yang single lagi, tapi dilengkapi Buggyboard. Jadinya kalau Nadin cape jalan, dia tinggal berdiri aja di board-nya, dan swiiiing... meluncur deh... Sulitnya, kalau Nadin ketiduran di jalan, dan saya sedang jalan sendiri.. Makanya, sekarang mah diatur sedemikian rupa agar kami tidak keluar rumah di atas jam 12 siang :D:D:D
Setelah mengalami sendiri, ternyata kalau punya anak yang jaraknya nanggung, gak dekat dan gak jauh seperti ini (2 tahun), disarankan:
Sejak punya anak di sini, memang jadi tergantung sama alat yang satu ini.. Tapi memang, di tidak-tidak juga, alat ini ngebantu banget. Maklum kan disini semuanya dikerjakan sendiri, dan saya termasuk orang yang tidak mau mengandalkan suami untuk berbelanja... dan paling males kalau harus belanja hari Sabtu... konsekuensinya, ya mesti belanja sendiri... Dengan dibantu alat ini, semuanya jadi lebih praktis dan hemat tenaga.. Si anak juga bisa tidur dengan nyaman di dalamnya. Ditambah lagi dengan kondisi kota yang mendukung... transportnya.. (selalu ada tempat khusus untuk Kinderwagen, untuk naek turun tangga pun hampir selalu ada lift atau tangga berjalan), trotoarnya... (nggak turun naik kayak di Bandung :D) dan lain-lainnya deh...
Ketika saya menanti kelahiran anak kedua, baru deh bingung... soalnya anak pertama masih kecil ketika adiknya lahir nanti.. baru 2 tahun lewat 2 minggu. Pada usia segini, si anak masih sangat membutuhkan kereta bayi ini, karena dia masih harus tidur siang dan sering kecapekan.. Dan kami, mau gak mau, harus keluar setiap hari.. selain mencari udara segar, juga mengantar jemput si kakak ke Kinderkrippe. Alternatifnya cuma satu yang dipikiran saya waktu itu, kami harus memakai Kinderwagen yang doble atau lebih dikenal dengan nama Geschwisterwagen... Kalau yang sering saya lihat ada dua macam, ada yang posisinya ke pinggir (yang cenderung jadi lebar sekali), dan ada yang ke belakang (yang cenderung jadi panjaaaang sekali). Dan terus terang saya tidak siap dengan kereta seperti itu...
Nadin pun sebenarnya senang duduk di kursi depan itu... Sampai akhirnya, 3 bulan kemudian, dia lebih senang jalan kaki... dan tidak mau lagi duduk. Ibunya gondok dong, udah bawa berat-berat, akhirnya gak dipakai. Akhirnya, kami lebih sering memakai Kinderwagen lama, si Lonon tea. Kalau Nadin jalan, Maryam diboboin. Kalau Nadin cape, Maryam digendong pake gendongan bayi. Lama-lama, Maryam juga semakin berat, dan gendongan bayi itu sering terlepas sendiri.. karena gak muat kali ya?! Akhirnya kini kami memakai Kinderwagen yang single lagi, tapi dilengkapi Buggyboard. Jadinya kalau Nadin cape jalan, dia tinggal berdiri aja di board-nya, dan swiiiing... meluncur deh... Sulitnya, kalau Nadin ketiduran di jalan, dan saya sedang jalan sendiri.. Makanya, sekarang mah diatur sedemikian rupa agar kami tidak keluar rumah di atas jam 12 siang :D:D:D
- memakai Kinderwagen single yang bisa digunakan untuk babyborn sampai 3 tahun. Awal-awal.. bisa dipakai gantian, seperti saya tadi, kalau si Kakak mau duduk, ya adiknya digendong saja. Saat si kakak sudah lebih kuat jalannya, dan si adik pun semakin berat, bisa ditambahkan Buggyboard. Atau...
- memakai Kinderwagen dobel aja sekalian dari awal.. lumayan.. bisa kepakai 1 - 1,5 tahunan. Kalau merasa kebesaran, atau kepanjangan... coba aja cari yang ukurannya kompak. Ada kok.. misalnya si Neneng Jane yang disamping ini, saya sudah melihatnya sendiri, ukurannya tidak jauh berbeda dengan yang single. Ini Kinderwagen kecengan saya berikutnya KALAU Maryam punya adik lagi sebelum umurnya 3 tahun, hehehe...
Monday, April 7, 2008
menyiasati biaya Kiga
Di Muenchen ada dua macam Kindergarten, privater- dan staedtischer/staatlicher- Kindergarten. Yang pertama bisa diartikan swasta dan yang kedua negri. Eh, tapi ada juga sih Kindergarten yang kristen.. itu masuknya swasta apa negri ya? gak tau juga.. :D Pokoknya sekarang mah saya bahas yang dua tadi aja.
Sistem pembayaran di kedua TK ini berbeda sekali. DI TK swasta biasanya lebih mahal... bahkan jauh lebih mahal... Namanya juga swasta, mereka kan biaya sendiri dan biasanya menonjolkan kelebihan-kelebihannya dia, agar orang tidak merasa rugi kali ya untuk membayar lebih mahal. Di TK ini, setiap anak harus membayar sama rata, tidak dibeda-bedakan. Menurut survey saya tahun lalu sih, rata-rata biaya TK swasta di sekitaran rumah saya berkisar sekitar 200-300-an Euro per bulan untuk 3 -4 jam saja per harinya. Dan itu baru iuran wajibnya saja.. belum termasuk uang makan, uang mainan, uang belajar musik, dll... dll.. Makanya (mungkin) biasanya anak-anak yang masuk TK ini adalah anak-anak dari keluarga yang kelebihan uang, hehehe...
Sedangkan untuk keluarga-keluarga yang dompetnya cukup lapang karena isinya sedikit seperti kami, lebih memilih Kindergarten negri. Selain harganya (jauh) lebih murah (bayangkan, untuk yang 5 jam per hari biayanya hanya 100 Euro saja, jauh kan sama yang tadi?), biaya yang harus dikeluarkan pun disesuaikan dengan pendapatan orang tua. Jadi Kindergarten negri ini, katakanlah, mendapat subsidi dari pemerintah. Semakin sedikit pendapatan ortu, semakin sedikit biaya yang harus dibayar.
Tapi ternyata... biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua tersebut, bukan dihitung dari pendapatan orang tua saat ini (aktual), melainkan dari pendapatan orang tua dua tahun lalu. Dan ini juga bukan tanpa alasan, katanya sih karena batas pembayaran pajak di Jerman kan 2 tahun. Jadi, pendapatan 2 tahun yang lalu bisa dipastikan pajaknya sudah dibayar.
Beruntungnya saya.. hehe... dua tahun lalu, status bapaknya Nadin masih doktorarbeit alias S3. Jadinya biaya yang harus dibayar juga hanya sekitar 55% dari yang seharusnya. Tapi kemudian mulai terpikir, bagaimana kalau tiba-tiba saat ini dia dipecat, otomatis pendapatan pun jadi berkurang kan?? Dan disaat pendapatan kecil ini, justru kami harus membayar biaya penuh. Waddduhh... pusing kan??!
Nah, katanya sebenarnya biaya ini bisa disiasati dengan cara menyimpan sisa uang yang seharusnya dibayar. Misalnya, kami seharusnya saat ini membayar 90 Euro, tapi.. kami hanya membayar 50 Euro saja. Maka sisa 40 Euro itu harus kami simpan sendiri, untuk jaga-jaga pembayaran Kiga dua tahun yang akan datang.... Jadi, seandainya dua tahun yang akan datang kami tidak punya kerjaan.. nomboknya jadi gak kebanyakan.. Nah, sekarang.. nabungnya itu yang susah :D:D:D
Sistem pembayaran di kedua TK ini berbeda sekali. DI TK swasta biasanya lebih mahal... bahkan jauh lebih mahal... Namanya juga swasta, mereka kan biaya sendiri dan biasanya menonjolkan kelebihan-kelebihannya dia, agar orang tidak merasa rugi kali ya untuk membayar lebih mahal. Di TK ini, setiap anak harus membayar sama rata, tidak dibeda-bedakan. Menurut survey saya tahun lalu sih, rata-rata biaya TK swasta di sekitaran rumah saya berkisar sekitar 200-300-an Euro per bulan untuk 3 -4 jam saja per harinya. Dan itu baru iuran wajibnya saja.. belum termasuk uang makan, uang mainan, uang belajar musik, dll... dll.. Makanya (mungkin) biasanya anak-anak yang masuk TK ini adalah anak-anak dari keluarga yang kelebihan uang, hehehe...
Sedangkan untuk keluarga-keluarga yang dompetnya cukup lapang karena isinya sedikit seperti kami, lebih memilih Kindergarten negri. Selain harganya (jauh) lebih murah (bayangkan, untuk yang 5 jam per hari biayanya hanya 100 Euro saja, jauh kan sama yang tadi?), biaya yang harus dikeluarkan pun disesuaikan dengan pendapatan orang tua. Jadi Kindergarten negri ini, katakanlah, mendapat subsidi dari pemerintah. Semakin sedikit pendapatan ortu, semakin sedikit biaya yang harus dibayar.
Tapi ternyata... biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua tersebut, bukan dihitung dari pendapatan orang tua saat ini (aktual), melainkan dari pendapatan orang tua dua tahun lalu. Dan ini juga bukan tanpa alasan, katanya sih karena batas pembayaran pajak di Jerman kan 2 tahun. Jadi, pendapatan 2 tahun yang lalu bisa dipastikan pajaknya sudah dibayar.
Beruntungnya saya.. hehe... dua tahun lalu, status bapaknya Nadin masih doktorarbeit alias S3. Jadinya biaya yang harus dibayar juga hanya sekitar 55% dari yang seharusnya. Tapi kemudian mulai terpikir, bagaimana kalau tiba-tiba saat ini dia dipecat, otomatis pendapatan pun jadi berkurang kan?? Dan disaat pendapatan kecil ini, justru kami harus membayar biaya penuh. Waddduhh... pusing kan??!
Nah, katanya sebenarnya biaya ini bisa disiasati dengan cara menyimpan sisa uang yang seharusnya dibayar. Misalnya, kami seharusnya saat ini membayar 90 Euro, tapi.. kami hanya membayar 50 Euro saja. Maka sisa 40 Euro itu harus kami simpan sendiri, untuk jaga-jaga pembayaran Kiga dua tahun yang akan datang.... Jadi, seandainya dua tahun yang akan datang kami tidak punya kerjaan.. nomboknya jadi gak kebanyakan.. Nah, sekarang.. nabungnya itu yang susah :D:D:D
Friday, April 4, 2008
Singen und Bewegen 2
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |
Lagu-lagunya bagus... cukup mendidik lah ya.. seperti misalnya lagu untuk membedakan kanan dan kiri. Iramanya juga cukup gembira, tidak terlalu agresif dan tidak malah bikin ngantuk.. :D
Gerakan-gerakannya cukup mudah diikuti, bahkan oleh anak yang baru satu tahun seperti Maryam... Sederhana dan tidak terlalu jelimet seperti tarian.. sederhana aja, lebih cenderung ke senam sih kalau aku lihat.. misal tepuk tangan, loncat-loncat, angkat tangan ke atas, ayunkan kaki, dan masih banyak lagi....
Dan satu lagi, si anak-anak yang ikut dalam DVD ini, sama sekali tidak dandan dan tidak berkostum. Bajunya hanya T-Shirt dan legging (celana olahraga), make up-nya pun cuma bedak aja. Bahkan mereka tidak memakai sepatu.. hanya kaos kaki saja. Persis seperti turnen (olahraga). Jadi inget waktu kecil, kalau mau mentas, dandanannya meni medok... aduduuuuuh... ampun dah...
Subscribe to:
Posts (Atom)