Hari Jumat pekan lalu kembali saya kontrol ke dokter. Tapi kali ini benar-benar ketiban sial yang bertubi-tubi. Mungkin karena hari Kamisnya libur, maka di hari Jumat tersebut, para perawatnya pada ngambil cuti. Akhirnya yang masuk cuma satu orang. Biasanya ada dua, bahkan tiga orang. Jadi si satu orang perawat ini berperan sebagai resepsionis, petugas di laboratorium.. bahkan menerima telepon yang masuk. Akibatnya dia menjadi sangat hektik.. terburu-buru.. dan cenderung melakukan banyak kesalahan.
Ketika mengambil darah dari jari, dia menyemprot jari manis saya. Dan saya pun langsung berpaling.. karena gak kuat melihat jari sendiri ditusuk jarum. Dan.. OOUCHHH.. sayapun menjerit, karena ternyata dia malah menusuk jari tengah saya. Dia pun meminta maaf. Kedua pemeriksaan CTG yang harusnya berlangsung sekitar 15 sampai 20 menit, ini hampir 40 menit. Saya sampai berpikir.. jangan-jangan si ibu lupa punya pasien di kamar ini.. :D Setelah ini, saya masih harus menunggu ke ruang dokter. Maryam sampai bosen bermain.. biasanya sebelum dia bosen, kami sudah dipanggil duluan. Belum lagi ketika saya meminta kopi surat dr dr. R, dia salah mengkopi juga. Total, hampir dua jam kami terperangkap di tempat dokter.
Tuesday, May 26, 2009
Monday, May 25, 2009
Imunisasi
Minggu lalu kami bertiga pergi ke dokter anak untuk melakukan imunisasi. Maryam mendapatkan vaksin hepatitis A + B yang terakhir (ketiga), dan Nadin mendapatkan vaksin Meningokokken. Alhamdulillah anak-anak tidak menangis, mereka malah senang dan bahagia mendapat hadiah kecil dari dokternya (stempel dan tato) :D
Bagaimana anak-anak bisa mendapatkan vaksin hepatitis A dan B sekaligus? padahal hepatitis B merupakan salahsatu vaksin yang ditanggung asuransi. Ini semua berkat anjuran dari dokter anaknya sejak vaksin pertama dulu.
Di Jerman, vaksin pertama diperoleh ketika bayi berusia dua bulan. Vaksin ini merupakan vaksin simultan, gabungan dari beberapa macam vaksin. Ada dua macam yang ditawarkan oleh dokter anak. Ada yang di sebut 6 Fach Impfung, terdiri dari Tetanus, Diphtherie, Pertussis, Haemophilus influenza b (Hib), Hepatitis B dan Poliomyelitis. Dan ada yang disebut 5 Fach Impfung, yang terdiri dari vaksin-vaksin di atas, kecuali Hepatitis B. Saya sendiri waktu itu bingung, akhirnya saya konsultasikan langsung dengan dokternya, lebih baik ambil yang mana. Menurut dokter anak tersebut, karena kami berasal dari Indonesia, dimana anak-anak kami membutuhkan vaksin Hepatitis A (yang harus bayar sendiri), maka sebaiknya saya mengambil yang 5 Fach Impfung, biar lebih murah. Waktu itu saya pikir, harga vaksin hepatitis A+B lebih murah dibandingkan dengan vaksin hepatitis A saja. Ternyata, setelah berdiskusi dengan seorang teman yang mengambil 6 Fach Impfung dulunya, lebih murahnya bukan dari harga vaksinnya. Harga vaksin justru lebih mahal sedikit, tapi hepatitis A+B tidak perlu lagi membayar ongkos suntik ke dokternya.
Vaksin jenis pertama ini dilakukan sebanyak tiga kali, dengan jarak minimal masing-masing 4 minggu (usia 2, 3 dan 4 bulan). Tahun 2007, ketika Maryam lahir, ada vaksin baru, Pneumokokken dan Meningokokken. Jadi, ketika paha kanan disuntik 5 Fach Impfung, paha kiri disuntik Pneumokokken. Jadi, pada 3 vaksin pertama, si anak mendapat dua suntikan sekaligus.
Vaksin berikutnya di bulan ke-13, yaitu MMR, dilakukan sebanyak dua kali dengan jarak minimal 4 minggu. Dan 4 minggu kemudian dilakukan pengulangan 5 Fach Impfung + Pneumokokken.
Setelah semua vaksinasi wajib selesai, barulah vaksin Hepatitis A bisa diberikan ke anak. Vaksin ini memang baru bisa diberikan setelah anak menginjak usia 1 tahun. Dilihat dari riwayat Nadin dan Maryam, ternyata vaksin ini diberikan 2 kali dalam jarak 1 bulan, yang ketiganya diberikan 6 bulan setelah vaksin kedua. Vaksin ini juga merupakan beban sendiri alias tidak termasuk yang ditanggung asuransi. Dan beruntungnya saya, karena awalnya saya mengambil 5 Fach Impfung, maka vaksin kali ini gabungan antara hepatitis A dan B, jadinya biaya suntiknya ditanggung asuransi :D
Imunisasi berikutnya untuk Nadin tahun 2011 (Diphtherie-Tetanus-Pertussis-Hib) dan 2016 (Poliomyelitis). Sedangkan untuk Maryam, tahun 2013 (Diphtherie-Tetanus-Pertussis) dan 2018 (Poliomyelitis).
Sebenarnya Nadin mendapatkan vaksinasi lain selain yang diatas, yaitu Zeckenimpfung. Dia memperoleh vaksinasi ini di tahun kedua usianya, berselingan dengan vaksin Hepatitis A + B. Anehnya Maryam tidak disarankan mendapatkan vaksin ini. Ternyata, saya baru tahu dr Mpok Aas dan Mbak Echa, bahwa memang perkembangan Zecke ini bisa berbeda setiap tahunnya. Seperti tahun ini misalnya, menurut dokter anak saya, Munich tidak termasuk daerah rawan Zecke. Makanya, kalau kami hanya akan tinggal di Munich dan sekitarnya selama musim panas ini, Maryam tidak memerlukan Zeckenimpfung. Tapi kalau kami berencana wanderung ke Bodensee atau Schwarzwald (misalnya), maka kami sangat disarankan untuk mengambil vaksin tersebut.
Bagaimana anak-anak bisa mendapatkan vaksin hepatitis A dan B sekaligus? padahal hepatitis B merupakan salahsatu vaksin yang ditanggung asuransi. Ini semua berkat anjuran dari dokter anaknya sejak vaksin pertama dulu.
Di Jerman, vaksin pertama diperoleh ketika bayi berusia dua bulan. Vaksin ini merupakan vaksin simultan, gabungan dari beberapa macam vaksin. Ada dua macam yang ditawarkan oleh dokter anak. Ada yang di sebut 6 Fach Impfung, terdiri dari Tetanus, Diphtherie, Pertussis, Haemophilus influenza b (Hib), Hepatitis B dan Poliomyelitis. Dan ada yang disebut 5 Fach Impfung, yang terdiri dari vaksin-vaksin di atas, kecuali Hepatitis B. Saya sendiri waktu itu bingung, akhirnya saya konsultasikan langsung dengan dokternya, lebih baik ambil yang mana. Menurut dokter anak tersebut, karena kami berasal dari Indonesia, dimana anak-anak kami membutuhkan vaksin Hepatitis A (yang harus bayar sendiri), maka sebaiknya saya mengambil yang 5 Fach Impfung, biar lebih murah. Waktu itu saya pikir, harga vaksin hepatitis A+B lebih murah dibandingkan dengan vaksin hepatitis A saja. Ternyata, setelah berdiskusi dengan seorang teman yang mengambil 6 Fach Impfung dulunya, lebih murahnya bukan dari harga vaksinnya. Harga vaksin justru lebih mahal sedikit, tapi hepatitis A+B tidak perlu lagi membayar ongkos suntik ke dokternya.
Vaksin jenis pertama ini dilakukan sebanyak tiga kali, dengan jarak minimal masing-masing 4 minggu (usia 2, 3 dan 4 bulan). Tahun 2007, ketika Maryam lahir, ada vaksin baru, Pneumokokken dan Meningokokken. Jadi, ketika paha kanan disuntik 5 Fach Impfung, paha kiri disuntik Pneumokokken. Jadi, pada 3 vaksin pertama, si anak mendapat dua suntikan sekaligus.
Vaksin berikutnya di bulan ke-13, yaitu MMR, dilakukan sebanyak dua kali dengan jarak minimal 4 minggu. Dan 4 minggu kemudian dilakukan pengulangan 5 Fach Impfung + Pneumokokken.
Setelah semua vaksinasi wajib selesai, barulah vaksin Hepatitis A bisa diberikan ke anak. Vaksin ini memang baru bisa diberikan setelah anak menginjak usia 1 tahun. Dilihat dari riwayat Nadin dan Maryam, ternyata vaksin ini diberikan 2 kali dalam jarak 1 bulan, yang ketiganya diberikan 6 bulan setelah vaksin kedua. Vaksin ini juga merupakan beban sendiri alias tidak termasuk yang ditanggung asuransi. Dan beruntungnya saya, karena awalnya saya mengambil 5 Fach Impfung, maka vaksin kali ini gabungan antara hepatitis A dan B, jadinya biaya suntiknya ditanggung asuransi :D
Imunisasi berikutnya untuk Nadin tahun 2011 (Diphtherie-Tetanus-Pertussis-Hib) dan 2016 (Poliomyelitis). Sedangkan untuk Maryam, tahun 2013 (Diphtherie-Tetanus-Pertussis) dan 2018 (Poliomyelitis).
Sebenarnya Nadin mendapatkan vaksinasi lain selain yang diatas, yaitu Zeckenimpfung. Dia memperoleh vaksinasi ini di tahun kedua usianya, berselingan dengan vaksin Hepatitis A + B. Anehnya Maryam tidak disarankan mendapatkan vaksin ini. Ternyata, saya baru tahu dr Mpok Aas dan Mbak Echa, bahwa memang perkembangan Zecke ini bisa berbeda setiap tahunnya. Seperti tahun ini misalnya, menurut dokter anak saya, Munich tidak termasuk daerah rawan Zecke. Makanya, kalau kami hanya akan tinggal di Munich dan sekitarnya selama musim panas ini, Maryam tidak memerlukan Zeckenimpfung. Tapi kalau kami berencana wanderung ke Bodensee atau Schwarzwald (misalnya), maka kami sangat disarankan untuk mengambil vaksin tersebut.
Thursday, May 21, 2009
berapa.. berapa tahun??
Semenjak Nadin masuk TK, dia mulai mengenal yang namanya ulang tahun. Sebelumnya?? tidak.. :D Sampai saat ini, sudah dua kali dia merayakan ulang tahunnya di Kindergarten.. ini juga karena wajib, bukan semata-mata keinginan kami. Sejak ini pulalah, dia mulai mengenal lebih dekat kata tanya 'berapa'. Karena berhubungan dengan umur, tentu saja pertanyaannya menjadi 'berapa tahun?'. Dia mulai menanyakan umur-umur anggota keluarga di rumah.
Nadin: "Kalau Nadin 4 tahun, kalau Maryam berapa tahun, Mama?"
Mama: "2"
Nadin: "Oo.. kalau Mama?"
Mama: "28"
Nadin: "O.. 28.. kalau Papa berapa tahun?"
Mama: "30"
Nadin: "Oooo.. kalau Papa ulang tahun, lilinnya banyak sekali ya?!"
hihihi.. maklum, kalau ulang tahun di Kindergarten, lilinnya bukan lilin angka, tapi lilin satuan yang jumlahnya disesuaikan dengan umur.
Gara-gara suka nanyain umur, segala pertanyaan 'berapa' selalu menjadi 'berapa tahun'. Misal saat naik kendaraan umum (bus, tram, U-Bahn ataupun S-Bahn), yang dia tanya pasti, "Mama, berapa tahun naik busnya?" maksudnya sih berapa halte... atau "Mama, berapa tahun bebeknya?" maksudnya sih berapa biji.. dan berapa-berapa yang lain.. Aneh juga sih, padahal dia sudah mengenal berhitung jauh sebelum mengenal ulang tahun. Jadi seharusnya sudah mengenal kata 'berapa' lebih dulu daripada 'berapa tahun'. Tapi mungkin yang paling berkesan untuknya memang kata 'berapa tahun' itu, makanya paling nempel di kepala.
Sekarang Nadin udah mulai mengerti. Pertanyaan 'berapa tahun'nya tidak sesering beberapa bulan yang lalu. Tapi juga belum tepat untuk setiap pernyataan. Kalau dia bingung, biasanya pertanyaannya menjadi 'berapa' atau 'ada berapa'.
Kalau Maryam lain lagi, kata tanya berapa-nya jadi 'siji apa?'. Awalnya sih bingung.. ini kata maksudnya apa? ternyata ini adalah pertanyaan 'berapa'. Entahlah berasal dari kata apa.. 'sabaraha hiji?' atau 'berapa biji?'.. ah.. kayaknya dua2nya juga kebalik.. :D
Nadin: "Kalau Nadin 4 tahun, kalau Maryam berapa tahun, Mama?"
Mama: "2"
Nadin: "Oo.. kalau Mama?"
Mama: "28"
Nadin: "O.. 28.. kalau Papa berapa tahun?"
Mama: "30"
Nadin: "Oooo.. kalau Papa ulang tahun, lilinnya banyak sekali ya?!"
hihihi.. maklum, kalau ulang tahun di Kindergarten, lilinnya bukan lilin angka, tapi lilin satuan yang jumlahnya disesuaikan dengan umur.
Gara-gara suka nanyain umur, segala pertanyaan 'berapa' selalu menjadi 'berapa tahun'. Misal saat naik kendaraan umum (bus, tram, U-Bahn ataupun S-Bahn), yang dia tanya pasti, "Mama, berapa tahun naik busnya?" maksudnya sih berapa halte... atau "Mama, berapa tahun bebeknya?" maksudnya sih berapa biji.. dan berapa-berapa yang lain.. Aneh juga sih, padahal dia sudah mengenal berhitung jauh sebelum mengenal ulang tahun. Jadi seharusnya sudah mengenal kata 'berapa' lebih dulu daripada 'berapa tahun'. Tapi mungkin yang paling berkesan untuknya memang kata 'berapa tahun' itu, makanya paling nempel di kepala.
Sekarang Nadin udah mulai mengerti. Pertanyaan 'berapa tahun'nya tidak sesering beberapa bulan yang lalu. Tapi juga belum tepat untuk setiap pernyataan. Kalau dia bingung, biasanya pertanyaannya menjadi 'berapa' atau 'ada berapa'.
Kalau Maryam lain lagi, kata tanya berapa-nya jadi 'siji apa?'. Awalnya sih bingung.. ini kata maksudnya apa? ternyata ini adalah pertanyaan 'berapa'. Entahlah berasal dari kata apa.. 'sabaraha hiji?' atau 'berapa biji?'.. ah.. kayaknya dua2nya juga kebalik.. :D
Thursday, May 14, 2009
Belajar memilah sampah
Membuang sampah di sini bukanlah hal yang sederhana dan mudah. Tidak seperti di rumah dulu, dimana saya hanya mempunyai satu tempat sampah, semua jenisnya masuk ke situ, dan langsung dibuang dengan kantongnya ketika sudah penuh. Di sini, sampah harus dibuang berdasarkan jenisnya. Ternyata pengelompokan sampah ini pun bisa beda antara satu Gemeinde dengan Gemeinde yang lain. Bahkan antara rumah yang satu dengan rumah yang lain (kadang ada rumah yang tidak menyediakan tempat sampah bio, jadinya sampah bio dan sampah sisa dicampur begitu saja). Makanya ketika sedang di rumah orang, saya pun masih harus bertanya sampah ini dibuangnya kemana.
Dari pengalaman tinggal di dua daerah dan hasil berbagi pengalaman dengan teman-teman yang kebetulan tinggal di lain Gemeinde, ternyata penyortiran sampah di Munich termasuk yang paling lengkap (baca: rumit), meski pada dasarnya hampir sama saja. Di sini biasanya masing-masing rumah (beberapa rumah) memiliki tempat sampah bio, kertas dan Restmuell (sampah sisa). Sedangkan pembuangan sampah gelas (dipisahkan lagi menjadi gelas putih, hijau dan coklat) dan sampah yang bisa didaur ulang (biasa di sebut Gelbetone, yang mana dipisahkan lagi atas sampah plastik dan kaleng/logam) biasanya ada di masing-masing RW. Kebetulan di lingkungan rumah saya, selain tempat sampah tadi, ada juga tempat pembuangan sampah baju dan sepatu. Dan untuk pembuangan benda-benda besar, misalnya peralatan rumah tangga, ada dalam lingkup yang lebih besar lagi, katakanlah kecamatan.
Untuk memudahkan membuang sampah, saya memilih telah menyortir sampah-sampah tersebut sejak di rumah, daripada saya harus menyortir nanti saat membuang sampah. Makanya di rumah ada banyak sekali tempat sampah. Awalnya saya tidak membiarkan anak-anak membuang sampah sendiri. Jadi saya biarkan mereka mengumpulkan sampah bekas makanannya di meja, nanti saya yang membuangnya ke tempat sampah.
Sejak beberapa bulan yang lalu, saya mulai berpikir, bahwa mereka sebaiknya diajarkan sejak dini. Anak-anak mulai saya minta untuk membuang sampah mereka sendiri ke tempat sampah di dapur. Untuk memudahkan mereka, masing-masing tempat sampah saya labeli dengan warna yang berbeda. Dan ternyata kegiatan menyortir sampah ini menjadi kegiatan yang mengasyikan untuk mereka. Nadin, yang sudah berumur 4 tahun, bisa mengerti dengan cepat. Meski tiap mau buang sampah, dia bertanya dulu, ini sampah plastik atau kertas? bersih atau kotor? yang biru atau yang merah? padahal sebenarnya dia sudah bisa membedakan sendiri.
Maryam (2 tahun) juga ikut-ikutan. Tiap habis makan sesuatu, pasti bertanya, "buang mana?", maksudnya dibuang kemana. Suatu hari, dia mau membuang bungkus kertas bekas makanannya dia.
Maryam: "buang mana?"
Mama: "Itu kertas, Sayang. Buang ke yang biru."
Maryam: "beureum aja.." sambil nyengir.
Mama: "Eh.. itu mah biru atuh.."
Maryam: "beureum!" sambil berbalik menuju dapur.
Mama: "biru!"
Maryam: "Oh, beureum.. okeh!" sambil berlari ke dapur
Mama: *gubraks!!*
Dari pengalaman tinggal di dua daerah dan hasil berbagi pengalaman dengan teman-teman yang kebetulan tinggal di lain Gemeinde, ternyata penyortiran sampah di Munich termasuk yang paling lengkap (baca: rumit), meski pada dasarnya hampir sama saja. Di sini biasanya masing-masing rumah (beberapa rumah) memiliki tempat sampah bio, kertas dan Restmuell (sampah sisa). Sedangkan pembuangan sampah gelas (dipisahkan lagi menjadi gelas putih, hijau dan coklat) dan sampah yang bisa didaur ulang (biasa di sebut Gelbetone, yang mana dipisahkan lagi atas sampah plastik dan kaleng/logam) biasanya ada di masing-masing RW. Kebetulan di lingkungan rumah saya, selain tempat sampah tadi, ada juga tempat pembuangan sampah baju dan sepatu. Dan untuk pembuangan benda-benda besar, misalnya peralatan rumah tangga, ada dalam lingkup yang lebih besar lagi, katakanlah kecamatan.
Untuk memudahkan membuang sampah, saya memilih telah menyortir sampah-sampah tersebut sejak di rumah, daripada saya harus menyortir nanti saat membuang sampah. Makanya di rumah ada banyak sekali tempat sampah. Awalnya saya tidak membiarkan anak-anak membuang sampah sendiri. Jadi saya biarkan mereka mengumpulkan sampah bekas makanannya di meja, nanti saya yang membuangnya ke tempat sampah.
Sejak beberapa bulan yang lalu, saya mulai berpikir, bahwa mereka sebaiknya diajarkan sejak dini. Anak-anak mulai saya minta untuk membuang sampah mereka sendiri ke tempat sampah di dapur. Untuk memudahkan mereka, masing-masing tempat sampah saya labeli dengan warna yang berbeda. Dan ternyata kegiatan menyortir sampah ini menjadi kegiatan yang mengasyikan untuk mereka. Nadin, yang sudah berumur 4 tahun, bisa mengerti dengan cepat. Meski tiap mau buang sampah, dia bertanya dulu, ini sampah plastik atau kertas? bersih atau kotor? yang biru atau yang merah? padahal sebenarnya dia sudah bisa membedakan sendiri.
Maryam (2 tahun) juga ikut-ikutan. Tiap habis makan sesuatu, pasti bertanya, "buang mana?", maksudnya dibuang kemana. Suatu hari, dia mau membuang bungkus kertas bekas makanannya dia.
Maryam: "buang mana?"
Mama: "Itu kertas, Sayang. Buang ke yang biru."
Maryam: "beureum aja.." sambil nyengir.
Mama: "Eh.. itu mah biru atuh.."
Maryam: "beureum!" sambil berbalik menuju dapur.
Mama: "biru!"
Maryam: "Oh, beureum.. okeh!" sambil berlari ke dapur
Mama: *gubraks!!*
Friday, May 8, 2009
Baby Utun: Kontrol kelainan jantung
Setelah membuat janji sebulan yang lalu, akhirnya hari Senin yang lalu saya bertemu kembali dengan dokter R. Pemeriksaan kali ini agak berbeda dengan sebelumnya, dimana saya tidak boleh meminyaki/memberi krem pada permukaan perut 5 hari sebelum pemeriksaan. Dan terus terang.. ini cukup menyiksa karena harus menahan gatal.. :D Untungnya kali ini tidak usah. Kali ini tidak ada lagi wawancara, saya langsung melakukan CTG selama 30 menit.. sampai ketiduran.. :D Setelah itu baru bertemu dengan dokternya.
Awalnya saya pikir, pemeriksaan kali ini akan berjalan lebih singkat, karena dokter hanya akan melihat kondisi jantung si anak saja. Ternyata tidak.. Pemeriksaan tetap lama.. Kondisi bayi dari luar sampai dalam, dari ujung rambut sampai ujung kaki tetap diperiksa. Hanya memang tidak sedetil yang dulu, dan jantung memang diperiksa lebih teliti.. karena pada pemeriksaan sebelumnya masih belum kelihatan jelas. Hasilnya alhamdulillah baik.. jantungnya normal. Kondisi fisik yang lain juga normal, beratnya sekarang sudah 1194 g (hm.. hampir 200 g dalam seminggu?? gede juga..).
Anehnya dokter R tidak menyambit-nyambit tentang kondisi plasenta saya yang sangat dikhawatirkan oleh dokter F. Akhirnya saya bertanya, dimana posisi plasenta sekarang? Menurutnya, plasenta saat ini ada di atas belakang. Heh?? bukan di bawah, Dok?? Tepat seminggu sebelumnya, dokter F menyatakan saya mengalami Placenta Previa. Dokternya sendiri heran, maka untuk meyakinkan, dia mengganti alat menggunakan USG bawah. Dari situ kelihatan kalau jalan lahir masih tertutup, jarak antara Plasenta dengan mulut rahim lebih dari 3 cm, cukup jauh. Dan ini tidak termasuk Placenta Previa, katanya. Alhamdulillah.. berarti dalam seminggu saja, Plasenta sudah mulai bergeser menjauhi mulut rahim. Alhamdulillah.. :)
Oiya, berhubungan dengan ukuran perut yang semakin membesar, ternyata ada yang berubah juga dengan kebiasaan Maryam. Akhir-akhir ini dia senang sekali melingkari perut besar ibunya sambil menghujaninya dengan ciuman.. "Sayang Utuuun.." dengan mulut manyunnya.. :D Terlebih ketika dia bete dan sedih karena habis berantem dengan kakaknya, dia bakal langsung memeluk adiknya (yg masih di dalam perut tentu saja).. sambil mencium-ciuminya.. lucuu.. :D
Thursday, April 30, 2009
Baby Utun: Catatan 7 --> Placenta-Previa
Tanpa terasa kehamilan kali ini sudah memasuki trimester terakhir. Kali ini pemeriksaan mulai lengkap, dari mulai timbang badan, urin, darah, sampai CTG (cardiotocography). Bahkan USG yang digunakan sekarang dua-duanya.
Berat badan bulan ini bertambah 3,5 kg, masih kelihatan belum hilang 'maruk'nya. Nafsu makan memang masih membabi-buta, apalagi kalau lagi di rumah orang.. hehehe.. Untungnya si makanan lari ke tubuh ibunya, bisa dilihat dari ukuran kaki, tangan dan pipi yang semakin membesar. Sedangkan ukuran bayi masih dalam batas normal, hanya 1016 g. Ibu dokter sampai berkomentar begini kali ini, "Sie müssen doch genug essen, aber nicht zu viel" (Anda memang harus cukup makan, tapi tidak terlalu banyak ya..). Ah.. perasaan selama ini juga saya makan kalau saya lapar aja, Dok.. hehehe.. perasaan...
Hb kali ini sedikit menurun menjadi 11,3. Menurut dokter ini terlalu rendah, jadinya saya diberinya zat besi. Pantesan akhir-akhir ini memang sering gampang cape dan pusing.
Pemeriksaan CTG mulai dilakukan. CTG (Cardiotocography) merupakan alat untuk merekam detak jantung janin dan kontraksi rahim. Dengan alat ini, bisa diketahui apakah kondisi bayi baik-baik saja atau stress, juga untuk mengecek apakah rahim sudah mulai berkontraksi atau belum. Biasanya selama proses melahirkan, alat ini digunakan untuk membantu dokter/bidan mengetahui kontraksi dari pasiennya. Jadinya kita gak bisa bohong kalau kontraksinya udah tiap 5 menit atau belum. :D Dari hasil CTG, alhamdulillah kondisi bayi baik, rahim juga belum menunjukkan adanya kontraksi.
Pemeriksaan USG menunjukkan belum terjadi pembukaan, dan plasenta ternyata berada dekat sekali dengan leher rahim. Hal ini sebenarnya sudah diketahui sejak saya periksa USG 4D beberapa minggu yang lalu. Tapi waktu itu dokter tidak khawatir dan saya pun tidak tahu resiko dari plasenta di bawah tadi. Ternyata diagnosa ini memang baru bisa dipastikan pada usia kandungan 26-28 minggu, dimana mulai terbentuk segmen bawah rahim. Saat segmen ini terbentuk, leher rahim yang awalnya berbentuk seperti corong akan memipih. Perubahan inilah yang bisa menyebabkan plasenta berpindah menjauhi jalan lahir. Meski demikian, kondisi paling optimum bisa dipastikan saat mendekati persalinan nanti. Dan kali ini, dokter meminta saya untuk waspada. Jika terjadi pendarahan besok lusa, saya harus cepat-cepat pergi ke rumah sakit katanya. Pendarahan bisa terjadi saat terbentuknya segmen bawah rahim, dimana ada bagian plasenta yang "robek" oleh pergeseran jaringan di sekitar mulut rahim. Atau bisa juga oleh tekanan kepala janin saat mulai memasuki segmen bawah rahim sebagai persiapan menuju persalinan.**
Setelah baca-baca, ternyata Placenta Previa itu ada 4 macam:**
Catatan:
Sumber (**): beberapa informasi dalam artikel ini diperoleh dari http://tonangardyanto.blogspot.com/2006/04/placenta-previa-plasenta-bisa-pindah.html
Hari Senin jangan lupa pergi ke dokter 4D lagi... ;)
Segera bikin janji dengan rumah sakit untuk pendaftaran melahirkan..
Berat badan bulan ini bertambah 3,5 kg, masih kelihatan belum hilang 'maruk'nya. Nafsu makan memang masih membabi-buta, apalagi kalau lagi di rumah orang.. hehehe.. Untungnya si makanan lari ke tubuh ibunya, bisa dilihat dari ukuran kaki, tangan dan pipi yang semakin membesar. Sedangkan ukuran bayi masih dalam batas normal, hanya 1016 g. Ibu dokter sampai berkomentar begini kali ini, "Sie müssen doch genug essen, aber nicht zu viel" (Anda memang harus cukup makan, tapi tidak terlalu banyak ya..). Ah.. perasaan selama ini juga saya makan kalau saya lapar aja, Dok.. hehehe.. perasaan...
Hb kali ini sedikit menurun menjadi 11,3. Menurut dokter ini terlalu rendah, jadinya saya diberinya zat besi. Pantesan akhir-akhir ini memang sering gampang cape dan pusing.
Pemeriksaan CTG mulai dilakukan. CTG (Cardiotocography) merupakan alat untuk merekam detak jantung janin dan kontraksi rahim. Dengan alat ini, bisa diketahui apakah kondisi bayi baik-baik saja atau stress, juga untuk mengecek apakah rahim sudah mulai berkontraksi atau belum. Biasanya selama proses melahirkan, alat ini digunakan untuk membantu dokter/bidan mengetahui kontraksi dari pasiennya. Jadinya kita gak bisa bohong kalau kontraksinya udah tiap 5 menit atau belum. :D Dari hasil CTG, alhamdulillah kondisi bayi baik, rahim juga belum menunjukkan adanya kontraksi.
Pemeriksaan USG menunjukkan belum terjadi pembukaan, dan plasenta ternyata berada dekat sekali dengan leher rahim. Hal ini sebenarnya sudah diketahui sejak saya periksa USG 4D beberapa minggu yang lalu. Tapi waktu itu dokter tidak khawatir dan saya pun tidak tahu resiko dari plasenta di bawah tadi. Ternyata diagnosa ini memang baru bisa dipastikan pada usia kandungan 26-28 minggu, dimana mulai terbentuk segmen bawah rahim. Saat segmen ini terbentuk, leher rahim yang awalnya berbentuk seperti corong akan memipih. Perubahan inilah yang bisa menyebabkan plasenta berpindah menjauhi jalan lahir. Meski demikian, kondisi paling optimum bisa dipastikan saat mendekati persalinan nanti. Dan kali ini, dokter meminta saya untuk waspada. Jika terjadi pendarahan besok lusa, saya harus cepat-cepat pergi ke rumah sakit katanya. Pendarahan bisa terjadi saat terbentuknya segmen bawah rahim, dimana ada bagian plasenta yang "robek" oleh pergeseran jaringan di sekitar mulut rahim. Atau bisa juga oleh tekanan kepala janin saat mulai memasuki segmen bawah rahim sebagai persiapan menuju persalinan.**
Setelah baca-baca, ternyata Placenta Previa itu ada 4 macam:**
- Placenta previa totalis: jika plasenta menutupi jalan lahir. Pada kondisi ini tidak dimungkinkan proses kelahiran normal, karena resiko pendarahan sangatlah besar.
- Placenta previa partialis: jika plasenta menutupi sebagian jalan lahir. Resiko pendarahan masih sangat besar, sehingga masih belum bisa melahirkan normal.
- Placenta previa marginalis: jika hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir. Proses kelahiran bisa normal, namun resiko pendarahan tetap besar.
- Low-lying Placenta: jika posisi plasenta berada sangat dekat dengan jalan lahir. Proses kelahiran normal, resiko pendarahan bisa dihindari, asalkan dilakukan dengan hati-hati.
Catatan:
Sumber (**): beberapa informasi dalam artikel ini diperoleh dari http://tonangardyanto.blogspot.com/2006/04/placenta-previa-plasenta-bisa-pindah.html
Hari Senin jangan lupa pergi ke dokter 4D lagi... ;)
Segera bikin janji dengan rumah sakit untuk pendaftaran melahirkan..
Wednesday, April 22, 2009
Kejutan Multibahasa
Tak pernah terbayang dalam benak kami, kalau kami akan membesarkan anak-anak kami dengan banyak bahasa (multilingual). Keberadaan kami yang sampai saat ini masih terdampar di negeri oranglah, yang akhirnya membuat anak-anak belajar lebih dari bahasa ibunya. Sayangnya, saya terlalu percaya diri untuk mendidik anak-anak dengan 'cara saya', yang membuat saya akhirnya kurang peduli dengan teori-teori yang sebenarnya banyak bertebaran di internet. Akibatnya, saya baru menyadari akhir-akhir ini, ternyata banyak kesalahan yang saya lakukan di masa lalu. Tapi hal ini menjadi pelajaran untuk saya dalam mendidik anak-anak saya selanjutnya.
Melihat kondisi bahasa daerah kami yang semakin memburuk setiap harinya, kami bertekad semenjak putri pertama kami lahir, untuk mengajarkan dia bahasa daerah (Sunda) sebagai bahasa pertamanya. Bahasa Indonesia akan kami biarkan dia mendapatkannya dari lingkungan dan sekolah. Ternyata, lingkungan di sini kurang mendukung untuk membiarkan si anak belajar bahasa Indonesia dengan sendirinya. Intensitas pertemuan dengan orang Indonesia tidaklah cukup untuk membuat anak bisa belajar bahasa Indonesia dari mereka. Sehingga kemampuan bahasa Indonesia Nadin sangatlah minim, ditambah lagi banyak yang tidak bisa berbahasa Sunda. Saya menjadi sedikit khawatir, Nadin menjadi kurang percaya diri karena bahasa yang dia kuasai ternyata berbeda dengan orang Indonesia lainnya. Akhirnya ketika dia berusia sekitar dua tahun, saya mulai mengintensifkan berbicara dalam bahasa Indonesia dengannya. Bahasa Sunda juga tidak dihilangkan, masih tetap dipakai. Saya usahakan untuk berbicara satu kalimat penuh dalam bahasa Sunda.. atau satu kalimat dalam bahasa Indonesia. Maksudnya agar si anak tidak mencampuradukkan kedua bahasa tersebut. Tapi (mungkin) memang dasarnya saya kalau bicara bahasanya amburadul, bahasa Indonesia yang kesunda-sundaan.. atau bahasa Sunda yang keIndonesia-Indonesian, meskipun saya sudah berusaha untuk menyusun kalimat sesempurna mungkin, ternyata yang tertangkap sama anak justru yang amburadul itu.
Ketika Nadin memasuki taman kanak-kanak di usianya yang ketiga, dia mulai belajar bahasa asing, yaitu bahasa Jerman, yang memang menjadi bahasa pengantar di sekolahnya. Meski kemampuan bahasanya NOL ketika memasuki TK, alhamdulillah dia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kemampuan bahasa Jermannya makin bertambah dari hari ke hari. Meski sampai saat ini dia belum selancar teman-teman sebayanya dalam berbicara bahasa Jerman, tapi dia masih bisa 'hidup' di sekolahnya..
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, ada beberapa catatan yang patut saya garis bawahi untuk mengajarkan bahasa ke anak-anak saya selanjutnya:
Melihat kondisi bahasa daerah kami yang semakin memburuk setiap harinya, kami bertekad semenjak putri pertama kami lahir, untuk mengajarkan dia bahasa daerah (Sunda) sebagai bahasa pertamanya. Bahasa Indonesia akan kami biarkan dia mendapatkannya dari lingkungan dan sekolah. Ternyata, lingkungan di sini kurang mendukung untuk membiarkan si anak belajar bahasa Indonesia dengan sendirinya. Intensitas pertemuan dengan orang Indonesia tidaklah cukup untuk membuat anak bisa belajar bahasa Indonesia dari mereka. Sehingga kemampuan bahasa Indonesia Nadin sangatlah minim, ditambah lagi banyak yang tidak bisa berbahasa Sunda. Saya menjadi sedikit khawatir, Nadin menjadi kurang percaya diri karena bahasa yang dia kuasai ternyata berbeda dengan orang Indonesia lainnya. Akhirnya ketika dia berusia sekitar dua tahun, saya mulai mengintensifkan berbicara dalam bahasa Indonesia dengannya. Bahasa Sunda juga tidak dihilangkan, masih tetap dipakai. Saya usahakan untuk berbicara satu kalimat penuh dalam bahasa Sunda.. atau satu kalimat dalam bahasa Indonesia. Maksudnya agar si anak tidak mencampuradukkan kedua bahasa tersebut. Tapi (mungkin) memang dasarnya saya kalau bicara bahasanya amburadul, bahasa Indonesia yang kesunda-sundaan.. atau bahasa Sunda yang keIndonesia-Indonesian, meskipun saya sudah berusaha untuk menyusun kalimat sesempurna mungkin, ternyata yang tertangkap sama anak justru yang amburadul itu.
Ketika Nadin memasuki taman kanak-kanak di usianya yang ketiga, dia mulai belajar bahasa asing, yaitu bahasa Jerman, yang memang menjadi bahasa pengantar di sekolahnya. Meski kemampuan bahasanya NOL ketika memasuki TK, alhamdulillah dia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kemampuan bahasa Jermannya makin bertambah dari hari ke hari. Meski sampai saat ini dia belum selancar teman-teman sebayanya dalam berbicara bahasa Jerman, tapi dia masih bisa 'hidup' di sekolahnya..
Di usianya yang keempat, dia mulai bisa membedakan.. mana yang bahasa Indonesia, mana yang bahasa Jerman, juga kapan, dimana dan dengan siapa dia harus menggunakan bahasa-bahasa tersebut. Hal ini baru saya sadari ketika saya membawanya ke dokter anak untuk melakukan U8. Saya juga mulai mengenalkan keberadaan bahasa Sunda. Sebelum-sebelumnya saya hanya bicara saja dalam bahasa Sunda, tapi tidak pernah bilang ke Nadin bahwa ini adalah bahasa Sunda. Sekarang dia mulai tahu, bahwa sekarang di rumah dia menggunakan dua bahasa. Dan dia mulai mengelompokkan kosakata-kosakata yang dia tahu ke dalam bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia. Misalnya:
"Mama, kalau 'hideung' bahasa Sunda atau bahasa Indonesia?"
"Bahasa Sunda"
"Bahasa Indonesianya apa?"
"Hitam."
"Kalau blablabla...?"
dst.. dst..
Sejak kecil, Nadin senang sekali main game di Internet. Dan kebanyakan situs-situs yang menyediakan game yang paling beragam dan menarik untuk anak-anak menggunakan pengantar bahasa Inggris. Saya sendiri tidak pernah mengajarkan bahasa Inggris pada Nadin, saya pikir 3 bahasa pokok untuk saat ini cukup. Bahasa Inggris, meskipun bahasa Internasional, biarkan dia mempelajarinya saat waktunya tiba, kelak. Tanpa disangka-sangka, ternyata dia bisa juga menangkap beberapa kata dari yang sering dia dengarkan di situ. Misalnya: tiba-tiba suatu hari dia bilang, "Mama.. bunga itu kalau bahasa Inggris flower..". Di lain waktu, dia menemukan kata lain, dan dilaporkan lagi.. "Mama, kalau kucing itu bahasa Inggrisnya Cat.". Dan masih ada beberapa kosakata lagi yang dia kenal...
"Mama, kalau 'hideung' bahasa Sunda atau bahasa Indonesia?"
"Bahasa Sunda"
"Bahasa Indonesianya apa?"
"Hitam."
"Kalau blablabla...?"
dst.. dst..
Sejak kecil, Nadin senang sekali main game di Internet. Dan kebanyakan situs-situs yang menyediakan game yang paling beragam dan menarik untuk anak-anak menggunakan pengantar bahasa Inggris. Saya sendiri tidak pernah mengajarkan bahasa Inggris pada Nadin, saya pikir 3 bahasa pokok untuk saat ini cukup. Bahasa Inggris, meskipun bahasa Internasional, biarkan dia mempelajarinya saat waktunya tiba, kelak. Tanpa disangka-sangka, ternyata dia bisa juga menangkap beberapa kata dari yang sering dia dengarkan di situ. Misalnya: tiba-tiba suatu hari dia bilang, "Mama.. bunga itu kalau bahasa Inggris flower..". Di lain waktu, dia menemukan kata lain, dan dilaporkan lagi.. "Mama, kalau kucing itu bahasa Inggrisnya Cat.". Dan masih ada beberapa kosakata lagi yang dia kenal...
Akhir-akhir ini, Nadin sering sekali memberi kejutan seputar bahasa. Misalnya:
*****************************
ketika saya menonton drama korea atau Jepang, tanpa sengaja dia ikut mendengarkan. Diapun bertanya, "ini bahasa apa sih, Mama? Kok kayak bahasa Indonesia ya??". "Oh.. bukan.. ini mah bahasa Korea/Jepang.". Untung komentar berikutnya cuma.. "ooh..". Bukan "bahasa Koreanya kaos kaki (misal) apa?".
*****************************
Satu kali kami menonton Video Barney di Youtube, yang tentu saja memakai bahasa Inggris. Tiba-tiba dia berkomentar,
"Mama, Barney pinter ya?!"
"Oya?"
"Iya, Barney bisa ngomong bahasa Indonesia, bahasa Jerman sama bahasa Inggris"
Saya bengong.. dan kemudian barulah ingat, kalau dia pernah dipinjamkan VCD Barney yang dialihsuarakan ke bahasa Indonesia.. dia juga suka main game Barney dengan pengantar bahasa Jerman.. dan saat itu, kami sedang menonton video Barney dengan lagu bahasa Inggris. Halah.. saya kok gak pernah kepikiran kalau si Barney ini pinter bisa multilingual ya?!
*****************************
*****************************
Suatu hari tiba-tiba dia memulai pembicaraan.
"Mama, kalau hiji, dua, tilu, .., sapuluh itu bahasa Indonesia. Kalau satu, dua, tiga, ..., sepuluh, itu bahasa Sunda."
*kaget* "Oo.. bukan, kebalik sayang.. hiji dua tilu itu bahasa Sunda... kalau satu dua tiga bahasa Indonesia."
Sejak ini, dia menjadi sering menanyakan mana yang bahasa Sunda.. dan mana yang bahasa Indonesia.
*****************************
Kesalahan paling fatal yang pernah saya lakukan, ketika dia kecil (kurang lebih usia satu tahun dsk), saya mengajarkan bahasa yang paling mudah untuknya. Tidak konsisten bahasa yang sebenarnya ingin saya ajarkan. Kenapa? Saat itu, sebagai orang tua dari anak pertama, rasanya saya selalu geregetan menunggu setiap tahap perkembangan anak. Termasuk dalam perkembangan bicara. Dan bodohnya saya waktu itu, saya menilai ada beberapa kata tertentu yang terlalu sulit untuk dia ucapkan (padahal sebenarnya tidak ada yang sulit bagi si anak.. mereka hanya perlu waktu). Akhirnya saya mengajarkan kata-kata yang menurut saya mudah untuknya. Misalnya: tikus dan beurit (bahasa Sunda), saya rasa terlalu sulit untuk lidah Nadin, maka saya mengajarkan kata 'Maus' padanya. Dan kata itu terbawa sampai sekarang, meski saya sudah 'insyaf', di luar kesadaran saya. Karena kata 'Maus' memang sering digunakan untuk menyebut salah satu tokoh kartun, bukan tikus beneran. Akibatnya, beberapa waktu lalu, Nadin berkesimpulan bahwa tikus dalam bahasa Indonesia, Sunda, Inggris dan Jerman adalah sama, yaitu 'Maus'. Tanpa angin dan hujan, saya pun merasa seperti disambar petir... Ini benar-benar kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan, tamparan paling keras untuk saya dalam mengajarkan bahasa ke anak. Akhirnya saya jelaskan kata tersebut dalam bahasa-bahasa yang dia kenal. Dan alhamdulillah, dia bisa mengerti. Untunglah... "Mama, kalau hiji, dua, tilu, .., sapuluh itu bahasa Indonesia. Kalau satu, dua, tiga, ..., sepuluh, itu bahasa Sunda."
*kaget* "Oo.. bukan, kebalik sayang.. hiji dua tilu itu bahasa Sunda... kalau satu dua tiga bahasa Indonesia."
Sejak ini, dia menjadi sering menanyakan mana yang bahasa Sunda.. dan mana yang bahasa Indonesia.
*****************************
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, ada beberapa catatan yang patut saya garis bawahi untuk mengajarkan bahasa ke anak-anak saya selanjutnya:
- Jangan pernah menganggap kurang kemampuan si anak. Mereka sebenarnya jauh lebih pintar dibandingkan orang tuanya. Sesusah apapun kata yang harus diajarkan ke mereka, mereka pasti bisa mengikuti.
- Jangan pernah mencampuradukkan bahasa.
Subscribe to:
Posts (Atom)