Serangan kutu kali ini agak membandel dibanding tahun lalu. Bukan kutunya yang bandel, tapi telur kutu yang sudah kosong yang cukup menyita waktu membersihkannya. Kutunya sih sekali kasih obat juga mati. Hanya karena telur kutu tidak ikut terbunuh oleh obat tersebut, maka delapan hari setelah pengobatan pertama, rambut harus diterapi sekali lagi untuk membasmi telur kutu yang pecah setelah pembasmian yang pertama. Mengenai hal ini lebih jelasnya bisa di baca di postingan saya yang dulu, seputar kutu. Eh, ternyata ada untungnya juga segala dicatet.. jadi pas kena lagi, bisa buka catatan lama.
Tahun lalu, yang terkena paling parah Maryam. Solusinya, gampang.. gundulin aja.. soalnya dia masih bayi.. belum setahun umurnya waktu itu. Sedangkan sekarang, yang terkena paling parah Nadin.. gundulin???? mana mau dia.. dipotong aja dia gak mau. Nissenkamm (sisir buat ngambilin telur kutu alias serit) ternyata tidak mempan digunakan ngambilin telur yang sudah pecah itu. Jadinya hanya bisa diambilin satu persatu pakai tangan. Sayangnya, rambutnya itu seret banget, jadinya si anak malah kesakitan. Meskipun rambutnya dikeramasin dulu dengan shampoo, tetep aja si telur kutu menempel dengan kuatnya di rambut Nadin.
Akhirnya saya mencoba mencari solusi lain, coba cari di internet aja. Saya cari bahan dalam bahasa Jerman dan bahasa Indonesia. Kenapa??? karena:
Bahasa Jerman, agar sesuai dengan kondisi tempat kami tinggal, jadi lebih mudah dalam mencari bahan obat yang diperlukan.
Bahasa Indonesia, biasanya orang Indonesia suka banyak tau tentang obat-obat tradisional.
Ternyata.. setelah baca-baca.. di Indonesia itu masih banyak anggapan bahwa kutu itu bisa dibasmi dengan sering mencuci rambut. Alias.. KUTU identik dengan KOTOR. Padahal yang saya tahu di sini mah, kutu itu hanya perlu tempat hangat, tidak peduli bersih atau kotor. Jika kepala sering dicuci, yang dihasilkan bukan kepala bebas kutu, tapi justru kutu-kutu yang bersih... dan lucu.. kali, hehe..
Nah, kembali ke mencari bahan, akhirnya saya nyasar ke sini. Di sana disebutkan bahwa untuk mempermudah mengambil telur kutu yang sudah pecah, sebaiknya rambut dibaluri dulu dengan CUKA. Gotcha!!! Dan ternyata... di sana ada juga alternatif lain pengobatan kutu yang murah. Maklum obat kutu di sini harganya lumayan, kemasan 75 mL, harganya hampir 9 Euro. Itu untuk satu kepala. Untuk 4 kepala tinggal dikali 4 aja. Tapi anak-anak di bawah usia 12 tahun sih bisa minta dibayarin asuransi. Dengan catatan harus mau bolak-balik ke dokter.
Obat alternatif itu adalah:
Cuka 5% diencerkan dengan air dengan perbandingan 1:1 (perhatikan baik-baik konsentrasi cuka yang Anda punya di rumah. Punya saya 25%, jadinya mesti diencerkan dulu ke 5%, baru diencerkan lagi sesuai aturan tadi.
Balurkan campuran cuka-air ke kepala.
Tutup dengan kain, biarkan satu jam.
Basuh dengan air.
Lakukan tiap hari, minimal selama delapan hari.
Saya sendiri belum mencoba hal tersebut untuk terapi kutu, saya hanya mencoba sekali saja, untuk memudahkan ngambilin telur kutu tea. Dan hasilnya memang oke. Rambutnya jadi lebih licin, jadi lebih cepat, lebih mudah, dan si anak tidak menjerit-jerit.
Keduanya ada kelebihan dan kekurangan. Anda tinggal memilih yang terbaik untuk Anda sendiri. Oya, fotonya tampak tidak nyambung, tapi sebenarnya itu foto mereka ketika sedang diterapi.. ;)