Showing posts with label kutu. Show all posts
Showing posts with label kutu. Show all posts

Friday, January 23, 2009

Pengobatan Alternatif untuk Membasmi Kutu

Ya, kami terserang kutu lagi... Kejadiannya sendiri sudah agak lama sih, sekitar bulan Desember lalu. Menurut gurunya Nadin, memang 3 minggu sebelum Nadin ketahuan berkutu, ada anak yang terkena kutu juga. Sering sih di sini wabah kutu, katanya. Ambil hikmahnya aja kalau anak Anda kena kutu, itu artinya anak Anda sehat.. darahnya enak.. makanya kutu betah, katanya.

Serangan kutu kali ini agak membandel dibanding tahun lalu. Bukan kutunya yang bandel, tapi telur kutu yang sudah kosong yang cukup menyita waktu membersihkannya. Kutunya sih sekali kasih obat juga mati. Hanya karena telur kutu tidak ikut terbunuh oleh obat tersebut, maka delapan hari setelah pengobatan pertama, rambut harus diterapi sekali lagi untuk membasmi telur kutu yang pecah setelah pembasmian yang pertama. Mengenai hal ini lebih jelasnya bisa di baca di postingan saya yang dulu, seputar kutu. Eh, ternyata ada untungnya juga segala dicatet.. jadi pas kena lagi, bisa buka catatan lama.

Tahun lalu, yang terkena paling parah Maryam. Solusinya, gampang.. gundulin aja.. soalnya dia masih bayi.. belum setahun umurnya waktu itu. Sedangkan sekarang, yang terkena paling parah Nadin.. gundulin???? mana mau dia.. dipotong aja dia gak mau. Nissenkamm (sisir buat ngambilin telur kutu alias serit) ternyata tidak mempan digunakan ngambilin telur yang sudah pecah itu. Jadinya hanya bisa diambilin satu persatu pakai tangan. Sayangnya, rambutnya itu seret banget, jadinya si anak malah kesakitan. Meskipun rambutnya dikeramasin dulu dengan shampoo, tetep aja si telur kutu menempel dengan kuatnya di rambut Nadin.

Akhirnya saya mencoba mencari solusi lain, coba cari di internet aja. Saya cari bahan dalam bahasa Jerman dan bahasa Indonesia. Kenapa??? karena:

Bahasa Jerman, agar sesuai dengan kondisi tempat kami tinggal, jadi lebih mudah dalam mencari bahan obat yang diperlukan.
Bahasa Indonesia, biasanya orang Indonesia suka banyak tau tentang obat-obat tradisional.

Ternyata.. setelah baca-baca.. di Indonesia itu masih banyak anggapan bahwa kutu itu bisa dibasmi dengan sering mencuci rambut. Alias.. KUTU identik dengan KOTOR. Padahal yang saya tahu di sini mah, kutu itu hanya perlu tempat hangat, tidak peduli bersih atau kotor. Jika kepala sering dicuci, yang dihasilkan bukan kepala bebas kutu, tapi justru kutu-kutu yang bersih... dan lucu.. kali, hehe..

Nah, kembali ke mencari bahan, akhirnya saya nyasar ke sini. Di sana disebutkan bahwa untuk mempermudah mengambil telur kutu yang sudah pecah, sebaiknya rambut dibaluri dulu dengan CUKA. Gotcha!!! Dan ternyata... di sana ada juga alternatif lain pengobatan kutu yang murah. Maklum obat kutu di sini harganya lumayan, kemasan 75 mL, harganya hampir 9 Euro. Itu untuk satu kepala. Untuk 4 kepala tinggal dikali 4 aja. Tapi anak-anak di bawah usia 12 tahun sih bisa minta dibayarin asuransi. Dengan catatan harus mau bolak-balik ke dokter.

Obat alternatif itu adalah:
Cuka 5% diencerkan dengan air dengan perbandingan 1:1 (perhatikan baik-baik konsentrasi cuka yang Anda punya di rumah. Punya saya 25%, jadinya mesti diencerkan dulu ke 5%, baru diencerkan lagi sesuai aturan tadi.
Balurkan campuran cuka-air ke kepala.
Tutup dengan kain, biarkan satu jam.
Basuh dengan air.
Lakukan tiap hari, minimal selama delapan hari.

Saya sendiri belum mencoba hal tersebut untuk terapi kutu, saya hanya mencoba sekali saja, untuk memudahkan ngambilin telur kutu tea. Dan hasilnya memang oke. Rambutnya jadi lebih licin, jadi lebih cepat, lebih mudah, dan si anak tidak menjerit-jerit.

Untuk terapi kutunya sendiri, tampak lebih murah memang, dan lebih aman.. terutama untuk anak sekecil Maryam. Karena obat kutu dari Apotek kan gak boleh termakan, jadi dalam setengah jam, saya harus memelototin si anak, meyakinkan bahwa mereka tidak memegang kepala, lalu memasukkan tangannya ke mulut. Tapi... metode alternatif ini tampak lebih ribet, karena harus dilakukan setiap hari. Melakukan sekali aja, repotnya minta ampun.. lumayan memakan waktu. Apalagi kalau harus tiap hari dikerjain. Belum lagi baunya.. hihihi.. Sekali pakai aja kemaren, setelah dicuci pake shampoo, baunya masih tetep kecium. Pas bapaknya pulang kantor, hidungnya mengendus-ngendus.. trus ngomong, "Kalian kok pada bau asem sih??" hihihi...

Keduanya ada kelebihan dan kekurangan. Anda tinggal memilih yang terbaik untuk Anda sendiri. Oya, fotonya tampak tidak nyambung, tapi sebenarnya itu foto mereka ketika sedang diterapi.. ;)

Tuesday, January 29, 2008

Akhirnya... bebas kutu!

Kemarin adalah kontrol kedua setelah periksa kutu dua minggu yang lalu. Pada kontrol yang pertama, si dokter menemukan dua buah telor kutu yang sudah kosong. Dia khawatir, telur itu sudah pecah dan saat itu si anak kutu sedang berkeliaran di kepala Nadin, makanya aku disuruh untuk ngasih obat sekali lagi dan kontrol lagi minggu berikutnya. Dan kemarin, dia masih menemukan satu buah telur kosong setelah pencarian selama hampir 5 menit. Untunglah pada akhirnya dia mengatakan tidak perlu obat lagi, tapi masih perlu dikontrol olehku tiap hari... siapa tau nanti ada lagi. Dan akhirnya surat bebas kutu itupun keluar. alhamdulillah. Padahal seandainya (tidak boleh lho berandai-andai!) si dokter masih neko-neko, aku mau suruh dia cari dulu 10 buah telor kutu, baru aku mau bawa Nadin kontrol lagi, hihihi...

Maaf kalo cerita yang kemaren terkesan terlalu menakut-nakuti. Padahal ada yang bilang kalau sebenarnya di TK itu, kutu sudah biasa. Dan memang ketika aku ditelepon pihak Kiga, dan aku bilang kalo aku harus ke dokter hari Seninnya karena Nadin harus kontrol kutu, si ibunya bilang, "ah.. sama sekali gak masalah.. datang aja..". Tapi menurut Mbak Nuri yang udah 3 tahun di TK itu, biasanya kalau ada yang terkena kutu, suka ada tulisan "Bahaya Kutu!". Bingung? kita benerin benang kusutnya yuk...

Sebenarnya.... penularan kutu di Kiga memang sudah biasa (makanya dokternya Steffie bilang: "sekarang sih bebas kutu, gak tau bulan depan?". Tapi ini bukan berarti mereka tenang-tenang aja dan membiarkan kutu berkembang biak semaunya. Jadi sebenarnya kisah yang saya ceritakan di awal tulisan kemaren juga benar adanya. Dan tau tidak? kalau terkena kutu termasuk salah satu yang menyebabkan anak tidak boleh masuk Kindergarten. Tidak percaya? Untuk ibu-ibu yang sudah memasukkan anak2nya di TK (München) pasti dapet berlembar2 kertas yang harus di baca kan? Nah, salah satunya adalah tentang penyakit. Coba deh cari kertas yang judulnya Belehrung fuer Eltern und sonstige Sorgeberechtige gem. S34 Abs. 5 S. 2 Infektionsschutzgesetz (IfSG). Lihat poin ke-3: ein Kopfausbefall vorliegt und die Behandlung noch nicht abgeschlossen ist. Kopfausbefall yang dimaksud adalah terkena kutu, ada ide lain mungkin?

Nah, kalo soal guru Nadin yang waktu itu membolehkan Nadin masuk TK, karena dia tau kalo Nadin udah mengalami pengobatan, dan buat dia, tidak perlu surat bebas kutu itu :D Tambahan satu lagi, untuk anak di bawah 12 taun, pengobatan kutu ditanggung asuransi. Jadi jangan segan-segan pergi ke dokter biar dikasih resep buat ke apotek. Sayangnya kalo anak terkena kutu, semua penghuni rumah harus diobati juga. Oleh karena itu, jika ada kesempatan ke Indonesia, jangan lupa bawa peditox sama serit (sisir buat ngambilin kutu/telurnya) buat jaga-jaga, karena di sini cukup mahal :D

seputar kutu

Di Jerman, ratusan... bahkan ribuan kutu menular setiap harinya. Makanya, bisa saja setiap orang tertular kutu, sama seperti tertular pilek. Mempunyai kutu di kepala bukanlah sesuatu yang memalukan. Hal ini juga tidak berkaitan dengan masalah kebersihan seseorang. Diserang kutu bukanlah penyakit berat, gatal tapi sangat mengganggu dan mengakibatkan penyakit lanjutan.

Apakah kutu itu?
Kutu berukuran sekitar 3 mm, serangga berwarna abu-abu atau coklat muda ini memiliki 6 buah kaki. Biasanya kutu ini merayap dengan lincah, mereka tidak bisa loncat ataupun terbang. Satu-satunya makanan kutu adalah darah. Parasit ini menghisap darah di kulit kepala dalam jangka waktu beberapa jam. Dalam air liur kutu terdapat zat pembius, yang membuat gigitan kutu tidak terasa pada awalnya, tapi kemudian menyebabkan rasa gatal yang sangat mengganggu.

Telur kutu (Nissen) berukuran 1 mm, gundukan gelap yang berada di dekat kulit kepala, menyerupai kuncup bunga. Berbeda dengan ketombe, telur kutu melekat kuat di rambut dan tidak bisa terambil oleh sisir biasa. Kutu dan telur kutu lebih suka berada di bagian belakang kepala, daerah kuping dan tengkuk. Dalam 7 sampai 10 hari telur kutu akan menjadi larva, dimana dalam 7 sampai 10 hari kemudian akan menghasilkan telur lagi.

Bagaimana kutu bisa berpindah?
Kutu dapat berpindah dari satu orang ke orang lain, tapi telur kutu tidak bisa. Penularan bisa terjadi dimana saja, saat kepala berdekatan. Bisa juga melalui suatu benda, dimana benda tersebut bersentuhan dengan rambut, misal topi, handuk, bantal, dll.

Bagaimana menghilangkan kutu?
Sebaiknya pengobatan segera dilakukan secepat mungkin setelah ditemukannya kutu. Obat dapat diperoleh dengan resep dari dokter atau langsung dibeli di Apotek. Baca baik-baik cara penggunaan sebelum pengobatan. Tutupi rambut selama pengobatan dengan handuk atau tutup kepala. Perhatian: untuk anak sampai usia 12 tahun pengobatan kutu ditanggung asuransi.

Hal-hal penting lainnya:
Tidak ada alasan untuk malu. Baik kepala bersih ataupun kotor, masing-masing bisa terkena kutu. Sering keramas hanya menghasilkan kutu yang bersih.

  • Teman-teman dan keluarga
Beritau dan periksa dengan teliti semua orang yang akhir-akhir ini ditemui. Tangani orang-orang ini dengan cara yang sama.
  • Kontrol setelah pengobatan
Setelah pengobatan harus dikontrol setiap hari. Ketika ditemukan lagi kutu yang masih hidup, maka diperlukan pengobatan yang kedua. Kadang-kadang masih ada beberapa larva yang belum mati karena terlindung oleh selubung telur. Paling lambat setelah 8 hari dia akan menetas. Inilah saat yang baik untuk melakukan pengobatan yang kedua.
  • Masih ada telur kutu?
Ketika masih ditemukan telur kutu di rambut, bukan berarti pengobatannya mengalami kegagalan. Telur kutu yang kosong atau sudah mati melekat kuat di rambut seperti telur kutu yang masih hidup. Oleh karena itu, telur-telur kutu ini harus diambil dengan menggunakan sisir khusus untuk telur kutu (basa Sunda: serit) yang terbuat dari logam, dari plastik biasanya tidak berfungsi baik. Untuk mempermudah, sebelumnya rambut dibilas dulu dengan air cuka (cuka : air = 1 : 2)
  • Sebaiknya meminta nasehat dokter, ketika.....
  1. pengobatan yang pertama tidak berhasil
  2. kutu ditemukan di kepala bayi, anak kecil, ibu hamil dan ibu menyusui
  3. kulit kepala sudah terluka karena garukan atau meradang
  4. sebelumnya sudah terdapat penyakit lain di kulit kepala
  • Apa yang masih bisa dilakukan?
Kutu dapat berpindah dari satu kepala ke kepala lain. Barang-barang di rumah pun jarang luput dari makhluk yang satu ini. Kutu bisa ditemukan di:
  1. pakaian, handuk, sprei, selimut, alas kain.
  2. mebel yang berjok (misal: sofa), autositz
  3. sisir, sikat rambut
  4. boneka
Cara yang bisa digunakan untuk membasmi kutu dalam benda-benda tersebut:
  1. pemanasan atau pencucian dalam suhu 60 derajat Celcius
  2. pembekuan pada suhu -20 derajat Celcius selama 2 hari
  3. penyimpanan dalam pastik tertutup selama lebih dari 1 minggu dalam temperatur kamar. Kutu akan kelaparan dalam 2-3 hari, kutu telur bisa hidup lebih lama.
  4. Untuk karpet dan mebel cukup dibersihkan dengan penyedot debu. Jangan gunakan zat pembersih.
diterjemahkan dan dirangkum dari Lausige Zeiten können schnell vorbei sein dan Den Läusen Beine machen, aber richtig!

Tuesday, January 15, 2008

Makhluk menakutkan itu bernama... Läuse!

Konon, Kopfläuse (kutu rambut) sangat ditakutkan di Jerman. Ada satu kejadian yang menimpa keluarga Indo-Jerman. Entah darimana, di kepala anaknya ditemukan makhluk kecil ini. Alhasil, anak ini tidak boleh masuk sekolah (TK) sampai dokter anak menyatakan kalo anak ini bebas kutu. Bukan hanya anak ini, tapi juga kakaknya mendapat perlakuan serupa. Selain itu, gurunya juga heboh, memberitahu seluruh orang tua murid di TK itu, bahwa ada salahsatu anak yang terserang kutu, dan menganjurkan orang tua untuk memeriksa kepala anaknya masing-masing. Kenapa sih meni heboh gini? yaa.. soalnya kutu ini binatang menular, mereka bisa loncat dan terbang dari satu kepala ke kepala lain.

Waktu kecil aku juga berkutu.. (meni bangga.. :D). Tapi kondisinya beda ama di sini. Aku masih boleh sekolah dan bebas bermain dengan anak lain. Mungkin karena anak lain juga sama berkutu.. :D:D:D Nah, semenjak duduk di bangku SMP, kutu di kepalaku mulai berkurang. Bahkan setelah SMA... si kutu udah gak berani lagi bercokol di situ.. mungkin pada gak betah, karena anak gede garuk-garuknya heboh. :D

Tanpa disangka-sangka... hari Jum'at kemarin, ketika sedang asyik menyusui Maryam sambil membelai lembut rambutnya yang lebat, aku dikejutkan oleh beberapa buah telor kutu a.k.a lisa a.k.a liso a.k.a Nissen. Ku bolak-balik lagi rambutnya... waaaaah... banyak banget!!!! bahkan sempat menangkap ibunya telor-telor itu. Iyaaa... saat itulah aku bertemu kembali dengan kutu di kepala Maryam... di kepala MARYAM!!

PANIK... HEBOH... bingung mesti ngapain... gundulin... jangan... gundulin... jangan... Seperti biasa kutekan no telepon orang yang selalu mampu meredakan kepanikan ini. Ah.. kok nggak diangkat ya?? ah ya.. dia sedang sholat jum'at. Kumaha atuh nya?? ah.. gundulin aja deh.. (emang sebelumnya sempet niat nyukurin Maryam, gak sampe gundul emang niatnya..). Bismillaah...

Setelah itu, baru deh nelepon dokter..bikin janji (yang harusnya dilakukan dari tadi sebelum Maryam dicukur).

Di tempat dokter.
Kami disuruh menunggu di kamar 4, bukan di ruang tunggu seperti biasanya. Si Nadin aja kesenengan, bisa maen kuda2an tanpa diganggu anak lain. Ternyata kata dokternya, penanganan kutu ini harus dilakukan dua kali, sekarang dan delapan hari kemudian. Aku dan si Akang juga harus diobati juga.. (yang sayangnya obatnya harus beli sendiri :(( dan mahal! ). Semua kain-kainan atau wool seperti sprei, selimut, dan Kuscheltiere harus dicuci. Nah, setelah rambutnya dicuci, itu si nissen (kutu2 telor) harus dicabutin satu-satu, apakah pake tangan ato pake sisir. Waduh, Dok.. bakalan makin banyak kerjaan terbengkalai nih...

So, setelah beberapa minggu lalu ngurusin cucian karena Nadin ngompol, sekarang disibukkan dengan cucian dalam rangka membasmi kutu.