Semalam neng iyam mengeluh kesakitan karena gigi yang bergoyang,
"pengen cepet2 copot niiiiih" katanya.
"Ya udah, besok mamah beliin Brezl yaa.. siapa tau giginya nempel di Brezl kayak gigi2 yang dulu" *lol*
Eh, seriusan ini, giginya neng iyam selalu copot karena nempel di roti keras khas Jerman..
Esok paginya, dia bangun duluan, trus bangunin adiknya, yang kebetulan tidur di kasur paling bawah. Doi duduk dikasur tengah, jadi posisinya agak lebih tinggi dari adiknya. Kalau bangunin jang Oboy, sama aja kayak bangunin macan tidur, bukannya bangun doi malah ngamuk.. jelek2nya kayak pagi itu, tendangan karatenya keluar, tepat mengenai mulutnya neng iyam. Neng Iyam menjerit nangis, saya pikir karena kesakitan, ternyata karena giginya loncat keluar dan gak bisa ditemukan... hahaha...
Ya ampuuun, neng.. sudahlah.. berkat tendangan Oboy, sakit gigimu jadi hilang kan?? ayo bilang alhamdulillah sama Allah.. Dia pun berhenti menangis, baca alhamdulillah, ngaca2 sambil nyengir karena sekarang ompongnya jadi simetris. :))
Friday, September 12, 2014
Friday, August 22, 2014
Yang Konyol dari Spanyol
22.08.2014, Albayzin, Granada.
Begitu kami sampai ke apartemen, kami sudah ditunggu ternyata. Namun yang menunggu bukanlah resepsionis, jadi kami harus menunggu sang resepsonis datang dari pergaulannya. *lol* Tak lama kemudian, doi datang sambil bawa2 buku, sepertinya catatannya doi tuh.
"Hallo." sapanya ramah.
"Hallo" jawab kami.
"Nama?"
"DN"
"Anda booking dari anu.com?"
"Bukan, dari apa.com"
"Oh, saya tidak punya reservasi atas nama anda.." katanya sambil melihat catatannya.
*apppaaaaa???? Setelah nanjak berbukit2 sambil geret2 koper plus ngegiring anak 3, kalimat tersebut langsung bikin si mamah pingsan bangun guling2*
"Hm.. boleh saya liat tanda booking Anda?" tanyanya.
Karena kami gak ngeprint bukti booking, maka si akang buka HP dulu *untung gak habis batre*
"Saya sebenarnya sedang nunggu tamu yang lain sih dr apa.com" kata si resepsionis, sambil menyimpan bukunya di meja, dan dia menuju suatu pojok ruangan untuk membetulkan sesuatu.
Saat itulah list si resepsionis keintip ama si akang.
"Hey, ini kan nama saya."
"Oh, ini Anda? Saya pikir anda orang Jerman!" katanya terkejut.
*mamah gigit2 koper.. huaaaa.. kebangetan nih resepsionis.. setidaknya akhirnya doi tau, di jerman ada jg yg kulitnya gosooong...*
Begitu kami sampai ke apartemen, kami sudah ditunggu ternyata. Namun yang menunggu bukanlah resepsionis, jadi kami harus menunggu sang resepsonis datang dari pergaulannya. *lol* Tak lama kemudian, doi datang sambil bawa2 buku, sepertinya catatannya doi tuh.
"Hallo." sapanya ramah.
"Hallo" jawab kami.
"Nama?"
"DN"
"Anda booking dari anu.com?"
"Bukan, dari apa.com"
"Oh, saya tidak punya reservasi atas nama anda.." katanya sambil melihat catatannya.
*apppaaaaa???? Setelah nanjak berbukit2 sambil geret2 koper plus ngegiring anak 3, kalimat tersebut langsung bikin si mamah pingsan bangun guling2*
"Hm.. boleh saya liat tanda booking Anda?" tanyanya.
Karena kami gak ngeprint bukti booking, maka si akang buka HP dulu *untung gak habis batre*
"Saya sebenarnya sedang nunggu tamu yang lain sih dr apa.com" kata si resepsionis, sambil menyimpan bukunya di meja, dan dia menuju suatu pojok ruangan untuk membetulkan sesuatu.
Saat itulah list si resepsionis keintip ama si akang.
"Hey, ini kan nama saya."
"Oh, ini Anda? Saya pikir anda orang Jerman!" katanya terkejut.
*mamah gigit2 koper.. huaaaa.. kebangetan nih resepsionis.. setidaknya akhirnya doi tau, di jerman ada jg yg kulitnya gosooong...*
Friday, March 15, 2013
Nego-nego sama Neng Iyam
Hari Kamis kemarin, tiba-tiba saja Jang Oboy bangun tidur dengan muka gak keruan dan sedikit rewel. Ya sebenarnya gak tiba-tiba juga sih, tanda-tanda penurunan kondisinya sudah kelihatan dari hari-hari sebelumnya, namun hari itu tampak sudah masuk puncaknya untuk tidak sekolah. Saya langsung laporan ke Neng Iyam bahwa adiknya sakit dan tidak masuk sekolah hari ini.
"Kamu mau ke Kindergarten nggak, Neng??" tanya saya *dengan harapan jawabannya 'nggak' biar hemat langkah jemput ke kiga :D
"Ya!" jawabnya mantap.
"Tapi L gak ikut lho, kamu sendirian." *tambah embel2 supaya semangatnya turun :D*
"Gak apa-apa, jadinya kayak Maryame waktu Laci adiknya sakit, dia juga sendirian ke Kiga." dengan muka senang.
"Tapi berangkatnya sama Papah lho, karena Mamah harus jagain L di rumah" *masih berusaha nurunin semangat, biasanya Neng Iyam gak suka pergi sekolah sama Papahnya*
"Iya, gak apa-apa" masih dengan semangat 45.
"Beneran???" *masih berharap si anak berubah pikiran*
"Benerrrrr... M malah seneng kalau pergi sendiri, gak usah jagain L terus kan di sana."
*oh, ternyataaaaa....*
Baiklah, lagian adiknya gak parah-parah banget, mudah-mudahan siangnya udah baikan kondisinya, jadi bisa dibawa jemput kakaknya nanti. Sedang untuk esoknya, kebetulan saya ada acara lain, hm.. baiknya si anak 2 ini bolos aja dua-duanya, biar Jang Oboy gak kecapean harus jemput ke sana kemari. Saya coba nego lagi untuk esok harinya.
"Neng, tapi besok gak usah ke Kiga ya, besok kita ke rumah Bude Tiwi aja, mau ikut kan kamu?!" tanya saya.
"Rumah Bude Tiwi???? Mauuuuuuuu... M udah lama banget gak ke rumah Bude Tiwi.. Tapiiiiii *setelah berpikir sejenak* nggak jadi deh, besok ada Tanzen di Kindergarten, M mau tanzen aja."
"Lho?! ke rumah Bude Tiwi aja deh.. kan kamu udah lama gak ikut." *si Mamah masih maksa*
"Nggak ah, ke Kindergarten aja!" *duh, nego GAGAL lagi!*
************************************
Siangnya, saya lihat kondisi Jang Oboy agak sedikit memburuk, tambah lesu dengan mata sayu, tapi diajak tidur keukeuh pengen main. Saya jadi tambah yakin kalau besoknya kami tidak akan bisa pergi ngaji ke rumah mbak Tiwi, apalagi ke Kindergarten. Izin ke Mbak Tiwi dkk mah gampang, izin ke Neng Iyam yang susah.
"Neng, tadi L kayaknya kecapean jemput M di Kindergarten, kayaknya besok L harus istirahat aja di rumah, jadi M gak usah ke Kindergarten ya?!"
"mmmhhh!!" *manyun*
Duh, padahal biasanya dia senang banget kalau disuruh tinggal di rumah. Apalagi kalau adiknya sakit dan harus di rumah, dia biasanya merasa terdzalimi abis kalau harus ke Kindergarten sendiri.
"Ayolah, Neng.. kasian adiknya.. mana diluar dingin lagi.. Pokoknya kalau M mau tinggal di rumah, mamah kasih deh apa yang kamu mau."
"Tapi M mau ke Kindergarten, hari Jum'at kan harinya Tanzen!"
"Kita juga bisa Tanzen di rumah, M tinggal pilih aja mau lagu apa."
"Gak mau!"
"Klo M mau di rumah, mamah nyalain internetnya dari pagi deh"
"Mmhhh!!!" *tetep manyun*
Yah, nego GAGAL lagi!
*********************************************
Malam sebelum tidur, saya masih sempet2nya nego lagi :D
"Besok kita di rumah aja yah.. gak usah ke kiga, ok?!"
"gak mau, M maunya ke Kindergarten!" *... dan GAGAL lagi!*
*********************************************
Dan paginya saat bangun tidur, saya masih juga berusaha membujuk.. *udah hopeless sebenarnya*
"Di rumah aja ya hari ini?!"
"Gak mau!"
"Ok lah... mendingan juga ke Kindergarten dink, soalnya Mamah harus beli daging juga ke Toko Turki!" jawab saya
M kerjap-kerjap mata... "Mmm.. gak jadi deh ke Kindergartennya.. di rumah aja!"
Lho??!!! kok tiba-tiba aja berubah pikiran??! ah, dari kemarin lupa sih kalau si Do'i emang sukanya BERBEDA dari yang lain... Coba ingetnya dari kemarin ya.. gak usah pake negosiasi berkepanjangaaaaaannnnnnn... :D
Wednesday, February 13, 2013
'Kentut'geschichten
Pas saya sedang beraktivitas dengan satu Neng, Neng yang satunya lagi sibuk dengan aktivitasnya sendiri.. dan kemudian.. tuuuuttt... ada yang bunyi. :D "Neng, kamu kentut ya??" tanya saya.. "Hihihi..." dia nyengir.. trus lanjut ketawa2 sendiri... dan dua-duanya akhirnya ketawa-tawa geli..
"Eh, N punya Geschichte (cerita) nih.." kata N yang membuat suasana tawa mereda.
"Ada satu kakak perempuan yang punya adik perempuan. Adiknya ini ngikutin kakaknya teruuus deh. Sampe akhirnya kakaknya kentut.. jadi adiknya di belakang dikentutin... hahahaha.." disambut tawa riuh rendah dari pendengar!
"M juga punya Geschichte.. M punya Geschichte... dengerin yaaa.." potong M masih sambil ketawa.
"Ada lima orang, yang paling kecil laki-laki, yang tengah perempuan, yang paling gede perempuan, yang dua lagi mamah-papahnya. Papahnya paling suka kentut di depan 4 orang yang lain... hahahaha..." sambutan tawa pendengar makin meriah.
"Mamah, Mamah juga harus bikin Geschichte! ayo!" paksa M.
"Ok, sekarang mamah yang bikin cerita ya... Hm.. ada anak perempuan, sering banget kentut. Satu hari dia lagi sama mamahnya, dia bercerita sama mamahnya. Terus di cerita itu tiba-tiba dia teriak yang kencang banget.. sambil kentut.. Kata Mamahnya, "kamu kentut ya?". "Emang kedengeran gitu?" tanya anak perempuannya. Mamahnya mengangguk. "Oh, padahal aku udah teriak yang kencang biar kentutnya gak kedengeran!" kata si anak."
"Wahahahaha....." penonton masih tetap ramai... Memang ya.. cerita kentut ini gak ada matinya!. :D
*Cerita2 di atas hanya fiktif belaka, kalau ada kesamaan nama, tempat, cerita.. semua hanya kebetulan belaka.. Jadi jangan ada yang tersinggung ya!! :D Piss ah!
"Eh, N punya Geschichte (cerita) nih.." kata N yang membuat suasana tawa mereda.
"Ada satu kakak perempuan yang punya adik perempuan. Adiknya ini ngikutin kakaknya teruuus deh. Sampe akhirnya kakaknya kentut.. jadi adiknya di belakang dikentutin... hahahaha.." disambut tawa riuh rendah dari pendengar!
"M juga punya Geschichte.. M punya Geschichte... dengerin yaaa.." potong M masih sambil ketawa.
"Ada lima orang, yang paling kecil laki-laki, yang tengah perempuan, yang paling gede perempuan, yang dua lagi mamah-papahnya. Papahnya paling suka kentut di depan 4 orang yang lain... hahahaha..." sambutan tawa pendengar makin meriah.
"Mamah, Mamah juga harus bikin Geschichte! ayo!" paksa M.
"Ok, sekarang mamah yang bikin cerita ya... Hm.. ada anak perempuan, sering banget kentut. Satu hari dia lagi sama mamahnya, dia bercerita sama mamahnya. Terus di cerita itu tiba-tiba dia teriak yang kencang banget.. sambil kentut.. Kata Mamahnya, "kamu kentut ya?". "Emang kedengeran gitu?" tanya anak perempuannya. Mamahnya mengangguk. "Oh, padahal aku udah teriak yang kencang biar kentutnya gak kedengeran!" kata si anak."
"Wahahahaha....." penonton masih tetap ramai... Memang ya.. cerita kentut ini gak ada matinya!. :D
*Cerita2 di atas hanya fiktif belaka, kalau ada kesamaan nama, tempat, cerita.. semua hanya kebetulan belaka.. Jadi jangan ada yang tersinggung ya!! :D Piss ah!
Tuesday, January 29, 2013
Obrolan Bocah-bocah Pemikir
Suatu malam,
M: "Mamah, M pengen punya baby lagi!"
N: " Kasian mamahnya, M, nanti tambah repot"
M: "ya nggak donk, baby kan cuma bobo doank!"
N: " ya tapi kalau babynya udah tambah gede, udah bisa merangkak sana-sini, lari sana-sini, mamahnya bakal repot"
M: "ya nggak donk, kalau babynya tambah gede, kita juga udah tambah gede, udah bisa semu-muanya sendiri"
Mah: "Eh, emang kenapa M pengen punya baby lagi?"
M: "biar L punya adik lagi, biar L gak mencet2 lift lagi." *doh, sekarang ketauan deh motifnya."
N: "tapi kan nanti yang mencet2 lift jadinya tetep bukan M, tapi babynya!"
M: "ya nggak apa2, tapi kan L gak bisa mencet2 lift lagi, sama kayak kita!"
*gubrag*
M: "Mamah, M pengen punya baby lagi!"
N: " Kasian mamahnya, M, nanti tambah repot"
M: "ya nggak donk, baby kan cuma bobo doank!"
N: " ya tapi kalau babynya udah tambah gede, udah bisa merangkak sana-sini, lari sana-sini, mamahnya bakal repot"
M: "ya nggak donk, kalau babynya tambah gede, kita juga udah tambah gede, udah bisa semu-muanya sendiri"
Mah: "Eh, emang kenapa M pengen punya baby lagi?"
M: "biar L punya adik lagi, biar L gak mencet2 lift lagi." *doh, sekarang ketauan deh motifnya."
N: "tapi kan nanti yang mencet2 lift jadinya tetep bukan M, tapi babynya!"
M: "ya nggak apa2, tapi kan L gak bisa mencet2 lift lagi, sama kayak kita!"
*gubrag*
Tuesday, January 22, 2013
Ditinggal Papah (lagi!)
***********************************************************
Hari Sabtu...
"Neng, Papah mau ke Inggris lagi lho.." kata Mamah *GalauModeOn*
"hah?!" N dan M serentak menghentikan aktivitas masing2, sambil memelototkan mata tanda terkejut"
"beneran?" tanya N.
saya mengangguk.
"beneran? beneran? beneran?" tanya M
"iyaaaa" jawab saya.
"beneran banget??" tanya M lagi.. *ini anak terkejut sampe gak percaya kayak gini nih, asli galau si mamah mulai memudar :D*
"beneran banget banget banget banget..." jawab saya.
"YESSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS, kita bisa bobo sama Mamah lagi!!!!!!!!!!!!" teriak M.
"Asyiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkk" sorak N.
*Mamah pingsan*
***********************************************************
Senin siang pas ngecek FB, Mamah hepiii bener dpt pesan dr Papah yang mengatakan sudah sampai dengan selamat, meski sempet muter2 dulu di atas dikarena dibawah bersalju. M melihat keriangan Mamah.
"ada Papah? Papah udah sampai ke Inggris?" tanya M
"udah."
"M mau ngomong sama Papah."
"Nanti malem ya, Papah skrg masih di kantor, itu lagi di lab temennya, belum bisa ngobrol sama kita, ntar kalau udah di hotel, ok?!"
"Ookkkk" jawab M dengan sedikit kecewa.
***********************************************************
Senin sore pas maghrib,
"Neeeenggg.. ayo siap2 sholat kita." ajak saya
"sholat apa?" tanya N
"maghrib" dan dia pun segera ke kamar mandi untuk mengambil wudlu. Saya lihat Neng Iyam masih asyik main boneka di kamar.
"Neng, sholat dulu yuk!" ajak saya
"ah, kenapa sih kita harus sholat terus?" tanyanya.
"Nggak sholat terus kok, cuma 5 kali aja dalam sehari kan? yuk."
"Tapi M bosen sholat terus."
"Eh, nanti pas Papah online, ditanya lho sama Papah, udah sholat belum? udh ngaji belum? kalau belum kan M gak akan bisa jawab." dia termenung.. dan sayapun berlalu untuk mengambil wudlu.
Dari kamar mandi terdengar teriakannya,
"Kalau Mamah udh shalat, M mau ngaji yah!"
"Ok" jawab saya.
Pas saya masuk ke kamar, yang sudah siap hanya N, M masih juga belum ada. Saya panggil lagi,
"Neng, ayo donk, kalau lama waktunya keburu habis ntar. Katanya habis shalat mau ngaji?"
"M kan bilang, M mau ngajinya habis Mamah shalat, bukan habis M shalat."
"loh, jadi M gak mau shalat nih?"
"iya."
*Mamah pingsan lagi*
***********************************************************
Senin malam, Neng Iyam udah nunggu2 Papah nih, tiap 10 menit nanya, "Papah udh online??" Ya, ci eneng, di Inggris baru jam 5, Papah pasti belum pulang ngantor.
Sampai akhirnya si Papah nelepon, bilang bahwa di hotel gak ada internet, jadi gak bisa online. Mamah memohon dengan sangat agar Papah mau ngobrol dulu dengan M sebentaaaaarrrrr saja. M seneng banget denger suara Papah dan dia langsung ceria. Sayangnya Papah gak bisa lama2 karena menggunakan telepon kantor, dan klik.. telepon pun terputus. Mamah bilang ke M bahwa Papah gak bisa online, dan gak bisa nelepon, pun kita gak bisa nelepon.. M bibirnya langsung jebeng, bergetar dan mata berkaca-kaca, tangisnya pun seketika pecah.. "huaaaaa.....aaaaaaaaaaaaaaaaaa." *tangisan cetar membahana*
"loh, M kok nangis?? M sedih krn Papah gak bisa nelepon kita??" tanya saya sambil merangkul M ke dalam pangkuan saya.
"Iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..." sambil nangis.
"M kangen Papah??"
"iyaaaaaaaaaaa...." sambil nangis.
"M bukan kangen Papah, tapi M kangen handy Papah" kata N ngegodain adiknya.
"Nggaaaaakkkk... M beneran kangen Papah.. M suka sama Papaaaaahhhhh... aaaaa..."
lah, Neng Iyam.. biasanya kalau Papah ada serba gak mau, serba gak suka sama Papah.. pisahan belum semalam, udah galau sangat. Keliatan warna aslinya sekarang. :)) Makanya kami gak bisa lama2 hidup terpisah, karena akan ada yang lebih galau dari istrinya si Papah. :D
***********************************************************
Hari Sabtu...
"Neng, Papah mau ke Inggris lagi lho.." kata Mamah *GalauModeOn*
"hah?!" N dan M serentak menghentikan aktivitas masing2, sambil memelototkan mata tanda terkejut"
"beneran?" tanya N.
saya mengangguk.
"beneran? beneran? beneran?" tanya M
"iyaaaa" jawab saya.
"beneran banget??" tanya M lagi.. *ini anak terkejut sampe gak percaya kayak gini nih, asli galau si mamah mulai memudar :D*
"beneran banget banget banget banget..." jawab saya.
"YESSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS, kita bisa bobo sama Mamah lagi!!!!!!!!!!!!" teriak M.
"Asyiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkk" sorak N.
*Mamah pingsan*
***********************************************************
Senin siang pas ngecek FB, Mamah hepiii bener dpt pesan dr Papah yang mengatakan sudah sampai dengan selamat, meski sempet muter2 dulu di atas dikarena dibawah bersalju. M melihat keriangan Mamah.
"ada Papah? Papah udah sampai ke Inggris?" tanya M
"udah."
"M mau ngomong sama Papah."
"Nanti malem ya, Papah skrg masih di kantor, itu lagi di lab temennya, belum bisa ngobrol sama kita, ntar kalau udah di hotel, ok?!"
"Ookkkk" jawab M dengan sedikit kecewa.
***********************************************************
Senin sore pas maghrib,
"Neeeenggg.. ayo siap2 sholat kita." ajak saya
"sholat apa?" tanya N
"maghrib" dan dia pun segera ke kamar mandi untuk mengambil wudlu. Saya lihat Neng Iyam masih asyik main boneka di kamar.
"Neng, sholat dulu yuk!" ajak saya
"ah, kenapa sih kita harus sholat terus?" tanyanya.
"Nggak sholat terus kok, cuma 5 kali aja dalam sehari kan? yuk."
"Tapi M bosen sholat terus."
"Eh, nanti pas Papah online, ditanya lho sama Papah, udah sholat belum? udh ngaji belum? kalau belum kan M gak akan bisa jawab." dia termenung.. dan sayapun berlalu untuk mengambil wudlu.
Dari kamar mandi terdengar teriakannya,
"Kalau Mamah udh shalat, M mau ngaji yah!"
"Ok" jawab saya.
Pas saya masuk ke kamar, yang sudah siap hanya N, M masih juga belum ada. Saya panggil lagi,
"Neng, ayo donk, kalau lama waktunya keburu habis ntar. Katanya habis shalat mau ngaji?"
"M kan bilang, M mau ngajinya habis Mamah shalat, bukan habis M shalat."
"loh, jadi M gak mau shalat nih?"
"iya."
*Mamah pingsan lagi*
***********************************************************
Senin malam, Neng Iyam udah nunggu2 Papah nih, tiap 10 menit nanya, "Papah udh online??" Ya, ci eneng, di Inggris baru jam 5, Papah pasti belum pulang ngantor.
Sampai akhirnya si Papah nelepon, bilang bahwa di hotel gak ada internet, jadi gak bisa online. Mamah memohon dengan sangat agar Papah mau ngobrol dulu dengan M sebentaaaaarrrrr saja. M seneng banget denger suara Papah dan dia langsung ceria. Sayangnya Papah gak bisa lama2 karena menggunakan telepon kantor, dan klik.. telepon pun terputus. Mamah bilang ke M bahwa Papah gak bisa online, dan gak bisa nelepon, pun kita gak bisa nelepon.. M bibirnya langsung jebeng, bergetar dan mata berkaca-kaca, tangisnya pun seketika pecah.. "huaaaaa.....aaaaaaaaaaaaaaaaaa." *tangisan cetar membahana*
"loh, M kok nangis?? M sedih krn Papah gak bisa nelepon kita??" tanya saya sambil merangkul M ke dalam pangkuan saya.
"Iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..." sambil nangis.
"M kangen Papah??"
"iyaaaaaaaaaaa...." sambil nangis.
"M bukan kangen Papah, tapi M kangen handy Papah" kata N ngegodain adiknya.
"Nggaaaaakkkk... M beneran kangen Papah.. M suka sama Papaaaaahhhhh... aaaaa..."
lah, Neng Iyam.. biasanya kalau Papah ada serba gak mau, serba gak suka sama Papah.. pisahan belum semalam, udah galau sangat. Keliatan warna aslinya sekarang. :)) Makanya kami gak bisa lama2 hidup terpisah, karena akan ada yang lebih galau dari istrinya si Papah. :D
***********************************************************
Thursday, November 8, 2012
Ketika Menunggu di Dokter Anak
Hari ini kami harus mengunjungi dokter anak untuk memeriksakan Ligar. Sebenarnya sakitnya belum serius sih, tapi kakang keukeuh anaknya 'sakit' dan harus secepatnya dibawa ke dokter. Demi menenangkan hati babehnya anak2, baiklah.. kami bolos Kindergarten aja dulu untuk hari ini. Saya tau benar, dokter anak saya selalu penuh, apalagi untuk pasien tanpa Termin (janji), gak ada jalan lain selain bersedia lama menanti. Jadi saya mengerahkan tenaga sekuat mungkin, agar kami bisa berangkat sepagi mungkin, karena Nadin harus dijemput pukul 11.15.
Sesampainya di dokter anak, kami merupakan pasien tanpa Termin ketiga. Fyuuuh... gak akan nunggu terlalu lama lah, paling dalam 1 jam kami sudah bisa keluar, jadi nanti bisa belanja cabe dulu ke toko Asia di sebrang. :D Tapi ntah kenapa, ternyata setelah 1 jam, tidak ada 1 pasien pun yang dipanggil dari ruangan itu. Satu per satu pasien lain berdatangan, ruangan pun mulai penuh. Ligar asyik memainkan semua macam mainan yang tersedia di situ. Sedangkan Maryam lebih senang dibacakan buku dan makan. Sisanya dia pakai untuk memperhatikan orang-orang sekitar. Semakin lama saya semakin mengantuk.. ini sudah terlalu lama nunggunya. Sampai akhirnya Maryam bertanya kepada saya,
"Mamah, kalau baby itu udh jadi anak-anak, mamahnya udah jadi Oma-oma ya??" sambil menunjuk ibu-ibu yang sedang memangku bayi kecil berumur 1 tahunan (baru bisa jalan bayinya).
Dalam keadaan mengantuk, saya lirik ibu itu. Ibunya memang termasuk ibu2 yang mengutamakan karir daripada berumah tangga. Jadi tampaknya di penghujung 40an, beliau baru mendapatkan bayi. Ya ampuuuuun, Neng Iyam, kepikiran ya ampe ke situ??? :D Lalu saya bisikkan ke dia,
"Neng, orangnya jangan ditunjuk ya, kamu cukup bilang ibu2 baju coklat yang bawa bayi baju ungu aja."
"Kenapa gak boleh ditunjuk?"
"karena nanti orangnya bisa marah."
"kenapa marah?"
"karena dia ditunjuk, jadi dia tau kalau dia lagi diomongin, tapi kan dia nggak ngerti kita ngomong apa, ntar dia nyangkanya kita ngomongin dia yang jelek-jelek *padahal iya..*"
"Ooo.." diapun terdiam.
Tak lama,
"Kenapa kakaknya anak itu mainin Handy melulu??"
"karena dia bosen kali"
"kasian, adiknya gak dikasih, jd bengong.." :D:D
"Anak itu kenapa sendirian?"
"karena udah gede kali."
"kalau udah gede bisa ngomong sendiri?"
"iya."
Tak lama Papahnya anak itu datang,
"Itu Papahnya ya?? anaknya gak bengong lagi sekarang, Mamah."
:)
Kemudian datang seorang pemuda. Note: Di sini dokter anak melayani anak2 baru lahir sampai usia 18 tahun, jd para ABG yang masih 18 taun, masih berobat bareng baby-baby. :D Dan ABG di sini tau kan??? wajahnya lebih dewasa drpd ABG di Indo yang lugu2. :D Maryam kembali bertanya,
"Kenapa bapak itu datang sendirian?? kok gak bawa anaknya??"
"Psst.. itu bukan bapak2.. itu mah Aa.. dia sendiri yang mau diperiksa sama dokter."
"Kenapa Aanya marah?" Alis si Aa emang berkerut terus sejak dia datang.
"Oo.. itu mah bukan marah, mungkin si Aanya lagi mikir.."
"mikir apa??"
"mikir kenapa lama banget nunggunya, mungkin dia bosen, gak suka nunggu lama kayak kita."
"kenapa gak suka nunggu???"
"karena membosankan dan cape." *dan jawab pertanyaan kamu juga capeeee deeeeeh... tp setidaknya gak bikin ngantuk lagi :D*
"Tuh sekarang Aanya udh gak mikir lagi!!" katanya ketika alis si Aa tidak lagi berkerut.
:)))
"Psst.. jangan pake nunjuk yaaaa.." saya mengingatkan lagi.
Kemudian si ibu kedua pun dipanggil..
"Nah habis ini kita ya, Mamah?!" katanya.
Sayapun mengangguk.
"Habis kita yang ituuu *sambil menjulurkan lidah*, lalu yang itu.. *menjulurkan lidah lagi*, dan yang itu.. terus yang itu.... *semuanya sambil menjulurkan lidah*"
"Maryam, kenapa lidahnya pake dijulurin keluar???"
"kan kata Mamah gak boleh nunjuk??!!"
*MAMAH PINGSANNNN*
Wednesday, July 18, 2012
t e r j e b a k
Kalau biasanya saya bercerita tentang Neng Iyam, sekarang mah giliran sama Neng Nudin ah.. :)
******************
Suatu sore ketika kami sedang kumpul-kumpul di ruang depan, seperti biasa masing-masing asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Sambil mengelus-elus rambutnya Ligar, saya berkata,
"duh, Ligar rambutnya udah gondrong ya?! ntar kita cukurnya di A**** aja yaa.."
"apaan tuh A****??" tanya Nadin.
"Oh itu.. salon langganannya si Papah di Bandung." jawab saya.
"Di Bandung??? Kenapa gak salon di sini aja?" tanyanya lagi.
"Soalnya kalau salon di sini mah mahallll.. kalau di Bandung mah murah.. hehehe.." jawab saya.
"kalau sama Mamah??"
"maksudnya kalau dicukurnya sama mamah?? ooh.. itu mah gratis dooonk.. kostenlos!" jawab saya bangga.. :D
"kalau gitu kenapa dicukurnya nggak sama mamah aja?? kan gak usah bayar?!!"
*gubrag*
******************
Suatu pagi, disaat kami sedang berjalan kaki menuju sekolah,
"Din... kalau kita jadi pulang ke Indonesia buat selamanya.. berarti kita gak akan bisa ke Jerman lagi, gak apa-apa??"
"Kenapa gak bisa?"
"karena kalau kita pindahan, rumah kita juga jadi pindah ke Indonesia. Kalau cuma liburan ke Indonesianya, kita bisa balik lagi ke sini, tapi di Indonesianya cuma bentar. Kalau kita pindah, berarti Nadin harus sekolah di sana dan kita gak bisa balik lagi ke sini. Tapi.. nanti kalau Nadin rajin belajar.. Nadin jadi pintar.. kalau udh gede.. udh umur 22 lah, Nadin boleh sekolah lagi ke Jerman kayak Papah. Tuh, si papah juga pinter tuh.. jadi bisa sekolah ke Jerman."
"Oo.. kalau mamah?? mamah bisa juga sekolah ke Jerman?"
"Hm.. kalau mamah ke Jermannya karena nemenin Papah sih.."
"Mamah gak pinter donk??!"
*si mamah bingung, ketauan deh.. :D*
******************
Monday, June 11, 2012
Demam Bola
Suatu sore, ketika seluruh anggota keluarga sedang nobar Spanyol vs Italia,
Nadin: "Mamah, mamah maunya yang mana yang menang?"
Mamah: "Papah maunya yang mana?"
Nadin: "biru."
Mamah: "kalau gitu mamah yang merah. Kalau Nadin maunya yang mana?"
Nadin: "Biru juga, sama kayak Papah Nadin mah."
Maryam: "Nadin, yang merah kan udah sama mamah, yang biru sama Papah, kenapa Nadin nggak yang kuning aja??"
Nadin: "Maryaaaaammm, yang kuning mah bukan pemain bola!!!"
Mamah: "Ooo.. itu mah wasit atuh, Neng!"
:D:D:D
Keesokan harinya, kami nobar Inggris vs Perancis,
Nadin: "Kalau yang ini, mamah maunya yang mana yang menang?"
Mamah: "hm.. kayaknya Papah dukung biru ya? kalau gitu mamah pilih putih deh."
Maryam: "kalau Maryam mah maunya yang merah."
Mamah langsung melirik wasit donk, "lah, wasitnya kok pake baju kuning? yang pake baju merah siapa?"
Nadin: "itu mah penjaga gawang!"
:D:D:D
Hadeuh, besok neng iyam mo dukung siapa lagi ya???
Thursday, March 1, 2012
Lucunya Neng Iyam (2).. :)
6 kali ulang taun
Maryam: "Mamah, Maryam udah 6 kali ulang tahun"
Mamah: "Oya? 6 atau 5?"
Maryam: "6 donk, liat ya.. Maryam hitungin nih." sambil siap-siap menghitung memakai jari. "Nol ulang tahun, satu ulang tahun, dua ulang tahun, tiga ulang tahun, empat ulang tahun, lima ulang tahun. Eh, iya, Mamah yang bener ya?!"
Mamah: "Mamah atau Maryam yang bener?"
Maryam: "Mamah yang bener. Kok jadi mamah yang bener ya?" *dengan muka bingung*
Mamah: "kalau Maryam bingung, coba hitung sekali lagi."
Maryam: "Nol ulang tahun, satu ulang tahun, dua ulang tahun, tiga ulang tahun, empat ulang tahun, lima ulang tahun. Lima!! tuh kan Mamah yang bener." *sambil mengacungkan 6 jari*
*Mamah ngikik dalam hati, duh si eneng jadi bingung antara menghitung jari dan menghitung umur :))*
Mamah: "ok.. sekarang liat jari Maryam yang ini ada berapa?" sambil menunjuk 5 jari yang terbuka.
Maryam: "lima."
Mamah: "ditambah satu jempol yang ini jadi berapa?" sambil nunjuk tangan sebelah lagi.
Maryam: "Enam! tuh kan Maryam yang bener?!" *girang mode on*
*************************************************
Kenapa ya kalau orang Jerman mendengar nama 'Maryam', pasti yang terdengar di telinga mereka itu 'Maya'. Contohnya tetangga saya yang pernah begitu. Ada juga, waktu itu saya dan Maryam masuk ke lift, bareng dengan laki-laki yang membawa anjing. Setelah saya bicara dengan Maryam, tiba-tiba si laki-laki itu menyela, "nama anak Anda Maya? sama donk dengan anjing saya" sambil tersenyum ramah. Duh, si bapak tampak girang banget nama anjingnya sama kayak anak saya.. :D Untung aja beda :)
Kejadian serupa terjadi seminggu yang lalu. Waktu itu kami sekeluarga habis jalan-jalan di kota. Ternyata tangga berjalan (eskalator/Rolltreppe) arah ke bawah rusak. Terpaksa si akang memangku stroller sendirian. Saya harus menuntun Ligar, karena dia masih belum stabil menuruni tangga sendirian. Nadin di depan saya, dan Maryam sedikit ketinggalan di belakang saya. Sesekali saya menoleh ke belakang sambil mengingatkan agar dia berjalan hati-hati, "hati-hati Maryam, lihat tangganya ya!". Kebetulan ada segerombolan laki-laki besar menuruni tangga juga waktu itu. Dan begitu mendengar saya menyebut Maryam, mereka langsung menyanyikan lagu Biene Maja. Awalnya cuma "Maaaajaaaaa.. Maaaajaaaaa.." doank.. rada-rada belum ngeh waktu itu. Duh, saya mah khawatir Neng Iyam bakal ketubruk salahsatu diantara mereka.. lagian suara2nya menggelegar persis gerombolan suporter bola.. pasti Neng Iyam bakal ketakutan, pikir saya. Eh, ternyata anaknya malah ketawa-ketawa.. yang nyanyi jadi tambah semangat donk, nyanyinya mulai lengkap, "nanannanananannananan... Biene Maaajaaa... usw"
Sesampainya di rumah,
"Nadin, Nachname-nya (nama belakang) Maryam siapa coba?"
"Nugraha!"
"Salah.. yang bener Biene Maja... hihihi.." *nyengir*
*************************************************
PR
Suatu sore,
mamah: "Ceu, kerjain dulu PRnya, baru boleh bikin pompom lagi ya." *ngomong ke Nadin*
Nadin: "ok."
Maryam: "Kalau Nadin PRnya cuma 2, PR dari sekolah dan PR dari mamah, kalau Mamah PRnya banyak tuh.. masak, cuci piring, cuci baju, beresin baju, beresin rumah, merajut, blablabla (dan entah apalagi yg dia absen satu2 kemarin :D)"
*bener juga tapi :D*
*************************************************
Dornröschen
Maryam: "Mamah, cantikan mana, Dornröschen (Aurora) atau Arielle?
Mamah: "gak tau, Mamah gak suka Prinzessin sih."
Maryam: "ya cantikan Dornröschen donk."
Mamah: "kenapa?"
Maryam: "kan ada lagunya, Dornröschen war ein schönes Kind.. schönes Kind.. schönes Kind. Dornröschen war ein schönes Kind.. schönes Kind!"
Mamah: *ketawa donk ah* "Eh, beneran Dornröschen yang paling cantik?"
Maryam: "tapi sebenarnya semua Prinzessin cantik sih kata Maryam mah, cuma Jasmine yang haesslich (jelek)."
Mamah: "lho.. kenapa Jasmine jelek?"
Maryam: "soalnya udelnya keliatan."
Mamah: ":)). Kalau Jasmine pake rok yang panjang kayak Prinzessin yang lain jadi cantik gak?
Maryam: "iya."
Mamah: "Kalau orang yang pake jilbab cantik gak kata Maryam?"
Maryam: "iyaaa... Mamah juga cantiiik." *sambil peluk cium mamah*
Mamah: *ya.. ya.. Mamah sepakat deh, sebelum si anak berubah pikiran :))*
*************************************************
Monday, February 6, 2012
'Ep', 'Pe' dan 'Paw'
Siapa bilang orang Sunda gak bisa bilang F? itu Pitnah!! :D:D:D
Dan saya termasuk salahsatu orang Sunda yang bisa membedakan dan mengucapkan F dan P. Setidaknya begitulah perasaan saya, sampai....
...suatu hari Nadin memberi teka-teki..
"Mamah, tadi di sekolah ada yang ulang tahun, siapa coba?"
"Viktor!" jawab saya asal sebut.
"Salah!" katanya.
"Siapa doonk?"
"Viktor!."
"lho, kan tadi juga mamah bilang Viktor?!"
"nggak, tadi mamah bilang Piktor. Viktor itu pake 'Vaw' bukan 'Pe'" jawabnya.
...dan saat itupun akhirnya saya lulus menyebut nama Viktor setelah 5 kali sebut. :D
Begitulah, sekarang di rumah sedang krisis 'Aussprache' (pengucapan). Jadi Neng Nadin mulai mengritik pengucapan bahasa Jerman kami.. ini baru pengucapan lho.. belum gramatik (tata bahasa). :D
****************************
Suatu hari tiba-tiba saja diantara kami terucap kata 'gefaerlich', dan tiba-tiba timbul hasrat iseng saya. Saya ucapkan sekali lagi dengan lantang dan sedikit keras, 'gepaerlich!'. Dan tepat seperti dugaan saya, Nadin yang sedang asyik bermain dengan Maryam, langsung angkat kepala seraya berkomentar,
"lho, kok 'gepaerlich'? harusnya kan 'gefaerlich'!"
"iya, 'gepaerlich' kan?!" jawab saya dengan muka tanpa dosa :D
"ach, schon wieder.. (ah, lagi-lagi). 'gefaerlich'! pake F bukan pake P!"
"iya, pake Ep kan?! 'gepaerlich'! gitu?"
"Nein!! 'gefaerlich'!"
"Ok.. ok.. sekarang mamah bener deh ngucapinnya, 'gepaerlich'"
"Schon wieder!!" katanya sambil memegang kepala.
*si akang sampe ngakak2 ngetawain*
****************************
Beberapa hari berlalu, dia pun tiba-tiba bertanya,
"Mamah, kenapa mamah suka bilang F-nya jadi P?"
"hehehe.. itu bukan karena mamah gak bisa bilang F.. Mamah bisa lho bilang F.. Eeffffffff.. tuh mamah bisa kan?"
diapun mengangguk.
"Mamah suka bilang F-nya jadi P, biar Nadin tahu, kalau banyak orang bilang bahwa orang Sunda itu gak bisa bilang F. Dan orang-orang seperti itu memang benar adanya. Nanti kalau Nadin ketemu sama orang yang bilang F-nya jadi P, Nadin gak usah ngetawain, apalagi mengolok-olok, ok?!"
"ok.." jawabnya. Tak lama dia kembali bertanya,
"Kenapa orang Sunda gak bisa bilang F?"
"Waduh, kenapa ya? Mamah juga gak tau."
"Apa di bahasa Sunda nggak ada huruf F?" tanyanya..
..dan 'twink' kenapa selama ini gak pernah terpikir sama saya ya?? Setelah di konfirmasi sama si akang, ternyata bener, katanya di bahasa Sunda nggak ada huruf F, makanya orang Sunda memang susah mengucapkan huruf F. *Super Nadin!!*
setelah hening beberapa saat, dia pun kembali berkomentar,
"Oooo.. pantes, orang Sunda itu bisanya bilang 'Koper' bukan 'Koffer*)'!!"
*)Koffer = bahasa Jermannya Koper.
hahaha.. saya pun tak kuasa menahan tawa,
"Nah, Nadin, kalau yang itu, memang bahasa Indonesianya Koffer itu Koper. Kalau di Indonesia kamu bilang Koffer, kamu bisa jadi bahan tertawaan nantinya.. :)"
Thursday, February 2, 2012
Mamahnya Maryam siapa???
Duh, tiba-tiba aja dapet pertanyaan di atas dari Maryam, "Mamahnya Maryam siapa?".
Kaget?? ya kaget doooonk.. mulut yang sedang mengunyah pun langsung berhenti. Saking gak percaya dengan pertanyaannya, saya tanya ulang dia,
"hm? apa? apa? gimana, Neng?"
"Mamahnya Maryam siapa?"
"Mamahnya Maryam? ya mamah.. mamah ina.. kan?!"
"bukan.. mamah kan anak-anak.. anak-anak gak boleh punya anak! sama kayak papah, papah juga anak-anak.. gak boleh punya anak."
Duh, kok ya tambah ketar-ketir.. ini maksudnya apa? kok bilang mamah-papah masih anak-anak.. jadi mikir, apa tingkah kami begitu masuk ke dunia mereka ya? sampai mereka menganggap kalau kami tuh anak-anak. :D Lalu saya tanya lagi,
"Mamah anak-anak? mamah kan udah gede, tuh liat.." sambil berdiri dan menunjukkan kalau badan saya lebih tinggi darinya.
"Mamah kan anaknya Emak (ibu saya), Papah anaknya Enek (ibunya si akang), kalau Maryam anaknya siapa?" *hampir berkaca-kaca*
"ya anaknya Mamah Ina" sambil nunjuk diri sendiri.
"bukan, mamah kan anaknya Emak, anak-anak gak boleh punya anak."
Dodododoh... hm.. gimana jelasinnya ya? akhirnya setelah beberapa saat mikir, terpikir juga solusinya. Saya jelaskan perjalanan usia manusia dengan mengambil orang-orang yang dia kenal sebagai contoh.
"Jadi Allah bikin manusia, lalu disimpan di perut mamahnya. Kalau dia lahir, dia bakal jadi bayi, kayak Ligar dulu, masih inget?" diapun mengangguk.
"Bayi yang baru lahir cuma bisa nangis aja ama pipis."
"dan nenen" timpalnya.. hihihi.. masih inget beneran dia.
"iya.. gak bisa duduk, gak bisa ngomong, apalagi lari.. nah.. lama-lama.. dia mulai gede.. mulai gede.. bisa ngomong deh bababibibubu." diapun tertawa.
"trus bisa apalagi? bisa tengkurap.. merangkak.. duduk.. berdiri.. akhirnya bisa lari kencang kayak Ligar sekarang. Kalau tambah gede lagi, nanti Ligar bakal jadi segede Maryam.. tambah gede lagi bakal jd segede Nadin.. tambah gede tambah gede.. ntar jadi segede mbak Arin.. terus segede Mbak Arum.. segede mas Adit.. wah.. bentar lagi dah bisa nikah deh. Kalau udah nikah, ntar bisa punya anak. Nah, mamah sama papah juga sama.. dulu bayi kayak Ligar.. Nadin Maryam juga. Karena mamah sama papah udah nikah, makanya mamah sama papah bisa punya anak. Tapi, mamah tetep jadi anaknya Emak, dan papah jadi anaknya Enek.. Tapi sekarang Emak sama Enek udah jadi Oma. Nanti kalau Maryam udah nikah, udah punya anak, Mamah yang jadi Oma."
"hihihihi.." cengar-cengir deh dia. Ujung-ujungnya dia pengen liat Mamah dan Papah waktu bayi.. waktu udah sekolah.. dll. Duh, untung koleksinya foto si Papah dari Enek cukup lengkap (Nuhun pisan, Enek!).. kalau foto Mamah meski gak banyak, tapi ada lah.. jadi cukup mewakili.
Dan.. alhamdulillah.. sampai hari ini Maryam tidak mencari Mamah lagi. :)
Friday, January 20, 2012
Di Stasiun Kereta - bawain Oma Opa
Hari Selasa yang lalu, ketika kami sedang berjalan kaki menuju perpustakaan, kebetulan ada pesawat terbang lewat di atas kami. Tak heran memang, di Muenchen (kasarnya) hampir tiap 5 menit ada pesawat terbang melintas di langit. Biasanya Ligar yang sensitif melihat pesawat, namun waktu itu Maryam yang lebih dulu melihat. "Itu pasti mau ke Indonesia!" katanya.. dododoh... memang deh, setaunya dia, kalau ke Indonesia harus naik pesawat, maka semua pesawat pasti mau ke Indonesia..
Kejadian tersebut mengingatkan saya pada kejadian beberapa bulan lalu.. (flashback dulu nih ceritanya..).
**************************************
Waktu itu kami akan mengunjungi teman kami yang tinggal di Nuernberg. Karena perjalanan luar kota kami harus memakai kereta RE. Waktu itu kami memakai Bayernticket, yang berarti kami harus duduk di bangku kelas dua. Kereta menuju Nuernberg ini termasuk kereta yang banyak penumpangnya. Jadi begitu kereta datang, kami harus cepat-cepat mencari tempat duduk agak tak kehabisan orang.
Begitu masuk ke dalam kereta, pandangan Nadin langsung tertuju ke tulisan "1. Klasse", dan dia pun langsung berteriak,
"Erste Klasse! itu dia kelasnya Nadin." sambil berlari masuk ke ruangan kelas 1 tersebut.
Lalu saya katakan bahwa kami harus duduk di kelas dua, bukan kelas satu. Dan diapun menjawab,
"Tapi kan Nadin baru kelas satu."
Ah.. dan saya pun baru nyadar kalau yang dia maksud adalah kelas dia di sekolah.. Na ja... Nadin.. sayangnya kelas di sekolah dan kelas di kereta api tidak bisa disamakan.. :))
Dan kamipun asyik menikmati perjalanan selama 1 jam 45 menit. Akhirnya sampailah kami di stasiun kereta Nuernberg. Dan seperti di stasiun-stasun kereta manapun, kalau ada kereta berhenti, penumpang yang berjumlah ratusan akan turun serentak dengan bawaannya masing-masing. Maryam waktu itu terpesona melihat orang-orang (yang pada umumnya) menggusur koper mereka masing.
"Orang-orang ini pasti mau ke Indonesia."
"Lho, kok Maryam tahu kalau mereka mau ke Indonesia?"
"Tahu donk, soalnya mereka bawa-bawa koper."
hihihi... Emang deh ya.. kalau kita mau ke Indonesia, bawaan wajibnya emang koper.. :))
**************************************
Nah, kembali ke cerita awal.. ketika Maryam melihat pesawat terbang melintas tea..
Apa yang terpikir di kepala Anda ketika melihat pesawat terbang lewat sewaktu Anda kecil? Kalau saya, "Kapal, minta duit!!" *duh, meureun kata si akang teh, ih si eneng, ternyata udah matre sejak kecil :D*
Waktu itu, saya mau teriak seperti itu, khawatir mengajarkan kematrean saya pada anak-anak.. :D Jadi ketika Maryam bilang, "kapal itu mau ke Indonesia", tiba-tiba saja otak memerintah saya untuk mengucap,
"Kapal, salam buat Enek-Aki dan Ema PaI yah.."
Dan ternyata, salam aja tidak cukup untuk Maryam. Dia pun ikut-ikutan teriak,
"Kapal, bawain Oma dan Opanya Maryam ke sini ya.."
...dengan serta merta saya pun terserang rasa campur aduk.. teu pararuguh.. antara sedih, gembira, terharu, pengen nangis dan tertawa.. semua jadi satu...
"Es war ganz süüüüüüüüüüßßßßßßßßßß, Maryam.."
Wednesday, December 7, 2011
Lucunya Neng Iyam.. :)
Anak saya yang satu ini memang paling lucu.. pembawa kehangatan dalam keluarga.. kalau dia sakit/tidur, rumah rasanya kosooooooong deh.. Ini cerita yang membuat saya tertawa lagi, kejadiannya kemarin sewaktu kami sedang di perpustakaan. Sebelum kegiatan berlangsung (ceritanya mo ikutan Vorlesen a.k.a dibacakan cerita), saya minta anak-anak untuk ke kamar mandi dulu, daripada nanti pas lagi mendengarkan cerita tiba-tiba mau pipis. :D
Nadin duluan, seperti biasa, dia tutup pintunya (karena sudah punya rasa malu), dia kunci dari dalam, bahkan dia sudah bisa bersih-bersih sendiri. Nah, Maryam giliran berikutnya, dia ikut-ikutan, tutup pintu, kunci pintu. Lah saya ketinggalan di luar, gimana nih? dia bisa buka kunci gak nanti ya? moga-moga aja kuncinya bukan termasuk kunci yang susah dibuka, harap saya. Tak lama kemudian, diapun teriak seperti biasa,
"Mamah, udah pipisnya."
"oke, buka pintunya." kata saya.
"gak bisa." jawabnya dengan nada tenang, "Mamah aja yang bukain pintunya."
"Lho?! mamah gak bisa bukain pintunya, kan pintunya dikunci sama Maryam dari dalam." *Mamah mulai panik"
"Sama, Maryam juga gak bisa bukain pintu karena Maryam lagi duduk di toilet. Ayo, mamah aja yg buka pintunya"
*gubrag*
Setelah nego beberapa menit, akhirnya mau juga dia menyerah membukakan pintu dari dalam plus pake acara salah muter pula. :))
***********************************
"Sama, Maryam juga gak bisa bukain pintu karena Maryam lagi duduk di toilet. Ayo, mamah aja yg buka pintunya"
*gubrag*
Setelah nego beberapa menit, akhirnya mau juga dia menyerah membukakan pintu dari dalam plus pake acara salah muter pula. :))
***********************************
Malam-malam sebelum tidur dia bercerita,
"Mamah, tadi kata gurunya, anak-anak harus dengar apa yang dibilang sama Nikolaus."
"Hm.. tapi kamu mah harusnya denger apa yang mamah/papah bilang ya.." kata saya.
"Eh, tapi tadi Nikolaus bilang apa emang?" *Mamah penasaran*
"Maryam sudah lupa."
*Mamah pingsan*
Sunday, December 4, 2011
Du licious!
Sore ini ketika kami membuat muffin di dapur, seperti biasa, anak-anak seneng banget nyicipin bahan-bahan mentahnya si kue, dari mulai tepung, susu, sampai coklat-coklatnya, kecuali telur aja yang tidak suka mereka cicip. Kebetulan kali ini kami membuat muffin bintik-bintik, jadi mereka tertarik sekali untuk mencicipi butir-butir coklat messes.
"Hmmmm... delisius!!" kata Nadin sambil merem melek. (delisius = delicious, sengaja ditulis pengucapannya, agar pembaca sama oon-nya kayak penulis :D ).
"Hmmm... dulisius!!" kata Maryam ikut-ikutan..
"Hmmm.. dulisius.. katanya Maryam.. kalau kata si ini (sambil nunjuk messes), ihlisius." lanjutnya..
Awalnya saya nggak terlalu ngeh.. Tapi dia ulang berkali-kali kalimat tersebut. Akhirnya saya tanya ulang karena penasaran,
"kok coklatnya bisa ngomong? dia ngomong apa tadi?"
"Ihlisius! kalau kata Maryam dulisius." jawabnya.
dan *zzzt.. zzzt..* baru deh kabel-kabel di otak saya bisa nyambung sinyalnya dengan kalimat si sayang.. :D
"Ach soooo, jadi kalau kata Maryam 'Du licious!' dan kata si coklat 'Ich licious! gitu?!" (ket: Du = kamu, Ich = aku)
Dia pun mengangguk mantap..
Ah, Maryam, I love You!!!
Monday, November 28, 2011
Maroni/Maronen/Ess(Edel)kastanien a.k.a Chestnut
Hm.. apa ya bahasa Indonesianya kacang yang satu ini? masa iya sih 'kacang dada'? :D kalau lihat di Google translate, ini diartikan sebagai Kastanye, tapi saya sendiri belum pernah mendengar namanya waktu masih di Indonesia. Okelah, untuk mudahnya sebut saja Maroni atau Maronen seperti orang sini biasa menyebutnya :D
Pertama kali saya mencicipi Maroni di rumah seorang teman, rasanya ini kacang paling enak di dunia, menurut saya lho. Dagingnya tebal dan legit, wanginya lembut dan rasanya sungguh manis.. ah, pokoknya tiada duanya. "Beli aja mentahnya, bakar sendiri di oven" kata teman saya itu. Akhirnya sayapun mencobanya, dan hasilnya GATOT, udah mah gosong, susah pula mengupasnya. Sejak itu saya tidak pernah membeli Maroni lagi. Sebenarnya ada jualan yang sudah jadi, di kota banyak sekali kios-kios kecil yang menjual Maroni hangat-hangat.. tapi harganya sangat mahal.. kalau tidak salah harganya sekitar 2,5 Euro untuk 8 biji saja. Jadi, ya mending gigit jari sajalah..
Sampai akhirnya, pas anak-anak senang memunguti biji-biji Kastanien di pinggir jalan saat musim gugur, baru saya menyadari kalau biji-biji Kastanien itu mirip sekali denganMaroni.. Hm.. apakah ini si Maroni yang enak itu? kalau memang benar, kan lumayan gak usah beli, asal rajin mungut aja. :D
Sebelum bertindak ceroboh, tentu saja saya cari-cari dulu di Google. Ternyata, memang benar, Maroni itu sebenarnya masih Kastanien juga, lebih tepatnya sering disebut sebagai Esskastanien atau Edelkastanien. Sayangnya ada jenis Kastanien lain yang tidak boleh dimakan, namanya Roskastanien.. dan ini biasanya yang ada di pinggir-pinggir jalan itu. :D Bedanya bisa dilihat dicangkangnya, jika cangkangnya menyerupai landak dengan jarum-jarum halus dan panjang, maka ini adalah Edelkastanien, tapi kalau cangkangnya halus dan memiliki duri-duri tebal, maka ini adalah Roskastanien. Untuk lebih jelas bisa dilihat pada gambar di bawah ini. (Gambar diambil dari Wikipedia)
Kembali ke Maroni, akhirnya rasa kangen saya sama Maroni tidak tertahankan lagi. Pas melihat Maroni-Maroni mentah berjejeran di toko, tanpa pikir panjang saya pun mengambilnya sebungkus. Dan sebelum memasaknya, saya mencoba mencari-cari dulu tehnik memasaknya, supaya tidak gagal seperti dulu lagi. Alhamdulillah, minggu lalu kami bisa menikmati Maroni lagi, dengan tingkat kepuasan 80% :D (karena masih ada kesalahan teknis sedikit).
Caranya begini:
1. Panaskan oven (kalau kemarin saya panaskan 180 derajat celcius)
2. Cuci maroni dengan air, tiriskan dan keringkan dengan lap.
3. Beri sayatan (bentuk cakra) pada kedua sisi Maroni, ini dilakukan untuk mencegah Maroni meledak di dalam oven dan untuk memudahkan ketika mengupas. Sayatan harus agak dalam sampai ke kulit arinya, karena kalau kulit ari tidak tersayat, sama aja susah mengupasnya (pengalaman terakhir kemarin).
4. Masukkan ke dalam oven, panggang selama 10 menit.
5. Maroni masing-masing dibalik, kemudian dipanggang lagi selama 10 menit.
6. Setelah selesai, keluarkan dari oven, bungkus dengan kain lap selama 10 menit.
7. Kupas hangat-hangat, bisa langsung disantap, begitu saja sudah enak.
Dilihat dari cara membuatnya, yang harus disayat satu-satu.. dan dibolak-balik satu-satu.. barulah kelihatan kenapa kacang ini mahal sekali harga matangnya. :D
Maroni ini termasuk kacang yang rendah lemak dengan kandungan air yang tinggi dan mengandung sedikit minyak, katanya. Nah, tunggu apa lagi? Yuk, mari makan maroni..
Mencari Papah 2
Edisi tahun lalu, dimana kami ditinggal bapaknya anak-anak lintas benua bisa dibaca di sini.
Kebetulannya, tahun ini kami harus mengalami ditinggal lintas benua lagi.. masih ke negara raksasa yang sama, hanya kotanya saja yang beda. Perasaan ditinggalnya masih sama (baca: perasaan saya ini mah), rasanya sepiiiiiiiii kalau gak ada si akang di rumah, meski anak2 tetep heboh, ada satu yang kurang tentu saja tetap ada.
Anak-anak seperti biasa malah senang kalau Papah mau keluar kota, karena artinya mereka bisa ke pergi ke sekolah sama Mamah.. dan tidur sama mamah juga. :)) Dan tau donk siapa yang paling semangat ketika Papah pergi? tentu saja Neng Iyam.. :D Ya, Maryam selalu bilang kalau "Maryam gak suka sama Papah, karena Papah suka peluk-peluk dan cium-cium Maryam sambil bilang "Baby Papah". Papah juga suka berubah jadi anakonda, peluk Maryam yang kencang, atau berubah jadi piranha yang mau gigit-gigit Maryam." Tapi makin Maryam bilang 'gak suka', makin si Papah sukaaaaaaa sama Maryam.. pokoknya kalau udah denger dua orang itu pakeukeuh-keukeuh, bikin perut geli aja.
"Maryam gak suka sama Papah."
"Tapi Papah suka sama Maryam."
"Papah GAK BOLEH suka sama Maryam"
*doh galaknya*
Kemaren pun pas sesi salaman sebelum Papah berangkat, dia yang paling semangat nyalamin bapaknya.. seolah-olah berkata.. "udh cepetan sana Papah pergi!!" haha..
Ketika Papah sudah pergi, rumah pun terasa sepi. Nadin mulai bertanya-tanya,
"berapa lama Papah di Cina?"
"6 kali bobo" jawab saya.
"Papah bakal 6 kali bobo di Cina-nya?"
"hm.. ya 4 kali bobo di hotel, 2 kali bobo di pesawat." jawab saya.
Mendengar kata hotel, Maryam langsung terbangun dari posisi tidur-tidurannya.
"Papah di Cina bobo di hotel????" tanya Maryam kaget.
"Iya." jawab saya.
"Oo.. padahal kan Maryam yang mau bobo di hotel." katanya penuh sesal sambil menjatuhkan diri ke belakang kembali ke posisi tiduran (untung lagi di atas kasur:D).
hihihi.. wek dor pertama buat Maryam.. :D
Paginya kami sibuk menyiapkan segala sesuatu sendiri tanpa Papah. Ligar yang menyadari duluan kalau ada sesuatu yang kurang. "Papah? Papah?" tanyanya ketika sedang dipakaikan jaket.
"Papah nggak ada." jawab saya.
" Paaaapaaaaaahhhhh!!!! Paaaaapaaaaaahhhh!!!" teriaknya memanggil-manggil si Papah..
yaaahh.. tunggu ya, Jang ya.. masih 5 kali bobo lagi.. Mudah-mudahan Papah kembali dengan selamat.
Oiya, katanya Neng Iyam tadi malem mimpi, Papah udah pulang lg dr China.. Wooooo... yang gak suka sama Papah, malah yang kangen paling berat nih tampaknya.. :D
Tuesday, October 25, 2011
Halal - Haram: Dr.Oetker-Produkte
http://forum.misawa.de/showthread.php/9264-Dr.Oetker-Produkte
Dr. Oetker Artikel des Nährmittel-Bereichs, deren Rezeptur frei ist von ( i.S. von nicht enthalten als Zutat ) (Stand 10/2009):
- Zutaten vom Schwein ( im Nährmittelbereich ausschließlich Gelatine )
- Alkohol ( Spuren von Alkohol sind in Klammern hinter dem Produkt aufgeführt )
Weinstein Backpulver
Trockenbackhefe
Hefeteig Garant
Bourbon Vanille-Zucker
Bio Bourbon Vanille-Zucker
Bourbon Vanilleschote
Vanillin – Zucker
Tortenguss klar
Tortenguss gezuckert klar
Tortenguss rot
Tortenguss gezuckert rot
Tortenguss Erdbeer
Sahnesteif
Gustin Speisestärke
Fruttina Zitronen-Geschmack
Käsekuchenhilfe
Backfeste Pudding Creme
Vanilla Tortencreme
Mousse au chocolat Tortencreme
Käse-Sahne Tortencreme
Erdbeer-Sahne Tortencreme
Schoko-Sahne Tortencreme
Gelatine Fix (enthält 0.1% Ethylalkol )
Zitronen - Aroma
Bittermandel Aroma
Rum - Aroma
Rum Aroma (30ml)
Finesse Natürliches Orangenschalen - Aroma
Finesse Geriebene Zitronenschale
Original Pudding Vanille-Geschmack
Original Pudding Sahne-Geschmack
Original Pudding Mandel-Geschmack
Original Pudding Grieß
Original Pudding Erdbeer-Geschmack
Original Pudding Schokolade
Bio Pudding Schokolade
Bio Pudding Bourbon Vanille
Gala Feiner Schokoladen-Pudding
Gala Sahne-Pudding
Gala Bourbon-Vanille
Gala Karamell
Pudding aus Raspeln - Vollmilch Schokolade
Pudding aus Raspeln - feinherb
Pudding aus Raspeln - Bourbon Vanille
Gala Mandella Schoko-Mandel
Gala Mandella Vanille-Mandel
Garant Vanille-Geschmack
Garant Schokolade
Garant Grieß Pudding
Süßer Moment Vanille-Geschmack
Süßer Moment Grießbrei Vanille-Geschmack
Süßer Moment Schokolade
Süßer Moment Milchshake Banane
Süßer Moment Milchshake Erdbeere
Süßer Moment Milchshake Vanille-Geschmack
Paradiescreme Vanille - Geschmack
Paradiescreme Schokolade
Paradiescreme Zitronen - Geschmack
Paradiescreme Stracciatella
Paradiescreme Sahne-Karamell-Geschmack
Paradiescreme Pfirsich - Geschmack
Paradiescreme , Nougat mit Nougatsplits
Paradiescreme des Jahres, Feinherbe Schokolade
Himbeer Creme ( Saisonartikel Sommer 2009 )
Erdbeer Creme ( Saisonartikel Sommer 2009 )
Kirsch Creme ( Saisonartikel Sommer 2009 )
Galetta Schokolade
Galetta Vanille – Geschmack
Creme Tiramisu
Creme Stracciatella
Mousse Zitrone
Mousse au chocolat
Mousse au chocolat fein herb
Mousse a la Vanille
Panna cotta
Götterspeise Instant, Kirsch - Geschmack
Götterspeise Instant Waldmeister – Geschmack
Rote Grütze Himbeer-Geschmack
Rote Grütze Himbeer-Geschmack, mit Sago
Kaltschale Himbeer - Johannisbeer
Kaltschale Erdbeere
Kaltschale Ananas - Maracuja – Geschmack
Aranca Zitronen - Geschmack
Aranca Mandarinen - Geschmack
Aranca Aprikose – Maracuja
Quarkfein Vanille - Geschmack
Quarkfein Erdbeer - Geschmack
Quarkfein Zitrone
Dessert Soße aus Raspeln - Bourbon Vanille
Dessert - Soße zum Kochen Vanille – Geschmack
Dessert - Soße ohne Kochen Vanille - Geschmack
Dessert - Soße ohne Kochen Schokolade
Vitalis Früchte Müsli ( 375g / 600g 1500g )
Vitalis Aprikosen Müsli ( 600g )
Vitalis Schoko Müsli ( 375g / 600g / 1500g )
Vitalis Knusper Schoko ( 375g / 600g 1500g )
Vitalis Knusper Schoko feinherb ( 600g )
Vitalis Knusper Müsli ( 375g / 600g / 1500g )
Vitalis Knusper Flakes ( 600g )
Vitalis Knusper Banane ( 600g )
Vitalis Knusper Honeys ( 375g / 600g )
Vitalis Joghurt Müsli ( 600g / 1500g )
Vitalis Schoko Müsli Kokos ( 600g )
Vitalis Schoko Müsli feinherb ( 600g )
Vitalis Schoko Müsli Kirsch ( 600g )
Vitalis Knusperkissen Schoko ( 425g )
Vitalis Crunchies Schoko ( 425g )
Vitalis weniger süß Knusper Erdbeer ( 600g )
Vitalis weniger süß Knusper Apfel ( 600g )
Vitalis weniger süß Knusper Pur ( 600g )
Vitalis weniger süß Schoko Müsli ( 500g ) (2009)
Vitalis weniger süß Knusper Früchte ( 500g ) (2009)
Vitalis Bio Früchte Müsli ( 425g )
Vitalis Bio Schoko Müsli ( 425g )
Vitalis Knusper Plus Double Chocolate (450g)
Vitalis Knusper Plus Honig-Mandel ( 450g )
Vitalis Knusper Plus Multi-Frucht (450g)
Einmachhilfe
Zitronensäure
Gelfix Classic 1:1
Gelfix Extra 2:1
Gelfix Super 3:1
Extra Gelierzucker 2:1
Gelierzucker für Erdbeer - Konfitüre
Super Gelierzucker 3:1
Diät Gelier Fruchtzucker
Süße Mahlzeit Milchreis nach klassischer Art
Süße Mahlzeit Milchreis Apfel-Zimt
Süße Mahlzeit Milchreis Vanille – Geschmack
Süße Mahlzeit Grießbrei Vanille - Geschmack
Süße Mahlzeit Grießbrei nach klassischer Art
Süße Mahlzeit Milchnudeln Vanille - Geschmack
Süße Mahlzeit Pfannkuchen
Süße Mahlzeit Schokino Püfferchen
Süße Mahlzeit Kaiserschmarrn nach klassischer Art
Süße Mahlzeit Apfel-Püfferchen
Süße Mahlzeit Hafergenuss mit Bourbon-Vanille
Süße Mahlzeit Bio Milchreis
Süße Mahlzeit Bio Grießbrei
Hefeteig
Streuselteig
Obstkuchenteig
Pizzateig italienischer Art
Zwiebelkuchen
Flammkuchen
Bio Schokino Kuchen
Bio Zitronen Kuchen
Schokino Kuchen
Käsekuchen
Gugelhupf
Kokos Kuchen
Zitronenkuchen
Marmor Kuchen
Nuss Kuchen
Schoko Kuchen
Zitronen - Wolke
Marmor - Wolke
Schoko - Wolke
Raffinesse Marzipan
Raffinesse Schoko Kuchen feinherb ( NEU )
Raffinesse Mohn
Raffinesse double chocolate
Muffins
Brownies
Schoko Muffins
Zitronen Muffins
Donauwellen
Spiegelei Kuchen
Kirschli Kuchen
Tortina Nuss Sand Kuchen
Käse-Sahne-Torte
Russischer Zupfkuchen
Kleine Kuchen Käse Streusel Kuchen
Kleine Kuchen Apfel Mandel Kuchen
Kleine Kuchen Schoko Kirsch Kuchen
Maulwurfkuchen
Erdbeer Quark Kuchen
Mandarinen Joghurt Kuchen
Himbeer Frischkäse Kuchen
Pfirsich Joghurt Kuchen
Frischkäse Torte
Tarte au Chocolat
Torta Tiramisu
Tarte au Citron
Rübli Kuchen
Ausstechplätzchen
Butterspritzgebäck
Kokos Makronen
Vanille Kipferl
Mohnwickel
Schoko Gewürzkranz
Schoko Mandel Kuchen mit Kirschen
Lillifee Muffins Vanille-Geschmack
Lillifee Erdbeer-Sahne-Torte
Lillifee Glitzerherz
Lillifee Cremepudding Vanille-Geschmack
Lillifee Erdbeer-Quark-Creme
Cap'n Sharky Schoko-Kuchen
Cap'n Sharky Muffins Vanille-Geschmack
Capt'n Sharky Cremepudding Schokolade
Capt'n Sharky Quark-Creme Vanille-Geschmack
Folgende Produkte des Dr. Oetker Tiefkühlkost- und Frischebereiches sind rezeptorisch frei von Schweinefleisch und Erzeugnissen aus Schwein sowie frei von Alkohol. Enthaltener Wein- oder Branntweinessig ist in Klammern hinter dem jeweiligen Produkt angegeben.
Durch Aromen (Alkohol als Trägerstoff) oder den natürlichen Gehalt von Früchten können Spuren von Alkohol im Endprodukt nicht ausgeschlossen werden.
(Stand 10/2009):
Tiefkühlkostbereich:
Ristorante Pizza Formaggi & Pomodori
Ristorante Pizza Quattro Formaggi
Ristorante Pizza Funghi
Ristorante Pizza Tonno (Branntweinessig)
Ristorante Pizza Spinaci
Ristorante Pizza Mozzarella
Ristorante Pizza Vegetale (Branntweinessig)
Ristorante Pizza Vegetale Piccante (Branntweinessig)
Ristorante Pizza Biologica Mozzarella
Ristorante Pizza Mozzarella -50% Fett
Ristorante Pizza Piccola Mozzarella
Ristorante Pizza Piccolissima Mozzarella
Big Americans California (Branntweinessig)
Culinaria Turkish Lahmacun Style
Die Ofenfrische Vier-Käse
Die Ofenfrische Thunfisch (Branntweinessig)
Die Ofenfrische Mozzarella-Pesto
Die Ofenfrische Bolognese
Die Ofenfrische 3-Käse-Peperoni (Branntweinessig)
Bistro Baguette Bolognaise
Bistro Baguette Thon
Bistro Baguette Tomate-Fromage
Bistro Gourmet Baguette Bretagne (Branntweinessig)
Frischebereich :
Rote Grütze (500g)
Kirsch Grütze (160g / 500g)
Kirsch Grütze mit Vanille-Creme (160g)
Rote Grütze mit Bourbon-Vanille-Soße (160g)
Rote Grütze für Diabetiker mit Bourbon-Vanille-Soße (160g)
Wintergrütze Pflaume-Zimt mit Bourbon-Vanille-Soße (160g)
Wintergrütze Pflaume-Zimt (500g)
Bourbon-Vanille-Soße (250 ml)
Bourbon-Vanille-Soße 0,1% Fett (250 ml)
Sahne Pudding Bourbon Vanille (150g / 500g)
Sahne Pudding Vollmilch Schokolade (150g / 500g)
Sahne Pudding Grieß (500g)
Pur Choc Schokoladenpudding Ecuador mildfein (2x100g)
Pur Choc Schokoladenpudding Ghana feinherb (2x100g)
Pur Choc Schokoladenpudding Tansania edelbitter (2x100g)
Diät-Pudding Schoko (150g)
Diät-Pudding Vanille-Geschmack (150g)
Light-Pudding Schoko (150g)
Light-Pudding Vanille-Geschmack (150g)
Paula Vanille-Pudding mit Schoko-Flecken (4x125g)
Paula Schokoladen-Pudding mit Vanille-Flecken (4x125g)
Paula Milchcreme mit Schoko-Haselnuss-Flecken (4x125g)
Paula Joghurtdessert mit Erdbeer-Flecken (4x100g)
Paula Joghurtdessert mit Pfirsich-Flecken (4x100g)
Mousse Chocolat (100g)
Wölkchen Typ Cappuccino (125g)
Wölkchen Typ Sahne-Karamell (125g)
Wölkchen Schokolade-Haselnuss (125g)
Wölkchen Klassische Schokolade (125g)
Wölkchen Vanille-Geschmack (125g)
Diät-Wölkchen Schokolade (125g)
Diät-Wölkchen Vanille-Geschmack (125g)
Crème fraîche Classic (150g / 250g)
Crème légère (150g)
Crème légère cremig-flüssig (200ml)
Crème double (125g)
Dip légère Aioli (Weinessig)
Dip légère Paprika-Chili
Zaziki (200g) (Branntweinessig)
Frische Hefe (42g)
Dr. Oetker Artikel des Nährmittel-Bereichs, deren Rezeptur frei ist von ( i.S. von nicht enthalten als Zutat ) (Stand 10/2009):
- Zutaten vom Schwein ( im Nährmittelbereich ausschließlich Gelatine )
- Alkohol ( Spuren von Alkohol sind in Klammern hinter dem Produkt aufgeführt )
Weinstein Backpulver
Trockenbackhefe
Hefeteig Garant
Bourbon Vanille-Zucker
Bio Bourbon Vanille-Zucker
Bourbon Vanilleschote
Vanillin – Zucker
Tortenguss klar
Tortenguss gezuckert klar
Tortenguss rot
Tortenguss gezuckert rot
Tortenguss Erdbeer
Sahnesteif
Gustin Speisestärke
Fruttina Zitronen-Geschmack
Käsekuchenhilfe
Backfeste Pudding Creme
Vanilla Tortencreme
Mousse au chocolat Tortencreme
Käse-Sahne Tortencreme
Erdbeer-Sahne Tortencreme
Schoko-Sahne Tortencreme
Gelatine Fix (enthält 0.1% Ethylalkol )
Zitronen - Aroma
Bittermandel Aroma
Rum - Aroma
Rum Aroma (30ml)
Finesse Natürliches Orangenschalen - Aroma
Finesse Geriebene Zitronenschale
Original Pudding Vanille-Geschmack
Original Pudding Sahne-Geschmack
Original Pudding Mandel-Geschmack
Original Pudding Grieß
Original Pudding Erdbeer-Geschmack
Original Pudding Schokolade
Bio Pudding Schokolade
Bio Pudding Bourbon Vanille
Gala Feiner Schokoladen-Pudding
Gala Sahne-Pudding
Gala Bourbon-Vanille
Gala Karamell
Pudding aus Raspeln - Vollmilch Schokolade
Pudding aus Raspeln - feinherb
Pudding aus Raspeln - Bourbon Vanille
Gala Mandella Schoko-Mandel
Gala Mandella Vanille-Mandel
Garant Vanille-Geschmack
Garant Schokolade
Garant Grieß Pudding
Süßer Moment Vanille-Geschmack
Süßer Moment Grießbrei Vanille-Geschmack
Süßer Moment Schokolade
Süßer Moment Milchshake Banane
Süßer Moment Milchshake Erdbeere
Süßer Moment Milchshake Vanille-Geschmack
Paradiescreme Vanille - Geschmack
Paradiescreme Schokolade
Paradiescreme Zitronen - Geschmack
Paradiescreme Stracciatella
Paradiescreme Sahne-Karamell-Geschmack
Paradiescreme Pfirsich - Geschmack
Paradiescreme , Nougat mit Nougatsplits
Paradiescreme des Jahres, Feinherbe Schokolade
Himbeer Creme ( Saisonartikel Sommer 2009 )
Erdbeer Creme ( Saisonartikel Sommer 2009 )
Kirsch Creme ( Saisonartikel Sommer 2009 )
Galetta Schokolade
Galetta Vanille – Geschmack
Creme Tiramisu
Creme Stracciatella
Mousse Zitrone
Mousse au chocolat
Mousse au chocolat fein herb
Mousse a la Vanille
Panna cotta
Götterspeise Instant, Kirsch - Geschmack
Götterspeise Instant Waldmeister – Geschmack
Rote Grütze Himbeer-Geschmack
Rote Grütze Himbeer-Geschmack, mit Sago
Kaltschale Himbeer - Johannisbeer
Kaltschale Erdbeere
Kaltschale Ananas - Maracuja – Geschmack
Aranca Zitronen - Geschmack
Aranca Mandarinen - Geschmack
Aranca Aprikose – Maracuja
Quarkfein Vanille - Geschmack
Quarkfein Erdbeer - Geschmack
Quarkfein Zitrone
Dessert Soße aus Raspeln - Bourbon Vanille
Dessert - Soße zum Kochen Vanille – Geschmack
Dessert - Soße ohne Kochen Vanille - Geschmack
Dessert - Soße ohne Kochen Schokolade
Vitalis Früchte Müsli ( 375g / 600g 1500g )
Vitalis Aprikosen Müsli ( 600g )
Vitalis Schoko Müsli ( 375g / 600g / 1500g )
Vitalis Knusper Schoko ( 375g / 600g 1500g )
Vitalis Knusper Schoko feinherb ( 600g )
Vitalis Knusper Müsli ( 375g / 600g / 1500g )
Vitalis Knusper Flakes ( 600g )
Vitalis Knusper Banane ( 600g )
Vitalis Knusper Honeys ( 375g / 600g )
Vitalis Joghurt Müsli ( 600g / 1500g )
Vitalis Schoko Müsli Kokos ( 600g )
Vitalis Schoko Müsli feinherb ( 600g )
Vitalis Schoko Müsli Kirsch ( 600g )
Vitalis Knusperkissen Schoko ( 425g )
Vitalis Crunchies Schoko ( 425g )
Vitalis weniger süß Knusper Erdbeer ( 600g )
Vitalis weniger süß Knusper Apfel ( 600g )
Vitalis weniger süß Knusper Pur ( 600g )
Vitalis weniger süß Schoko Müsli ( 500g ) (2009)
Vitalis weniger süß Knusper Früchte ( 500g ) (2009)
Vitalis Bio Früchte Müsli ( 425g )
Vitalis Bio Schoko Müsli ( 425g )
Vitalis Knusper Plus Double Chocolate (450g)
Vitalis Knusper Plus Honig-Mandel ( 450g )
Vitalis Knusper Plus Multi-Frucht (450g)
Einmachhilfe
Zitronensäure
Gelfix Classic 1:1
Gelfix Extra 2:1
Gelfix Super 3:1
Extra Gelierzucker 2:1
Gelierzucker für Erdbeer - Konfitüre
Super Gelierzucker 3:1
Diät Gelier Fruchtzucker
Süße Mahlzeit Milchreis nach klassischer Art
Süße Mahlzeit Milchreis Apfel-Zimt
Süße Mahlzeit Milchreis Vanille – Geschmack
Süße Mahlzeit Grießbrei Vanille - Geschmack
Süße Mahlzeit Grießbrei nach klassischer Art
Süße Mahlzeit Milchnudeln Vanille - Geschmack
Süße Mahlzeit Pfannkuchen
Süße Mahlzeit Schokino Püfferchen
Süße Mahlzeit Kaiserschmarrn nach klassischer Art
Süße Mahlzeit Apfel-Püfferchen
Süße Mahlzeit Hafergenuss mit Bourbon-Vanille
Süße Mahlzeit Bio Milchreis
Süße Mahlzeit Bio Grießbrei
Hefeteig
Streuselteig
Obstkuchenteig
Pizzateig italienischer Art
Zwiebelkuchen
Flammkuchen
Bio Schokino Kuchen
Bio Zitronen Kuchen
Schokino Kuchen
Käsekuchen
Gugelhupf
Kokos Kuchen
Zitronenkuchen
Marmor Kuchen
Nuss Kuchen
Schoko Kuchen
Zitronen - Wolke
Marmor - Wolke
Schoko - Wolke
Raffinesse Marzipan
Raffinesse Schoko Kuchen feinherb ( NEU )
Raffinesse Mohn
Raffinesse double chocolate
Muffins
Brownies
Schoko Muffins
Zitronen Muffins
Donauwellen
Spiegelei Kuchen
Kirschli Kuchen
Tortina Nuss Sand Kuchen
Käse-Sahne-Torte
Russischer Zupfkuchen
Kleine Kuchen Käse Streusel Kuchen
Kleine Kuchen Apfel Mandel Kuchen
Kleine Kuchen Schoko Kirsch Kuchen
Maulwurfkuchen
Erdbeer Quark Kuchen
Mandarinen Joghurt Kuchen
Himbeer Frischkäse Kuchen
Pfirsich Joghurt Kuchen
Frischkäse Torte
Tarte au Chocolat
Torta Tiramisu
Tarte au Citron
Rübli Kuchen
Ausstechplätzchen
Butterspritzgebäck
Kokos Makronen
Vanille Kipferl
Mohnwickel
Schoko Gewürzkranz
Schoko Mandel Kuchen mit Kirschen
Lillifee Muffins Vanille-Geschmack
Lillifee Erdbeer-Sahne-Torte
Lillifee Glitzerherz
Lillifee Cremepudding Vanille-Geschmack
Lillifee Erdbeer-Quark-Creme
Cap'n Sharky Schoko-Kuchen
Cap'n Sharky Muffins Vanille-Geschmack
Capt'n Sharky Cremepudding Schokolade
Capt'n Sharky Quark-Creme Vanille-Geschmack
Folgende Produkte des Dr. Oetker Tiefkühlkost- und Frischebereiches sind rezeptorisch frei von Schweinefleisch und Erzeugnissen aus Schwein sowie frei von Alkohol. Enthaltener Wein- oder Branntweinessig ist in Klammern hinter dem jeweiligen Produkt angegeben.
Durch Aromen (Alkohol als Trägerstoff) oder den natürlichen Gehalt von Früchten können Spuren von Alkohol im Endprodukt nicht ausgeschlossen werden.
(Stand 10/2009):
Tiefkühlkostbereich:
Ristorante Pizza Formaggi & Pomodori
Ristorante Pizza Quattro Formaggi
Ristorante Pizza Funghi
Ristorante Pizza Tonno (Branntweinessig)
Ristorante Pizza Spinaci
Ristorante Pizza Mozzarella
Ristorante Pizza Vegetale (Branntweinessig)
Ristorante Pizza Vegetale Piccante (Branntweinessig)
Ristorante Pizza Biologica Mozzarella
Ristorante Pizza Mozzarella -50% Fett
Ristorante Pizza Piccola Mozzarella
Ristorante Pizza Piccolissima Mozzarella
Big Americans California (Branntweinessig)
Culinaria Turkish Lahmacun Style
Die Ofenfrische Vier-Käse
Die Ofenfrische Thunfisch (Branntweinessig)
Die Ofenfrische Mozzarella-Pesto
Die Ofenfrische Bolognese
Die Ofenfrische 3-Käse-Peperoni (Branntweinessig)
Bistro Baguette Bolognaise
Bistro Baguette Thon
Bistro Baguette Tomate-Fromage
Bistro Gourmet Baguette Bretagne (Branntweinessig)
Frischebereich :
Rote Grütze (500g)
Kirsch Grütze (160g / 500g)
Kirsch Grütze mit Vanille-Creme (160g)
Rote Grütze mit Bourbon-Vanille-Soße (160g)
Rote Grütze für Diabetiker mit Bourbon-Vanille-Soße (160g)
Wintergrütze Pflaume-Zimt mit Bourbon-Vanille-Soße (160g)
Wintergrütze Pflaume-Zimt (500g)
Bourbon-Vanille-Soße (250 ml)
Bourbon-Vanille-Soße 0,1% Fett (250 ml)
Sahne Pudding Bourbon Vanille (150g / 500g)
Sahne Pudding Vollmilch Schokolade (150g / 500g)
Sahne Pudding Grieß (500g)
Pur Choc Schokoladenpudding Ecuador mildfein (2x100g)
Pur Choc Schokoladenpudding Ghana feinherb (2x100g)
Pur Choc Schokoladenpudding Tansania edelbitter (2x100g)
Diät-Pudding Schoko (150g)
Diät-Pudding Vanille-Geschmack (150g)
Light-Pudding Schoko (150g)
Light-Pudding Vanille-Geschmack (150g)
Paula Vanille-Pudding mit Schoko-Flecken (4x125g)
Paula Schokoladen-Pudding mit Vanille-Flecken (4x125g)
Paula Milchcreme mit Schoko-Haselnuss-Flecken (4x125g)
Paula Joghurtdessert mit Erdbeer-Flecken (4x100g)
Paula Joghurtdessert mit Pfirsich-Flecken (4x100g)
Mousse Chocolat (100g)
Wölkchen Typ Cappuccino (125g)
Wölkchen Typ Sahne-Karamell (125g)
Wölkchen Schokolade-Haselnuss (125g)
Wölkchen Klassische Schokolade (125g)
Wölkchen Vanille-Geschmack (125g)
Diät-Wölkchen Schokolade (125g)
Diät-Wölkchen Vanille-Geschmack (125g)
Crème fraîche Classic (150g / 250g)
Crème légère (150g)
Crème légère cremig-flüssig (200ml)
Crème double (125g)
Dip légère Aioli (Weinessig)
Dip légère Paprika-Chili
Zaziki (200g) (Branntweinessig)
Frische Hefe (42g)
Friday, June 17, 2011
Lagunya siapa sih itu??? :D
Sepulang dari Cocoloco hari ini, kami (saya, NML dan Alishya) berjalan dari halte tram menuju rumah. Anak-anak udah mulai loyo setelah bermain seharian, namun Alishya masih semangat aja. Sepanjang jalan dia bernyanyi terus, "Baby.. baby.. baby.. ooooh.." senandungnya tak henti-henti. Waduh.. lagu ABG oy!! karena bukan jamannya lagi, saya mah belum pernah tuh denger lagu itu utuh dr awal sampai akhir, tp dr liriknya Alishya langsung bs nebak donk lagu siapa, soalnya sering denger pas baris itu doank. :D Nadin ama Maryam mah diem aja, soalnya gak kenal lagu itu. Iseng saya tanya Alishya,
"nyanyi lagu apa sih, Shya?" tanya saya.
"Lagu baby itu." jawabnya dengan gaya khasnya Alishya tea. :D
"Oooh... lagunya siapa sih itu?" tanya saya lagi.
"Hannah Montana!" jawab Nadin pasti.
"hahahahaha.." ketawa saya dalam hati.
Alishya langsung membantah donk, "bukan.. bukan lagunya Hannah Montana itu! Itu lagunya mbak Adna sama Adam!"
*bwahahahahahha... ternyata penyanyi lagu Baby berasal dari Cigadung.*
Sunday, June 12, 2011
Kunjungan HNO --> op
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Jadwal kami harus tiba di RS pukul 8.15, jadi selambat-lambatnya kami harus keluar dari rumah pukul 7.15. Waduh, mana saya rada kesiangan bangun gara-gara malamnya gak bisa tidur, dagdigdug terus persis waktu mau sidang/nikah. :D Setelah selesai menyiapkan makanan untuk Maryam, Ligar dan bapaknya yang ditinggal di rumah hari itu, kamipun berangkat.. tanpa sarapan. Nadin memang harus puasa sejak semalam, saya rasanya sudah tidak bisa makan apa-apa juga. Perbekalan sudah lengkap, mulai dari bekal yg dianjurkan klinik, makanan plus buku2 bacaan untuk mengisi waktu pas nungguin Nadin nanti. Saya pun sudah siap membawa Kinderwagen plus kain untuk penutupnya. Jaga-jaga untuk pulangnya nanti kalau-kalau Nadin masih lemas untuk berjalan sendiri.. dan untuk melindunginya dari sinar matahari (maklum, kami pengguna setia kendaraan umum, jadi ada saat dimana kami harus jalan kaki menembus teriknya matahari).
Kami sampai di sana tepat waktu, 5 menit lebih cepat dink. :D Setelah mendaftar, kami menunggu di ruang tunggu sampai ada suster yang menjemput kami dan mengantarkan kami ke kamar tidur. Di sana sudah ada dua orang ibu menunggu, tampaknya kasusnya sama, anaknya juga yang sedang dioperasi. Nadin diminta digantikan bajunya dengan kemeja RS, kemudian diberi minum obat dan dibiarkan tiduran sebentar. Kurang lebih 10 menit kemudian, datanglah seorang bapak yang memangku anaknya yang baru saja selesai operasi. Wah, pasti ibu-bapaknya udah tenang ini, pikir saya. Lah, saya masih dagdigdug aja, mana inget sama anak2 di rumah yang tadi masih pada lelap ketika kami berangkat. 5 menit kemudian saya dipanggil untuk mengantar Nadin ke ruang op. "Anda bisa memangku anaknya?" tanyanya. Bisa lah..
Nadin diberi tutup kepala, kakinya sudah tidak bisa berdiri lagi, dia sudah mulai lemas. Lalu saya pangku, entah dia masih ingat atau tidak. Dia sudah tidak bicara lagi, dan ketika saya simpan di tempat tidur, dia pun tidak menangis. "Anak yang manis, dia sudah mulai lemas ya? bagus lah." kata dokternya. Lalu saya pun keluar dari ruangan itu bersama dengan perawat yang mengantar saya tadi. Si perawat seperti mengerti kegalauan hati saya, dia pun memeluk dan menggandeng saya berjalan kembali ke kamar, memberi saya teh (bikin sendiri sih sebenarnya, dia cuma menunjukkan tempatnya saja :D), dan meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja.
Nadin diberi tutup kepala, kakinya sudah tidak bisa berdiri lagi, dia sudah mulai lemas. Lalu saya pangku, entah dia masih ingat atau tidak. Dia sudah tidak bicara lagi, dan ketika saya simpan di tempat tidur, dia pun tidak menangis. "Anak yang manis, dia sudah mulai lemas ya? bagus lah." kata dokternya. Lalu saya pun keluar dari ruangan itu bersama dengan perawat yang mengantar saya tadi. Si perawat seperti mengerti kegalauan hati saya, dia pun memeluk dan menggandeng saya berjalan kembali ke kamar, memberi saya teh (bikin sendiri sih sebenarnya, dia cuma menunjukkan tempatnya saja :D), dan meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja.
Saya kembali ke kamar, mencoba untuk membaca buku yang saya bawa. Tapi rasanya satu halaman pun tak bisa saya mengerti isinya. Bolak-balik gak jelas, lihat HP, mengirim SMS sama si akang.. ah pokokna mah teu puguh rarasaan. Mau ngobrol sama ibu-ibu itu juga gak enak, karena mereka sama-sama sedang memeluk anaknya masing-masing di tempat tidur.
Sampai akhirnya 20 menit kemudian saya pun dipanggil keluar. Ternyata operasinya sudah selesai. Saya dibawa ke Aufwachraum (ruang bangun tidur? :D), di sana saya disambut oleh dokter anestesi dan seorang perawat. Mereka bilang operasinya berjalan lancar dan kondisi Nadin baik-baik saja, saya diminta untuk menungguinya sampai dia terbangun. Nadin tergolek lemas. Dia tidur dengan posisi kepala miring. Mulutnya sedikit terbuka, mencium lengan baju kanannya, dimana disitu terlihat ada seonggok noda darah. Saya perhatikan, ternyata darahnya memang berasal dari mulutnya. Ah.. miris rasanya melihat Nadin seperti itu, sakit seperti apa ya yang sedang dia rasakan saat itu?? pikir saya.
Tak lama datanglah dokter HNO yang mengoperasi Nadin tadi, namanya dokter U (namanya kok familiar sekali ya?!). Dia menerangkan apa saja yang dia kerjakan tadi, bagaimana kondisi Nadin dan apa yang harus saya lakukan setelahnya. Saya diminta kontrol besok atau lusanya ke beliau di Harlaching, atau di Giesing (tempat praktek HNO yang biasa saya kunjungi). Dan yaaaaa... akhirnya saya menemukan benang merah antara ketiga tempat tadi. Jd ternyata tempat praktek di Giesing ini si dokter U ini yang punya, hanya dia percayakan ke dokter lain untuk prakteknya. Dia sendiri praktek di RS Harlaching, dan dia mengoperasi pasien-pasiennya di klinik itu. Wah, tajir bener si dokter!!! Dan ketiga anak yang ada di kamar itu tuh, ketiga2nya adalah pasien dokter U dari Giesing. :D
Kurang lebih 20 menit kemudian Nadin mulai bergerak, mula-mula tangannya, lalu kepala dan badan. Dia mengerjap-ngerjapkan mata. Saya sapa dia, dan meyakinkan dia bahwa saya akan selalu ada disampingnya. Tiba-tiba dia terbangun duduk, melihat dokter2 berbaju hijau lalu lalang, kemudian tiduran lemas lagi. Setelah perawat datang, saya pangku dia kembali agar bisa beristirahat di kamar. Saya pun diminta untuk ikut tidur di kasur dan memeluk Nadin supaya dia merasa aman dan nyaman, sampai dia tidur lagi. Biarkan dia tidur 1 jam lagi, kata si perawat. Enak juga nih, saya bisa ikutan membayar kekurangan tidur saya tadi malam. :D Nadin agak-agak susah tidur kembali, dia banyak melenguh-lenguh, tapi tidak sampai menangis. Mungkin ini efek obat bius yang diceritakan si dokter kemarin. Setelah saya peluk dan usap-usap, akhirnya diapun tidur lagi.. lelap..
Ternyata ketiga anak yang ada di ruangan itu kasus operasinya sama semua, tapi anaknya berbeda-beda. Anak pertama, laki-laki berumur 3 tahun, orang Jerman, sangat fit. Ibunya bilang, anaknya selalu fit, bahkan setelah diberi obat bius pun, dia susah sekali lemasnya. Setelah bangun dari operasi, si anak langsung ngobrol dan banyak bertanya, dia tidak kelihatan tidur lagi sampai dia pulang, setelah dikasih makan, anak ini minta makan lagi dengan porsi yang sama :D. Anak kedua, perempuan berumur 5 tahun, kurus dan menangis terus setelah dia bangun dari operasi. Ibunya bilang, anaknya memang susah makan, makanya kurus. Efek dari obat bius membuat dia menangis terus.. ditambah lagi, katanya dia baru punya adik baru yang berumur 4 hari, jadi tampaknya memang efeknya tambah-tambah deh. Yang kasihan, anak ini sempat muntah darah 2 kali selama di klinik. Sebenarnya muntah ini nggak apa-apa, katanya kemungkinan dia sempat menelan darah selama operasi. Tapi yah, tetep kasihan melihatnya. Dan ucapan ibunya benar, anak ini susaaaaaah sekali makan, dari dua roti yang diberikan, satu roti pun susah habisnya. Anak ketiga tentu saja Nadin. Dia tidak se-fit anak pertama, pun tidak serewel anak kedua. Dia sedikit melenguh-lenguh saja, kemudian tidur lamaaaaaa sekali, 1,5 jam! Di saat anak lain menunggu makanan datang, Nadin mah ditungguin makanan bangun. :D Begitu bangun, langsung saya tawari makan. Pertanyaan pertamanya, "operasinya udah belum? barusan Nadin tidur nggak?" cute! Setelah selesai makan, diberi makanan penutup es, yang membuat dia senang sekali. Setelah itu, kondisinya dicek lagi oleh dokter, baru kami boleh pulang. Sampai di rumah, Nadin masih sedikit lemas, tapi di atas jam 3 sore dia sudah mulai ceria lagi. Sempat mengeluh sakit menelan, lalu saya berilah obat penghilang sakit yang diberikan oleh dokter.
Keesokan harinya kami cek lagi ke dokter HNO. Kebetulan Nadin tidak boleh kena matahari, kebetulan pula hari itu mataharinya disembunyikan Allah di balik awan. Menurut si dokter kondisinya baik-baik saja, karena pada malam pertama tidak ada keluhan apa-apa, maka kemungkinan ke sananya juga tidak akan ada apa-apa. Nadin boleh kontrol lagi minggu depan. Meski begitu, saya tetap diminta waspada, kalau-kalau dia mengalami pendarahan dari hidung/mulut harus cepat-cepat ke dokter lagi. Meski sebenarnya kejadian seperti ini jarang, katanya. Tapi alhamdulillah, sampai hari ini Nadin masih baik2 saja, kondisinya pun tampak makin membaik. Mudah-mudah begitu seterusnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)