Wednesday, April 7, 2010

Kunjungan HNO

Sebenarnya saya rada males pergi ke HNO (Hals-Nasen-Ohren alias THT), gara-garanya waktu pengalaman pertama kami pergi ke sana. Sekitar tengah tahun lalu, beberapa hari sebelum saya melahirkan Ligar, Nadin mengeluh sakit kuping. Mengingat dia beberapa kali terkena Mittelohrentzundung (otitis media), saya khawatir sekali dia terkena penyakit yang sama. Setelah menelepon dokter, kami langsung pergi ke sana. Ternyata saat itu hanya terlalu banyak kotoran, harus dibersihkan ke HNO. Si dokter anak pun memberi alamat satu orang HNO yang dekat tempat prakteknya dia. Karena rumah kami cukup jauh, maka saya lebih memilih HNO yang dekat rumah. Ternyata.. oh.. ternyata.. di HNO ini semua pasiennya MANULA (kebetulan di jadwal kami datang kondisinya begitu). Letaknya di gedung tua dengan lantai kayu, kalau jalan bunyi. Anak-anak ributnya minta ampun.. nyanyi-nyanyi dan jerit-jerit.. sampai ada dua nenek yang memelototin kami. Untungnya kami segera dipanggil, jadi aman dari omelan sang Nenek.. :D Dokternya juga ternyata sudah cukup berumur, dan berbicara dengan dialek Bayern yang kental sekali. Kuping saya sampe bergetar-getar mencoba mengerti apa yang dia katakan. Tapi tampaknya si dokter kaku awalnya ketika melihat saya mengenakan jilbab, orang asing gitu. Bisa bahasa Jerman gk nih?? *kaliiii* Setelah kami berbincang, situasi mulai mencair. Dari dokter inilah saya tahu kalau korek kuping itu tidak baik digunakan untuk membersihkan kuping, sebaiknya memakai lap basah aja dan jari, korek-korek katanya. Terus, 6 bulan sekali dibawa ke HNO untuk dibersihkan. Namun, setelah itu, saya masih tetap menggunakan korek kuping untuk membersihkan kuping anak-anak (dasar bandel!) dan berharap tidak akan pernah ke HNO lagi.

Sampai akhirnya minggu lalu, ketika dokter anak kami menemukan bahwa kemampuan mendengar Nadin tampak sedikit di bawah standar, kami kembali dirujuk ke HNO. Kali ini kami pergi ke HNO yang tepat bersebelahan dengan dokter anak. Tempat prakteknya bagus dan baru (iyalah.. Giesinger Gesundheitzentrum gitu lho.. belum setahun usia gedungnya juga :D). Dokternya masih muda dan ramah, perawatnya juga baik. Dan mereka tampak sudah biasa menangani pasien anak, jadi dengan keributan kecil dari anak-anak, mereka biasa-biasa saja. :D

Sekalian pergi ke sana, sekalian juga saya bawa Maryam untuk dibersihkan kupingnya. Beberapa minggu lalu dia sempat demam tinggi dan mengeluh sakit kuping. Namun dokter anak tidak bisa memastikan, apakah terkena otitis media atau bukan, karena terlalu banyak kotoran. Akhirnya waktu itu, Maryam diberi cairan (H2O2) untuk mengeluarkan kotorannya. Namun setelah 3 hari, kotorannya tak kunjung keluar, tapi dia juga tidak mengeluh apa-apa lagi. Maka saya tidak bawa ke dokter lagi waktu itu. Ternyata, setelah dilihat oleh HNO, kuping sebelah kirinya tergolong sangat kering, dia menyebutnya trockene und schuppende Ohrgänge (halah.. ternyata kuping juga bisa berketombe to?! :D). Untuk ini Maryam mendapat tetes kuping yang baru untuk 5 hari ke depan. Kalau masih belum membaik, kemungkinan akan diberi balsam untuk kuping.

Kembali ke Nadin, setelah membaca surat rujukan dari dokter anak, si dokter HNO menanyakan apakah saya merasa kalau pendengaran Nadin memang kurang? jawabnya tentu saja TIDAK. Apakah dia tidurnya ngorok? jawabnya pun tidak. Kemudian dia memeriksa telinga, hidung dan tenggorokannya. Dan dia mulai menemukan sesuatu. Sebelum saya berbicara lebih panjang, lebih baik Nadin menjalani tes dulu, katanya. Tes kali ini berbeda dengan tes pendengaran di dokter anak. Bukan lagi tes dengar atau tidak, namun tes ukur. Alatnya seperti earphone yang dimasukkan ke kuping Nadin, kemudian alatnya mengukur sendiri persis seperti alat pengukur tekanan darah.

Setelah selesai, kamipun kembali ke ruangan dokter untuk mendengarkan penjelasan permasalahannya. Dokter memperlihatkan sebuah grafik dari hasil tes Nadin. Katanya grafik ini menunjukkan getaran gendang telinga. Dari titik nol dia naik terus, yang menandakan kupingnya baik-baik saja. Sampai di titik tertentu tiba-tiba menurun, ini menunjukkan ada yang tidak beres, karena seharusnya grafiknya masih naik. Ternyata di belakang gendang telinga Nadin terdapat cairan. Dan udara yang seharusnya terdapat di rongga bagian dalam kini tidak ada. Dokternya juga menunjukkan kepada saya, bagaimana gambar gendang telinga yang normal dan gendang telinga yang dimiliki Nadin saat ini. Katanya kondisi seperti ini banyak dialami anak-anak seusia Nadin sebenarnya. Cairannya bisa dikeluarkan dengan sedikit terapi. Tapi kalau dalam waktu 6 minggu si cairan masih betah di dalam sana, berarti mau gak mau cairannya harus dikeluarkan. 

ntuk sementara ini Nadin mendapatkan tablet sebanyak 60 biji, yang harus diminum sehari tiga kali. Plus terapi meniup balon menggunakan hidung. Kami diberi alatnya dan balonnya. Si alat disimpan di salah satu lubang hidung, lubang yang lain ditutup dengan tangan, lalu tiuuuupppp.. Alhamdulillah terapinya membuat si anak senang. Nadin malah menunggu2 saat dia harus meniup balon dan minum obat. Obatnya sendiri, saya kebingungan bagaimana cara memberikannya sebebnarnya. Terus terang, sejak lahir, baru kali inilah saya mendapat obat tablet untuk Nadin selain vitamin D. Akhirnya saya coba hancurkan obatnya di sendok dengan air. Tapi lama sekali, akhirnya saya kasih gitu aja. Saya beritahu bahwa ini obat, tapi rasanya enak kok kayak bonbon.. (padahal dalam hati ketar-ketir, takut ternyata rasanya pahit). Dengan pedenya dia langsung emut.. terus gak ada komentar. Saya tanya "enak?". "Ehem... enak.. kayak vitamin" katanya. Plooooong deh rasanya.

Minta doa dari semuanya, semoga si cairan gak betah lama-lama tinggal di sana, cepat keluar, biar gak usah tindakan lebih lanjut lagi.. ;)


*gambar 1 diambil dari sini
*gambar 2 diambil dari sini


Tuesday, April 6, 2010

Horrreeee.. bebas popok!!!

Dulu, saya beranggapan bahwa akan ada saatnya anak bisa ke toilet sendiri. Makanya waktu anak pertama, saya malah terlalu anteng membiarkan si anak asyik dengan popoknya. Sampai ketika anak-anak seusianya sudah bebas diapers, saat itu barulah saya sadar bahwa anak saya sebenarnya sudah cukup umur (bahkan mungkin lebih :D) untuk lepas dari popoknya. Makanya waktu itu saya langsung lepas popoknya Nadin, dan dilatih ke toilet sendiri dengan cara barbar. Alhamdulillah, meski penuh perjuangan ekstra mencuci dan (terkadang) mengepel, dalam waktu 9 hari pelatihannya berhasil tuntas. Dari pengalaman pertama ini, saya simpulkan bahwa ada saatnya si anak SIAP (bukan bisa) pergi ke toilet sendiri dengan bantuan dan dukungan orang tuanya.

Untuk anak kedua, harusnya saya lebih berpengalaman, dan saya sudah bertekad untuk melepaskan popoknya dalam usia yang lebih muda dari Nadin. Setelah baca-baca, katanya mulai usia dua tahun anak mulai siap disapih dari popoknya, tapi setiap anak itu unik, jadi tiap anak bisa beda juga usia siapnya. Untuk pelatihan ini, saya butuh waktu, dimana saya tinggal di rumah secara terus menerus untuk beberapa hari secara berturutan. Dan itu SUSAH.. sekalipun liburan sekolah, selalu ada acara di luar rumah (doh, si ibu pengacara pisan). Alhasil, biasanya saya selalu ingat akan toilet training ini di hari-hari akhir liburan, yang mana, toilet training yang sudah diniatkan selalu batal dilaksanakan. Setelah hamil tua, saya pun menyerah, rasanya tak sanggup harus angkat junjung si kakak plus ekstra nyuci tentu saja, sambil ngegembol si dedek di perut. Akhirnya saya putuskan, toilet training diundur sampai si adik lahir nanti.

Setelah lahiran, apakah yang terjadi? kondisi malah lebih repot ternyata, agak-agak sedikit kurang stabil, karena semua anggota keluarga harus menyesuaikan diri lagi dengan kehadiran anggota baru. Dan akhirnya saya pun tersadar kalau usia Maryam sudah sama dengan usia Nadin ketika lepas dari popoknya. Akhirnya bulan Januari lalu, saya lepaslah itu popok. Dan seperti biasa, di hari pertama lepas popok, kantung kemih bak botol minum yang kehilangan tutupnya. Bocoooorrrrr melulu. Berbeda dengan anak lain, masalah yang dihadapi Maryam justru siang hari. Kalau malam, dia nggak ngompol lagi. Tapi kalau siang, cucian langsung menumpuk dengan cepat*. Di hari ke-2 atau ke-3, saya harus pergi ke dokter. Saya kenakan lagi pampersnya karena khawatir bocor di tempat dokter. Setelah kembali ke rumah, dia tidak mau melepas popoknya. Dia bilang dia lebih suka popok hijau (pampers) daripada popok putih (kain)**. Ya sudah, akhirnya waktu itu saya mengalah. Anggaplah dia memang belum siap. Lagipula, saatnya dia masuk Kindergarten masih lama, masih bulan September, jadi bisa pas liburan musim panas nanti saya coba lagi.

Namun pertengahan Maret yang lalu, saya tiba-tiba mendapat panggilan dari Kindergarten untuk Maryam. Dia sudah bisa masuk mulai 1 April katanya. Bahagia tentu saja, karena selama ini dia memang sudah sangat ingin ikut kakaknya main di sana. Saya pun sibuk dengan segala persiapan. Mulai dari urusan administrasi sampai belanja segala keperluannya. Dan teringatlah saya kalau ada satu masalah yang dia belum siap. Popoknya masih setia terpasang di badannya. *Wadduh* Dan Kindergarten ini termasuk Kindergarten yang tidak membolehkan anak-anaknya mengenakan popok. Gurunya bilang, kalau sampai hari-H Maryam masih belum bisa pipis, terpaksa dia harus melepaskan popoknya di sini, dengan resiko saya membawa banyak cucian setiap harinya. Tapi biasanya seminggu mereka sudah bisa ke toilet sendiri, katanya. Hm.. berarti caranya sama persis dengan metode yang saya terapkan ke Nadin dulu. Akhirnya saya tambah semangat untuk menerapkan metode yang sama.

Kebetulan dua minggu terakhir ini liburan sekolah, dan kebetulan lagi rencana liburan kami sedikit diundur karena si Akang sedang banyak kerjaan. Jadi bisa dipastikan kami akan banyak menghabiskan waktu di rumah selama liburan. Saya langsung terangkan pada Maryam, bahwa dia HARUS melepaskan popoknya, kalau dia MAU ke Kindergarten. Akhirnya diapun setuju. Hari pertama libur, langsung saya lepas popoknya. Dan seperti biasa, remnya blong lagi (kembali ke awal ternyata, tidak melanjutkan yang dulu, hehehe..).

Dalam 3 hari pertama cucian lumayan menumpuk. Ternyata anak ini rada cuek, meski celana basah.. dia masih tetep asyik main. Kalau saya ajak ke kamar mandi, dia selalu tidak mau, bilangnya tidak mau pipis.. eh, beberapa menit kemudian basah. Atau, ada saatnya dia bilang mau pipis.. setelah sampai di kamar mandi, lamaaaaa sekali gak keluar-keluar.. sampai terkantuk-kantuk saya dibuatnya.. :D Ternyata dia hanya mau main-main, dia senang memasang dudukan toiletnya sendiri, dia senang mencet2 pembersih toilet lengkap dengan suara "wuzz"nya :D. Ah ya, saya biarkan aja semaunya, asalkan dia tidak takut pergi ke kamar mandi.

Hari keempat, dia mulai luluh, mulai mau ikut ke kamar mandi saat saya ajak. Kemajuan besar.. :D Dan bersyukur di hari itu saya tidak mendapatkan cucian basah. Hari berikutnya pun demikian.. hampir setiap 2 jam saya ajak dia ke kamar mandi. Kadang pipis.. kadang tidak..

Akhirnya di hari ketujuh, kebetulan saya terlalu sibuk di pagi hari, sampai lupa pada toilet training yang jadi rutinitas seminggu terakhir itu. Maryam tiba-tiba teriak, "Mama.. Maryam teh mau pipis.. Mama kok gak bawa Maryam ke kamar mandi sih??! ntar keburu ngompol nih.. ". Heh??!! kaget campur bahagia.. akhirnya dia bisa merasakan juga. Dan berita gembiranya, seharian itu dia bisa bilang pipis setiap kali dia mau pipis (beneran). Besoknya juga.. dan besoknya juga... Dan alhamdulillah sampai hari ini dia bisa bilang terus. Dua hari kemarin kami jalan-jalan seharian keluar rumah. Alhamdulillah dua-duanya juga selamat, tanpa celana basah. Mudah-mudah ini pertanda dia memang sudah lulus. Ternyata, anaknya sendiri butuh motivasi untuk mau dan bisa melepas popoknya. Kini, dia siap menjadi anak Kindergarten.. ;)

__________________________________________________________________

*celana basah karena pipis menjadi bau pesing kalau dibiarkan terlalu lama. Bahkan kalau langsung dicuci pun, bau pesingnya susah hilang. Maka saya menggunakan teori ibu mertua, dengan menyediakan satu ember berisi air sabun untuk merendam cucian yang bau pesing. Setelah terkumpul, masukkan ke mesin cuci, giling. Selesai. :D

**Saat si anak tidak lagi mengenakan pampers, sebagai penggantinya saya menggunakan kain yang dapat menyerap air (saya menggunakan Spücktuch/kain tetra kurleb sebesar sapu tangan, dilipat-lipat) untuk menyerap air ketika dia pipis, agar air kencingnya tidak berceceran kemana-mana. Alhamdulillah.. gk perlu ekstra ngepel.
__________________________________________________________________

gambar diambil dari sini.

Saturday, April 3, 2010

Nadin: U9

U9 merupakan pemeriksaan atau kontrol perkembangan anak yang ke-9 (lebih tepatnya sih yang ke-10, karena sekarang ada yang baru, U7A untuk anak usia 3 tahun). Seharusnya pemeriksaan ini dilakukan bulan lalu. Tapi gara-gara saya dengan pede-nya datang pukul 10, padahal jadwal seharusnya pukul 9.30, maka jadwal tersebut digeser sebulan kemudian.  Kenapa? karena ternyata pemeriksaan ini membutuhkan waktu yang cukup lama (kurleb 1 jam), jadi keterlambatan saya dapat mengakibatkan berubahnya jadwal pasien yang lain. *Duh, masih beruntung saya gak kena denda karena ini*

Entah kenapa, tes yang diberikan kepada Nadin (rasanya) selalu lebih mudah dibandingkan cerita dari ibu-ibu yang lain, terutama dari segi bahasa. Apa karena Nadin mah kedua orang tuanya sama-sama orang asing? Ah, tapi gak bisa dibandingkan juga sih, karena dokternya pun berbeda.. :D Kalau dilihat-lihat, pemeriksaan kali ini cenderung memeriksa panca indera si anak. Mungkin untuk persiapan masuk sekolah, jadi kalau masih ada yang kurang, masih bisa diterapi dalam setahun ke depan.

Seperti biasa, pemeriksaan pertama mengukur berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala. Hasilnya juga seperti biasa, termasuk kecil dibandingkan grafik punya si dokter, dan mendapat catatan Asiatischer Herkunft (berasal dari Asia). *lol*

Tes kedua, Nadin diminta menyebutkan nama-nama benda yang (ternyata) mengandung huruf-huruf yang (kadang) salah diucapkan, seperti sch, r, s, ss, dll. Hasilnya cukup mengejutkan bagi saya, lulus! Mengejutkan.. karena di rumah dia tidak pernah berbicara bahasa Jerman (karena diharuskan bicara bahasa ibu), jadi selama ini saya jarang sekali mendengar dia berbicara bahasa Jerman. Tapi melihat hasilnya, berarti dia belajar bahasa dengan baik di Kindergarten.  :D

Tes ketiga, Nadin diminta menyortir benda berdasarkan bentuk. Tes ini juga termasuk tes yang sangat mudah untuk Nadin. Dia malah menambahkan sendiri, selain bentuk, dia juga menyortir benda berdasarkan warna. :D

Tes keempat, Nadin diminta menyebutkan nama-nama benda yang terdapat pada plat 3 dimensi. Hasilnya benar semua. Kemudian Nadin diminta menyebutkan nama-nama gambar dengan sebelah mata pada jarak tertentu. Dari atas ke bawah ukuran gambarnya makin mengecil. Gambar atas dengan mudah bisa dia lihat, makin ke bawah makin lama mikirnya. Dan baris paling bawah, dia tidak bisa menyebutkan nama gambarnya. Ketika ditanya, apakah dia tidak tahu atau tidak kelihatan? jawabnya tidak kelihatan. Dari sini kami dirujuk untuk kontrol lebih lanjut ke dokter mata. :(

Tes kelima, Nadin diminta menggambar. Pertama mengikuti bentuk yang sudah ada di situ, lingkaran, cakra, segitiga dan persegi. Kedua dia diminta menggambar orang (bagian-bagian tubuh dari yang paling atas sampai bawah harus lengkap). Untuk anak yang hobi menggambar ini merupakan pekerjaan yang sangat mudah untuknya. :)

Tes keenam, tes pendengaran. Nadin diberi Kopfhörer alias headphone yang besarnya gak kira-kira *lol* Dia diperdengarkan bunyi-bunyi yang akan keluar dari salah satu kuping, tugasnya dia harus menunjuk dari kuping sebelah mana suara itu keluar. Tes ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Nadin, untuk memutuskan dari kuping mana sang suara keluar. Beberapa jawaban benar, namun beberapa yang lain dia tidak bisa memberi keputusan. Sepertinya dia rada-rada kebingungan.. bukan bermasalah.. (ibunya sih berharap begitu), namun dokter tetap merujuk dia ke dokter HNO a.k.a THT untuk pemeriksaan lanjutan.

Setelahnya, Nadin diminta berjalan di atas tali. Bukan seperti di sirkus lho! :D Talinya sendiri diletakkan di atas lantai, jadi sebenarnya dia diminta untuk berjalan mengikuti garis lurus. Kemudian loncat dengan dua kaki dan satu kaki, mengikuti garis lurus tadi. Berikutnya loncat zig-zag. Kemudian dia diminta jalan di tempat.. makin lama makin bertambah kencang.. yang akhirnya mereka jadi lari di tempat. Selanjutnya tangan direntangkan, mata ditutup, tunjuk hidung dengan tangan kanan, lalu dengan tangan kiri. Ganti posisi lagi, sekarang tangan di depan, mata masih merem, tunjuk hidung dengan tangan kanan dan tangan kiri. Selanjutnya dia diminta mengikuti gerakan tangan si dokter.

Secara keseluruhan hasilnya baik. Kondisi mata dan kuping juga sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Tapi untuk jaga-jaga sebaiknya diperiksakan ke dokter yang bersangkutan, katanya. Untuk dokter THT janji sudah dibuat sore ini, tapi untuk dokter mata masih belum euy.. Mudah-mudahan hari ini bisa sekalian bikin janji sama si dokter mata. :D

Dan pemeriksaan kali ini merupakan pemeriksaan paling melelahkan buat saya, soalnya harus menjaga Maryam supaya tidak ribut dan mengganggu jalannya pemeriksaan, juga harus memegangi Ligar yang mulai gk bisa diem, pengennya dilepas, tapi da belum bisa dilepas di lantai gitu aja. Begitupun di kasur, harus tetap dijaga karena sukanya guling-guling. Duh, kayaknya butuh bantuan si akang untuk pemeriksaan berikutnya.. :D

Wednesday, March 24, 2010

Gummibäbchen Anak Kedua

Masih ingat cerita yang ini??
Sudah dua tahun berlalu.. dan kini kejadian hampir sama terulang.. oleh anak kedua.

Sepulang dari Kindergarten, kami belanja dulu ke Supermarket terdekat untuk membeli sayuran. Tanpa sengaja kami melewati rak Gummibärchen.

Nadin: "Wooowwwww!!! Hariboooo!!! tapi ini mah ada babinya semua. Iya kan, Mama?"
Mama: "iya.."
Nadin: "Kalau yang gak ada babinya mesti beli di Toko Turki nya?!"
Mama: "yup."
Maryam: "mana? mana? Maryam mau lihat?" *lg duduk di Stroller*
Nadin: "ini nih.. " sambil menunjukkan deretan Gummibärchen.
Maryam: "mannnaaa??"
Nadin: "ini nihhh.. ini semua kan ada babinya?"
Maryam: "mana babinya?? Maryam mau lihhhattttt!!"

*gubraks*

Yeeeyyy.. ternyata dia mau lihat babinya.. Akhirnya diterangkanlah seperti telur pada Muffin. Kalau Mama bikin Muffin kan pakai telur, susu, terigu, dkk. Tapi kalau sudah jadi Muffin kan telurnya gak kelihatan lagi. Ini juga sama, kalau udah jadi Gummibärchen, babinya nggak kelihatan lagi.

Maryam: "Ooooo.." katanya sambil mengangguk. "trus.. babinya mana??"

*pingsan deh*

gambar diambil dari sini.

Saturday, March 20, 2010

Keperluan Anak di Rumah

Apa yang diperlukan anak di rumah? berikut anjuran dari Kindergarten.

1. pensil warna dari kayu, lebih baik lagi pensil warna segitiga yang besar.
2. pensil
3. serutan
4. gunting untuk anak
5. lem stik (klebestift)
6. kertas
7. cat air
8. Knette/Playdough
9. Buku-buku dan buku bergambar
10. Mainan, seperti Memory, Puzzle, UNO, Mensch aergere dich nicht (belum punya), Schwarzer Peter (belum punya juga :D), balok bangunan (Bausteine), Lego duplo.

Perlengkapan Kindergarten

Berikut ini adalah perlengkapan yang wajib dibawa ke Kindergarten oleh Maryam. Setiap Kindergarten detilnya bisa berbeda, tapi pada dasarnya sama saja. Sambil cek dan ricek perlengkapannya Maryam, sekalian ditulis aja deh, soalnya kok saya gak dikasih list-nya sama Kindergarten, dianggap sudah tahu mungkin. :)

1. Perlengkapan olahraga (Turnsachen), terdiri dari:
- Turnbeutel (tas olahraga)
- Turnschuhe atau dikenal juga dengan nama Tanzschuhe (sepatu untuk olahraga/tari) --> bentuknya menyerupai sepatu balet, yang murah bisa dibeli di H&M.
- legging (celana dari bahan kaos)
- T-shirt

2. Perlengkapan berenang (Schwimmsachen)
- tas dari plastik (gurunya menyarankan memakai kresek bekas belanja, tapi biar gak perlu buang-buang, saya lebih memilih membelikan tas kecil dr bahan plastik, mirip dgn Turnbeutel)
- baju renang
- handuk
- sabun mandi
Sebenarnya kebutuhan standarnya itu saja, tapi Nadin sekarang sudah meminta kacamata untuk berenang. :D

3. Baju ganti
- kantong kain
- baju lengkap dr yang terdalam sampai terluar satu set, harus diganti setiap musim berubah.. :p

4. Hausschuhe  (sepatu rumah a.k.a sepatu untuk di dalam ruangan)

5. ransel kecil, kosong --> digunakan ketika jalan-jalan untuk diisi makanan dan minuman

6. 1 buah map ukuran A4 --> untuk wadah hasil gambarnya anak.

7. 1 buah map ukuran A3 --> untuk wadah hasil kerajinan/prakarya anak-anak.

8. 2 buah foto, 1 untuk kotak pos.. 1 lagi untuk di kelas

9. 1 buah Ordner lengkap dengan 40 buah plastik transparant untuk fortfolio anak-anak, berkisar tentang keluarga, hobi, kesukaan, foto-foto dan lain-lain, katanya agar si anak bisa menunjukkannya ke teman-temannya.

Semua perlengkapan diatas disimpan di Kindergarten. Kecuali perlengkapan olahraga dan berenang yang rutin dibawa pulang setiap habis pakai untuk dicuci. :D

10. Perlengkapan hujan --> Biasanya wajib dipakai ketika ada acara jalan-jalan di musim-musim rawan hujan seperti sekarang.
- jaket hujan
- celana hujan
- sepatu hujan

Untuk semuanya saya usahakan untuk mencari barang yang termurah, selain menghemat pengeluaran (teuteup..) juga untuk menghindari rasa gondok ketika barang hilang. :D

Thursday, February 25, 2010

Nasenspray + Paracetamol Zäpchen

Untuk ibu-ibu yang pernah tinggal di Jerman dan sekitarnya, tentu sudah tidak asing lagi dengan kedua obat di atas. Ya, itulah obat standar yang akan diberikan dokter anak, saat anak kita terkena pilek dan atau demam.

Nasenspray/Nasentropfen (semprot/tetes hidung --> bisa dipilih mana yang lebih disukai anak-anak) diberikan untuk meredakan kembali selaput lendir hidung yang membengkak, sehingga si anak bisa bernapas kembali lewat hidung. Awalnya saya sempat menyepelekan obat ini. Ternyata, obat ini cukup manjur juga untuk mencegah infeksi lanjutan saat anak menderita pilek dan atau demam, misalnya otitis media yang dialami Nadin, atau Bronkhitis yang dialami Maryam. Tapi harus hati-hati juga dalam penggunaannya, jika digunakan lebih dr seminggu dpt menyebabkan rusaknya selaput lendir hidung, dan kabarnya bisa menyebabkan ketergantungan juga. Karena itulah, setiap kali saya membelinya, apoteker selalu berpesan maksimal penggunaan 3 kali dam sehari selama 7 hari, lebih dari itu harus segera kembali ke dokter.

Sedangkan Paracetamol merupakan obat penurun panas/penghilang rasa sakit. Anak-anak di bawah usia 3 tahun biasanya sedang susah-susahnya minum obat, sehingga adanya Paracetamol Zäpchen (Paracetamol yang dimasukkan lewat anus) ini sangat membantu ibu meringankan derita si kecil.

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang minta dibelikan kedua obat ini dari sini. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah di Indonesia memang belum ada obat sejenis ini? atau memang kitanya yang nggak tahu? Kalau memang nggak ada, berarti saya mesti siap-siap nimbun buat mudik nanti. *wink* Maka saya pun mulai mencari tahu dan bertanya-tanya pada orang yang kompeten di bidangnya. (Makasih sebesar2nya buat Teh Iyut, sang juragan apotek ;) )

Hasilnya??

Nasenspray ternyata bisa ditemukan juga di apotek di Indonesia, namanya otrivin nasal, dosis bisa untuk anak dan dewasa. Kalau di sini ada merk Otriven. :D

Utk penurun demam, ada:
- Propyretic suppo (dosis berbeda beda, ini yang paling lengkap dosisnya)
- Dumin suppo (dulu ada tapi sekarang kurang tau, kemungkinan di kota besar masih ada)
- Proris suppo (hanya ada 1dosis, 125mg/suppo)
- Paracetol enema (hanya ada 1 dosis, 125mg/enema)

Kabarnya obat penurun panas ini agak susah ditemukan, kecuali di kota-kota besar. Tapi kalau Paracetamol drops (sirup yang dilengkapi dengan pipet) bisa dengan mudah didapatkan dimana saja. Ini malah yang belum pernah saya temukan di sini. Trend obat di setiap daerah ternyata memang berbeda. Di sini, untuk membantu memudahkan pemberian obat sirup (misal antibiotik), bisa dengan suntikan tanpa jarum (Spritze), dapat dibeli di apotel dengan harga 15 cent (kalau gak salah).

Jadi, untuk teman-teman di Indonesia, bisa coba ditanya ke apotek terdekat. Kalau sudah dapat, tolong kasih tau saya dapatnya di apotek yg mana. ;)