Suatu hari, ketika kami sedang menunggu bis sepulang dari TK, perut kami rasanya sudah mulai meraung-raung kembali minta diisi. Untunglah sebelumnya, saya sempat membeli pisang di warung terdekat, cukup untuk mengganjal perut sampai rumah. Nadin yang tidak suka pisang, meminta makanan lain, yang kebetulan tidak ada satupun bekal yang saya bawa. Akhirnya saya bujuk dia supaya mau makan pisang.
"Cobain dulu donk, Nadin.. lihat Mama sama Maryam makan pisang. Maryam enak kan ya?"
"yang makan pisang itu monyet" jawabnya ringan..
*lho!*
Kejadian hampir sama terulang, ketika saya pertama kali memberi makan Ligar.
"Ligar.. Ligar.. iiiih.. Ligar makan apaan tuh?" kata Maryam, sambil ngegemes-gemesin adiknya..
"Bubur wortel." jawab saya. "Maryam mau nyobain bubur wortelnya Ligar?"
"Nggak ah.. Maryam nggak suka wortel.. yang makan wortel itu kelinci!"
hahaha... apa ini gara-gara mereka tahu binatang ini makannya itu?? apa memang mereka benar2 tidak suka dengan rasanya??
Tapi ada yang berubah hari ini. Ketika saya menjemput Nadin, dia sedang menikmati satu buah pisang yang hampir habis dengan asyiknya.. sampai2 dia tidak menyadari kehadiran ibu dan adiknya. Hm.. apa ada yang mulai berubah menjadi.. monyet??? *upsss* Tidak donk ah.. ini hanya berubah selera saja.. Moga2 ke depannya mereka tidak pandang bulu lagi dalam menyantap buah dan sayur..
Wednesday, January 27, 2010
Thursday, December 17, 2009
Belajar dari Anak (1): prasangka
Suatu hari saya bertanya kepada Nadin, diantara keempat musim yang dia alami, musim apakah yang paling dia sukai. Dia memilih musim gugur, dengan alasan daun-daun menjadi berwarna-warni.. bagus.. katanya. Tapi Nadin juga suka musim dingin, soalnya Nadin bisa main salju. Setelah merenung sejenak.. dia kembali menambahkan kalau dia juga suka musim semi karena sering hujan (dia suka memakai kostum hujan lengkap dengan payungnya, kemudian loncat2 di genangan air) dan bunga-bunga mulai bermunculan. "Eh, tapi ceuceu juga suka musim panas, habis ceuceu bisa main di Spielplatz (playground) terus sih.." tambahnya.. Lho.. lho.. lho.. jadi kesimpulannya Ceuceu suka semua musim nih?! :D
Memang kelihatannya mereka (anak-anak) tidak pernah mengeluh mengalami musim apapun.. seneng-seneng aja tuh.. Ternyata itu rahasianya, mereka selalu melihat sesuatu dari sisi positifnya. Mereka tidak peduli hujan gerimis setiap hari di musim semi, karena mereka senang bisa bermain-main air dan melihat tunas-tunas bunga yang bermunculan dari tanah. Mereka tidak peduli dengan sengatan matahari yang membuat kulit serasa digigit-gigit di musim panas, karena mereka bisa bermain sepuas-puasnya di luar rumah. Mereka tidak peduli dengan kencangnya angin yang bahkan sangat mungkin menerbangkan tubuh mereka yang mungil, karena bisa melihat indahnya warna-warni daun di musim gugur. Mereka tidak peduli dengan udara yang membuat tubuh selalu menggigil di musim dingin karena mereka bisa bermain salju.
Sungguh sebaliknya dengan kita, yang seringnya merasa jengkel ketika hujan turun terus menerus, mengeluh kedinginan, kepanasan tanpa melihat betapa indah dan unik setiap musim itu. Hal ini mengakibatkan beberapa orang menderita 'Weather blues', jadinya tidak bisa menikmati hidup seperti anak-anak.
Lebih jauh lagi, jika hal ini dianalogikan dengan berprasangka, selalu berprasangka positif dulu dalam menilai sesuatu, bisa jadi hidup kita juga akan sama seperti anak-anak.. selalu 'enjoy' dalam setiap suasana. Ah.. jadi teringat satu nasihat dari pengajian beberapa tahun lalu di sini, kira-kira seperti ini redaksinya: "sebelum kita membuat satu prasangka negatif, buatlah terlebih dahulu 25 prasangka positif." Hmm.. bisa??? gak ada salahnya mencoba kan?! yuuk.. kita belajar ber-husnudhan seperti anak-anak. ;)
Memang kelihatannya mereka (anak-anak) tidak pernah mengeluh mengalami musim apapun.. seneng-seneng aja tuh.. Ternyata itu rahasianya, mereka selalu melihat sesuatu dari sisi positifnya. Mereka tidak peduli hujan gerimis setiap hari di musim semi, karena mereka senang bisa bermain-main air dan melihat tunas-tunas bunga yang bermunculan dari tanah. Mereka tidak peduli dengan sengatan matahari yang membuat kulit serasa digigit-gigit di musim panas, karena mereka bisa bermain sepuas-puasnya di luar rumah. Mereka tidak peduli dengan kencangnya angin yang bahkan sangat mungkin menerbangkan tubuh mereka yang mungil, karena bisa melihat indahnya warna-warni daun di musim gugur. Mereka tidak peduli dengan udara yang membuat tubuh selalu menggigil di musim dingin karena mereka bisa bermain salju.
Sungguh sebaliknya dengan kita, yang seringnya merasa jengkel ketika hujan turun terus menerus, mengeluh kedinginan, kepanasan tanpa melihat betapa indah dan unik setiap musim itu. Hal ini mengakibatkan beberapa orang menderita 'Weather blues', jadinya tidak bisa menikmati hidup seperti anak-anak.
Lebih jauh lagi, jika hal ini dianalogikan dengan berprasangka, selalu berprasangka positif dulu dalam menilai sesuatu, bisa jadi hidup kita juga akan sama seperti anak-anak.. selalu 'enjoy' dalam setiap suasana. Ah.. jadi teringat satu nasihat dari pengajian beberapa tahun lalu di sini, kira-kira seperti ini redaksinya: "sebelum kita membuat satu prasangka negatif, buatlah terlebih dahulu 25 prasangka positif." Hmm.. bisa??? gak ada salahnya mencoba kan?! yuuk.. kita belajar ber-husnudhan seperti anak-anak. ;)
Wednesday, September 30, 2009
Pilah-pilih Kinderwagen (2)
Saya pernah menulis pengalaman memilih Kinderwagen a.k.a stroller a.k.a kereta bayi di sini. Tapi itu dulu, saat saya baru memiliki dua bocah cilik. Waktu itu bahkan saya sudah punya kecengan kereta bayi mana yang akan saya beli seandainya saya dikaruniai bayi lagi dalam rentang waktu kurang dari 3 tahun. Namun, ketika saya dihadapkan pada situasi tersebut, kenyataannya tetap saja seperti waktu lalu, mencari dan memilih yang terbaik dengan harga terjangkau.
Sebenarnya untuk dua anak, saya lebih suka memakai kereta bayi singel dengan tambahan Buggyboard (gambar bisa dilihat di postingan sebelumnya). Ini lebih praktis dan murah, keduanya bisa dipakai bergantian antara si adik dan kakak (jika adiknya masih bayi, tentu saja dia harus digendong saat kakaknya duduk di kereta). Masalahnya, saat ini kondisinya berbeda, 3 anak dengan usia yang masih kecil-kecil, balita semua gitu lho!. Nadin sudah kuat berjalan jauh. Tapi kalau kelamaan, apalagi jam sudah di atas jam 3 sore, biasanya dia bakal ketiduran di jalan. Maryam apalagi, dia selalu ingin jalan sendiri, namun tidak bertahan lama.. 15 menit.. atau 20 menit kemudian, dia pasti mengeluh cape dan ingin duduk atau digendong. Ligar tentu saja masih belum bisa dibiarkan jalan sendiri. Sedangkan saya sendiri punya banyak agenda di luar rumah setiap harinya (doh, pengacara sekali). Makanya, kemungkinan anak2 ketiduran di jalan susah dihindari. Karena itulah, saya berpikir untuk membeli kereta bayi dobel. Agar Nadin dan Maryam bisa bobo di situ saat mereka kelelahan, sambil saya menggendong Ligar (kalau masih kuat gendong), sehingga perjalanan pun tidak terganggu.
Maka mulailah saya berburu kereta bayi dobel ini sejak Ligar masih di dalam kandungan. Dua tahun sudah berlalu sejak saya melakukan aktivitas ini, namun pilihan kereta bayi yang saya inginkan tidak banyak berganti. Pilihannya masih yang itu-itu saja. Dan yang pasti saya tidak ingin membeli kereta bayi yang sama seperti dulu, karena terlalu berat. Akhirnya didapatlah 3 kandidat. Sebagai ibu2 sejati, tentu saja saya menginginkan barang yang memiliki kualitas terbaik dengan harga termurah. Jadinya pilihan pertama jatuh pada Kinderwagen yang satu ini.
Ukurannya kompak sekali, tidak jauh beda dengan kereta bayi singel, panjang maksimum hanya 118 cm. Beratnya juga masih di bawah rata-rata kereta dorong dobel (13 kg). Tapi, kalau diisi Nadin dan Maryam.. beratnya minta ampun. Angkat sedikit aja, tenaga yang diperlukan lumayan besar, apalagi kalau harus mengangkat saat naik bis atau tram. Harga masih tidak jauh beda dengan kereta bayi pada umumnya. Bahan kerangkanya tampak cukup kuat, tidak seringkih seperti yang tampak pada gambar. Hanya bahan tekstilnya yang saya kurang suka.. agak kasar dan jahitannya kurang rapi. Anak-anak bisa duduk dan tidur dengan nyaman. jika dipasang untuk bayi dan anak kecil, sang bayi diletakkan di kursi belakang. Nah, ini dia kekurangannya. Kursi belakang tidak bisa didorong sampai rata, jadinya untuk bayi baru lahir tidak bisa ditidurkan begitu saja, harus ditambah Tragetasche atau car seat yang sesuai. Pegangan untuk mendorong bisa disesuaikan dengan tinggi badan. Terdapat dua buah kantong belanja, tapi dua-duanya tampak tidak bisa memuat banyak. Akhirnya kereta bayi yang ini dicoret dari list karena terlalu berat.
Lanjut ke pilihan kedua. Kelebihannya yang ini memiliki panjang yang lebih pendek dari kereta bayi serupa pada umumnya, namun sedikit lebih panjang dibanding yang pertama tadi. Kesan pertama ketika melihat langsung kereta ini, cantik sekali, sempurna! Kerangkanya kokoh, tekstilnya halus dan jahitannya rapi. Anak-anak pun akan merasa sangat nyaman duduk di dalamnya. Selain lebar, juga ruang antara bangku depan dan belakang cukup luas dibanding yang sebelumnya. Kantong belanja jauh lebih besar dan lebih kokoh, cukup kuat untuk dipakai belanja sehari-hari. Beratnya jauuh lebih ringan, hanya 9 kg saja. Namun, apa hendak dikata, ternyata kereta yang ini tidak muat di dalam lift tempat tinggal kami. Dengan berat hati akhirnya kereta bayi ini pun harus dikembalikan ke tokonya.
Akhirnya pilihan jatuh ke pilihan terakhir ini. Sebenarnya kereta ini adalah pilihan pertama yang menjadi pilihan terakhir. Dulu, ketika akan melahirkan Maryam, saya sudah berencana untuk membeli yang ini. Sayangnya waktu itu, di Jerman belum ada toko yang menjual. Untuk mendapatkan barang baru harus dari Inggris atau mengandalkan membeli bekas di EBAY (yang mana yang menjual jaraaaaang sekali, dan kalaupun ada selalu jadi idola, laku dengan harga sangat tinggi). Namun kini, sudah banyak toko online di Jerman yang menjual kereta bayi ini. Jadinya harga sedikit menurun dari dulu, dan tawaran di EBAY pun jadi lebih banyak dibanding 2 tahun lalu. Sayapun melakukan survey harga ke beberapa toko untuk mendapatkan harga termurah dan membuat list kelebihan2 kereta bayi ini untuk dipresentasikan pada pengajuan proposal nanti. Dan akhirnya, alhamdulillah si akang juga setuju. Dengan perjuangan yang tidak mudah, datanglah kereta bayi ini ke rumah kami. Setelah melihat langsung, ternyata memang inilah kereta bayi paling sempurna yang pernah kami temukan.

Kereta bayi ini dikenal sebagai kereta bayi '4 in 1'. Bisa dipakai untuk satu bayi baru lahir (lihat gambar kanan bawah), satu anak kecil, satu bayi baru lahir dan satu anak kecil (gambar kanan atas), serta dua anak kecil (gambar kiri). Terdiri dari dua buah kursi, kursi utama (muat sampai berat 25 kg) dan kursi tambahan (muat sampai berat 15 kg). Kursi tambahan bisa dipasang di depan atau di belakang, disesuaikan dengan formasi yang dibutuhkan.
Ukuran panjang dan besar tidak kalah dengan kereta bayi singel lainnya. Beratnya bahkan lebih ringan dibandingkan kereta bayi kami sebelumnya (hanya 11 kg saja). Roda depan yang bisa bebas berputar-putar membuat perjalanan menjadi lebih mudah dan mengasyikan. Pegangan bisa diatur ketinggiannya, saat tidak dibutuhkan (di dalam bis misalnya) bisa dilipat ke bawah untuk menghemat tempat. Anak2 tentu saja merasa nyaman saat berada di dalamnya.
Tapi memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kekurangannya, remnya keras sekali, di awal-awal sangat susah untuk mengerem. Tapi sekarang sih sudah tahu triknya. Agak susah saat dibawa naik eskalator, namun setelah tahu triknya juga menjadi lebih mudah. Kereta dorong ini harus selalu di rem ketika tidak digunakan, karena kalau tidak, kereta ini akan terus menggelinding sendiri. Sangat berbahaya jika kita sedang berada di pinggir jalan atau dekat dengan jalur kereta. Saat dipasang formasi bayi dan anak kecil, lubang udara dan cahaya untuk si bayi hanya dr belakang. Oleh karena itu, si bayi cenderung melihat ke atas. Untungnya Ligar kebanyakan tidur kalau sedang di dalam kereta.
Walau bagaimanapun, sejauh ini kami merasa puas sekali dengan kereta bayi ini. Terutama saya, menjadi lebih mudah saat harus membawa tiga balita saya keluar rumah.
Sebenarnya untuk dua anak, saya lebih suka memakai kereta bayi singel dengan tambahan Buggyboard (gambar bisa dilihat di postingan sebelumnya). Ini lebih praktis dan murah, keduanya bisa dipakai bergantian antara si adik dan kakak (jika adiknya masih bayi, tentu saja dia harus digendong saat kakaknya duduk di kereta). Masalahnya, saat ini kondisinya berbeda, 3 anak dengan usia yang masih kecil-kecil, balita semua gitu lho!. Nadin sudah kuat berjalan jauh. Tapi kalau kelamaan, apalagi jam sudah di atas jam 3 sore, biasanya dia bakal ketiduran di jalan. Maryam apalagi, dia selalu ingin jalan sendiri, namun tidak bertahan lama.. 15 menit.. atau 20 menit kemudian, dia pasti mengeluh cape dan ingin duduk atau digendong. Ligar tentu saja masih belum bisa dibiarkan jalan sendiri. Sedangkan saya sendiri punya banyak agenda di luar rumah setiap harinya (doh, pengacara sekali). Makanya, kemungkinan anak2 ketiduran di jalan susah dihindari. Karena itulah, saya berpikir untuk membeli kereta bayi dobel. Agar Nadin dan Maryam bisa bobo di situ saat mereka kelelahan, sambil saya menggendong Ligar (kalau masih kuat gendong), sehingga perjalanan pun tidak terganggu.
Maka mulailah saya berburu kereta bayi dobel ini sejak Ligar masih di dalam kandungan. Dua tahun sudah berlalu sejak saya melakukan aktivitas ini, namun pilihan kereta bayi yang saya inginkan tidak banyak berganti. Pilihannya masih yang itu-itu saja. Dan yang pasti saya tidak ingin membeli kereta bayi yang sama seperti dulu, karena terlalu berat. Akhirnya didapatlah 3 kandidat. Sebagai ibu2 sejati, tentu saja saya menginginkan barang yang memiliki kualitas terbaik dengan harga termurah. Jadinya pilihan pertama jatuh pada Kinderwagen yang satu ini.
Akhirnya pilihan jatuh ke pilihan terakhir ini. Sebenarnya kereta ini adalah pilihan pertama yang menjadi pilihan terakhir. Dulu, ketika akan melahirkan Maryam, saya sudah berencana untuk membeli yang ini. Sayangnya waktu itu, di Jerman belum ada toko yang menjual. Untuk mendapatkan barang baru harus dari Inggris atau mengandalkan membeli bekas di EBAY (yang mana yang menjual jaraaaaang sekali, dan kalaupun ada selalu jadi idola, laku dengan harga sangat tinggi). Namun kini, sudah banyak toko online di Jerman yang menjual kereta bayi ini. Jadinya harga sedikit menurun dari dulu, dan tawaran di EBAY pun jadi lebih banyak dibanding 2 tahun lalu. Sayapun melakukan survey harga ke beberapa toko untuk mendapatkan harga termurah dan membuat list kelebihan2 kereta bayi ini untuk dipresentasikan pada pengajuan proposal nanti. Dan akhirnya, alhamdulillah si akang juga setuju. Dengan perjuangan yang tidak mudah, datanglah kereta bayi ini ke rumah kami. Setelah melihat langsung, ternyata memang inilah kereta bayi paling sempurna yang pernah kami temukan.
Kereta bayi ini dikenal sebagai kereta bayi '4 in 1'. Bisa dipakai untuk satu bayi baru lahir (lihat gambar kanan bawah), satu anak kecil, satu bayi baru lahir dan satu anak kecil (gambar kanan atas), serta dua anak kecil (gambar kiri). Terdiri dari dua buah kursi, kursi utama (muat sampai berat 25 kg) dan kursi tambahan (muat sampai berat 15 kg). Kursi tambahan bisa dipasang di depan atau di belakang, disesuaikan dengan formasi yang dibutuhkan.
Ukuran panjang dan besar tidak kalah dengan kereta bayi singel lainnya. Beratnya bahkan lebih ringan dibandingkan kereta bayi kami sebelumnya (hanya 11 kg saja). Roda depan yang bisa bebas berputar-putar membuat perjalanan menjadi lebih mudah dan mengasyikan. Pegangan bisa diatur ketinggiannya, saat tidak dibutuhkan (di dalam bis misalnya) bisa dilipat ke bawah untuk menghemat tempat. Anak2 tentu saja merasa nyaman saat berada di dalamnya.
Tapi memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kekurangannya, remnya keras sekali, di awal-awal sangat susah untuk mengerem. Tapi sekarang sih sudah tahu triknya. Agak susah saat dibawa naik eskalator, namun setelah tahu triknya juga menjadi lebih mudah. Kereta dorong ini harus selalu di rem ketika tidak digunakan, karena kalau tidak, kereta ini akan terus menggelinding sendiri. Sangat berbahaya jika kita sedang berada di pinggir jalan atau dekat dengan jalur kereta. Saat dipasang formasi bayi dan anak kecil, lubang udara dan cahaya untuk si bayi hanya dr belakang. Oleh karena itu, si bayi cenderung melihat ke atas. Untungnya Ligar kebanyakan tidur kalau sedang di dalam kereta.
Walau bagaimanapun, sejauh ini kami merasa puas sekali dengan kereta bayi ini. Terutama saya, menjadi lebih mudah saat harus membawa tiga balita saya keluar rumah.
Thursday, July 23, 2009
...dan ketika si jagoan cilik itu tiba..
Selasa, 14 Juli 2009, kurang lebih pukul 1 dini hari, Maryam terbangun dan menangis. Akhir-akhir ini dia memang terbiasa seperti itu, lagi masa-masanya tantrum. Di tengah-tengah amukan Maryam, saya mulai merasakan kontraksi yang tidak begitu jelas. Saya pikir itu gara-gara stress karena Maryam yang tak kunjung berhenti menangis. Sekitar jam 2-an, akhirnya putri kecil itu bisa tertidur lelap lagi. Tapi rasanya sakit di perut saya masih berlanjut, kontraksinya tidak kuat dan tidak teratur.. kadang 10 menit.. kadang 5 menit.. kadang 20 menit..
Saya masih tenang-tenang saja, meski sudah tidak bisa tidur. Tapi bapaknya yang tampak lebih gelisah dan mengajak saya ke RS sekitar pukul 4 waktu itu. Ah, baru sakit segini sih masih jauh dari yang namanya melahirkan.
Pukul 5 saya mulai mencari bantuan, menelepon teman yang kira-kira bisa membantu jagain anak-anak hari itu. Alhamdulillah ada yang bersedia membantu. Dan diapun sampai di rumah sekitar 7.30, tepat di saat anak-anak bangun. Setelah saya menjelaskan beberapa hal tentang kebiasaan anak-anak, kesukaannya, dll.. saya dan si akang pun berangkat ke RS dengan perasaan sedih karena harus meninggalkan anak-anak yang baruuu saja bangun tidur. Nadin sudah diberi penjelasan, bahwa Mama harus ke RS, baby Utunnya udh mau keluar.. dan dia mengerti. Tapi Maryam sepertinya belum mengerti apa-apa.
Kontraksi semakin kuat dan semakin sering datang.. sudah teratur setiap 5 menit.. oo.. baiklah.. mungkin baru 7 menitan. Tak apa.. berdasarkan pengalaman waktu melahirkan Maryam yang tiba-tiba, kami merasa lebih baik berjaga-jaga di rumah sakit. Apalagi ini, sakitnya sudah cukup menggigit. Kami pun berjalan kaki ke pangkalan Taksi yang berjarak sekitar 300 meteran dari rumah. Tadinya saya mengusulkan naik tram saja, hanya 6 halte kok dr rumah. Tapi si akang yang biasanya ngirit (piss ach), kali ini gak setuju, dengan alasan jarak dari halte tram ke RS cukup jauh.. takutnya saya keburu melahirkan di jalan. :D
Sesampainya di RS saya langsung di-CTG. Ternyata kontraksi baru tiap 10 menit.. dan saya pun merasa tidak sekuat sewaktu saya meninggalkan rumah. Aneh.. Setelah diperiksa bidan, ternyata baru bukaan 2 atau 3 katanya. Akan masih sangat lama kalau saya hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Saya pun ditawari untuk jalan-jalan atau 'Bewegungsbad' (bergerak2 di air). Tentu saya memilih jalan-jalan di luar. Selain tidak usah berbasah-basah ria, saya pun bisa menghirup udara segar. Saya disarankan untuk berjalan2 minimal 1 jam.
Begitu keluar dari ruangan, tiba-tiba kontraksi menguat lagi, dan semakin sering, hanya berjarak 3-5 menitan. Tapi mo balik lagi ke atas, malu.. takutnya kayak tadi lagi. Lebih baik jalan2 dulu aja di taman, sambil menikmati waktu berdua, bergandengan tangan.. ah.. kapan ya terakhir seperti ini?? hehhee..
Baru setengah jam jalan, saya sudah merasakan kontraksi yang amat sangat kuat.. lengkap dengan keinginan untuk mendorong.. Oh tidak.. ini tanda-tanda si bayi akan segera keluar... Dengan setengah berlari, kami segera kembali ke atas.. dan sempat terhenti beberapa kali di jalan karena menahan sakitnya kontraksi. Kamipun sampai di atas.. dan sempat dicuekin oleh bidan, mungkin gara-gara belum bulat sejam kami jalan-jalan. Pegangan tangan saya ke si akang semakin kuat karena menahan sakit. Kalau dipikir sekarang, rasanya tidak mustahil kalau dulu ibu saya sampai menggigit bapak ketika akan melahirkan salah satu anaknya, hehehe..
Akhirnya saya disuruh masuk ke ruang bersalin pukul 9.52. Dan saya langsung minta izin untuk berbaring karena sudah tidak tahan lagi. Setelah diperiksa bidan, bukaan kurang 1 cm lagi, artinya saya dibolehkan ngeden saat kontraksi berikutnya datang. Si bidan pun keluar, entah memanggil dokter.. atau mengambil sesuatu. Yang pasti, saat dia kembali, saya sedang ngeden dan memecahkan ketuban. Saat itulah perjuangan dimulai. Pukul 10.01 si bayi pun keluar.. dan seperti kelahiran Maryam.. dokter tidak sempat berbuat apa-apa.. Kata Mpok Aas mah, "kayak ngelahirin di dukun beranak aja", hehehe..
Alhamdulillah semuanya lancar. Si bayi keluar 8 hari lebih cepat dari yang diperkirakan. Sesuai ramalan dokter, dia keluar lebih cepat dari kakak-kakaknya (nadin maju 4 hari, Maryam 6 hari.. hm.. berarti anak ke-4 maju 10 hari nih.. :D). Ukurannya pun lebih besar dibanding kakak-kakaknya.. 3460 g, 54 cm (Nadin 3350 g, 51 cm; Maryam 3150 g, 51 cm). Dan sempat susah juga memutuskan pilihan nama, berhubung ada 4 kepala di rumah. Akhirnya, setelah berdiskusi dan polling, kami sepakat memberinya nama Ligar Bayu Nugraha. Semoga doa-doa dari keluarga dan teman-teman Mama dan Papa buat Ligar didengar dan dikabulkan Allah ya, Jang..
Sunday, July 5, 2009
Percaya si kakak atau dokter??
Konon, kalau ingin tahu jenis kelamin bayi yang sedang dikandung, tanyalah kakaknya (kalau sudah punya kakak tentu saja). Biasanya jawaban si kakak suka bener katanya. Iseng, saya tanya tuh si kakak-kakak kecil di rumah. Maryam yang baru berumur dua tahun, belum tahu laki-laki dan perempuan, tapi saya pikir dia cukup bisa membedakan kalau laki-laki itu kasep (cakep) dan perempuan itu geulis (cantik).
Mama: "Maryam, kalau baby Utun kasep atau geulis ya?"
Maryam: "geulis!"
Wah, untuk menguji keakuratan jawabannya, saya coba tes dengan pertanyaan lainnya.
Mama:"Kalau Papa?"
Maryam: "kasep!" *bener euy*
Mama: "kalau Mama?"
Maryam: "geulis!" *wah, bener juga!*
Mama: "kalau Ceuceu???"
Maryam: "geulis!" *bener lagi!*
Mama: "kalau Maryam?"
Maryam: "kasep!"
*gubraks*
Lain Maryam, lain pula Nadin.
Mama: "Ceu, kalau baby Utun kasep atau geulis ya?"
Nadin: "baby Utun mah kasep.. kayak Papa.." --> jawaban ini tidak mengherankan memang, karena dia sudah diberitahu sejak saya pertama kali dikasih tau dokter kalau bayinya memang laki-laki.
Mama: "Ceu, baby utun kalau udh keluar nanti, kasih nama siapa ya?"
Nadin: *mikir*
Mama: "Itu temen-temennya Ceuceu di Kindergarten siapa aja namanya yang laki-laki?"
Nadin: "banyak siiih.."
Mama: "Siapa atuh ya?? Andre? David?? Amin??"
Nadin: "mm.. Dara aja.."
Mama: "Dara?"
Nadin: "Iya.. Dara.."
*gubraks*
Di lain pihak, dari berkali-kali pemeriksaan USG (bahkan yang 4 dimensi), hasilnya selalu laki-laki. Yah, kita lihat aja nanti yang benernya yang mana.. laki-laki perempuan sama aja toh?? yang penting baby Utun lahirnya sehat.. Kita tunggu sekitar 2 minggu lagi..
Tuesday, June 23, 2009
Lika-liku si surat sakti
Sebenarnya proses memperpanjang izin tinggal di sini tidaklah susah. Setidaknya dibandingkan teman-teman di Belanda yang katanya harus menunggu beberapa hari/minggu ya?! Di sini relatif cepat, hari itu kita mengajukan, hari itu juga selesai. Dengan catatan, semua persyaratan terpenuhi. Kadang memang kita harus kembali di hari lain, bila ada syarat yang kurang.. atau waktunya sudah terlalu siang untuk mengisi daftar pertanyaan keterlibatan kita dengan beberapa organisasi yang dicurigai berbuat teror (maklum pendatang dari Indonesia termasuk salahsatu yang harus mengisi daftar panjang pertanyaan-pertanyaan tersebut). Jika semua beres alias tidak bermasalah, maka izin tinggal tersebut pun bisa dibayar dan diambil hari itu juga.
Saya sendiri tidak pernah mengalami masalah selama beberapa kali memperpanjang izin tinggal di sini. Kecuali dalam kurun 8 bulan terakhir ini, bukan bermasalah sih sebenarnya.. hanya kalau dalam waktu 8 bulan, saya sampai 4 kali mendapatkan izin tinggal... rasanya cukup menjengkelkan juga.. Dan untuk hal ini, saya juga tidak menyalahkan mereka, terlalu banyak 'kebetulan' yang membuat saya bernasib kurang baik seperti ini.
Kisah ini berawal ketika kami mudik ke Indonesia bulan Oktober tahun lalu. Cerita lengkapnya pernah saya tulis di sini. Dikarenakan masa berlaku paspor saya sudah kurang dari 6 bulan, maka saya diharuskan membuat paspor baru di Indonesia sebelum saya kembali ke Munich. Ditambah kedutaan Jerman di Jakarta yang tidak bisa mengeluarkan izin tinggal dengan status yang saya punyai terakhir, maka otomatis paspor lama dan paspor baru harus saya bawa kembali ke Munich. Sekembalinya di Munich, saya langsung memindahkan izin tinggal dari paspor lama ke paspor baru, dengan masa berlaku sama, yaitu 13 Februari 2009, sama dengan masa berlakunya paspor lama saya.
Ketika melihat paspor suami, ternyata izin tinggal dia berlakunya sampai 31 Maret. Lho.. kenapa berbeda? Jelas... karena paspor lama saya hanya berlaku sampai 13 Februari, sedangkan izin tinggal terakhir tersebut dibuat dua tahun sebelumnya. Sayangnya, ternyata izin tinggal anak-anak pun mengikuti tanggal berlaku punya saya, karena dulunya paspor mereka masih menempel ke ibu. Jadi ketika mereka mempunyai paspor masing-masing, otomatis izin tinggalnya masih tergantung izin tinggal terakhir yang nempel di paspornya ibu.
Akhirnya, 2 hari sebelum izin tinggal saya dan anak-anak jatuh tempo, kami berbondong-bondong datang ke KVR lagi. Dengan harapan si Akang bisa memperpanjang izin tinggalnya dia saat itu juga. Jadinya urusan ini akan selesai hari itu juga. Ternyata, karena si Akang mengajukan izin tinggal yang tidak terbatas masa berlakunya, maka secara birokrasi, izin tinggal tersebut harus melalui proses pemeriksaan dulu, katanya. Prosesnya sendiri bisa berlangsung dalam waktu 4 sampai 6 minggu. Sedangkan izin tinggal saya dan anak-anak sudah di ujung tanduk. Maka akhirnya kami diberi izin tinggal sementara sampai 31 Maret (sama dengan izin tinggal lama si Akang. Gak bisa lebih, karena kami sangat tergantung pada kepala keluarga). Dua kali...
Sebulan kemudian, si Akang kembali lagi untuk menyelesaikan proses izin tinggalnya tersebut. Alhamdulillah, setelah dihitung-hitung, masa tinggal dia di Jerman yang tidak pernah terpotong lebih dari 6 bulan, memenuhi syarat (5 tahun). Untuk Muenchen, student dihitung setengahnya dibanding yang kerja. Eh, lagi-lagi.. saya hanya dikasih izin tinggal sementara sampai bulan Juni. Alasannya? Karena saya datang bulan Mei 2004, maka bulan Mei ini saya akan genap 5 tahun. Jadi, istri Anda bisa mendapatkan izin tinggal tak terbatas bulan Juni nanti, katanya. Sebenarnya agak kecewa waktu itu, karena izin tinggal apapun buat saya sama saja, toh kami tidak berencana tinggal di sini selamanya. Tapi kalau memang si ibunya sendiri yang menganjurkan seperti itu.. baiklah.. toh dia lebih berpengalaman, pikir saya.
Saya sendiri tidak pernah mengalami masalah selama beberapa kali memperpanjang izin tinggal di sini. Kecuali dalam kurun 8 bulan terakhir ini, bukan bermasalah sih sebenarnya.. hanya kalau dalam waktu 8 bulan, saya sampai 4 kali mendapatkan izin tinggal... rasanya cukup menjengkelkan juga.. Dan untuk hal ini, saya juga tidak menyalahkan mereka, terlalu banyak 'kebetulan' yang membuat saya bernasib kurang baik seperti ini.
Kisah ini berawal ketika kami mudik ke Indonesia bulan Oktober tahun lalu. Cerita lengkapnya pernah saya tulis di sini. Dikarenakan masa berlaku paspor saya sudah kurang dari 6 bulan, maka saya diharuskan membuat paspor baru di Indonesia sebelum saya kembali ke Munich. Ditambah kedutaan Jerman di Jakarta yang tidak bisa mengeluarkan izin tinggal dengan status yang saya punyai terakhir, maka otomatis paspor lama dan paspor baru harus saya bawa kembali ke Munich. Sekembalinya di Munich, saya langsung memindahkan izin tinggal dari paspor lama ke paspor baru, dengan masa berlaku sama, yaitu 13 Februari 2009, sama dengan masa berlakunya paspor lama saya.
Ketika melihat paspor suami, ternyata izin tinggal dia berlakunya sampai 31 Maret. Lho.. kenapa berbeda? Jelas... karena paspor lama saya hanya berlaku sampai 13 Februari, sedangkan izin tinggal terakhir tersebut dibuat dua tahun sebelumnya. Sayangnya, ternyata izin tinggal anak-anak pun mengikuti tanggal berlaku punya saya, karena dulunya paspor mereka masih menempel ke ibu. Jadi ketika mereka mempunyai paspor masing-masing, otomatis izin tinggalnya masih tergantung izin tinggal terakhir yang nempel di paspornya ibu.
Akhirnya, 2 hari sebelum izin tinggal saya dan anak-anak jatuh tempo, kami berbondong-bondong datang ke KVR lagi. Dengan harapan si Akang bisa memperpanjang izin tinggalnya dia saat itu juga. Jadinya urusan ini akan selesai hari itu juga. Ternyata, karena si Akang mengajukan izin tinggal yang tidak terbatas masa berlakunya, maka secara birokrasi, izin tinggal tersebut harus melalui proses pemeriksaan dulu, katanya. Prosesnya sendiri bisa berlangsung dalam waktu 4 sampai 6 minggu. Sedangkan izin tinggal saya dan anak-anak sudah di ujung tanduk. Maka akhirnya kami diberi izin tinggal sementara sampai 31 Maret (sama dengan izin tinggal lama si Akang. Gak bisa lebih, karena kami sangat tergantung pada kepala keluarga). Dua kali...
Sebulan kemudian, si Akang kembali lagi untuk menyelesaikan proses izin tinggalnya tersebut. Alhamdulillah, setelah dihitung-hitung, masa tinggal dia di Jerman yang tidak pernah terpotong lebih dari 6 bulan, memenuhi syarat (5 tahun). Untuk Muenchen, student dihitung setengahnya dibanding yang kerja. Eh, lagi-lagi.. saya hanya dikasih izin tinggal sementara sampai bulan Juni. Alasannya? Karena saya datang bulan Mei 2004, maka bulan Mei ini saya akan genap 5 tahun. Jadi, istri Anda bisa mendapatkan izin tinggal tak terbatas bulan Juni nanti, katanya. Sebenarnya agak kecewa waktu itu, karena izin tinggal apapun buat saya sama saja, toh kami tidak berencana tinggal di sini selamanya. Tapi kalau memang si ibunya sendiri yang menganjurkan seperti itu.. baiklah.. toh dia lebih berpengalaman, pikir saya.
Akhir Mei lalu, saya datang lagi ke sana. Ternyata data-data saya sudah terpisah sendiri, tidak lagi sebundel dengan data si Akang dan anak-anak. Dan biasalah.. birokrasi.. katanya proses pemeriksaan data saya membutuhkan waktu 2 sampai 3 minggu. Setelah mengisi sebuah formulir, saya pun kembali pulang. Oya, waktu itu sempat menanyakan apakah masih ada syarat yang kurang? Dia bilang tidak. Apakah saya harus datang dengan suami? karena gosipnya, teman2 saya yang lain memerlukan tanda tangan suami untuk keperluan izin tinggalnya tersebut. Ternyata katanya tidak juga. Oke, berarti saya bisa datang sendiri lagi nanti.
Tiga minggu kemudian saya datang lagi. Dan si Ibu tampak sudah mengenali saya. Dia langsung mengambil data saya dan membolak-baliknya. Ternyata.. surat keterangan kerja dari kantor suami saya sudah kelamaan. Ini dari 4 bulan yang lalu, kami membutuhkan yang terbaru, ujarnya. Untungnya, pas ditelepon ke kantor, si Akang bisa nge-fax surat tersebut langsung ke KVR. Kalau begitu, izin tinggal Anda bisa selesai hari ini juga, katanya. Ploong deh.. 10 menit kemudian, saya ketok pintu ruangan si ibu, untuk memberitahukan bahwa suratnya sudah di-fax dari kantor suami saya. Ternyata si ibu malah menyuruh saya masuk dan mengajak bicara. Katanya, setelah dia ngobrol dengan atasannya, masa tinggal saya di sini masih kurang dari 5 tahun. Kenapa? bukannya dari 2004-2009 itu bulat 5 tahun? tanya saya. Ternyata, dalam 2 tahun pertama kedatangan saya, status si Akang masih student. Dan istri student juga dianggap sama seperti student, alias hanya dihitung setengahnya. Yang berarti persyaratan saya tinggal di sini masih kurang satu tahun. Ya ampuuuun.. kenapa sih baru ketahuan sekarang? bukannya dari dulu.. atau minimal dari ketika saya masuk ruangan tadi. Kan katanya ada proses pemeriksaan dulu selama 3 minggu. Kayaknya mungkin penghitungan masa tinggal tidak termasuk dalam proses 3 minggu tadi.. Ah.. birokrasi.. birokrasi..
Alhamdulillah.. akhirnya saya mendapatkan izin tinggal hari itu juga untuk 2 tahun ke depan. Meski penantian 3 bulan ini rasanya sia-sia.. Tapi saya yakinlah, pasti ada hikmah di balik semua ini.
Kartun
Waktu masih kecil dulu, saya lebih senang nonton film kartun daripada film dengan aktor aktris nyata. Mungkin di mata saya dulu (baca: anak-anak), kartun justru terlihat lebih hidup daripada manusia beneran :D Waktu itu saya merasa bahwa film kartun adalah film saya (maksudnya film buat anak-anak). Padahal sebenarnya tidak selalu begitu. Kalau saya perhatikan sekarang, banyak juga film kartun yang tidak cocok menjadi konsumsi anak-anak. Banyak film kartun dengan adegan sadis, yang sebenarnya film-film itu adalah tontonan favorit saya dulu. Tapi kok dulu saya melihatnya biasa-biasa saja ya??! :D Berbeda dengan kondisi sekarang, saya berusaha untuk menjauhkan anak-anak dari film-film seperti itu. Makanya, meski di rumah telah bercokol sebuah pesawat televisi, kami jarang menggunakannya untuk menonton saluran TV. Mereka lebih banyak nonton film-film yang saya pinjam dari perpustakaan. Setidaknya film-film tersebut sudah lulus sensor dari saya.. ;)
Eh, kok jadi ngawur.. Sebenarnya yang mau saya ceritakan bukanlah hal di atas. :D Karena seringnya saya menonton serial film kartun, saya pun secara tidak sengaja jadi memperhatikan karakter-karakter dalam film kartun tersebut. Menurut saya, hampir semua karakter dalam sebuah film, gambar dasarnya sama saja, hanya berbeda dalam detilnya. Misalnya dikasih model baju yang berbeda, warna dan model rambut berbeda, dipakaikan kacamata atau bintik-bintik di muka, jadi deh dua tokoh berbeda.
Nah, semenjak tinggal di sini, saya kok sering menemukan hal serupa di dunia kartun, tapi di dunia nyata. Misalnya, pernah suatu kali, ketika saya sedang di angkutan umum, tiba-tiba saya kaget ketika melihat seseorang yang saya kenal. Ya, dia sama persis dengan tetangga saya. Hanya saja ibu yang ini rambutnya keriting dan kuning keemasan, ditambah dengan mantel selutut dan tas tangan yang dia simpan dipangkuannya. Tampak berbeda sekali dengan ibu tetangga saya yang lebih sering kelihatan mengenakan daster lengkap dengan ciputnya. Tapi senyumnya... SAMA persis.. tak ada yang beda sedikit pun.
Begitupun dengan kemarin, ketika saya melewati toko roti, saya merasa mengenali seseorang yang saya kenal di sana. Saya sampai berjalan mundur kembali untuk memperhatikannya. Kalau memang dia saya kenal, tentunya harus di sapa donk. Wajahnya.. senyumnya.. persis.. Hanya rambutnya yang berbeda, orang ini ternyata memiliki rambut gimbal ala penyanyi Reggae. Dan ternyata dia bukanlah kenalan saya.. :D
Hm.. kadang saya merasa seperti sedang di dunia kartun. Tapi makin lama, saya makin merasa kagum pada-Nya, yang mampu menciptakan ribuan macam karakter di dunia ini.
Eh, kok jadi ngawur.. Sebenarnya yang mau saya ceritakan bukanlah hal di atas. :D Karena seringnya saya menonton serial film kartun, saya pun secara tidak sengaja jadi memperhatikan karakter-karakter dalam film kartun tersebut. Menurut saya, hampir semua karakter dalam sebuah film, gambar dasarnya sama saja, hanya berbeda dalam detilnya. Misalnya dikasih model baju yang berbeda, warna dan model rambut berbeda, dipakaikan kacamata atau bintik-bintik di muka, jadi deh dua tokoh berbeda.
Nah, semenjak tinggal di sini, saya kok sering menemukan hal serupa di dunia kartun, tapi di dunia nyata. Misalnya, pernah suatu kali, ketika saya sedang di angkutan umum, tiba-tiba saya kaget ketika melihat seseorang yang saya kenal. Ya, dia sama persis dengan tetangga saya. Hanya saja ibu yang ini rambutnya keriting dan kuning keemasan, ditambah dengan mantel selutut dan tas tangan yang dia simpan dipangkuannya. Tampak berbeda sekali dengan ibu tetangga saya yang lebih sering kelihatan mengenakan daster lengkap dengan ciputnya. Tapi senyumnya... SAMA persis.. tak ada yang beda sedikit pun.
Begitupun dengan kemarin, ketika saya melewati toko roti, saya merasa mengenali seseorang yang saya kenal di sana. Saya sampai berjalan mundur kembali untuk memperhatikannya. Kalau memang dia saya kenal, tentunya harus di sapa donk. Wajahnya.. senyumnya.. persis.. Hanya rambutnya yang berbeda, orang ini ternyata memiliki rambut gimbal ala penyanyi Reggae. Dan ternyata dia bukanlah kenalan saya.. :D
Hm.. kadang saya merasa seperti sedang di dunia kartun. Tapi makin lama, saya makin merasa kagum pada-Nya, yang mampu menciptakan ribuan macam karakter di dunia ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)