Tiba-tiba saja waktu itu saya mendapat telepon dari satu nomer tak dikenal. Sayangnya, gara-gara saya telat mengangkat, lawan bicara saya tampak sudah menutup telepon duluan. Saya pikir, kalau memang dia membutuhkan sesuatu dari kami, tentunya dia akan menelepon lagi lain waktu. Dan memang benar, ternyata dia menelepon lagi. Namun tak terdengar ada jawaban dari sebrang, maka saya tutup lah telepon itu. Dan sayapun lupa akan perihal telepon dari nomor tersebut.
Namun, dua hari kemudian, telepon dari nomer tersebut benar-benar menguras perhatian saya. Bagaimana tidak? dalam sehari dia bisa 5 kali bahkan lebih menelepon ke rumah, tanpa bicara sepatah katapun. Di hallo-hallo, tak kunjung menjawab, didiamkan apalagi. Sampai akhirnya saya kesal campur aduk dengan takut. Pas si akang pulang langsung bercerita panjang lebar.. "duh, jangan-jangan penggemar gelap nih, Kang.. sering banget bolak-balik nelepon, cuma ingin mendengar suara aku kali ya??" *hihihihi.*
Keesokan harinya, lagi-lagi dia menelepon. Horor juga melihat nomernya tertera di telepon. Angkat... jangan.. angkat.. jangan.. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengangkat. Sayangnya, saya kembali terlambat.. kelamaan mikir sih. Tapi kali ini, karena didorong rasa penasaran, saya telepon balik lah nomer itu. Tuut.. tuut.. gak ada yang ngangkat. Tiba-tiba HP saya berdering. Ah, saya cuekin dulu aja, karena saya tau siapa yang menelepon ke HP saya, pastinya cuma si Akang yang suka nelepon, ntar bisa saya telepon balik ke kantor, pikir saya. Ternyata, si telepon yang saya hubungi tak juga mengangkat. Aneh.. padahal baru saja dia menelpon saya, tidak mungkin dia sudah pergi, karena ini no HP, jadi pastinya akan ada dimana dia berada. Saya coba telepon untuk kedua kalinya, dan kejadian yang sama terjadi, kembali HP saya berdering beberapa saat setelah nada sambung di telepon terdengar. Ah, udah dua kali ada yang menelepon HP, pasti penting. Saya pun mengambil HP yang waktu itu sedang dipegang Ligar, dan melihat call history HP saya, beneran si akang yang nelepon. Saya pun nelepon si akang pake telepon rumah (kan flatrate :D). Ternyata dia malah bingung, karena merasa tidak menelepon saya waktu itu.
Lho.. lho.. jadi curiga ada yang salah nih.. Saya coba lagi menelepon nomer tak dikenal tadi, dan kembali HP saya yang bunyi. Lho.. jangan-jangan.. nomer tak dikenal itu HP saya?? lalu saya coba menelepon ke rumah memakai HP, dan ternyata benar.. hahahaha... ternyata 'penggemar gelap' yang sering menelepon ke rumah itu adalah Ligar, si bungsu yang lagi suka pencat-pencet.. :D
Keterangan:
1. Nama yang tertera di call history HP saya memang nama si akang, tapi tanda rumah tidak terperhatikan oleh saya, yang menunjukkan bahwa si akang nelepon memakai telepon rumah. *tolol1*
2. Saya memang tidak pernah hapal no HP saya sendiri, juga no HP orang lain, terlalu panjang untuk dihapal. Cuma satu nomer HP yang saya hapal bener meski sambil merem.. ya no HPnya si akang.. paling sering dipencet soalnya. :D *tolol2*
Oya, beberapa lama kejadian ini tidak terulang lagi, karena Ligar lebih senang main mobil-mobilan sekarang. Ceritanya kemarin saya mau mengganti popoknya Ligar. Karena anak ini lagi masa-masanya jumpalitan kalau pas diganti popok, atau kalaupun diam, tangannya pasti merogoh-rogoh bagian bawah, maka tangan anak ini harus disibukkan. Karena waktu itu mainannya Ligar jauh semua, maka saya kasih HP aja yang ada dekat situ. Setelah selesai ganti popok, tiba-tiba telepon rumah berbunyi, maka saya pun tergopoh-gopoh mengangkatnya. Wah, nomernya gak kenal lagi, langsung saya angkat. Dan kembali tak ada jawaban.. tapi tiba-tiba ada suara bayi tertawa.. Lah, ini mah pasti suara dede Khalid (putranya Ninoek dan Prio), karena siangnya tampak si akang mencoba menelepon Prio, namun tidak nyambung karena mereka tidak di rumah, jadi ini tampaknya Prio nelepon balik. "Khaliiid.. Khaliid.. iiih.. suaranya udah kayak anak gede aja." kata saya (ket. Khalid umurnya 10 bulan lebih muda dibanding Ligar). Dan terdengar suara bayi ketawa lagi.. lho.. kok suaranya sama kayak yang di kamar?? dan *twink* saya langsung teringat kejadian diatas tadi. Cepat-cepat saya tutup sebelum pulsa saya semakin banyak berkurang. Dan ternyata memang Ligar lagi yang sedang nelepon. :D Akhirnya, dengan terpaksa, satu nomer dari phonebook telepon rumah harus dihapus, untuk menyelamatkan (baca: save) nomer hpnya saya ini.. *halah*