Saturday, September 13, 2008

Ngempeng...

Suatu hari, seperti biasanya, saya mengajak anak-anak jalan-jalan sore-sore (jadi inget Deni Malik :D). Namanya juga jalan-jalan, jadinya saya gak bawa Stroller... saya biarkan anak-anak berlarian semaunya mereka. Pan tujuannya biar mereka menghirup udara segar plus melatih kaki-kakinya biar nggak 'titingkuheun' kata orang Sunda mah. Tanpa di sangka-sangka, di jalan kami bertemu dengan si ibu yang suka melihat (baca: ngintip) dari sebrang jendela itu. Dia pun menyapa kami dan ngobrol sebentar. Sembari si ibu ngomong, anaknya yang bungsu ngamuk di dalam stroller, entah kenapa. Tapi yang menarik perhatian.. anak itu sudah besaaaaarrr.. lebih besar dari Nadin.. (mungkin aja cuma badannya aja yg gede sih)... dan dia masih ngempeng..

Anak sebesar itu?? ngempeng???

Ah, sebenarnya hal ini bukanlah hal aneh di sini. Anak-anak sebesar Nadin pun di Kindergarten masih ada yang ngempeng.. meskipun jarang.. tapi ada.. Bahkan waktu Nadin di Krippe dulu, yang berarti anak-anaknya di bawah umur 3 tahun semua, masih banyak anak yang ngempeng. Mungkin bagi mereka tidak ada yang salah.. bagiku juga sih.. terserah.. hanya rasanya lucu aja, melihat anak yang sudah tinggi besar, bisa berlarian ke sana kemari, bisa berantem dan mukul temannya.. tapi gak bisa ngomong gara-gara mulutnya tersumbat sama si Empeng tadi.

Aku sendiri, tidak membiasakan hal itu pada anak-anak, soalnya kasian atuh ya.. kayak ditipu gitu anaknya.. trus khawatir kembung juga.. plus takut susah nyapihnya. Waktu mereka bayi, sempat dicobain (iseng aja). Mereka memang gak mau sih.. si Empeng selalu dilemparkan dari mulutnya. Kecuali Nadin, dia sempet ngempeng umur 2 tahun, hahaha... ini gara-gara dia menemukan Empeng hadiah di bingkisan rumah sakit ketika Maryam lahir. Jadi ini mah bukan kebiasaan.. hanya keingintahuan semata.

Nah, gara-gara aku gak ngasih anakku empeng, aku sempat dimarahin kakek-kakek (apa nenek-nenek ya?!). Waktu itu aku sama Nadin kecil (mungkin 8 bulanan) sedang di dalam S-Bahn. Karena anaknya anteng dan lucu (kali?!), Nadin mengundang perhatian beberapa orang, termasuk si kakek itu. Trus di ajak ngobrol.. diajak maen.. Trus si kakek bertanya padaku,
"Mana empengnya?"
"Oo.. dia tidak punya, aku gak kasih dia empeng.."
(mulai nyureng) "kenapa?"
"karena itu tidak bagus buat dia" jawaban sekenanya, males mikir bahasa Jermannya apa.. hihihi...
si Kakek protes lagi, "siapa bilang? anak-anak itu butuh kesibukan.. biar dia gak rewel". Padahal mah waktu itu si Cuneng meni lagi anteeeeeng banget..
"Dia gak rewel kok.. lagian saya bawa banyak mainan biar dia gak bosen.."
"tapi anak-anak itu butuh Empeng!!" keukeuh.. dasar...
"Egal (terserah)"

Ah, saya juga gak ngerti, apa alasan mereka ngasih empeng ke anak hanya sekedar agar anak punya kesibukan dan gak rewel? atau mungkin ada alasan lain yang lebih kuat. Karena katanya... meskipun empeng tidak terlalu berpengaruh pada perkembangan gigi dan gusi, tapi ngempeng ini bisa menyebabkan anak mudah kembung. Kasihan kan???

Wednesday, September 3, 2008

Agar anak suka gosok gigi...

Disaat melihat deretan gigi Nadin yang rapi dan bersih (yang mungkin aslinya tidak sebagus di foto :D), langsung terbersit dalam pikiran orang yang melihatnya bahwa anak ini pasti rajin gosok gigi. Pikiran berikutnya, "bagaimana membuat anak menyukai pekerjaan yang satu ini?". Ah.. saya malu sebenarnya kalau ada orang bertanya begini... karena, dia mempunyai gigi bersih bukan karena ibunya, tapi memang pada dasarnya anak yang satu ini penurut dan suka kebersihan. Tanpa dipaksa dan tanpa trik apapun, sebenarnya dia mau aja kalau diminta gosok gigi dulu sebelum tidur.

Meskipun begitu, ada sih beberapa hal yang saya lakukan untuk menjaga anak ini menyukai gosok gigi. Hal-hal yang saya tulis di bawah ini merupakan pengalaman pribadi dan manjur buat anak saya. Belum tentu untuk anak lain, tapi semoga bisa membantu. ;)

1. Pilihkan sikat gigi yang kira-kira disukai anak.
Apakah warnanya warna favorit dia, ataupun bergambar tokoh favorit si anak. Dulu, waktu pertama kali, saya belikan yang warnanya rame aja, karena dia belum punya warna favorit. Berikutnya dibelikan warna pink, kesukaannya... berikutnya yang gambar Winnie the Pooh, belahan jiwanya.. :D Untuuung aja tokoh favoritnya bukan si Unyil atau si Cepot, jadi gak susah nyarinya, heuheuheu... Kalau udah agak gedean, kira-kira umur 3 tahunan, biarkan dia memilih sendiri sikat gigi kesukaannya di toko. Dia jadi lebih rajin gosok gigi deh...

2. Perkenalkan anak menggosok gigi sejak dini.
Sewaktu giginya belum tumbuh, saya belikan dia sikat gigi yang ujungnya karet untuk digigit-gigit. Ketika dia bisa merangkak, saya biarkan dia mengikuti ke kamar mandi agar dia bisa melihat ayah/ibunya menggosok gigi. Biarkan dia memegang sikat gigi juga, saat kita menggosok gigi. Biasanya anak-anak suka seperti ayah/ibunya.. lama-lama dia akan mengikuti memasukkan sikat gigi ke dalam mulutnya dan bertingkah seolah-olah sedang menggosok gigi.

3. Lakukan ritual menggosok gigi bersama.
Ketika anak sudah bisa tegap berdiri dan sudah mempunyai gigi tentunya, ajak anak untuk sama-sama menggosok gigi di wastafel yang sama. Biarkan dia menggosok giginya sendiri saat kita menggosok gigi (biasanya sih sikat gigi hanya digigit-gigit aja atau dia cuman ngemutin odolnya doank). Setelah kita selesai, jangan lupa gosok lagi gigi si anak agar benar-benar bersih. Sampai umur 6 tahun, anak masih perlu dibantu menggosok gigi. Menurut anjuran dokter gigi, baiknya si anak dibaringkan saat menggosok giginya agar lebih mudah.

4. Lakukan hal-hal yang kira-kira dia senangi.
Misalnya menyikat gigi sambil ngaca atau bernyanyi, kalau perlu sambil berdongeng.. :D

5. Beri alasan kenapa harus menggosok gigi.
Setiap akan menggosok gigi, selalu saya bilang, "gosok gigi dulu yuk.. biar bersih.. biar enakkeun.. nanti giginya bagus dan gak bakalan sakit". Seringnya sih gak sepanjang ini.. kalau sama Nadin cukup bilang biar bersih aja. Kalau sekarang, dia sudah bisa merespon. "sekarang kotor yah?!"
"iya"
"ada apa ya?!"
dan ibunya mesti ngabsen makanan apa aja yang dia makan hari itu sejak pagi sampai malam.. :D

Beberapa tips merawat gigi anak yang didapat dari dokter gigi bisa dibaca di sini.

Thursday, July 24, 2008

Sifon Pandan Guglhupf


Description:
Pas lagi bingung-bingungnya bikin cemilan...
pas yang muncul di Inbox, resepnya Mpok Aas yang kue sifon pandan...
pas semua bahan lagi ada di lemari dapur...
pas mood bikin kue lagi ngumpul...

NB:
ini beneran resep paling pas buat saya, soalnya gampang dan cepat... :D

Mpok, resepnya aku copy-paste di sini ya... buat arsipku aja.. suatu hari nanti, di saat aku merasa gak bisa masak... melihat lagi kumpulan resep yang pernah dipraktekkan, biasanya mood masak muncul lagi :D

Karena tidak punya cetakan kue sifon, jadinya pakai cetakan Guglhupf. Makanya jadinya tinggi banget.. setelah dipotong-potong.. jadinya masih segede2 gaban.. :D:D:D

Ingredients:
bahan 1:
150 g terigu
1/2 sdt natron (soda kue)
1/2 sdt backing powder
1/2 sdt garam
semua campur jadi satu

bahan 2:
200 g gula pasir
6 kuning telur (karena telurnya kecil-kecil, kemarin aku tambah 1)

bahan 3:
150 mL susu cair
80 mL minyak goreng
dicampur

bahan 4:
6 putih telur,dikocok sampai kaku. (ditambah 1 juga, sayang kalau dibuang)
pasta pandan (bisa diganti pasta mocca atau pasta lain sesuai selera)

Directions:
Kocok bahan ke-2 hingga mengembang dan gula larut kemudian masukan bergantian bahan ke-1 dan ke-3 sedikit-sedikit sambil diaduk hingga habis dan tercampur rata, sisihkan.

panaskan oven dan loyang dengan panas 160°

Sementara itu kocok putih telur hingga kaku, dan masukkan ke adonan tadi sedikit demi sedikit sambil diaduk secara perlahan hingga tercampur rata baru diberi pasta pandan dan aduk kembali hingga rata

Masukan kedalam loyang yg telah dipanasi tadi dan oven selama 1 jam.

Hati-hati.. ada kamera.. ;)

Kalau selama ini kamera hanya terdapat di Bahnhof-Bahnhof (stasiun kereta) saja, inipun setahu saya hanya di stasiun U-Bahn, kini di dalam S-Bahn mulai dipasangi kamera. Kabarnya sih gara-gara setiap tahunnya banyak terjadi kerusakan di dalam S-Bahn. Kamera ini katanya ditujukan untuk melihat pengrusakan properti S-Bahn, kejahatan/kekerasan, dan pelanggaran-pelanggaran lainnya. Jadi, hati-hati aja buat para ngupil'ers... :D 

Wednesday, July 16, 2008

Bolu Kukus 250


Description:
Di suatu acara, Teteh saya membuat bolu kukus, yang tak hanya merekah indah.. tapi tekstur dan rasanya benar-benar membuai lidah. Tergerak hati ini untuk membuat yang serupa di rumah.. Dengan mengandalkan ingatan yang sedikit lemah... kucoba mencatat dalam hati resep yang katanya mudah...

Apa hendak dikata.. sesampai di rumah semuanya terlupa... Susu pun akhirnya menggantikan air soda.. hasilnya??? jangankan tertawa... tersenyum malu pun tidak... tapi... rasanya... hampir sama lah... :D

Percobaan kedua pun dimulai.. Air soda sudah tersedia.. Dengan kepedean tingkat tinggi, bolu kukus pun dibuat. Tapi ternyata.. hasilnya sama saja.. Apanya yang salah ya??? Mungkin resepnya ya?! Teteh, jika kau membaca ini, tolong koreksi apanya yang salah...

Tapi...yang pasti saya tidak kecewa... karena Nadin dan Maryam berhasil menghabiskan bolu itu dengan lahapnya...

Ingredients:
Telur 1 buah
Gula 250 g
terigu 250 g
air soda 250 mL
Baking powder 1 sdt

Directions:
Telur, gula, dan baking powder dikocok
masukkan terigu, aduk
masukkan air soda, aduk
sisihkan sedikit adonan untuk diberi warna.
Masukkan ke cetakkan, kukus sampai matang

Monday, July 14, 2008

Kokok si Ayam Jantan

Habis nonton Die Sendung mit der Maus.. (Film favoritnya Nadin), saya menemukan sesuatu yang menarik. Ternyata kokok ayam jantan itu berbeda-beda di setiap negara. Suara ayamnya sih sama saja.. tapi bahasa orang menirukan suara ayamnya yang berbeda ;)

Ini beberapa diantaranya (penulisan suara menggunakan ejaan bahasa Indonesia):
  • Jerman: kikiriki
  • Inggris: kokodubadu
  • Perancis: kokoriko
  • Belanda: kukuluku
  • Rusia: kokoriko
  • China: u u u uuuuu
  • Jepang: kotekokko
  • Chili: kokoriko
  • Senegal: kokoriko
  • Yunani: kirikikiki
Tambahan dari saya:
  • Indonesia: Kukuruyuk...
  • Sunda: Kongkorongok....

Hm.. jadi penasaran suara ayam dalam bahasa daerah lain gimana ya???

Monday, July 7, 2008

Integrationskurs

Menindaklanjuti postingan kemarin, jadi ingin sedikit bercerita tentang Integrationskurs yang pernah saya ikuti tahun 2006 lalu. Wohoho.. ternyata sudah 2 tahun berlalu.. pantesan hasilnya sudah diluar kepala semua (baca: hilang).

Ketika saya memperpanjang visa pertengahan tahun 2005 lalu, saya diharuskan mengikuti Integrationskurs. Waktu itu sempat rada bingung juga, karena belum tahu dan belum pernah mendengar tentang kursus ini sebelumnya. Setelah mencari tahu, ternyata Integrationkurs ini mulai dicanangkan Januari 2005 oleh BAMF
(Bundesamt fuer Migration und Fluechtlinge). Semua orang asing sangat dianjurkan sekali (gak berani bilang wajib, soalnya mau cross-chek, ternyata form dari Landratsamt sudah saya berikan ke tempat kursus waktu itu) mengikuti kursus ini.

Apa itu Integrationskurs?
Sebenarnya kursus ini merupakan kursus bahasa Jerman yang biasa untuk tingkat dasar (Grundstufe, level A1, A2 dan B1) sebanyak 600 jam ditambah Orientierungskurs sebanyak 30 jam. Orientierungskurs merupakan kursus untuk mengenal Jerman lebih dekat, membahas politik, sejarah, hak dan kewajiban, kultur, dll. Di akhir ada ujian untuk mendapatkan ZD (Zertifikat Deutsch). Biaya kursusnya mendapatkan subsidi dari BAMF, sehingga biaya yang harus dikeluarkan hanyalah 1 Euro/jam. Untuk biaya ujian, jikalau memang membutuhkan, BAMF juga bisa membantu.. tapi ini prosesnya lumayan ribet.

Kenapa ya BAMF tiba-tiba mencanangkan kursus ini, yang seolah-olah semua orang asing wajib mengikutinya? Tampaknya hal ini disebabkan oleh banyaknya orang asing yang tidak bisa berintegrasi dengan warga setempat alias orang Jerman. Faktor utamanya adalah bahasa. Benar.. banyak orang yang sudah lama tinggal di Jerman, bahkan sudah dua atau tiga generasi.. tapi tidak bisa bahasa Jerman.

Bisa gitu hidup di Jerman tanpa bisa bahasa Jerman??
kenapa tidak??!!
selama banyak teman bergaul yang satu bahasa dengan kita...
selama menguasai kata-kata dasar (sapaan, minta maaf, berterima kasih)...
hm.. kayaknya bisa-bisa aja tuh... :D:D:D

Akibatnya.. orang asing yang tidak bisa berbahasa Jerman, kemungkinan susah mendapatkan pekerjaan. Artinya, semakin banyak jumlah pengangguran... dan makin banyak uang yang harus dikeluarkan pemerintah untuk para pengangguran tersebut (info lebih lanjut tentang ini baca di sini ya..). Maka dari itulah, pemerintah berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa orang-orang asing tersebut agar lebih mudah berintegrasi.

Kembali ke masalah wawancara kemarin... setelah saya analisis lebih lanjut... sepertinya ini memang benar-benar dilakukan oleh BAMF untuk memantau hasil dari Integrationskurs tersebut. Setelah 3 tahun proyek mereka berjalan, wajar kan kalau mereka saat ini ingin mengetahui hasilnya??? *mencoba untuk berbaik sangka ;)*